Share

Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda
Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda
Author: Thato Kent

001

Author: Thato Kent
last update Last Updated: 2025-12-07 17:49:25

"Mau dijemput pukul berapa, Nyonya?"

"Bara! Sudah berapa kali kukatakan, jangan panggil aku Nyonya saat si Tua Bangka itu tidak ada!"

"Ta-tapi Nyonya, eh Bu ...."

"Tidak ada tapi-tapian! Panggil aku Nola! N, O, L, A. No--la! Jemput aku pukul lima atau nanti kutelpon!"

"Ba-ba-baik, Nyo--, eh maksudku.Nola."

Tergesa kutinggalkan bangku kemudi lalu mengitari moncong mobil, sebelum kemudian membuka pintu penumpang bagian tengah. Dengan kepala membungkuk, aku persilahkan wanita yang sudah menjadi majikanku sedari awal-awal mencoba peruntungan di kota ini.

"Tidak perlu juga berlebihan kayak gini dong, Bara," katanya saat menjejakkan kaki di tanah. "Kamu ini gimana, sih? Baru saja juga dibilangin," tambahnya agak frustrasi.

Aku diam saja dan tetap menundukkan kepala.

Detik berikutnya, tanpa pernah terbayangkan sama sekali, wanita bersuami ini tiba-tiba saja memberiku satu kecupan kecil di pipi.

Tersirap darahku seketika!

Jelang enam bulan menjadi pembantu di rumah wanita 'high class' ini, ini adalah kali pertama dia memberiku sesuatu yang entah apa maksudnya.

"Jangan sampai terlambat!" katanya lag dan beredar menuju pintu utama sanggar kebugaran. Aku hanya menjawabnya dengan satu anggukan kecil seraya menikmati aroma bunga melati yang dia tinggalkan.

Untuk beberapa saat lamanya, duniaku seperti sedang berhenti berputar. Semuanya tampak bergeming. Bahkan, udara yang mengalir di rongga jantung ini pun seperti ikut terhenti karenanya.

Kecupan kecil yang diberikan oleh Nyonya Nola barusan, rasa-rasanya itu lebih tuak dari tuak manapun yang ada di muka bumi ini. Dahsyatnya melebihi kedahsyatan serangan candu anggur merah yang pernah menjajal ketahanan pembuluh darahku. Sungguh, aku sudah lebih dulu mabuk bahkan hanya dengan membayangkan betapa nikmat aromanya.

Ah, andai saja aku bukan hanya seorang babu di rumahnya.

Baru beberapa menit meninggalkan halaman sanggar kebugaran, ponselku berdering. Ada telepon masuk. Dari Tuan Edy Hidayat. Segera kupinggirkan mobil lalu menerima panggilannya.

"Iya, Tuan, saya?"

Berbicara dengan orang-orang yang 'kastanya' berada di atasku seperti Tuan Edy Hidayat, mau tidak mau aku harus mengikuti ritme keformalan mereka. Bukan untuk memanipulasi status sosial, tapi lebih kepada tuntutan profesi.

Supir pribadi dan yang setara, atau yang lebih rendah darinya, memang boleh dikatakan adalah babu yang diperhalus penamaannya. Tapi apa pun sebutannya, tetap saja suatu profesi.

"Mungkin itu, Tuan. Nyonya lagi senam sampai tidak sempat angkat telepon Tuan." Aku mereka-reka kalimat supaya dapat mengimbangi Tuan Edy Hidayat.

"Baik, Tuan, nanti saya sampaikan pesan Tuan."

Tuan Edi Hidayat tidak lagi menambahkan, dan langsung memutus sambungan telepon.

Sebelum pukul lima, aku sudah 'standby' di halaman sanggar kebugaran, Lokasinya berada tepat di jantung ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara. Nyonya Nola baru keluar setelah kira-kira dua puluh menit aku menunggu.

"Nyonya, tadi ... eh maaf-maaf, maksudku, Nola."

Sial! Lagi-lagi aku mempertontonkan wajah asliku yang 'kelas coro'. Namun, apa boleh buat. Ujung lisan ini masih butuh pembiasaan supaya tidak belibet ketika harus menyebut nama saja, tanpa harus menyertakan embel-embel apa pun.

"Iya, tadi Tuan nelpon," lanjutku seraya fokus menyetir. Sekarang mobil kami mulai merayap di jalan raya.

"Hm, terus, si Tua Bangka itu ngomongin apa saja?"

Nada bicara hingga isi kalimat Nyonya Nola sangat jelas menggambarkan ketidakempatian. Padahal, orang yang sedang kami bicarakan tidak lain adalah suaminya sendiri.

Mengetepikan sikapnya yang sejatinya tak ada hakku untuk ikut campur, kulanjutkan saja dengan tenang apa-apa yang diucapkan oleh Tuan Edy Hidayat.

Dari Nyonya Nola ke mana saja, kenapa tidak mengangkat telepon, tidak juga membalas pesan singkat via W******p, adalah sedikit dari beberapa pertanyaan Tuan Edy Hidayat yang kuinformasikan padanya. Terakhir, kusampaikan pesan Tuan Edy Hidayat yang katanya akan berada di luar kota hingga lima atau enam hari ke depan.

"Enam hari? Wah, bagus dong!"

Nyonya Nola sudah tidak ubahnya seorang pegawai negeri 'nyambi influencer amatiran' yang mendapatkan voucher libur gratis. Entahlah jika dia memang sengaja sedang ingin memperlihatkan wajah lain yang tersembunyi di balik status dirinya. Andai benar itu tujuannya, maka sayang sekali. Sebab, secara aku hanyalah pembantu di rumah mereka.

"Kok gerah, ya?"

Nyonya Nola tiba-tiba mengucapkan itu. Tidak yakin dia sedang berbicara denganku, aku coba mencari bayangannya dalam kaca cermin di langit-langit mobil sejajar dashboard.

"Oh astaga!" Aku mendesis tanpa nada dan secepat itu juga menarik pandang.

Wanita ini ternyata sedang mencopot baju senam yang dia kenakan. Meskipun hanya sekilas, tapi apa pun itu, aku sudah melihat dari dekat tubuh bagian atasnya. Kulitnya seputih susu. Sepasang benda di dadanya, betapa kepenuhan. Size-nya antara 40 atau 42.

Sial, aku tidak bisa menahan diri untuk menelan air liurku.

"Oh ya, Nola, ini langsung pulang atau bagaimana?"

Selain sebagai pengalihan suasana, kebetulan juga boleh dikatakan ini adalah hal wajib untuk ditanyakan. Masalahnya, adakalanya Nyonya Nola ini akan lebih dulu singgah di sana-sini sebelum minta diantar pulang ke rumah.

Nyonya Nola menyebut satu nama tempat. Tanpa banyak bicara aku langsung mengarahkan mobil menuju sana.

Kendari Beach, demikianlah orang di kota ini mengenal nama tempat yang dimaksud.

Lazimnya pembantu pada majikannya, entah itu akan masuk atau keluar dari mobil, sudah menjadi kewajibanku untuk selalu sigap membukakan pintu lalu menyeru Nyonya Nola ini atau Tuan Edy Hidayat dengan hormat. Sedangkan pada awal senja ini, begitu mobil kami berhenti, Nyonya Nola tidak lagi menunggu. Dia langsung turun sendiri dari mobil.

"Temanin aku sebentar, yuk!"

"Maaf, Nola, aku di sini saja."

"Sudah ... tidak apa-apa. Ayok!"

Nyonya Nola meraih lalu menautkan lengannya ke lenganku, memaksa aku untuk melangkah bersama.

Kami sudah tidak ubahnya sepasang kekasih. Ini di tempat umum, jelas tidak baik.

"Oke oke, tapi tidak perlu juga sampai harus gandengan tangan kayak gini, 'kan?"

Aku coba menepis, khawatir ada yang mengenali lalu melaporkan kami pada Tuan Edy Hidayat. Aku belum siap kehilangan mata pencaharian. Anak istriku di kampung sana sangat bergantung padaku. Semenjak terserang stroke, Maya Sari---istriku tidak dapat lagi berbuat banyak. Beruntung, masih ada ibuku yang merawat dia dan Nala---putri semata wayang kami.

"Memangnya kenapa kalau gandengan tangan?"

"Nola ...." Aku mendesis frustrasi. "Demi kebaikan semua pihak, mohon kondisikan dirimu."

Nyonya Nola pada akhirnya menurut. Tapi yang tidak aku sangka-sangka adalah, tangannya mendadak luput dari pantauanku.

Tiba-tiba ada sentuhan di bawah perutku, dan tanpa basa-basi langsung menjalar ke bawah. Sampai di sini barulah aku sadar, Nyonya Nola ternyata sudah kehilangan akal!

"Pegang tangan 'kan tidak boleh, ya? Tapi kalau pegang ini boleh, dong."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   006

    "Iya Bu, maaf baru ngirim nih. Gajinya baru masuk tadi malam, sih." "Kamu ngirim lagi, Bara?" ulang ibuku yang berada di ujung sambungan telepon. "Kamu kerja apa sih, sebenarnya di Kendari situ? Jangan bilang kamu pimpin geng lagi, malakin orang kiri-kanan lagi!" "Aduh Bu--, 'kan sudah kubilang, di sini aku jadi pembantu, Bu, jadi supir di rumah orang. Kok, malakin orang, sih?" Aku serius memelas. Akan tetapi, alih-alih mendapatkan impresi, Ibu justru semakin keras menukas. "Jangan bohong Bara! Empat hari lalu tiga puluh juta masuk ke rekening Maya, dan sekarang kamu ngirim lagi? Memangnya Ibu ini terlalu bodoh ya, sampai tidak tahu berapa gaji pembantu di Kendari situ?" "Harus berapa kali sih, Ibu ingatkan? Kami tidak boleh lagi kamu kasih makan pakai uang haram, Bara! Begitu juga dengan Maya, dia tidak akan pernah bisa sembuh kalau uang berobatnya kamu dapatkan dari sumpah serapah orang-orang! Ya Tuhan, Bara ... kamu ini kapan insyafnya sih, Nak..." Aku terdiam! Kebingungan me

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   005

    Jika barusan aku sangat deg-degan, berpikir bahwa kesempatan untuk mereguk kenikmatan yang aku idam-idamkan pada akhirnya datang juga, maka sekarang justru sebaliknya. Kata-kata dan ekspresi Nyonya Nola barusan, benar-benar telah mengubah segalanya."Kenapa diam, apakah kamu meragukanku, hm?"Sekali lagi dia memperlihatkan senyum nakal nan menggoda. Sangat jelas kalau dia belum menyadari kenapa aku tiba-tiba bersikap dingin terhadapnya. "Maaf Nola," kataku lesu, "tapi kita tidak bisa melakukan ini."Bersamaan dengan ujung kalimatku itu, secara naluriah aku bebaskan diri dari kungkungannya, mendorong dia dengan sedikit tenaga. "Bara, kau..."Nyonya Nola mengerang tertahan. Dia mungkin tidak siap sampai oleng hingga kira-kira satu meter ke belakang, sebelum kemudian terduduk di sisi sofa tidur. Atmosfer ruangan tiba-tiba seperti dipenuhi kabut tebal. Sebagaimana Nyonya Nola, aku pun membeku di tempat. Meskipun tatapan beradu satu sama lain, tapi ujung lisan kami seperti sedang sama-s

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   004

    "Nyo-Nyonya... Anda mabuk," desisku, namun suaraku sendiri terdengar payah. Nola tidak peduli. Matanya yang sayu justru berkilat liar di bawah temaram lampu kamar. Ia merangkak maju, dengan hanya mengenakan pakaian dalamnya yang tipis, memamerkan lekuk tubuh matang yang sanggup meruntuhkan iman pria mana pun. "Bara... jangan munafik," bisiknya serak. Tangannya yang panas tiba-tiba menyusup ke balik kemejaku, mencengkeram pinggangku dan menarikku hingga tubuh kami tak menyisakan jarak. Napasnya yang beraroma alkohol namun manis menerpa bibirku. Saat ia menggeliat pelan, aku merasakan milikku berdenyut kencang, menegang hebat di balik celana yang mulai terasa sesak. "Aku menginginkanmu, Bara. Sekarang..." Tangannya mulai turun, meraba dengan berani ke arah area yang sudah sangat sesak itu. Sial! Sebelum segalanya lepas kendali dan aku benar-benar melumatnya, aku segera mencengkeram bahunya dan mendorongnya keras ke atas ranjang. "Bara..." gumamnya parau sebelum a

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   003

    "Yakin tidak mau ikutan? Di dalam sana banyak wanita cantik, lho."Sudah dua kali Nyonya Nola mengatakan itu. Seperti tadi juga, aku hanya tersenyum kecil dan menggeleng, "Aku nunggu di sini saja."Saat ini kami berada di pelataran parkir sebuah klub malam. Lokasinya hanya lima menitan berkendara dari hotel tempat kami menginap. Nyonya Nola bilang, di sinilah tempat berlangsungnya acara khusus, sebuah acara privat yang ternyata adalah 'Party Night'. "Iya, memang ada baiknya kamu di sini saja," katanya lagi. "Daripada kamu diembat jablai di dalam sana, mending aku yang cicipi kamu. Kami sama-sama jablai sih, tapi aku tidak asal embat seperti mereka."Langsung pecah tawaku. Benar-benar tidak menyangka kalau Nyonya Nola bisa sekonyol ini. Akan tetapi, dia tetap pasang mimik wajah serius. "Kenapa tertawa? Apa kamu pikir aku berbohong?""Tidak Nola, bukan seperti itu," sangkalku cepat, "justru kamu adalah wanita terjujur yang pernah aku temui.""Oh ya?" katanya juga, "berarti kamu ini p

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   002

    "Kamu gila! Kamu pasti sudah gila, Nola!"Aku sudah tidak ubahnya rusa masuk kampung. Mataku liar menyapu sekeliling. Beruntung, sepertinya tidak ada seorangpun yang menjadikan kami sebagai pusat perhatian. Entahlah jika mereka hanya sekonyong-konyong tidak mengetahui apa-apa. Berbeda dengan aku yang panik bukan kepalang, Nyonya Nola malah tertawa-tawa, seolah apa yang dia lakukan barusan hanyalah guyonan belaka. Dengan antengnya dia membalas, "Kalau gila memangnya kenapa, hm? Hahaha."Dia malah kembali menggodaku dengan kedipan matanya yang nakal itu? Lagipula, apanya yang lucu? Sudah kuputustkan, tidak lagi berbuat, atau mengatakan sesuatu yang dapat memancing reaksinya yang tidak pakai kira-kira.Begitu kami mengambil tempat duduk di salah satu kafe payung tepi pantai ini, Nyonya Nola langsung memanggil pekerja kafe, kemudian membuat pesanan. "Mas-nya pesen apa?" Pekerja kafe sambil bersiap mencatat sebagaimana yang dia lakukan pada Nyonya Nola."Samakan saja."Aku terpaksa meny

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   001

    "Mau dijemput pukul berapa, Nyonya?""Bara! Sudah berapa kali kukatakan, jangan panggil aku Nyonya saat si Tua Bangka itu tidak ada!""Ta-tapi Nyonya, eh Bu ....""Tidak ada tapi-tapian! Panggil aku Nola! N, O, L, A. No--la! Jemput aku pukul lima atau nanti kutelpon!""Ba-ba-baik, Nyo--, eh maksudku.Nola."Tergesa kutinggalkan bangku kemudi lalu mengitari moncong mobil, sebelum kemudian membuka pintu penumpang bagian tengah. Dengan kepala membungkuk, aku persilahkan wanita yang sudah menjadi majikanku sedari awal-awal mencoba peruntungan di kota ini."Tidak perlu juga berlebihan kayak gini dong, Bara," katanya saat menjejakkan kaki di tanah. "Kamu ini gimana, sih? Baru saja juga dibilangin," tambahnya agak frustrasi.Aku diam saja dan tetap menundukkan kepala. Detik berikutnya, tanpa pernah terbayangkan sama sekali, wanita bersuami ini tiba-tiba saja memberiku satu kecupan kecil di pipi.Tersirap darahku seketika!Jelang enam bulan menjadi pembantu di rumah wanita 'high class' ini, i

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status