เข้าสู่ระบบ“Ran ayo turun bentar, aku mau cari sesuatu,” katanya sembari keluar dari mobil.
Ran keluar dari mobil itu sembari menggendong biola dan tas ranselnya. Kemudian, ia berjalan mengikuti Raka memasuki swalayan. Ia ingat tempat itu. Dulu ibunya pernah mengajaknya mengunjungi tempat itu, untuk membeli bahan – bahan makanan. Kala itu, ibunya mendapat banyak bonus dari pelanggan karena idul fitri. Lebaran yang dirayakan oleh umat islam setahun sekali, tiap usai puasa ramadhan. Ini kedua kalinya ia mengunjungi tempat itu.
Ran menyaksikan keramaian swalayan dengan kagum. Rata – rata pengunjung adalah sepasang pasutri yang memiliki seorang anak. Anak – anak dari para pasutri itu pun terlihat bahagia menghampiri tempat mainan dan snack. Dan, orang tua mereka tidak keberatan ketika anaknya meminta salah satu barang dari sana. Ia berhenti melihat pantulan diri sendiri di cermin, yang berada di bagian peralatan rumah tangga. Penampilan lusuh dan kotor, terlihat menyedihkan. Ia menundukan wajah murung.
Raka yang tidak menemukan Ran di sampingnya, lantas menengok ke arah belakang. Ia mendapati gadis itu berdiri dalam diam dan menatap jauh entah kemana. Kemudian ia berjalan menghampiri gadis itu, dan berjongkok di depannya.
“Ran, ada masalah?” tanya Raka dengan lembut.
Ran menggeleng dan berkata, “Bang, sepertinya aku buru – buru, ibu sendirian di rumah aku khawatir.”
“Okee, aku akan cepat, ikutlah denganku,” jawabnya.
Raka menggandeng tangan mungil Ran dan berjalan menuju bilik sembako. Disana, Raka meraih sebuah keranjang yang kemudian diisi dengan minyak goreng, beras, satu kilo telur, mie instan dan frozen food yang disukai anak – anak.
Ran yang berjalan di samping Raka, hanya memperhatikan dalam diam. Ia berharap agar cepat tumbuh besar, dan mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dengan umpah besar.
Mereka menuju ke tempat pakaian dan alat tulis anak – anak.
“Ran, pilihlah baju dan sepatu yang kamu suka. Ambil keperluan sekolah yang kamu mau juga,” kata Raka.
Rak terkejut mendengar pernyataan Raka barusan. Kedua bola matanya sampai membuat sempurna. “Aku tidak mengerti, Bang,” katanya.
“Tahun ini, setiap anak akan memiliki perlengkapan sekolah yang baru, kamu juga harus punya,” balas Raka.
“Aku tidak punya cukup uang untuk membelinya.”
“Abang akan memberimu. Dan yang kita belanjakan hari ini, untukmu dan ibumu,” jelas Raka.
“Maaf bang, aku tidak bisa menerimanya. Abang juga masih kuliah, lebih baik itu untuk kebutuhan abang. Aku juga tidak bisa membalasnya,” balas Ran panik saking terkejutnya.
Raka tertegun dengan kalimat gadis berusia sembilan tahun itu barusan. Bagaimana mungkin dalam kondisi seperti itu dan diumur yang masih belia bisa berpikir jauh untuk orang lain?
Raka berjongkok sembari meletakkan keranjang belanjanya di lantai. Kemudian, dia menyentuh pundak Ran dan berkata, “Ran kalo ada rezeki yang datang padamu, jangan ditolak. Karena itu adalah pemberian Tuhan, perantaranya lewat manusia. Abang lebih dari mampu untuk membiayai diri sendiri, dan masih bisa berbagi untuk orang lain. Harta yang banyak percuma Ran, jika dinikmati sendiri. Akan lebih berguna, jika orang lain bisa merasakannya juga, dan ikut bahagia karenanya. Suatu saat, jika kamu dewasa dan dilimpahkan rezeki yang banyak oleh Tuhan, jangan lupa berbagi dengan orang lain. Jika kamu menemukan anak sepertimu nanti, bantulah. Insyaallah Tuhan akan memberkati setiap jalanmu, melalui doa – doa mereka yang kamu bantu.”
Perlahan senyum Ran menghiasi wajah manisnya. Ia merasa tenang mendengarkan kalimat Raka. Rasanya seperti mendengar khotbah saat beribadah setiap minggu. Ia sampai mengira bahwa Raka adalah seorang malaikat berwujud manusia, yang Tuhan kirim karena doa – doanya.
Setelah menyelesaikan belanjaannya, Ran dan Raka kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan ke rumah Ran. Adzan maghrib sudah terdengar, tanda bahwa malam telah menggantikan sore. Suasana tak jauh beda, karena langit mendung sejak tadi. Hujan juga masih menguasai bumi dengan kelembabannya.
“Padahal kita baru bertemu, kenapa abang begitu baik padaku?” tanya Ran, ketika mobil Raka sudah berada di area rumahnya.
“Oh ya, tolong diingat! Kamu jangan sembarangan percaya sama orang, apalagi mau jika diajak pergi ke suatu tempat. Seperti sekarang, harusnya tadi kamu menolak ikut denganku, untungnya kamu tidak bertemu orang jahat Ran, sekalipun aku tidak bisa menyebut diri sendiri baik. Tapi kamu harus waspada, apalagi kamu seorang perempuan,” kata Raka.
Ran tertawa, “Ibu juga selalu berkata begitu.. aku ternyata bodoh. Tapi sepertinya Tuhan sangat melindungiku. Nyatanya aku tidak bertemu penjahat, melainkan seorang malaikat tak bersayap,” katanya.
Raka ikut tertawa mendengar pernyataan Ran barusan. Membolos kuliah tidak terlalu buruk, karena ia menemukan hal yang luar biasa sore itu.
“Bang, berhenti dekat pohon mangga itu saja, dari situ aku akan berjalan,” kata Ran.
“Kenapa tidak sampai rumah?” tanya Raka.
“Ayahku tidak suka ada tamu, jadi aku tidak ingin abang terkena semburan maut ayah yang lebih panas dari naga,” jawab Ran sembari terkekeh.
Raka tidak merespon tawa Ran barusan, karena tawa gadis itu terlihat sangat suram. Kemudian ia menghentikan mobil sedannya di dekat pohon mangga, sesuai permitaan gadis yang sekarang duduk di sampingnya.
“Ran, tunggu sebentar, jangan pergi dulu.”
Ran mengernyitkan dahi penuh tanda tanya.
Raka mengeluarkan secarik kertas dari dasbor mobilnya dan sebuah pena. Kemudian dia menuliskan sesuatu disana, dan memberikannya pada Ran.
“Jika kamu butuh bantuan, atau sedang dalam masalah hubungi nomor ini ya, carilah telepon umum terdekat.”
“Terimakasih Bang, aku akan simpan ini dengan baik.”
“Besok kamu ada waktu senggang?” tanya Raka.
“Tidak ada Bang, mungkin aku akan mengamen sepulang sekolah,” jawab Ran.
“Syukurlah, besok maukah kau ikut denganku ke toko buku? Aku ingin membeli beberapa buku, mungkin kamu juga ingin membeli sesuatu?”
Ran menggeleng dengan cepat, lalu berkata, “Tidak perlu bang, apa yang hari ini Abang berikan padaku sudah lebih dari cukup. Aku sungkan menerima sesuatu yang lebih lagi.”
Raka berdeham. “Ingat tentang yang aku sampaikan tadi? Jangan menolak rezeki,” katanya memaksa.
“Emm kalo begitu baiklah, aku akan menemani Abang.”
Raka tersenyum sembari mengusap kepala Ran dengan lembut. “Gitu baru anak pintar,” katanya.
Ran ikut tersenyum. Kemudian ia melangkahkan kakinya keluar dari mobil, sembari mmebawa tas belanjaan yang berisi pemberian Raka.
“Ran, sepertinya aku harus mengantarmu, kamu tidak bisa membawa ini semua sendirian,” katanya.
“Tidak! Aku bisa kok, aku pernah membawa karung goni yang berisi padi ketika membantu kakekku dulu di desa. Aku juga pernah mengangkat gas tabung, jadi jangan meremehkan. Kekuatanku juga setara dengan anak laki – laki,” ujar Ran dengan bangga.
Raka tersenyum, lalu melipatkan kedua tangan di depan dada seolah menantang Ran. “Mari Abang lihat, kamu bohong atau tidak.”
“Siapa takut.”
Ran menggantungkan biola di tas ranselnya. Kemudian ia menyatukan tas belanja sembako, lalu ia gendong di bahu kanannya. Kemudian, ia membawa tas yang berisi sepatu, ransel baru, alat tulis di bahu kirinya dekat dengan biola. Di kedua tangannya ia bawa plastik yang berisi pakaian barunya. Ia menopang semua barang itu di tubuh kurusnya. Sekalipun merasa tidak kuat, ia bukan tipe orang yang menyerah begitu saja.
“Li-lihat bang, a-aku bisa kan,” kata Ran sembari menahan berat.
“Tidak, aku akan membantumu,” ujar Raka khawatir.
“Aku pamit dulu bang, sampai bertemu besok ya, aku tunggu di pertigaan lampu lalu lintas,” balas Ran sembari berjalan dengan tergopoh – gopoh meninggalkan Raka.
Raka tersenyum menyaksikan kegigihan gadis kecil yang baru ditemuinya itu. Anak itu memang masih kecil, tapi rasanya aku seperti mengobrol dengan wanita dewasa.
***
Dua hari setelahnya, Ran diperbolehkan rawat jalan dengan beberapa persyaratan seperti melakukan kontrol secara rutin untuk mengganti perban. Bahkan keesokan harinya, ia langsung berangkat sekolah seperti biasa tak mengindahkan larangan neneknya yang khawatir.Di sekolah terjadi beberapa keributan. Koridor-koridor sekolah menjadi bising karena berita ekslusif yang terbit pagi itu. Di layar televisi kantin, di portal berita daring ponsel para siswa, hingga di halaman depan surat kabar nasional, berita mengenai skandal besar yang melibatkan jaringan kriminal berkedok kalangan elit meluas tanpa kendali.Kasus yang menyeret nama Sunny sebagai korban menjadi topik utama yang memenuhi hampir seluruh lini media. Rekaman video pengejaran dramatis di tengah malam yang bocor ke internet, foto-foto lokasi penyekapan di tepi hutan yang dipasangi garis polisi, rekaman CCTV lalu lintas, hingga siaran pers resmi dari Divisi Humas Polri terus diputar berulang kali.Nama Beneddict Antonio Surya bergem
Malam makin larut. Lampu kamar perawatan Ran menyala temaram. Ran terbaring pucat dengan infus terpasang di tangan kanan dan balutan perban tebal di lengan kirinya. Napasnya terdengar halus dan teratur.Adit duduk di kursi samping ranjang, menatap wajah pucat itu. "Ran..."Tak ada sahutan.Adit tersenyum tipis. "Dasar keras kepala." Tangannya terangkat ragu untuk menyentuh jemari Ran, namun akhirnya ia tarik kembali. Ia hanya menyandarkan punggungnya. "Aku takut banget tadi. Jadi, tolong jangan bikin aku se-ketakutan ini lagi."Kelopak mata Ran bergerak perlahan, meski Adit tak menyadarinya."...Dit," suara bisikan lirih memecah hening.Adit seketika menegakkan duduknya. "Ran? Kamu sadar?"Ran membuka mata perlahan. Pandangannya sempat kabur sebelum akhirnya fokus pada wajah Adit."Aku... di mana?""Rumah sakit. Kamu aman."Ran mencoba menggerakkan tubuhnya, namun rasa nyeri langsung menyengat. "Aduh...""Jangan gerak dulu!" Adit menahan bahunya lembut. "Kamu baru selesai operasi."Ra
Aksa langsung menginstruksikan tim polisi untuk mengamankan Angga, Sunny, dan Grace ke mobil medis di area parkir, sementara dirinya bersama beberapa personel bersenjata bergerak cepat menembus rapatnya ilalang menuju sumber suara tembakan.Di saat yang bersamaan, Adit merangkul tubuh Ran yang kian melemah. Darah terus mengucur dari lengan Ran, menembus baju dan jemari Adit yang bergetar. Ran berusaha keras mempertahankan kesadarannya meski pandangannya mulai kabur dan kepalanya terasa sangat berat."Dit... jangan berhenti," bisik Ran lirih, napasnya patah-patah."Aku nggak bakal tinggalkan kamu, Ran. Tahan sebentar lagi," balas Adit dengan nada panik namun berusaha tetap tenang.Namun, dari balik kegelapan semak belantik, Ben muncul dengan wajah berdarah dan napas terengah-engah. Matanya menyalang penuh amarah. Langkahnya pincang, tetapi di tangannya kini tergenggam pisau lipat yang ia ambil dari saku celananya—sebuah upaya terakhir setelah pistolnya berhasil dilumpuhkan."Kalian pik
Terdengar ledakan dahsyat dari dalam hutan, membuat langkah Ran, Sunny dan Grace terhenti. "Ben meledakan gubuk agar tidak meninggalkan bukti," gumam Grace. Ran menatap tajam Grace, lalu berkata penuh dengan penekanan, "Kejam sekali kalian." Grace tidak berani mengangkat pandangannya pada Ran, karena merasa bersalah. Ia juga merasa malu setelah menjadi bagian dari kejahatan itu, yang akhirnya menjadikannya korban. Dari balik semak Adit dan Angga berlari kearah mereka dengan tergesa-gesa. "Guys kenapa kalian berhenti! Ayo lari!" teriak Adit dari kejauhan. Lalu, Ran, Sunny dan Grace melanjutkan langkahnya. Terdengar suara tembakan beberapa kali dari arah kejauhan, membuat mereka panik, sampai berlari tak tahu arah. Hanya mengandalkan insting untuk memilih jalan mana yang mudah dilewati, karena mereka terjebak dengan ilalang yang membutakan arah. "Tinggalkan saja aku disini! Kalian kabur saja," ujar Grace semakin merasa bersalah, karena menjadi beban. "Tutup mulutmu brengsek!" Be
"Sialan!!! Ulah siapa ini?" Gerutu Ben sembari membanting pecut yang ia pegang, penuh emosi karena lampu seketika padam di tengah kegiatan yang ia lakukan. Kemudian terdengar sirine alarm kebakaran yang membuat panik orang-orang dalam ruangan itu. Ben lantas bangkit dari tempat tidur dan meraih jubah mandi yang tergantung di dekat pintu dan memakainya. Ia keluar dari ruangan dengan langkah penuh amarah sembari meneriakkan nama anak buahnya. Empat orang pria yang merupakan teman-teman Ben, menyusul pria itu keluar ruangan. Meninggalkan Sunny dan Grace. Sunny memanfaatkan keadaan itu dengan bergegas melepas ikatan tangan dan kakinya. Dengan tubuh telanjang di tengah kegelapan, ia memungut pakaiannya yang berceran di lantai. Sedangkan Grace yang masih terkuai lemas di tempat tidur, hanya bisa menangis menahan perih di kulitnya, akibat pecut yang diayunkan oleh Ben sejak tadi. "Grace ayo kabur dari sini," tukas Sunny. "Aku tidak bisa menggerakkan kaki," ujar Grace. Sunny mengeluarka
WARNING!!! Isi Bab ini terdapat kekerasan seksual yang tidak cocok untuk anak dibawah umur. Mohon bijak memilih bacaan yang cocok dengan umur anda. ** "Kalian mengenal orang-orang itu?" tanya Ran. Adit dan Angga menggeleng bersamaan. "Melihat dari postur tubuh dan wajah kedua orang itu, sepertinya sudah berumur," kata Angga. "TOLONG!" Teriak seseorang yang membuat dua pria bertubuh kekar tadi masuk ke dalam gubuk. Sedangkan Ran, Angga dan Adit bergetar ketakutan mendengar suara pekikan yang begitu putus asa itu. "Apa sebenarnya yang mereka lakukan dalam gubuk itu?" tanya Adit. Tidak ada jawaban dari Ran dan Angga. Angga lantas menutup laptopnya, dan berjalan mendekat ke Adit. Kemudian ia membuka tas yang digendong oleh temannya itu, dan memasukan laptopnya. "Mumpung dua orang itu tidak ada, ini kesempatan kita mencari tahu," ujar Angga seraya menutup resleting tas kembali. "Benar ayo kita masuk," balas Ran. "Tunggu... apa kalian gak takut? Melihat dua orang tadi, sepertinya
“Ibu!!!” teriak Ran di depan pintu rumah.Seketika, pintu yang tertutup itu terbuka, memunculkan sosok seorang wanita berumur tiga puluh tahun yang wajahnya terlihat letih.“Ini semua, apa Ran?” tanya wanita itu yang terkejut melihat tas belanjaan tergeletak
Matahari mulai kehilangan kegagahannya dibalik mendung. Hari yang seharusnya diakhiri dengan keindahan senja, menjadi gelap gulita. Senja yang biasa menghangatkatkan hati para manusia, setelah seharian bergulat dengan kesibukannya. Para manusia yang pada pukul itu selalu memenuhi trotoar atau jal
Ran berdiri di depan papan tulis untuk menerima pengumpulan tugas dari teman – temannya, seperti pesan si pemberi tugas, yaitu Pak Aksa. Beruntung kelasnya bisa diajak kerjasama dan rata – rata semua sudah menyelesaikan tugas itu tepat waktu. Jadi ia tidak harus keliling kelas menagih
BRAK!“Lemah! Bangun gak lu!” bentak Grace, setelah mendorong sesorang gadis yang kini badannya basah kuyup karena terjerembab ke dalam genangan air.Grace adalah seorang siswi kelas sebelas. Dilihat dari seragamnya, Grace satu sekolah dengan Ran. Ia memiliki rambut panjang yang digelun







