Share

2| Penawaran Menarik

Penulis: sidonsky
last update Terakhir Diperbarui: 2026-03-05 01:10:36

“Nona Aruna? Bisa bicara sebentar?"

Alis Aruna mengernyit, matanya menyipit berusaha mengenali sosok lelaki itu dalam cahaya lorong yang redup. Namun sebelum Aruna sempat berkata apa pun, pandangan lelaki itu sudah lebih dahulu turun ke cengkeraman Agasa di pergelangannya. 

Begitu menyadari ada orang lain yang melihat, Agasa refleks melepaskan tangannya, wajahnya langsung berpaling, ekspresi yang selalu ia pasang setiap reputasi baiknya terancam. Tanpa sepatah kata, ia berlalu pergi.

Membiarkan lelaki yang tingginya satu kepala di atas Aruna itu melangkah mendekat.

“Maaf. S-siapa?” tanya Aruna waspada.

Lelaki itu menjulurkan tangan. “Saya Atlas.”

Aruna masih mematung. “A… Atlas?” Namanya terdengar asing di telinganya, meski seharusnya tidak.

“Pemilik Heartline.”

Mata Aruna membulat. Ia segera menjabat tangan itu. “Ah, Pak Atlas. Maaf.” Tangannya cepat ditarik kembali. “Terima kasih sebelumnya karena keributan ini. Saya permisi—”

“Saya bisa bantu kamu,” potong Atlas tenang, “saya bisa bantu kamu melewati masalah yang sedang terjadi.”

Aruna refleks berbalik. Keningnya bahkan bertaut. “Maksud Pak Atlas?”

“Mau melanjutkan perbincangan ini?” Atlas memberi isyarat ke ruangan di belakangnya—tak jauh dari parkiran.

Membuat Aruna jelas ragu. Nalurinya ingin menolak, tapi kakinya tetap bergerak. Ia akhirnya masuk ke ruangan besar itu, ruangan yang terasa sunyi, hanya diisi mereka berdua dan meja marmer di tengah dengan beberapa botol minuman beralkohol yang belum tersentuh. 

Atlas berjalan lebih dulu, langkahnya tenang dan terukur, seolah ruangan itu memang miliknya sejak awal.

“Silakan duduk.”

Aruna duduk di salah satu sisi sofa, punggungnya kaku. Atlas duduk berseberangan. Jarak di antara mereka cukup dekat untuk terasa intim, cukup jauh untuk tetap dingin. Dengan gerakan pelan, Atlas mengambil sebuah map tipis dan meletakkannya di hadapan Aruna. Bunyi kertas menyentuh marmer terdengar jelas.

“Saya tahu hubungan panjang kamu dengan Agasa,” ujar Atlas. “Aktor itu.”

Refleks, Aruna meraih map tersebut. Jemarinya gemetar saat membukanya. Data pribadi. Kronologi. Catatan waktu. Halaman berikutnya membuat napasnya tertahan. Foto-foto dirinya dan Agasa di restoran privat, duduk berhadapan, ekspresi yang hanya ia tunjukkan ketika merasa aman. 

Foto lain memperlihatkan mereka keluar lewat pintu samping, mengenakan topi dan masker. Sudut pengambilan gambarnya terlalu dekat. Terlalu rapi.

“Bagaimana bisa?” suara Aruna tercekat. “Selama enam tahun… cuma ada satu rumor yang pernah muncul.”

Sementara Atlas menyandarkan punggungnya ke sofa. “Sebelum saya merekrut kamu sebagai brand face Heartline, saya menyelidiki latar belakang kamu,” jawab Atlas tenang. “Dan justru karna hubungan itu, saya percaya kamu bisa mewakili aplikasi ini. Stabil, konsisten dan... kredibel."

Aruna mengerjap, mencoba menyusun potongan informasi di kepalanya. “Namun,” lanjut Atlas sambil mengangguk ke arah map, “saya juga tahu hubungan itu berada di ujung tanduk. Lihat halaman terakhir.”

Tanpa ragu, Aruna membalik kertas-kertas itu hingga berhenti. Foto Agasa di dalam mobil dengan perempuan lain menyambutnya, foto yang sama dengan yang beredar beberapa menit lalu. Foto yang menggemparkan media sosial, yang juga menyangkut pautkan dirinya.

Atlas mengubah posisi, lebih condong ke depan, bahkan sikunya bertumpu di lutut. “Saya mau memberikan jalan keluar.”

“Jalan keluar?” Aruna mengulang pelan.

Atlas mengangguk samar. "Untuk menyelamatkan citra kamu di mata publik." Ia berhenti sejenak, lalu mengucapkan kalimat berikutnya dengan nada datar, seolah membicarakan kontrak biasa. "Menjalin hubungan kontrak dengan saya."

Dunia Aruna seolah berhenti bergerak.

 Bibirnya terbuka sedikit. Matanya mengerjap berulang kali, mencoba memastikan pendengarannya tidak keliru. Kepalanya terasa ringan, seperti orang yang baru bangun dari mimpi buruk atau justru sedang jatuh ke dalamnya.

"Pak Atlas..." suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. "Maksudnya?" 

Atlas tersenyum tipis. Bukan senyum hangat. Lebih seperti seseorang yang sudah memperkirakan reaksi itu sejak awal. Ia bersandar kembali ke punggung sofa.

"Kabar mengenai mantan kekasih kamu dan wanita dalam foto itu akan naik resmi ke media besok," katanya. "Dan agensinya akan membenarkan rumor pacaran itu, bahkan mengatakan kalau hubungan keduanya sudah lumayan lama." 

Aruna menelan ludah.

"Lalu setelah itu?" Atlas menatapnya lurus. "Bagaimana dengan rumor tentang kamu sebelumnya? Kamu mau membuat publik tidak percaya lagi dengan kredibilitas kamu sebagai pakar cinta?"

Tangan Aruna gemetar di pangkuannya. “Lalu… apa keuntungan yang Pak Atlas dapat dari semua ini?”

Atlas tidak langsung menjawab. Ia mengeluarkan ponsel dari saku jasnya dan meletakkannya di meja. Layar menyala, menampilkan grafik statistik penurunan pengguna aplikasi Heartline pada peluncuran fitur terbarunya.

"Publik mulai meragukan," ujar Atlas. "Pemilik aplikasi kencan yang tidak pernah terlihat memiliki pasangan dianggap tidak kredibel." Ia menatap Aruna lagi. "Anggap ini solusi dua arah. Saya membantu kamu. Kamu membantu saya."

Keheningan kembali menyelimuti ruangan. 

Aruna terdiam. 

Pikirannya berputar, beradu antara logika dan rasa takut. "Pikirkan," kata Atlas akhirnya, "Beri saya jawaban dalam tiga hari." 

Dan untuk pertama kalinya sejak malam itu, Aruna menyadari, ia sedang berdiri di persimpangan yang tak bisa ia hindari.

Ia bahkan masih tak berkutik saat sebuah kartu nama disodorkan ke arahnya. Permukaannya mengilap, sederhana, tertulis Atlas Wicaksono, dengan titel CEO Heartline

Tangannya ragu sepersekian detik sebelum akhirnya meraih kartu itu. Dingin. Berat. Seolah membawa konsekuensi yang belum sepenuhnya ia pahami. Aruna bangkit dengan langkah yang terasa asing di tubuhnya sendiri, seperti berjalan dalam mimpi, lalu keluar dari ruangan itu perlahan.

Lorong bar menyambutnya dengan cahaya temaram dan suara musik yang kembali terasa menyesakkan. 

Dan di sanalah ia melihatnya lagi. Agasa. Tengah tertawa rendah, tubuhnya condong terlalu dekat pada perempuan itu. Tangan lelaki itu melingkar di pinggang sang perempuan, bibir mereka saling bertemu tanpa ragu, tanpa rasa bersalah. 

Sontak, mata Aruna membulat. Dadanya mengeras. Amarah yang sempat tenggelam kini meledak lagi, mendidih, dan kembali membakar akal sehatnya.

Jarinya meremas kartu nama Atlas hingga tepinya menekuk. Tanpa berpikir panjang, Aruna berbalik. Langkahnya cepat, napasnya memburu saat ia kembali mendorong pintu ruangan itu. Ruangan dimana Atlas berada.

Membuat Atlas yang baru saja mengangkat gelas minumannya ketika Aruna muncul lagi di hadapannya. Ia meletakkannya kembali, jelas terkejut melihat perempuan itu berdiri di sana dengan mata menyala.

"Gak perlu," Aruna bersuara dengan napas naik turunnya.

“Kamu… menolak?” tanyanya, nada suaranya tetap tenang, meski alisnya sedikit terangkat.

Tentu, Aruna menggeleng tegas.

“Gak perlu waktu tiga hari,” katanya cepat, emosinya kini sepenuhnya mengambil alih. “Hubungan kontrak itu, saya setuju.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Swipe Right for Love   8| Langkah Kaki

    Rekaman Ruang Rasa selesai lebih malam dari biasanya.Penayangannya diperpanjang menjadi tiga jam sejak episode terakhir meledak di media sosial, dan malam itu Aruna baru keluar dari studio mendekati pukul sepuluh. Tubuhnya terasa lelah dengan cara yang aneh—bukan karena pekerjaan, melainkan karena pikirannya terus berjalan sejak pesan anonim itu muncul.Kelly sudah pulang lebih dulu. Managernya itu harus menyiapkan jadwal Aruna untuk dua hari ke depan, jadi mereka berpisah sebelum Aruna turun ke basement.Lift berhenti dengan bunyi ding pelan.Ketika pintu terbuka, udara dingin parkiran basement langsung menyambutnya. Lampu-lampu neon memantulkan cahaya pucat ke deretan mobil yang tersusun rapi. Hampir tidak ada orang lain di sana. Hanya suara langkah Aruna yang menggema tipis di antara pilar-pilar beton.Ia berjalan menuju mobilnya sambil menggenggam tas lebih erat dari biasanya.Mungkin hanya perasaan.Tapi sejak pesan anonim itu muncul, hal-hal kecil terasa berbeda.Aruna membuka

  • Swipe Right for Love   7| Pesan Anonim

    Satu minggu berlalu sejak Aruna menyebut nama Atlas di hadapan publik.Dan dunia tampak… baik-baik saja.Tidak ada kejatuhan lanjutan. Tidak ada pembatalan kerja sama. Tidak ada kemarahan massal seperti yang ia khawatirkan diam-diam. Justru sebaliknya, angka pengikutnya bergerak naik perlahan, lalu stabil, lalu melonjak lagi. Setiap pagi, Aruna membuka ponselnya dengan perasaan waspada yang kian menipis. Grafik yang ia lihat selalu mengarah ke atas. Komentar yang dulu bernada skeptis kini berubah menjadi dukungan, bahkan kekaguman.Beberapa brand yang sempat menghilang mulai mengirim surel dengan bahasa yang terlalu ramah. Undangan acara berdatangan, lebih banyak dari biasanya. Ada sesuatu yang kembali percaya padanya—bukan hanya sebagai pelatih kencan, tapi sebagai perempuan yang dianggap berhasil menjalani hidupnya sendiri.Media ikut membantu membentuk narasi itu.Aruna dan Atlas disebut sebagai pasangan dewasa. Rasional. Tidak berisik. Tidak menjual kemesraan. Sebuah contoh hubung

  • Swipe Right for Love   6| Ruang Rasa

    Aruna sempat berpikir ucapan Atlas pagi tadi hanyalah kalimat formal yang diucapkan tanpa makna lebih."Setelah ini, keadaan akan semakin ramai."Baginya itu terdengar seperti peringatan generik dari seseorang yang hidupnya selalu dikelilingi perhatian. Ia tidak pernah benar-benar membayangkan bahwa kata ramai itu akan berarti kerumunan kamera, mikrofon, dan mata-mata asing yang menuntut jawabannya bahkan sebelum ia sempat menarik napas.Pagi itu, Aruna sudah mengabari Kelly bahwa ia akan pergi ke kantor radio seorang diri. Tidak perlu diantar, tidak perlu ditemani. Jadwalnya padat dan ia hanya ingin bergerak cepat tanpa banyak suara di sekelilingnya. Ia sempat pulang ke rumah sebentar, mandi, mengganti pakaian, merapikan rambut, lalu langsung bergegas pergi lagi. Semua terasa biasa. Normal. Seolah hidupnya masih berada di jalur yang ia kenal.Namun seluruh pemahaman itu runtuh begitu sedan pink miliknya melambat di depan gedung tua tempat kantor radio itu berdiri.Aruna mengerutkan

  • Swipe Right for Love   5| Calon Mertua

    Aruna berdiri di depan cermin kamar mandi milik Atlas, menatap pantulan dirinya dengan sorot mata yang masih sedikit asing. Ia langsung pamit ke kamar mandi milik Atlas sebelum mamanya menginterogasi kedua kali.Kepala sudah tidak seberat sebelumnya, meski sisa-sisa pening masih bersarang samar di pelipis. Ia merapikan kerah kemeja putih yang masih membalut tubuhnya, kemeja milik Atlas. Ukurannya jelas terlalu besar, bahunya jatuh longgar, lengannya ia gulung sampai siku agar tidak menutup telapak tangan.Celana yang ia kenakan adalah celana semalam yang ia temukan tergantung rapi di kamar mandi luas itu. Masih layak pakai, meski bau sabun mahal bercampur samar dengan aroma khas rumah Atlas. Sementara blus miliknya sudah mustahil diselamatkan.Ia memilih tidak memikirkan ke mana benda itu berakhir.Tas kecilnya ia bongkar di atas meja wastafel marmer. Tidak banyak yang bisa diharapkan dari sana. Tidak ada bedak, tidak ada lipstik. Hanya lip balm polos yang ia temukan di dasar tas. Ar

  • Swipe Right for Love   4| Mabuk Versi Aruna

    Kepala Aruna berdenyut ketika ia terbangun.Bukan sakit yang tajam, melainkan berat, menekan dari dalam seperti ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Ia mengerjap perlahan sambil mengangkat tangan ke pelipis, mengusapnya dengan gerakan kecil yang ragu. Tubuhnya terasa pegal, otot-ototnya kaku, seolah ia tidur terlalu lama di posisi yang salah.Saat ia mencoba bangkit, telapak tangannya menyentuh permukaan keras dan dingin.Aruna terhenti.Ia duduk, menarik napas pendek, baru menyadari bahwa ia tidak berada di atas kasur. Lantai marmer menyentuh kulitnya, dingin dan nyata. Setengah tubuhnya tertutup selimut tebal berwarna gelap, sementara sebuah bantal abu-abu tergeletak di samping pahanya.Ia menoleh pelan.Kamar itu luas, terlalu luas untuk terasa akrab. Dindingnya didominasi warna abu dan hitam, bersih tanpa ornamen berlebihan, dengan pencahayaan temaram yang membuat segalanya tampak rapi sekaligus dingin. Tidak ada foto, tidak ada hiasan personal, hanya garis-garis tegas dan kesa

  • Swipe Right for Love   3| Skandal

    Aruna tahu ia sudah gila. Bahkan sebelum benar-benar memahami siapa sosok Atlas Wicaksono, ia sudah mengangguk dan menyetujui ajakan menjalin hubungan palsu itu. Tanpa kontrak tertulis, tanpa jaminan apa pun, hanya bermodalkan logika rapuh yang ia yakinkan sendiri sebagai keputusan paling rasional di tengah kekacauan.Dan tepat saat Agasa membenarkan rumor kencannya, berita tentang Aruna dan Atlas justru meledak lebih besar.CEO HEARTLINE, ATLAS WICAKSONO, MENGUMUMKAN HUBUNGANNYA DENGAN ARUNA—BEAUTY INFLUENCER DAN PAKAR CINTA.Dari situlah Aruna baru benar-benar paham. Atlas bukan sekadar pemilik aplikasi kencan. Ia adalah pengusaha muda terkaya di negeri ini, anak tunggal konglomerat berlian, figur eksklusif yang nyaris tak pernah tersentuh gosip. Publik menyukai kisah mereka, cerita cinta tak terduga antara lelaki dingin dan perempuan yang memahami perasaan manusia. Dan tentu saja, berita itu berhasil menutup rapat rumor tentang Aruna dengan Agasa yang pernah muncul.Lampu indi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status