Share

5| Calon Mertua

Author: sidonsky
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-05 01:12:57

Aruna berdiri di depan cermin kamar mandi milik Atlas, menatap pantulan dirinya dengan sorot mata yang masih sedikit asing. 

Ia langsung pamit ke kamar mandi milik Atlas sebelum mamanya menginterogasi kedua kali.

Kepala sudah tidak seberat sebelumnya, meski sisa-sisa pening masih bersarang samar di pelipis. Ia merapikan kerah kemeja putih yang masih membalut tubuhnya, kemeja milik Atlas. Ukurannya jelas terlalu besar, bahunya jatuh longgar, lengannya ia gulung sampai siku agar tidak menutup telapak tangan.

Celana yang ia kenakan adalah celana semalam yang ia temukan tergantung rapi di kamar mandi luas itu. Masih layak pakai, meski bau sabun mahal bercampur samar dengan aroma khas rumah Atlas. Sementara blus miliknya sudah mustahil diselamatkan.

Ia memilih tidak memikirkan ke mana benda itu berakhir.

Tas kecilnya ia bongkar di atas meja wastafel marmer. Tidak banyak yang bisa diharapkan dari sana. Tidak ada bedak, tidak ada lipstik. Hanya lip balm polos yang ia temukan di dasar tas. Aruna menghela napas kecil, lalu mengoleskannya ke bibir dengan gerakan ringan. 

Cukup. 

Ia tidak berniat terlihat memesona. Ia hanya ingin terlihat... layak.

Setelah memastikan rambutnya cukup rapi dan wajahnya tidak tampak terlalu kacau, Aruna melangkah keluar dari kamar mandi.

Ia mengintip lebih dulu ke arah luar kamar. Sunyi. Tidak ada suara, tidak ada pergerakan. Ruang tengah rumah besar itu tampak kosong, seolah kejadian tadi hanyalah mimpi aneh yang belum sepenuhnya selesai ia cerna. 

Hal itu justru membuat Aruna semakin waspada. Ia melangkah pelan, telapak kakinya menyentuh lantai dingin tanpa alas, matanya menelusuri setiap sudut rumah yang terasa terlalu besar untuk satu orang.

Namun langkahnya terhenti saat ia mencapai lorong yang tembus ke arah dapur bersih.

Di sana, di balik meja makan marmer panjang, Atlas sudah duduk.

Sementara di kursi seberangnya, sang ibunda berada.

Wanita itu tampak tenang, elegan, menyendok scrambled egg dengan gerakan anggun seolah pagi ini tidak menyimpan kejutan apa pun. Namun begitu suara langkah Aruna terdengar, kedua pasang mata itu terangkat bersamaan.

Atlas menatapnya sekilas, lalu mengangguk tipis. Isyarat sederhana agar Aruna mendekat. Seorang pelayan muncul entah dari mana, menarik kursi di samping Atlas, kursi yang jelas sudah disiapkan untuknya.

Langkah Aruna terasa berat saat ia mendekat. Ia duduk di sana, tepat di samping Atlas, punggungnya tegak, tangannya otomatis bertaut di atas paha.

Tak lama, pelayan yang sama meletakkan sepiring sarapan lengkap di hadapannya. Scrambled egg berwarna kuning lembut, sosis panggang yang masih mengepulkan uap tipis, roti bakar keemasan dengan olesan mentega, serta segelas jus jeruk segar.

Ia melirik ke piring itu, lalu ke arah Atlas. Lelaki itu menyantap sarapannya dengan tenang, seolah tidak ada badai kecil yang baru saja lewat. Sang ibu pun sama, menyendok makanan tanpa ekspresi berlebih.

Aruna baru mengangkat garpunya ketika suara denting gelas yang diletakkan cukup keras menghentikan gerakannya.

Ia langsung duduk lebih tegak, refleks.

"Sudah berapa lama kalian berkencan?"

Suara wanita di hadapannya terdengar jelas, datar, namun mengandung tekanan yang tidak bisa diabaikan. Aruna mendongak dan bertemu tatapan yang memburu, tajam, dan penuh penilaian.

Wanita itu bernama Ratna Wicaksono, informasi yang Aruna cari singkat di internet beberapa menit lalu, ketika kepanikan belum sepenuhnya mereda. 

Ratna, istri dari pemilik utama Wicaksono Group, konglomerasi berlian dan perhiasan kelas dunia yang namanya bahkan lebih sering muncul di halaman bisnis internasional ketimbang nasional.

"Lumayan lama, Ma."

Jawaban itu datang bukan dari Aruna, melainkan dari Atlas.

Ia meletakkan sendoknya, menoleh penuh pada sang ibu. Wajahnya tetap tenang, nada suaranya bahkan stabil.

"Dia alasan kamu selalu menolak kencan buta yang Mama atur?" tanya Ratna dingin. "Kenapa hubungan kalian perlu disembunyikan?"

Tanpa menunggu jawaban, Ratna menyodorkan sebuah tablet ke tengah meja. Layarnya menyala, menampilkan sebuah berita dengan headline besar.

"Kenapa Mama harus tahu kabar ini dari media?" lanjut Ratna, menatap Atlas dan Aruna secara bergantian.

"Atlas ingin memberi tahu Mama setelah hubungan Atlas dan..." Atlas berdeham singkat, "...Aruna nanti."

Ratna mendengus pelan, lalu melipat kedua tangannya di depan dada. Kali ini, seluruh perhatiannya tertuju pada Aruna. Tatapan itu meneliti, menimbang, dan menilai.

"Apa yang orang tua kamu lakukan?"

Pertanyaan itu jatuh tanpa peringatan. Aruna menguatkan genggaman jarinya, menelan ludah dengan susah payah.

"Ma, orang tua Aruna—"

"Mama tanya kekasih kamu, bukan kamu," potong Ratna tanpa menoleh.

Aruna menarik napas dalam-dalam. Lalu, dengan senyum kecil yang terlatih, ia menjawab, "Orang tua saya sudah meninggal, Tante. Kecelakaan tunggal sepuluh tahun lalu."

Tatapan Ratna tidak lagi setajam sebelumnya. Ada jeda tipis sebelum tangannya turun dari posisi melipat di dada, seolah ia memutuskan memberi ruang bernapas.

"Lalu kamu tinggal dengan?" tanyanya.

"Tante saya," jawab Aruna tanpa ragu. Suaranya tenang, tidak tergesa. "Dia yang membesarkan saya dan menyekolahkan saya, Tante."

Ratna mengangguk kecil, nyaris tak terlihat. Namun pandangannya kemudian turun, berhenti pada kemeja putih yang membalut tubuh Aruna. Kemeja itu terlalu besar, jelas bukan milik gadis itu.

"Kalian sudah tinggal bersama sejak kapan?"

Pertanyaan itu jatuh ringan, namun menghantam keras.

Mata Aruna melebar seketika. Bahunya menegang, jemarinya refleks mencengkeram ujung kursi.

"Ma," Atlas menyela cepat, nadanya tegas meski tetap terkontrol. "Aruna hanya menginap. Dia punya rumah sendiri."

Ratna mendengus pelan. Ia menyipitkan mata ke arah putranya, sorotnya penuh arti. "Kamu pikir Mama tidak pernah muda?" ucapnya dingin, lalu melirik Aruna sekilas. "Selalu pakai pengaman. Kalian tahu itu, kan?"

Udara di ruang makan terasa lebih berat.

"Ma," tegur Atlas lagi. Keningnya bertaut, rahangnya mengeras tipis.

Sementara Ratna menghela napas pendek, lalu mengangkat kedua tangannya seolah menyerah pada situasi yang jelas tidak sepenuhnya ia setujui. "Mama pergi," katanya singkat. "Pastikan tidak ada skandal yang menyulitkan."

Ia bangkit dari kursinya dan meraih tas mahal yang tergantung di sandaran. Aruna refleks ikut berdiri, namun Ratna menghentikannya hanya dengan satu isyarat tangan.

"Tidak perlu diantar," ucapnya datar, lalu menatap Aruna lurus-lurus. "Kita masih harus bicara di lain waktu, dan jadwalkan pertemuan dengan Tante kamu.”

Jantung Aruna berdetak lebih cepat, tapi ia tetap mengangguk sopan.

Ratna kemudian beralih pada Atlas. "Mampirlah ke rumah sesekali. Atau setidaknya, temui Papamu."

Nada itu membuat tubuh Atlas menegang seketika. Namun sebelum ia sempat menjawab, Ratna sudah berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan ruang makan dalam keheningan yang canggung.

Beberapa detik berlalu sebelum Aruna berani menghembuskan napas panjang, seolah baru saja lolos dari badai yang nyaris menyeretnya.

"Maaf," ujar Atlas akhirnya, suaranya lebih rendah dari sebelumnya. "Semua ini di luar rencana."

Aruna mengangguk kecil. Ia menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit sebentar, lalu terkekeh lirih, lebih seperti pelepas tekanan daripada tawa sungguhan.

Aruna menoleh ke arahnya. Alisnya terangkat tipis. Kejadian barusan saja sudah terasa seperti sorotan lampu sorot penuh. Akankah keributan akan lebih ramai dari ini?

"Saya akan kirimkan jadwal kesibukan saya lewat asisten saya," kata Atlas sambil bangkit dari kursinya. "Kirimkan jadwal kamu juga. Setidaknya kita tahu kapan harus... hadir."

Namun sebelum ia melangkah pergi, Aruna tiba-tiba berdiri. Ia menyendok cepat scrambled egg, menggigit sosis tanpa banyak pikir, lalu mengulurkan tangannya ke arah Atlas.

"Ponsel Pak Atlas?"

Atlas terdiam sesaat, menatap tangan itu, lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan meletakkannya di telapak Aruna. Gadis itu mengetik cepat, jarinya lincah seolah ini sudah jadi kebiasaan.

"Nomor saya," katanya sambil mengembalikan ponsel itu. "Pasangan mana yang nggak punya nomor kekasihnya?"

Ada nada ringan di suaranya. Santai. Hampir ceria. Kontras dengan situasi barusan.

Aruna meraih roti bakarnya, menggigit ujungnya, lalu berjalan menjauh. "Saya pulang sendiri. Nanti saya kabari kalau ada apa-apa." Langkahnya sudah hampir mencapai ujung ruangan ketika ia berhenti dan menoleh kembali. "Kemejanya saya kembalikan nanti."

Lalu ia benar-benar pergi.

Meninggalkan Atlas yang masih berdiri di tempatnya, menatap kosong ke arah pintu yang baru saja tertutup. Beberapa detik kemudian, ia menghembuskan napas pelan, nyaris tak terdengar.

Dan untuk pertama kalinya pagi itu, ia menyadari satu hal sederhana namun mengganggu, kerja sama ini tidak akan sesederhana yang ia perkirakan.



Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   184| Downfall Era

    Butuh waktu cukup lama sampai Aruna benar-benar tenang. Semua tirai rumah ditutup rapat, suara kerumunan di luar memang masih terdengar sesekali, tetapi setidaknya ia tidak perlu melihat mereka secara langsung. Kini Aruna duduk meringkuk di sofa ruang tamu, di tangannya terdapat secangkir cokelat hangat yang dibuatkan Amanda, sementara ponselnya masih menempel di telinga."Iya, Tante Amanda di sini," ucap Aruna pelan ke ponselnya.Suara Atlas terdengar dari seberang, nada bicaranya terdengar lelah tapi tetap berusaha tenang."Mas Atlas nggak usah khawatir," kata Aruna lagi, melirik Amanda yang sedang duduk di kursi sebelah. Wanita itu membalas dengan senyum kecil. "Iya. Hati-hati."Beberapa detik kemudian panggilan terputus. Aruna meletakkan ponselnya di atas meja kaca. Amanda lalu mendorong secangkir teh hangat ke depan dirinya sendiri sebelum kembali menatap Aruna."Jadi," katanya pelan, "kontrak itu bohong?"Pertanyaan tembakan itu membuat Aruna menunduk, dengan jemarinya yang sali

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   183| Pelukan Dalam Kegelapan

    Aruna tidak tidur malam itu. Sejak pesan anonim itu kembali masuk ke ponselnya, ia hanya meringkuk di atas ranjang dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Lampu kamar sudah lama dimatikan, menyisakan cahaya temaram dari layar ponsel yang sejak tadi tak pernah benar-benar ia lepaskan dari genggamannya. Matanya terus kembali pada kalimat yang sama.Membiarkan Atlas tenggelam di kapalnya sendiri. Kalimat itu terasa seperti pisau yang perlahan menggores bagian paling sensitif dalam hatinya, karena jauh di dalam dirinya, di tempat yang paling enggan ia akui, Aruna tahu kenapa kalimat itu begitu menyakitkan. Karena sebagian dirinya takut itu benar.Sejak kontrak mereka bocor, semua hal buruk seolah datang bertubi-tubi. Nama Atlas diseret ke mana-mana, Heartline kehilangan kepercayaan publik, investor mulai mempertanyakan kredibilitas perusahaan, saham bergerak tidak stabil, dan media menyerang tanpa henti. Dan dirinya? Dirinya hanya menjadi pusat badai itu. Aruna memejamkan mata

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   182| Limbo

    Malam sudah turun ketika Aruna akhirnya sampai di kediamannya. Tubuhnya terasa lelah, bukan hanya karena jadwal yang padat, tetapi juga karena semua hal yang terjadi hari ini seperti menghantamnya tanpa jeda.Van yang membawanya berhenti perlahan di depan rumah. Pintu otomatis bergeser terbuka dengan suara lirih, dan Aruna menghela napas panjang sebelum melangkah turun.Namun baru beberapa langkah menjauh dari mobil, sorot lampu terang tiba-tiba menyapu halaman rumahnya dari arah belakang. Aruna refleks memutar tubuh, dan sebuah Lamborghini hitam berhenti tepat beberapa meter di belakang van miliknya. Jantungnya berdegup.Pintu mobil sport itu terbuka, dan Atlas turun dari sana. Dengan jas gelap yang masih melekat rapi di tubuhnya, wajah tegang, serta langkah cepat yang sama sekali tidak memberikan kesempatan bagi Aruna untuk bereaksi."Mas Atlas?"Belum sempat Aruna mengucapkan apa pun lagi, Atlas sudah sampai di hadapannya. Lelaki itu langsung menarik tubuh Aruna ke dalam pelukan, e

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   181| Rumah yang Runtuh

    Seseorang telah mengubah isi kontrak mereka, dan fakta itu membuat keadaan yang semula buruk berubah menjadi jauh lebih rumit.Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, internet seperti kehilangan akal sehatnya. Portal berita, akun gosip, kanal ekonomi, hingga forum-forum diskusi mulai membahas hal yang sama. Nama Atlas Wicaksono dan Aruna muncul di mana-mana. Potongan kontrak yang telah dimanipulasi itu tersebar luas tanpa ada yang benar-benar tahu mana bagian asli dan mana yang telah diubah.Yang mereka tahu hanya satu. Hubungan Atlas dan Aruna berawal dari sebuah kontrak. Dan itu sudah cukup untuk membuat publik menghakimi.Aruna yang selama ini dikenal sebagai pembawa acara podcast Ruang Rasa, perempuan yang memberi nasihat tentang hubungan, cinta, komunikasi, dan komitmen, kini justru menjadi sasaran utama. Pakar cinta gadungan. Pembohong. Social climber. Perempuan yang memanfaatkan Atlas demi popularitas. Semua label itu dilemparkan tanpa ampun.Satu per satu brand mulai men

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   180| Guilty as Sin

    [EXCLUSIVE: KONTRAK PERJANJIAN HUBUNGAN ATLAS WICAKSONO & ARUNA BOCOR]Hubungan yang selama ini dianggap sebagai kisah cinta paling sempurna di kalangan publik mendadak menjadi sorotan setelah sebuah dokumen yang diduga merupakan kontrak hubungan antara Atlas Wicaksono dan Aruna tersebar luas di internet. Dokumen tersebut memperlihatkan sejumlah pasal yang mengatur hubungan keduanya secara rinci, mulai dari kewajiban tampil bersama di depan publik hingga kesepakatan finansial yang diduga diberikan Atlas kepada Aruna. Kebocoran ini langsung memicu pertanyaan besar dari masyarakat. Benarkah hubungan yang selama ini dipertontonkan hanyalah sebuah kontrak? Apakah semua kemesraan yang ditampilkan selama ini hanya bagian dari kesepakatan bisnis?Tak hanya itu, kredibilitas Aruna sebagai pakar cinta dan pembawa acara Ruang Rasa ikut dipertanyakan. Banyak pihak menilai seseorang yang membangun citra hubungan ideal namun ternyata menjalani hubungan kontrak dianggap tidak layak memberikan na

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   179| Malam Petaka

    Meskipun kejadian di rumah Camelia sempat meninggalkan bekas di pipinya, satu kalimat dari Atlas berhasil menutupi semuanya."I love her."Kalimat itu terus terngiang di kepala Aruna sejak semalam. Bahkan ketika pagi berganti siang, lalu siang berubah menjadi malam dan ia harus menghadiri acara peluncuran fitur terbaru Heartline sebagai salah satu pembicara utama, senyum itu masih bertahan di bibirnya.Hari ini Aruna mengenakan gaun hitam elegan dengan potongan punggung terbuka yang memperlihatkan kulit putih mulusnya. Rambut panjangnya ditata rapi dalam sanggul rendah modern, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya dengan sempurna. Berlian yang melingkar di jemarinya memantulkan cahaya lampu ballroom setiap kali ia bergerak.Ballroom khusus yang disewa Heartline malam itu berada di lantai tertinggi sebuah hotel bintang lima. Megah, eksklusif, dan dipenuhi tamu-tamu yang bahkan sebagian besar tidak pernah muncul di media. Para pengusaha, investor, petinggi perusahaan tekno

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status