Share

Bab 12

Author: Krisna
Mawar mengira Dhana telah melupakan semua yang dia ucapkan di gunung karena pria itu masih bodoh pada saat itu.

Tapi ternyata, Dhana mengingat setiap kata.

Mawar tersipu, tampak sedikit canggung.

Karena Dhana sudah tidak bodoh lagi, Mawar semakin tertarik pada pemuda tampan itu. Daripada membiarkan Anton mendapatkannya, dia lebih memilih menyerahkan dirinya kepada Dhana.

"Kalau begitu, kamu masih ingin makan buah?"

Senyum malu-malu Mawar membuatnya terlihat semakin memikat.

Dia duduk berhadapan dengan Dhana, tangannya menopang dagu. Matanya yang lebar berkilau cerah, menatap lembut kepada Dhana.

Dhana mengangguk dengan senyum. "Kalau memang bisa, tentu saja aku mau."

Mendengar itu, jantung Mawar berdebar kencang.

Dari jawabannya, Dhana tampaknya setuju.

Mawar tidak berbelit-belit dan langsung mengajukan permintaannya.

"Dhana, aku punya permintaan. Kamu juga tahu kalau ibu dan adikku ingin aku menikah dengan Anton, tapi aku nggak mau. Aku butuh bantuanmu, jadi kamu harus mau."

Kabar tentang Mawar dipaksa menikah dengan Anton bukan hanya diketahui Dhana, tapi tersebar di seantero Desa Mawar.

"Jadi, kamu mau nggak menikah dengannya?" tanya Dhana sambil mengunyah.

Mawar menggeleng cepat. "Anton memang punya uang, tapi mukanya penuh bopeng. Dia juga pendek dan jelek. Kalau dia tidur di sebelahku, aku pasti mimpi buruk setiap hari..."

Wajahnya sangat mendung.

Dia mendesah lagi sebelum melanjutkan.

"Waktu di gunung tadi, kukira Anton bohong. Tapi habis itu aku tahu, ibuku memang sudah menerima 360 juta dari dia sebagai maskawin."

Mendengar ini, Dhana segera duduk tegak.

Anton ini, meski penampilannya tidak menarik, jelas sangat murah hati. Dia bersedia memberikan 360 juta, jumlah yang cukup fantastis.

"Dia beneran kasih 360 juta?"

Dhana sulit percaya dan meminta konfirmasi.

"Iya!" Mawar menjelaskan, "Setelah ibuku dapat uangnya, dia diam-diam bilang kalau aku sedang di dekat gunung."

"Begitulah cara Anton menemukanku di air terjun."

Mengingat peristiwa di Gunung Airnaga, Dhana mengerutkan keningnya.

"Setelah Anton membuatku pingsan, dia melakukan sesuatu lagi padamu? Kalau dia berani macam-macam, biar kubantu kamu balas dendam."

Dhana meletakkan sumpitnya, tangannya tanpa sadar mengepal.

Wajah Mawar masih suram dan dia mendesah lagi.

Lalu dia menceritakan bagaimana Anton mengikatnya dengan pakaian, menyumpal kain ke mulutnya, dan mengancamnya.

Dia menceritakan semuanya kepada Dhana.

Dhana mengepalkan tinjunya erat-erat hingga terdengar bunyi berderak.

"Anton bajingan! Dia harus kuberi pelajaran!"

Setelah mengucapkan ancaman itu, Dhana bertanya lebih lanjut. "Dia sudah menodaimu?"

Mawar menggelengkan kepala dan menjelaskan, "Tadinya memang sudah hampir, tapi aku tiba-tiba dapat ide. Karena maskawinnya memang sudah di ibuku, aku bilang aku setuju menikah dengannya beberapa hari lagi asal dia mau melepaskanku."

"Dan ternyata berhasil. Anton akhirnya menyerah dan nggak jadi menodaiku. Huhuhu ...."

Mawar mulai menangis lagi mengingat kejadian waktu itu.

Meski kemungkinan terburuknya tidak terjadi, Anton telah melihatnya telanjang bulat dan mencari kesempatan dalam kesempitan.

Mawar menghapus air matanya, hatinya seperti teriris.

Dhana akhirnya menghela napas lega setelah mendengar ini.

Untungnya, tidak sampai terjadi hal yang fatal.

Selama Dhana mengalami gangguan mental, Mawar memperlakukannya dengan sangat baik. Kerap memasakkan makanan lezat dan bahkan membelikannya dua pakaian baru.

Sekarang, dia sudah normal kembali. Dia ingin membalas budi dengan melindungi Mawar sebisa mungkin dan mencegahnya terluka sedikit pun.

"Rencana Anton gagal, kenapa kamu masih menangis? Jangan menangis."

Dhana yang tidak memahami situasinya, hanya bisa mencoba menenangkan Mawar.

Mawar menangis terisak dan menghapus air matanya. "Walaupun rencananya memang gagal, tapi dia sudah lihat tubuhku. Dia bahkan memelukku. Dasar Anton sialan, aku benci dia."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 100

    Dhana tidak melihat perlunya menggunakan kekuatan fisik untuk membereskan orang biasa seperti mereka.Dengan hipnotis, dia diam-diam mengulangi teknik sebelumnya. Begitu mantra bekerja, Galang kembali merangkak dan menggonggong.Secara bersamaan, dia berlari ke depan dan mengamuk, menabrak dinding halaman di depannya. Galang menghantam dinding itu dengan suara keras, hampir merobohkannya.Pemandangan itu membuat Dona terkejut setengah mati.Dia bergegas menangkap Galang."Nak, kamu kenapa?""Guk guk guk, auuu ...."Galang menggonggong, lalu mengeluarkan lolongan panjang. Darah mengalir deras dari kepalanya karena benturan tadi."Hendra, ke mana kamu?" Dona berteriak ke arah pintu. "Kepala Galang berdarah! Cepat ke sini sekarang juga, aku nggak bisa menahannya sendirian!"Begitu Dona selesai berteriak, Galang melolong lagi. Dia lalu meletakkan tangannya di lantai, mengangkat kepalanya, dan melompat untuk menggigit betis Dona.Dona bergidik dan cepat-cepat mundur.Akan tetapi, refleksnya

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 99

    Sayangnya, Galang bermulut kotor dan terus-menerus menyebutnya bodoh. Kenapa dia harus memanjakan orang semacam itu?Dhana tidak mau memberinya bunga sama sekali."Galang, kamu pasti salah paham. Waktu Paman meminjamkan uangnya kepada kami, dia nggak pernah menyebut soal bunga. Sekarang kamu tiba-tiba menuntut bunga 40 juta? Kenapa nggak sekalian kamu rampok kami saja?"Galang mengepalkan tangannya, benar-benar ingin meninju Dhana."Aku sudah baik cuma minta bunga 40 juta. Kalau kamu nggak mau bayar, aku akan mengambilnya dengan paksa hari ini juga. Kalian bisa apa?"Galang semakin berani.Ibu Dhana merasa sangat sedih mendengarnya. Andai dia tahu akan jadi seperti ini, dia tidak akan menerima pinjaman uang itu meski harus kelaparan.Dulu, dia menerima uang itu dengan enggan setelah dibujuk berulang kali oleh kakaknya. Tapi, keponakannya ini benar-benar keterlaluan!Pertama, dia meminta pokok pinjaman, sekarang meminta bunga.Dan jika bunganya sudah dibayar, apa lagi yang akan dia mint

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 98

    Orang tua dan adik Dhana menatap perilaku aneh Galang dengan mata penasaran. Punggung mereka basah kuyup oleh keringat dingin.Apa yang sebenarnya terjadi?Penyakit rabies?Ataukah Galang melakukan ini dengan sengaja?Jika sengaja, ini sudah kelewat batas.Mereka bertiga mundur bersamaan, takut Galang akan mendekati mereka. Untungnya, Galang hanya menggonggong saja, tapi tidak mendekat.Hendra dan Dona berusaha menarik Galang, tetapi anak mereka hanya tergeletak di lantai, menggigit dan menggonggong liar.Dhana berdiri dengan tangan di belakang punggung. Senyum puas terlukis di wajahnya.Galang pantas merasakan balasannya.Dhana kemudian mengambil ponselnya dan merekam video.Setelah membiarkan Galang menggonggong selama sekitar tiga menit, Dhana menghentikan hipnosisnya. Galang perlahan sadar dan berusaha bangun, merasa sangat bingung."Apa yang terjadi? Kenapa aku di lantai?"Dona membantu Galang membersihkan debu dari pakaiannya. "Anakku, apa kamu baru digigit anjing?"Galang mengge

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 97

    Sebelum Bejo bisa menjawab, Dhana sudah mendahuluinya."Paman, kami sangat berterima kasih, pinjamanmu sangat membantu kami. Kebetulan kalian datang, sekalian aku kembalikan uang 100 juta itu."Dhana mengeluarkan ponselnya dari saku."Paman, beri tahu aku nomor rekeningmu. Nanti kutransfer uangnya, biar utang kami lunas. Aku benar-benar minta maaf."Hendra merasa sulit untuk percaya kata-kata Dhana.Mereka kemarin menerima kabar bahwa Dhana berjualan ikan bersama Ratna di pasar Kecamatan Ayam, tapi mereka hanya mendapat 20-an juta.Bagaimana mungkin Dhana punya 100 juta?Tingkah laku bocah bodoh ini tampaknya tidak berbeda dari orang normal, tapi ucapannya tidak masuk akal.Meski begitu, Hendra tidak mengatakannya."Dhana, aku tahu keluargamu sedang kesulitan. Sekarang bayar 20 juta saja dulu, sisanya bisa kita bicarakan lagi nanti. Kamu ...""Bodoh! Dia bilang mau bayar 100 juta, kenapa kamu minta 20 juta? Aku penasaran dia beneran bisa atau nggak!" Sebelum Hendra selesai bicara, Dona

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 96

    Sepanjang waktu, tidak jarang dia melakukan serangan pribadi.Meskipun mereka sepupu, hubungan mereka lebih buruk dibandingkan orang asing.Sedangkan bibinya adalah tipikal wanita yang licik dan tidak kenal malu. Uang 100 juta yang diutangkan kepada keluarga Dhana diberikan secara diam-diam oleh pamannya.Setelah bibinya tahu tentang hal ini, dia sering datang ke rumah Dhana menuntut pembayaran. Meski Dhana menderita gangguan mental selama hal itu terjadi, dia masih mengingat ekspresi jelek bibinya.Kata-katanya penuh racun dan hinaannya berbisa. Keluarga Dhana telah menanggung perlakuan kasarnya berulang kali. Bahkan Ayu pernah ditampar olehnya.Kebetulan sekali mereka datang sendiri. Sekalian saja selesaikan utangnya.Dhana benar-benar tidak tahan melihat bibi ini.Saat pikiran Dhana melayang, keluarga pamannya sudah membuka gerbang kayu yang bobrok itu dan memasuki halaman rumah Dhana.Melihat Dhana sedang mencuci wajahnya, bibinya datang menghampiri, memandanginya dengan mata menyi

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 95

    Setelah pesan suara itu, muncul dua stiker bibir merah yang menggoda.Setelah bibir merah, dua stiker lain muncul, gambar tangan yang mengisyaratkan mengundang dengan genit.Suara Mawar manis, hangat, dan lembut, terdengar sangat menenangkan. Pikiran Dhana jadi tidak tahan dan melayang jauh.Kak Mawar bukan cuma berparas cantik, tetapi tubuhnya juga sangat memukau, berlekuk indah dan proporsional.Dan seolah itu saja belum cukup, suaranya benar-benar memikat.Suara lembut dan halus itu bisa menyihir pria mana pun, apalagi seorang pemuda dengan jiwa membara seperti Dhana. Hatinya semakin bergetar.Kalau saja malam belum terlalu larut, Dhana pasti tidak ragu-ragu menyelinap ke rumah Mawar."Kak Mawar, kamu kenapa?"Tanpa pikir panjang, Dhana mengirim pesan suara itu.Tidak sampai setengah menit kemudian, suara Mawar kembali terdengar. "Anak nakal, kamu tahu persis apa yang aku maksud."Segera setelah itu, Mawar mengirim pesan lain."Adik kecil, kakakmu di sini sendirian. Nggak ada laki-l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status