LOGINSekitar sepuluh menit sebelum Bambang mendapatkan laporan dari radio, sebuah siluet manusia terlihat mendekati mobil Amara. Diperbesarnya resolusi gambar pada layar tersebut oleh teknisi keamanan agar wajah pelaku terlihat lebih terang.
"Tolong berhentikan videonya tepat di detik pelaku mengayunkan benda tumpul itu ke arah kaca mobil!" perintah Adrian menunjuk layar monitor.
Teknisi tersebut menuruti perintah sang dokter dan menekan tombol jeda pada papan tiknya. Terpampang jela
Didera rasa panik yang amat parah saat bersembunyi di bawah meja lantai dua belas tadi, mantan selingkuhan Doni ini rupanya memilih berkhianat. Perempuan ini menyadari bahwa bekerja sama dengan pria pengangguran tersebut hanya akan menjebloskannya ke dalam penjara kota."Saya terpaksa ngelakuin perbuatan kotor itu semua karena Pak Doni selalu ngancam mau nyelakain saya di jalanan, Bu Amara. Saya sadar kalau Pak Doni itu cuma laki-laki pecundang yang ngga punya uang sepeser pun buat bayar komisi ke saya. Saya bersedia bersaksi di pengadilan buat melawan mantan suami Ibu pakai semua bukti rekaman percakapan kami di telepon."Pernyataan pengkhianatan yang sangat blak-blakan itu sukses membuat Amara terdiam seribu bahasa menatap wanita di depannya.Sang direktur muda ini sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan serangan balik dari kubu musuhnya sendiri. Kemenangan besar mendadak jatuh langsung ke pangkuannya tanpa perlu mengeluarkan tenaga sedikit pun."K
Sembari menahan emosi yang mendidih di kepalanya, dia menekan nomor telepon anak buahnya secara cepat. Panggilan nirkabel itu langsung tersambung pada dering pertama di telinganya."Halo Anton, tolong retas kamera pengawas di lorong darurat lantai dua belas sekarang karena ada penyusup masuk ke ruangan istri gue," perintah Adrian dengan suara tertahan."Siap, Bos, gue lagi cek rekamannya sekarang dari ruang kontrol rahasia. Ada perempuan pakai topi hitam yang lari lewat tangga darurat bawa barang kecil di tangannya. Gue bakal kirim anggota buat ngepung perempuan itu di area lobi bawah biar dia ngga bisa kabur ke jalan raya."Mendengar laporan cepat dari informan kepercayaannya tersebut, rahang Adrian mengeras kaku menahan amarah. Laki-laki berbadan tegap ini langsung membalikkan badannya untuk keluar dari ruangan direktur."Lo harus gerak cepat sebelum perempuan licik itu sempat ngilang dari area gedung ini, Anton," perintah Adrian berjalan menyusuri loro
Sekitar sepuluh menit sebelum Bambang mendapatkan laporan dari radio, sebuah siluet manusia terlihat mendekati mobil Amara. Diperbesarnya resolusi gambar pada layar tersebut oleh teknisi keamanan agar wajah pelaku terlihat lebih terang."Tolong berhentikan videonya tepat di detik pelaku mengayunkan benda tumpul itu ke arah kaca mobil!" perintah Adrian menunjuk layar monitor.Teknisi tersebut menuruti perintah sang dokter dan menekan tombol jeda pada papan tiknya. Terpampang jelas sosok seorang laki-laki berpakaian sangat lusuh sedang memegang tongkat besi panjang di layar utama."Ini beneran cuma pemulung mabuk yang sering berkeliaran di sekitar tempat pembuangan sampah belakang gedung kita, Komandan. Dia kelihatan jalan sempoyongan dari arah pintu keluar darurat, terus ngga sengaja nabrak mobil Ibu Amara. Tongkat besi yang dia bawa buat ngorek sampah itu jatuh keras, menghantam kaca jendela sampai pecah berantakan. Orang ini beneran ngga punya niat jahat buat m
Mendengar laporan mengejutkan dari mulut Bambang, Adrian langsung memutar tubuhnya menghadap sang istri. Ditepuknya kedua bahu perempuan hamil itu menggunakan gerakan yang teramat pelan dan menenangkan."Kamu kembali saja ke dalam ruangan direktur dan kunci pintunya rapat-rapat, Sayang."Perempuan ayu ini menggelengkan kepalanya dengan cepat, menolak perintah tersebut karena merasa sangat ketakutan. Rasa takut akan serangan fisik dari mantan suaminya benar-benar mendominasi pikiran Amara sore ini. Walaupun begitu, sang dokter kandungan tetap menuntun perempuannya kembali memasuki ruangan yang paling aman."Aku mohon sama kamu buat ngga turun ke basemen sendirian sore ini, Mas. Kalau Doni beneran nyewa preman bayaran buat nyelakain kita berdua gimana?! Otak laki-laki gila itu pasti udah buntu banget karena ngga pegang uang tunai sama sekali. Aku takut banget kamu kenapa-kenapa di bawah sana."Terdorong oleh insting melindungi yang sangat besar, pria berbad
"Semua menu ini sengaja aku pelajari khusus buat manjain lidah pasien kesayanganku setiap hari. Ibu hamil itu butuh banyak protein biar janinnya tumbuh sehat dan kuat. Kalau kamu mau tambah porsi lagi, aku masih bawa satu kotak cadangan di dalam tas."Menerima perlakuan istimewa tanpa henti, hati Amara terasa sangat penuh oleh luapan kasih sayang. Makan siang hari itu benar-benar menjadi momen pengisian energi yang paling sempurna bagi fisik dan mentalnya.Tumpukan berkas di meja kerja akhirnya berhasil diselesaikan seluruhnya tanpa ada yang terlewat pada sore harinya.Amara meregangkan otot punggungnya yang terasa kaku akibat terlalu lama duduk di kursi kulit kebesarannya. Sang dokter langsung menghampiri untuk memijat pelan pundak perempuannya guna melancarkan peredaran darah yang tersumbat. Sentuhan jantan tersebut langsung memberikan sensasi relaksasi yang luar biasa nyaman menembus pori-pori kulitnya."Pijatan tangan kamu selalu sukses bikin pegalku hilang dalam sekejap tanpa sis
Setibanya di gedung perusahaan pusat, suasana kantor terasa jauh lebih damai dan tertib dari hari-hari biasanya. Karyawan berlalu-lalang menyapa penuh hormat saat melihat kedatangan pimpinan tertinggi mereka di lobi utama. Amara melangkah masuk ke ruangan direktur utama dengan penuh percaya diri setelah masa pemulihannya di rumah sakit selesai.Menariknya, Adrian memutuskan untuk membatalkan semua jadwal praktiknya demi ikut menemani Amara bekerja seharian penuh.Pria berbadan tegap ini langsung mengambil posisi duduk senyaman mungkin di sofa sudut berbahan kulit. Dia dengan senang hati bertindak layaknya seorang asisten pribadi yang siap sedia setiap saat dibutuhkan.Karena melihat raut wajah Amara mulai kelelahan membaca tumpukan dokumen tebal, sang ahli medis segera beranjak dari tempat duduknya. Adrian mengatur suhu pendingin ruangan agar tidak terlalu dingin menusuk kulit sensitif perempuan hamil itu. Diseduhkannya secangkir teh kamomil hangat menggunakan dispenser air di pojok r
Sebagai bentuk keputusasaan, Adrian menghela napas sangat panjang melalui hidungnya. Dia sadar posisinya sangat lemah di hadapan kekuatan uang milik mertua Doni tersebut. Pria itu harus membangun batasan emosional yang ketat agar tidak semakin hancur di kemudian hari."Kurang berapa lagi?
Di klinikmya, Adrian berdiri di bawah shower. Dia memutar keran ke arah biru. Air yang semula hangat berubah menjadi dingin menusuk tulang. Adrian memejamkan mata dan mendongakkan wajahnya. Dia membiarkan air dingin itu menampar kulit wajah dan tubuhnya.Sejak bangun tidur tadi pagi, tubuhnya teras
"Kamu pasti lemes banget buat pakai baju dengan benar, ya?" tebak Bu Ratih sambil tersenyum tipis meremehkan. "Makanya kancing baju kamu sampai mencong begini pas dipakai habis periksa tadi."Mendapat jalan keluar yang tak terduga, Amara buru-buru menganggukkan kepalanya dengan tempo cepat
"Kamar mandi dalam lagi dipakai sama Bu Amara," kilah Adrian cepat sebelum mertuanya itu bertanya lebih jauh."Jadi saya terpaksa