/ Romansa / Pak, Jangan! Nanti Ketahuan! / 4| Mabuk Versi Aruna

공유

4| Mabuk Versi Aruna

작가: sidonsky
last update 게시일: 2026-03-05 01:11:09

Kepala Aruna berdenyut ketika ia terbangun.

Bukan sakit yang tajam, melainkan berat, menekan dari dalam seperti ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Ia mengerjap perlahan sambil mengangkat tangan ke pelipis, mengusapnya dengan gerakan kecil yang ragu. Tubuhnya terasa pegal, otot-ototnya kaku, seolah ia tidur terlalu lama di posisi yang salah.

Saat ia mencoba bangkit, telapak tangannya menyentuh permukaan keras dan dingin.

Aruna terhenti.

Ia duduk, menarik napas pendek, baru menyadari bahwa ia tidak berada di atas kasur. Lantai marmer menyentuh kulitnya, dingin dan nyata. Setengah tubuhnya tertutup selimut tebal berwarna gelap, sementara sebuah bantal abu-abu tergeletak di samping pahanya.

Ia menoleh pelan.

Kamar itu luas, terlalu luas untuk terasa akrab. Dindingnya didominasi warna abu dan hitam, bersih tanpa ornamen berlebihan, dengan pencahayaan temaram yang membuat segalanya tampak rapi sekaligus dingin. Tidak ada foto, tidak ada hiasan personal, hanya garis-garis tegas dan kesan terkontrol.

Pandangan Aruna bergeser ke belakang.

Kasur besar dengan seprai hitam tampak berantakan, beberapa bantal berserakan di lantai, seolah seseorang semalam berguling tanpa arah. Jantungnya berdetak lebih cepat saat ia menunduk dan menatap dirinya sendiri.

Sebuah kemeja putih berukuran besar kini membalut tubuhnya, panjangnya hampir menutupi pahanya. Gaun yang ia kenakan semalam sudah tidak ada.

"Kenapa..." gumamnya panik.

Ia berdiri terlalu cepat, kepalanya berputar membuat langkahnya goyah. Tanpa alas kaki, Aruna keluar dari kamar itu dan menyusuri rumah besar tersebut, jantungnya berdegup seiring setiap langkah yang ia ambil.

Ruang tengah terbentang luas.

Dan di sana, Atlas terbaring di sofa.

Tubuhnya telentang, satu tangan bertumpu di perut, wajahnya terlihat lebih lelah daripada biasanya. Rambutnya sedikit berantakan, rahangnya mengeras bahkan saat matanya terpejam. Untuk sesaat, Aruna hanya berdiri, menatap lelaki itu dengan campuran bingung dan cemas.

Ia melangkah mendekat, mencondongkan tubuh sedikit, ingin memastikan kalau lelaki itu masih di dalam tidurnya sebelum mata Atlas tiba-tiba terbuka.

Tatapan tajam itu membuat Aruna terlonjak mundur refleks.

"Sudah bangun?" suara Atlas terdengar serak, berat, ketika ia menegakkan sandarannya dan memijat pelipisnya seolah kepalanya juga tidak baik-baik saja.

"Kenapa... saya masih di sini?" Aruna bertanya cepat, lalu menunjuk kemeja yang ia kenakan. "Dan ini... ini baju saya Pak Atlas yang—"

Atlas meliriknya sekilas. "Menurut kamu?"

Wajah Aruna memanas seketika. Ia terdiam, kata-kata saling bertabrakan di kepalanya tanpa ada yang berani keluar.

Melihat reaksinya, Atlas mendengus pendek. "Kamu mabuk dan muntah. Pelayan yang menggantinya."

Napas Aruna lolos panjang, tegang di dadanya mengendur. Namun sebelum ia sempat benar-benar tenang, Atlas sudah bangkit berdiri dan melangkah mendekat.

"Tidak ada yang kamu ingat?" tanyanya dengan suara rendah, menurunkan posisinya agar sejajar dengan wajah Aruna. "Apa yang sudah kamu lakukan pada saya semalam?"

Kepala Aruna berdenyut lebih keras, seolah pertanyaan itu menarik paksa ingatannya naik ke permukaan.

Wine.

Ia ingat segelas wine yang rasanya ringan dan manis. Ia ingat tertawa, terlalu banyak tertawa, mengira minuman itu aman. Lalu ingatan lain menyusul, lebih jelas.

Ia ingat berdiri dengan sempoyongan, tersenyum lebar tanpa alasan jelas. "Aku baik-baik aja," katanya waktu itu sambil mengangkat jari telunjuk. "Cuma sedikit... dunia muter dikit."

Atlas menghela napas, mencoba menopang tubuhnya yang melorot ke lantai. "Kamu tidak baik-baik saja."

"Enggak! Lepas!" Aruna membentaknya sambil tertawa kecil, mendorong dada Atlas dengan tenaga seadanya. "Aku bisa jalan sendiriii..."

Ia ingat dirinya bersenandung tanpa nada jelas, membuka satu per satu pintu yang berada disana sambil terkikik. Hingga pintu paling ujung terbuka dan kasur besar terlihat di hadapannya.

"Oh," gumam Aruna waktu itu, matanya berbinar. "Ini cocok."

Tanpa aba-aba, ia melemparkan dirinya ke atas kasur, tengkurap sambil tertawa kecil. Sementara Atlas yang mengikutinya hanya bisa memijat pelipisnya dengan sabar yang nyaris habis. Sudah mau keluar dari dalam kamar itu sebelum suara gadis dibelakangnya kembali menahan.

"Mau muntah..." lirih Aruna tiba-tiba.

Sontak Atlas berbalik cepat. "Mau apa?"

Aruna membuka satu mata, menatapnya polos. "Mau—"

Tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, Atlas sudah bergerak maju dan berakhir menutup mulut Aruna dengan telapak tangannya sambil mendengus. "Jangan di atas kasur saya."

Namun tubuh Aruna sudah bereaksi lebih dulu. Dengan tergesa, Atlas mengangkatnya dan menuntunnya berjalan menuju kamar mandi, tetapi tepat ketika mereka sampai di depan pintu, Aruna tidak bisa menahannya lagi.

Cairan itu menyembur.

Ke arah Atlas.

Lelaki itu mematung, napasnya tertahan, wajahnya kaku. Ia menahan tubuh Aruna agar tidak jatuh, menghela napas panjang dengan ekspresi yang sulit diartikan.

"Saya—" Aruna menutup mulutnya panik, ingatan itu kini utuh dan memalukan. "Maaf..."

Atlas menatapnya datar, seolah memastikan tidak ada satu pun celah untuk bercanda.

"Sudah ingat sekarang?"

Aruna mengangguk cepat. Wajahnya memerah, panasnya menjalar sampai ke telinga. Rasa malu datang terlambat namun menghantam keras. "Maaf," ucapnya lirih, nyaris terburu-buru. "Saya benar-benar minta maaf."

Namun Atlas tidak langsung menjawab. Ia beranjak bangkit sebelum terdiam beberapa detik, menatap Aruna dengan ekspresi sulit dibaca, sebelum akhirnya bersuara dengan nada tetap tenang namun tegas.

"Bersiaplah. Saya antar kamu."

Aruna mendongak perlahan, masih mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya— meski ia memilih mengangguk lesu. Membalikkan badannya untuk berniat merapikan diri sebelum pandangannya membeku.

Di ujung ruangan, seorang wanita berdiri.

Posturnya tegap, rambutnya tersanggul rapi tanpa satu helai pun keluar dari tempatnya. Sebuah tas mahal menggantung di lengannya, kontras dengan tatapannya yang dingin dan tajam. Mata wanita itu menyapu Aruna dari ujung kepala hingga paha yang masih terbuka, seolah sedang menilai, mengukur, dan menghakimi dalam satu tarikan napas.

"Mama?"

Suara itu keluar dari Atlas, singkat namun jelas.

Aruna refleks menoleh ke arahnya. "Mama?" ulangnya lirih, nyaris tak bersuara, seolah kata itu terlalu besar untuk langsung ia cerna.

Ia kembali menatap wanita tersebut. Panik merayap cepat, menjalar dari perut ke dada.

"Ta... tante," ucapnya gugup, suaranya bergetar. 

Ada keheningan dan getaran dingin di diri Aruna. Ia harus membela diri, mengapa pagi buta berada di rumah ini. Ia harus

"Sejak kapan kalian tinggal bersama?"

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   176| Atlas dan Mulut Manisnya

    Karena jadwal Aruna terlalu padat hari ini, akhirnya pembahasan dilakukan di perjalanan menuju gedung radio. Aruna duduk di captain seat van mewah miliknya sambil mendengarkan penjelasan Vinka yang sejak tadi menunjukkan berbagai konsep di layar tablet."Untuk tamu undangan," ujar Vinka profesional. "Perkiraan sementara sekitar tiga sampai lima ribu orang."Aruna hampir tersedak air mineralnya sendiri."Berapa?"Vinka tersenyum kecil seolah angka itu sesuatu yang normal."Karena relasi bisnis keluarga Wicaksono cukup luas. Belum termasuk partner internasional Tuan Atlas."Tablet itu kembali berganti halaman, menampilkan ballroom hotel super mewah dengan chandelier raksasa dan dekorasi bunga putih memenuhi ruangan."Pilihan venue pertama ada di Singapura," jelas Vinka. "Konsep royal modern wedding."Slide berikutnya muncul."Ini opsi kedua. Garden wedding private di Kyoto."Lalu berikutnya lagi."Dan ini untuk konsep intimate luxury dengan after party yacht."Aruna hanya diam. Benar-be

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   175| Wedding Planner

    Setelah badai kecil yang sempat mengguncang hubungan mereka, hidup Aruna perlahan kembali dipenuhi warna-warna cerah.Kesalahpahaman yang sempat membuat semuanya terasa retak kini seperti mulai tertutup kembali, meski bekasnya masih ada di beberapa sudut hati. Namun setiap kali Atlas hadir, setiap kali lelaki itu menatapnya dengan cara yang seolah hanya Aruna satu-satunya orang di dunia ini, semua ketakutan itu perlahan memudar.Dan hari ini, di tengah kesibukan yang nyaris membuat kakinya tak berhenti melangkah sejak pagi, Aruna kembali menyadari satu hal, Atlas selalu punya cara untuk membuat hidupnya terasa berbeda.Studio pemotretan yang hari ini dipenuhi nuansa putih dan pastel tampak sibuk sejak tadi. Beberapa staff mondar-mandir membawa lighting tambahan, stylist sibuk merapikan gaun, sementara tim skincare yang bekerja sama dengannya terus memastikan setiap detail terlihat sempurna di kamera.Hari ini Aruna resmi diumumkan sebagai brand ambassador terbaru sebuah produk kecanti

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   174| Pelukan Sore Hari

    Suasana taman belakang kediaman Camelia perlahan berubah hangat seiring matahari yang mulai turun di ufuk barat. Cahaya jingga sore memantul di permukaan kolam renang panjang yang membelah halaman, membuat airnya berkilau tenang diterpa angin. Deretan lampu gantung kecil mulai menyala satu per satu di antara pepohonan, sementara aroma teh melati dan bunga mawar bercampur samar di udara. Di tengah suasana yang seharusnya terasa damai itu, Atlas justru duduk dengan wajah dingin di sebelah Aruna.Tangannya bergerak perlahan mengusap punggung gadis itu yang masih naik turun menahan sesenggukan. Sementara tatapannya lurus mengarah pada empat wanita di hadapan mereka dengan aura yang begitu mengintimidasi.Gigi dan Lily langsung saling bertukar pandang begitu Atlas datang dengan langkah cepat tadi.Wajah keduanya terlihat sedikit gugup, seolah baru saja ketahuan melakukan sesuatu yang besar. Sementara Camelia terlihat santai menyeruput tehnya dengan senyum tipis di bibir, dan Ratna hanya m

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   173| Empat Bunga

    Kedekatan Aruna dan Atlas memang sudah kembali tercium media. Sejak kemunculan Atlas di lokasi syuting beberapa hari lalu, foto-foto lelaki itu saat berjalan menghampiri Aruna dengan jas gelap dan kacamata hitamnya tersebar cepat di internet. Judul-judul berita mulai bermunculan memenuhi halaman utama portal hiburan, mulai dari yang biasa saja sampai yang cukup sensasional.Setelah rumor putus, keduanya resmi balikan?Dan seperti biasa, publik terbagi menjadi dua kubu. Sebagian besar mendukung hubungan mereka, menganggap semua keributan sebelumnya hanyalah fase buruk pasangan yang sedang belajar memahami satu sama lain. Namun sebagian lain tetap menyalahkan Aruna karena ucapannya di depan media tempo hari dianggap terlalu gegabah dan memancing kegaduhan besar.Akhirnya, Aruna meminta maaf melalui media sosialnya. Ia mengunggah sebuah foto langit sore dengan caption sederhana, mengakui kalau emosinya saat itu terlalu meluap dan meminta maaf jika pernyataannya membuat banyak pihak ter

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   172| Memang Mau Seperti Itu

    Setelah datangnya badai kecil yang sempat membuat hubungan mereka renggang, Aruna kembali dengan warnanya yang begitu cerah. Senyumnya perlahan kembali sering terlihat, tawanya mulai terdengar lagi di setiap sudut ruangan. Bahkan Kelly sampai beberapa kali memergokinya tersenyum sendiri sambil menatap layar ponsel di sela jadwal padat yang biasanya selalu membuat Aruna kelelahan. Seakan hadirnya Atlas benar-benar menjadi pelengkap dalam hidupnya, dan mungkin memang begitu.Karena setelah semua pertengkaran, tangisan, dan rasa takut kehilangan itu, hubungan mereka terasa berbeda sekarang. Lebih hangat, lebih nyata, tidak lagi hanya dipenuhi gengsi dan permainan tarik ulur yang melelahkan. Atlas mulai belajar memberi kabar, hal kecil yang dulu bahkan tidak pernah terpikir akan dilakukan lelaki itu.Pagi ini misalnya. Di tengah kesibukan jadwal syuting sebuah program iklan skincare terbaru, Aruna tengah berdiri di depan kamera dengan balutan dress putih pastel yang jatuh sempurna di t

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   171| Never Be Enough

    Sejak pelukan yang terjalin tadi, Aruna tidak benar-benar berhenti tersenyum.Bahkan di sepanjang jalan menuju rumahnya, dengan Atlas yang duduk di sebelahnya sambil mengemudikan sedan pink metallic milik Aruna, senyum itu masih tertinggal jelas di wajah gadis tersebut. Tanpa pengawal, tanpa sopir, tanpa siapa pun yang mengganggu, malam itu terasa terlalu tenang untuk ukuran hidup mereka yang biasanya selalu dipenuhi keramaian dan tatapan orang lain.Lampu-lampu kota memantul di kaca mobil, menciptakan semburat warna keemasan di interior bernuansa pastel itu. Tangan Aruna menggenggam satu tangan Atlas yang berada di atas persneling, memainkan jemarinya pelan sambil sesekali melirik lelaki di sebelahnya.Bagaimana Atlas dengan setelan gelap dan wajah dinginnya terlihat begitu kontras berada di dalam mobil serba pink itu benar-benar terasa lucu di mata Aruna.Apalagi lelaki itu mengemudikannya dengan ekspresi serius.Sebuah kontras yang begitu menggemaskan.Membuat Aruna tanpa sadar te

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status