Share

Bab 13

Penulis: Krisna
"Aku akan membalaskan dendammu lain kali. Jangan menangis lagi."

Dhana menghabiskan mi-nya dalam beberapa suapan besar.

Dia menaruh sumpitnya dan mengeluarkan sendawa puas.

"Oh ya, kamu katanya mau minta bantuanku. Pasti tentang Anton, 'kan? Apa yang perlu kulakukan?"

Mawar menggigit bibir merahnya, terlihat malu-malu.

Bibirnya lembut dan penuh, pipinya merona dengan warna kemerahan.

"Dhana, aku tahu permintaan ini mungkin terlalu berlebihan dan nggak adil bagimu, tapi aku nggak punya pilihan lain. Makanya aku punya ide ini. Kamu harus bantu aku ...."

Mawar berbicara panjang lebar, tapi tidak segera menyebutkan bantuan apa yang dia butuhkan.

Dhana mendesak, "Jangan berputar-putar, terus terang saja. Apa pun itu, kalau aku bisa, aku pasti akan membantumu."

Mawar ragu sejenak, lalu bergumam malu-malu, "Dhana, aku nggak mau kalau harus menikah dengan Anton. Jadi, kamu mau nggak tidur denganku? Kalau aku jadi milikmu, aku bisa lebih gampang menolak Anton."

Wajahnya memerah karena malu. Napasnya menjadi tidak teratur.

Mawar merasa sangat malu. Sebagai seorang wanita, dia mengatakan sesuatu yang begitu memalukan kepada seorang pria. Tapi dia tidak punya pilihan lain.

"Aku seorang janda. Maaf aku harus menyusahkanmu, tapi aku nggak tahu solusi apa yang lebih baik. Kamu harus bantu aku."

Mawar bangkit, pinggang rampingnya bergoyang saat dia berjalan menghampiri Dhana. Dia duduk di samping Dhana, meletakkan tangan lembutnya di atas lutut pria itu. Matanya menatap dengan wajah bersemu merah.

Dhana tidak menyangka bahwa bantuan yang dimaksud Mawar ternyata seperti ini. Wanita yang duduk di sampingnya ini secantik artis di televisi.

Jujur saja, Dhana sangat terpesona.

Tidak perlu dikatakan lagi bahwa hatinya tergoda.

Mawar bahkan lebih cantik dari Puspita. Lebih muda pula, dengan suara semanis madu.

Meskipun dia gadis desa, Mawar tampak sangat terawat. Kulitnya halus dan putih. Tubuhnya tinggi dan ramping.

Dhana berpikir dalam hatinya, tidur dengan wanita secantik itu adalah impian setiap pria .

Dhana memikirkannya sejenak dan merasa sesuatu yang janggal.

"Kak Mawar, aku laki-laki. Apanya yang menyusahkan bagiku? Malah aku yang menyusahkanmu selama ini."

Mawar mengulurkan tangan rampingnya dan menggenggam pergelangan tangan Dhana.

"Aku akan kabulkan apa pun permintaanmu, asal kamu mau bantu aku menggagalkan pernikahanku dengan Anton. Aku beneran suka kamu, tolong bantu aku."

Mawar menggenggam erat pergelangan tangan Dhana.

Pria di sampingnya ini tinggi dan tampan, siswa paling pintar di Desa Mawar. Dia juga sudah kembali normal. Mawar merasa semakin menyukainya.

"Dhana, jangan takut. Aku nggak akan mengejarmu. Bahkan, walaupun nggak ada masalah dengan Anton, aku beneran suka kamu. Tolong bantu aku, ya? Aku juga bersedia jadi wanitamu."

Mawar bicara pelan, menggigit bibir merahnya. Suaranya manis dan lembut.

Suaranya mampu menggetarkan jiwa siapa pun yang mendengarnya.

Dhana berpikir sejenak, lalu tersenyum dan berkata, "Aku seorang pria. Ini bukan pengorbanan. Tentu saja aku bersedia."

Setelah itu, Dhana mengubah topik pembicaraan.

"Hanya saja, meskipun kita cuma bersama sementara, Anton nggak akan berhenti mengejarmu. Cara ini nggak menyelesaikan apa-apa."

Mendengar kesediaan Dhana, Mawar pun girang bukan kepalang.

"Kalau begitu, sekarang saat yang tepat. Ayo kita tidur bersama hari ini. Setelah aku jadi milikmu, kita pikir lagi bagaimana cara menghadapi Anton dan keluargaku."

Dhana menoleh dan menatap Mawar yang begitu cantik. Hatinya berdebar seketika. Janda kembang ini sungguh memikat.

Pandangannya mula-mula jatuh pada pipi Mawar. Wajahnya lembut dan halus bagai mutiara.

Dengan alis bak bulan sabit, bulu mata panjang membingkai mata yang sebening air dari sumber mata air.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 100

    Dhana tidak melihat perlunya menggunakan kekuatan fisik untuk membereskan orang biasa seperti mereka.Dengan hipnotis, dia diam-diam mengulangi teknik sebelumnya. Begitu mantra bekerja, Galang kembali merangkak dan menggonggong.Secara bersamaan, dia berlari ke depan dan mengamuk, menabrak dinding halaman di depannya. Galang menghantam dinding itu dengan suara keras, hampir merobohkannya.Pemandangan itu membuat Dona terkejut setengah mati.Dia bergegas menangkap Galang."Nak, kamu kenapa?""Guk guk guk, auuu ...."Galang menggonggong, lalu mengeluarkan lolongan panjang. Darah mengalir deras dari kepalanya karena benturan tadi."Hendra, ke mana kamu?" Dona berteriak ke arah pintu. "Kepala Galang berdarah! Cepat ke sini sekarang juga, aku nggak bisa menahannya sendirian!"Begitu Dona selesai berteriak, Galang melolong lagi. Dia lalu meletakkan tangannya di lantai, mengangkat kepalanya, dan melompat untuk menggigit betis Dona.Dona bergidik dan cepat-cepat mundur.Akan tetapi, refleksnya

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 99

    Sayangnya, Galang bermulut kotor dan terus-menerus menyebutnya bodoh. Kenapa dia harus memanjakan orang semacam itu?Dhana tidak mau memberinya bunga sama sekali."Galang, kamu pasti salah paham. Waktu Paman meminjamkan uangnya kepada kami, dia nggak pernah menyebut soal bunga. Sekarang kamu tiba-tiba menuntut bunga 40 juta? Kenapa nggak sekalian kamu rampok kami saja?"Galang mengepalkan tangannya, benar-benar ingin meninju Dhana."Aku sudah baik cuma minta bunga 40 juta. Kalau kamu nggak mau bayar, aku akan mengambilnya dengan paksa hari ini juga. Kalian bisa apa?"Galang semakin berani.Ibu Dhana merasa sangat sedih mendengarnya. Andai dia tahu akan jadi seperti ini, dia tidak akan menerima pinjaman uang itu meski harus kelaparan.Dulu, dia menerima uang itu dengan enggan setelah dibujuk berulang kali oleh kakaknya. Tapi, keponakannya ini benar-benar keterlaluan!Pertama, dia meminta pokok pinjaman, sekarang meminta bunga.Dan jika bunganya sudah dibayar, apa lagi yang akan dia mint

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 98

    Orang tua dan adik Dhana menatap perilaku aneh Galang dengan mata penasaran. Punggung mereka basah kuyup oleh keringat dingin.Apa yang sebenarnya terjadi?Penyakit rabies?Ataukah Galang melakukan ini dengan sengaja?Jika sengaja, ini sudah kelewat batas.Mereka bertiga mundur bersamaan, takut Galang akan mendekati mereka. Untungnya, Galang hanya menggonggong saja, tapi tidak mendekat.Hendra dan Dona berusaha menarik Galang, tetapi anak mereka hanya tergeletak di lantai, menggigit dan menggonggong liar.Dhana berdiri dengan tangan di belakang punggung. Senyum puas terlukis di wajahnya.Galang pantas merasakan balasannya.Dhana kemudian mengambil ponselnya dan merekam video.Setelah membiarkan Galang menggonggong selama sekitar tiga menit, Dhana menghentikan hipnosisnya. Galang perlahan sadar dan berusaha bangun, merasa sangat bingung."Apa yang terjadi? Kenapa aku di lantai?"Dona membantu Galang membersihkan debu dari pakaiannya. "Anakku, apa kamu baru digigit anjing?"Galang mengge

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 97

    Sebelum Bejo bisa menjawab, Dhana sudah mendahuluinya."Paman, kami sangat berterima kasih, pinjamanmu sangat membantu kami. Kebetulan kalian datang, sekalian aku kembalikan uang 100 juta itu."Dhana mengeluarkan ponselnya dari saku."Paman, beri tahu aku nomor rekeningmu. Nanti kutransfer uangnya, biar utang kami lunas. Aku benar-benar minta maaf."Hendra merasa sulit untuk percaya kata-kata Dhana.Mereka kemarin menerima kabar bahwa Dhana berjualan ikan bersama Ratna di pasar Kecamatan Ayam, tapi mereka hanya mendapat 20-an juta.Bagaimana mungkin Dhana punya 100 juta?Tingkah laku bocah bodoh ini tampaknya tidak berbeda dari orang normal, tapi ucapannya tidak masuk akal.Meski begitu, Hendra tidak mengatakannya."Dhana, aku tahu keluargamu sedang kesulitan. Sekarang bayar 20 juta saja dulu, sisanya bisa kita bicarakan lagi nanti. Kamu ...""Bodoh! Dia bilang mau bayar 100 juta, kenapa kamu minta 20 juta? Aku penasaran dia beneran bisa atau nggak!" Sebelum Hendra selesai bicara, Dona

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 96

    Sepanjang waktu, tidak jarang dia melakukan serangan pribadi.Meskipun mereka sepupu, hubungan mereka lebih buruk dibandingkan orang asing.Sedangkan bibinya adalah tipikal wanita yang licik dan tidak kenal malu. Uang 100 juta yang diutangkan kepada keluarga Dhana diberikan secara diam-diam oleh pamannya.Setelah bibinya tahu tentang hal ini, dia sering datang ke rumah Dhana menuntut pembayaran. Meski Dhana menderita gangguan mental selama hal itu terjadi, dia masih mengingat ekspresi jelek bibinya.Kata-katanya penuh racun dan hinaannya berbisa. Keluarga Dhana telah menanggung perlakuan kasarnya berulang kali. Bahkan Ayu pernah ditampar olehnya.Kebetulan sekali mereka datang sendiri. Sekalian saja selesaikan utangnya.Dhana benar-benar tidak tahan melihat bibi ini.Saat pikiran Dhana melayang, keluarga pamannya sudah membuka gerbang kayu yang bobrok itu dan memasuki halaman rumah Dhana.Melihat Dhana sedang mencuci wajahnya, bibinya datang menghampiri, memandanginya dengan mata menyi

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 95

    Setelah pesan suara itu, muncul dua stiker bibir merah yang menggoda.Setelah bibir merah, dua stiker lain muncul, gambar tangan yang mengisyaratkan mengundang dengan genit.Suara Mawar manis, hangat, dan lembut, terdengar sangat menenangkan. Pikiran Dhana jadi tidak tahan dan melayang jauh.Kak Mawar bukan cuma berparas cantik, tetapi tubuhnya juga sangat memukau, berlekuk indah dan proporsional.Dan seolah itu saja belum cukup, suaranya benar-benar memikat.Suara lembut dan halus itu bisa menyihir pria mana pun, apalagi seorang pemuda dengan jiwa membara seperti Dhana. Hatinya semakin bergetar.Kalau saja malam belum terlalu larut, Dhana pasti tidak ragu-ragu menyelinap ke rumah Mawar."Kak Mawar, kamu kenapa?"Tanpa pikir panjang, Dhana mengirim pesan suara itu.Tidak sampai setengah menit kemudian, suara Mawar kembali terdengar. "Anak nakal, kamu tahu persis apa yang aku maksud."Segera setelah itu, Mawar mengirim pesan lain."Adik kecil, kakakmu di sini sendirian. Nggak ada laki-l

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status