Share

Bab 8

Author: Krisna
"Ternyata memang serpihan kayu. Tanganku jadi bengkak semua. Untungnya aku datang sekarang. Kalau tunggu sampai besok, mungkin jari-jariku sudah jadi lobak."

Bibi Ratih mengeluh, memandang tangannya dengan mata terpicing, lalu menggosoknya dengan tangan lain, sambil mendesis kesakitan.

Puspita mengambil jarum dan membantunya mengeluarkan serpihan kayu itu.

Tak lama kemudian, serpihan kayu itu terlepas.

"Cuma serpihan kayu! Apa sesakit itu? Kamu terlalu berlebihan. Kamu sudah melahirkan berkali-kali, nggak pernah mengeluh sakit. Tapi kena serpihan kayu kecil saja sampai merintih begini. Orang yang nggak tahu mungkin mengira kamu habis dipukuli suamimu!"

Puspita tersenyum jahat dan tidak dapat menahan diri untuk meledek.

Bibi Ratih terlihat canggung. "Sejak melahirkan anak terakhirku, aku jadi nggak tahan sakit. Aku juga nggak tahu kenapa."

Dia menggosok lagi tangannya yang sakit.

Puspita mengambil plester dan membantu memasangkannya.

"Sudah selesai, sana pergi. Aku juga harus tidur."

Bibi Ratih seolah menempel di sofa, enggan bangun.

"Kenapa nggak ngobrol sebentar? Kamu kelihatan segar, nggak seperti orang sakit. Kenapa buru-buru mengusirku?"

Sikap Bibi Ratih membuat Puspita kesal.

"Aku beneran nggak enak badan. Apalagi barusan bertengkar dengan Bima. Aku sedang nggak mau ngobrol. Sana pulang!"

Puspita berbicara dengan tegas, menarik Bibi Ratih.

"Ayo pergi, aku beneran mau tidur!"

Semakin dia mendesak, semakin Bibi Ratih tidak mau pergi.

"Dasar bocah, kenapa buru-buru begitu? Ada laki-laki yang sedang sembunyi di kamarmu?"

"Dasar mesum!" geram Puspita. "Kalau berani bicara macam-macam lagi, aku robek mulut kotormu!"

Sambil marah, dia semakin mengejek.

"Menurutku, kamu yang kurang sentuhan laki-laki. Kenapa nggak pergi ke Anton saja?"

"Perjaka tua itu pasti lumayan kuat!"

"Persetan!"

Saat nama Anton disebut, wajah Bibi Ratih tampak jijik.

"Mukanya penuh bopeng, bikin mual. Apalagi badannya pendek dan kulitnya gelap. Pantas saja dia perjaka tua."

"Alah, sama saja kalau lampunya mati," canda Puspita.

...

Dhana mendengar setiap kata dalam percakapan mereka di luar.

Bibi Ratih mulutnya tukang gosip, tiap omongannya selalu tepat. Jika wanita tua itu sampai masuk kamar, habis sudah semuanya.

Keringat dingin membasahi punggung Dhana. Dia berharap bisa menggali lubang dan merangkak pergi.

Dia ingin keluar lewat jendela, tapi takut menimbulkan suara.

Itu seperti mengaku tanpa ditanya.

Dia hanya bisa berharap Bibi Ratih segera pergi. Jika tidak, malam ini akan menjadi bencana.

Bibi Ratih terkenal sebagai orang yang suka bergosip.

Begitu dia tahu sesuatu, dia akan menyebarkannya ke mana-mana.

Beberapa menit kemudian, Bibi Ratih akhirnya pergi.

Mendengar suara langkah kakinya menghilang, Dhana menghela napas lega.

Dua menit kemudian, dia mendengar Puspita menutup pintu.

Baru saat itu Dhana mengembuskan napas beratnya.

Dia mengusap dadanya. "Hampir saja! Hampir saja mendapat masalah besar!"

Saat Puspita masuk, Dhana bertanya, "Bibi Ratih nggak akan kembali lagi, 'kan?"

Puspita tersenyum tipis, suaranya melembut.

"Tentu saja. Kalaupun dia datang lagi, dia nggak bisa masuk. Aku sudah kunci gerbang luar. Suamiku saja nggak akan bisa masuk."

Sambil mengatakan itu, Puspita mendekati Dhana.

...

Di jalan, Bima memeriksa ponselnya. Sudah hampir 20 menit sejak dia meninggalkan rumah.

Dalam situasi normal, urusan di rumah seharusnya sudah selesai.

Bima mengeluarkan rokok terakhirnya, melempar bungkusnya ke tanah, lalu mengeluarkan korek api untuk menyalakan rokok.

Dalam 20 menit itu, dia sudah merokok enam batang.

Sebagai seorang pria, dia membuat pilihan ini karena kehabisan akal. Jika ada cara lain, dia tidak akan melakukan ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 194

    Yuna mencibir dan mengerutkan kening."Dasar buta, beraninya menghina Tabib Dhana? Tunggu saja. Kalian akan menyesalinya.""Menyesal?" Amanda membalas. "Nona Yuna, izinkan aku memberi mengingatkan. Kalau kamu cari pria simpanan, carilah yang layak. Kalau pilih orang bodoh, kamu akan menyesal akhirnya."Sambil bicara, pandangan Amanda beralih ke Dhana."Pernikahan sebentar lagi dimulai. Kami tunggu kamu di Grand Hotel. Semoga kamu masih berani datang menyaksikan kebahagiaan Kak Tara dan aku."Amanda berbalik dan naik ke mobil pengantin."Sampai jumpa sebentar lagi. Aku punya kejutan untukmu," kata Tara, masuk ke mobil pengantin dengan seringai jahat.Dia sudah mengundang seorang pendekar bela diri tingkat sembilan.Hari ini, entah Dhana datang ke pernikahan atau tidak, dia akan diberi pelajaranDiiringi sorak-sorai, iring-iringan kendaraan itu perlahan-lahan berangkat.Dhana memarkir motor listriknya di tepi jalan, lalu naik mobil sport Yuna.Di dalam mobil.Yuna bertanya sambil terseny

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 193

    "Wah, dia itu Nona Yuna dari Keluarga Atmaja, 'kan? Cantik sekali! Dia kelihatannya akrab dengan pemuda itu.""Benar," sambung seorang wanita lain. "Dilihat dari ekspresi dan percakapan mereka, kelihatannya sangat akrab."Tiba-tiba, salah seorang wanita punya ide, berjalan mendekati Dhana dan Yuna dengan wajah tersenyum ramah."Nona Yuna, apa perusahaanmu masih butuh satpam? Aku dengar katanya gaji dan tunjangan satpam di Grup Atmaja sangat tinggi. Anakku pernah ikut pelatihan keamanan, tapi masih belum dapat pekerjaan. Bisakah dia bekerja jadi satpam di perusahaanmu?""Nona Yuna, anakku kepala koki di restoran. Masakannya sangat luar biasa. Apa restoran milik grupmu butuh koki? Izinkan anakku bergabung dengan perusahaan grup kalian, terima kasih Nona Yuna!""Apa kalian butuh pembantu rumah tangga? Aku bisa melakukannya.""Butuh orang untuk membersihkan toilet? Aku cukup profesional.""..."Belasan wanita paruh baya itu mencari pekerjaan.Wajah Yuna tampak muram, kata-kata terbentuk di

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 192

    "Lihat, itu orangnya!"Seseorang yang bermata tajam menunjuk ke arah Dhana."Ya, ya! Pemuda yang duduk di motor itu, dia mantan pacarnya Amanda. Dia pernah datang ke sini dua tahun lalu, jadi aku sudah ketemu beberapa kali. Si bodoh itu masih nggak rela melepaskan?""Mantan pacarnya mau menikah, dia masih saja datang. Seperti orang bodoh saja, menunggu di depan rumah. Apa dia benar-benar mau menyaksikan Amanda menikah dengan orang lain? Dibayangkan saja sudah kasihan ...."Gerombolan wanita paruh baya yang suka mencampuri urusan orang mendekati Dhana."Nak, mantan pacarmu sudah menikah dengan orang lain. Lupakan dia. Hari ini hari pernikahannya. Kamu pergi saja.""Ya, Tara pernah memukulimu dua tahun lalu. Siapa tahu dia mau melakukannya lagi hari ini. Kamu harus belajar untuk melepaskan."Dhana duduk di atas motor, menatap mereka."Terima kasih atas perhatian kalian, tapi aku nggak bodoh lagi. Karena mantan pacarku mau menikah, paling nggak aku harus datang."Salah seorang wanita paru

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 191

    Dengan satu pikiran, jiwanya kembali ke dunia nyata. Dhana bangun dari tempat tidur, menjilat bibirnya. Rasa air danau itu masih tertinggal.Sangat manis dan sulit dilupakanDhana mengambil botol air mineral, lalu kembali memasuki Dimensi Teratai dan mengisi botol dengan air danau.Dia membawa air itu kembali ke dunia nyata.Air danau berkilau dengan kejernihan kristal, seperti minuman para dewa. Saat tutup botol dibuka sedikit saja, aroma harumnya langsung tercium."Aroma ini sebanding dengan parfum!"Dia membuka tutup botol dan minum sedikit. Rasa segar dan manis segera memenuhi mulut, lalu mengalir ke kerongkongan, hingga ke perutnya, meninggalkan rasa hangat yang menyenangkan."Luar biasa, benar-benar luar biasa!"Tiba-tiba, Dhana mendapat sebuah ilham.Di dalam Dimensi Teratai, tumbuhan tumbuh subur. Apa efeknya jika menggunakan air danau itu untuk mengairi tanaman di dunia nyata? Mungkin tanamannya akan tumbuh subur seperti di dalam Dimensi Teratai?Tidak lama setelah memikirkann

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 190

    Sekar menghela napas dalam-dalam saat mengatakan itu.Dua tahun terakhir ini seperti hidup di neraka. Mereka berempat sangat menderita, terutama pasangan tua itu. Kaki Bejo patah dan selalu kambuh setiap beberapa hari. Dia sendiri pun tidak jauh lebih baik.Dhana kini sudah sembuh, baru saja membeli mobil mewah, dan sedang membangun vila. Kehidupan mereka kembali normal dan tidak mampu menerima guncangan apa pun lagi."Ayah, Ibu, jangan khawatir. Hubunganku dengan Amanda sudah ditakdirkan jelek sejak awal. Kalau urusan kami nggak kutuntaskan besok, mereka berdua pasti akan mencariku lagi. Aku tetap harus pergi besok."Melihat Dhana tidak bisa dibujuk dengan cara apa pun, mereka tidak bisa berbuat apa-apa.Beberapa menit berlalu sebelum Bejo perlahan bicara lagi."Kalau begitu, usahakan jangan sampai ada perkelahian. Tinggal bicarakan apa yang perlu saja, lalu segera pulang."Dhana mengangguk.Di Kota Siraya, kantor Yuna di Grup Atmaja.Yuna bersandar di kursi kulitnya dan menatap Keke

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 189

    "Kamu nggak benar-benar mau datang, 'kan?""Kenapa nggak?" balas Dhana sambil tersenyum. "Sebagai mantan pacar Amanda, aku harus datang di momen paling bahagia mereka. Paling nggak membawa hadiah spesial biar pernikahan mereka semakin mengesankan, ya 'kan?"Besok, dia akan membalas dendam atas semua penderitaan yang dia rasakan selama dua tahun.Kenapa tidak datang?Dia justru harus datang!Dan kedatangannya harus megah dan mencolok."Beneran mau datang?" tanya Mawar, bingung.Dhana mengangguk lagi, "Kamu pikir aku bercanda? Aku sudah menyiapkan hadiahnya, dan besok pasti akan diantarkan ke tempat pernikahan tepat waktu."Melihat ekspresi serius Dhana, Mawar percaya bahwa Dhana mengatakan yang sebenarnya. Pria ini mungkin benar-benar sudah menyiapkan hadiah."Dhana, aku khawatir. Pasti ada udang di balik batu kenapa Amanda mengundangmu ke pernikahannya. Sebaiknya nggak usah datang.""Lagi pula, orang yang memukulimu itu katanya dari keluarga terpandang. Apa jadinya kalau mereka menyaki

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status