LOGIN”Apa salahnya? Kalau gue punya duit, mau sendirian pun nggak masalah. Daripada punya pasangan tapi nggak punya duit. Gue lebih suka sendirian tapi duit gue banyak. Daripada nyari pasangan yang cuma nambahin masalah hidup gue, mending gue nyari duit yang bisa meringankan segala beban gue.”
”Realistis sih realistis, Flo. Tapi apa enaknya jadi jomblo?” ”Enak-enak aja, tuh.” ”Terus lo nggak akan bisa nikmatin seks, dong.” Aku tertawa pelan, memasang senyum misterius di wajah. ”Memangnya kalau mau seks harus punya pasangan? Nggak, kan?” ”Flo? Wait… astaga….” ”Astaga apaan? Gue cuma bilang, kalau mau seks nggak kudu punya pasangan dulu.” ”Lo… lo sering ONS?” ”Emangnya gue bilang kalau gue begitu?” ”Tapi itu barusan lo bilang seks nggak kudu punya pasangan.” ”Lah, kan emang iya. Tanya aja sama cowok-cowok yang ngakunya jomblo. Mereka masih bisa ngelakuin seks meski nggak punya pasangan.” ”Lo beneran sering ONS, kan?” ”Mau tahu aja atau mau tahu banget?” Aku meninggalkan Erika di sana untuk kembali ke mejaku. Membiarkan dia menatapku dengan tatapan penasaran itu. Aku tidak pernah ingin membicarakan kehidupan pribadi di tempat kerja, meskipun dia temanku. Bagiku, hidupku adalah urusanku sendiri. Tidak akan kubiarkan kehidupanku menjadi konsumsi publik dan dibicarakan oleh semua orang. Aku lembur sampai pukul sembilan malam. Rasanya lelah luar biasa, tapi karena hari ini Jumat, aku tidak keberatan untuk lembur. Lagipula, bayarannya cukup besar. Aku mencintai uang, jadi akan kulakukan apa pun agar tabunganku terus bertambah. Jika memang harus hidup sendirian, setidaknya aku harus berada di titik financial stable, agar aku tidak diremehkan karena memilih sendirian tanpa pasangan. Ponselku bergetar dan sebuah nama muncul di layar. Biawak Darat: Lembur? Senyumku terbit, segera meraih ponsel untuk membalas chat itu. Flora: Iya. Biawak Darat: Litera? Flora: Capek Biawak Darat: Gue buatkan minuman yang enak. Flora: Liat nanti, deh. Biawak Darat: Okay Dia… Rainer Alexander. Pertemuan kami dua tahun lalu membuat kami menjadi teman. Ya, teman. Cukup dekat namun tidak bisa dibilang sahabat. Tapi kalau ada waktu luang, kami cukup sering bertemu. Karena dia mengelola beberapa klub malam, aku mendapatkan kartu VIP secara gratis. Padahal aku tahu untuk menjadi anggota VIP di klub malam terkenal itu harus menguras kocek yang cukup dalam. Tapi aku mendapatkannya secara cuma-cuma hanya karena berteman dengan pemiliknya. Keberuntungan? Entahlah, mungkin hanya kebetulan saja. Aku tidak terlalu percaya dengan sesuatu yang bernama keberuntungan. Karena segala sesuatu yang kita dapatkan adalah hasil dari kerja keras, bukan karena keberuntungan. Tadinya, aku tidak berniat untuk pergi ke Litera, tapi aku tergoda untuk datang ke sana. Sendirian di apartemen kecilku hanya akan membuatku harus mengulang tontonan yang sama di N*****x. Jadi kuputuskan untuk datang saja ke sana tanpa memberitahu Rainer lebih dulu. Aku memarkir kendaraan di parkiran belakang. Penjaga berbadan besar yang sudah cukup mengenalku membiarkan mobilku terparkir di sana. Di bagian belakang ini adalah parkiran khusus untuk anggota keluarga Rainer, tapi dia menyuruhku untuk menaruh mobil di sana setiap kali aku datang ke sini. Katanya, parkiran di bagian depan dan samping pasti selalu penuh. ”Hai, Jon.” Aku menyapa penjaga dengan kepala botak dan bekas luka di wajahnya, dia berdiri diam di dekat pintu masuk. ”Hai, Non.” Dia membalas sapaanku tanpa senyum, tapi kepalanya sedikit mengangguk ke arahku. Dia memanggilku nona. Padahal aku sudah memintanya memanggil nama saja. Tapi katanya, setiap teman dari Rainer akan dia panggil nona. Wow, terkadang aku merasa seperti nona-nona kaya jika mendengar panggilan itu. Koridornya panjang dengan sedikit pencahayaan. Tapi aku masih bisa melihat jalan dengan jelas, juga para penjaga berbadan besar yang berdiri kaku di tempatnya. Seolah-olah mereka siap bergerak jika ada perintah yang datang. Kakiku melangkah menuju lantai dua di mana ruang VIP berada. Berbeda dengan lantai dasar, lantai atas ini tidak terlalu berisik. Interior ruangannya pun berbeda. Menawarkan kenyamanan yang pastinya tidak bisa didapatkan jika berada di lantai dasar. Aku menuju meja bar di mana Rainer biasanya berada. Tapi tak kutemukan dia di sana. Yang ada hanyalah bartender biasa. ”Flo.” Zen menyapaku dengan senyuman lebar. “Baru pulang kerja?” Ia menatap pakaian kantor yang masih melekat di tubuhku. ”Ya, mana bos lo?” ”Tuh…” Ia menunjuk ke sudut ruangan. Aku pun menoleh ke arah itu. Mataku menatap Rainer yang sedang bercumbu dengan seorang wanita di sofa bagian sudut. Wanita itu duduk mengangkang di atas pangkuannya. Tampaknya mereka sedang asik saling membelai satu sama lain dan berperang bibir. Bukan pemandangan asing, aku sudah sering melihat si playboy itu mencium perempuan berbeda setiap malam. ”Baru lagi?” Zen mengangguk sambil menaruh segelas minuman ke hadapanku. “Baru kenalan lima menit udah ditrabas sama bos.” ”Bos lo nafsuan, sih.” Zen tertawa, ia berdiri di hadapanku sambil mengelap gelasnya. ”Dan anehnya, cuma lo yang nggak dia cium.” ”Ngapain juga dia nyium gue?” Aku mendengus. Memangnya aku mau berciuman dengan biawak darat itu? ”Kalian beneran temenan doang?” ”Menurut lo?” ”Masih aneh aja bagi gue. Soalnya bos paling nggak bisa ngeliat cewek cantik nganggur.” Jadi menurutnya aku cantik? Begitu? ”Gue pikir lo dulu gebetan dia,” sambungnya saat aku hanya diam. Ucapannya menghadirkan tawa singkat di bibirku setelah menyesap minumanku sedikit. ”Nggak, dari awal memang temen doang.” Karena aku menerapkan batasanku sendiri di saat aku tahu bahwa pria sopan yang mengganti gaunku di pernikahan Kamal adalah seorang biawak darat. Aku tahu dia adalah tipikal pria yang hanya ingin bersenang-senang lalu pergi di saat dia sudah merasa bosan. Dan aku tidak ingin menjadikan diriku sebagai perempuan menyedihkan yang jatuh cinta pada orang yang berpotensi besar untuk mematahkan hatiku. Sudah kubilang, aku hanya jatuh cinta pada Chris Evans.“Gue lupa bilang kalau Aurel ngajak ketemu siang ini.””Hmm. Lo yang mau ketemu adik lo, kenapa laporan ke gue?””Maksud gue, ngajak lo juga.””Gue?””Iya, lo nggak baca chat Aurel?””Belum lihat hape dari tadi. Emang kenapa gue mesti ketemu adik lo?””Gaun lo. Dia mau nyiapin gaun buat lo.””Harus?””Kan lo bilang setuju buat ikut ke Bali. Jadi Aurel mau siapkan gaun buat lo.””Pakai karung goni aja deh gue,” candaku.”Oke juga ide lo.” Rainer ikut tertawa. Ia menyuap omelet ke dalam mulutnya. “Tapi gue nggak mau ikutan viral nanti. Jadi kalau lo nggak mau muka lo terpampang di akun medsos sepupu-sepupu gue cuma pake karung goni, lo harus fitting gaun lo siang ini.”“Kalau cuti gue nggak di-approve gimana?””Gue bakar Menara Zahid,” jawabnya santai.Aku mencibir, membawa piring kotor ke wastafel untuk dicuci. Dia menaruh piring kosongnya di atas piringku. Saat aku meliriknya tajam, biawak darat ini hanya tersenyum lebar sambil men
Apartemen di lantai teratas ini adalah rumah kedua Rainer. Tapi tampaknya dia banyak menghabiskan waktu di apartemen ini daripada di rumahnya sendiri. Mungkin karena satu gedung dengan tempat usahanya, jadi lebih nyaman tinggal di sini daripada harus bolak balik ke rumah orang tuanya. Aku menghempaskan tubuh di sofa besar. Sudah lewat tengah malam, mataku pun sudah mulai mengantuk. ”Gimana cewek yang tadi? Berhasil bikin lo klimaks?”“Siapa yang bilang gue klimaks?””Lo bawa dia buat having sex ‘kan?””Nggak. Tadi gue dipanggil manajer gue karena ada anggota VIP yang bikin masalah di lantai tiga.”Aku melirik punggung tangannya yang tampak memerah.”Lo gebukin?””Dia yang mulai. Jadi gue hajar aja biar sadar. Gue benci sama orang arogan yang merasa dia bisa ngelakuin seenaknya mentang-mentang jadi anggota VIP di klub gue.”Ya, Rainer memang sangat ketat terhadap aturan VIP klub. Jika ada yang melanggar aturan yang telah ditetapkan, Rainer tak akan berpikir dua kali untuk memberi pel
Ini menyenangkan. meskipun pada awalnya aku tak berekspektasi apa-apa terhadap pria bernama Zack ini, tapi entah bagaimana obrolan kami mengalir begitu saja seolah pikiran kami sejalan pada arah yang sama.”Dan lo tahu apa? Itu terakhir kalinya gue sok jadi pahlawan. Gue kapok,” ucapnya sambil geleng-geleng kepala. “Sekarang gue nyerah soal begituan, bodo amat, deh.””Gue juga pernah.” Tanpa sadar ini sudah gelas ketiga yang kuminum. “Gue udah nggak mau lagi peduli sama urusan orang lain. Bukannya jadi bagus, malah runyam. Sekarang, gue cuma liatin doang apa pun itu selain urusan gue.”“Memang brengsek tuh anak, padahal niat gue bantuin, malah jadi kambing hitam.””Dan kalian masih temenan?””Nope,” jawabnya sambil mengambil gelasnya. “Gue cut off. Makin tua, gue makin sadar sama banyak hal. Kalau rasanya tuh orang cuma ngerugiin gue doang, cuma bikin masalah dalam hidup gue, mending gue nggak usah kenal lagi. Sekarang bukan umurnya buat nambahin masalah. Beban hidup aja udah berat ba
“Hai.”Pria itu akhirnya duduk di sampingku. Aku melirik perempuan yang ia tinggalkan, tampaknya sudah menemukan pria lain yang bisa ia cium.Tanpa kusadari, mataku tertuju pada bibir Rainer.”Kenapa?””Nggak, gue cuma heran, kenapa lo doyan banget sentuhan bibir sama cewek yang bisa ciuman sana sini setelah ciuman sama lo?”Rainer ikut melihat ke arah yang sedang kutatap. Dan dia hanya tertawa santai.”Tadi cuma taruhan.” Ia berbicara sambil meriah tisu untuk mengelap bibirnya. Lihat kelakuannya, dia bisa dengan mudahnya taruhan dengan orang lain entah itu dalam seks atau sekadar making out. Tidak heran mengapa di mataku dia tampak seperti anomali.“Babe… temenin gue….” Seorang perempuan datang lalu memeluk lengan Rainer. Perempuan berbeda dengan yang ia cium tadi, tentu saja.”Ntar aja, gue mau temenin temen gue dulu. Lo sama yang lain aja dulu.”Perempuan itu menatapku terang-terangan dengan tatapan jengkel, dan yang kulakukan hanyalah mengangkat satu alis sebagai jawaban. Dia men
”Apa salahnya? Kalau gue punya duit, mau sendirian pun nggak masalah. Daripada punya pasangan tapi nggak punya duit. Gue lebih suka sendirian tapi duit gue banyak. Daripada nyari pasangan yang cuma nambahin masalah hidup gue, mending gue nyari duit yang bisa meringankan segala beban gue.””Realistis sih realistis, Flo. Tapi apa enaknya jadi jomblo?””Enak-enak aja, tuh.””Terus lo nggak akan bisa nikmatin seks, dong.”Aku tertawa pelan, memasang senyum misterius di wajah.”Memangnya kalau mau seks harus punya pasangan? Nggak, kan?””Flo? Wait… astaga….””Astaga apaan? Gue cuma bilang, kalau mau seks nggak kudu punya pasangan dulu.””Lo… lo sering ONS?””Emangnya gue bilang kalau gue begitu?””Tapi itu barusan lo bilang seks nggak kudu punya pasangan.””Lah, kan emang iya. Tanya aja sama cowok-cowok yang ngakunya jomblo. Mereka masih bisa ngelakuin seks meski nggak punya pasangan.””Lo beneran sering ONS, kan?””Mau tahu aja atau mau tahu banget?”Aku meninggalkan Erika di sana untuk k
“Menurut lo, kado ini gimana?”Aku menatap foto yang disodorkan Kamal kepadaku.”Hmm….””Lo kok hmm doang? Kasih pendapat, kek.””Ya lo ngapain nanya ke gue? Emangnya gue bini lo? Tanya aja sama bini lo langsung.””Takut dia nggak suka.””Kalau kado, pasti suka. Kasih aja, nggak usah lo rempongin gue cuma karena kado ulang tahun bini lo. Minggir!””Galak banget lo, Flo. PMS?””Iya! Kalau lo nggak minggir, gue gigit!””Elaaah, sana beli es krim. Biar adem emosi lo.”Kamal akhirnya menyingkir dari mejaku untuk kembali ke mejanya sendiri. Asal dia tahu saja, dia lah sumber emosiku hari ini. Mengapa dia harus menanyakan pendapatku tentang kado ulang tahun istrinya? Tanya saja sendiri pada istrinya, tidak perlu tanya pendapatku. Menyebalkan!Dialah pria yang membuatku patah hati dua tahun lalu. Sampai detik ini, Kamal tidak tahu bahwa aku pernah patah hati karenanya. Itu patah hati terakhir yang kualami, karena setelah itu aku memutuskan untuk tidak pernah mencintai siapa pun lagi. Di mata







