Share

3| Skandal

Author: sidonsky
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-05 01:10:55

Aruna tahu ia sudah gila. 

Bahkan sebelum benar-benar memahami siapa sosok Atlas Wicaksono, ia sudah mengangguk dan menyetujui ajakan menjalin hubungan palsu itu. 

Tanpa kontrak tertulis, tanpa jaminan apa pun, hanya bermodalkan logika rapuh yang ia yakinkan sendiri sebagai keputusan paling rasional di tengah kekacauan.

Dan tepat saat Agasa membenarkan rumor kencannya, berita tentang Aruna dan Atlas justru meledak lebih besar.

CEO HEARTLINE, ATLAS WICAKSONO, MENGUMUMKAN HUBUNGANNYA DENGAN ARUNA—BEAUTY INFLUENCER DAN PAKAR CINTA.

Dari situlah Aruna baru benar-benar paham. 

Atlas bukan sekadar pemilik aplikasi kencan. Ia adalah pengusaha muda terkaya di negeri ini, anak tunggal konglomerat berlian, figur eksklusif yang nyaris tak pernah tersentuh gosip. 

Publik menyukai kisah mereka, cerita cinta tak terduga antara lelaki dingin dan perempuan yang memahami perasaan manusia. 

Dan tentu saja, berita itu berhasil menutup rapat rumor tentang Aruna dengan Agasa yang pernah muncul.

Lampu indikator di ruang siaran menyala merah.

Malam sudah datang ketika Aruna duduk tegak di balik meja kaca. Headset melingkar di kepalanya. Dari balik jendela besar, hujan turun membasahi Jakarta, lampu-lampu jalan memantul di aspal basah seperti perasaan yang belum sempat ia cerna sepenuhnya.

Walau lukanya belum sembuh, pekerjaannya tetap harus berjalan.

Studio itu terasa lebih dingin dari jemarinya. Ia berdeham kecil untuk menegarkan diri. Lalu mengatur nafas walau sisa air matanya masih tersisa.

"Selamat malam, kamu sedang mendengarkan Ruang Rasa," ucap Aruna dengan suara hangat yang telah ia latih bertahun-tahun. "Tempat di mana kamu boleh jujur soal perasaanmu, tanpa takut dihakimi."

Layar tablet di depannya penuh pesan masuk. Nama-nama samaran, kisah cinta yang asing sekaligus terlalu dekat.

"Pesan pertama dari HujanDiBalkon," bacanya perlahan. "Katanya, sudah lima tahun menjalin hubungan, tapi akhir-akhir ini merasa sendirian. Masih bersama, tapi tak lagi saling memiliki."

Aruna berhenti sejenak sebelum menjawab, suaranya lembut dan tenang. "Cinta yang sehat bukan cuma soal bertahan, tapi soal dipilih setiap hari. Kalau kamu merasa sendirian di dalam hubungan, mungkin yang perlu kamu tanyakan bukan bagaimana mempertahankan dia, tapi apakah kamu sanggup dalam hubungan yang tak memilihmu setiap hari?"

"Dipikirkan sekali lagi HujanDiBalkon." ujarnya tersenyum, "Semoga digantikan dengan yang lebih mengusahakanmu."

Pesan demi pesan mengalir. Tentang cemburu, takut ditinggalkan, tentang cinta sepihak yang melelahkan. Aruna menanggapi semuanya dengan empati, seolah ia tidak sedang menjalani kebohongan terbesar dalam hidupnya sendiri.

Di sela jeda musik, ia melirik jendela. Hujan semakin deras. Dadanya terasa lebih berat dari biasanya.

"Terakhir," ucapnya menjelang akhir acara, "untuk kamu yang sedang patah hati—kehilangan seseorang tidak berarti kamu kehilangan nilai dirimu. Jangan mengecilkan diri hanya karena seseorang memilih pergi."

"Ada banyak hal yang membingungkan di dunia ini, cinta tidak boleh menjadi salah satunya."

Lampu merah mati. Acara selesai.

Aruna melepas headset dan menyandarkan tubuh sejenak. 

Tepuk tangan kecil terdengar dari balik kaca studio. Ia membalas dengan senyum tipis, berpamitan singkat kepada kru dibelakang layar, sebelum beranjak keluar. Begitu pintu studio terbuka, suara hujan langsung menyambutnya. 

Sialnya, ia tidak membawa mobil malam ini, dan Kelly, sang manager, mengabarkan terlambat menjemput karena hujan deras dan jalanan padat.

Aruna berdiri di bawah kanopi gedung, memeluk lengannya sendiri, menunggu.

"Nona Aruna?"

Aruna terlonjak kaget saat suara berat itu terdengar dari arah belakangnya. Tubuhnya memutar cepat, mendapati seorang lelaki bertubuh besar dengan setelan jas hitam berdiri tepat di hadapannya. Bahunya lebar, rahangnya keras, wajahnya tak ramah, posturnya seperti tembok berjalan.

"Si—siapa?" tanya Aruna refleks, mundur selangkah.

"Tuan Atlas ingin bertemu. Silakan ikut saya."

Jantung Aruna berdegup lebih cepat. Saat ia mengintip ke arah pandang lelaki itu, matanya menangkap sebuah sedan hitam dengan lampu menyala berada tak jauh dari posisi mereka, seolah menunggunya.

Meski ragu, Aruna tetap mengikuti. Ia duduk gelisah di kursi penumpang, ponsel sudah siap di tangan, jarinya menggantung di atas tombol darurat. Kalau-kalau ia diculik.

Perjalanan berlangsung hampir setengah jam dalam keheningan ganjil. Tak ada percakapan, tak ada musik—hanya suara mesin dan lampu jalan yang menyapu kaca jendela. 

Hingga mobil berbelok memasuki halaman luas, pagar hitam tinggi terbuka otomatis, menampilkan sebuah rumah modern dua lantai yang berdiri megah. Kaca mendominasi bangunan, kolam renang membentang tenang di tengah halaman, cahaya lampu taman memantul di permukaannya.

Mobil berhenti di depan pintu utama. Lelaki itu turun lebih dulu dan membukakan pintu. 

Aruna melangkah keluar, hak sepatunya menyentuh lantai batu yang dingin, matanya menyapu kemewahan yang terasa menekan. Ia mengikuti langkah lelaki itu melewati sisi kolam menuju pintu kayu besar. Sebelum sempat mengetuk, pintu sudah terbuka.

"Silakan," ucap seorang wanita paruh baya berseragam rapi. "Tuan ada di ruang tengah."

Aruna menanggalkan heels dan melangkah masuk. Interior rumah itu lapang dan sunyi. Lift kaca berdiri di sudut ruangan, api unggun menyala di ruang depan, memberi kehangatan di tengah dominasi kaca dan warna netral.

Langkahnya terhenti.

Atlas berdiri membelakanginya di depan lemari buku tinggi. Tanpa jas yang biasanya lelaki itu kenakan, hanya crew neck abu-abu dan celana senada, namun aura berkuasanya tetap tak terbantahkan.

"Nona Aruna sudah datang, Tuan," ujar sang pelayan sebelum pergi.

Membuat Atlas berbalik perlahan, tatapannya langsung mengunci Aruna. "Silakan duduk."

"Kenapa Pak Atlas mau bertemu saya jam segini?" tanyanya, berusaha menjaga nada tetap tenang meski jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Atlas melirik ponselnya sekilas, baru menyadari waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. "Maaf," ucapnya datar. "Saya tidak memiliki waktu luang lain selain malam ini." Ia lalu menggeser sebuah map tipis ke arah Aruna. "Mari kita perjelas."

Aruna meraih map itu dan membukanya. Matanya langsung tertuju pada judul dokumen di halaman pertama: Perjanjian Kerahasiaan. Alisnya sedikit berkerut saat ia mulai membaca isi dokumen tersebut.

"Tidak boleh ada yang tahu hubungan ini palsu," ujar Atlas tenang, seolah membacakan pasal yang paling sederhana. "Termasuk manajer kamu dan keluarga kamu."

Aruna terdiam. 

Jarinya membalik halaman demi halaman, membaca setiap poin dengan saksama. Tidak ada paksaan. 

Tidak ada klausul yang mengikat secara sepihak. Hubungan bisa diakhiri kapan saja jika salah satu pihak meminta. Semua tertulis dingin dan rapi, seperti kontrak bisnis, namun jelas menguntungkan kedua belah pihak.

Ia terdiam cukup lama, bertarung dengan pikirannya sendiri. Selama ini, ia tidak pernah berbohong pada dua orang itu, Kelly dan Tante Amanda. Satu-satunya keluarga yang ia miliki sekarang. Namun di hadapannya kini ada realitas yang tak memberinya banyak pilihan.

"Saya tidak memaksa," ujar Atlas lagi, seolah membaca keraguannya. "Keputusan sepenuhnya di tangan kamu."

Akhirnya, Aruna menghela napas pelan. Ia meletakkan map itu di atas meja, meraih pulpen yang disediakan, dan menandatangani dokumen tersebut dengan goresan tegas. Atlas hanya duduk memperhatikannya, tanpa ekspresi, seolah ini memang hasil yang sudah ia perkirakan sejak awal.

Setelah selesai, Aruna menggeser kembali map itu ke arahnya.

Sementara Atlas lalu mendorong segelas wine ke arah Aruna dan mengangkat gelasnya sendiri, menunggu tanpa kata. Membawa Aruna tersenyum tipis, membalas gestur itu, lalu meneguk isi gelasnya tanpa ragu. 

Baru setelah cairan itu melewati tenggorokannya, kesadarannya tersentak.

"Ini... ada alkoholnya?" tanyanya, suaranya panik saat ia menatap Atlas.

"Tentu," Atlas mengangguk santai, sebelum keningnya berkerut setelahnya, "Jangan bilang kamu—"

"Saya nggak bisa minum." potong Aruna cepat, matanya melebar.

Dan sebelum Atlas sempat bereaksi lebih jauh, tubuh Aruna sudah terkulai ke samping, ambruk ke atas sofa dengan napas yang melemah.

Atlas menghela napas pendek, menatap perempuan yang kini terbaring tak sadarkan diri di hadapannya, seolah baru menyadari satu detail kecil yang luput dari perhitungannya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   119| Pembaharuan Perjanjian

    Aruna sudah merasa dirinya cukup gila selama beberapa hari terakhir. Keputusan-keputusan impulsif, emosi yang naik turun, sampai keberaniannya datang ke acara elit dengan pakaian yang jelas menantang aturan, semuanya terasa di luar kebiasaannya. Namun malam ini, ia menyadari satu hal yang membuatnya hampir ingin tertawa getir.Selalu ada yang lebih gila darinya.Dan orang itu adalah Atlas.Lelaki itu, tanpa ragu, tanpa aba-aba, tanpa memberi ruang sedikit pun untuknya berpikir, baru saja mengumumkan pertunangan mereka di depan kedua orang tuanya. Di depan orang-orang penting yang bahkan namanya saja bisa mengguncang banyak hal.Dan Aruna... tidak tahu apa-apa.Jantungnya masih berdetak tidak beraturan ketika suasana mendadak berubah. Lampu utama sedikit diredupkan, musik klasik mulai mengalun lembut memenuhi ruangan. Seorang pembawa acara naik ke atas panggung, suaranya terdengar tenang namun berwibawa, mengundang perhatian seluruh tamu."Para tamu undangan yang terhormat, kami persil

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   118| Pertunangan

    Mobil berwarna pink metallic itu meluncur pelan sebelum akhirnya berhenti tepat di depan pintu masuk utama gedung megah yang malam itu dipenuhi cahaya dan kilatan kamera.Lampu-lampu gantung yang menggantung tinggi di area lobi luar memantulkan cahaya ke permukaan mobil Aruna, membuat warnanya tampak semakin mencolok di antara deretan kendaraan hitam elegan milik para tamu undangan lain.Di balik kemudi, Aruna membuang napas panjang. Jarinya masih menggenggam stir, meski mesin sudah mati sejak beberapa detik lalu. Ia menatap lurus ke depan, ke arah karpet merah yang terbentang panjang, ke arah orang-orang yang turun dengan gaun mahal dan setelan jas sempurna. Dunia yang terasa terlalu jauh darinya.Beberapa jam lalu, ia masih berguling santai di atas kasur, menikmati milk tea bobanya, tenggelam dalam dunia kecilnya yang sederhana. Sekarang, tepat ketika jam menunjukkan pukul tujuh malam, ia berdiri di ambang sebuah acara yang bahkan tak pernah ia bayangkan akan hadiri. Gala dinner e

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   117| Undangan

    Sudah lama sekali Aruna tidak menikmati pagi seperti ini.Tidak ada jadwal padat yang menunggunya sejak subuh, tidak ada panggilan mendadak, tidak ada suara orang-orang yang terus memanggil namanya dari berbagai arah. Yang ada hanya keheningan nyaman, ditemani cahaya abu-abu dari langit mendung yang masuk melalui jendela kamarnya.Aruna masih berguling di atas kasur empuk itu, tubuhnya tenggelam di antara bantal-bantal besar yang ia peluk sejak tadi. Ia mengenakan kaos oversize favoritnya yang jatuh longgar hingga menutupi setengah pahanya, rambutnya diikat asal ke belakang, beberapa anak rambut terlepas dan jatuh di sisi wajahnya, memberi kesan berantakan yang justru terasa santai.Di tangannya, sebuah buku tebal terbuka—psikologi kriminal, bacaan yang beberapa hari terakhir menarik perhatiannya. Alisnya sesekali berkerut ketika menemukan bagian yang menarik, lalu kembali mengendur saat ia membalik halaman. Tidak ada tekanan untuk cepat selesai, tidak ada target. Ia membaca hanya ka

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   116| Start a War

    Suasana malam menyelimuti perjalanan van hitam yang membawa Aruna pulang menuju kediaman Amanda. Lampu-lampu jalan berjejer rapi di sepanjang jalan, memantul di kaca jendela seperti garis-garis cahaya yang terus bergerak mengikuti laju kendaraan. Kota belum benar-benar tidur, tapi hiruk pikuknya sudah mereda, menyisakan suara mesin kendaraan yang lewat sesekali dan dengungan halus dari aspal yang dilalui roda mobil.Di dalam van, suasana kontras dengan dunia luar—hening, tertahan.Aruna menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, memejamkan mata sejak tadi. Tubuhnya terasa lelah, bukan hanya karena aktivitas seharian, tapi juga karena pikirannya yang tidak berhenti bekerja. Seharian ia sibuk, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tertawa, berbicara, bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Tapi begitu ia diam seperti ini, semua yang ia hindari kembali datang tanpa permisi.Bayangan wajah Atlas muncul begitu saja.Sikap dinginnya.Jarak yang tiba-tiba tercipta.Dan yang paling meng

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   115| Panggilan Telepon

    Lampu merah kecil menyala di sudut ruangan, menandakan siaran telah dimulai. Studio podcast Ruang Rasa terasa hangat dengan pencahayaan temaram yang sengaja dibuat nyaman, seolah setiap kata yang keluar di dalamnya akan terdengar lebih jujur. Aruna duduk tegak di kursinya, headphone melingkar di kepala, mikrofon berdiri tepat di hadapannya. Senyum tipis menghiasi wajahnya, rapi dan profesional, seakan tidak ada apa pun yang mengganggu pikirannya."Kadang," suaranya mengalun lembut, teratur, "kita terlalu sibuk mencari jawaban dari orang lain, sampai lupa kalau sebenarnya kita sendiri sudah tahu jawabannya."Di balik kaca, produser mengangkat jempol. Aruna membalas dengan anggukan kecil, lalu melanjutkan. Ia menyusun kata demi kata dengan hati-hati, menyelipkan tawa ringan di sela pembahasan, membuat suasana terasa dekat dan hangat. Tidak ada yang tahu bahwa beberapa hari terakhir justru dipenuhi hal-hal yang tidak pernah ia bahas di depan mikrofon, pertanyaan yang terus berputar tan

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   114| Sudah Tidak Ada

    Erangan pelan keluar dari tenggorokan Atlas, samar dan berat, memecah keheningan kamar yang masih terbungkus gelap. Kepalanya terasa seperti dipukul dari dalam, berdenyut tanpa ampun, membuat setiap tarikan napas terasa sedikit menyakitkan. Ia menggeliat di atas kasur, tubuhnya bergerak malas, mencoba kembali tenggelam dalam sisa tidur yang terasa jauh lebih nyaman daripada kesadaran yang perlahan menariknya kembali.Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.Cahaya tiba-tiba menyerbu masuk.Tirai kamar ditarik terbuka dengan kasar, membiarkan sinar matahari pagi menyusup tanpa ampun, menusuk mata Atlas yang masih setengah tertutup. Lelaki itu langsung mengerang kesal, mengacak rambutnya dengan kasar sebelum menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal."Still able to sleep after causing such a fucking mess?" suara Athar terdengar datar dari ambang pintu.Nada itu tidak tinggi, tidak juga marah, tapi cukup untuk menusuk lebih dalam daripada teriakan.Atlas membuka mata dengan malas. Butuh

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   33| Studio Rekaman

    Sejak kebodohan di bandara beberapa waktu lalu, Aruna seperti memaksakan dirinya untuk kembali berpijak pada realita. Ia berulang kali mengingatkan diri sendiri bahwa apa yang terjadi antara dirinya dan Atlas bukanlah sesuatu yang nyata—bukan hubungan yang bisa ia genggam, bukan perasaan yang bole

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   12| Penyusup

    Aruna merebahkan dirinya di atas kasur double size yang hampir memenuhi setengah ruangan kamar itu. Sprei yang membungkusnya bermotif bunga-bunga kecil berwarna pastel—mawar merah muda, daun hijau pucat, dan tangkai tipis yang menjalar acak seperti taman kecil yang digambar di atas kain. Terlalu h

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   32| Pertunjukan

    Pagi itu, landasan bandara masih dipenuhi sisa dingin malam yang belum sepenuhnya hilang. Langit berwarna pucat, dan suara mesin pesawat yang mendarat terdengar berat, membelah udara yang tenang. Aruna berdiri di samping mobil hitam mengilap, kedua tangannya saling menggenggam di depan tubuhnya. A

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   31| Tamu Tak Diundang

    Gerimis tipis mulai turun ketika sore merangkak menuju malam. Dari balik kaca besar studio, butiran air tampak berlomba jatuh, meninggalkan jejak samar yang perlahan mengaburkan pemandangan kota di luar sana. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, menciptakan suasana sendu yang entah kenap

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status