Mag-log inSE 47 – I Need You; You Need MeFlight from Aberdeenshire to London, Cavendish Private Jet, August, 2019Perjalanan dari Aberdeenshire menuju London hanya memakan waktu kurang lebih satu jam. Carina terjaga sepanjang perjalanan, dia terus-terusan melongok ke jendela pesawat untuk memastikan keadaan baik-baik saja. Sementara Alfred tidur nyenyak di kursinya.Hanya ada satu pramugara yang melayani, dia menanyakan apakah Carina ingin makan atau minum, yang langsung ditolak oleh gadis itu. Dia masih trauma tidak mau makan makanan dari anak buah Cavendish. Pramugari itu mengangguk dan meninggalkan Carina.Di dalam cabin ada Carina, Alfred, dan dua orang bodyguard yang diperintahkan Frank untuk mengawal mereka. Dua bodyguard itu duduk tegak dengan sikap siap siaga, mereka hanya sesekali minum air dan bicara dengan suara berbisik.Carina tahu kalau dia masih belum sepenuhnya bebas. Bayang-bayang Frank masih mengikutinya. Dia berpikir keras bagaimana caranya untuk lolos dari keadaan ini. Dia
SE 46 – Family Always Comes FirstJakarta, August, 2019. “IBUUUUU...! AYAAAHHH...!”Jeritan Delia merobek subuh yang damai itu. Ibu yang baru selesai solat bergegas ke luar kamarnya menghampiri asal suara, tidak sempat untuk melepas mukena. “Ada apa, Dek?!” tanya Ibu ikutan heboh.Ayah yang baru saja keluar dari kamar mandi, mengikuti Ibu heran. “Ada apa?”Mereka melihat anak bungsunya terduduk di atas kasur sambil memegangi ponselnya.“Ada apa, Dek?” tanya Ibu, duduk di sebelah Delia. “Ada kabar dari Kakak?”Delia tak menjawab pertanyaan ibunya, dia malah memandang wajah Ayah dengan tatapan horor. Ayah yang berdiri di depan pintu mengerutkan keningnya membalas tatapan Delia. “Kamu kenapa?”“Kakak udah balas emailnya,” suara Delia serak.“Alhamdulillah...” nada lega terdengar dari Ibu. “Makasih, Ya Allah...!”Tapi Ayah gak langsung lega begitu saja, dia perlu tahu kabar lanjutannya. Ayah mendekat ke kasur Delia. “Terus apa katanya?”Delia menyerahkan ponselnya, membiarkan Ayah dan Ib
SE 45 – Flight to FreedomCavendish Estate, August, 2019 Sepeninggal Mary, Frank masuk ke dalam ruangan. Dia melihat Alfred yang terlihat tersiksa, dia segera menarik keponakannya itu, membawanya ke kamar mandi yang tidak jauh dari lorong. Alfred memuntahkan seluruh isi perutnya ke toilet. Sementara Frank menungguinya di dekat wastafel. Selama beberapa menit, Alfred akhirnya bisa menguasai diri. Dia menyiram toilet dan berjalan menuju wastafel untuk mencuci mulutnya.“Aneh,” ujar Frank.Alfred tidak menanggapi, dia hanya melirik pamannya dari pantulan kaca.“Kamu sempat berada dalam ruangan itu bersama Carina,” kata Frank lagi, dia mengelus-elus dagunya, “tak sekalipun kamu muntah-muntah. Tapi begitu Mary datang....”Alfred menarik napasnya. Dia mengeluarkan botol obat dari kantong celana, meminum sebutir obat penenang.“Al, ini luar biasa.” Frank menepuk punggung Alfred, “akhirnya ada kesempatan untukmu sembuh. Jangan buang waktu, ayo kabari ibumu, kita harus segera menghubungi dokt
SE 44 – Can I Call Somebody?Cavendish Estate, Function Room, August, 2019. Pesta masih berlangsung walau terlupakan oleh si empunya rumah. Edward sudah benar-benar mabuk. Dia duduk di kursi VIP dan dikelilingi gadis-gadis cantik. Mary yang hendak pergi dari mansion itu melihat Edward, dan langsung putar haluan.“M’lord,” sapanya pada Edward dengan panggilan resmi.Edward, putra bungsu dari Duke of Gloucester, tidak pernah dipanggil dengan seresmi itu. Maklum dia berada di urutan terakhir sebagai pewaris nama Lord. Jadi saat Mary memanggilnya dengan nama itu, dia langsung menoleh kaget. “Kamu memanggilku?” tanyanya.Mary tersenyum dan menyuruh gadis yang duduk di samping kanan Edward untuk menyingkir. Semua sudah tahu kedudukan Mary di mansion ini, jadi gadis itu pergi setengah ketakutan. Lebih baik menyingkir jauh-jauh dari Mary, dia terkenal sadis kalau lagi marah. “Tentu saja, siapa lagi di sini yang mempunyai titel itu?” tanyanya dengan suara semanis madu.Edward terkekeh “Ya, ya
SE 43 – The AntidoteCavendish Estate, August, 2019 Frank menarik lengan Alfred dan membawa ponakannya itu ke pojok ruangan, dia berbisik “Kamu tidak kumat saat bersamanya, ponakan.”“Maksud Paman apa?”“Jangan main-main, kamu sudah sembuh atau bagaimana?” desak Frank lagi “Kamu tidak muntah atau pingsan, padahal jelas-jelas dia perempuan.”“Aku tidak tahu,” jawab Alfred.Mereka saling berpandangan. Akhirnya titik cerah itu datang juga, Alfred tidak kumat saat berhadapan dengan perempuan!“Aku harus menghubungi ibumu,” kata Frank. Dia tidak tahan menyimpan berita baik ini, Lady Wellington akhirnya bisa menikahkan anak kesayangannya. Mereka tidak jadi bangkrut. Mereka akan bisa mengakses akun sialan di Cayman Island itu.Alfred langsung mencegahnya “Jangan, Paman.” tatapannya yang serius itu menghentikan niat Frank “Lebih baik kita kembali ke urusan yang lebih penting ini,” dia melirik gadis malang yang masih duduk meringkuk di lantai itu “Tolong berikan selimut padanya.”Frank mengan
SE 42 – Don’t Push Your Luck, Uncle!Cavendish Estate, August. 2019Mary bergegas menyusul dua sekuriti yang membawa Carina pergi. Mereka membawa gadis itu masuk ke dalam salah satu ruangan yang berjejer di lorong. Carina didorong dengan kasar hingga terjatuh ke lantai, Mary mendekatinya dan berseru, “Berani-beraninya kamu mendekati Duke!”Carina langsung mengkeret di lantai, wajah Mary sangat menakutkan. Selain marah, Mary juga sedang mabuk “Mary...”“Kamu itu sudah jadi budakku, bangsat!” seru Mary, ludahnya menyembur ke arah wajah Carina “Jangan berani-berani kabur dari sini atau kamu mati!”Carina gemetar ketakutan, dia tidak berani menatap Mary yang sedang dalam pengaruh alkohol. Dia berdoa dalam hati semoga tindakannya tadi tidak membawanya ke dalam bahaya. Dia hanya ingin pulang, dia kangen Ibu. Air matanya makin deras mengalir.“Jangan cengeng! Kamu merusak make-upnya!” seru Mary, “bagaimana orang melihat kecantikanmu kalau wajahmu berantakan begini, hm?” tangan Mary kembali m







