หน้าหลัก / Romansa / Surat Dari Venus / BAB 9 - Bingkisan Untuk Ibu

แชร์

BAB 9 - Bingkisan Untuk Ibu

ผู้เขียน: Aster Chronos
last update วันที่เผยแพร่: 2022-02-26 00:28:03

“Ibu!!!” teriak Ran di depan pintu rumah.

Seketika, pintu yang tertutup itu terbuka, memunculkan sosok seorang wanita berumur tiga puluh tahun yang wajahnya terlihat letih.

“Ini semua, apa Ran?” tanya wanita itu yang terkejut melihat tas belanjaan tergeletak di tanah.

“Aku akan ceritakan nanti Bu, ayo bantu aku memasukkan barang – barang ini ke dalam, segera sembunyikan sebelum Ayah datang.”

Kemudian, dua perempuan itu saling bekerja sama untuk menyimpan barang di area yang sulit dijangkau. Namun ketika mereka menemukan frozen food, mereka bingung akan diletakkan dimana. Mereka tidak punya lemari pendingin, dan frozen food adalah jenis makanan yang cepat basi jika tidak diletakkan di suhu dingin.

“Sepertinya kita harus menjual ini sebagian Ran, uanngnya kita tabung. Daripada basi disimpan lama – lama. Kalo dititipkan di tetangga, tidak enak,” ujar Ibunya memberi saran.

Ran mengangguk setuju. Apapun yang ibunya ucapkan, Ran akan selalu menurut. Selama ia hidup, ia tidak pernah membantah ibunya. Hidup mereka sudah cukup sulit, jika ibunya dibebankan oleh kenakalan atau ketidak patuhannya, itu akan tambah membebani.

Setelah selesai menata barang – barang itu, Ran bergegas ke kamarnya untuk membersihkan diri dan membawa perlengkapan sekolah serta pakaian pemberian Raka. Seharian ia terpapar polusi dari debu kendaraan yang membuatnya bau dan sangat kotor. Tubuhnya juga terasa gatal dan tidak nyaman. Sedangkan Ibu Ran, tengah sibuk di dapur menyiapkan masakan dengan bahan yang dibawa putri semata wayangnya.

Beberapa menit kemudian, masakan sudah jadi bersamaan dengan Ran yang telah selesai mandi. Bau minyak telon dan aroma beri dari bedak bayi menguap di seluruh ruangan. Bau khas, yang disukai Ran.

Kemudian, Ran dan Ibunya duduk untuk menyantap masakan bersama. Entah sudah berapa lama mereka tidak merasakan malam yang nyaman tanpa kekurangan bahan seperti itu. Setelah dua hari hanya makan umbi – umbian, mereka bisa merasakan nasi yang hangat di meja.

“Ran, ayo cerita, bagaimana kamu mendapatkan itu semua?”

Ran lekas menelan makanan yang dia kunyah, lalu menjawab, “Aku bertemu seorang pria yang begitu baik Bu, dia yang membelikan itu semua. Tadi ketika aku mengamen, aku bertemu dengan dia. Dia mengajakku mengunjungi swalayan yang dulu pernah kita kunjungi. Sebenarnya aku ingin menolak, namun dia bilang aku tidak boleh menolak pemberian orang. Dan hari ini aku hanya mendapat sedikit uang untuk membeli beras, jadi aku terima saja pemberiannya itu.”

Ibu Ran, meraih tangan mungil putrinya dan mengusapnya pelan. “Ran, maafkan Ibu membuatmu berada dalam kesulitan. Membuatmu harus menanggung masalah yang seharusnya ditanggung orang tua. Maaf kamu harus lahir dari rahim dari orang seperti diriku,” katanya terdengar putus asa.

Ran bangkit dari duduknya dan memeluk wanita yang paling ia cintai itu. Ia mengusap punggung Ibunya dengan penuh kasih yang tengah meneteskan air mata. “Ibu, aku sudah dewasa. Kita keluarga, dan sudah menjadi kewajibanku menjaga Ibu, karena sejak dulu Ibu sudah merawatku. Jangan khawatir,” katanya.

Hal yang paling murah hati diciptakan oleh Tuhan adalah kebahagiaan. Rasanya begitu manis, seperti gulali yang menghangatkan hati setiap anak kecil. Sesederhana itu, sampai tidak memerlukan bentuk apapun untuk menciptakan sebuah kebahagiaan. Cukup ada seseorang disisimu yang menanggung beban bersamamu untuk menuju satu tujuan bersama. Ketika lelah saling menguatkan, dan ketika bahagia saling merangkul.

Malam itu, hujan menjadi saksi kebahagiaan Ran dan Ibunya. Musim yang paling Ran sukai, dan momen yang Ran akan sukai berkolaborasi. Dan itu akan menjadi memori tak terlupakan bagi Ran.

Tak selang dari kebahagiaan anak dan ibu itu berlangsung, datang sebuah guntur yang berbunyi begitu keras. Guntur itu membawa seorang pria yang tiba – tiba mendobrak pintu rumah mereka dengan wajah penuh amarah.

“Ran dimana kau!” teriak pria itu.

Ran yang mendengar namanya dipanggil oleh sang ayah, lantas berlari menghampiri suara itu. Jika ia tidak bergegas, ayahnya akan lebih marah. Mendengar gertakan itu saja, membuat Ran tergagap dan tidak bisa menolak panggilannya.

Ran menuju ruang tengah yang sekarang berantakan karena diobrak – abrik oleh ayahnya. Itu adalah pemandangan yang tidak lagi mengejutkan. Barak rusak, luka lebam di badan dan bentakan sudah biasa dilakukan oleh pemabuk itu.

“Ada apa Ayah?” tanyanya.

Pria itu menghampiri Ran dengan perlahan, kemudian berdiri tepat di depan gadis itu. Tangan kanannya terangkat membelai pipi tembam Ran. “Anakku yang cantik sudah dewasa,” katanya.

Seketika Ibu Ran yang datang dengan nafas terengah – engah menarik Ran ke belakang tubuhnya. “Ran, kembalilah ke kamarmu.”

PLAKK!!

Sebuah tamparan keras melayang ke pipi Ibu Ran, hingga wanita itu terjatuh di lantai.

“Wanita jalang!! Beraninya kau melawanku,” kata Ayah Ran sembari menginjak punggung Ibu Ran dengan kakinya yang masih beralaskan sepatu.

Ran berteriak histeris dan menghampiri ibunya. Namun, belum sempat ia membantu wanita itu berdiri, tangannya kembali ditarik oleh lengan kekar Ayahnya. Kemudian ia diseret menuju ke kamar, ruangan yang biasa menjadi saksi penyiksaan pria itu padannya dan Ibunya.

Ibu Ran lantas bangkit, dan berlari merebut Ran. “Jangan sentuh Ran, pukuli saja aku, jangan sakiti anakmu, aku memiliki sejumlah uang yang bisa kau pakai,” katanya.

Menyadari hal itu, Sudirman lantas menendang perut istrinya, hingga membuat wanita itu terjatuh lagi di lantai.

Hati Ran serasa diremuk melihat Ibunya diperlakukan seperti itu. Ia bahkan tidak membayangkan betapa sakit yang didapat oleh wanita itu.

“Tolong Ayah, jangan sakiti kami, ingatlah kami masih keluargamu,” kata Ran dalam isak tangisnya.

Sudirman tak menggubris ucapan anaknya. Keras kepalanya sudah berada di puncak dan tidak bisa diredakan lagi. Minuman keras yang ia konsumsi telah menjadi iblis, yang mengendalikan dirinya.

Ran mengikuti Ayahnya dengan pasrah. Kadang ketika sedang beribadah, ia bertanya kepada Tuhan kenapa di dunia ini harus ada orang jahat. Padahal, setiap manusia yang baru lahir adalah makhluk suci. Rahim yang menjadi rumahnya sejak dari embrio ke janin, juga dipenuhi doa. Begitu diberkati bagai mentari pagi yang memberi kehidupan pada bumi. Lalu kenapa iblis merasuki jiwa – jiwa suci itu?

Sudirman mengunci pintu dengan penuh amarah. Kemudian ia meleparkan semua barang yang ada di kamar itu dan melontarkan makian pada Ran.

Air mata Ran mengering. Kini ia hanya menatap Ayahnya dengan penuh rasa kasihan. “Kasihan dirimu, sampah!” katanya tiba – tiba.

Sudirman menatap Ran dengan tajam, kemudian ia melayangkan pukulannya ke pipi Ran dan membuat gadis itu terjatuh. “Sialan!! Aku akan menjual tubuhmu agar menghasilkan lebih banyak uang,” katanya.

***

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Dito Adimia
ayah macam apa kau sudirman ?
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Surat Dari Venus   BAB 63 - Bayang Bayang Venus

    Dua hari setelahnya, Ran diperbolehkan rawat jalan dengan beberapa persyaratan seperti melakukan kontrol secara rutin untuk mengganti perban. Bahkan keesokan harinya, ia langsung berangkat sekolah seperti biasa tak mengindahkan larangan neneknya yang khawatir.Di sekolah terjadi beberapa keributan. Koridor-koridor sekolah menjadi bising karena berita ekslusif yang terbit pagi itu. Di layar televisi kantin, di portal berita daring ponsel para siswa, hingga di halaman depan surat kabar nasional, berita mengenai skandal besar yang melibatkan jaringan kriminal berkedok kalangan elit meluas tanpa kendali.Kasus yang menyeret nama Sunny sebagai korban menjadi topik utama yang memenuhi hampir seluruh lini media. Rekaman video pengejaran dramatis di tengah malam yang bocor ke internet, foto-foto lokasi penyekapan di tepi hutan yang dipasangi garis polisi, rekaman CCTV lalu lintas, hingga siaran pers resmi dari Divisi Humas Polri terus diputar berulang kali.Nama Beneddict Antonio Surya bergem

  • Surat Dari Venus   BAB 62 - Menjadi Asing

    Malam makin larut. Lampu kamar perawatan Ran menyala temaram. Ran terbaring pucat dengan infus terpasang di tangan kanan dan balutan perban tebal di lengan kirinya. Napasnya terdengar halus dan teratur.Adit duduk di kursi samping ranjang, menatap wajah pucat itu. "Ran..."Tak ada sahutan.Adit tersenyum tipis. "Dasar keras kepala." Tangannya terangkat ragu untuk menyentuh jemari Ran, namun akhirnya ia tarik kembali. Ia hanya menyandarkan punggungnya. "Aku takut banget tadi. Jadi, tolong jangan bikin aku se-ketakutan ini lagi."Kelopak mata Ran bergerak perlahan, meski Adit tak menyadarinya."...Dit," suara bisikan lirih memecah hening.Adit seketika menegakkan duduknya. "Ran? Kamu sadar?"Ran membuka mata perlahan. Pandangannya sempat kabur sebelum akhirnya fokus pada wajah Adit."Aku... di mana?""Rumah sakit. Kamu aman."Ran mencoba menggerakkan tubuhnya, namun rasa nyeri langsung menyengat. "Aduh...""Jangan gerak dulu!" Adit menahan bahunya lembut. "Kamu baru selesai operasi."Ra

  • Surat Dari Venus   BAB 61 - Sebuah Pilihan

    Aksa langsung menginstruksikan tim polisi untuk mengamankan Angga, Sunny, dan Grace ke mobil medis di area parkir, sementara dirinya bersama beberapa personel bersenjata bergerak cepat menembus rapatnya ilalang menuju sumber suara tembakan.Di saat yang bersamaan, Adit merangkul tubuh Ran yang kian melemah. Darah terus mengucur dari lengan Ran, menembus baju dan jemari Adit yang bergetar. Ran berusaha keras mempertahankan kesadarannya meski pandangannya mulai kabur dan kepalanya terasa sangat berat."Dit... jangan berhenti," bisik Ran lirih, napasnya patah-patah."Aku nggak bakal tinggalkan kamu, Ran. Tahan sebentar lagi," balas Adit dengan nada panik namun berusaha tetap tenang.Namun, dari balik kegelapan semak belantik, Ben muncul dengan wajah berdarah dan napas terengah-engah. Matanya menyalang penuh amarah. Langkahnya pincang, tetapi di tangannya kini tergenggam pisau lipat yang ia ambil dari saku celananya—sebuah upaya terakhir setelah pistolnya berhasil dilumpuhkan."Kalian piki

  • Surat Dari Venus   BAB 60 - Penebusan

    Terdengar ledakan dahsyat dari dalam hutan, membuat langkah Ran, Sunny dan Grace terhenti. "Ben meledakan gubuk agar tidak meninggalkan bukti," gumam Grace. Ran menatap tajam Grace, lalu berkata penuh dengan penekanan, "Kejam sekali kalian." Grace tidak berani mengangkat pandangannya pada Ran, karena merasa bersalah. Ia juga merasa malu setelah menjadi bagian dari kejahatan itu, yang akhirnya menjadikannya korban. Dari balik semak Adit dan Angga berlari kearah mereka dengan tergesa-gesa. "Guys kenapa kalian berhenti! Ayo lari!" teriak Adit dari kejauhan. Lalu, Ran, Sunny dan Grace melanjutkan langkahnya. Terdengar suara tembakan beberapa kali dari arah kejauhan, membuat mereka panik, sampai berlari tak tahu arah. Hanya mengandalkan insting untuk memilih jalan mana yang mudah dilewati, karena mereka terjebak dengan ilalang yang membutakan arah. "Tinggalkan saja aku disini! Kalian kabur saja," ujar Grace semakin merasa bersalah, karena menjadi beban. "Tutup mulutmu brengsek!" Be

  • Surat Dari Venus   BAB 59 - Menembak Langit

    "Sialan!!! Ulah siapa ini?" Gerutu Ben sembari membanting pecut yang ia pegang, penuh emosi karena lampu seketika padam di tengah kegiatan yang ia lakukan. Kemudian terdengar sirine alarm kebakaran yang membuat panik orang-orang dalam ruangan itu. Ben lantas bangkit dari tempat tidur dan meraih jubah mandi yang tergantung di dekat pintu dan memakainya. Ia keluar dari ruangan dengan langkah penuh amarah sembari meneriakkan nama anak buahnya. Empat orang pria yang merupakan teman-teman Ben, menyusul pria itu keluar ruangan. Meninggalkan Sunny dan Grace. Sunny memanfaatkan keadaan itu dengan bergegas melepas ikatan tangan dan kakinya. Dengan tubuh telanjang di tengah kegelapan, ia memungut pakaiannya yang berceran di lantai. Sedangkan Grace yang masih terkuai lemas di tempat tidur, hanya bisa menangis menahan perih di kulitnya, akibat pecut yang diayunkan oleh Ben sejak tadi. "Grace ayo kabur dari sini," tukas Sunny. "Aku tidak bisa menggerakkan kaki," ujar Grace. Sunny mengeluarka

  • Surat Dari Venus   BAB 58 - Hasrat Gila Pria Biadab (21+)

    WARNING!!! Isi Bab ini terdapat kekerasan seksual yang tidak cocok untuk anak dibawah umur. Mohon bijak memilih bacaan yang cocok dengan umur anda. ** "Kalian mengenal orang-orang itu?" tanya Ran. Adit dan Angga menggeleng bersamaan. "Melihat dari postur tubuh dan wajah kedua orang itu, sepertinya sudah berumur," kata Angga. "TOLONG!" Teriak seseorang yang membuat dua pria bertubuh kekar tadi masuk ke dalam gubuk. Sedangkan Ran, Angga dan Adit bergetar ketakutan mendengar suara pekikan yang begitu putus asa itu. "Apa sebenarnya yang mereka lakukan dalam gubuk itu?" tanya Adit. Tidak ada jawaban dari Ran dan Angga. Angga lantas menutup laptopnya, dan berjalan mendekat ke Adit. Kemudian ia membuka tas yang digendong oleh temannya itu, dan memasukan laptopnya. "Mumpung dua orang itu tidak ada, ini kesempatan kita mencari tahu," ujar Angga seraya menutup resleting tas kembali. "Benar ayo kita masuk," balas Ran. "Tunggu... apa kalian gak takut? Melihat dua orang tadi, sepertinya

  • Surat Dari Venus   BAB 50 - Sexy, Elegan

    Orang tua Kinan terlihat berjalan mondar-mandir di depan pintu ballroom hotel. Tamu undangan sudah memenuhi ballrom, sedangkan sampai saat ini belum ada perkembangan dari pencarian putrinya. Tidak mungkin mereka akan membubarkan tamu undangan begitu saja, tanpa alasan yang jelas. Namun lebih tida

  • Surat Dari Venus   BAB 3 - Rasa Yang Tak Asing

    Aksa berbelok ke koridor menuju tempat fasilitas sekolah berada. Seperti perpustakaan, lab komputer, lab sains, green house, dan UKS. Tempat populer yang selalu ramai dikunjungi kebanyakan murid disana. Selain dekat dengan kantin sekolah, area itu banyak ditumbuhi pepohonan rindang dan sebuah tam

  • Surat Dari Venus   BAB 2 - Terjebak Oleh Pesona

    Ran turun dari bus tepat di depan sekolah. Jantungnya berdegup kencang, ketika mendapati gerbang sekolah yang mulai ditutup oleh satpam. Namun, siswa yang bergerombol dan berdesakan masuk, mengakibatkan gerbang susah ditutup. Ran diam sejenak untuk mencari cara agar bisa menembus gerombol

  • Surat Dari Venus   BAB 1 - Pertemuan Dua Orang Kesepian

    **PROLOG** "Paket!!!" teriak seseorang dari luar rumah. Ran menatap Kinan dan Sunny bergantian karena bingung. "Samperin dulu, siapa tahu orang tanya alamat," ujar Kinan yang mengetahui isi otak Ran. Ran lantas bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar. D

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status