ログインSE - 86Jakarta, Sept. 2019 Carina pulang ke rumah dalam keadaan lelah. Dia langsung masuk ke dalam kamar tanpa makan malam, Ibu menyusul ke kamarnya “Kak, kamu mau makan apa? Ibu bikinin Indomie, ya?”Biasanya Carina kalau lagi nggak selera makan nasi, dia akan beralih ke mie instan. Praktis, cepat dan enak. Carina menggeleng “Nggak deh, Bu. Aku capek banget, mau tidur aja.”Ibu memandang Carina khawatir “Kak, lebih baik ambil cuti lagi, deh. Kamu masih belum cukup istirahatnya. Nggak usah kerja dulu.”Carina yang sedang mengganti bajunya menoleh pada Ibu “Tapi aku udah gak bisa ambil cuti lagi, bu. Mendingan mengundurkan diri aja sekalian.”“Kamu mau?” tanya Ibu “kalau kamu mau mengundurkan diri, sok aja. Ibu nggak larang, kok.” diam-diam Ibu tahu soal kesulitan yang dihadapi Carina di kantornya.Carina mendesah “Aku udah cinta sama pekerjaan ini, Bu. Yang aku nggak suka itu cuma boss-ku. Bukan pekerjaannya.”Ibu duduk di pinggir kasur Carina, memandang koper-koper yang masih teron
SE - 85London, Sept. 2019Saingan terberat Arya sudah seminggu kembali ke rumahnya. Pers masih saja buka tenda di depan mansion keluarga Wellington, menunggu Alfred keluar dari rumah, entah untuk memotretnya atau meneriakkan pertanyaan yang kadang tidak masuk akal. Alfred tidak bisa pergi dengan leluasa. Dia memilih membawa pekerjaannya ke rumah, permintaan wawancara diabaikan dan sebagai gantinya, tim pengacara bolak-balik memberikan keterangan.Khalid terpaksa harus tinggal di London untuk sementara waktu, dia harus membantu Alfred menyelesaikan permasalahan dalam perusahaan mereka. Tanggal sidang sudah ditentukan dan semakin dekat dengan harinya, tensi semakin tinggi. Kubu terpecah di kalangan elit. Ada yang mendukung Alfred, ada juga yang mendukung Frank. Berita-berita di Inggris penuh dengan skandal mereka. Semakin hari ada saja berita baru yang berhasil dikorek oleh wartawan.“These are rubbish!” seru Alfred sambil melempar tumpukan koran yang dipegangnya. Headline mereka rata-
SE - 84Jakarta, Sept. 2019 Setelah menunggu berbelas jam, akhirnya mobil yang mengantar Carina pulang berhenti di depan pagar rumahnya. Sudah hampir tengah malam, tapi lampu di rumah masih menyala. Arya membantu Carina turun dari mobil dan membuka pagar. Pintu rumah terbuka, muncul wajah Ayah yang khawatir. Arya berjalan mendekat pada Ayah dan mencium tangannya “Assalamualaikum, Yah.” sapanya, dia sudah terbiasa memanggil orang tua Carina dengan sapaan Ayah dan Ibu.“Waalaikum salaam. Sehat kamu, Ar?” tanya Ayah sambil lalu, matanya nanar menatap anak gadisnya yang berjalan dibelakang Arya “Kakak...”Carina tak kuasa menahan air matanya, dia menghambur pada Ayah, memeluk erat laki-laki yang tak ada bandingannya itu. Dia menangis keras sekali di dadanya. Ayah balas memeluk erat Carina, buah hatinya, biji matanya, kesayangannya akhirnya bisa kembali pulang kembali ke pelukannya. Penantiannya selama beberapa minggu ini usai sudah.Arya mundur memberikan privacy pada momen Ayah dan anak
SE - 83Amman, Jordan, Sept. 2019 Carina berjalan menuju mobil yang sudah menunggu di depan pintu mansion, Khalid datang menghampirinya “Carina, karena kau kehilangan semua barang-barangmu, maka kami menggantinya, ini koper-koper berisi baju dan perlengkapan wanita, tidak banyak. Tapi semoga bisa menggantikan barang-barang yang hilang.”Carina membelalak melihat bagasi mobil yang penuh dengan tiga koper berbagai ukuran dengan corak khas LV “Khalid...”“and this is your handbag full of essentials for the flight. And phone.” Khalid menyuruh seorang pelayan yang sejak kemarin melayani Carina datang membawa sebuah tas tangan Louis Vuitton. Gadis itu tersenyum sambil menyerahkan tas itu pada Carina“Khalid, you don’t have to do this...” Carina jadi tidak enak.“Terimalah, setidaknya hanya ini yang bisa kami berikan padamu,” ujar Lady Wellington sambil tersenyum padanya “kompensasi ini tidak seberapa dibanding penderitaan yang sudah kau lalui, sayang...”Carina mengusap matanya karena terh
SE 82 – Friends do not share kisses like we didAmman, Jordan. Sept. 2019 Dasar orang gila. Gak punya otak. Nyebelin. Gerutu Carina sambil berjalan berderap menuju kamarnya. Di belakangnya Alfred mengekorinya “Carina!” panggilnya.Carina tidak mengacuhkan panggilan bangsawan geblek itu. Dia membuka pintu kamarnya dan hendak menutupnya saat Alfred dengan cepat menyelinap masuk ke dalam kamarnya. Carina meledak, “Gak boleh masuk ke kamar perempuan sembarangan! Out!” usirnya.Bukannya minggat, Alfred malah tersenyum padanya, membuat Carina makin murka.“What do you want, Al?” tanyanya geram.Alfred memandang Carina dengan intens dan menjawab tanpa malu-malu “YOU.”Kata-kata menguap dari otak Carina. Dia terdiam tak bersuara. Jawaban satu kata dari Alfred membuat jantungnya berdegup lebih kencang daripada biasanya. Bulu kuduknya meremang, dia tidak pernah menerima pernyataan cinta terang-terangan seperti ini. Ada sisi baru yang Alfred tunjukkan padanya.Alfred mendekat “I want you, Carin
SE 81 – Friends for LifeAmman, Jordan. Sept. 2019Alfred berjalan menuju Carina dengan langkah-langkah lebar, tapi terlambat, saat dia mendekat, Carina dan Arya melepaskan pelukan mereka kemudian masuk ke dalam ruangan. Pintu ditutup tepat di depan wajah Alfred. Dia termangu di depan pintu, seakan ditampar tepat di wajahnya. Darah mendidih, kepalanya berkunang-kunang karena marah, kesal dan cemburu. Perpaduan yang mematikan. Merasa kalah, Alfred memutar langkah dan pergi dari sana.He will deal with her, later. Sementara itu di dalam ruangan, Carina tidak bersama Arya saja. Di sana ada Amir dan Pak Andy. Mereka semua senang karena Carina berhasil selamat. Arya mengusap wajahnya dari airmata. Dia lega karena bisa bertemu dengan Carina dalam keadaan hidup.“Apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Arya setelah mereka duduk, Amir sudah siap dengan kameranya. Mereka akan merekam pernyataan Carina siang ini.Carina menarik napas dan mulai berbicara. Dia menceritakan tentang perjalanannya di I







