INICIAR SESIÓNCarina melenggang riang menuju studio tempat dia biasa siaran. Orang-orang sudah berlalu-lalang dengan kesibukan masing-masing, tapi Carina memilih untuk tidak terburu-buru. Nasi uduk yang baru dimakannya beberapa menit yang lalu belum sepenuhnya tercerna. Dia tidak mau sakit perut gara-gara stres.
Panji, asistennya yang gendut datang tergopoh-gopoh “Pagi, Bu!” sapanya.
“Kamu baru nyampe?” tanya Carina.
Panji mengangguk, “Iya, Bu. Macet.”
“Macet apa ketiduran?”
“Dua-duanya. Karena macet saya jadi ketiduran di bus, kelewatan deh, haltenya. Kepaksa saya harus lari ke sini,” keluh Panji sambil mengelap keringatnya di kening.
Carina yang tadinya mau ngambek jadi kasihan. Dia menahan geli dan mengajak Panji untuk masuk ke dalam studionya yang dingin, “Kamu udah siapin story board-nya, kan?”
“Siap, Bu.”
“Ya udah, tolong prepare untuk episode minggu ini. Jangan lupa cek e-mail, confirmation letter dari Mbak Dyah udah diterima belum. Saya mau meeting nanti jam 9 sama Pak Marco.”
“Baik, Bu.”
“Minum dulu gih, sana.”
“Ya, Bu.”
Ponsel Carina berbunyi, ada pesan W******p masuk dari Indi, sahabatnya.
Indi : Lunch, today?
Carina : Yaelah, baru juga masuk kantor, Beb
Indi : Confirm aja keles, takutnya meeting sama Marco molor sampe jam 1
Carina : Idih, ogah deh gue. Confirm. Pasti lunch sama lo
Indi : Awas lo, gue acak-acak meeting lo kalo molor.
Carina : be my guest, honey.
Indi : okay...
Pesan lainnya masuk ke dalam Grup chat
Marco : Meeting this morning, confirm. 9 o’clock sharp.
Kathy : Yes, boss
Richo : Siap, 86
Shelly : ready
Ferdy : otw
Mukhlas: Insya Allah
Carina : coming...
Pesan lainnya
Arya : Beb, hari ini pesawat aku landing jam 10 pagi. Aku langsung pulang, ya.
Carina : ya, have a safe flight.
Arya : Capek banget.
Carina : Istirahat deh, besok kita ketemu, ya!
Arya : Okay, miss you
Carina menutup aplikasi pesannya dan mengantongi ponsel. Dia bersiap-siap untuk menyiapkan materi meeting hari ini. Carina sudah bekerja selama hampir lima tahun di stasiun teve ini, sekarang posisinya sebagai pembawa acara program khusus anak-anak. Karena perawakannya kecil, kadang Carina sering dikira salah satu peserta programnya. Tapi karena sudah biasa menerima perlakuan salah kaprah itu, Carina cuek aja. Dia bangga dengan profesinya dan dia suka anak-anak. Dia juga punya tim yang andal, selain Panji, asistennya, ada juga Mateo dan Aji sebagai kameramen dan penulis skrip. Kadang Indi, sahabatnya yang bekerja sebagai reporter program gosip suka membantunya.
Hari ini ada jadwal meeting dengan bos mereka, Marco. Carina biasanya malas untuk naik ke lantai 18 untuk meeting di ruangan meeting khusus bersama bos, karena pasti ada Sara, salah satu anchor program gosip yang lagi naik daun gara-gara pacaran sama anak konglomerat salah satu pemilik saham stasiun teve yang kebetulan, tak lain dan tak bukan, teman kuliah Carina.
Carina sedang berjalan sambil membawa laptopnya menyusuri lorong di lantai 18 menuju ruang meeting saat terdengar ketukan heels di belakangnya. Perasaannya udah gak enak, Carina memilih untuk tidak menengok ke belakang. Dia malas berurusan dengan...
“Haaii.. Cariiinn...!” suara yang melengking tinggi membuat Carina meringis. Siapa lagi kalau bukan Sara. Ketukan heels terdengar mendekat disusul dengan tepukan di pundak Carina.
“Hey, Sar...” sapa Carina setengah hati. Dia menempelkan sepotong senyum di wajahnya.
Sara tersenyum lebar dan menyibakkan rambutnya yang berwarna platinum blonde, “Apa kabar? Weekend kemana aja?” tanyanya.
Carina mengangkat bahu, “Yah, di rumah aja. Tidur. Nonton.”
Sara mengeryitkan hidungnya seolah jijik, “Di rumah aja? Gak bosen lo?”
“Emang lo kemana?” tanya Carina, kalimat tanya yang dinanti-nanti oleh Sara.
Dia langsung semangat menjawab, “Weekend ini baby ngajakin gue ke Maldives, lumayan, lihat nih, kulit gue udah nge-tan, kan?” tanyanya sambil menyingkapkan lengan bajunya dan menampakkan kulitnya yang terbakar sinar matahari.
“Gak perih, Sar?” tanya Carina polos. “Kayanya mau ngelupas, tuh.”
Sara melotot, “Ih, lo tuh gak tahu, ya. Kulit kaya gini lagi hip tahu.”
Carina menggeleng, “Gue sih lebih seneng tidur seharian di rumah, masak atau nonton.”
“Drakor?” cibir Sara.
Carina nyengir, semua orang di kantornya tahu kalau dia pecinta drama Korea sejati. Kalau ada yang minta rekomendasi drama Korea yang bagus, mereka pasti nanya ke Carina “Yeo Jin Goo main sama IU mana bisa gue lewatin gitu aja?”
Sara mengibaskan tangannya gak sabaran, “Bodo deh, mau si Jigo atau Goceng kek yang maen, gue sih ogah nonton plastik. Eh, lo mau meeting sama Marco, ya?”
Carina mengangguk, “Kenapa?”
Sara tersenyum, “Siapa aja yang ikut meeting?”
“Biasa aja.”
“Ada Shelly?”
Carina mengangguk lagi dengan wajah kebingungan, “Emang ada apa sih?”
Sara mengedipkan matanya, “Nanti juga lo tahu, ya udah ya, gue ke ruangan dulu, see youuu...”
Carina mengernyitkan dahinya heran dengan percakapan mereka yang gak penting itu. Setelah pulih dengan kebingungannya, Carina melanjutkan perjalanannya menuju ruangan meeting. Sesampainya di sana sudah ada Mukhlas dan Ferdy yang heboh dengan ponsel masing-masing. Mereka tidak menyadari Carina masuk.
“Bro, itu di belakang lo, goblok!” seru Ferdy ke arah layarnya.
“Sabar, Fer... aku tahu dia ada di sana...” jawab Mukhlas tenang, matanya juga menatap layarnya.
“Ya udah sih, matiin aja!” seru Ferdy berapi-api. “Cepet! Cepet!”
“Tunggu, tunggu...”
“Yaelah, lama amat!”
“Mana orangnya?”
“Belakang kanan lo! Tuh, deket tiang, noh!”
“Oh, ya... ya..”
“Arrghhhh...!”
“Yah, aku mati.”
Carina duduk dengan tenang dan menonton Ferdy memaki-maki Mukhlas, mereka kalah main PUBG lagi. Pemandangan yang tidak aneh, Ferdy dan Mukhlas sering kedapatan asyik main game online daripada kerja, mereka sudah pernah dapat teguran tapi kayanya gak berpengaruh tuh.
Pintu terbuka dan masuk lah Shelly, pembawa acara program remaja yang bisa dibilang pernah jadi saingannya. Shelly pernah ketahuan ngedeketin pacar Carina, Arya, yang seorang pembawa acara program travel. Untung ada Indi yang membantunya untuk ‘membereskan’ urusan dengan Shelly. Kalau nggak, Carina udah ngacak-ngacak studio.
Shelly tersenyum pada Carina, “Hai, Carin,” sapanya dengan senyum palsu.
Carina hanya mengangguk tanpa membalas sapaannya. Pertengkaran Ferdy-Mukhlas berhenti saat itu juga. Mereka duduk di tempat masing-masing. Tak lama satu per satu peserta meeting datang, disusul dengan Pak Marco yang datang dengan suara menggelegar, “Good morning, everybody!”
Selama sisa siang itu waktu Carina habis untuk meeting bersama dengan bos dan koleganya.
*
Monday, 11.45 WIB
Berkali-kali Carina melirik layar ponselnya yang berada dalam posisi stand-by, mute. Lima belas menit lagi menuju waktu makan siang tapi si bos gak kelihatan ada tanda-tanda untuk menyudahi meeting mereka. Marco asyik aja nyerocos tentang entahlah apa. Hanya Shelly yang kelihatan antusias, sisanya sudah kelihatan lelah dan lapar. Terutama Ferdy yang berkali-kali menguap dengan terang-terangan.
“Okay, jadi Carina..” ujar Marco.
Carina langsung duduk tegak, “Ya?”
“Karena kita lagi kekurangan studio. Jadi saya minta kamu bisa meminjamkan studio kamu pada Shelly untuk sementara ini,” kata Marco.
Carina langsung protes, “Tapi pak, udah gak ada space di studio...”
“Kamu bisa bongkar kursi penonton dan jadiin space untuk backdrop Shelly. Gak banyak space, kan, Shel? Kamu gak perlu equipment macem-macem.”
Shelly mengangguk dengan tampang innocent, “Iya, Pak. Cuma perlu sedikit aja. Kamera bisa pakai yang dipakai Carina tinggal tambahan lighting aja. Tapi aku punya sendiri, kok.”
Rasanya Carina ingin mencabik-cabik Shelly saat itu juga, tapi dia tahan. Ferdy yang tadinya ngantuk mendadak jadi melek melihat perubahan tatapan mata Carina pada Shelly.
Marco mengangguk-angguk, nggak sadar kalau sebentar lagi perang bakal pecah, “Okay, it’s settle then.”
Ferdy udah siap-siap mau berdiri.
“Ada lagi?” tanya Marco.
Shelly mengacungkan tangannya, terdengar hembusan napas dari Ferdy.
“Ya, Shell?”
“Aku perlu tambah budget untuk backdrop, Pak. Kemarin udah kirim design terbaru karena kita mau pindah ke studio Carin, jadi kayanya bakal over-budget, nih,” ujar Shelly santai, gak sadar sama tatapan Carina yang melotot kaget.
Marco mengangguk-angguk, “Ya, pasti ada penambahan biaya, ya?”
Carina mengepalkan tangannya, “Pak, kalau Shelly bisa tambah budget, kenapa saya gak bisa?”
“Program kamu gampang banget, Rin. Gak perlulah nambah budget lagi. Lagian acara anak-anak gak perlu macem-macem,” bukan Marco yang jawab, tapi Shelly.
Yang lainnya terperangah mendengar kalimat Shelly. Kathy memegang lengan Carina, menahannya agar tidak bicara macam-macam. Carina menoleh pada Kathy, gadis pendiam itu menggeleng memberinya kode untuk sabar.
Ketukan di pintu mengagetkan mereka semua, kepala Sara muncul dengan wajah ceria “Hai, bos!” sapanya pada Marco.
“Hai, Sara!” seru Marco dengan kebahagiaan berlebihan “How are you, love?”
“Can I come in?” tanya Sara sambil menyelinap masuk.
“Come, come. Kebetulan kita juga udah mau beres,” ajak Marco bersemangat
Sara masuk dan langsung menyodorkan paper bag pada Marco, “A little gift for you, kebetulan weekend kemarin aku sama Wisnu jalan-jalan.”
“Oh, thank you,” Marco menerima paper bag yang bertuliskan TAG Heuer.
Sara tersenyum lebar dan mengibaskan rambutnya. Mengacuhkan tatapan iri sekaligus sebal yang diarahkan padanya dari orang-orang yang berada di ruangan itu. Carina gak tahu siapa yang paling nyebelin di antara Sara dan Shelly. Dua-duanya bikin darah tingginya naik.
Saat Marco sibuk mengeluarkan kotak jam tangan mahal dari Sara, Carina buru-buru membereskan laptopnya dan menyelinap keluar. Lagipula tidak ada lagi yang perlu mereka bicarakan. Protes Carina bakal terpental, seperti bola tennis menabrak tembok. Gak berguna sama sekali.
Carina mengeluarkan ponselnya dan menelepon Indi “Ndi, gue lagi kepengen makan yang pedes-pedes, nih!”
*
Makan siang kali ini, Indi mengajak Carin untuk makan ayam geprek dengan sambel yang bisa bikin bibir dower. Mereka makan dengan lahap, terutama Carina yang makan kayak orang belum nemu nasi dua bulan.
“Jadi si kutu kupret itu mau pake studio lo?” tanya Indi setelah menyeruput segelas es teh manis.
Carina mengangguk, “Gue gak ngerti deh, dia selalu bisa masukin logika dia ke Marco. Lagian si Marco ini jadi bos kok rada-rada, ya? Coba lo bayangin aja, studio gue udah kecil, harus sharing sama dia lagi!”
“Lo udah kasih tahu tim lo?”
Carina menggeleng, “Belum, gue kan langsung ke sini begitu beres. Untung aja Sara dateng sama jam tangannya. Kalau nggak, tahu deh sampe jam berapa gue terjebak di meeting laknat itu.”
Indi menghembuskan napasnya, “Gue rasa kalau lo mau ambil hatinya Marco, lo kudu sering-sering ngasih dia sesuatu, Say.”
Carina mengerutkan hidungnya, sebal dengan ide itu, “Ngapain?”
“Ya, lo liat aja Sara, dia ngasih jam tangan mahal. Karirnya lancar jaya, kan? Juga si Shelly itu, gue denger sih dia sering ngirim makanan dan booking-in hotel buat Marco.”
“Hotel?!”
Indi mengangguk
“Hotelnya doang apa sama ‘isi’nya?” tanya Carina.
Indi tertawa, “Tahu deh, bisa jadi sih... hahaha...”
“Gila, deh, kagak ah. Males banget gue kalau harus ngeluarin duit buat dia. Kalau mau gue kasih aja voucher, nih. Gue punya banyak voucher.”
Indi memutar bola matanya, “Tahu deh, Miss Voucher...”
“Eh, ngomong-ngomong soal voucher, resto ini pake OVO gak? Bisa cashback tuh!” Carina celingukan mencari tanda-tanda banner OVO bertuliskan cashback.
Indi menghembuskan napasnya. Bagi Carina tiada hari tanpa voucher, cashback dan kupon diskon “Eh, Say,” ujar Indi. “Inget lho, irit sama pelit bedanya tipis.”
Carina hanya mencebik “Yang penting cashback. Tuh, ada cashback-nya. Yuk, bayar dulu.”
*
To be continued~
SE 09 – The PlanJakarta. Juli, 2019.Sara berdiri di lorong, kaget dengan peristiwa yang baru saja dia curi dengar. Suara Carina terdengar sampai luar. Dia nggak menyangka Carina punya cukup nyali untuk protes keras pada Marco. Sara mencegat Carina yang hendak berjalan melewatinya.“Say, tunggu,” tahan Sara, “lo gak apa-apa?” tanyanya prihatin.Carina mengusap wajahnya, dia berusaha keras menahan air matanya, “Ya,” suaranya tercekat di tenggorokan.Sara menariknya untuk masuk ke dalam kubikelnya, “Sini, minum dulu.”Carina menurut, dia membiarkan dirinya dibimbing oleh Sara untuk duduk di kursi sementara Sara mengeluarkan sebotol Evian dari kulkas mininya. Dia menyodorkan botol air mineral premium itu pada Carina, “Sorry gue tadi denger suara lo,”Carina meneguk airnya dan mengangguk, “Ya, gue tadi gak kontrol suara gue.”Sara mengangguk, “Tapi kadang Marco memang harus diingetin. Dia terlalu menganak-emaskan Shelly. Lo tahu kan kalau Shelly ngabisin banyak uang untuk Marco?”Carina
SE 08 – Phobia of WomenLondon. Juli, 2019 Sepeninggal Pamannya, Alfred pergi ke kamarnya dan mengurung diri di sana sampai waktu makan malam tiba. Veronica Wellington, yang akrab disapa Vera, adik bungsunya mengetuk pintu dan menyuruh Alfred keluar untuk makan malam.“Hai,” sapa Alfred, dia membuka pintu sedikit, “can you tell Mummy I skip dinner tonight?”Vera memandangnya sambil bersedekap.“Please?” tanya Alfred dengan wajah memelas.Vera mendesah, “What is it this time?” tanyanya setengah menggerutu.Alfred hanya tersenyum lemah, “Thank you, Sis. See you tomorrow.”Vera memutar bola matanya dengan jengkel dan melangkah pergi meninggalkan kamar Alfred, “Aku gak tanggung jawab kalau Mummy datang menjemputmu, ya!” serunya sambil melambai.Alfred menyeringai dan menutup pintu kamarnya, tidak lupa menguncinya agar ibunya tidak bisa sembarangan masuk. Dia duduk di meja kerjanya yang menghadap jendela dan balkon kamar, termenung sejenak dan membuka sebuah jurnal bersampul kulit milikny
SE 07 – ON AIRJakarta. Juli, 2019. Carina tidak mempercayai pendengarannya. Arya baru saja memberikan syarat paling konyol yang pernah dia dengar. Apa dia bilang? Mereka bisa jalan lagi kalau dia lepas dari ketergantungannya dengan voucher. Ketergantungan? Memangnya dia apa? Pemakai narkoba sampai ketergantungan begitu?Carina menatap Arya, dalam sekejap, laki-laki tampan itu berubah menjadi menyebalkan. Tangannya gatal ingin menghapuskan senyum sombong itu dari wajahnya. Dia mengepalkan tangannya menahan marah.“Carin,” Arya menghela napas lelah, “kamu sadar gak sih, dari awal kita pacaran kamu selalu bicara tentang voucher, diskon, cashback. Setiap kita jalan keluar dan makan, harus pakai kupon potongan harga dan kamu pasti cari restoran yang suka ngasih cashback. Bahkan sekarang, kamu pakai voucher yang hampir habis masa kadaluarsanya. Kamu itu luar biasa, ya. Mending kamu hidup sama voucher dan diskonanmu itu aja. Jadi orang kok pelit banget!”Carina tidak menjawab, dia berdiri,
SE 06 – Duke of WellingtonLondon. Juli, 2019. Duke of Wellington sedang mencoba jam tangan barunya, dia memutar-mutar pergelangan tangannya, memeriksa tampilan jam tangannya yang mewah dan bertabur berlian. Dia mengangguk-angguk, mengagumi karya terbaik dari produsen jam tangan terkenal asal Swiss itu.“This is okay, I’ll take it,” ujarnya dengan logat British yang kental.Pramuniaga laki-laki itu mengangguk dengan takzim, dia membantu melepas jam tangan dari pergelangan tangan sang Duke yang masih muda itu.“Mungkin Anda ingin melihat-lihat arloji yang lain untuk dihadiahkan pada Lady Wellington, Sir?” tawar si manajer toko. Dia berpakaian khas butler lengkap dengan sarung tangan putihnya.“Hmm... ada yang baru?” Duke yang punya nama asli James Alfred Wellington bertanya.Si manajer toko menjetikkan jarinya dan pramuniaga lain langsung bergegas mengambil sebuah arloji buatan tangan bertabur swarovski, “Baru saja datang dari pengrajin kami di Swiss. Hanya ada dua puluh buah di dunia
Jakarta. Juli, 2019 Sisa hari itu Carina habiskan untuk buat backdrop baru dan mengatur ulang studio. Masalahnya muncul saat ia melihat memo dari Marco yang menyuruh Carina untuk segera mengatur studio dan memberikan space untuk krunya Shelly. Mau gak mau Carina dkk harus kerja lembur untuk memenuhi permintaan dari big boss mereka.Carina mengetik di laptopnya sambil ngomel-ngomel, “Gila, ya. Lo pikir kita Sangkuriang bisa ngerjain kayak beginian dalam semalam? Gue kutuk juga lu jadi batu!”“Itu mah Malin Kundang, Bu, bukan Sangkuriang,” ujar Aji.“Eh, iya ya?” ujar Carina menghentikan kegiatan mengetiknya. Dia terdiam sejenak mengingat-ingat jalan cerita folklore yang sudah lama dilupakannya. “Tahu lah, pokoknya gue kutuk tuh si Marco sama Shelly jadi batu!”Panji dan kawan-kawannya hanya bisa geleng-geleng kepala sambil menahan senyum, bos kecil mereka memang suka mendadak aneh kalau lagi kumat gilanya.“Sekarang jam berapa, Ji?” tanya Carina tanpa mengalihkan matanya dari layar la
SE – 04Mall yang dituju Carina gak jauh dari kantornya, jadi dalam sepuluh menit dia sudah sampai. Segera Carina memulai perburuannya mencari kado yang cocok untuk Arya. Dia tahu selera Arya lumayan tinggi, jadi kali ini Carina akan berbaik hati dan sedikit menghamburkan uang demi pacarnya itu. Dia ingin Arya terkesan dengan hadiahnya kali ini. Lagipula Carina tahu kalau Arya menginginkan kejutan darinya. Sudah dua tahun perjalanan cinta mereka dan Carina ingin agar mereka segera meresmikan hubungan. Ayah dan Ibu sudah berkali-kali bertanya kapan Arya datang ke rumah membawa orang tuanya. Lama-lama Carina gerah juga ditanya terus, jadi sepertinya hari ini adalah momen yang pas untuk mulai berdiskusi tentang ‘masa depan.’Carina berjalan perlahan memerhatikan etalase toko-toko high-end dengan merek-merek terkenal. Dia mulai dari mana?Dia masuk ke toko ZARA. Kebanyakan baju-baju dan aksesoris cewek, yang ada malah dia yang belanja. Carina buru-buru keluar sebelum nafsu belanjanya memb







