Share

Bab. 3 Kunjungan Bapak dan Ibu

Bik Ramlah sepertinya mendengar hinaan kepada Melinda tadi. Dia pun langsung menyuruh majikan nya untuk istirahat.

"Mbak istirahat saja dikamar. Biar saya saja yang mengerjakan semua ini. Nanti kalau mbak Santi nanya saya tinggal bilang kalau mbak Melinda capek," ujar bik Ramlah tak tega melihat Melinda yang terlihat pucat.

"Iya bik. Makasih ya," balas Melinda langsung melangkah menuju kamarnya. Dia sangat lelah fisik dan batinnya. Melinda juga gak mau terjadi sesuatu kepada janin yang dikandungnnya.

Melinda langsung merebahkan tubuh nya dikasur, merenggangkan otot-otot yang sudah mulai kaku. Baru ingin memejamkan mata, dering diponselnya menghentikan keinginannya. Terpampang nama ibunya di ponsel, lekas Melinda menjawab panggilan dari sang ibu.

"Assalamualaikum, bu," ucap Melinda ketika telpon sudah tersambung.

"Waalaikumsalam nak. Bagaimana kabarmu?"

"Alhamdulillah Melin baik bu. Ibu dan bapak juga apa kabar?"

"Kami juga baik Mel,"

"Syukurlah kalau begitu. Oh iya ibu ada apa menelpon Melin malam-malam begini?" tanya Melinda penasaran.

"Gak ada apa-apa kok Mel. Ibu hanya mengabarkan kalau ibu dan bapak ada di Jakarta, malam ini kami menginap di guess Safira. Dan rencananya besok kami mau berkunjung kerumah mu, bolehkan?"

"Boleh dong bu. Tapi ibu gak bercandakan?" tanya Melinda memastikan.

"Gak dong Mel. Ibu dan bapak udah rindu berat sama kamu, sudah dua bulan kita gak bertemu. Makanya habis dari Jepang kami langsung mau kerumahmu," ujar ibu Marisha. Ya Marisha adalah nama ibunya Melinda dan Kusuma nama bapaknya.

Melinda mengobrol dengan kedua orangtuanya lewat telpon. Mereka tak sabar untuk melepas rindu esok hari. Setelah panggilan berakhir Melinda meletakkan ponselnya diatas nakas. Dia bersiap untuk berlayar kealam mimpi.

Tok,, tokk,, tokk suara ketukan pintu luar kamarnya menggurungkan niatnya untuk istirahat lagi.

"Mel!! Buka pintunya!!" teriak mbak Santi gak sabaran.

Mau tak mau Melinda pun terpaksa membuka pintu kamarnya, "Ada apa sih mbak? Aku capek mau istirahat,"

"Istirahat kamu bilang Mel? Tuh cucian piring numpuk, kamu cuci dulu baru istirahat," ucap mbak Santi memerintah.

"Kenapa aku lagi mbak? Kan ada bik Ramlah?"

Mbak Santi melotot horor, "Kamu budeg atau apa Mel? Kamu gak dengar kah teriakan bik Ramlah tadi? Bik Ramlah jatuh dari kamar mandi, kaki terkilir dan memar,"

"Apa bik Ramlah jatuh? Kok bisa mbak?" Melinda tersentak kaget.

"Udah gak usah banyak tanya. Kamu cuci semuanya. Aku mau tidur dulu sebelum mas Riko pulang, nanti tidurku gak maksimal," ucap mbak Santi berlalu meninggalkan Melinda.

Mendengar bik Ramlah jatuh, Melinda langsung melangkah menuju kamar pembantunya. Ia sangat khawatir dengan pembantunya itu yang kira-kira usianya seusia dengan ibu Marisha.

"Bik, bik gak papa?" tanya Melinda berdiri di depan kamar bik Ramlah.

"Gak papa kok mbak. Hanya bengkak dan sedikir memar saja, mungkin besok juga sembuh," ucap bik Ramlah sesekali menunjukkan raut wajah kesakitan.

"Ini pasti sakit sekalinya bik. Kok bisa terpeleset bik?" tanya Melinda lagi.

"Bibik juga gak tau mbak. Sepertinya ada yang naruh air bekas cucian baju disana. Jadikan lantainya licin banget, untung saja bukan mbak Melinda yang jatuh," ujar bik Ramlah menjelaskan.

Ternyata begitu mulia hati bik Ramlah, disaat dia sakit masih saja bersyukur dan peduli dengan majikannya.

"Bentar ja bik," Melinda langsung keluar dia mengambil es batu freezer untuk mengompres kaki bik Ramlah. Cara sederhana seperti itu sering diajarkan oleh ibunya, Marisha.

Melinda langsung menyentuh kaki bik Ramlah dan mengompresnya.

"Gak usah mbak. Biar bibik aja yang ngompres sendiri," tepis bik Ramlah.

Melinda tak menghiraukan bik Ramlah. Dia terus mengompres kaki pembantunya itu.

"Udah bibik istirahat aja. Biar pekerjaan bibik aku yang kerjakan,"

Meski sebenarnya badan Melinda terasa capek banget tapi dia tak tega melihat bik Ramlah bekerja dengan kaki yang masih sakit. Melinda mencuci dan membereskan ruangannya bekas acara mbak Santi.

Ting.. Toonng bel rumah berbunyi. Karna satpam rumah izin pulang kampung dan bik Ramlah sedang sakit. Jadi terpaksa Melinda lagi yang harus membukakan pintu.

"Tunggu!!" teriak Melinda setengah berlari.

"Lama banget sih," ketus Mas Riko suaminya mbak Santi. Dia melongos memasukan mobilnya tanpa mengucapkan terimakasih tak menghiraukan siapa yang sudah membukakan pintu untuknya.

Dengan sabar Melinda mengusap dadanya, dia menutup kembali pintu gerbang rumah mereka setelah mobil milik Riko memasuki pekarangan rumah.

"Nih bawain sekalian!" perintah mas Riko lagi melempar tasnya kearah Melinda.

"Taruh diatas meja kerjaku!" tambahnya lagi langsung pergi ke kamarnya.

"Bau apa ini?" ucap Melinda ketika mencium bau aneh dari tas mas Riko. Karna penasaran, Melinda pun mendesul-desul tas kerja Riko, "Hem bau alkohol ini mah. Apakah mas Riko minum-minuman keras?"

***

Kicau burung sudah terdengar merdu, matahari juga sudah menampakkan wajahnya. Melinda juga sudah terlihat mengepel teras rumahnya. Saking asyiknya, ia tak mendengar suara mobil memasuki halaman rumahnya.

"Loh kamu lagi ngapain nak?" sebuah suara mengagetkan Melinda. Tapi bagi Melinda suara ini sudah tak asing lagi, dia pun langsung menoleh kearah pemilik suara itu. Dan dugaan nya benar, pemilik suara yang mengagetkannya itu adalah suara ibunya.

Mata Melinda berbinar bahagia, "Ibu? Kok pagi sekali kemarinya?"

"Ibu sudah tak sabar ingin bertemu dengan mu. Makanya ibu mendesak bapak habis sholat subuh tadi langsung kemari," jawab ibu Marisha langsung memeluk putrinya.

Melinda celingukan, "Ibu kok sendirian? Dimana bapak?"

"Ada tuh diluar sama pak Wowo lagi nurunin barang. Ibu melihat pintu gerbang gak dikunci makanya kami langsung masuk aja. Kenapa kamu ngepel sendiri? Gak ada pembantukah disini Mel?"

"Ada kok bu. Cuman lagi sakit aja, kemarin bik Ramlah habis jatuh dari kamar mandi. Kaki nya terkilir jadi gak bisa jalan," jawab Melinda.

"Duh kasian sekali ya Mel. Udah kamu duduk aja disana, biar ibu yang lanjutin ngepelnya," ucap ibu Marisha mengambil alih pekerjaan Melinda.

Melinda sempat menolak tapi ibunya tetap kekueh mengambil alih pekerjaan putrinya. Baru saja ibu Marisha mengepel lantai, mbak Santi keluar dari dalam rumah.

"Loh ibu bukannya ibunya Melinda kan?" tanya mbak Santi.

"Iya benar. Mbak ini kakaknya Yusuf kan?" balas ibu Marisha menyodorkan tangannya untuk mengajak mbak Santi bersalaman tapi mbak Santi tidak membalasnya. Alhasil ibu Marisha menarik kembali tangannya.

"Hem, ibu dan anak memang cocok mengerjakaan pekerjaan ini. Gak heran sih. Udah terusin aja pekerjaannya," ucap mbak Santi berlalu masuk kembali ke dalam rumah.

"Iparmu kok gitu Mel? Kayak gak berpendidikan aja, jauh berbeda dengan Yusuf," kata ibu Marisha.

"Udah gak usah dipikirkan bu. Kita masuk aja kedalam yuk, taruh dulu alat pelnya disana," Melinda mengajak ibunya masuk kedalam rumah.

Baru saja Melinda hendak menggandeng ibunya. Terlihat bapaknya dan pak Wowo membawa satu buah kardus ditangan masing-masing. Langsung Melinda menghampiri dan mencium pundak tangan bapaknya.

"Bapak apa kabar? Sehat pak?" tanya Melinda.

"Sehat dong. Kan mau ketemu anak dan calon cucu," balas bapak dengan semangat 45.

Saat Melinda bercakap dengan bapaknya. Ucapan pak Wowo sontak membuat mereka melihat kearahnya, "Loh nyonya ngapain? Kenapa megang alat pel?"

"Astaga ibu, mau ngapain sih? Gak usah bergaya mau ngepel. Wong dirumah saja tak pernah mengepel," ledek bapak Kusuma, ayahnya Melinda.

Ibu Marisha mencebik kesal kearah suaminya, "Bukannya mau bergaya pak. Tadi pas ibu masuk, ibu lihat ankmu sedang mengepel. Makanya ibu inisiatif buat bantuin gitu loh,"

"Memangnya gak ada pembantukah disini Mel?" tanya bapak Kusuma meminta penjelasan kepada Melinda.

Bersambung...

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status