Share

Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!
Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!
Author: sidonsky

1| Pakar Cinta

Author: sidonsky
last update publish date: 2026-03-05 01:09:25

"Bagaimana kisah percintaanmu hari ini?"

Lampu sorot menyala terang di atas panggung, cahaya putih yang nyaris menyilaukan. Logo Heartline terpampang besar di layar LED belakang. Sebuah aplikasi kencan terbesar di Indonesia, dengan jutaan pengguna aktif dan klaim ribuan kisah cinta yang berhasil. Aruna berdiri di tengah panggung, gaun putihnya jatuh sempurna, senyum cerah menghiasi wajahnya seperti biasa.

Hampir satu jam ia mengisi talkshow itu sebagai wajah kampanye Heartline. Menjawab pertanyaan dengan ringan, melempar candaan kecil, dan menyelipkan kalimat-kalimat manis tentang cinta yang sehat. Tepuk tangan datang berulang kali. 

Aruna terbiasa dengan sorotan. Dengan kepercayaan orang-orang yang menatapnya seolah ia benar-benar tahu segalanya.

"Untuk semua orang yang sudah habis sabar untuk dicinta," ucap Aruna sambil tersenyum, "Semoga cinta sesungguhnya akan rela memberimu dunia dan segalanya."

"Saya Aruna pamit undur diri dan selamat malam."

Tepuk tangan kembali menggema.

Lalu suasana berubah.

Bisik-bisik muncul, awalnya samar, lalu menyebar cepat. Beberapa orang menunduk bersamaan, layar ponsel mereka menyala serempak. Kamera-kamera mulai bergerak gelisah. Aruna menangkap perubahan itu, tapi tetap berdiri dengan postur tegak, senyum profesional masih terpasang.

Seorang penonton mengangkat tangan.

"Kak Aruna," suaranya terdengar jelas di ruangan yang mendadak sunyi, "barusan viral berita tentang Agasa yang tertangkap kamera sedang berkencan dengan perempuan lain."

Darah Aruna seperti berhenti mengalir.

"Bukannya Agasa sempat dirumorkan dekat dengan Kak Aruna?" lanjut suara itu, tanpa ragu. "Gimana tanggapan Kakak?"

Sudah dari beberapa tahun lalu Aruna memang dirumorkan dekat dengan Agasa karna keduanya sempat tertangkap kamera sedang bertemu disebuah coffee shop. Tapi baik Aruna dan pihak Agasa tidak pernah benar-benar mengkonfirmasi hubungan mereka.

Aruna sudah membuka mulut, tapi sebelum kata pertama keluar, pertanyaan lain menyusul—lebih tajam, lebih kejam.

"Dan sebagai pakar cinta... apa Kak Aruna juga bisa gagal dalam menjalin hubungan?"

Kalimat itu menghantam tepat di dada.

Untuk sepersekian detik, Aruna nyaris kehilangan keseimbangan. Tapi ia tersenyum. Senyum yang sudah ia latih bertahun-tahun. Senyum yang tidak pernah runtuh di depan publik.

Seorang kru naik ke atas panggung, berbisik cepat pada MC. Wajah sang pembawa acara menegang. Musik penutup diputar lebih cepat dari seharusnya.

"Acaranya kita sudahi sampai di sini," ucap MC tergesa. "Terima kasih untuk Kak Aruna."

Tepuk tangan terdengar, tidak serempak, tidak hangat. Dan begitu turun dari panggung, manajernya sudah menunggu. Wajahnya pucat, ponsel digenggam erat.

"Kak Runa," katanya cepat sambil menyerahkan ponsel itu, "internet heboh karena berita Kak Agasa."

Aruna meraih ponsel tersebut. Jarinya bergetar sesaat sebelum layar terbuka. Judul-judul berita memenuhi layar. Foto-foto yang terlalu jelas untuk dibantah. Agasa. Di dalam mobil. Dengan perempuan lain. Terlihat nyaman. Terlihat bebas.

Notifikasi pesan masuk tepat setelahnya.

Aruna, aku tahu aku salah. Tapi sepertinya aku nggak bisa lagi lanjutin hubungan kita.

Napas Aruna tertahan. Ia menekan nomor itu tanpa berpikir.

Tidak diangkat.

Sekali lagi. Tetap tidak diangkat.

"Angkat... tolong," gumamnya, nyaris tak terdengar.

Darahnya mendidih. Aruna meraih tasnya, lalu melangkah pergi. "Aku pergi dulu," katanya cepat. "Makasih buat hari ini."

Ia tidak menunggu jawaban.

Langkahnya cepat menuju parkiran basement, bergegas masuk ke dalam sedan pink metaliknya dengan fokus yang masih terbagi untuk menghubungi nomor Agasa. 

Hari sudah menjelang malam ketika Aruna mengemudikan mobilnya keluar gedung. Tidak ada lagu. Tidak ada podcast. Tidak ada suara apa pun selain dengusan napasnya sendiri dan detak jantung yang berdentum terlalu keras.

Kepalanya penuh.

"Enam tahun pacaran," gumam Aruna, rahangnya mengeras. "Cuma segitu?"

Amarahnya mendidih tiba-tiba, naik tanpa aba-aba. Setir dibelokkan tajam ke kanan. Klakson panjang dari mobil belakang meraung, nyaris menyentuh telinganya. Aruna tidak peduli. Ia melaju lebih cepat, melewati satu persimpangan tanpa menoleh.

Tangannya bergerak cepat di dashboard, menekan nomor yang selama ini jarang ia hubungi, nomor yang ia simpan hanya untuk keadaan darurat.

Manager Agasa.

Panggilan diangkat cepat. Terlalu cepat.

"Kak Runa?" suara di seberang terdengar gugup, dengan situasi latar yang begitu bising ditelinga Aruna.

Membawa alis Aruna mengerut. "Dimana Agasa?" tanyanya tanpa basa-basi.

"Kak Runa..." suara itu menurun, seperti orang yang sedang menimbang hidupnya sendiri.

Sementara Aruna tidak menunggu jawaban. Dari kebisingan di seberang, dari bass musik yang bocor, ia tahu kemana tujuannya.

NoctureSebuah bar mewah yang keberadaannya sengaja disembunyikan. Tidak ada papan nama besar. Hanya huruf kecil berkilau samar di balik dinding hitam. Tempat di mana rahasia-rahasia mahal disimpan rapi.

Aruna masuk dengan wajah tak bersahabat.

Gaun putihnya masih sama seperti di panggung tadi. Rambutnya masih rapi. Tapi sorot matanya berubah, lebih tajam dan dingin. Tidak ada senyum profesional di sana.

Ia melewati pelayan tanpa berhenti. Tidak peduli lirikan. Tidak peduli bisik-bisik. Tangga menuju lantai dua dinaikinya cepat. Kawasan VIP sunyi, hanya beberapa pintu tertutup dan satu ruangan yang pintunya setengah terbuka.

Itu ruangan Agasa.

Aruna menghentakkan kakinya. Lalu, tanpa ragu, ia meraih gagang pintu.

Pintu ruangan VIP itu terbanting keras, memecah keheningan yang sejak tadi terasa mahal dan tertata. Musik pelan berhenti mendadak. Gelas-gelas kristal bergetar di atas meja marmer.

Agasa ada di sana.

Duduk santai dengan jas terbuka, dasinya sedikit longgar, dan di sisi kanannya, perempuan yang wajahnya sama persis dengan foto yang beredar luas di dunia maya. Rambut panjang, gaun hitam, tawa yang terlalu dekat untuk disebut kebetulan.

Ruangan membeku.

Manager Agasa berdiri refleks, wajahnya pucat ketika ia mencoba melarang Aruna mendekat. "Kak Runa—"

Namun Aruna tidak berhenti. Langkahnya cepat, penuh amarah yang terkontrol. Ia menginjak kaki laki-laki itu keras hingga sang manager meringis dan terpaksa mundur, memberi jalan.

"Aruna, kamu tenang dulu," suara Agasa terdengar, berusaha bangkit dari duduknya.

Jawaban Aruna datang dalam bentuk ember kecil berisi es batu yang ia raih dari meja. Tanpa ragu, ia mengayunkan ember itu dan melemparkan seluruh isinya ke arah Agasa. Es dan air menghantam dada dan wajah lelaki itu, membuatnya terhuyung mundur dengan napas terputus.

Membuat perempuan di sampingnya menjerit dan bangkit dengan panik.

Aruna menyibakkan rambut panjangnya ke belakang. Dadanya naik turun cepat, tapi sorot matanya tajam, hidup, dan sama sekali tidak goyah.

"Aruna!" Agasa membentak, tangannya ia pergunakan untuk menyeka wajahnya.

"Apa?!" tantangnya ketika Agasa akhirnya berdiri dengan basah kuyup, sementara rahangnya mengeras menahan amarah. "Jangan salah paham," lanjut Aruna, suaranya dingin dan jelas. "Aku marah bukan karena kamu selingkuh atau mutusin aku gitu aja,"

Agasa terdiam.

"Aku marah karena kamu buang enam tahun hidup aku," ucap Aruna, menunjuk dadanya sendiri. "Enam tahun. Dan kamu akhiri semuanya lewat pesan singkat? Brengsek." Ia melirik perempuan itu sekilas. Senyum kecil, hampir ramah, terbit di bibirnya. "Dan kamu," katanya ringan, seolah sedang memberi ucapan perpisahan. "Good luck."

Tanpa menunggu reaksi, Aruna berbalik dan melangkah keluar ruangan, meninggalkan kekacauan yang ia ciptakan dengan kepala tegak dan langkah mantap.

Di lorong VIP, senyum lebarnya muncul, senyum orang yang baru saja meledakkan sesuatu dan tidak berniat membereskan puingnya.

Namun langkah itu terhenti saat tangan kasar Agasa menarik pergelangannya, memutar tubuh Aruna tajam hingga punggungnya hampir membentur dinding.

"Lepas!" desis Aruna, berusaha menarik tangannya.

"Kamu harus minta maaf!" bentak Agasa, menunjuk tubuhnya yang masih basah. "Lihat apa yang kamu lakukan ke aku!"

Ucapan itu membuat Aruna mendengus. Ia mendekat, jarak mereka tinggal beberapa senti. Senyumnya kecil, berbahaya. "Harusnya aku siram kamu pakai bensin," katanya tenang. "Burn in hell, Agasa."

Cengkeraman itu menguat. Aruna meringis, napasnya tercekat, hampir berteriak, hingga suara pintu di belakang Agasa terbuka.

Langkah kaki terdengar, membuat Agasa dan Aruna menoleh bersamaan.

Seorang lelaki dengan jas hitam sedikit berantakan dan dasi longgarnya mematung. Menatap Agasa, lalu beralih menatapnya. Dan kernyitan di dahinya muncul begitu maniknya seakan mengenali wajahnya dalam suasana remang.

"Nona Aruna? Bisa bicara sebentar?"



Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   184| Downfall Era

    Butuh waktu cukup lama sampai Aruna benar-benar tenang. Semua tirai rumah ditutup rapat, suara kerumunan di luar memang masih terdengar sesekali, tetapi setidaknya ia tidak perlu melihat mereka secara langsung. Kini Aruna duduk meringkuk di sofa ruang tamu, di tangannya terdapat secangkir cokelat hangat yang dibuatkan Amanda, sementara ponselnya masih menempel di telinga."Iya, Tante Amanda di sini," ucap Aruna pelan ke ponselnya.Suara Atlas terdengar dari seberang, nada bicaranya terdengar lelah tapi tetap berusaha tenang."Mas Atlas nggak usah khawatir," kata Aruna lagi, melirik Amanda yang sedang duduk di kursi sebelah. Wanita itu membalas dengan senyum kecil. "Iya. Hati-hati."Beberapa detik kemudian panggilan terputus. Aruna meletakkan ponselnya di atas meja kaca. Amanda lalu mendorong secangkir teh hangat ke depan dirinya sendiri sebelum kembali menatap Aruna."Jadi," katanya pelan, "kontrak itu bohong?"Pertanyaan tembakan itu membuat Aruna menunduk, dengan jemarinya yang sali

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   183| Pelukan Dalam Kegelapan

    Aruna tidak tidur malam itu. Sejak pesan anonim itu kembali masuk ke ponselnya, ia hanya meringkuk di atas ranjang dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Lampu kamar sudah lama dimatikan, menyisakan cahaya temaram dari layar ponsel yang sejak tadi tak pernah benar-benar ia lepaskan dari genggamannya. Matanya terus kembali pada kalimat yang sama.Membiarkan Atlas tenggelam di kapalnya sendiri. Kalimat itu terasa seperti pisau yang perlahan menggores bagian paling sensitif dalam hatinya, karena jauh di dalam dirinya, di tempat yang paling enggan ia akui, Aruna tahu kenapa kalimat itu begitu menyakitkan. Karena sebagian dirinya takut itu benar.Sejak kontrak mereka bocor, semua hal buruk seolah datang bertubi-tubi. Nama Atlas diseret ke mana-mana, Heartline kehilangan kepercayaan publik, investor mulai mempertanyakan kredibilitas perusahaan, saham bergerak tidak stabil, dan media menyerang tanpa henti. Dan dirinya? Dirinya hanya menjadi pusat badai itu. Aruna memejamkan mata

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   182| Limbo

    Malam sudah turun ketika Aruna akhirnya sampai di kediamannya. Tubuhnya terasa lelah, bukan hanya karena jadwal yang padat, tetapi juga karena semua hal yang terjadi hari ini seperti menghantamnya tanpa jeda.Van yang membawanya berhenti perlahan di depan rumah. Pintu otomatis bergeser terbuka dengan suara lirih, dan Aruna menghela napas panjang sebelum melangkah turun.Namun baru beberapa langkah menjauh dari mobil, sorot lampu terang tiba-tiba menyapu halaman rumahnya dari arah belakang. Aruna refleks memutar tubuh, dan sebuah Lamborghini hitam berhenti tepat beberapa meter di belakang van miliknya. Jantungnya berdegup.Pintu mobil sport itu terbuka, dan Atlas turun dari sana. Dengan jas gelap yang masih melekat rapi di tubuhnya, wajah tegang, serta langkah cepat yang sama sekali tidak memberikan kesempatan bagi Aruna untuk bereaksi."Mas Atlas?"Belum sempat Aruna mengucapkan apa pun lagi, Atlas sudah sampai di hadapannya. Lelaki itu langsung menarik tubuh Aruna ke dalam pelukan, e

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   181| Rumah yang Runtuh

    Seseorang telah mengubah isi kontrak mereka, dan fakta itu membuat keadaan yang semula buruk berubah menjadi jauh lebih rumit.Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, internet seperti kehilangan akal sehatnya. Portal berita, akun gosip, kanal ekonomi, hingga forum-forum diskusi mulai membahas hal yang sama. Nama Atlas Wicaksono dan Aruna muncul di mana-mana. Potongan kontrak yang telah dimanipulasi itu tersebar luas tanpa ada yang benar-benar tahu mana bagian asli dan mana yang telah diubah.Yang mereka tahu hanya satu. Hubungan Atlas dan Aruna berawal dari sebuah kontrak. Dan itu sudah cukup untuk membuat publik menghakimi.Aruna yang selama ini dikenal sebagai pembawa acara podcast Ruang Rasa, perempuan yang memberi nasihat tentang hubungan, cinta, komunikasi, dan komitmen, kini justru menjadi sasaran utama. Pakar cinta gadungan. Pembohong. Social climber. Perempuan yang memanfaatkan Atlas demi popularitas. Semua label itu dilemparkan tanpa ampun.Satu per satu brand mulai men

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   180| Guilty as Sin

    [EXCLUSIVE: KONTRAK PERJANJIAN HUBUNGAN ATLAS WICAKSONO & ARUNA BOCOR]Hubungan yang selama ini dianggap sebagai kisah cinta paling sempurna di kalangan publik mendadak menjadi sorotan setelah sebuah dokumen yang diduga merupakan kontrak hubungan antara Atlas Wicaksono dan Aruna tersebar luas di internet. Dokumen tersebut memperlihatkan sejumlah pasal yang mengatur hubungan keduanya secara rinci, mulai dari kewajiban tampil bersama di depan publik hingga kesepakatan finansial yang diduga diberikan Atlas kepada Aruna. Kebocoran ini langsung memicu pertanyaan besar dari masyarakat. Benarkah hubungan yang selama ini dipertontonkan hanyalah sebuah kontrak? Apakah semua kemesraan yang ditampilkan selama ini hanya bagian dari kesepakatan bisnis?Tak hanya itu, kredibilitas Aruna sebagai pakar cinta dan pembawa acara Ruang Rasa ikut dipertanyakan. Banyak pihak menilai seseorang yang membangun citra hubungan ideal namun ternyata menjalani hubungan kontrak dianggap tidak layak memberikan na

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   179| Malam Petaka

    Meskipun kejadian di rumah Camelia sempat meninggalkan bekas di pipinya, satu kalimat dari Atlas berhasil menutupi semuanya."I love her."Kalimat itu terus terngiang di kepala Aruna sejak semalam. Bahkan ketika pagi berganti siang, lalu siang berubah menjadi malam dan ia harus menghadiri acara peluncuran fitur terbaru Heartline sebagai salah satu pembicara utama, senyum itu masih bertahan di bibirnya.Hari ini Aruna mengenakan gaun hitam elegan dengan potongan punggung terbuka yang memperlihatkan kulit putih mulusnya. Rambut panjangnya ditata rapi dalam sanggul rendah modern, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya dengan sempurna. Berlian yang melingkar di jemarinya memantulkan cahaya lampu ballroom setiap kali ia bergerak.Ballroom khusus yang disewa Heartline malam itu berada di lantai tertinggi sebuah hotel bintang lima. Megah, eksklusif, dan dipenuhi tamu-tamu yang bahkan sebagian besar tidak pernah muncul di media. Para pengusaha, investor, petinggi perusahaan tekno

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status