Share

002

Author: Thato Kent
last update Last Updated: 2025-12-10 18:10:09

"Kamu gila! Kamu pasti sudah gila, Nola!"

Aku sudah tidak ubahnya rusa masuk kampung. Mataku liar menyapu sekeliling. Beruntung, sepertinya tidak ada seorangpun yang menjadikan kami sebagai pusat perhatian. Entahlah jika mereka hanya sekonyong-konyong tidak mengetahui apa-apa.

Berbeda dengan aku yang panik bukan kepalang, Nyonya Nola malah tertawa-tawa, seolah apa yang dia lakukan barusan hanyalah guyonan belaka. Dengan antengnya dia membalas, "Kalau gila memangnya kenapa, hm? Hahaha."

Dia malah kembali menggodaku dengan kedipan matanya yang nakal itu? Lagipula, apanya yang lucu?

Sudah kuputustkan, tidak lagi berbuat, atau mengatakan sesuatu yang dapat memancing reaksinya yang tidak pakai kira-kira.

Begitu kami mengambil tempat duduk di salah satu kafe payung tepi pantai ini, Nyonya Nola langsung memanggil pekerja kafe, kemudian membuat pesanan.

"Mas-nya pesen apa?" Pekerja kafe sambil bersiap mencatat sebagaimana yang dia lakukan pada Nyonya Nola.

"Samakan saja."

Aku terpaksa menyahut sesingkat itu. Masalahnya, selain mood-ku belum sepenuhnya membaik, aku juga 'buta' dengan daftar menu yang dia sodorkan. Aku memang tahu kopi, teh, atau semacamnya, tapi tidak dengan tulisan yang ada di belakangnya.

Pekerja kafe membelakangi kami. Nyonya Nola langsung kembali pada ponselnya, mengutak-atiknya dengan khusyuk. Sedangkan aku, lebih memilih mengutak-atik isi kepalaku yang berhubungan dengan wanita yang ternyata punya 'kelainan'.

Setelah sekian lama, barulah aku mendapatkan momentum untuk menatap dia dari jarak sedemikian dekat. Bayangkan saja, hanya dipisahkan oleh sebuah meja kopi.

Tak dapat dipungkiri, wanita yang usianya di kisaran kepala tiga ini, dia termasuk salah satu makhluk ciptaan Tuhan dengan fisik yang nyaris tanpa cela. Sudahlah begitu, sepertinya memang benar kata orang, orang kaya akan selalu terlihat mempesona. Terlebih lagi wanita yang rutin merawat diri seperti Nyonya Nola.

Dari bagaimana rambut panjangnya yang hitam berkilau bak iklan shampo di layar kaca, wajah tirus yang ditunjang dengan hidung kecil dan bibir senantiasa basah, sampai bodinya yang ramping, tapi bukit kembar nampak kepenuhan, sungguh, akan membuat fantasi pria normal meluber ke mana-mana.

Oh, tidak! Dia mengangkat wajah, mungkin mulai menyadari bahwa aku sedang diam-diam menggagahinya dengan tatapan. Secepat itu juga kualihkan pandang.

Selain dua gelas minuman dingin, Nyonya Nola juga memesan dua bungkus rokok berbeda merek. Dia langsung melunasinya dengan menggunakan metode transaksi virtual.

Atau lebih tepatnya, salah satu jenis layanan transaksi virtual yang lagi ngetrend di negri ini.

"Ayo, silahkan!" Satu gelas minuman dan sebungkus rokok dia geser lebih dekat ke hadapanku.

"Terima kasih." Aku memang sedang butuh setidaknya sebatang rokok. Tanpa basa-basi, segera kusulut dan langsung menghisapnya dengan nikmat..

"Pinjam korek!"

Belum sempat kusahuti, Nyonya Nola sudah lebih dulu menyambar korek api yang tergeletak bersama bungkus rokok milikku. Di bibirnya yang tipis, telah terselip sebatang rokok.

Asap rokok keluar dari lubang hidung juga mulutnya, dan dia tidak terbatuk-batuk?

Diam-diam aku mengkerutkan dahi. Dari caranya merokok, sangat jelas kalau rokok bukanlah hal baru bagi Nyonya Nola.

Nyonya Nola tiba-tiba menatapku. Meskipun lesung pipi terukir setelahnya, tatapannya yang misterius begini tetap saja membuatku was-was.

"Kenapa? Heran ya? Ya, tentu saja, karena Nola Hapsari yang ada di hadapanmu saat ini, itu tidak sepenuhnya sama dengan Nola yang ada dalam pikiranmu."

Kuembuskan napas panjang. Kini aku bisa merasa sedikit lega. Dia memang menebak dengan tepat apa yang membuatku mengkerutkan dahi, tapi tidak dengan sesuatu yang membuatku merasa cemas.

Namun, hanya sebatas itu. Setelahnya, Nyonya Nola sudah kembali menjadi dirinya sebagaimana yang tersimpan dalam benakku. Dalam perjalanan menuju rumah pun demikian. Dia tidak lagi melakukan hal 'aneh'. Begitu juga dengan bicaranya, boleh dikatakan hanya seperlunya saja.

Beberapa menit sebelum pukul tujuh malam, Nyonya Nola memintaku untuk mengantarnya ke suatu tempat. Dia menyebut nama sebuah hotel melati yang berlokasi di pinggir kota.

"Bisa?" tambahnya seraya mengunci tatap.

"Ya, tentu saja," sahutku memastikan.

Andai tidak merasa khawatir akan mendapatkan reaksi yang berlebihan lagi, maka akan kukatakan, bukankah aku dipekerjakan di sini, adalah untuk melayani apa pun keperluan kalian? Jadi, untuk apa bertanya?

Tepat pukul delapan malam, mobil kami mulai meninggalkan rumah. Situasi lalu lintas malam ini cukup lengang. Mobil kami hanya berhenti sebentar pada dua 'traffic light' berbeda. Selebihnya, kami melaju dengan tanpa ada hambatan samasekali. Kurang dari dua puluh menit, kami sudah tiba di halaman sebuah bangunan berlantai tiga, kira-kira tujuh ratus meter dari garis pantai.

"Jangan buru-buru turun," ucapnya kala mobil kami sudah mengambil tempat di area parkir hotel.

Aku menganggukkan kepala, kemudian menunggu perintah dia selanjutnya. Sementara dia sendiri, tampak sibuk dengan ponselnya.

Kuedar-edarkan pandang.

Pengunjung hotel ini sepertinya tidak terlalu banyak. Hanya ada enam unit kendaraan roda empat termasuk kami, dan dua puluhan unit kendaraan roda dua yang terparkir di beberapa titik terpisah. Di salah satu sisi depan pintu utama hotel sana, hanya ada satu orang security yang duduk berjaga di mejanya.

Tak berapa lama setelah itu, lampu samping salah satu sisi luar hotel tiba-tiba padam.

"Ayok!" seru Nyonya Nola, "tolong pastikan mobilnya dalam keadaan terkunci."

"Baik," sahutku patuh. Keluar dari mobil, barulah kusentuh 'lock power' yang ada di gantungan kunci kontak mobil.

Kami kemudian melangkah di sisi hotel yang lampunya padam, lalu masuk melalui pintu samping. Di situ, telah menanti seorang pekerja hotel dengan kunci kamar di tangan.

"Terima kasih," sahut Nyonya Nola seraya menyambut kunci kamar yang disodorkan. "Simpan buat beli jajan."

Masih dengan posisi wajah sedikit tertekuk, pria dua puluhan menyambut uang seratusan ribu rupiah dari tangan Nyonya Nola dan berkata dengan penuh hormat, "Terima kasih, Nyonya."

Nyonya Nola tak lagi menambahkan. Aku pun tergesa membayangi langkahnya. Dia menuju tangga manual bagian tengah bangunan.

Sekarang kami mulai menyusuri koridor lantai dua. Sekeliling tampak sepi.

"Nola, kok sepi ? Maksudku, ada acara apa sih, di sini?"

Aku tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak bertanya. Bukan apa-apa, tapi kalau hendak menginap atau semacamnya, bukankah dia seharusnya singgah terlebih dulu di meja resepsionis untuk melakukan reservasi?

"Ada, acara khusus, tapi bukan di sini. Ayok!" katanya tanpa memperinci.

Aku tidak lagi sempat bertanya lebih jauh, Nyonya Nola sudah membuka pintu kamar.

Seperti orang dungu, aku bertahan di depan pintu, memastikan kondisi kamarnya.

'Kok tidak ada siapa-siapa?' bisikku dalam hati.

"Ayok, jangan bengong saja!" ulangnya terkesan mulai memaksa.

"Em ... begini saja," sahutku ragu, "aku nunggu di lobby atau di mobil saja."

"Apa? Eh tidak tidak!" Nyonya Nola tidak lagi memberku kesempatan. Secepat itu juga dia sambar tanganku, menarikku masuk lalu mengunci pintu dari dalam, "Kamu tidak akan ke mana-mana, malam ini kita akan nginap di sini!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   092

    Setelah mengawasi layar monitor selama 54 menit, 21 detik, barulah terlihat bayangan Bu Merlin dan Jameela keluar dari lift di lantai dasar. Saat ini mereka terlihat berjalan menuju pintu utama. Cepat aku aktifkan kembali kamera pengawas di lantai delapan, lalu keluar dari ruang kontrol cctv. "Jeff, di mana yang lainnya?" Di depan ruangan ini seharusnya bukan hanya ada Jeffry seorang. "Ke smoking area, Bang. Baru saja. Ada apa, Bang, apa perlu aku panggilkan mereka?" Jeffry, pria tiga puluhan, satu dari empat orang yang bertugas di ruang kontrol cctv malam ini, boleh saja usianya beberapa tahun di atasku, tapi perkara menunjukkan sikap patuh lagi hormat, bahasa kasarnya itu memang kewajibannya!Dan, sepertinya memang seperti inilah hidup. Di saat posisi apalagi status sosialmu berada di bawah, suka tidak suka keadaan akan memaksa engkau untuk senantiasa membungkuk di hadapan orang yang berada di atasmu. "Bang, aku...""Iya, Jeff, eh maksudku, tidak perlu. Aku hanya ingin bilang, a

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   091

    What to wear for night event? Ya, mungkin seperti outfit yang melekat di tubuh Jameela saat inilah pilihan yang paling tepat!Jaket kulit, dalaman baju badan krah lebar, rok mikro, sepatu boot selutut. Warna, kecuali dalaman entah warna apa, yang seperti sana itu, tapi mungkin warna daging buah persik, all black, serba hitam, menciptakan vibes yang dominan, sedikit misterius, namun elegan.Keseluruhannya, perfect!Aku baru sadar kalau Jameela bisa jauh lebih mempesona dari yang terpikirkan olehku saat pertama kali berjumpa dengannya.Khususnya dua gundukan kembar di dadanya, yang mana tepian atasnya terekspos jelas begitu. Memang tidak sebesar punyanya Nola, tapi tetap saja akan meruntuhkan iman laki-laki yang menatapnya. "Dia sangat cantik, bukan?" Ternyata Bu Merlin juga sedang mengarahkan pandangan ke Jameela sana."Iya Bu, malam ini dia seperti bidadari surgawi yang turun ke bumi," jawabku apa adanya.Bu Merlin mendadak tertawa-tawa. "Aku tahu kamu pasti akan bilang begitu. Tapi

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   090

    Nantilah setelah beberapa langkah dia membawaku, barulah aku bereaksi dengan memberi sedikit perlawanan. "Tunggu Nola! Kenapa sampai harus main tarik saja seperti ini sih, kamu?""Apa lagi sih, Bara..." Nola melagukan namaku, nadanya mendadak frustrasi. "Jangan bilang, kalau kamu juga, sebenarnya ada minat pada dia! Tapi aku benar, 'kan kalian sudah janjian akan bermalam di luar?" tambahnya mengelompokkan kata."Ya ampun Nola... dia itu ibumu, lho," balasku dengan nada yang kurang lebih sama, tapi emosi berbeda 180°. Keseluruhan dia yang begini justru membuatku sangat ingin berderai tawa. Sayang sekali momen hingga situasinya memaksaku untuk menahan diri.Tapi wanita yang lagi kumat ini justru menatapku curiga. "Halah, masih saja tidak mau mengaku! Kamu pikir, aku tidak tahu siapa kamu? Zaitun saja kau embat, apalagi Ibu yang jelas-jelas jauh lebih kelas dari Zaitun si janda kampung!"Duh! Kenapa kata-katanya kali ini sudah tidak ubahnya percikan api pada tumpukan jerami? Kenapa juga

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   089

    Jangan ditanya seperti apa malunya aku di ketika ini. Wajahku sudah pasti memerah, sekarang pun terasa panas sekali. Seandainya memang benar, bahwa Bu Merlin beredar begitu saja, itu dikarenakan 'ulah si joniku' ini lagi, itu pasti akan jauh lebih memalukan lagi. Entah akan kutaruh di mana mukaku nanti?Sekarang Nola menampakkan wajah. Dan dia menatapku sambil senyum-senyum? Kurang ajar! Aku tahu, senyumnya ini adalah senyum meledek. Tapi buruknya lagi, aku tidak mungkin membalasnya dengan kata-kata, khawatir akan terjadi kegaduhan, hingga membangunkan orang rumah.'Oh... aku tahu aku tahu!' ucapku dalam hati.Aku tidak tahu apa yang membangkitkan pikiran ini, namun posisi berdiri Nola sekarang, ini mengingatkan aku pada keadaan, di mana aku dan Zaitun melakukan penyatuan waktu itu.Cepat kupepet Nola, mengunci geraknya, juga mengunci pintu dari dalam. Setelah itu, barulah aku berkata dengan nada dalam, tepat di depan batang hidungnya langsung, sama persis ketika aku berbicara pada Z

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   088

    "Itu Ibu, Bara! Jangan berisik bagaimana sih maksud kamu? Duh, kenapa dia sampai tahu aku ada di sini, sih?"Aku meremang sejenak. Sungguh tak habis pikir, kenapa wanita ular bakau ini merasa hanya dia saja yang merasa cemas. Selain itu, raib ke mana kesombongannya tadi yang katanya tidak perlu merisaukan apa pun?"Bara..." desisnya lagi, nada sangat kentara resah tiada terkira. "Demi Tuhan, lakukanlah sesuatu, Bara! Jangan diam saja, aku mohon!" tekannya penuh harap."Nola..." Aku balas berbisik dengan gigi-gigi saling mengatup. "Aku juga tahu itu ibumu. Tapi apa tidak kau dengar kalau dia sedang mencari aku, bukan kamu? Tapi kalau kamu ingin keluar, ya sudah, keluar saja temui dia."Barulah dia mendadak terdiam. Setelah menatapku hingga beberapa saat lamanya, dia pun memalingkan wajah ke sana kemari, sebelum kemudian tatapannya jatuh pada selimut di tumpukan bantal, beberapa jengkal dari kasur. Disambarnya selimut itu lalu berbaring kembali."Aku mau pura-pura tidur saja," katanya

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   087

    "Aku perih, Bara, sumpah, mungkin sudah robek punyaku yang di bawah sana." Sekali lagi Nola mengadukan perihal yang kurang lebih sama. Raut wajahnya pun masih serius memohon belas kasih sebagaimana tadi."Ya sudah, keluar saja kalau mau keluar. Tapi ingat ya, ingat baik-baik! Saat kau keluar dari sini sekarang, ini akan menjadi yang terakhir kalinya kita melakukannya. Enak saja kamu hanya ingin enaknya sendiri saja. Kau pikir aku ini toys bernyawa untukmu? Sorry ya, jangan melampau kamu!"Tapi saat mengatakan ini, sebenarnya boleh dibilang itu hanya caraku saja juga, sebuah muslihat dalam upaya menutupi kesalahan diri sendiri. Nola memang tidak sedang mengada-ada. Yang terakhir barusan aku memang melakukannya dengan kasar. Sangat egois, dan tidak peduli meskipun mungkin akan menyakiti fisiknya. Hanya saja, setelah mereguk kenikmatan dariku, masa iya dia akan pergi begitu saja tanpa memikirkan bagaimana aku yang sedang 'gantung' begini?"Tunggu apa? Cepat keluar sana!" ulangku kala

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status