แชร์

Bab 75 Gavin Bandel

ผู้เขียน: Ichira Sherry
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-24 23:01:21

Arina menoleh ke arah Gavin, lalu tanpa ragu memeluk laki-laki itu dengan erat. Air matanya kembali jatuh, membasahi kemeja Gavin sedikit demi sedikit.

"Makasih ya," ucap Arina dengan suara bergetar. "Kamu udah bantu aku banyak. Kalau waktu itu aku nggak datang ke rumah sakit buat tes kesuburan dan nggak ketemu kamu, mungkin nasibku masih ada di tangan Aryo dan orang tua angkatku yang serakah."

Pelukan Arina semakin erat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia merasa aman berada di deka
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Suntikan Candu Mas Dokter   Bab 76 Skin To Skin

    Arina segera berdiri. Dia mengambil baskom kecil dan handuk dari kamar mandi. Setelah mengisinya dengan air dingin, dia kembali ke kamar.Dengan hati-hati, Arina mengompres dahi Gavin. Beberapa menit kemudian, dia menyadari baju yang dikenakan Gavin cukup tebal."Kalau pakai baju seperti ini, panas tubuhmu susah turun."Arina membuka lemari dan mengambil kaus tipis milik Gavin."Gavin, aku ganti bajumu ya."laki-laki itu hanya mengangguk lemah.Dengan gerakan hati-hati, Arina membantu melepaskan kemeja yang dikenakan Gavin. Setelah itu dia memakaikan kaos tipis yang lebih nyaman agar tubuh Gavin tidak semakin gerah.Selesai mengganti pakaian, Arina kembali mengompres dahinya beberapa saat.Melihat Gavin mulai sedikit lebih tenang, Arina menghela napas lega.Namun dia belum selesai. Tatapannya beralih ke kotak obat di atas meja."Kamu harus makan dulu sebelum minum obat."Arina berdiri lalu berjalan menuju dapur.Dia membuka kulkas dan memeriksa bahan makanan yang tersedia. Untungnya

  • Suntikan Candu Mas Dokter   Bab 75 Gavin Bandel

    Arina menoleh ke arah Gavin, lalu tanpa ragu memeluk laki-laki itu dengan erat. Air matanya kembali jatuh, membasahi kemeja Gavin sedikit demi sedikit."Makasih ya," ucap Arina dengan suara bergetar. "Kamu udah bantu aku banyak. Kalau waktu itu aku nggak datang ke rumah sakit buat tes kesuburan dan nggak ketemu kamu, mungkin nasibku masih ada di tangan Aryo dan orang tua angkatku yang serakah."Pelukan Arina semakin erat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia merasa aman berada di dekat seseorang. Semua masalah yang menimpanya seolah sedikit lebih ringan karena ada Gavin yang selalu muncul saat dia membutuhkan bantuan.Dia tak lagi peduli bagaimana hubungan mereka akan berjalan ke depannya. Meski jauh di dalam hatinya, Arina masih menginginkan hubungan yang jelas, bukan sekadar perjanjian hitam di atas putih seperti yang selama ini terjadi."Kamu pantas hidup lebih baik, Arina," ucap Gavin pelan.Tangannya terangkat mengusap lembut rambut wanita itu. Tatapannya kemudian turun

  • Suntikan Candu Mas Dokter   Bab 74 Bantuan Gavin

    Tatapan Rumi bergerak dari ujung kepala hingga kaki Gavin.Kemeja mahal, jam tangan elegan, rambut tertata rapi, dan postur tegap laki-laki itu sama sekali berbeda dari sosok gelandangan yang pernah ditemuinya sebelumnya.Beberapa detik Rumi hanya menatap tanpa berkedip. Lalu sudut bibirnya terangkat sinis."Wah, hebat juga."Arina langsung tahu nada bicara itu bukan pujian.Rumi menyandarkan tubuhnya ke kursi."Jadi ini hasilnya setelah dapat uang?" ejeknya. "Sampai sewa baju bagus begini buat mengelabui orang."Gavin tidak bereaksi. Dia tetap berdiri tenang seolah tidak mendengar apa pun.Rumi malah semakin bersemangat. "Padahal waktu itu penampilanmu seperti gelandangan yang baru keluar dari tempat sampah."Arina langsung mengernyit."Tante Rumi! Jangan keterlaluan!""Apa? Aku cuma bilang yang sebenarnya.""Sudah cukup."Nada suara Arina terdengar lebih tegas dari biasanya.Rumi menatapnya."Kita datang ke sini bukan untuk membahas penampilan Gavin."Arina menarik kursi lalu duduk

  • Suntikan Candu Mas Dokter   Bab 73 Bukan Gelandangan

    "Apa?" tanya Arina pelan.Dia memundurkan tubuhnya hingga punggungnya membentur sandaran sofa. Kedua matanya menatap Gavin penuh kebingungan, seolah memastikan bahwa laki-laki itu benar-benar serius dengan ucapannya.Arina memang membutuhkan uang itu. Bahkan bisa dibilang dia sedang berada dalam kondisi yang sangat terdesak. Namun, menerima bantuan dari Gavin bukanlah keputusan yang mudah. Dia tidak ingin merepotkan laki-laki itu, apalagi menambah utang budi yang suatu hari mungkin harus dibayarnya.Pikiran buruk yang selama ini menghantuinya kembali muncul.Arina menggeleng pelan. "Nggak, Gavin. Aku nggak mau ngerepotin kamu."Gavin yang duduk di hadapannya langsung menggeleng."Aku anggap itu bukan merepotkan."Arina menundukkan kepala sesaat. Jarinya saling meremas di atas pangkuan. Setelah beberapa detik terdiam, dia kembali mengangkat wajahnya."Lalu?" tanyanya dengan suara pelan. "Aku harus membayarnya dengan apa? Tubuhku?"Kalimat itu keluar begitu saja.Begitu mengucapkannya,

  • Suntikan Candu Mas Dokter   Bab 72 Bantuan

    "Astaga..." gumamnya pelan.Karena masih ragu, Arina menggunakan beberapa aplikasi untuk memeriksa keaslian foto itu. Dia mengunggah gambar itu dan menunggu hasil analisisnya.Beberapa menit kemudian hasilnya muncul.Arina terdiam.Foto itu dinyatakan asli. Tidak ada tanda-tanda manipulasi digital ataupun rekayasa AI.Dadanya langsung berdebar semakin kencang.Kalau foto itu benar-benar asli...Kalau bayi dalam foto itu benar-benar dirinya...Maka kalung itu memang memiliki hubungan dengan masa lalunya.Masa lalu yang selama ini tidak pernah dia ketahui.Arina menggigit bibir bawahnya.Perlahan dia kembali membuka ruang obrolan dengan Rumi.Jarinya bergerak cepat mengetik pesan."Aku mau lihat langsung kalungnya. Sebelum memutuskan apapun, aku harus memastikan semuanya sendiri."Pesan itu terkirim.Tak lama kemudian balasan dari Rumi masuk.Rumi setuju.Bahkan wanita itu langsung menentukan tempat dan waktu pertemuan.Besok sore.Di sebuah kedai kopi kecil yang berada tidak jauh dari

  • Suntikan Candu Mas Dokter   Bab 71 Kabar Dari Rumi

    Arina bernapas lega. Akhirnya Rahma meninggalkannya sendiri di kafe itu. Niatnya datang ke tempat itu untuk melupakan sejenak perceraian dengan Aryo, tetapi takdir justru mempertemukannya dengan mantan mertuanya. Obrolan yang seharusnya sudah terkubur kembali diungkit, membuat luka lama yang mulai mengering terasa perih lagi."Hidupku nggak akan tenang kalau sering ketemu sama mereka."Arina menggeleng pelan. Dia meraih cangkir kopi di hadapannya dan menyeruput isinya. Kopi itu sudah dingin, tetapi dia terlalu malas memesan yang baru. Kepalanya terasa penuh setelah percakapan panjang dengan Rahma.Pandangannya menerobos jendela kafe. Orang-orang berlalu-lalang di trotoar tanpa memperdulikan siapapun. Betapa enaknya hidup jika semua masalah bisa ditinggalkan begitu saja seperti orang-orang yang berjalan pergi itu.Namun, hidupnya tidak sesederhana itu.Ponselnya yang tergeletak di atas meja tiba-tiba berbunyi. Sebuah notifikasi pesan masuk muncul di layar.Nama pengirimnya membuat waja

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status