ログイン"Ada yang perlu saya bicarakan."
Alis Aruna mengernyit, matanya menyipit berusaha mengenali sosok lelaki itu dalam cahaya lorong yang redup. Namun sebelum Aruna sempat berkata apa pun, pandangan lelaki itu sudah lebih dahulu turun ke cengkeraman Agasa di pergelangannya.
Begitu menyadari ada orang lain yang melihat, Agasa refleks melepaskan tangannya, wajahnya langsung berpaling, ekspresi yang selalu ia pasang setiap reputasi baiknya terancam. Tanpa sepatah kata, ia berlalu pergi.
Membiarkan lelaki yang tingginya satu kepala di atas Aruna itu melangkah mendekat.
“Maaf. S-siapa?” tanya Aruna waspada.
Lelaki itu menjulurkan tangan. “Saya Atlas.”
Aruna masih mematung. “A… Atlas?” Namanya terdengar asing di telinganya, meski seharusnya tidak.
“Pemilik Heartline.”
Mata Aruna membulat. Ia segera menjabat tangan itu. “Ah, Pak Atlas. Maaf.” Tangannya cepat ditarik kembali. “Terima kasih sebelumnya karena keributan ini. Saya permisi—”
“Saya bisa bantu kamu,” potong Atlas tenang, “saya bisa bantu kamu melewati masalah yang sedang terjadi.”
Aruna refleks berbalik. Keningnya bahkan bertaut. “Maksud Pak Atlas?”
“Mau melanjutkan perbincangan ini?” Atlas memberi isyarat ke ruangan di belakangnya—tak jauh dari parkiran.
Membuat Aruna jelas ragu. Nalurinya ingin menolak, tapi kakinya tetap bergerak. Ia akhirnya masuk ke ruangan besar itu, ruangan yang terasa sunyi, hanya diisi mereka berdua dan meja marmer di tengah dengan beberapa botol minuman beralkohol yang belum tersentuh.
Atlas berjalan lebih dulu, langkahnya tenang dan terukur, seolah ruangan itu memang miliknya sejak awal.
“Silakan duduk.”
Aruna duduk di salah satu sisi sofa, punggungnya kaku. Atlas duduk berseberangan. Jarak di antara mereka cukup dekat untuk terasa intim, cukup jauh untuk tetap dingin. Dengan gerakan pelan, Atlas mengambil sebuah map tipis dan meletakkannya di hadapan Aruna. Bunyi kertas menyentuh marmer terdengar jelas.
“Saya tahu hubungan kamu dengan aktor itu,” ujar Atlas.
Refleks, Aruna meraih map tersebut. Jemarinya gemetar saat membukanya. Data pribadi. Kronologi. Catatan waktu. Halaman berikutnya membuat napasnya tertahan. Foto-foto dirinya dan Agasa di restoran privat, duduk berhadapan, ekspresi yang hanya ia tunjukkan ketika merasa aman.
Foto lain memperlihatkan mereka keluar lewat pintu samping, mengenakan topi dan masker. Sudut pengambilan gambarnya terlalu dekat. Terlalu rapi.
“Bagaimana bisa?” suara Aruna tercekat. “Selama enam tahun… cuma ada satu rumor yang pernah muncul.”
Sementara Atlas menyandarkan punggungnya ke sofa. “Sebelum saya merekrut kamu sebagai brand face Heartline, saya menyelidiki latar belakang kamu,” jawab Atlas tenang. “Dan justru karna hubungan itu, saya percaya kamu bisa mewakili aplikasi ini. Stabil, konsisten dan... kredibel."
Aruna mengerjap, mencoba menyusun potongan informasi di kepalanya. “Namun,” lanjut Atlas sambil mengangguk ke arah map, “saya juga tahu hubungan itu berada di ujung tanduk. Lihat halaman terakhir.”
Tanpa ragu, Aruna membalik kertas-kertas itu hingga berhenti. Foto Agasa di dalam mobil dengan perempuan lain menyambutnya, foto yang sama dengan yang beredar beberapa menit lalu. Foto yang menggemparkan media sosial, yang juga menyangkut pautkan dirinya.
Atlas mengubah posisi, lebih condong ke depan, bahkan sikunya bertumpu di lutut. “Saya mau memberikan jalan keluar.”
“Jalan keluar?” Aruna mengulang pelan.
Atlas mengangguk samar. "Untuk menyelamatkan citra kamu di mata publik." Ia berhenti sejenak, lalu mengucapkan kalimat berikutnya dengan nada datar, seolah membicarakan kontrak biasa. "Menjalin hubungan kontrak dengan saya."
Dunia Aruna seolah berhenti bergerak.
Bibirnya terbuka sedikit. Matanya mengerjap berulang kali, mencoba memastikan pendengarannya tidak keliru. Kepalanya terasa ringan, seperti orang yang baru bangun dari mimpi buruk atau justru sedang jatuh ke dalamnya.
"Pak Atlas..." suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. "Maksudnya?"
Atlas tersenyum tipis. Bukan senyum hangat. Lebih seperti seseorang yang sudah memperkirakan reaksi itu sejak awal. Ia bersandar kembali ke punggung sofa.
"Kabar mengenai mantan kekasih kamu dan wanita dalam foto itu akan naik resmi ke media besok," katanya.
Aruna menelan ludah.
"Lalu setelah itu?" Atlas menatapnya lurus. "Bagaimana dengan rumor tentang kamu sebelumnya? Kamu mau membuat publik tidak percaya lagi dengan kredibilitas kamu sebagai pakar cinta?"
Tangan Aruna gemetar di pangkuannya. “Lalu… apa keuntungan yang Pak Atlas dapat dari semua ini?”
Atlas tidak langsung menjawab. Ia mengeluarkan ponsel dari saku jasnya dan meletakkannya di meja. Layar menyala, menampilkan grafik statistik penurunan pengguna aplikasi Heartline pada peluncuran fitur terbarunya.
"Pemilik aplikasi kencan yang tidak pernah terlihat memiliki pasangan dianggap tidak kredibel." Ia menatap Aruna lagi. "Anggap ini solusi dua arah. Saya membantu kamu. Kamu membantu saya."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan.
Aruna terdiam.
Pikirannya berputar, beradu antara logika dan rasa takut, "Beri saya jawaban dalam tiga hari."
Dan untuk pertama kalinya sejak malam itu, Aruna menyadari, ia sedang berdiri di persimpangan yang tak bisa ia hindari.
Ia bahkan masih tak berkutik saat sebuah kartu nama disodorkan ke arahnya. Permukaannya mengilap, sederhana, tertulis Atlas Wicaksono, dengan titel CEO Heartline.
Tangannya ragu sepersekian detik sebelum akhirnya meraih kartu itu. Dingin. Berat. Seolah membawa konsekuensi yang belum sepenuhnya ia pahami. Aruna bangkit dengan langkah yang terasa asing di tubuhnya sendiri, seperti berjalan dalam mimpi, lalu keluar dari ruangan itu perlahan.
Lorong bar menyambutnya dengan cahaya temaram dan suara musik yang kembali terasa menyesakkan.
Dan di sanalah ia melihatnya lagi. Agasa. Tengah tertawa rendah, tubuhnya condong terlalu dekat pada perempuan itu. Tangan lelaki itu melingkar di pinggang sang perempuan, bibir mereka saling bertemu tanpa ragu, tanpa rasa bersalah.
Sontak, mata Aruna membulat. Dadanya mengeras. Amarah yang sempat tenggelam kini meledak lagi, mendidih, dan kembali membakar akal sehatnya.
Jarinya meremas kartu nama Atlas hingga tepinya menekuk. Tanpa berpikir panjang, Aruna berbalik. Langkahnya cepat, napasnya memburu saat ia kembali mendorong pintu ruangan itu. Ruangan dimana Atlas berada.
Membuat Atlas yang baru saja mengangkat gelas minumannya ketika Aruna muncul lagi di hadapannya. Ia meletakkannya kembali, jelas terkejut melihat perempuan itu berdiri di sana dengan mata menyala.
"Gak perlu, Pak," Aruna bersuara dengan napas naik turunnya. “Gak perlu waktu tiga hari,” katanya cepat, emosinya kini sepenuhnya mengambil alih.
“Hubungan kontrak itu, saya setuju.”
Suasana kantor Heartline di lantai paling atas gedung pencakar langit itu masih dipenuhi kesibukan meskipun hari sudah menjelang sore. Beberapa orang dari tim keuangan masih sibuk melakukan panggilan dengan calon investor, sementara bagian legal mondar-mandir membawa berkas yang terus bertambah. Krisis yang menimpa Heartline belum juga menemukan jalan keluar. Satu per satu investor menarik diri, membuat perusahaan harus menahan napas lebih lama dari biasanya. Untuk sementara, Atlas bahkan turun tangan menggunakan dananya sendiri untuk memastikan kebutuhan operasional kantor tetap berjalan. Entah sudah kopi keberapa yang diminumnya hari ini, lelaki itu bahkan tidak lagi mengingat rasanya. Yang ia tahu, setiap tegukan hanya membantu menjaga matanya tetap terbuka di tengah tekanan yang tidak kunjung berhenti.Namun, di antara seluruh angka, laporan, dan suara orang-orang yang terus berdiskusi di sekelilingnya, ada satu hal yang justru terasa mengganggu pikirannya sejak beberapa jam te
Tidak ada yang mengetahui pertemuan Aruna dan Wicaksono beberapa hari lalu, terlebih Atlas itu sendiri.Keputusan itu tidak langsung diambil dalam satu malam. Aruna tidak tiba-tiba memutuskan Atlas begitu saja. Ia melakukannya perlahan, seperti seseorang yang mencabut jarum berkarat dari kulitnya, harus sedikit demi sedikit agar lukanya tidak menganga terlalu dalam.Mulanya, Aruna membatalkan janji makan malam mereka dengan alasan ada jadwal mendadak. Lalu, ia menolak saat Atlas menawarkan untuk menjemputnya, beralasan cuaca sedang buruk dan lebih baik lelaki itu tetap di kantor. Ketika Atlas mengirim pesan bahwa ia ingin singgah ke rumah, Aruna membalas dengan kata-kata singkat: Aku udah istirahat, Mas. Besok aja. Setiap kali Atlas mencoba menembus jarak yang mulai Aruna bangun, gadis itu selalu menemukan alasan baru, dinding baru, hingga ruang di antara mereka terasa begitu luas dan sepi.Hingga sore ini.Di ruang tengah rumah yang kini terasa hampa, Aruna duduk kaku di sofa. Mata
Siang itu, sebuah ruangan privat di salah satu restoran mewah di pusat kota tampak begitu tenang. Aruna duduk sendiri di salah satu sisi meja panjang yang telah dipesannya sejak satu jam lalu. Secangkir teh hangat di hadapannya sudah kehilangan uap, sama seperti makanan yang bahkan belum sempat ia sentuh sedikit pun. Jari-jarinya terus menggenggam ponsel, sementara layar di hadapannya dipenuhi deretan berita yang tak berhenti bermunculan sejak pagi.[EKSKLUSIF: NAMA WICAKSONO IKUT TERSERET DALAM DUGAAN PENGGELAPAN PAJAK]Aruna mengerutkan dahinya. Ia membuka berita itu dengan napas tertahan, membaca setiap kalimat demi kalimat yang membuat wajahnya semakin pucat. Meski isi beritanya belum memiliki bukti kuat, opini publik sudah lebih dulu menjatuhkan vonis. Di kolom komentar, ribuan orang menyeret nama keluarga Wicaksono ke dalam pusaran masalah yang sama. Beberapa menyebut Heartline hanyalah perusahaan yang dibangun di atas kebohongan, sementara yang lain menuding keluarga itu se
Butuh waktu cukup lama sampai Aruna benar-benar tenang. Semua tirai rumah ditutup rapat, suara kerumunan di luar memang masih terdengar sesekali, tetapi setidaknya ia tidak perlu melihat mereka secara langsung. Kini Aruna duduk meringkuk di sofa ruang tamu, di tangannya terdapat secangkir cokelat hangat yang dibuatkan Amanda, sementara ponselnya masih menempel di telinga."Iya, Tante Amanda di sini," ucap Aruna pelan ke ponselnya.Suara Atlas terdengar dari seberang, nada bicaranya terdengar lelah tapi tetap berusaha tenang."Mas Atlas nggak usah khawatir," kata Aruna lagi, melirik Amanda yang sedang duduk di kursi sebelah. Wanita itu membalas dengan senyum kecil. "Iya. Hati-hati."Beberapa detik kemudian panggilan terputus. Aruna meletakkan ponselnya di atas meja kaca. Amanda lalu mendorong secangkir teh hangat ke depan dirinya sendiri sebelum kembali menatap Aruna."Jadi," katanya pelan, "kontrak itu bohong?"Pertanyaan tembakan itu membuat Aruna menunduk, dengan jemarinya yang sali
Aruna tidak tidur malam itu. Sejak pesan anonim itu kembali masuk ke ponselnya, ia hanya meringkuk di atas ranjang dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Lampu kamar sudah lama dimatikan, menyisakan cahaya temaram dari layar ponsel yang sejak tadi tak pernah benar-benar ia lepaskan dari genggamannya. Matanya terus kembali pada kalimat yang sama.Membiarkan Atlas tenggelam di kapalnya sendiri. Kalimat itu terasa seperti pisau yang perlahan menggores bagian paling sensitif dalam hatinya, karena jauh di dalam dirinya, di tempat yang paling enggan ia akui, Aruna tahu kenapa kalimat itu begitu menyakitkan. Karena sebagian dirinya takut itu benar.Sejak kontrak mereka bocor, semua hal buruk seolah datang bertubi-tubi. Nama Atlas diseret ke mana-mana, Heartline kehilangan kepercayaan publik, investor mulai mempertanyakan kredibilitas perusahaan, saham bergerak tidak stabil, dan media menyerang tanpa henti. Dan dirinya? Dirinya hanya menjadi pusat badai itu. Aruna memejamkan mata
Malam sudah turun ketika Aruna akhirnya sampai di kediamannya. Tubuhnya terasa lelah, bukan hanya karena jadwal yang padat, tetapi juga karena semua hal yang terjadi hari ini seperti menghantamnya tanpa jeda.Van yang membawanya berhenti perlahan di depan rumah. Pintu otomatis bergeser terbuka dengan suara lirih, dan Aruna menghela napas panjang sebelum melangkah turun.Namun baru beberapa langkah menjauh dari mobil, sorot lampu terang tiba-tiba menyapu halaman rumahnya dari arah belakang. Aruna refleks memutar tubuh, dan sebuah Lamborghini hitam berhenti tepat beberapa meter di belakang van miliknya. Jantungnya berdegup.Pintu mobil sport itu terbuka, dan Atlas turun dari sana. Dengan jas gelap yang masih melekat rapi di tubuhnya, wajah tegang, serta langkah cepat yang sama sekali tidak memberikan kesempatan bagi Aruna untuk bereaksi."Mas Atlas?"Belum sempat Aruna mengucapkan apa pun lagi, Atlas sudah sampai di hadapannya. Lelaki itu langsung menarik tubuh Aruna ke dalam pelukan, e
Kedekatan Aruna dan Atlas memang sudah kembali tercium media. Sejak kemunculan Atlas di lokasi syuting beberapa hari lalu, foto-foto lelaki itu saat berjalan menghampiri Aruna dengan jas gelap dan kacamata hitamnya tersebar cepat di internet. Judul-judul berita mulai bermunculan memenuhi halaman u
Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit ballroom memantulkan cahaya keemasan ke segala arah, membuat seluruh ruangan malam itu tampak seperti potongan dunia lain yang terlalu sempurna untuk disebut nyata. Begitu Aruna menginjakkan kakinya ke dalam ballroom hotel bintang tujuh yang
Sudah tiga hari sejak kepulangannya dari Kyoto, dan selama tiga hari itu juga Aruna belum bertemu Atlas sama sekali. Setelah mereka kembali ke Ibu kota, lelaki itu harus terbang lebih dahulu karena sebuah pekerjaan mendadak yang, menurut asistennya, tidak bisa ditunda bahkan satu jam pun. Aruna s
"Tapi saya mau."Ucapnya, lalu kembali menciumi Atlas. Kali ini tak memberikan waktu untuk Atlas melayangkan protesnya, bibir Aruna mendarat di dada lelaki itu, lidahnya menyapu, dan giliran Aruna yang menjilat puting Atlas.Efeknya seketika.Tubuh Atlas menegang seluruhnya, otot-otot di perutnya b







