LOGIN
"Bagaimana kisah percintaanmu hari ini?"
Lampu sorot menyala terang di atas panggung, cahaya putih yang nyaris menyilaukan. Logo Heartline terpampang besar di layar LED belakang. Sebuah aplikasi kencan terbesar di Indonesia, dengan jutaan pengguna aktif dan klaim ribuan kisah cinta yang berhasil. Aruna berdiri di tengah panggung, gaun putihnya jatuh sempurna, senyum cerah menghiasi wajahnya seperti biasa.
Hampir satu jam ia mengisi talkshow itu sebagai wajah kampanye Heartline. Menjawab pertanyaan dengan ringan, melempar candaan kecil, dan menyelipkan kalimat-kalimat manis tentang cinta yang sehat. Tepuk tangan datang berulang kali.
Aruna terbiasa dengan sorotan. Dengan kepercayaan orang-orang yang menatapnya seolah ia benar-benar tahu segalanya.
"Untuk semua orang yang sudah habis sabar untuk dicinta," ucap Aruna sambil tersenyum, "Semoga cinta sesungguhnya akan rela memberimu dunia dan segalanya."
"Saya Aruna pamit undur diri dan selamat malam."
Tepuk tangan kembali menggema.
Lalu suasana berubah.
Bisik-bisik muncul, awalnya samar, lalu menyebar cepat. Beberapa orang menunduk bersamaan, layar ponsel mereka menyala serempak. Kamera-kamera mulai bergerak gelisah. Aruna menangkap perubahan itu, tapi tetap berdiri dengan postur tegak, senyum profesional masih terpasang.
Seorang penonton mengangkat tangan.
"Kak Aruna," suaranya terdengar jelas di ruangan yang mendadak sunyi, "barusan viral berita tentang Agasa yang tertangkap kamera sedang berkencan dengan perempuan lain."
Darah Aruna seperti berhenti mengalir.
"Bukannya Agasa sempat dirumorkan dekat dengan Kak Aruna?" lanjut suara itu, tanpa ragu. "Gimana tanggapan Kakak?"
Sudah dari beberapa tahun lalu Aruna memang dirumorkan dekat dengan Agasa karna keduanya sempat tertangkap kamera sedang bertemu disebuah coffee shop. Tapi baik Aruna dan pihak Agasa tidak pernah benar-benar mengkonfirmasi hubungan mereka.
Aruna sudah membuka mulut, tapi sebelum kata pertama keluar, pertanyaan lain menyusul—lebih tajam, lebih kejam.
"Dan sebagai pakar cinta... apa Kak Aruna juga bisa gagal dalam menjalin hubungan?"
Kalimat itu menghantam tepat di dada.
Untuk sepersekian detik, Aruna nyaris kehilangan keseimbangan. Tapi ia tersenyum. Senyum yang sudah ia latih bertahun-tahun. Senyum yang tidak pernah runtuh di depan publik.
Seorang kru naik ke atas panggung, berbisik cepat pada MC. Wajah sang pembawa acara menegang. Musik penutup diputar lebih cepat dari seharusnya.
"Acaranya kita sudahi sampai di sini," ucap MC tergesa. "Terima kasih untuk Kak Aruna."
Tepuk tangan terdengar, tidak serempak, tidak hangat. Dan begitu turun dari panggung, manajernya sudah menunggu. Wajahnya pucat, ponsel digenggam erat.
"Kak Runa," katanya cepat sambil menyerahkan ponsel itu, "internet heboh karena berita Kak Agasa."
Aruna meraih ponsel tersebut. Jarinya bergetar sesaat sebelum layar terbuka. Judul-judul berita memenuhi layar. Foto-foto yang terlalu jelas untuk dibantah. Agasa. Di dalam mobil. Dengan perempuan lain. Terlihat nyaman. Terlihat bebas.
Notifikasi pesan masuk tepat setelahnya.
Aruna, aku tahu aku salah. Tapi sepertinya aku nggak bisa lagi lanjutin hubungan kita.
Napas Aruna tertahan. Ia menekan nomor itu tanpa berpikir.
Tidak diangkat.
Sekali lagi. Tetap tidak diangkat.
"Angkat... tolong," gumamnya, nyaris tak terdengar.
Darahnya mendidih. Aruna meraih tasnya, lalu melangkah pergi. "Aku pergi dulu," katanya cepat. "Makasih buat hari ini."
Ia tidak menunggu jawaban.
Langkahnya cepat menuju parkiran basement, bergegas masuk ke dalam sedan pink metaliknya dengan fokus yang masih terbagi untuk menghubungi nomor Agasa.
Hari sudah menjelang malam ketika Aruna mengemudikan mobilnya keluar gedung. Tidak ada lagu. Tidak ada podcast. Tidak ada suara apa pun selain dengusan napasnya sendiri dan detak jantung yang berdentum terlalu keras.
Kepalanya penuh.
"Enam tahun pacaran," gumam Aruna, rahangnya mengeras. "Cuma segitu?"
Amarahnya mendidih tiba-tiba, naik tanpa aba-aba. Setir dibelokkan tajam ke kanan. Klakson panjang dari mobil belakang meraung, nyaris menyentuh telinganya. Aruna tidak peduli. Ia melaju lebih cepat, melewati satu persimpangan tanpa menoleh.
Tangannya bergerak cepat di dashboard, menekan nomor yang selama ini jarang ia hubungi, nomor yang ia simpan hanya untuk keadaan darurat.
Manager Agasa.
Panggilan diangkat cepat. Terlalu cepat.
"Kak Runa?" suara di seberang terdengar gugup, dengan situasi latar yang begitu bising ditelinga Aruna.
Membawa alis Aruna mengerut. "Dimana Agasa?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Kak Runa..." suara itu menurun, seperti orang yang sedang menimbang hidupnya sendiri.
Sementara Aruna tidak menunggu jawaban. Dari kebisingan di seberang, dari bass musik yang bocor, ia tahu kemana tujuannya.
Nocture. Sebuah bar mewah yang keberadaannya sengaja disembunyikan. Tidak ada papan nama besar. Hanya huruf kecil berkilau samar di balik dinding hitam. Tempat di mana rahasia-rahasia mahal disimpan rapi.
Aruna masuk dengan wajah tak bersahabat.
Gaun putihnya masih sama seperti di panggung tadi. Rambutnya masih rapi. Tapi sorot matanya berubah, lebih tajam dan dingin. Tidak ada senyum profesional di sana.
Ia melewati pelayan tanpa berhenti. Tidak peduli lirikan. Tidak peduli bisik-bisik. Tangga menuju lantai dua dinaikinya cepat. Kawasan VIP sunyi, hanya beberapa pintu tertutup dan satu ruangan yang pintunya setengah terbuka.
Itu ruangan Agasa.
Aruna menghentakkan kakinya. Lalu, tanpa ragu, ia meraih gagang pintu.
Pintu ruangan VIP itu terbanting keras, memecah keheningan yang sejak tadi terasa mahal dan tertata. Musik pelan berhenti mendadak. Gelas-gelas kristal bergetar di atas meja marmer.
Agasa ada di sana.
Duduk santai dengan jas terbuka, dasinya sedikit longgar, dan di sisi kanannya, perempuan yang wajahnya sama persis dengan foto yang beredar luas di dunia maya. Rambut panjang, gaun hitam, tawa yang terlalu dekat untuk disebut kebetulan.
Ruangan membeku.
Manager Agasa berdiri refleks, wajahnya pucat ketika ia mencoba melarang Aruna mendekat. "Kak Runa—"
Namun Aruna tidak berhenti. Langkahnya cepat, penuh amarah yang terkontrol. Ia menginjak kaki laki-laki itu keras hingga sang manager meringis dan terpaksa mundur, memberi jalan.
"Aruna, kamu tenang dulu," suara Agasa terdengar, berusaha bangkit dari duduknya.
Jawaban Aruna datang dalam bentuk ember kecil berisi es batu yang ia raih dari meja. Tanpa ragu, ia mengayunkan ember itu dan melemparkan seluruh isinya ke arah Agasa. Es dan air menghantam dada dan wajah lelaki itu, membuatnya terhuyung mundur dengan napas terputus.
Membuat perempuan di sampingnya menjerit dan bangkit dengan panik.
Aruna menyibakkan rambut panjangnya ke belakang. Dadanya naik turun cepat, tapi sorot matanya tajam, hidup, dan sama sekali tidak goyah.
"Aruna!" Agasa membentak, tangannya ia pergunakan untuk menyeka wajahnya.
"Apa?!" tantangnya ketika Agasa akhirnya berdiri dengan basah kuyup, sementara rahangnya mengeras menahan amarah. "Jangan salah paham," lanjut Aruna, suaranya dingin dan jelas. "Aku marah bukan karena kamu selingkuh atau mutusin aku gitu aja,"
Agasa terdiam.
"Aku marah karena kamu buang enam tahun hidup aku," ucap Aruna, menunjuk dadanya sendiri. "Enam tahun. Dan kamu akhiri semuanya lewat pesan singkat? Brengsek." Ia melirik perempuan itu sekilas. Senyum kecil, hampir ramah, terbit di bibirnya. "Dan kamu," katanya ringan, seolah sedang memberi ucapan perpisahan. "Good luck."
Tanpa menunggu reaksi, Aruna berbalik dan melangkah keluar ruangan, meninggalkan kekacauan yang ia ciptakan dengan kepala tegak dan langkah mantap.
Di lorong VIP, senyum lebarnya muncul, senyum orang yang baru saja meledakkan sesuatu dan tidak berniat membereskan puingnya.
Namun langkah itu terhenti saat tangan kasar Agasa menarik pergelangannya, memutar tubuh Aruna tajam hingga punggungnya hampir membentur dinding.
"Lepas!" desis Aruna, berusaha menarik tangannya.
"Kamu harus minta maaf!" bentak Agasa, menunjuk tubuhnya yang masih basah. "Lihat apa yang kamu lakukan ke aku!"
Ucapan itu membuat Aruna mendengus. Ia mendekat, jarak mereka tinggal beberapa senti. Senyumnya kecil, berbahaya. "Harusnya aku siram kamu pakai bensin," katanya tenang. "Burn in hell, Agasa."
Cengkeraman itu menguat. Aruna meringis, napasnya tercekat, hampir berteriak, hingga suara pintu di belakang Agasa terbuka.
Langkah kaki terdengar, membuat Agasa dan Aruna menoleh bersamaan.
Seorang lelaki dengan jas hitam sedikit berantakan dan dasi longgarnya mematung. Menatap Agasa, lalu beralih menatapnya. Dan kernyitan di dahinya muncul begitu maniknya seakan mengenali wajahnya dalam suasana remang.
"Nona Aruna? Bisa bicara sebentar?"
Kadang, kejadian buruk dan baik memang datang dalam satu waktu yang bersamaan. Seolah semesta memiliki caranya sendiri untuk menyeimbangkan segalanya, memberi sedikit kebahagiaan, lalu menyelipkan kegelisahan di sela-selanya. Di satu sisi, semuanya tampak berjalan sesuai rencana, bahkan nyaris sempurna. Namun di sisi lain, ada sesuatu yang diam-diam bergeser, membuat semuanya terasa rapuh jika disentuh terlalu dalam.Aruna berdiri di depan rumah itu, menatap bangunan besar yang pernah ia tinggalkan dengan langkah berat. Ingatan itu masih terlalu jelas. Bagaimana waktu itu ia melangkah pergi dengan dada sesak, menahan perasaan yang bahkan tak sempat ia akui sepenuhnya. Pintu itu tertutup di belakangnya, seolah menandai bahwa ia bukan bagian dari dunia itu.Namun sekarang, ia kembali.Dua koper besar berada di sampingnya, roda kecilnya berdecit pelan saat dua orang pengawal Atlas menyeretnya melewati halaman yang rapi dan terlalu sempurna untuk terlihat nyata.Langkahnya tidak lagi se
"Jadi, kalian sudah menjadi pasangan kekasih betulan, sekarang?"Suara itu muncul tiba-tiba dari ponsel Aruna, memecah keheningan yang masih menggantung setelah kejadian beberapa detik lalu. Nada bicaranya santai, bahkan cenderung ringan, tapi justru itu yang membuatnya terasa jauh lebih mengganggu.Sontak, mata Aruna membulat sempurna. Napasnya tercekat di tenggorokan, sementara dahinya mengernyit dalam kebingungan dan ketakutan yang datang bersamaan. Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia membuka panggilan—atau bagaimana bisa ada seseorang di ujung sana yang mendengar cukup banyak untuk menyimpulkan hal seperti itu.Dalam hitungan detik, Atlas menyadari perubahan ekspresi itu.Tanpa bertanya, tangannya bergerak cepat mengambil ponsel dari tangan Aruna yang masih kaku. Layarnya masih menyala, menampilkan nomor tak dikenal. Rahangnya mengeras saat ia langsung menempelkan ponsel itu ke telinganya."Jadi ini, Pak Atlas yang terkenal itu?"Nada suara di seberang terdengar penuh mi
Tak ada gerakan mundur dari Atlas setelah lima belas detik menempelkan bibirnya pada bibir Aruna.Lima belas detik yang terasa seperti lima belas menit. Limabelas detik di mana di luar sana, sebuah kamera paparazzi masih memantau, siap mencernakan apa pun yang mereka tangkap menjadi bahan pemuasan rasa ingin tahu publik.Kedua mata lelaki itu juga masih terbuka. Sama dengan miliknya.Dan itu yang membuat Aruna tidak bisa berpikir jernih. Mata Atlas tidak pernah sehitam ini, bukan dalam arti warna, melainkan dalam arti bobot. Seolah ada gravitasi tambahan yang tertarik di dalam kedua manik itu.Sorot lampu jalanan yang menembus kaca mobil memantul di iris hitam Atlas, menciptakan kilatan kecil yang membuat Aruna lupa bahwa di luar sana, reputasinya sedang dijadikan santapan.Awalnya hanya sebuah kecupan. Tapi Atlas tidak mundur.Dan detik-detik itu berubah dari sekadar akting menjadi sesuatu yang Aruna tidak punya nama untuknya.Aruna mengerjap.Seolah baru tersadar dari suatu, Aruna m
"Wow!"Suara Athar menggema di lapangan, diikuti pantulan bola tenis yang terakhir kali memantul di sisi lapangan Atlas sebelum akhirnya keluar garis. Skor di papan kecil di pinggir lapangan menunjukkan angka akhir set itu. Dalam permainan tenis, siapa yang lebih dulu mencapai enam poin dengan selisih minimal dua angka, dialah yang memenangkan set, dan kali ini, Athar berhasil mengamankan kemenangan itu dengan pukulan forehand yang tajam dan sulit dijangkau.Ia menurunkan raketnya dengan napas yang masih memburu, dada naik turun setelah rally panjang yang baru saja terjadi. Keringat membasahi pelipisnya, menetes hingga ke rahang, sementara senyum puas terukir jelas di wajahnya.Di seberangnya, Atlas berdiri dengan postur tetap tegap meski napasnya tak kalah berat. Ia memutar raket di tangannya sebentar sebelum akhirnya tersenyum tipis, senyum tipis khasnya yang jarang benar-benar terbuka.Keduanya berjalan mendekat ke net, lalu saling menepuk tangan dalam salaman singkat. Tak ada kat
Aruna tidak benar-benar tidur malam itu.Matanya memang sempat terpejam, tubuhnya sempat beristirahat, tapi pikirannya... tidak pernah benar-benar diam. Nama itu terus berputar di kepalanya, wajah itu terus muncul tanpa diminta, dan yang paling menyebalkan, cara Atlas bereaksi ketika nama itu disebut, terus terulang seperti potongan adegan yang tak bisa ia hentikan.Menyebalkan.Tapi juga... menyakitkan, dengan cara yang tidak ia duga.Aruna membalikkan tubuhnya di atas ranjang ketika matahari mulai muncul, menatap langit-langit kamar yang perlahan terang. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri.Semua orang punya masa lalu, kan?Bahkan dirinya juga punya.Ia dan Agasa... lebih dari setengah dekade bersama. Itu bukan waktu yang sebentar. Tapi sekarang? Ia bahkan tidak bisa lagi mengingat dengan jelas bagaimana rasanya mencintai lelaki itu. Yang tersisa hanya kesal, jengkel, dan sedikit rasa malas kalau namanya kembali muncul.Cepat-cepat ia menggeleng, seolah bi
Anindhita.Nama itu tidak pergi begitu saja dari kepala Aruna sejak makan malam tadi. Ia justru menetap, berputar pelan di pikirannya, seperti lagu yang terus terulang tanpa diminta. Bahkan ketika malam benar-benar turun dan ia sudah berada di kamarnya, nama itu masih terasa menggantung—mengusik, memancing rasa ingin tahu yang tidak bisa ia abaikan.Dengan gerakan cepat, Aruna menarik laptop ke pangkuannya. Cahaya layar langsung menerangi wajahnya di tengah ruangan yang sengaja ia biarkan gelap, hanya ditemani lampu tidur redup di sudut kamar. Dari luar, rintik hujan terdengar jatuh perlahan di kaca jendela, menciptakan suasana yang seharusnya menenangkan, tapi justru membuat pikirannya semakin penuh.Jarinyapun mulai bergerak.Ia mengetik nama itu di kolom pencarian berbagai media sosial satu per satu. Bahkan platform yang jarang ia buka. Namun hasilnya nihil. Terlalu banyak "Anindhita" di luar sana, dan tidak satu pun yang terasa... tepat."Gak mungkin cuma satu nama," gumamnya pel
Aruna membuka matanya perlahan ketika sesuatu yang hangat terasa menyentuh kepalanya.Gerakan itu lembut, seperti seseorang yang sedang mengusap rambutnya dengan hati-hati. Beberapa detik ia masih berada di antara sadar dan tidak, sampai akhirnya pandangannya mulai fokus pada langit-langit kamar ya
Hari terakhir seharusnya menjadi hari penutup yang tenang.Sebagian besar konten untuk review fasilitas resor sudah selesai direkam sejak kemarin. Mulai dari vila, restoran tepi pantai, hingga spa couple yang cukup menguras energi Aruna. Hari ini jadwalnya jauh lebih ringan. Ia hanya perlu melakuka
Malam datang lebih cepat di pulau itu.Setelah review terakhir untuk fasilitas couple spa selesai, suasana vila perlahan kembali tenang. Kru dan Kelly sudah kembali ke penginapan mereka masing-masing, meninggalkan area vila yang terasa jauh lebih sunyi dibandingkan siang tadi.Aruna kini duduk di k
Aruna tidak pernah menyangka jika hari yang disebut sebagai “hari menikmati fasilitas resort” ternyata tetap terasa seperti bagian dari pekerjaan.Pagi itu dimulai dengan sarapan di tepi pantai. Meja kecil dari kayu putih telah ditata tepat di atas pasir yang masih dingin oleh sisa malam. Payung pa







