Share

68| Tujuh Hari

Penulis: sidonsky
last update Tanggal publikasi: 2026-04-09 00:37:13

Tujuh hari.

Pikiran itu kembali berputar di kepala Aruna seperti kaset rusak yang tak mau berhenti di satu titik. Ia akan bersama Atlas. Intens. Dalam satu rumah. Di depan kamera.

Siapa takut?

Setidaknya itu yang ia tanamkan dalam kepalanya. Ia mengangkat dagu sedikit, menarik napas panjang, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini bukan apa-apa. Bahwa ini hanya pekerjaan. Bahwa ia bisa melakukannya seperti biasa.

Seperti sebelum-sebelumnya.

Namun detik berikutnya, tubuhnya seperti kehilang
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Swipe Right for Love   68| Tujuh Hari

    Tujuh hari.Pikiran itu kembali berputar di kepala Aruna seperti kaset rusak yang tak mau berhenti di satu titik. Ia akan bersama Atlas. Intens. Dalam satu rumah. Di depan kamera.Siapa takut?Setidaknya itu yang ia tanamkan dalam kepalanya. Ia mengangkat dagu sedikit, menarik napas panjang, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini bukan apa-apa. Bahwa ini hanya pekerjaan. Bahwa ia bisa melakukannya seperti biasa.Seperti sebelum-sebelumnya.Namun detik berikutnya, tubuhnya seperti kehilangan tenaga begitu saja. Lututnya melemah, dan tanpa perlawanan, Aruna merosot turun ke lantai kamar. Punggungnya bersandar pada sisi ranjang, sementara kepalanya perlahan ia jatuhkan ke atas kasur empuk berwarna pink itu."Tujuh hari?" ulangnya lirih, suaranya nyaris seperti bisikan yang hilang di dalam ruangannya sendiri.Tangannya naik, menutupi wajahnya, lalu bergeser ke bibirnya. Ia memukul pelan bibir bawahnya dengan ujung jari, gemas sekaligus kesal pada dirinya sendiri."Aruna...you are so

  • Swipe Right for Love   67| Go Hard With a Pretty Face

    “Ide yang bagus.”Kalimat itu jatuh dengan ringan, tapi efeknya seperti sesuatu yang menghantam tepat di dada Aruna. Tubuhnya langsung mematung di tempat. Tanpa sadar, kepalanya bergerak pelan ke samping, mencari sumber suara yang barusan dengan begitu mudah memutus semua rencana yang sudah ia susun sejak pagi.Dari balik kacamata hitam yang bertengger di hidung runcingnya, Aruna menatap Atlas. Tatapan itu tajam, penuh protes yang tidak sempat ia ucapkan. Perlahan, ia menurunkan kacamata itu, membiarkan pandangannya terbuka sepenuhnya, membiarkan lelaki itu melihat apa yang selama ini ia sembunyikan—ketidaksukaan, keterkejutan, dan sesuatu yang jauh lebih dalam dari itu.Namun Atlas, seperti biasa, tidak terpengaruh.Dengan santai, ia memutus tatapan mereka seolah tidak ada yang terjadi, lalu mengalihkan perhatiannya kembali pada Alvi. “Selain bagus untuk exposure,” ucapnya tenang, suaranya stabil tanpa celah, “ide ini juga bagus untuk menaikkan engagement Heartline.”Seolah semua in

  • Swipe Right for Love   66| Reality Show

    Tidak semua rencana berjalan sesuai keinginan, dan Aruna sangat memahami hal itu. Ia sudah menyusun langkah dengan rapi, mencoba menciptakan jarak, bahkan meyakinkan dirinya bahwa menjauh dari Atlas adalah keputusan paling masuk akal. Namun, semakin ia berusaha menjaga jarak, semakin ia sadar bahwa situasinya tidak sesederhana itu. Hubungan mereka, meskipun hanya sebuah kontrak di atas kertas, tetap menempatkan mereka dalam lingkaran yang sama—terlihat bersama, bekerja bersama, dan tak bisa benar-benar menghindar satu sama lain.Selama satu minggu terakhir, Aruna berusaha keras untuk bersikap biasa saja. Setiap kali bayangan Atlas muncul di kepalanya, ia buru-buru mengalihkan perhatian, menyibukkan diri dengan jadwal shooting, membaca skrip, atau sekadar memaksa dirinya tidur lebih cepat. Ia ingin percaya bahwa dengan waktu, semua perasaan yang sempat tumbuh itu akan memudar dengan sendirinya.Pertemuan terakhir mereka terjadi saat mengantar Amanda kembali ke apartemen. Setelah itu

  • Swipe Right for Love   65| Dracula

    Aruna sudah memutuskan untuk menjauhi Atlas.Keputusan itu tidak datang dalam satu malam, tidak juga lahir dari emosi sesaat. Ia tumbuh perlahan, dari rasa malu yang mengendap, dari penolakan yang masih terasa di ujung ingatan, dari kesadaran pahit bahwa mungkin ia telah melangkah terlalu jauh sendirian. Dan ketika akhirnya keputusan itu diambil, Aruna tahu ini harus menjadi sesuatu yang mutlak.Ia berhenti menghubungi Atlas di luar keperluan yang benar-benar penting. Tidak ada lagi pesan singkat yang tiba-tiba ia kirim hanya untuk bertanya hal sepele. Tidak ada lagi alasan dibuat-buat untuk sekadar mendengar suara lelaki itu. Bahkan untuk urusan pekerjaan, Aruna memilih jalur yang paling formal, seolah membangun kembali jarak yang dulu pernah ada di antara mereka.Dan di hari kepulangan Amanda dari rumah sakit, Aruna memilih untuk melakukan semuanya sendiri.Tanpa memberi kabar pada Atlas.Tanpa menghubungi asistennya.Tanpa memberi celah sekecil apa pun bagi lelaki itu untuk kembal

  • Swipe Right for Love   64| Di Balik Pelukan

    Langit sore mulai berubah ke jingga ketika proses shooting untuk campaign summer dress itu akhirnya selesai. Studio yang sejak pagi dipenuhi lampu terang dan hiruk pikuk kru perlahan mereda. Musik yang tadi diputar berulang-ulang kini dimatikan, menyisakan suara langkah kaki dan obrolan santai para staf yang mulai membereskan peralatan.Aruna berdiri di tengah set dengan napas sedikit tertahan. Gaun tipis berwarna pastel masih melekat di tubuhnya, ringan, tapi entah kenapa hari ini terasa lebih melelahkan dari biasanya. Mungkin bukan karena pekerjaan. Mungkin… karena pikirannya tidak pernah benar-benar berada di sini sejak awal.“Kak Aruna, terakhir tadi bagus banget!” seru salah satu kru sambil mengacungkan jempol.Aruna tersenyum. Tipis, profesional, seperti yang selalu ia lakukan. “Makasih, ya.”Namun begitu ia berbalik menuju ruang ganti, senyum itu perlahan memudar. Langkahnya tetap tenang, tapi bahunya terasa lebih berat. Di dalam ruang ganti, ia duduk di depan cermin, menatap p

  • Swipe Right for Love   63| All the Small Things

    Atlas meregangkan tubuhnya perlahan di atas kursi kerjanya. Otot-ototnya terasa kaku, terutama di bagian leher dan bahu, akibat posisi tidur yang jauh dari kata nyaman. Ia bahkan tidak benar-benar yakin apakah itu bisa disebut tidur, atau hanya sekadar memejamkan mata tanpa benar-benar terlelap.Ruangan kerjanya masih sama seperti semalam—rapi, tenang, dan dingin. Lampu meja masih menyala redup, menyisakan bayangan tipis di sudut ruangan. Di atas meja, beberapa berkas terbuka begitu saja, seolah menunggu untuk diselesaikan, meskipun pikirannya sama sekali tidak berada di sana.Ia menghela napas panjang, lalu menegakkan tubuhnya. Tangannya terangkat, memijat pelipisnya perlahan, mencoba mengusir sisa-sisa berat di kepalanya. Namun yang datang justru hal lain.Bayangan semalam.Tanpa diminta, ingatan itu kembali dengan jelas.Wajah Aruna yang begitu dekat. Napasnya yang nyaris bersentuhan. Tatapannya yang… berbeda.Dan detik di mana ia menoleh.Atlas memejamkan matanya sejenak, rahangny

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status