LOGINAruna berdiri di depan cermin kamar mandi milik Atlas, menatap pantulan dirinya dengan sorot mata yang masih sedikit asing.
Ia langsung pamit ke kamar mandi milik Atlas sebelum mamanya menginterogasi kedua kali.
Kepala sudah tidak seberat sebelumnya, meski sisa-sisa pening masih bersarang samar di pelipis. Ia merapikan kerah kemeja putih yang masih membalut tubuhnya, kemeja milik Atlas. Ukurannya jelas terlalu besar, bahunya jatuh longgar, lengannya ia gulung sampai siku agar tidak menutup telapak tangan.
Celana yang ia kenakan adalah celana semalam yang ia temukan tergantung rapi di kamar mandi luas itu. Masih layak pakai, meski bau sabun mahal bercampur samar dengan aroma khas rumah Atlas. Sementara blus miliknya sudah mustahil diselamatkan.
Ia memilih tidak memikirkan ke mana benda itu berakhir.
Tas kecilnya ia bongkar di atas meja wastafel marmer. Tidak banyak yang bisa diharapkan dari sana. Tidak ada bedak, tidak ada lipstik. Hanya lip balm polos yang ia temukan di dasar tas. Aruna menghela napas kecil, lalu mengoleskannya ke bibir dengan gerakan ringan.
Cukup.
Ia tidak berniat terlihat memesona. Ia hanya ingin terlihat... layak.
Setelah memastikan rambutnya cukup rapi dan wajahnya tidak tampak terlalu kacau, Aruna melangkah keluar dari kamar mandi.
Ia mengintip lebih dulu ke arah luar kamar. Sunyi. Tidak ada suara, tidak ada pergerakan. Ruang tengah rumah besar itu tampak kosong, seolah kejadian tadi hanyalah mimpi aneh yang belum sepenuhnya selesai ia cerna.
Hal itu justru membuat Aruna semakin waspada. Ia melangkah pelan, telapak kakinya menyentuh lantai dingin tanpa alas, matanya menelusuri setiap sudut rumah yang terasa terlalu besar untuk satu orang.
Namun langkahnya terhenti saat ia mencapai lorong yang tembus ke arah dapur bersih.
Di sana, di balik meja makan marmer panjang, Atlas sudah duduk.
Sementara di kursi seberangnya, sang ibunda berada.
Wanita itu tampak tenang, elegan, menyendok scrambled egg dengan gerakan anggun seolah pagi ini tidak menyimpan kejutan apa pun. Namun begitu suara langkah Aruna terdengar, kedua pasang mata itu terangkat bersamaan.
Atlas menatapnya sekilas, lalu mengangguk tipis. Isyarat sederhana agar Aruna mendekat. Seorang pelayan muncul entah dari mana, menarik kursi di samping Atlas, kursi yang jelas sudah disiapkan untuknya.
Langkah Aruna terasa berat saat ia mendekat. Ia duduk di sana, tepat di samping Atlas, punggungnya tegak, tangannya otomatis bertaut di atas paha.
Tak lama, pelayan yang sama meletakkan sepiring sarapan lengkap di hadapannya. Scrambled egg berwarna kuning lembut, sosis panggang yang masih mengepulkan uap tipis, roti bakar keemasan dengan olesan mentega, serta segelas jus jeruk segar.
Ia melirik ke piring itu, lalu ke arah Atlas. Lelaki itu menyantap sarapannya dengan tenang, seolah tidak ada badai kecil yang baru saja lewat. Sang ibu pun sama, menyendok makanan tanpa ekspresi berlebih.
Aruna baru mengangkat garpunya ketika suara denting gelas yang diletakkan cukup keras menghentikan gerakannya.
Ia langsung duduk lebih tegak, refleks.
"Sudah berapa lama kalian berkencan?"
Suara wanita di hadapannya terdengar jelas, datar, namun mengandung tekanan yang tidak bisa diabaikan. Aruna mendongak dan bertemu tatapan yang memburu, tajam, dan penuh penilaian.
Wanita itu bernama Ratna Wicaksono, informasi yang Aruna cari singkat di internet beberapa menit lalu, ketika kepanikan belum sepenuhnya mereda.
Ratna, istri dari pemilik utama Wicaksono Group, konglomerasi berlian dan perhiasan kelas dunia yang namanya bahkan lebih sering muncul di halaman bisnis internasional ketimbang nasional.
"Lumayan lama, Ma."
Jawaban itu datang bukan dari Aruna, melainkan dari Atlas.
Ia meletakkan sendoknya, menoleh penuh pada sang ibu. Wajahnya tetap tenang, nada suaranya bahkan stabil.
"Dia alasan kamu selalu menolak kencan buta yang Mama atur?" tanya Ratna dingin. "Kenapa hubungan kalian perlu disembunyikan?"
Tanpa menunggu jawaban, Ratna menyodorkan sebuah tablet ke tengah meja. Layarnya menyala, menampilkan sebuah berita dengan headline besar.
"Kenapa Mama harus tahu kabar ini dari media?" lanjut Ratna, menatap Atlas dan Aruna secara bergantian.
"Atlas ingin memberi tahu Mama setelah hubungan Atlas dan..." Atlas berdeham singkat, "...Aruna nanti."
Ratna mendengus pelan, lalu melipat kedua tangannya di depan dada. Kali ini, seluruh perhatiannya tertuju pada Aruna. Tatapan itu meneliti, menimbang, dan menilai.
"Apa yang orang tua kamu lakukan?"
Pertanyaan itu jatuh tanpa peringatan. Aruna menguatkan genggaman jarinya, menelan ludah dengan susah payah.
"Ma, orang tua Aruna—"
"Mama tanya kekasih kamu, bukan kamu," potong Ratna tanpa menoleh.
Aruna menarik napas dalam-dalam. Lalu, dengan senyum kecil yang terlatih, ia menjawab, "Orang tua saya sudah meninggal, Tante. Kecelakaan tunggal sepuluh tahun lalu."
Tatapan Ratna tidak lagi setajam sebelumnya. Ada jeda tipis sebelum tangannya turun dari posisi melipat di dada, seolah ia memutuskan memberi ruang bernapas.
"Lalu kamu tinggal dengan?" tanyanya.
"Tante saya," jawab Aruna tanpa ragu. Suaranya tenang, tidak tergesa. "Dia yang membesarkan saya dan menyekolahkan saya, Tante."
Ratna mengangguk kecil, nyaris tak terlihat. Namun pandangannya kemudian turun, berhenti pada kemeja putih yang membalut tubuh Aruna. Kemeja itu terlalu besar, jelas bukan milik gadis itu.
"Kalian sudah tinggal bersama sejak kapan?"
Pertanyaan itu jatuh ringan, namun menghantam keras.
Mata Aruna melebar seketika. Bahunya menegang, jemarinya refleks mencengkeram ujung kursi.
"Ma," Atlas menyela cepat, nadanya tegas meski tetap terkontrol. "Aruna hanya menginap. Dia punya rumah sendiri."
Ratna mendengus pelan. Ia menyipitkan mata ke arah putranya, sorotnya penuh arti. "Kamu pikir Mama tidak pernah muda?" ucapnya dingin, lalu melirik Aruna sekilas. "Selalu pakai pengaman. Kalian tahu itu, kan?"
Udara di ruang makan terasa lebih berat.
"Ma," tegur Atlas lagi. Keningnya bertaut, rahangnya mengeras tipis.
Sementara Ratna menghela napas pendek, lalu mengangkat kedua tangannya seolah menyerah pada situasi yang jelas tidak sepenuhnya ia setujui. "Mama pergi," katanya singkat. "Pastikan tidak ada skandal yang menyulitkan."
Ia bangkit dari kursinya dan meraih tas mahal yang tergantung di sandaran. Aruna refleks ikut berdiri, namun Ratna menghentikannya hanya dengan satu isyarat tangan.
"Tidak perlu diantar," ucapnya datar, lalu menatap Aruna lurus-lurus. "Kita masih harus bicara di lain waktu, dan jadwalkan pertemuan dengan Tante kamu.”
Jantung Aruna berdetak lebih cepat, tapi ia tetap mengangguk sopan.
Ratna kemudian beralih pada Atlas. "Mampirlah ke rumah sesekali. Atau setidaknya, temui Papamu."
Nada itu membuat tubuh Atlas menegang seketika. Namun sebelum ia sempat menjawab, Ratna sudah berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan ruang makan dalam keheningan yang canggung.
Beberapa detik berlalu sebelum Aruna berani menghembuskan napas panjang, seolah baru saja lolos dari badai yang nyaris menyeretnya.
"Maaf," ujar Atlas akhirnya, suaranya lebih rendah dari sebelumnya. "Semua ini di luar rencana."
Aruna mengangguk kecil. Ia menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit sebentar, lalu terkekeh lirih, lebih seperti pelepas tekanan daripada tawa sungguhan.
Aruna menoleh ke arahnya. Alisnya terangkat tipis. Kejadian barusan saja sudah terasa seperti sorotan lampu sorot penuh. Akankah keributan akan lebih ramai dari ini?
"Saya akan kirimkan jadwal kesibukan saya lewat asisten saya," kata Atlas sambil bangkit dari kursinya. "Kirimkan jadwal kamu juga. Setidaknya kita tahu kapan harus... hadir."
Namun sebelum ia melangkah pergi, Aruna tiba-tiba berdiri. Ia menyendok cepat scrambled egg, menggigit sosis tanpa banyak pikir, lalu mengulurkan tangannya ke arah Atlas.
"Ponsel Pak Atlas?"
Atlas terdiam sesaat, menatap tangan itu, lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan meletakkannya di telapak Aruna. Gadis itu mengetik cepat, jarinya lincah seolah ini sudah jadi kebiasaan.
"Nomor saya," katanya sambil mengembalikan ponsel itu. "Pasangan mana yang nggak punya nomor kekasihnya?"
Ada nada ringan di suaranya. Santai. Hampir ceria. Kontras dengan situasi barusan.
Aruna meraih roti bakarnya, menggigit ujungnya, lalu berjalan menjauh. "Saya pulang sendiri. Nanti saya kabari kalau ada apa-apa." Langkahnya sudah hampir mencapai ujung ruangan ketika ia berhenti dan menoleh kembali. "Kemejanya saya kembalikan nanti."
Lalu ia benar-benar pergi.
Meninggalkan Atlas yang masih berdiri di tempatnya, menatap kosong ke arah pintu yang baru saja tertutup. Beberapa detik kemudian, ia menghembuskan napas pelan, nyaris tak terdengar.
Dan untuk pertama kalinya pagi itu, ia menyadari satu hal sederhana namun mengganggu, kerja sama ini tidak akan sesederhana yang ia perkirakan.
Rekaman Ruang Rasa selesai lebih malam dari biasanya.Penayangannya diperpanjang menjadi tiga jam sejak episode terakhir meledak di media sosial, dan malam itu Aruna baru keluar dari studio mendekati pukul sepuluh. Tubuhnya terasa lelah dengan cara yang aneh—bukan karena pekerjaan, melainkan karena pikirannya terus berjalan sejak pesan anonim itu muncul.Kelly sudah pulang lebih dulu. Managernya itu harus menyiapkan jadwal Aruna untuk dua hari ke depan, jadi mereka berpisah sebelum Aruna turun ke basement.Lift berhenti dengan bunyi ding pelan.Ketika pintu terbuka, udara dingin parkiran basement langsung menyambutnya. Lampu-lampu neon memantulkan cahaya pucat ke deretan mobil yang tersusun rapi. Hampir tidak ada orang lain di sana. Hanya suara langkah Aruna yang menggema tipis di antara pilar-pilar beton.Ia berjalan menuju mobilnya sambil menggenggam tas lebih erat dari biasanya.Mungkin hanya perasaan.Tapi sejak pesan anonim itu muncul, hal-hal kecil terasa berbeda.Aruna membuka
Satu minggu berlalu sejak Aruna menyebut nama Atlas di hadapan publik.Dan dunia tampak… baik-baik saja.Tidak ada kejatuhan lanjutan. Tidak ada pembatalan kerja sama. Tidak ada kemarahan massal seperti yang ia khawatirkan diam-diam. Justru sebaliknya, angka pengikutnya bergerak naik perlahan, lalu stabil, lalu melonjak lagi. Setiap pagi, Aruna membuka ponselnya dengan perasaan waspada yang kian menipis. Grafik yang ia lihat selalu mengarah ke atas. Komentar yang dulu bernada skeptis kini berubah menjadi dukungan, bahkan kekaguman.Beberapa brand yang sempat menghilang mulai mengirim surel dengan bahasa yang terlalu ramah. Undangan acara berdatangan, lebih banyak dari biasanya. Ada sesuatu yang kembali percaya padanya—bukan hanya sebagai pelatih kencan, tapi sebagai perempuan yang dianggap berhasil menjalani hidupnya sendiri.Media ikut membantu membentuk narasi itu.Aruna dan Atlas disebut sebagai pasangan dewasa. Rasional. Tidak berisik. Tidak menjual kemesraan. Sebuah contoh hubung
Aruna sempat berpikir ucapan Atlas pagi tadi hanyalah kalimat formal yang diucapkan tanpa makna lebih."Setelah ini, keadaan akan semakin ramai."Baginya itu terdengar seperti peringatan generik dari seseorang yang hidupnya selalu dikelilingi perhatian. Ia tidak pernah benar-benar membayangkan bahwa kata ramai itu akan berarti kerumunan kamera, mikrofon, dan mata-mata asing yang menuntut jawabannya bahkan sebelum ia sempat menarik napas.Pagi itu, Aruna sudah mengabari Kelly bahwa ia akan pergi ke kantor radio seorang diri. Tidak perlu diantar, tidak perlu ditemani. Jadwalnya padat dan ia hanya ingin bergerak cepat tanpa banyak suara di sekelilingnya. Ia sempat pulang ke rumah sebentar, mandi, mengganti pakaian, merapikan rambut, lalu langsung bergegas pergi lagi. Semua terasa biasa. Normal. Seolah hidupnya masih berada di jalur yang ia kenal.Namun seluruh pemahaman itu runtuh begitu sedan pink miliknya melambat di depan gedung tua tempat kantor radio itu berdiri.Aruna mengerutkan
Aruna berdiri di depan cermin kamar mandi milik Atlas, menatap pantulan dirinya dengan sorot mata yang masih sedikit asing. Ia langsung pamit ke kamar mandi milik Atlas sebelum mamanya menginterogasi kedua kali.Kepala sudah tidak seberat sebelumnya, meski sisa-sisa pening masih bersarang samar di pelipis. Ia merapikan kerah kemeja putih yang masih membalut tubuhnya, kemeja milik Atlas. Ukurannya jelas terlalu besar, bahunya jatuh longgar, lengannya ia gulung sampai siku agar tidak menutup telapak tangan.Celana yang ia kenakan adalah celana semalam yang ia temukan tergantung rapi di kamar mandi luas itu. Masih layak pakai, meski bau sabun mahal bercampur samar dengan aroma khas rumah Atlas. Sementara blus miliknya sudah mustahil diselamatkan.Ia memilih tidak memikirkan ke mana benda itu berakhir.Tas kecilnya ia bongkar di atas meja wastafel marmer. Tidak banyak yang bisa diharapkan dari sana. Tidak ada bedak, tidak ada lipstik. Hanya lip balm polos yang ia temukan di dasar tas. Ar
Kepala Aruna berdenyut ketika ia terbangun.Bukan sakit yang tajam, melainkan berat, menekan dari dalam seperti ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Ia mengerjap perlahan sambil mengangkat tangan ke pelipis, mengusapnya dengan gerakan kecil yang ragu. Tubuhnya terasa pegal, otot-ototnya kaku, seolah ia tidur terlalu lama di posisi yang salah.Saat ia mencoba bangkit, telapak tangannya menyentuh permukaan keras dan dingin.Aruna terhenti.Ia duduk, menarik napas pendek, baru menyadari bahwa ia tidak berada di atas kasur. Lantai marmer menyentuh kulitnya, dingin dan nyata. Setengah tubuhnya tertutup selimut tebal berwarna gelap, sementara sebuah bantal abu-abu tergeletak di samping pahanya.Ia menoleh pelan.Kamar itu luas, terlalu luas untuk terasa akrab. Dindingnya didominasi warna abu dan hitam, bersih tanpa ornamen berlebihan, dengan pencahayaan temaram yang membuat segalanya tampak rapi sekaligus dingin. Tidak ada foto, tidak ada hiasan personal, hanya garis-garis tegas dan kesa
Aruna tahu ia sudah gila. Bahkan sebelum benar-benar memahami siapa sosok Atlas Wicaksono, ia sudah mengangguk dan menyetujui ajakan menjalin hubungan palsu itu. Tanpa kontrak tertulis, tanpa jaminan apa pun, hanya bermodalkan logika rapuh yang ia yakinkan sendiri sebagai keputusan paling rasional di tengah kekacauan.Dan tepat saat Agasa membenarkan rumor kencannya, berita tentang Aruna dan Atlas justru meledak lebih besar.CEO HEARTLINE, ATLAS WICAKSONO, MENGUMUMKAN HUBUNGANNYA DENGAN ARUNA—BEAUTY INFLUENCER DAN PAKAR CINTA.Dari situlah Aruna baru benar-benar paham. Atlas bukan sekadar pemilik aplikasi kencan. Ia adalah pengusaha muda terkaya di negeri ini, anak tunggal konglomerat berlian, figur eksklusif yang nyaris tak pernah tersentuh gosip. Publik menyukai kisah mereka, cerita cinta tak terduga antara lelaki dingin dan perempuan yang memahami perasaan manusia. Dan tentu saja, berita itu berhasil menutup rapat rumor tentang Aruna dengan Agasa yang pernah muncul.Lampu indi