LOGIN“Hai.”
Pria itu akhirnya duduk di sampingku. Aku melirik perempuan yang ia tinggalkan, tampaknya sudah menemukan pria lain yang bisa ia cium. Tanpa kusadari, mataku tertuju pada bibir Rainer. ”Kenapa?” ”Nggak, gue cuma heran, kenapa lo doyan banget sentuhan bibir sama cewek yang bisa ciuman sana sini setelah ciuman sama lo?” Rainer ikut melihat ke arah yang sedang kutatap. Dan dia hanya tertawa santai. ”Tadi cuma taruhan.” Ia berbicara sambil meriah tisu untuk mengelap bibirnya. Lihat kelakuannya, dia bisa dengan mudahnya taruhan dengan orang lain entah itu dalam seks atau sekadar making out. Tidak heran mengapa di mataku dia tampak seperti anomali. “Babe… temenin gue….” Seorang perempuan datang lalu memeluk lengan Rainer. Perempuan berbeda dengan yang ia cium tadi, tentu saja. ”Ntar aja, gue mau temenin temen gue dulu. Lo sama yang lain aja dulu.” Perempuan itu menatapku terang-terangan dengan tatapan jengkel, dan yang kulakukan hanyalah mengangkat satu alis sebagai jawaban. Dia menghentakkan kaki lalu pergi dengan wajah cemberut, berharap Rainer akan mengejarnya. Tapi biawak darat itu hanya duduk santai di sampingku. ”Kalau lo mau nemenin dia, pergi aja.” ”Ntar aja, paling juga minta making out sama gue. Lagi nggak pengen.” “Wow….” Aku menyesap minumanku. Tidak habis pikir dengan si playboy satu ini. Dia adalah definisi pria bejat yang sesungguhnya. Aku akan merasa sangat kasihan kepada wanita yang akan menjadi pasangannya kelak, entah bagaimana perasaannya jika memikirkan kelakuan pria ini sebelum menikah dengannya. ”Ngapain lo melamun?” ”Lagi mikir aja.” ”Tentang?” ”Istri lo nanti, entah gimana dia kalau dia tahu kebejatan hidup lo selama ini.” Rainer tertawa. “Gue nggak akan nikah. Kalau orang tua gue pengen cucu, tuh… minta sama Aurel. Jo bakal ngasih dia banyak anak kalau dia mau.” Aku tidak akan menghakimi pilihannya di saat pilihannya tak berbeda jauh dengan pilihanku. Lihatlah, kami adalah dua orang yang sama-sama tidak ingin jatuh cinta dan ingin hidup damai tanpa drama selamanya. Jadi kalau ada yang bertanya, apa alasanku berteman dengan biawak ini, maka inilah jawabanku. Kami cocok dalam prinsip hidup soal perasaan. Hubungan paling aman adalah hubungan yang sejak awal tidak menjanjikan apa-apa. Tidak ada ekspektasi, tidak ada adegan saling menunggu balasan pesan, tidak ada kebiasaan menebak-nebak arti sebuah perhatian kecil. Kami hanya hadir ketika ingin hadir, menghilang ketika sibuk, lalu kembali mengobrol seolah tidak pernah ada jeda. Sederhana. Dan kami sama-sama menyukai sesuatu yang sederhana. Lagipula, jatuh cinta terdengar seperti pekerjaan sampingan yang menyita waktu. Ada rasa cemas, posesif, salah paham, lalu drama yang entah mengapa selalu berhasil menemukan jalannya sendiri. Terlalu melelahkan untuk orang-orang yang sudah cukup letih menghadapi hidup. Aku dan biawak ini sepakat untuk tidak menyentuh wilayah itu. Setidaknya, begitulah yang kami yakini saat ini. Karena hidup punya kebiasaan buruk, menertawakan orang-orang yang terlalu percaya diri dengan ucapannya sendiri. Dan kuharap aku tidak akan pernah berada di posisi itu. “Oh, ya. Mengenai tawaran gue kemarin, gimana?” ”Yang mana?” Dia menatapku sambil memutar bola mata. “Pernikahan Aurel, lo ikut nggak?” ”Hmm… lihat ntar, deh.” ”Jangan lihat-lihat doang, adik gue bisa ngambek kalau lo nggak datang.” ”Gue harus ngajuin cuti kalau ikut.” ”Ajuin aja, Menara Zahid pasti bakal approve cuti lo. Kalau nggak, gue blokir akses masuk buat mereka ke klub gue.” ”Hmm.” ”Jadi lo ikut nggak? Aurel nanyain kemarin.” ”Ya udah, ikut. Berapa hari di Bali?” ”Empat hari. Sekalian aja lo liburan.” ”Hmm….” Aku hanya bergumam karena pandanganku terpaku pada seorang pria tampan yang sejak tadi menatap ke arahku. Kuberikan sebuah senyum kecil padanya yang membuatnya berdiri dari kursinya untuk datang menghampiri kursiku. ”Sendirian?” Dia mengambil tempat di sampingku, mengabaikan Rainer sepenuhnya. ”Ya.” ”Boleh gue traktir minum?” Aku mengangkat gelasku sendiri, memberitahunya bahwa aku tidak suka ditraktir minuman oleh orang asing, tapi kalau hanya sekadar duduk dan ngobrol, aku bersedia. ”Gue ke sana dulu, have fun.” Rainer bangkit dari duduknya, menepuk pelan puncak kepalaku sebelum dia pergi. Pria di sampingku melihat tindakan si brengsek itu dengan kening berkerut. ”Pacar?” ”Temen gue.” “Gimana kalau pindah ke sudut sana?” ”Gue cuma mau ngobrol, kalau lo pengen lebih dari itu, gue nggak mau. Jadi silakan cari yang lain.” Pria yang semula hendak berdiri kembali duduk di kursinya. ”Kalau gitu kita ngobrol aja, kebetulan gue juga sendirian malam ini.” Ia lalu mengulurkan tangannya padaku. “Zack.” ”Flo.” Melalui ujung mata, kulihat Rainer sudah berciuman dengan perempuan yang merengek padanya tadi. Bahkan tangan kirinya sudah masuk ke dalam rok perempuan itu. Bukannya tadi dia bilang sedang tidak ingin making out? Tapi ucapannya berbanding terbalik dengan kelakuannya sekarang. Begitulah para pria, janji mereka hanya berlaku sedetik setelah ucapan itu keluar dari bibir. Detik berikutnya, janji itu sudah hangus sepenuhnya. Ck, dasar biawak darat!“Gue lupa bilang kalau Aurel ngajak ketemu siang ini.””Hmm. Lo yang mau ketemu adik lo, kenapa laporan ke gue?””Maksud gue, ngajak lo juga.””Gue?””Iya, lo nggak baca chat Aurel?””Belum lihat hape dari tadi. Emang kenapa gue mesti ketemu adik lo?””Gaun lo. Dia mau nyiapin gaun buat lo.””Harus?””Kan lo bilang setuju buat ikut ke Bali. Jadi Aurel mau siapkan gaun buat lo.””Pakai karung goni aja deh gue,” candaku.”Oke juga ide lo.” Rainer ikut tertawa. Ia menyuap omelet ke dalam mulutnya. “Tapi gue nggak mau ikutan viral nanti. Jadi kalau lo nggak mau muka lo terpampang di akun medsos sepupu-sepupu gue cuma pake karung goni, lo harus fitting gaun lo siang ini.”“Kalau cuti gue nggak di-approve gimana?””Gue bakar Menara Zahid,” jawabnya santai.Aku mencibir, membawa piring kotor ke wastafel untuk dicuci. Dia menaruh piring kosongnya di atas piringku. Saat aku meliriknya tajam, biawak darat ini hanya tersenyum lebar sambil men
Apartemen di lantai teratas ini adalah rumah kedua Rainer. Tapi tampaknya dia banyak menghabiskan waktu di apartemen ini daripada di rumahnya sendiri. Mungkin karena satu gedung dengan tempat usahanya, jadi lebih nyaman tinggal di sini daripada harus bolak balik ke rumah orang tuanya. Aku menghempaskan tubuh di sofa besar. Sudah lewat tengah malam, mataku pun sudah mulai mengantuk. ”Gimana cewek yang tadi? Berhasil bikin lo klimaks?”“Siapa yang bilang gue klimaks?””Lo bawa dia buat having sex ‘kan?””Nggak. Tadi gue dipanggil manajer gue karena ada anggota VIP yang bikin masalah di lantai tiga.”Aku melirik punggung tangannya yang tampak memerah.”Lo gebukin?””Dia yang mulai. Jadi gue hajar aja biar sadar. Gue benci sama orang arogan yang merasa dia bisa ngelakuin seenaknya mentang-mentang jadi anggota VIP di klub gue.”Ya, Rainer memang sangat ketat terhadap aturan VIP klub. Jika ada yang melanggar aturan yang telah ditetapkan, Rainer tak akan berpikir dua kali untuk memberi pel
Ini menyenangkan. meskipun pada awalnya aku tak berekspektasi apa-apa terhadap pria bernama Zack ini, tapi entah bagaimana obrolan kami mengalir begitu saja seolah pikiran kami sejalan pada arah yang sama.”Dan lo tahu apa? Itu terakhir kalinya gue sok jadi pahlawan. Gue kapok,” ucapnya sambil geleng-geleng kepala. “Sekarang gue nyerah soal begituan, bodo amat, deh.””Gue juga pernah.” Tanpa sadar ini sudah gelas ketiga yang kuminum. “Gue udah nggak mau lagi peduli sama urusan orang lain. Bukannya jadi bagus, malah runyam. Sekarang, gue cuma liatin doang apa pun itu selain urusan gue.”“Memang brengsek tuh anak, padahal niat gue bantuin, malah jadi kambing hitam.””Dan kalian masih temenan?””Nope,” jawabnya sambil mengambil gelasnya. “Gue cut off. Makin tua, gue makin sadar sama banyak hal. Kalau rasanya tuh orang cuma ngerugiin gue doang, cuma bikin masalah dalam hidup gue, mending gue nggak usah kenal lagi. Sekarang bukan umurnya buat nambahin masalah. Beban hidup aja udah berat ba
“Hai.”Pria itu akhirnya duduk di sampingku. Aku melirik perempuan yang ia tinggalkan, tampaknya sudah menemukan pria lain yang bisa ia cium.Tanpa kusadari, mataku tertuju pada bibir Rainer.”Kenapa?””Nggak, gue cuma heran, kenapa lo doyan banget sentuhan bibir sama cewek yang bisa ciuman sana sini setelah ciuman sama lo?”Rainer ikut melihat ke arah yang sedang kutatap. Dan dia hanya tertawa santai.”Tadi cuma taruhan.” Ia berbicara sambil meriah tisu untuk mengelap bibirnya. Lihat kelakuannya, dia bisa dengan mudahnya taruhan dengan orang lain entah itu dalam seks atau sekadar making out. Tidak heran mengapa di mataku dia tampak seperti anomali.“Babe… temenin gue….” Seorang perempuan datang lalu memeluk lengan Rainer. Perempuan berbeda dengan yang ia cium tadi, tentu saja.”Ntar aja, gue mau temenin temen gue dulu. Lo sama yang lain aja dulu.”Perempuan itu menatapku terang-terangan dengan tatapan jengkel, dan yang kulakukan hanyalah mengangkat satu alis sebagai jawaban. Dia men
”Apa salahnya? Kalau gue punya duit, mau sendirian pun nggak masalah. Daripada punya pasangan tapi nggak punya duit. Gue lebih suka sendirian tapi duit gue banyak. Daripada nyari pasangan yang cuma nambahin masalah hidup gue, mending gue nyari duit yang bisa meringankan segala beban gue.””Realistis sih realistis, Flo. Tapi apa enaknya jadi jomblo?””Enak-enak aja, tuh.””Terus lo nggak akan bisa nikmatin seks, dong.”Aku tertawa pelan, memasang senyum misterius di wajah.”Memangnya kalau mau seks harus punya pasangan? Nggak, kan?””Flo? Wait… astaga….””Astaga apaan? Gue cuma bilang, kalau mau seks nggak kudu punya pasangan dulu.””Lo… lo sering ONS?””Emangnya gue bilang kalau gue begitu?””Tapi itu barusan lo bilang seks nggak kudu punya pasangan.””Lah, kan emang iya. Tanya aja sama cowok-cowok yang ngakunya jomblo. Mereka masih bisa ngelakuin seks meski nggak punya pasangan.””Lo beneran sering ONS, kan?””Mau tahu aja atau mau tahu banget?”Aku meninggalkan Erika di sana untuk k
“Menurut lo, kado ini gimana?”Aku menatap foto yang disodorkan Kamal kepadaku.”Hmm….””Lo kok hmm doang? Kasih pendapat, kek.””Ya lo ngapain nanya ke gue? Emangnya gue bini lo? Tanya aja sama bini lo langsung.””Takut dia nggak suka.””Kalau kado, pasti suka. Kasih aja, nggak usah lo rempongin gue cuma karena kado ulang tahun bini lo. Minggir!””Galak banget lo, Flo. PMS?””Iya! Kalau lo nggak minggir, gue gigit!””Elaaah, sana beli es krim. Biar adem emosi lo.”Kamal akhirnya menyingkir dari mejaku untuk kembali ke mejanya sendiri. Asal dia tahu saja, dia lah sumber emosiku hari ini. Mengapa dia harus menanyakan pendapatku tentang kado ulang tahun istrinya? Tanya saja sendiri pada istrinya, tidak perlu tanya pendapatku. Menyebalkan!Dialah pria yang membuatku patah hati dua tahun lalu. Sampai detik ini, Kamal tidak tahu bahwa aku pernah patah hati karenanya. Itu patah hati terakhir yang kualami, karena setelah itu aku memutuskan untuk tidak pernah mencintai siapa pun lagi. Di mata







