Share

BAB 3

Author: Pipit Chie
last update publish date: 2026-09-25 15:07:08

“Menurut lo, kado ini gimana?”

Aku menatap foto yang disodorkan Kamal kepadaku.

”Hmm….”

”Lo kok hmm doang? Kasih pendapat, kek.”

”Ya lo ngapain nanya ke gue? Emangnya gue bini lo? Tanya aja sama bini lo langsung.”

”Takut dia nggak suka.”

”Kalau kado, pasti suka. Kasih aja, nggak usah lo rempongin gue cuma karena kado ulang tahun bini lo. Minggir!”

”Galak banget lo, Flo. PMS?”

”Iya! Kalau lo nggak minggir, gue gigit!”

”Elaaah, sana beli es krim. Biar adem emosi lo.”

Kamal akhirnya menyingkir dari mejaku untuk kembali ke mejanya sendiri. Asal dia tahu saja, dia lah sumber emosiku hari ini. Mengapa dia harus menanyakan pendapatku tentang kado ulang tahun istrinya? Tanya saja sendiri pada istrinya, tidak perlu tanya pendapatku. Menyebalkan!

Dialah pria yang membuatku patah hati dua tahun lalu. Sampai detik ini, Kamal tidak tahu bahwa aku pernah patah hati karenanya. Itu patah hati terakhir yang kualami, karena setelah itu aku memutuskan untuk tidak pernah mencintai siapa pun lagi. Di mataku, semua pria tampak seperti biawak. Satu-satunya pria tampan di mataku saat ini hanyalah Chris Evans, dan dia pun sudah menikah. Selain dia, semuanya seperti biawak darat!

Kalau Chris Evans jomblo, baru aku akan jatuh cinta lagi.

Aku marah bukan karena merasa cemburu atas perhatian Kamal terhadap istrinya. Lagipula, perasaanku kepadanya sudah lenyap tanpa sisa. Yang membuatku jengkel justru sikapnya yang terlalu friendly kepada semua orang. Jujur saja, jika aku memiliki suami—yang entah kapan itu akan terjadi—aku akan memilih lelaki yang tidak terlalu murah senyum seperti Kamal. Karena senyum itulah yang dulu membuatku baper padanya. Jika ada perempuan yang baper—pasti ada—maka perselingkuhan bisa saja terjadi. Membayangkan memiliki pasangan yang selingkuh saja sudah membuatku mual seperti ibu hamil.

Kulirik pria itu yang kini sedang berbicara dengan anak magang. Lagi-lagi ia terlalu ramah. Jika ramah dalam kategori sedang, maka dia akan terlihat seperti seorang senior yang baik. Tapi ramah yang kulihat sekarang benar-benar ramah sehingga terlihat menjijikkan. Mungkin hanya di mataku saja seperti itu? Karena sepertinya semua orang di ruangan ini biasa saja melihat tingkah laku kamal.

Apakah ini efek patah hati berkali-kali sehingga aku sudah mati rasa dan menatap semua pria seperti biawak?

Aku pernah menjalani beberapa hubungan, dan semuanya gagal. Hal itu kadang membuatku bertanya-tanya, apakah aku tidak layak dicintai atau tidak pantas diperjuangkan? Akhirnya, aku mengerti dan menyadari bukan karena aku tidak layak, melainkan karena aku telah membiarkan orang-orang masuk ke dalam hidupku yang sebenarnya mereka tidak layak berada di sana. Dan aku juga terlalu banyak mentolerir kesalahan-kesalahan kecil yang menghalangiku untuk mendapatkan hal yang sepantasnya aku dapatkan.

Sekarang, aku sudah membatasi diri untuk hal-hal seperti itu. Bagiku, jatuh cinta hanyalah sebuah tindakan yang pada akhirnya hanya akan menyakiti diriku sendiri. Tidak ada orang yang mati karena tidak jatuh cinta. Tapi banyak orang yang memilih mengakhiri hidupnya karena telah jatuh cinta. Aku tidak ingin termasuk dalam orang-orang bodoh itu.

Lagi-lagi, mataku melirik ke arah Kamal yang tertawa bersama pegawai magang cantik itu. Tidak heran, di ruangan ini, pegawai magang itu mendadak menjadi primadona. Aku tidak iri, sungguh. Aku memang tidak begitu cantik, aku juga tidak begitu menarik sehingga bisa dijadikan primadona. Namun aku tidak pernah iri pada kecantikan orang lain. Aku cukup puas dengan diriku sendiri sehingga tak membuatku berhati busuk hanya karena fisik orang lain lebih indah dariku.

Katanya, cantik itu relatif, bukan?

”Perasaan gue aja atau si playboy itu terlalu akrab sama anak magang?”

Erika berdiri di sampingku sambil memegang gelas kopi yang ia buat di pantry.

”Hmm… kayaknya begitu,” jawabku singkat. Berpura-pura tak peduli.

“Udah punya bini padahal, mana bininya lagi hamil.”

”Biarin aja, bukan urusan kita.”

”Tapi harus ditegur kayaknya, siapa tahu nanti ada skandal di sini.”

Sekali lagi, kulirik Kamal yang tak kunjung menjauh dari meja anak magang itu.

”Kalau ditegur, nanti malah dituduh ikut campur dan sok suci. Lo tahu kalau di lantai bawah banyak pasangan selingkuh, kan? Enam puluh persen orang-orang di kantor ini pada selingkuh. Dan gue nggak mau jadi orang sok suci yang negur mereka. Bukan karena gue nggak kasihan sama pasangan mereka, tapi karena gue malas terlibat masalah. Gue nggak mau sampai nama gue keseret, terus ujung-ujungnya gue nggak nyaman lagi kerja di sini. Nyari kerja yang gajinya gede kayak di sini itu susah. Jadi gue milih nggak peduli sama urusan orang lain.”

”Lo kan memang terlalu cuek, tapi gue kasihan tahu, Flo. Pasangan mereka pasti tahunya mereka kerja yang bener di sini.”

”Lo aja yang terlalu mudah kasihan. Ada kalanya rasa kasihan kita akan membawa masalah buat diri sendiri. Mending lo kasihan sama orang-orang yang makannya susah daripada kasihan sama pasangan mereka. Anggap aja itu ujian kehidupan mereka. Bukan urusan kita.”

“Ih, lo cuek banget. Kalau nanti pasangan lo ada bibit selingkuh dan orang nggak mau peduli dan biarin aja, gimana?”

”Ya udah, jalan satu-satunya nggak usah punya pasangan. Gampang.”

”Ngomongin pasangan sama lo tuh emang nggak pernah mudah,” ucap Erika jengkel. “Emangnya lo mau hidup sendirian sampai tua?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sweet Trouble   BAB 8

    “Gue lupa bilang kalau Aurel ngajak ketemu siang ini.””Hmm. Lo yang mau ketemu adik lo, kenapa laporan ke gue?””Maksud gue, ngajak lo juga.””Gue?””Iya, lo nggak baca chat Aurel?””Belum lihat hape dari tadi. Emang kenapa gue mesti ketemu adik lo?””Gaun lo. Dia mau nyiapin gaun buat lo.””Harus?””Kan lo bilang setuju buat ikut ke Bali. Jadi Aurel mau siapkan gaun buat lo.””Pakai karung goni aja deh gue,” candaku.”Oke juga ide lo.” Rainer ikut tertawa. Ia menyuap omelet ke dalam mulutnya. “Tapi gue nggak mau ikutan viral nanti. Jadi kalau lo nggak mau muka lo terpampang di akun medsos sepupu-sepupu gue cuma pake karung goni, lo harus fitting gaun lo siang ini.”“Kalau cuti gue nggak di-approve gimana?””Gue bakar Menara Zahid,” jawabnya santai.Aku mencibir, membawa piring kotor ke wastafel untuk dicuci. Dia menaruh piring kosongnya di atas piringku. Saat aku meliriknya tajam, biawak darat ini hanya tersenyum lebar sambil men

  • Sweet Trouble   BAB 7

    Apartemen di lantai teratas ini adalah rumah kedua Rainer. Tapi tampaknya dia banyak menghabiskan waktu di apartemen ini daripada di rumahnya sendiri. Mungkin karena satu gedung dengan tempat usahanya, jadi lebih nyaman tinggal di sini daripada harus bolak balik ke rumah orang tuanya. Aku menghempaskan tubuh di sofa besar. Sudah lewat tengah malam, mataku pun sudah mulai mengantuk. ”Gimana cewek yang tadi? Berhasil bikin lo klimaks?”“Siapa yang bilang gue klimaks?””Lo bawa dia buat having sex ‘kan?””Nggak. Tadi gue dipanggil manajer gue karena ada anggota VIP yang bikin masalah di lantai tiga.”Aku melirik punggung tangannya yang tampak memerah.”Lo gebukin?””Dia yang mulai. Jadi gue hajar aja biar sadar. Gue benci sama orang arogan yang merasa dia bisa ngelakuin seenaknya mentang-mentang jadi anggota VIP di klub gue.”Ya, Rainer memang sangat ketat terhadap aturan VIP klub. Jika ada yang melanggar aturan yang telah ditetapkan, Rainer tak akan berpikir dua kali untuk memberi pel

  • Sweet Trouble   BAB 6

    Ini menyenangkan. meskipun pada awalnya aku tak berekspektasi apa-apa terhadap pria bernama Zack ini, tapi entah bagaimana obrolan kami mengalir begitu saja seolah pikiran kami sejalan pada arah yang sama.”Dan lo tahu apa? Itu terakhir kalinya gue sok jadi pahlawan. Gue kapok,” ucapnya sambil geleng-geleng kepala. “Sekarang gue nyerah soal begituan, bodo amat, deh.””Gue juga pernah.” Tanpa sadar ini sudah gelas ketiga yang kuminum. “Gue udah nggak mau lagi peduli sama urusan orang lain. Bukannya jadi bagus, malah runyam. Sekarang, gue cuma liatin doang apa pun itu selain urusan gue.”“Memang brengsek tuh anak, padahal niat gue bantuin, malah jadi kambing hitam.””Dan kalian masih temenan?””Nope,” jawabnya sambil mengambil gelasnya. “Gue cut off. Makin tua, gue makin sadar sama banyak hal. Kalau rasanya tuh orang cuma ngerugiin gue doang, cuma bikin masalah dalam hidup gue, mending gue nggak usah kenal lagi. Sekarang bukan umurnya buat nambahin masalah. Beban hidup aja udah berat ba

  • Sweet Trouble   BAB 5

    “Hai.”Pria itu akhirnya duduk di sampingku. Aku melirik perempuan yang ia tinggalkan, tampaknya sudah menemukan pria lain yang bisa ia cium.Tanpa kusadari, mataku tertuju pada bibir Rainer.”Kenapa?””Nggak, gue cuma heran, kenapa lo doyan banget sentuhan bibir sama cewek yang bisa ciuman sana sini setelah ciuman sama lo?”Rainer ikut melihat ke arah yang sedang kutatap. Dan dia hanya tertawa santai.”Tadi cuma taruhan.” Ia berbicara sambil meriah tisu untuk mengelap bibirnya. Lihat kelakuannya, dia bisa dengan mudahnya taruhan dengan orang lain entah itu dalam seks atau sekadar making out. Tidak heran mengapa di mataku dia tampak seperti anomali.“Babe… temenin gue….” Seorang perempuan datang lalu memeluk lengan Rainer. Perempuan berbeda dengan yang ia cium tadi, tentu saja.”Ntar aja, gue mau temenin temen gue dulu. Lo sama yang lain aja dulu.”Perempuan itu menatapku terang-terangan dengan tatapan jengkel, dan yang kulakukan hanyalah mengangkat satu alis sebagai jawaban. Dia men

  • Sweet Trouble   BAB 4

    ”Apa salahnya? Kalau gue punya duit, mau sendirian pun nggak masalah. Daripada punya pasangan tapi nggak punya duit. Gue lebih suka sendirian tapi duit gue banyak. Daripada nyari pasangan yang cuma nambahin masalah hidup gue, mending gue nyari duit yang bisa meringankan segala beban gue.””Realistis sih realistis, Flo. Tapi apa enaknya jadi jomblo?””Enak-enak aja, tuh.””Terus lo nggak akan bisa nikmatin seks, dong.”Aku tertawa pelan, memasang senyum misterius di wajah.”Memangnya kalau mau seks harus punya pasangan? Nggak, kan?””Flo? Wait… astaga….””Astaga apaan? Gue cuma bilang, kalau mau seks nggak kudu punya pasangan dulu.””Lo… lo sering ONS?””Emangnya gue bilang kalau gue begitu?””Tapi itu barusan lo bilang seks nggak kudu punya pasangan.””Lah, kan emang iya. Tanya aja sama cowok-cowok yang ngakunya jomblo. Mereka masih bisa ngelakuin seks meski nggak punya pasangan.””Lo beneran sering ONS, kan?””Mau tahu aja atau mau tahu banget?”Aku meninggalkan Erika di sana untuk k

  • Sweet Trouble   BAB 3

    “Menurut lo, kado ini gimana?”Aku menatap foto yang disodorkan Kamal kepadaku.”Hmm….””Lo kok hmm doang? Kasih pendapat, kek.””Ya lo ngapain nanya ke gue? Emangnya gue bini lo? Tanya aja sama bini lo langsung.””Takut dia nggak suka.””Kalau kado, pasti suka. Kasih aja, nggak usah lo rempongin gue cuma karena kado ulang tahun bini lo. Minggir!””Galak banget lo, Flo. PMS?””Iya! Kalau lo nggak minggir, gue gigit!””Elaaah, sana beli es krim. Biar adem emosi lo.”Kamal akhirnya menyingkir dari mejaku untuk kembali ke mejanya sendiri. Asal dia tahu saja, dia lah sumber emosiku hari ini. Mengapa dia harus menanyakan pendapatku tentang kado ulang tahun istrinya? Tanya saja sendiri pada istrinya, tidak perlu tanya pendapatku. Menyebalkan!Dialah pria yang membuatku patah hati dua tahun lalu. Sampai detik ini, Kamal tidak tahu bahwa aku pernah patah hati karenanya. Itu patah hati terakhir yang kualami, karena setelah itu aku memutuskan untuk tidak pernah mencintai siapa pun lagi. Di mata

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status