Share

77| Warna Merah Muda

Author: sidonsky
last update publish date: 2026-04-10 23:14:28

Beruntung, setelah kejadian pagi itu, Agasa tidak lagi mendekatinya hingga malam benar-benar turun.

Sepanjang hari, Aruna lebih banyak menghabiskan waktu bersama peserta lain, mengikuti arahan kru, tertawa di momen-momen ringan yang memang terasa natural, dan sesekali memastikan dirinya tetap terlihat "sempurna" di depan kamera.

Sore menjelang malam berlalu dengan cepat. Setelah sesi terakhir selesai, seluruh peserta kembali ke vila untuk makan malam bersama. Meja panjang di area luar dipenuhi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   119| Pembaharuan Perjanjian

    Aruna sudah merasa dirinya cukup gila selama beberapa hari terakhir. Keputusan-keputusan impulsif, emosi yang naik turun, sampai keberaniannya datang ke acara elit dengan pakaian yang jelas menantang aturan, semuanya terasa di luar kebiasaannya. Namun malam ini, ia menyadari satu hal yang membuatnya hampir ingin tertawa getir.Selalu ada yang lebih gila darinya.Dan orang itu adalah Atlas.Lelaki itu, tanpa ragu, tanpa aba-aba, tanpa memberi ruang sedikit pun untuknya berpikir, baru saja mengumumkan pertunangan mereka di depan kedua orang tuanya. Di depan orang-orang penting yang bahkan namanya saja bisa mengguncang banyak hal.Dan Aruna... tidak tahu apa-apa.Jantungnya masih berdetak tidak beraturan ketika suasana mendadak berubah. Lampu utama sedikit diredupkan, musik klasik mulai mengalun lembut memenuhi ruangan. Seorang pembawa acara naik ke atas panggung, suaranya terdengar tenang namun berwibawa, mengundang perhatian seluruh tamu."Para tamu undangan yang terhormat, kami persil

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   118| Pertunangan

    Mobil berwarna pink metallic itu meluncur pelan sebelum akhirnya berhenti tepat di depan pintu masuk utama gedung megah yang malam itu dipenuhi cahaya dan kilatan kamera.Lampu-lampu gantung yang menggantung tinggi di area lobi luar memantulkan cahaya ke permukaan mobil Aruna, membuat warnanya tampak semakin mencolok di antara deretan kendaraan hitam elegan milik para tamu undangan lain.Di balik kemudi, Aruna membuang napas panjang. Jarinya masih menggenggam stir, meski mesin sudah mati sejak beberapa detik lalu. Ia menatap lurus ke depan, ke arah karpet merah yang terbentang panjang, ke arah orang-orang yang turun dengan gaun mahal dan setelan jas sempurna. Dunia yang terasa terlalu jauh darinya.Beberapa jam lalu, ia masih berguling santai di atas kasur, menikmati milk tea bobanya, tenggelam dalam dunia kecilnya yang sederhana. Sekarang, tepat ketika jam menunjukkan pukul tujuh malam, ia berdiri di ambang sebuah acara yang bahkan tak pernah ia bayangkan akan hadiri. Gala dinner e

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   117| Undangan

    Sudah lama sekali Aruna tidak menikmati pagi seperti ini.Tidak ada jadwal padat yang menunggunya sejak subuh, tidak ada panggilan mendadak, tidak ada suara orang-orang yang terus memanggil namanya dari berbagai arah. Yang ada hanya keheningan nyaman, ditemani cahaya abu-abu dari langit mendung yang masuk melalui jendela kamarnya.Aruna masih berguling di atas kasur empuk itu, tubuhnya tenggelam di antara bantal-bantal besar yang ia peluk sejak tadi. Ia mengenakan kaos oversize favoritnya yang jatuh longgar hingga menutupi setengah pahanya, rambutnya diikat asal ke belakang, beberapa anak rambut terlepas dan jatuh di sisi wajahnya, memberi kesan berantakan yang justru terasa santai.Di tangannya, sebuah buku tebal terbuka—psikologi kriminal, bacaan yang beberapa hari terakhir menarik perhatiannya. Alisnya sesekali berkerut ketika menemukan bagian yang menarik, lalu kembali mengendur saat ia membalik halaman. Tidak ada tekanan untuk cepat selesai, tidak ada target. Ia membaca hanya ka

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   116| Start a War

    Suasana malam menyelimuti perjalanan van hitam yang membawa Aruna pulang menuju kediaman Amanda. Lampu-lampu jalan berjejer rapi di sepanjang jalan, memantul di kaca jendela seperti garis-garis cahaya yang terus bergerak mengikuti laju kendaraan. Kota belum benar-benar tidur, tapi hiruk pikuknya sudah mereda, menyisakan suara mesin kendaraan yang lewat sesekali dan dengungan halus dari aspal yang dilalui roda mobil.Di dalam van, suasana kontras dengan dunia luar—hening, tertahan.Aruna menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, memejamkan mata sejak tadi. Tubuhnya terasa lelah, bukan hanya karena aktivitas seharian, tapi juga karena pikirannya yang tidak berhenti bekerja. Seharian ia sibuk, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tertawa, berbicara, bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Tapi begitu ia diam seperti ini, semua yang ia hindari kembali datang tanpa permisi.Bayangan wajah Atlas muncul begitu saja.Sikap dinginnya.Jarak yang tiba-tiba tercipta.Dan yang paling meng

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   115| Panggilan Telepon

    Lampu merah kecil menyala di sudut ruangan, menandakan siaran telah dimulai. Studio podcast Ruang Rasa terasa hangat dengan pencahayaan temaram yang sengaja dibuat nyaman, seolah setiap kata yang keluar di dalamnya akan terdengar lebih jujur. Aruna duduk tegak di kursinya, headphone melingkar di kepala, mikrofon berdiri tepat di hadapannya. Senyum tipis menghiasi wajahnya, rapi dan profesional, seakan tidak ada apa pun yang mengganggu pikirannya."Kadang," suaranya mengalun lembut, teratur, "kita terlalu sibuk mencari jawaban dari orang lain, sampai lupa kalau sebenarnya kita sendiri sudah tahu jawabannya."Di balik kaca, produser mengangkat jempol. Aruna membalas dengan anggukan kecil, lalu melanjutkan. Ia menyusun kata demi kata dengan hati-hati, menyelipkan tawa ringan di sela pembahasan, membuat suasana terasa dekat dan hangat. Tidak ada yang tahu bahwa beberapa hari terakhir justru dipenuhi hal-hal yang tidak pernah ia bahas di depan mikrofon, pertanyaan yang terus berputar tan

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   114| Sudah Tidak Ada

    Erangan pelan keluar dari tenggorokan Atlas, samar dan berat, memecah keheningan kamar yang masih terbungkus gelap. Kepalanya terasa seperti dipukul dari dalam, berdenyut tanpa ampun, membuat setiap tarikan napas terasa sedikit menyakitkan. Ia menggeliat di atas kasur, tubuhnya bergerak malas, mencoba kembali tenggelam dalam sisa tidur yang terasa jauh lebih nyaman daripada kesadaran yang perlahan menariknya kembali.Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.Cahaya tiba-tiba menyerbu masuk.Tirai kamar ditarik terbuka dengan kasar, membiarkan sinar matahari pagi menyusup tanpa ampun, menusuk mata Atlas yang masih setengah tertutup. Lelaki itu langsung mengerang kesal, mengacak rambutnya dengan kasar sebelum menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal."Still able to sleep after causing such a fucking mess?" suara Athar terdengar datar dari ambang pintu.Nada itu tidak tinggi, tidak juga marah, tapi cukup untuk menusuk lebih dalam daripada teriakan.Atlas membuka mata dengan malas. Butuh

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   33| Studio Rekaman

    Sejak kebodohan di bandara beberapa waktu lalu, Aruna seperti memaksakan dirinya untuk kembali berpijak pada realita. Ia berulang kali mengingatkan diri sendiri bahwa apa yang terjadi antara dirinya dan Atlas bukanlah sesuatu yang nyata—bukan hubungan yang bisa ia genggam, bukan perasaan yang bole

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   32| Pertunjukan

    Pagi itu, landasan bandara masih dipenuhi sisa dingin malam yang belum sepenuhnya hilang. Langit berwarna pucat, dan suara mesin pesawat yang mendarat terdengar berat, membelah udara yang tenang. Aruna berdiri di samping mobil hitam mengilap, kedua tangannya saling menggenggam di depan tubuhnya. A

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   31| Tamu Tak Diundang

    Gerimis tipis mulai turun ketika sore merangkak menuju malam. Dari balik kaca besar studio, butiran air tampak berlomba jatuh, meninggalkan jejak samar yang perlahan mengaburkan pemandangan kota di luar sana. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, menciptakan suasana sendu yang entah kenap

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   12| Penyusup

    Aruna merebahkan dirinya di atas kasur double size yang hampir memenuhi setengah ruangan kamar itu. Sprei yang membungkusnya bermotif bunga-bunga kecil berwarna pastel—mawar merah muda, daun hijau pucat, dan tangkai tipis yang menjalar acak seperti taman kecil yang digambar di atas kain. Terlalu h

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status