LOGIN"Kamu gila! Kamu pasti sudah gila, Nola!"
Aku sudah tidak ubahnya rusa masuk kampung. Mataku liar menyapu sekeliling. Beruntung, sepertinya tidak ada seorangpun yang menjadikan kami sebagai pusat perhatian. Entahlah jika mereka hanya sekonyong-konyong tidak mengetahui apa-apa. Berbeda dengan aku yang panik bukan kepalang, Nyonya Nola malah tertawa-tawa, seolah apa yang dia lakukan barusan hanyalah guyonan belaka. Dengan antengnya dia membalas, "Kalau gila memangnya kenapa, hm? Hahaha." Dia malah kembali menggodaku dengan kedipan matanya yang nakal itu? Lagipula, apanya yang lucu? Sudah kuputustkan, tidak lagi berbuat, atau mengatakan sesuatu yang dapat memancing reaksinya yang tidak pakai kira-kira. Begitu kami mengambil tempat duduk di salah satu kafe payung tepi pantai ini, Nyonya Nola langsung memanggil pekerja kafe, kemudian membuat pesanan. "Mas-nya pesen apa?" Pekerja kafe sambil bersiap mencatat sebagaimana yang dia lakukan pada Nyonya Nola. "Samakan saja." Aku terpaksa menyahut sesingkat itu. Masalahnya, selain mood-ku belum sepenuhnya membaik, aku juga buta dengan daftar menu yang tersedia. Aku memang tahu kopi, teh, atau semacamnya, tapi sangat awam dengan tulisan yang ada di belakangnya. Selain itu, seumur-umur ini adalah kali pertama aku menjejakkan kaki di tempat tongkrongan bernuansa moderen begini. Pekerja kafe membelakangi kami. Nyonya Nola langsung kembali pada ponselnya, mengutak-atiknya dengan khusyuk. Sedangkan aku, lebih memilih mengutak-atik isi kepalaku yang berhubungan dengan wanita yang ternyata punya 'kelainan'. Setelah sekian lama, barulah aku mendapatkan momentum untuk menatap dia dari jarak sedemikian dekat, hanya dipisahkan oleh sebuah meja kopi. Tak dapat dipungkiri, wanita yang usianya di kisaran kepala tiga ini, dia termasuk salah satu makhluk ciptaan Tuhan dengan fisik yang nyaris tanpa cela. Sudahlah begitu, benar kata orang, orang kaya akan selalu terlihat mempesona. Terlebih lagi wanita yang rutin merawat diri seperti Nyonya Nola. Dari bagaimana rambut panjangnya yang hitam berkilau bak iklan shampo di layar kaca, wajah tirus yang ditunjang dengan hidung kecil dan bibir senantiasa basah, sampai bodinya yang ramping, tapi bukit kembar kepenuhan, sungguh, akan membuat fantasi pria normal meluber ke mana-mana. Oh, tidak! Dia mengangkat wajah, mungkin mulai menyadari bahwa aku sedang diam-diam menggagahinya dengan tatapan. Secepat itu juga kualihkan pandang. Selain dua gelas minuman dingin, Nyonya Nola juga memesan dua bungkus rokok berbeda merek. Dia langsung melunasinya dengan menggunakan metode transaksi virtual. Atau lebih tepatnya, salah satu jenis layanan transaksi virtual yang lagi ngetrend di negri ini. "Ayo, silahkan!" Satu gelas minuman dan sebungkus rokok dia geser lebih dekat ke hadapanku. "Terima kasih." Aku memang sedang butuh setidaknya sebatang rokok. Tanpa basa-basi, segera kusulut dan langsung menghisapnya dalam-dalam. "Pinjam korek!" Belum sempat kusahuti, Nyonya Nola sudah lebih menyambar korek api yang tergeletak bersama bungkusan rokok milikku. Di bibirnya yang tipis, telah terselip sebatang rokok. Asap rokok keluar dari lubang hidung juga mulutnya, dan dia tidak terbatuk-batuk? Diam-diam aku mengkerutkan dahi. Dari caranya merokok, rokok bukanlah hal baru bagi Nyonya Nola. Nyonya Nola tiba-tiba menatapku. Meskipun lesung pipi terukir setelahnya, tatapannya yang misterius begini tetap saja membuatku was-was. "Kenapa? Heran ya? Ya, tentu saja, karena Nola Hapsari yang ada di hadapanmu ini, itu tidak sepenuhnya sama dengan Nola yang ada dalam pikiranmu." Kuembuskan napas panjang. Kini aku bisa merasa sedikit lega. Dia memang menebak dengan tepat apa yang membuatku mengkerutkan dahi, tapi tidak dengan sesuatu yang membuatku merasa cemas. Setelahnya, Nyonya Nola sudah kembali menjadi dirinya sebagaimana yang tersimpan dalam benakku. Dalam perjalanan menuju rumah pun demikian. Dia tidak lagi melakukan hal aneh-aneh. Begitu juga dengan bicaranya, boleh dikatakan hanya seperlunya saja. Beberapa menit sebelum pukul tujuh malam, Nyonya Nola memintaku untuk mengantarnya ke suatu tempat. Dia menyebut nama sebuah hotel melati yang berlokasi di pinggir kota. "Bisa?" tambahnya seraya mengunci tatap. "Ya, tentu saja," sahutku memastikan. Andai tidak merasa khawatir akan mendapatkan reaksi yang berlebihan lagi, maka akan kukatakan, bukankah aku dipekerjakan di sini, adalah untuk melayani apa pun keperluan kalian? Jadi, untuk apa bertanya? Tepat pukul delapan malam, mobil kami mulai meninggalkan rumah. Situasi lalu lintas malam ini cukup lengang. Mobil kami hanya berhenti sebentar pada dua 'traffic light' berbeda. Selebihnya, kami melaju dengan tanpa ada hambatan samasekali. Kurang dari dua puluh menit, kami sudah tiba di halaman sebuah bangunan berlantai tiga, kira-kira tujuh ratus meter dari garis pantai. "Jangan dulu buru-buru turun," ucapnya kala mobil kami sudah mengambil tempat di area parkir hotel. Aku menganggukkan kepala, kemudian menunggu perintah dia selanjutnya. Sementara dia sendiri, tampak sibuk dengan ponselnya. Kuedar-edarkan pandang. Pengunjung hotel ini sepertinya tidak terlalu banyak. Hanya ada enam unit kendaraan roda empat termasuk kami, dan dua puluhan unit kendaraan roda dua yang terparkir di beberapa titik. Di salah satu sisi depan pintu utama hotel sana, hanya ada satu orang security yang duduk berjaga di mejanya. Tak berapa lama setelah itu, lampu samping bagian kanan hotel tiba-tiba padam. "Ayok!" seru Nyonya Nola, "tolong pastikan mobilnya dalam keadaan terkunci." "Baik," sahutku patuh. Keluar dari mobil, barulah kusentuh 'lock power' yang ada di gantungan kunci kontak mobil. Kami kemudian melangkah di sisi hotel yang lampunya padam, lalu masuk melalui pintu samping. Di situ, telah menanti seorang pekerja hotel dengan kunci kamar di tangan. "Terima kasih," sahut Nyonya Nola seraya menyambut kunci kamar yang disodorkan. "Simpan buat beli rokok." Masih dengan posisi wajah sedikit tertekuk, pria dua puluhan menyambut uang seratusan ribu rupiah dari tangan Nyonya Nola dan berkata dengan penuh hormat, "Terima kasih, Nyonya." Nyonya Nola tak lagi menambahkan. Aku pun tergesa membayangi langkahnya. Dia menuju tangga manual bagian tengah bangunan. Sekarang kami mulai menyusuri koridor lantai dua. Sekeliling tampak sepi. "Ada acara apa di sini, Nola?" Aku tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak bertanya. Bukan apa-apa, tapi kalau hendak menginap atau semacamnya, bukankah dia seharusnya singgah terlebih dulu di meja resepsionis untuk melakukan reservasi? "Acara khusus, tapi bukan di sini. Ayok!" katanya tanpa memperinci. Aku tidak lagi sempat bertanya lebih jauh, Nyonya Nola sudah membuka pintu kamar. Seperti orang dungu, aku bertahan di depan pintu, memastikan kondisi kamarnya. 'Kok tidak ada siapa-siapa?' bisikku dalam hati. "Ayok, jangan bengong saja!" ulangnya terkesan mulai memaksa. "Em ... begini saja," sahutku ragu, "aku nunggu di lobby atau di mobil saja." "Apa? Eh tidak tidak!" Nyonya Nola tidak lagi memberku kesempatan. Secepat itu juga dia sambar tanganku, menarikku masuk lalu mengunci pintu dari dalam, "Kamu tidak akan ke mana-mana, malam ini kita akan nginap di sini!""Iya Bu, maaf baru ngirim nih. Gajinya baru masuk tadi malam, sih." "Kamu ngirim lagi, Bara?" ulang ibuku yang berada di ujung sambungan telepon. "Kamu kerja apa sih, sebenarnya di Kendari situ? Jangan bilang kamu pimpin geng lagi, malakin orang kiri-kanan lagi!" "Aduh Bu--, 'kan sudah kubilang, di sini aku jadi pembantu, Bu, jadi supir di rumah orang. Kok, malakin orang, sih?" Aku serius memelas. Akan tetapi, alih-alih mendapatkan impresi, Ibu justru semakin keras menukas. "Jangan bohong Bara! Empat hari lalu tiga puluh juta masuk ke rekening Maya, dan sekarang kamu ngirim lagi? Memangnya Ibu ini terlalu bodoh ya, sampai tidak tahu berapa gaji pembantu di Kendari situ?" "Harus berapa kali sih, Ibu ingatkan? Kami tidak boleh lagi kamu kasih makan pakai uang haram, Bara! Begitu juga dengan Maya, dia tidak akan pernah bisa sembuh kalau uang berobatnya kamu dapatkan dari sumpah serapah orang-orang! Ya Tuhan, Bara ... kamu ini kapan insyafnya sih, Nak..." Aku terdiam! Kebingungan me
Jika barusan aku sangat deg-degan, berpikir bahwa kesempatan untuk mereguk kenikmatan yang aku idam-idamkan pada akhirnya datang juga, maka sekarang justru sebaliknya. Kata-kata dan ekspresi Nyonya Nola barusan, benar-benar telah mengubah segalanya."Kenapa diam, apakah kamu meragukanku, hm?"Sekali lagi dia memperlihatkan senyum nakal nan menggoda. Sangat jelas kalau dia belum menyadari kenapa aku tiba-tiba bersikap dingin terhadapnya. "Maaf Nola," kataku lesu, "tapi kita tidak bisa melakukan ini."Bersamaan dengan ujung kalimatku itu, secara naluriah aku bebaskan diri dari kungkungannya, mendorong dia dengan sedikit tenaga. "Bara, kau..."Nyonya Nola mengerang tertahan. Dia mungkin tidak siap sampai oleng hingga kira-kira satu meter ke belakang, sebelum kemudian terduduk di sisi sofa tidur. Atmosfer ruangan tiba-tiba seperti dipenuhi kabut tebal. Sebagaimana Nyonya Nola, aku pun membeku di tempat. Meskipun tatapan beradu satu sama lain, tapi ujung lisan kami seperti sedang sama-s
"Nyo-Nyonya... Anda mabuk," desisku, namun suaraku sendiri terdengar payah. Nola tidak peduli. Matanya yang sayu justru berkilat liar di bawah temaram lampu kamar. Ia merangkak maju, dengan hanya mengenakan pakaian dalamnya yang tipis, memamerkan lekuk tubuh matang yang sanggup meruntuhkan iman pria mana pun. "Bara... jangan munafik," bisiknya serak. Tangannya yang panas tiba-tiba menyusup ke balik kemejaku, mencengkeram pinggangku dan menarikku hingga tubuh kami tak menyisakan jarak. Napasnya yang beraroma alkohol namun manis menerpa bibirku. Saat ia menggeliat pelan, aku merasakan milikku berdenyut kencang, menegang hebat di balik celana yang mulai terasa sesak. "Aku menginginkanmu, Bara. Sekarang..." Tangannya mulai turun, meraba dengan berani ke arah area yang sudah sangat sesak itu. Sial! Sebelum segalanya lepas kendali dan aku benar-benar melumatnya, aku segera mencengkeram bahunya dan mendorongnya keras ke atas ranjang. "Bara..." gumamnya parau sebelum a
"Yakin tidak mau ikutan? Di dalam sana banyak wanita cantik, lho."Sudah dua kali Nyonya Nola mengatakan itu. Seperti tadi juga, aku hanya tersenyum kecil dan menggeleng, "Aku nunggu di sini saja."Saat ini kami berada di pelataran parkir sebuah klub malam. Lokasinya hanya lima menitan berkendara dari hotel tempat kami menginap. Nyonya Nola bilang, di sinilah tempat berlangsungnya acara khusus, sebuah acara privat yang ternyata adalah 'Party Night'. "Iya, memang ada baiknya kamu di sini saja," katanya lagi. "Daripada kamu diembat jablai di dalam sana, mending aku yang cicipi kamu. Kami sama-sama jablai sih, tapi aku tidak asal embat seperti mereka."Langsung pecah tawaku. Benar-benar tidak menyangka kalau Nyonya Nola bisa sekonyol ini. Akan tetapi, dia tetap pasang mimik wajah serius. "Kenapa tertawa? Apa kamu pikir aku berbohong?""Tidak Nola, bukan seperti itu," sangkalku cepat, "justru kamu adalah wanita terjujur yang pernah aku temui.""Oh ya?" katanya juga, "berarti kamu ini p
"Kamu gila! Kamu pasti sudah gila, Nola!"Aku sudah tidak ubahnya rusa masuk kampung. Mataku liar menyapu sekeliling. Beruntung, sepertinya tidak ada seorangpun yang menjadikan kami sebagai pusat perhatian. Entahlah jika mereka hanya sekonyong-konyong tidak mengetahui apa-apa. Berbeda dengan aku yang panik bukan kepalang, Nyonya Nola malah tertawa-tawa, seolah apa yang dia lakukan barusan hanyalah guyonan belaka. Dengan antengnya dia membalas, "Kalau gila memangnya kenapa, hm? Hahaha."Dia malah kembali menggodaku dengan kedipan matanya yang nakal itu? Lagipula, apanya yang lucu? Sudah kuputustkan, tidak lagi berbuat, atau mengatakan sesuatu yang dapat memancing reaksinya yang tidak pakai kira-kira.Begitu kami mengambil tempat duduk di salah satu kafe payung tepi pantai ini, Nyonya Nola langsung memanggil pekerja kafe, kemudian membuat pesanan. "Mas-nya pesen apa?" Pekerja kafe sambil bersiap mencatat sebagaimana yang dia lakukan pada Nyonya Nola."Samakan saja."Aku terpaksa meny
"Mau dijemput pukul berapa, Nyonya?""Bara! Sudah berapa kali kukatakan, jangan panggil aku Nyonya saat si Tua Bangka itu tidak ada!""Ta-tapi Nyonya, eh Bu ....""Tidak ada tapi-tapian! Panggil aku Nola! N, O, L, A. No--la! Jemput aku pukul lima atau nanti kutelpon!""Ba-ba-baik, Nyo--, eh maksudku.Nola."Tergesa kutinggalkan bangku kemudi lalu mengitari moncong mobil, sebelum kemudian membuka pintu penumpang bagian tengah. Dengan kepala membungkuk, aku persilahkan wanita yang sudah menjadi majikanku sedari awal-awal mencoba peruntungan di kota ini."Tidak perlu juga berlebihan kayak gini dong, Bara," katanya saat menjejakkan kaki di tanah. "Kamu ini gimana, sih? Baru saja juga dibilangin," tambahnya agak frustrasi.Aku diam saja dan tetap menundukkan kepala. Detik berikutnya, tanpa pernah terbayangkan sama sekali, wanita bersuami ini tiba-tiba saja memberiku satu kecupan kecil di pipi.Tersirap darahku seketika!Jelang enam bulan menjadi pembantu di rumah wanita 'high class' ini, i







