LOGIN”Lo bikin gue kaget, bilang kek kalo ada fotografer. Untung aja nggak langsung difoto. Kebayang kalau foto gue terpampang dengan wajah panik?”
Pria itu menyeringai lebar sambil terus mengunyah permen karetnya. Sama sekali tidak merasa bersalah karena sudah mengerjai aku barusan.”Setidaknya ada satu foto aib lo yang tersebar.”Aku ikut bersandar pada pagar pembatas, kali ini memperhatikan para gadis yang duduk melingkar di sebuah meja sambil mencuri-curi pandang ke arah kami—ke ar”Lo gugup?”Ia mengangguk. “Adik manja gue beneran mau jadi istri orang,” ucapnya pelan. Adikku belum menikah jadi aku tidak tahu perasaan itu, namun aku memaklumi kegugupannya saat ini. Mungkin kalau suatu saat Fadly menikah, aku juga akan merasakan apa yang Rainer rasakan sekarang. Bahkan mungkin tangisku paling kencang ketika hari itu tiba. Karena bagaimanapun, diriku turut membesarkannya selama ini. Aku, Fadly dan mama. Kami mungkin akan menangis bahagia bersama-sama di hari bahagia itu.Prosesi akad nikah berjalan lancar. Aku ikut meneteskan air mata ketika prosesi sakral itu berlangsung. Rainer sampai menyembunyikan wajahnya di bahuku sambil terisak pelan. Untuk menenangkannya, aku mengusap pelan pipinya dan membiarkan dia bersandar selama dia menangis. Untuk kali ini, aku tidak akan mencibirnya karena ia menjadi cengeng. Sebagian besar orang di acara ini menangis mendengarkan sumpah yang Jo ucapkan ketika ijab kabul selesai dilaksanakan. Selama sesi foto kel
”Airdrop semuanya ke gue.”“Hmm.” Ia berjalan di sampingku sambil memeriksa hasil jepretannya. Bibirnya tersenyum puas dengan semua hasilnya. Sudah kukatakan, pria ini adalah paket lengkap, kekurangannya hanya satu yaitu kebiasaannya berganti-ganti pasangan seolah mereka hanyalah mainan yang akan dibuang begitu ia merasa bosan.”Hari ini lo mau jalan keluar?”Aku menggeleng sambil kembali berbaring di ayunan. “Males, gue nggak mau capek. Besok hari pernikahan Aurel. Jadi simpan tenaga dulu. Butuh energi buat hari penting besok.””Jadi lo mau ngapain hari ini?””Perawatan—lo ngapain sih? Sempit!” Tiba-tiba saja pria itu ikut naik ayunan ini bersamaku. “Kalau talinya putus gimana? Gue nggak mau patah tulang sehari sebelum acaranya Aurel. Turun lo!”Sayangnya, babon satu ini menolak turun dari ayunan. Ia berbaring begitu santai sementara aku panik sambil menatap kedua tali yang mengikat ayunan. Memang sih, tampaknya kokoh. Tapi tetap saja aku khawatir kalau
Ketika aku bangun, Rainer masih tidur dengan posisi tengkurap memeluk bantal. Tapi salah satu tangannya berada di kepalaku seolah ia mengusapnya sampai ia terlelap. Dengan perlahan aku bangkit dari ranjang untuk mandi. Bahkan setelah aku selesai mandi dan bersiap-siap, dia belum juga bangun. Jadi aku tinggalkan saja pria itu di kamar untuk pergi sarapan.Sebenarnya aku bisa memesan layanan kamar, tapi lebih baik aku sarapan di restoran. Setelah sarapan, aku berencana berjalan-jalan di tepi pantai menikmati keindahan.“Flo!”Tante Luna melambai padaku ketika aku bingung mencari tempat duduk. Ia menunjuk kursi kosong di hadapannya. Dengan senyum sopan, aku menghampiri meja mereka.”Duduk di sini aja,” ucapnya sebelum aku sempat bicara.”Iya, makasih, Tante.” Aku meletakkan piring dan duduk di sana, bergabung dengan keluarga inti Rainer. “Kemarin gimana spa-nya? Enak?””Enak banget, tidurku nyenyak setelah spa.””Masih banyak layanan yang bisa kamu paka
Ada kalanya aku merindukannya sampai rasanya begitu sakit untuk ditahan. Namun ketika mengingat bahwa ia pergi demi perempuan lain dan mencampakkan istri dan anak-anaknya begitu saja, rasa rindu itu berubah menjadi kemarahan yang sulit dihapuskan. Rasa benciku mengakar kuat sampai rasanya jika bertemu dengannya lagi suatu saat nanti, aku mungkin akan memakinya dengan semua kata-kata kasar yang kutahu. Luka yang ia torehkan kepada kami bahkan masih bernanah sampai detik ini. Aku tidak tahu cara menyembuhkannya. Bahkan setelah hampir dua puluh tahun berlalu, waktu pun tidak mampu untuk meredakan sakitnya. Orang bilang waktu akan menyembuhkan luka. Itu bohong. Waktu hanya mengajarkan kita untuk terbiasa dengan luka itu, mengajarkan kita untuk terbiasa hidup berdampingan dengannya. Luka tidak akan sembuh begitu saja tanpa diobati. Hingga kini, aku belum menemukan obatnya. Akankah suatu saat nanti aku dapat menatap diriku di depan cermin tanpa mengasihani diriku sendiri? Dapatkah aku men
“Lo mau gue tabok?” Aku berujar sambil menatap kedua matanya.”Nggak.” Rainer menjawab sambil tersenyum lebar. “Jauh-jauh dari gue sekarang sebelum gue tabok kepala lo.”Pria itu mengacak rambutku sambil bergeser ke ujung sofa. Karena aku tidak ingin berlama-lama di tempat ini, aku pun memilih bangkit berdiri.”Mau ke mana?” Ia menangkap tanganku sebelum aku menjauh.”Gue ngantuk, mau tidur.””Baru jam sebelas.””Kayak nggak tahu gue aja. Jam segini udah tepar kalau di Jakarta. Mau tidur aja, deh. Gue nggak mau kurang tidur. Nanti kulit gue jadi kusam dan bawah mata gue jadi hitam waktu acara pernikahan Aurel. Gue mau tampil cantik.””Ya udah, gue juga tidur deh.” Ia pun ikut berdiri.”Hah? Nggak salah? Seorang Rainer tidur jam sebelas malam?””Karena gue nggak perlu kerja, gue bisa perbaiki waktu tidur setidaknya selama di sini.” Tangannya merangkul bahuku untuk menarikku melangkah bersama menuju pintu keluar. Sempat kulirik para gadis
”Manajer baru udah mulai kerja, Flo?” ”Hah? I-iya, Pak.” Jadi dia tahu aku bekerja di Menara Zahid? Dan dia tahu namaku? “Nggak usah panggil bapak juga kali. Ini bukan di kantor.” ”Tapi Bapak kan atasan saya—“ ”Nggak usah formal banget sama manusia plenger satu itu,” ujar Rainer yang duduk di sampingku. “Panggil aja dia Melvin.” ”Nggak bisa, gimana mungkin gue panggil atasan gue cuma nama doang?” ”Nama aja, nggak usah formal banget sama gue. Gue nggak gila hormat.” ”Ini serius? Emang boleh?” ”Boleh, kenapa nggak?” Melvin meneguk birnya dengan santai. “Kalau lo manggil gue bapak, kuping gue jadi gatel.” ”Okay, kalau itu yang lo mau. Karena kebanyakan atasan di kantor minta dipanggil bapak atau ibu, udah jadi kebiasaan manggil begitu.” ”Buat lo, nggak perlu.” Melvin tersenyum miring menatap aku dan Rainer bergantian. ”Woaaa, jangan salah paham.” Aku segera menyadari arti tata







