LOGIN"Nyo-Nyonya... Anda mabuk," desisku, namun suaraku sendiri terdengar payah.
Nola tidak peduli. Matanya yang sayu justru berkilat liar di bawah temaram lampu kamar. Ia merangkak maju, dengan hanya mengenakan pakaian dalamnya yang tipis, memamerkan lekuk tubuh matang yang sanggup meruntuhkan iman pria mana pun. "Bara... jangan munafik," bisiknya serak. Tangannya yang panas tiba-tiba menyusup ke balik kemejaku, mencengkeram pinggangku dan menarikku hingga tubuh kami tak menyisakan jarak. Napasnya yang beraroma alkohol namun manis menerpa bibirku. Saat ia menggeliat pelan, aku merasakan milikku berdenyut kencang, menegang hebat di balik celana yang mulai terasa sesak. "Aku menginginkanmu, Bara. Sekarang..." Tangannya mulai turun, meraba dengan berani ke arah area yang sudah sangat sesak itu. Sial! Sebelum segalanya lepas kendali dan aku benar-benar melumatnya, aku segera mencengkeram bahunya dan mendorongnya keras ke atas ranjang. "Bara..." gumamnya parau sebelum akhirnya ia jatuh terkulai, energinya habis seketika. Aku berdiri mematung dengan napas menderu, menatap tubuh yang nyaris polos itu dengan kepalan tangan yang gemetar. "Sial! Sedikit lagi saja, aku pasti sudah memakannya hidup-hidup." Dengan perlahan–tak ingin membangunkan Nola yang kini sudah habis baterainya–kugapai pakaian ganti yang ada di lemari hotel itu. Sambil menggenggam piyama dari lemari itu dengan kuat, aku menatap tubuh Nola yang, jika saja yang ada di ruangan ini bukan aku melainkan lelaki lain, akan dilahapnya habis-habisan! “Semoga dia tidak bangun lagi dan beringas seperti barusan.” *** "Bara ... di mana kau, cepat kesini!" Di balkon, setelah aku langsung tertidur pasca dengan susah payah menggantikan pakaian Nola agar ia tidak ‘mengamuk’ lagi, suara Nola yang khas itu membangunkanku. Secepat itu juga aku ke kamar. "Nola, kamu kenapa? Habis mimpi buruk, ya?" "Jangan berlagak bunglon di hadapanku, Bara! Setelah kau tiduri aku, kau masih pura-pura tidak tahu apa-apa?" "Oh astaga, ternyata itu masalahnya," desisku dalam tenggorokan. Sampai di sini, pada akhirnya aku merasa mulai tahu ke mana arah kalimatnya. Ini tidak benar, dan aku merasa wajib membela diri. "Demi Tuhan, Nola, aku tidak melakukan apapun yang merugikan dirimu!" "Bohong! Kamu bohong!" balasnya lagi-lagi tak mau kalah. "Jangan pikir karena mabuk, lalu aku tidak ingat bagaimana kondisi terakhirku tadi malam! Ini-ini, piyama ini, jelaskan padaku, kenapa bisa tiba-tiba melekat di badanku?" Sesuai dugaanku, dia memang sedang mempermasalahkan kondisi dirinya. Tanpa membuang-buang waktu, kuceritakan saja semuanya. Dari bagaimana dia di klub malam, sampai aku terpaksa menukar pakaiannya di kamar ini, semuanya kupaparkan dengan runut. "Hanya itu, Nola. Aku minta maaf kalau itu juga salah," tambahku di akhir-akhir tuturan. "Dasar payah!" ucapnya tiba-tiba, dan bergeser meraih tas tangannya yang tergeletak di meja rias. Aku tidak tahu apa maksud dia mengucapkan itu. Aku diamkan saja seraya diam-diam mengikuti punggungnya dengan tatapan. Wanita berpostur proporsional, dengan tinggi badan di kisaran 175 centimeter ini, saat mengenakan piyama sepangkal paha begini, itu ... entahlah! "Bara, kau bilang..." Tiba-tiba dia mengatakan itu, lalu memutar badan, menatapku lekat. "Bilang apa?" sahutku pelan. Masih ada sisa-sisa canggung dalam diri ini. "Bilangmu si Edi Tansil itu belum akan kembali pada minggu-minggu ini, bukan? Tapi ini, dia sudah minta dijemput hari ini juga." Dia sambil memamerkan ponselnya dari jarak tiga meter dariku. Aku tidak mungkin bisa melihat apa yang ada pada layar ponselnya pada jarak sedemikian itu. Lagipula, bukan itu yang menjadi permasalahannya. "Edi Tansil?" ucapku setelah lebih dulu berpikir sebentar. "Maaf Nola, sepertinya kamu salah orang. Maksudku, aku merasa tidak pernah menyebut nama itu. Iya, Edi Tansil mana satu ya, yang kamu maksudkan?" "Siapa lagi kalau bukan si Edy Hidayat yang tidak berguna itu," sahutnya seperti daun kering lepas dari rantingnya. "Edy Hidayat?" ulangku tambah bingung, "kok, bisa tiba-tiba berubah jadi Edi Tansil?" "Tidak ada yang berubah, Bara!" ucapnya lagi, "Edi Tansil itu artinya Ejakulasi Dini Tanpa Hasil." "Oh astaga!" Tawaku pecah seketika. Bias hingga menenggelamkan rasa canggung yang tersisa. "Ada-ada saja kau ini," tambahku seraya geleng-geleng kepala. Dia belum lagi menambahkan. Meskipun tidak tertawa-tawa seperti aku, tapi aku tidak lagi melihat aura tegang sebagaimana saat dia menginterogasi aku tadi. Sampailah aku merasa tidak ada lagi yang perlu dibahas. "Eh, mau ke mana?" Dia bertanya masih pada posisi semula. Mungkin karena melihat aku menyentuh gagang pintu. Aku menjeda langkah dan mengarahkan wajah pada dia, "Tidak ke mana-mana, hanya mau cari angin di luar." "Begini," katanya juga, lalu meminta aku untuk keluar memanaskan mesin mobil. Katanya, kami akan pergi menjemput Tuan Edy Hidayat di bandara. Tanpa banyak bicara, langsung kuiyakan. Baru beberapa meter membelakangi pintu kamar, tiba-tiba aku teringat pakaiannya tadi malam. Mau tidak mau aku kembali ke dalam untuk memberi tahu dia. "Oh astaga, maaf-maaf, aku tidak sengaja," ucapku gelagapan sambil buru-buru membuang muka, "aku mengaku salah karena sudah nyelonong begitu saja. Lain kali aku akan ketuk pintu dulu. Sekali lagi, aku minta maaf." Aku dapati Nyonya Nola tinggal mengenakan pakaian dalam. Piyamanya tergeletak begitu saja di sofa tidur. Sepertinya dia sedang siap-siap menuju kamar mandi. Tapi yang tidak aku sangka-sangka adalah, alih-alih marah, Nyonya Nola justru bergeser ke arahku, memposisikan dirinya hingga berdiri tepat di hadapanku. Aku yang kini berdiri dengan posisi punggung menempel pada daun pintu, sudah tidak ubahnya seorang pelaku kejahatan yang terjebak dalam sergapan pihak berwajib. "Kenapa harus membuang muka, hm?" Nadanya mengintimidasi, posisi wajah tepat di depan batang hidungku. "Bukankah tadi malam kamu sudah melihat semuanya?" "Ma-maaf Nola. Tapi bukankah sudah kukatakan, tadi malam itu aku tidak punya pilihan?" "Hahaha, Bara ... Bara, jadi orang kamu kok, munafik amat sih?" Dia tertawa dengan dingin, sangat kentara bernuansa cemooh. Belum sempat aku menanggapi, dia sudah kembali menambahkan dengan jauh lebih intimidasi. "Bara, tadi malam aku sengaja memberimu kesempatan, tapi kenapa kamu tidak memanfaatkannya? Padahal, aku tahu lho, kamu sangat menginginkannya. Jika tidak, untuk apa kamu remas-remas melonku, memasukkan tanganmu ke bawahku?" "Apa?" Serasa melompat keluar jantung ini. Padahal, tadi malam aku hanya menyentuh bajunya yang penuh muntahan. Tentu saja aku harus menyentuh gundukan dan lembah di bawahnya, tapi bukan.... itu. "Ja-ja-jadi tadi malam itu kamu hanya pura-pura?" "Hahaha..." Tawanya pecah lagi. Keras dan panjang. Dagunya sampai sedikit terangkat, memamerkan leher jenjang lagi menggiurkan. 'Big size'-nya pula, bergetar-getar, hebat seumpama gempa berskala lokal. Dia masih nyaris tanpa jarak denganku, sampai-sampai aku tidak sadar lagi-lagi menelan ludah. Mulutku mendadak kering. Padahal, situasi mentalku sedang tertekan karena pengakuannya, sebuah fakta yang rasa-rasanya seperti melucuti pakaianku di tempat umum. Sampailah tawanya berangsur-angsur reda, kedua tangannya dia lingkarkan ke pinggangku, big size-nya dia satukan dengan badanku. Penuh rasa dia berbisik, "Tadi malam aku terlalu mabuk untuk mengimbangi kamu. Sekarang, aku akan memberimu satu kesempatan lagi. Puaskan aku, dan aku akan memberimu apa yang kamu cari. Hm?""Iya Bu, maaf baru ngirim nih. Gajinya baru masuk tadi malam, sih." "Kamu ngirim lagi, Bara?" ulang ibuku yang berada di ujung sambungan telepon. "Kamu kerja apa sih, sebenarnya di Kendari situ? Jangan bilang kamu pimpin geng lagi, malakin orang kiri-kanan lagi!" "Aduh Bu--, 'kan sudah kubilang, di sini aku jadi pembantu, Bu, jadi supir di rumah orang. Kok, malakin orang, sih?" Aku serius memelas. Akan tetapi, alih-alih mendapatkan impresi, Ibu justru semakin keras menukas. "Jangan bohong Bara! Empat hari lalu tiga puluh juta masuk ke rekening Maya, dan sekarang kamu ngirim lagi? Memangnya Ibu ini terlalu bodoh ya, sampai tidak tahu berapa gaji pembantu di Kendari situ?" "Harus berapa kali sih, Ibu ingatkan? Kami tidak boleh lagi kamu kasih makan pakai uang haram, Bara! Begitu juga dengan Maya, dia tidak akan pernah bisa sembuh kalau uang berobatnya kamu dapatkan dari sumpah serapah orang-orang! Ya Tuhan, Bara ... kamu ini kapan insyafnya sih, Nak..." Aku terdiam! Kebingungan me
Jika barusan aku sangat deg-degan, berpikir bahwa kesempatan untuk mereguk kenikmatan yang aku idam-idamkan pada akhirnya datang juga, maka sekarang justru sebaliknya. Kata-kata dan ekspresi Nyonya Nola barusan, benar-benar telah mengubah segalanya."Kenapa diam, apakah kamu meragukanku, hm?"Sekali lagi dia memperlihatkan senyum nakal nan menggoda. Sangat jelas kalau dia belum menyadari kenapa aku tiba-tiba bersikap dingin terhadapnya. "Maaf Nola," kataku lesu, "tapi kita tidak bisa melakukan ini."Bersamaan dengan ujung kalimatku itu, secara naluriah aku bebaskan diri dari kungkungannya, mendorong dia dengan sedikit tenaga. "Bara, kau..."Nyonya Nola mengerang tertahan. Dia mungkin tidak siap sampai oleng hingga kira-kira satu meter ke belakang, sebelum kemudian terduduk di sisi sofa tidur. Atmosfer ruangan tiba-tiba seperti dipenuhi kabut tebal. Sebagaimana Nyonya Nola, aku pun membeku di tempat. Meskipun tatapan beradu satu sama lain, tapi ujung lisan kami seperti sedang sama-s
"Nyo-Nyonya... Anda mabuk," desisku, namun suaraku sendiri terdengar payah. Nola tidak peduli. Matanya yang sayu justru berkilat liar di bawah temaram lampu kamar. Ia merangkak maju, dengan hanya mengenakan pakaian dalamnya yang tipis, memamerkan lekuk tubuh matang yang sanggup meruntuhkan iman pria mana pun. "Bara... jangan munafik," bisiknya serak. Tangannya yang panas tiba-tiba menyusup ke balik kemejaku, mencengkeram pinggangku dan menarikku hingga tubuh kami tak menyisakan jarak. Napasnya yang beraroma alkohol namun manis menerpa bibirku. Saat ia menggeliat pelan, aku merasakan milikku berdenyut kencang, menegang hebat di balik celana yang mulai terasa sesak. "Aku menginginkanmu, Bara. Sekarang..." Tangannya mulai turun, meraba dengan berani ke arah area yang sudah sangat sesak itu. Sial! Sebelum segalanya lepas kendali dan aku benar-benar melumatnya, aku segera mencengkeram bahunya dan mendorongnya keras ke atas ranjang. "Bara..." gumamnya parau sebelum a
"Yakin tidak mau ikutan? Di dalam sana banyak wanita cantik, lho."Sudah dua kali Nyonya Nola mengatakan itu. Seperti tadi juga, aku hanya tersenyum kecil dan menggeleng, "Aku nunggu di sini saja."Saat ini kami berada di pelataran parkir sebuah klub malam. Lokasinya hanya lima menitan berkendara dari hotel tempat kami menginap. Nyonya Nola bilang, di sinilah tempat berlangsungnya acara khusus, sebuah acara privat yang ternyata adalah 'Party Night'. "Iya, memang ada baiknya kamu di sini saja," katanya lagi. "Daripada kamu diembat jablai di dalam sana, mending aku yang cicipi kamu. Kami sama-sama jablai sih, tapi aku tidak asal embat seperti mereka."Langsung pecah tawaku. Benar-benar tidak menyangka kalau Nyonya Nola bisa sekonyol ini. Akan tetapi, dia tetap pasang mimik wajah serius. "Kenapa tertawa? Apa kamu pikir aku berbohong?""Tidak Nola, bukan seperti itu," sangkalku cepat, "justru kamu adalah wanita terjujur yang pernah aku temui.""Oh ya?" katanya juga, "berarti kamu ini p
"Kamu gila! Kamu pasti sudah gila, Nola!"Aku sudah tidak ubahnya rusa masuk kampung. Mataku liar menyapu sekeliling. Beruntung, sepertinya tidak ada seorangpun yang menjadikan kami sebagai pusat perhatian. Entahlah jika mereka hanya sekonyong-konyong tidak mengetahui apa-apa. Berbeda dengan aku yang panik bukan kepalang, Nyonya Nola malah tertawa-tawa, seolah apa yang dia lakukan barusan hanyalah guyonan belaka. Dengan antengnya dia membalas, "Kalau gila memangnya kenapa, hm? Hahaha."Dia malah kembali menggodaku dengan kedipan matanya yang nakal itu? Lagipula, apanya yang lucu? Sudah kuputustkan, tidak lagi berbuat, atau mengatakan sesuatu yang dapat memancing reaksinya yang tidak pakai kira-kira.Begitu kami mengambil tempat duduk di salah satu kafe payung tepi pantai ini, Nyonya Nola langsung memanggil pekerja kafe, kemudian membuat pesanan. "Mas-nya pesen apa?" Pekerja kafe sambil bersiap mencatat sebagaimana yang dia lakukan pada Nyonya Nola."Samakan saja."Aku terpaksa meny
"Mau dijemput pukul berapa, Nyonya?""Bara! Sudah berapa kali kukatakan, jangan panggil aku Nyonya saat si Tua Bangka itu tidak ada!""Ta-tapi Nyonya, eh Bu ....""Tidak ada tapi-tapian! Panggil aku Nola! N, O, L, A. No--la! Jemput aku pukul lima atau nanti kutelpon!""Ba-ba-baik, Nyo--, eh maksudku.Nola."Tergesa kutinggalkan bangku kemudi lalu mengitari moncong mobil, sebelum kemudian membuka pintu penumpang bagian tengah. Dengan kepala membungkuk, aku persilahkan wanita yang sudah menjadi majikanku sedari awal-awal mencoba peruntungan di kota ini."Tidak perlu juga berlebihan kayak gini dong, Bara," katanya saat menjejakkan kaki di tanah. "Kamu ini gimana, sih? Baru saja juga dibilangin," tambahnya agak frustrasi.Aku diam saja dan tetap menundukkan kepala. Detik berikutnya, tanpa pernah terbayangkan sama sekali, wanita bersuami ini tiba-tiba saja memberiku satu kecupan kecil di pipi.Tersirap darahku seketika!Jelang enam bulan menjadi pembantu di rumah wanita 'high class' ini, i







