Share

004

Author: Thato Kent
last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-19 20:03:40

"Nyo-Nyonya... Anda mabuk," desisku, namun suaraku sendiri terdengar payah.

Nola tidak peduli. Matanya yang sayu justru berkilat liar di bawah temaram lampu kamar.

Ia merangkak maju, dengan hanya mengenakan pakaian dalamnya yang tipis, memamerkan lekuk tubuh matang yang sanggup meruntuhkan iman pria mana pun.

"Bara... jangan munafik," bisiknya serak.

Tangannya yang panas tiba-tiba menyusup ke balik kemejaku, mencengkeram pinggangku dan menarikku hingga tubuh kami tak menyisakan jarak. Napasnya yang beraroma alkohol namun manis menerpa bibirku.

Saat ia menggeliat pelan, aku merasakan milikku berdenyut kencang, menegang hebat di balik celana yang mulai terasa sesak.

"Aku menginginkanmu, Bara. Sekarang..."

Tangannya mulai turun, meraba dengan berani ke arah area yang sudah sangat sesak itu. Sial! Sebelum segalanya lepas kendali dan aku benar-benar melumatnya, aku segera mencengkeram bahunya dan mendorongnya keras ke atas ranjang.

"Bara..." gumamnya parau sebelum akhirnya ia jatuh terkulai, energinya habis seketika.

Aku berdiri mematung dengan napas menderu, menatap tubuh yang nyaris polos itu dengan kepalan tangan yang gemetar. "Sial! Sedikit lagi saja, aku pasti sudah memakannya hidup-hidup."

Dengan perlahan–tak ingin membangunkan Nola yang kini sudah habis baterainya–kugapai pakaian ganti yang ada di lemari hotel itu.

Sambil menggenggam piyama dari lemari itu dengan kuat, aku menatap tubuh Nola yang, jika saja yang ada di ruangan ini bukan aku melainkan lelaki lain, akan dilahapnya habis-habisan!

“Semoga dia tidak bangun lagi dan beringas seperti barusan.”

***

"Bara ... di mana kau, cepat kesini!"

Di balkon, setelah aku langsung tertidur pasca dengan susah payah menggantikan pakaian Nola agar ia tidak ‘mengamuk’ lagi, suara Nola yang khas itu membangunkanku.

Secepat itu juga aku ke kamar. "Nola, kamu kenapa? Habis mimpi buruk, ya?"

"Jangan berlagak bunglon di hadapanku, Bara! Setelah kau tiduri aku, kau masih pura-pura tidak tahu apa-apa?"

"Oh astaga, ternyata itu masalahnya," desisku dalam tenggorokan.

Sampai di sini, pada akhirnya aku merasa mulai tahu ke mana arah kalimatnya. Ini tidak benar, dan aku merasa wajib membela diri.

"Demi Tuhan, Nola, aku tidak melakukan apapun yang merugikan dirimu!"

"Bohong! Kamu bohong!" balasnya lagi-lagi tak mau kalah. "Jangan pikir karena mabuk, lalu aku tidak ingat bagaimana kondisi terakhirku tadi malam! Ini-ini, piyama ini, jelaskan padaku, kenapa bisa tiba-tiba melekat di badanku?"

Sesuai dugaanku, dia memang sedang mempermasalahkan kondisi dirinya.

Tanpa membuang-buang waktu, kuceritakan saja semuanya. Dari bagaimana dia di klub malam, sampai aku terpaksa menukar pakaiannya di kamar ini, semuanya kupaparkan dengan runut.

"Hanya itu, Nola. Aku minta maaf kalau itu juga salah," tambahku di akhir-akhir tuturan.

"Dasar payah!" ucapnya tiba-tiba, dan bergeser meraih tas tangannya yang tergeletak di meja rias.

Aku tidak tahu apa maksud dia mengucapkan itu. Aku diamkan saja seraya diam-diam mengikuti punggungnya dengan tatapan.

Wanita berpostur proporsional, dengan tinggi badan di kisaran 175 centimeter ini, saat mengenakan piyama sepangkal paha begini, itu ... entahlah!

"Bara, kau bilang..."

Tiba-tiba dia mengatakan itu, lalu memutar badan, menatapku lekat.

"Bilang apa?" sahutku pelan. Masih ada sisa-sisa canggung dalam diri ini.

"Bilangmu si Edi Tansil itu belum akan kembali pada minggu-minggu ini, bukan? Tapi ini, dia sudah minta dijemput hari ini juga."

Dia sambil memamerkan ponselnya dari jarak tiga meter dariku. Aku tidak mungkin bisa melihat apa yang ada pada layar ponselnya pada jarak sedemikian itu. Lagipula, bukan itu yang menjadi permasalahannya.

"Edi Tansil?" ucapku setelah lebih dulu berpikir sebentar. "Maaf Nola, sepertinya kamu salah orang. Maksudku, aku merasa tidak pernah menyebut nama itu. Iya, Edi Tansil mana satu ya, yang kamu maksudkan?"

"Siapa lagi kalau bukan si Edy Hidayat yang tidak berguna itu," sahutnya seperti daun kering lepas dari rantingnya.

"Edy Hidayat?" ulangku tambah bingung, "kok, bisa tiba-tiba berubah jadi Edi Tansil?"

"Tidak ada yang berubah, Bara!" ucapnya lagi, "Edi Tansil itu artinya Ejakulasi Dini Tanpa Hasil."

"Oh astaga!" Tawaku pecah seketika. Bias hingga menenggelamkan rasa canggung yang tersisa. "Ada-ada saja kau ini," tambahku seraya geleng-geleng kepala.

Dia belum lagi menambahkan. Meskipun tidak tertawa-tawa seperti aku, tapi aku tidak lagi melihat aura tegang sebagaimana saat dia menginterogasi aku tadi. Sampailah aku merasa tidak ada lagi yang perlu dibahas.

"Eh, mau ke mana?"

Dia bertanya masih pada posisi semula. Mungkin karena melihat aku menyentuh gagang pintu.

Aku menjeda langkah dan mengarahkan wajah pada dia, "Tidak ke mana-mana, hanya mau cari angin di luar."

"Begini," katanya juga, lalu meminta aku untuk keluar memanaskan mesin mobil. Katanya, kami akan pergi menjemput Tuan Edy Hidayat di bandara. Tanpa banyak bicara, langsung kuiyakan.

Baru beberapa meter membelakangi pintu kamar, tiba-tiba aku teringat pakaiannya tadi malam. Mau tidak mau aku kembali ke dalam untuk memberi tahu dia.

"Oh astaga, maaf-maaf, aku tidak sengaja," ucapku gelagapan sambil buru-buru membuang muka, "aku mengaku salah karena sudah nyelonong begitu saja. Lain kali aku akan ketuk pintu dulu. Sekali lagi, aku minta maaf."

Aku dapati Nyonya Nola tinggal mengenakan pakaian dalam. Piyamanya tergeletak begitu saja di sofa tidur. Sepertinya dia sedang siap-siap menuju kamar mandi.

Tapi yang tidak aku sangka-sangka adalah, alih-alih marah, Nyonya Nola justru bergeser ke arahku, memposisikan dirinya hingga berdiri tepat di hadapanku.

Aku yang kini berdiri dengan posisi punggung menempel pada daun pintu, sudah tidak ubahnya seorang pelaku kejahatan yang terjebak dalam sergapan pihak berwajib.

"Kenapa harus membuang muka, hm?" Nadanya mengintimidasi, posisi wajah tepat di depan batang hidungku. "Bukankah tadi malam kamu sudah melihat semuanya?"

"Ma-maaf Nola. Tapi bukankah sudah kukatakan, tadi malam itu aku tidak punya pilihan?"

"Hahaha, Bara ... Bara, jadi orang kamu kok, munafik amat sih?"

Dia tertawa dengan dingin, sangat kentara bernuansa cemooh. Belum sempat aku menanggapi, dia sudah kembali menambahkan dengan jauh lebih intimidasi.

"Bara, tadi malam aku sengaja memberimu kesempatan, tapi kenapa kamu tidak memanfaatkannya? Padahal, aku tahu lho, kamu sangat menginginkannya. Jika tidak, untuk apa kamu remas-remas melonku, memasukkan tanganmu ke bawahku?"

"Apa?" Serasa melompat keluar jantung ini. Padahal, tadi malam aku hanya menyentuh bajunya yang penuh muntahan. Tentu saja aku harus menyentuh gundukan dan lembah di bawahnya, tapi bukan.... itu.

"Ja-ja-jadi tadi malam itu kamu hanya pura-pura?"

"Hahaha..."

Tawanya pecah lagi. Keras dan panjang. Dagunya sampai sedikit terangkat, memamerkan leher jenjang lagi menggiurkan. 'Big size'-nya pula, bergetar-getar, hebat seumpama gempa berskala lokal.

Dia masih nyaris tanpa jarak denganku, sampai-sampai aku tidak sadar lagi-lagi menelan ludah. Mulutku mendadak kering. Padahal, situasi mentalku sedang tertekan karena pengakuannya, sebuah fakta yang rasa-rasanya seperti melucuti pakaianku di tempat umum.

Sampailah tawanya berangsur-angsur reda, kedua tangannya dia lingkarkan ke pinggangku, big size-nya dia satukan dengan badanku. Penuh rasa dia berbisik, "Tadi malam aku terlalu mabuk untuk mengimbangi kamu. Sekarang, aku akan memberimu satu kesempatan lagi. Puaskan aku, dan aku akan memberimu apa yang kamu cari. Hm?"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   SELESAI

    "Saya terima nikah dan kawinnya Zaitun binti Rauf dengan maskawin tersebut dibayar tu--nai!""Bagaimana saksi, sah?""Sah!"Pak penghulu kemudian melanjutkan dengan bacaan ayat-ayat, lalu doa-doa. Sedangkan para hadirin serta saksi dan wali hakim yang mana sebagian besar dari mereka adalah kerabat dekat ayah dan ibu, mengimbangi pak penghulu dengan sahutan 'aamiin'. Sejenak menyimak seraya diam-diam memperhatikan.Semua orang tampak khusyuk. Maya yang duduk di kursi roda, dan berada tepat di belakangku, dia pun kini menumpu kedua tangan, menundukkan kepala, dan dengan mata terpejam. Bibirnya pun tak henti mengucapkan kata 'aamiin', dan itu berlangsung sampai pak penghulu mengusaikan doa-doanya."Alhamdulillah," ucap Maya lagi. Matanya tampak berkaca-kaca. "Sekarang Zaitun resmi dan sah menjadi bagian dari keluarga kita," tambahnya.Ibu yang lebih dulu menimpali, "Terima kasih, Maya. Tanpa izinmu, ijab kabul ini tidak akan pernah terlaksana.""Jangan bicarakan itu lagi, Bu," tepis May

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   242

    Agnes dan Abraham langsung membuntuti langkah Bu Merlin. Sedangkan Angel yang tiba-tiba jadi pendiam terhadap kami, baru membayangi langkah kedua kakaknya setelah Agnes menolehi dia sebentar.Cara Agnes menatap Angel sangat kentara sekali kalau itu semacam wanti-wanti. Mungkin karena itulah Angel yang biasanya tidak bisa menahan diri dalam berkata-kata, pada akhirnya beredar dengan wajah tertekuk dalam! "Bara?" desis Rafika sesaat setelah mereka semua tak lagi mengarahkan wajah pada kami, "kok aku merasa ada yang tidak biasa dengan Angel?""Maksudnya?" Aku menyahut sekedarnya saja."Angel kayak canggung gitu," imbuhnya. "Kan itu tidak kayak biasanya ya? Atau jangan-jangan itu karena..."Rafika tak menggenapi kalimatnya, tapi aku merasa tahu apa yang ingin dia katakan. "Iya, Rafika," sahutku, "tapi biarkan saja. Setidaknya sekarang kita sudah tahu seperti apa watak dia yang sebenarnya!"Rafika tak berkedip menatapku, tapi yang dia perlihatkan justru gurat kebingungan yang mendalam."

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   241

    Rafika berjalan kira-kira lima atau enam langkah di depan Edy Hidayat. Begitu mendekat perhatian langsung dia fokuskan pada Meisya, bukan aku!"Maaf," ucap Rafika, menatap serius wajah Meisya, "apakah kamu yang bernama Meisya?""Benar," sahut Meisya tanpa ada rasa sungkan sedikitpun juga. "Aku Meisya, saudara barumu," tambahnya dan tersenyum ramah."Senang sekali mendengarnya," balas Rafika juga. "Aku berharap mulai saat ini kita akan saling menguatkan satu sama lain.""Pasti, pasti itu Rafika. Maya juga sudah tidak sabar menunggu kedatanganmu."Saat mengatakan itu, Meisya sudah lebih dulu membawa Rafika dalam pelukannya. Mereka berpelukan dengan sangat hangat sekali. Aku bahkan merasa seakan-akan tidak percaya dengan pemandangan ini Pada momen ini, Edy Hidayat kebetulan juga melintasi kami. Sepertinya dia akan menuju ke ruangan di mana Nola berada. Aku tak berkedip mengawasi gerak-geriknya. Pasalnya, setelah melewati kami tanpa menoleh sedikitpun juga, dia lalu melintas di hadapan

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   240

    "Hei Bara, apa-apaan kau ini, ha? Bisa tidak kamu kondisikan dirimu? Kau bisa saja membuat kita celaka kalau mengemudi seperti orang kesetanan seperti ini, Bara!""Ibu...""Ya Tuhan, Bara, ada apa denganmu? Bukankah sudah kukatakan kau bisa saja membuat kita celaka?"Rafika memang benar, aku mengemudi layaknya orang kesetanan begini, bukan tidak mungkin akan membuat kami bahkan orang lain mengalami kecelakaan. Terlebih lagi dia sudah sampai berteriak panik bukan kepalang seperti itu, memang alangkah baiknya jika aku mengemudi secara normal saja."Maafkan aku, aku terlalu cemas saat ini. Sekali lagi, aku benar-benar minta maaf!" Meskipun mungkin ini sudah sedikit terlambat, tapi aku berucap dengan sepenuh hati. Laju kendaraan pun sudah aku normalkan sebagaimana mestinya Alih-alih menyahut tidak peduli itu semisal mengumpat sekalipun, Rafika justru membuang muka. Namun, setelah kulirik dia sekilas dan mendapati raut wajahnya yang masih diselimuti oleh ketegangan, dan juga bersekutu

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   239

    "Brengsek, ternyata kalian!" "Iya Bara, ini memang kami. Senang sekali kamu sudah kembali.""Hah, brengsek kalian semua!"Sekali lagi aku memaki, tapi lawan bicaraku justru senyum-senyum sendiri, sebelum kemudian diikuti oleh yang lainnya dengan ekspresi wajah sendiri-sendiri.Sementara itu, aku pada akhirnya hanya bisa kesal sendiri saat tahu siapa orang-orang dalam mobil yang aku cegat di tengah jalan ini.Bodohnya aku, barusan itu ada yang lupa aku pastikan!Tipe kendaraan hingga warnanya memang mirip dengan kendaraan yang membuat masalah pada aku dan Angel di bandara Kendari sana tempo hari, tapi plat nomornya itu yang tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang membuatku mendadak sok jagoan.Begitu juga dengan enam orang pria urakan dalam mobil ini, mereka semua adalah teman lamaku!"Oh ya Bara, ngomong-ngomong siapa perempuan di mobil itu? Perasaan kami baru pertama kali lihat dia.""Iya Bara, siapa dia? Apakah dia...""Hah sudah-sudah, aku tidak punya waktu untuk menjawab pertan

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   238

    "Jadi memang benar ya, aku memang sangat payah di matamu?""Tidak ada yang berpikiran seperti itu, Rafika! Sudah ah, oke baik, aku akan temani kamu. Mari pergi sekarang!"Sebelum dia terlalu jauh memojokkan aku, memang akan lebih baik jika aku ikuti saja kemauannya. Biar dia saksikan sendiri saja akan seperti apa sosokku di pasar sentral ini sebentar nanti.Dan semoga saja dia siap mental untuk menghadapi reaksi orang-orang!Tapi begitu aku keluar dari mobil, ponselnya tiba-tiba berdering. Dan bukannya menerima panggilan atau semacamnya, dia justru mengkerutkan kening."Ada apa? Maksudku siapa yang menelepon? Kenapa tidak diangkat?" tanyaku penasaran."Tidak tahu siapa, nomor baru," katanya, sebelum kemudian me-reject panggilan itu.Tapi hanya selang beberapa saat dari itu, ponselnya kembali berdering. Sampai di sini aku berkata saja sekenanya, "Angkat saja dulu. Siapa tahu itu dari orang di desamu. Ayah atau ibumu misalnya?"Dia masih terlihat enggan. Namun begitu aku meminta dia sek

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status