MasukKepala Aruna berdenyut ketika ia terbangun.
Bukan sakit yang tajam, melainkan berat, menekan dari dalam seperti ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Ia mengerjap perlahan sambil mengangkat tangan ke pelipis, mengusapnya dengan gerakan kecil yang ragu. Tubuhnya terasa pegal, otot-ototnya kaku, seolah ia tidur terlalu lama di posisi yang salah.
Saat ia mencoba bangkit, telapak tangannya menyentuh permukaan keras dan dingin.
Aruna terhenti.
Ia duduk, menarik napas pendek, baru menyadari bahwa ia tidak berada di atas kasur. Lantai marmer menyentuh kulitnya, dingin dan nyata. Setengah tubuhnya tertutup selimut tebal berwarna gelap, sementara sebuah bantal abu-abu tergeletak di samping pahanya.
Ia menoleh pelan.
Kamar itu luas, terlalu luas untuk terasa akrab. Dindingnya didominasi warna abu dan hitam, bersih tanpa ornamen berlebihan, dengan pencahayaan temaram yang membuat segalanya tampak rapi sekaligus dingin. Tidak ada foto, tidak ada hiasan personal, hanya garis-garis tegas dan kesan terkontrol.
Pandangan Aruna bergeser ke belakang.
Kasur besar dengan seprai hitam tampak berantakan, beberapa bantal berserakan di lantai, seolah seseorang semalam berguling tanpa arah. Jantungnya berdetak lebih cepat saat ia menunduk dan menatap dirinya sendiri.
Sebuah kemeja putih berukuran besar kini membalut tubuhnya, panjangnya hampir menutupi pahanya. Gaun yang ia kenakan semalam sudah tidak ada.
"Kenapa..." gumamnya panik.
Ia berdiri terlalu cepat, kepalanya berputar membuat langkahnya goyah. Tanpa alas kaki, Aruna keluar dari kamar itu dan menyusuri rumah besar tersebut, jantungnya berdegup seiring setiap langkah yang ia ambil.
Ruang tengah terbentang luas.
Dan di sana, Atlas terbaring di sofa.
Tubuhnya telentang, satu tangan bertumpu di perut, wajahnya terlihat lebih lelah daripada biasanya. Rambutnya sedikit berantakan, rahangnya mengeras bahkan saat matanya terpejam. Untuk sesaat, Aruna hanya berdiri, menatap lelaki itu dengan campuran bingung dan cemas.
Ia melangkah mendekat, mencondongkan tubuh sedikit, ingin memastikan kalau lelaki itu masih di dalam tidurnya sebelum mata Atlas tiba-tiba terbuka.
Tatapan tajam itu membuat Aruna terlonjak mundur refleks.
"Sudah bangun?" suara Atlas terdengar serak, berat, ketika ia menegakkan sandarannya dan memijat pelipisnya seolah kepalanya juga tidak baik-baik saja.
"Kenapa... saya masih di sini?" Aruna bertanya cepat, lalu menunjuk kemeja yang ia kenakan. "Dan ini... ini baju saya Pak Atlas yang—"
Atlas meliriknya sekilas. "Menurut kamu?"
Wajah Aruna memanas seketika. Ia terdiam, kata-kata saling bertabrakan di kepalanya tanpa ada yang berani keluar.
Melihat reaksinya, Atlas mendengus pendek. "Kamu mabuk dan muntah. Pelayan yang menggantinya."
Napas Aruna lolos panjang, tegang di dadanya mengendur. Namun sebelum ia sempat benar-benar tenang, Atlas sudah bangkit berdiri dan melangkah mendekat.
"Tidak ada yang kamu ingat?" tanyanya dengan suara rendah, menurunkan posisinya agar sejajar dengan wajah Aruna. "Apa yang sudah kamu lakukan pada saya semalam?"
Kepala Aruna berdenyut lebih keras, seolah pertanyaan itu menarik paksa ingatannya naik ke permukaan.
Wine.
Ia ingat segelas wine yang rasanya ringan dan manis. Ia ingat tertawa, terlalu banyak tertawa, mengira minuman itu aman. Lalu ingatan lain menyusul, lebih jelas.
Ia ingat berdiri dengan sempoyongan, tersenyum lebar tanpa alasan jelas. "Aku baik-baik aja," katanya waktu itu sambil mengangkat jari telunjuk. "Cuma sedikit... dunia muter dikit."
Atlas menghela napas, mencoba menopang tubuhnya yang melorot ke lantai. "Kamu tidak baik-baik saja."
"Enggak! Lepas!" Aruna membentaknya sambil tertawa kecil, mendorong dada Atlas dengan tenaga seadanya. "Aku bisa jalan sendiriii..."
Ia ingat dirinya bersenandung tanpa nada jelas, membuka satu per satu pintu yang berada disana sambil terkikik. Hingga pintu paling ujung terbuka dan kasur besar terlihat di hadapannya.
"Oh," gumam Aruna waktu itu, matanya berbinar. "Ini cocok."
Tanpa aba-aba, ia melemparkan dirinya ke atas kasur, tengkurap sambil tertawa kecil. Sementara Atlas yang mengikutinya hanya bisa memijat pelipisnya dengan sabar yang nyaris habis. Sudah mau keluar dari dalam kamar itu sebelum suara gadis dibelakangnya kembali menahan.
"Mau muntah..." lirih Aruna tiba-tiba.
Sontak Atlas berbalik cepat. "Mau apa?"
Aruna membuka satu mata, menatapnya polos. "Mau—"
Tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, Atlas sudah bergerak maju dan berakhir menutup mulut Aruna dengan telapak tangannya sambil mendengus. "Jangan di atas kasur saya."
Namun tubuh Aruna sudah bereaksi lebih dulu. Dengan tergesa, Atlas mengangkatnya dan menuntunnya berjalan menuju kamar mandi, tetapi tepat ketika mereka sampai di depan pintu, Aruna tidak bisa menahannya lagi.
Cairan itu menyembur.
Ke arah Atlas.
Lelaki itu mematung, napasnya tertahan, wajahnya kaku. Ia menahan tubuh Aruna agar tidak jatuh, menghela napas panjang dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Saya—" Aruna menutup mulutnya panik, ingatan itu kini utuh dan memalukan. "Maaf..."
Atlas menatapnya datar, seolah memastikan tidak ada satu pun celah untuk bercanda.
"Sudah ingat sekarang?"Aruna mengangguk cepat. Wajahnya memerah, panasnya menjalar sampai ke telinga. Rasa malu datang terlambat namun menghantam keras. "Maaf," ucapnya lirih, nyaris terburu-buru. "Saya benar-benar minta maaf."
Namun Atlas tidak langsung menjawab. Ia beranjak bangkit sebelum terdiam beberapa detik, menatap Aruna dengan ekspresi sulit dibaca, sebelum akhirnya bersuara dengan nada tetap tenang namun tegas.
"Bersiaplah. Saya antar kamu."
Aruna mendongak perlahan, masih mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya— meski ia memilih mengangguk lesu. Membalikkan badannya untuk berniat merapikan diri sebelum pandangannya membeku.
Di ujung ruangan, seorang wanita berdiri.
Posturnya tegap, rambutnya tersanggul rapi tanpa satu helai pun keluar dari tempatnya. Sebuah tas mahal menggantung di lengannya, kontras dengan tatapannya yang dingin dan tajam. Mata wanita itu menyapu Aruna dari ujung kepala hingga paha yang masih terbuka, seolah sedang menilai, mengukur, dan menghakimi dalam satu tarikan napas.
"Mama?"
Suara itu keluar dari Atlas, singkat namun jelas.
Aruna refleks menoleh ke arahnya. "Mama?" ulangnya lirih, nyaris tak bersuara, seolah kata itu terlalu besar untuk langsung ia cerna.
Ia kembali menatap wanita tersebut. Panik merayap cepat, menjalar dari perut ke dada.
"Ta... tante," ucapnya gugup, suaranya bergetar.Ada keheningan dan getaran dingin di diri Aruna. Ia harus membela diri, mengapa pagi buta berada di rumah ini. Ia harus—
"Sejak kapan kalian tinggal bersama?"
Rekaman Ruang Rasa selesai lebih malam dari biasanya.Penayangannya diperpanjang menjadi tiga jam sejak episode terakhir meledak di media sosial, dan malam itu Aruna baru keluar dari studio mendekati pukul sepuluh. Tubuhnya terasa lelah dengan cara yang aneh—bukan karena pekerjaan, melainkan karena pikirannya terus berjalan sejak pesan anonim itu muncul.Kelly sudah pulang lebih dulu. Managernya itu harus menyiapkan jadwal Aruna untuk dua hari ke depan, jadi mereka berpisah sebelum Aruna turun ke basement.Lift berhenti dengan bunyi ding pelan.Ketika pintu terbuka, udara dingin parkiran basement langsung menyambutnya. Lampu-lampu neon memantulkan cahaya pucat ke deretan mobil yang tersusun rapi. Hampir tidak ada orang lain di sana. Hanya suara langkah Aruna yang menggema tipis di antara pilar-pilar beton.Ia berjalan menuju mobilnya sambil menggenggam tas lebih erat dari biasanya.Mungkin hanya perasaan.Tapi sejak pesan anonim itu muncul, hal-hal kecil terasa berbeda.Aruna membuka
Satu minggu berlalu sejak Aruna menyebut nama Atlas di hadapan publik.Dan dunia tampak… baik-baik saja.Tidak ada kejatuhan lanjutan. Tidak ada pembatalan kerja sama. Tidak ada kemarahan massal seperti yang ia khawatirkan diam-diam. Justru sebaliknya, angka pengikutnya bergerak naik perlahan, lalu stabil, lalu melonjak lagi. Setiap pagi, Aruna membuka ponselnya dengan perasaan waspada yang kian menipis. Grafik yang ia lihat selalu mengarah ke atas. Komentar yang dulu bernada skeptis kini berubah menjadi dukungan, bahkan kekaguman.Beberapa brand yang sempat menghilang mulai mengirim surel dengan bahasa yang terlalu ramah. Undangan acara berdatangan, lebih banyak dari biasanya. Ada sesuatu yang kembali percaya padanya—bukan hanya sebagai pelatih kencan, tapi sebagai perempuan yang dianggap berhasil menjalani hidupnya sendiri.Media ikut membantu membentuk narasi itu.Aruna dan Atlas disebut sebagai pasangan dewasa. Rasional. Tidak berisik. Tidak menjual kemesraan. Sebuah contoh hubung
Aruna sempat berpikir ucapan Atlas pagi tadi hanyalah kalimat formal yang diucapkan tanpa makna lebih."Setelah ini, keadaan akan semakin ramai."Baginya itu terdengar seperti peringatan generik dari seseorang yang hidupnya selalu dikelilingi perhatian. Ia tidak pernah benar-benar membayangkan bahwa kata ramai itu akan berarti kerumunan kamera, mikrofon, dan mata-mata asing yang menuntut jawabannya bahkan sebelum ia sempat menarik napas.Pagi itu, Aruna sudah mengabari Kelly bahwa ia akan pergi ke kantor radio seorang diri. Tidak perlu diantar, tidak perlu ditemani. Jadwalnya padat dan ia hanya ingin bergerak cepat tanpa banyak suara di sekelilingnya. Ia sempat pulang ke rumah sebentar, mandi, mengganti pakaian, merapikan rambut, lalu langsung bergegas pergi lagi. Semua terasa biasa. Normal. Seolah hidupnya masih berada di jalur yang ia kenal.Namun seluruh pemahaman itu runtuh begitu sedan pink miliknya melambat di depan gedung tua tempat kantor radio itu berdiri.Aruna mengerutkan
Aruna berdiri di depan cermin kamar mandi milik Atlas, menatap pantulan dirinya dengan sorot mata yang masih sedikit asing. Ia langsung pamit ke kamar mandi milik Atlas sebelum mamanya menginterogasi kedua kali.Kepala sudah tidak seberat sebelumnya, meski sisa-sisa pening masih bersarang samar di pelipis. Ia merapikan kerah kemeja putih yang masih membalut tubuhnya, kemeja milik Atlas. Ukurannya jelas terlalu besar, bahunya jatuh longgar, lengannya ia gulung sampai siku agar tidak menutup telapak tangan.Celana yang ia kenakan adalah celana semalam yang ia temukan tergantung rapi di kamar mandi luas itu. Masih layak pakai, meski bau sabun mahal bercampur samar dengan aroma khas rumah Atlas. Sementara blus miliknya sudah mustahil diselamatkan.Ia memilih tidak memikirkan ke mana benda itu berakhir.Tas kecilnya ia bongkar di atas meja wastafel marmer. Tidak banyak yang bisa diharapkan dari sana. Tidak ada bedak, tidak ada lipstik. Hanya lip balm polos yang ia temukan di dasar tas. Ar
Kepala Aruna berdenyut ketika ia terbangun.Bukan sakit yang tajam, melainkan berat, menekan dari dalam seperti ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Ia mengerjap perlahan sambil mengangkat tangan ke pelipis, mengusapnya dengan gerakan kecil yang ragu. Tubuhnya terasa pegal, otot-ototnya kaku, seolah ia tidur terlalu lama di posisi yang salah.Saat ia mencoba bangkit, telapak tangannya menyentuh permukaan keras dan dingin.Aruna terhenti.Ia duduk, menarik napas pendek, baru menyadari bahwa ia tidak berada di atas kasur. Lantai marmer menyentuh kulitnya, dingin dan nyata. Setengah tubuhnya tertutup selimut tebal berwarna gelap, sementara sebuah bantal abu-abu tergeletak di samping pahanya.Ia menoleh pelan.Kamar itu luas, terlalu luas untuk terasa akrab. Dindingnya didominasi warna abu dan hitam, bersih tanpa ornamen berlebihan, dengan pencahayaan temaram yang membuat segalanya tampak rapi sekaligus dingin. Tidak ada foto, tidak ada hiasan personal, hanya garis-garis tegas dan kesa
Aruna tahu ia sudah gila. Bahkan sebelum benar-benar memahami siapa sosok Atlas Wicaksono, ia sudah mengangguk dan menyetujui ajakan menjalin hubungan palsu itu. Tanpa kontrak tertulis, tanpa jaminan apa pun, hanya bermodalkan logika rapuh yang ia yakinkan sendiri sebagai keputusan paling rasional di tengah kekacauan.Dan tepat saat Agasa membenarkan rumor kencannya, berita tentang Aruna dan Atlas justru meledak lebih besar.CEO HEARTLINE, ATLAS WICAKSONO, MENGUMUMKAN HUBUNGANNYA DENGAN ARUNA—BEAUTY INFLUENCER DAN PAKAR CINTA.Dari situlah Aruna baru benar-benar paham. Atlas bukan sekadar pemilik aplikasi kencan. Ia adalah pengusaha muda terkaya di negeri ini, anak tunggal konglomerat berlian, figur eksklusif yang nyaris tak pernah tersentuh gosip. Publik menyukai kisah mereka, cerita cinta tak terduga antara lelaki dingin dan perempuan yang memahami perasaan manusia. Dan tentu saja, berita itu berhasil menutup rapat rumor tentang Aruna dengan Agasa yang pernah muncul.Lampu indi