LOGINLi Mingzi menatap cek itu dengan dahi berkerut. Kemudian mengangkat wajah dengan ekspresi bingung yang tidak dibuat-buat. "Apakah ini mahar untukku?"
Linqi hampir tersedak. Beberapa karyawan yang menguping dari kejauhan saling berpandangan tidak percaya. Li Mingzi mengangguk pelan, lalu menggeleng. "Aku tidak mau masuk sebagai menantu dengan cara tidak terhormat." Ruan Yin menatapnya selama dua detik penuh, mencoba memahami apakah pemuda ini hanya berpura-pura bodoh. "Apa kau tidak mengerti maksudku? Aku ingin membatalkan pertunangan ini!" "Tapi surat ini dari kakekmu, bukankah seharusnya kakekmu yang berhak membatalkan atau tidak?" ujar Li Mingzi cepat. "Kalau begitu, aku harus bertanya langsung ke beliau, bukan ke kamu." Rahang Ruan Yin mengencang. "Kakek sedang sakit, tidak semua orang bisa menemuinya." "Kebetulan sekali," kata Li Mingzi dengan wajah serius, seolah dia baru saja menemukan jalan keluar dari masalah besar. "Aku bisa pengobatan. Sebelumnya hewan ternak, warga desa, orang tua dengan encok parah berhasil kusembuhkan. Bagaimana kalau aku mengobati kakekmu?" Linqi mengeluarkan suara tercekik akibat tawa yang tertahan. Ruan Yin menutup tasnya dengan suara klik yang tegas. “Tidak perlu. Kakekku sudah ditangani oleh dokter terbaik di kota ini,” ujar Ruan Yin dengan datar. “Tapi, setidaknya aku masih harus memastikan apakah perjodohan ini memang bisa diakhir atau tidak, kan?” Li Mingzi menatap Ruan Yin sambil mengangkat bahunya. “Kalau tidak, mungkin aku akan tetap datang ke sini setiap hari untuk mendapat kepastian.” Ruan Yin berdecak pelan. Ia tak sama sekali tak suka jika orang mengganggu ketenangannya. "Baiklah,” putus Ruan Yin datar, seperti orang yang tidak ingin berdebat lebih lama. "Aku akan membawamu menemui Kakek setelah urusan kantor selesai. Kau tunggu di sini saja." "Boleh aku masuk?" tanya Li Mingzi dengan polos. "Aku ingin melihat-lihat. Nanti kalau buka perusahaan sendiri, aku bisa punya gambaran." Ruan Yin berbalik sedikit, lalu mengangkat satu alisnya. "Perusahaan apa?" Li Mingzi menimbang sebentar. "Belum tahu." Linqi benar-benar tidak bisa menahan tawa kali ini. Bahkan satpam yang mendengar percakapan itu berpaling sambil menggeleng tidak percaya. Ruan Yin hanya membalikkan badan dan berjalan masuk dengan langkah cepat, isyarat yang sudah cukup jelas sebagai persetujuan yang agak terpaksa. *** Di dalam kantor, Li Mingzi menyapa hampir semua orang yang dilewatinya dengan senyuman ramah dan anggukan kepala. Tidak ada yang menjawab, hanya tatapan bingung, senyum canggung, dan bisikan pelan di antara karyawan. Dia tidak ambil pusing. Matanya justru tertarik ke sudut ruangan, di mana seorang karyawan muda sedang asyik menekan-nekan papan penuh huruf sambil menatap kotak bercahaya di atas mejanya. Li Mingzi mendekat perlahan dengan kepala sedikit miring, seperti orang yang baru pertama kali melihat keajaiban dunia. Karyawan itu terkejut saat menyadari ada seseorang berdiri tepat di belakangnya. Dia hampir melompat dari kursinya. "Itu apa?" Li Mingzi menunjuk layar komputer dengan ekspresi seperti anak kecil melihat sulap jalanan. Karyawan itu membuka mulut, tetapi sebelum sempat menjawab, suara Ruan Yin terdengar dari belakang mereka. "Ajari dia." Karyawan itu menoleh dengan wajah pasrah. Ruan Yin sudah melangkah masuk ke ruangannya tanpa menoleh lagi, meninggalkan instruksi yang tidak bisa dibantah. Li Mingzi duduk di kursi sebelah dengan antusias. Di balik pintu kaca ruangannya, Ruan Yin berdiri dengan punggung tegak, memandang pemuda itu dengan rahang mengencang. Jari-jarinya mengetuk perlahan di permukaan meja sebagai reflek bahwa dia sedang memikirkan sesuatu yang serius. Linqi menutup pintu ruangan sambil menggeleng pelan. "Pria aneh," gumamnya sambil menyimpan senyum kecil di sudut bibirnya. Ruan Yin berpaling ke jendela. Di luar, Kota Awan tampak sibuk seperti biasanya, gedung-gedung menjulang, jalan raya penuh kendaraan, hiruk pikuk kehidupan yang terus berputar. Namun bagi Ruan Yin, di balik keteraturan kota itu, semuanya sedang runtuh perlahan. Ayahnya menghilang tanpa kabar selama beberapa hari, kakeknya terbaring sakit dan kondisinya semakin memburuk setiap hari. Dan yang paling buruk, perusahaan sedang tercekik dari dalam, arus kas tiba-tiba seret tanpa sebab yang jelas, mitra bisnis mundur satu per satu dengan alasan yang dibuat-buat, tekanan datang dari berbagai arah membuatnya muram. Selama ini, Ruan Yin dikenal sebagai anak penurut. Ia tak pernah membantah perintah keluarga. Namun, masalah-masalah inilah yang membuat Ruan Yin sejak tadi tak ingin berurusan dengan Li Mingzi. Terlebih, kakeknya juga belum pernah menyinggung soal perjodohan ini. "Apakah kita tetap harus bertemu Zhang Wu hari ini?" tanya Linqi pelan, suaranya terdengar hati-hati. "Ya," jawab Ruan Yin singkat. "Bu Ruan..." Linqi ragu sebentar, memilih kata-kata dengan cermat. "Zhang Wu itu orang dunia hitam. Kalau dia yang sengaja membuat perusahaan kita terjepit seperti ini..." "Aku tahu." Ruan Yin tidak berpaling dari jendela. Suaranya dingin dan terkendali. "Tapi kita tidak punya pilihan lain sekarang." Linqi tidak lagi berkata apa pun. Dia tahu, ketika Ruan Yin sudah berbicara dengan nada seperti itu, perdebatan tidak akan berguna. Satu jam kemudian, Zhang Wu tiba dengan rombongan. Tujuh hingga delapan anak buahnya mengikuti di belakang, semuanya berbaju hitam dengan ekspresi mengintimidasi. Mereka melangkah masuk seperti pemilik gedung, sengaja menyenggol bahu karyawan yang sedang melintas, bahkan ada yang menghalangi jalan pegawai wanita sambil menggodanya. "Wah, cantik sekali," kata salah satu anak buah Zhang Wu sambil mencubit dagunya. Karyawan wanita itu mundur ketakutan. "Mau ikut aku saja?" tanya anak buah lain sambil menjilat bibirnya sendiri menggoda karyawan wanita lainnya. Wanita itu berlari ketakutan. Tawa vulgar mereka bergema di sepanjang lorong. Karyawan-karyawan lain hanya bisa menunduk, menahan marah dan takut dalam diam. Mereka tahu siapa Zhang Wu, seorang tokoh dunia hitam yang cukup ditakuti di Kota Awan. Sementara itu, di sudut ruangan, Li Mingzi masih asyik dengan permainan di komputer. Jari-jarinya bergerak lincah di atas keyboard, matanya berbinar menatap layar. Kegiatan yang baru saja ia pelajari hari ini ternyata sangat menarik perhatiannya. "Luar biasa!" seru karyawan berkacamata di sebelahnya dengan nada kagum. "Kau benar-benar cepat belajar. Baru satu jam, sudah bisa semahir ini." Li Mingzi tersenyum lebar tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Permainan ini memang sangat mengasyikkan." Karyawan itu tertawa canggung, lalu kembali ke pekerjaannya. Keributan mulai terdengar dari arah pintu masuk. Li Mingzi menoleh sekilas, melihat segerombolan pria berbaju hitam melenggang angkuh melewati deretan meja kerja. "Mereka siapa?" tanya Li Mingzi dengan nada polos. "Anak buah Zhang Wu," jawab karyawan berkacamata dengan suara rendah, nyaris berbisik. "Orang dunia hitam. Lebih baik jangan ikut campur." Li Mingzi mengangguk mengerti, lalu kembali fokus ke layar komputernya. Sampai dia melihat salah satu dari mereka mendorong pintu ruangan Ruan Yin tanpa mengetuk terlebih dahulu. Tangannya berhenti di tengah permainan. "Itu ruangan tunanganku," kata Li Mingzi datar, namun dengan ekspresi yang berubah tegang. Karyawan berkacamata hampir tersedak ludahnya sendiri. "Tunangan? Kau... tunangan Bu Ruan?"Ladang bambu di pinggir Resort Sungai Bening bergoyang pelan diterpa angin sore. Yu Ming Lan berdiri di depan sebuah tugu kecil, tangannya menyusuri ukiran di batu itu selama beberapa saat sebelum akhirnya bicara."Ini formasi fengshui," katanya. "Tapi aku tidak mengerti. Orangnya jelas masih hidup, kenapa dibuatkan makam segala?"Qin Luxi berdiri di sampingnya, menatap tugu bertuliskan nama Li Mingzi itu dengan alis berkerut. Rasa kecewa tiba-tiba menjalar di dadanya. Dia sudah membayangkan pertemuan lain, bukan berdiri di depan batu nisan kosong seperti ini."Kau sendiri kekuatannya di tingkat berapa?" tanya Qin Luxi, mengalihkan pembicaraan."Sedikit di bawah Grandmaster," jawab Yu Ming Lan singkat. "Tapi satu tebasan pedangku cukup untuk membunuh seorang Grandmaster."Tuan Ji yang berdiri tak jauh dari situ langsung tertawa mengejek. "Sombong sekali. Kau tahu betapa sulitnya mencapai tingkat Grandmaster? Ahli internal biasa sepertimu mustahil menembus batas sampai bisa membunuh Gr
Villa Bukit Kuning masih tenang ketika debum keras terdengar dari gerbang depan. Lu Minghao melangkah masuk dengan puluhan orang di belakangnya, menyingkirkan pengawal yang mencoba menghadang."Di mana Putra Mahkota Aula Bintang?" serunya, keras hingga menggema di halaman depan. "Suruh dia keluar sekarang! Aku tidak punya banyak waktu untuk basa-basi!"Tuan Wang bergegas keluar, ekspresinya tetap tenang seperti biasa meski baru muncul dari dalam villa. "Tuan Muda Lu, ada apa ini? Kenapa menerobos masuk seperti perampok?""Perampok?" Lu Minghao tertawa pendek, tanpa humor sama sekali. "Semalam Keluarga Ye diserang habis-habisan oleh Keluarga Gong. Kami kehilangan banyak orang, kerugian kami besar. Kalau Putra Mahkota kalian tidak bisa memberi penjelasan, jangan salahkan aku kalau Keluarga Gong lenyap dari peta hari ini juga.""Tuan Muda tidak tahu apa-apa soal itu," jawab Tuan Wang."Tidak tahu?" Lu Minghao melangkah lebih dekat. "Kalian pikir aku bodoh datang kemari tanpa bukti? Buka
Qin Luxi turun dari mobil dengan langkah tenang. Di depan gedung Faz Media, Ruan Yin sudah menunggu bersama beberapa pengawal. Keduanya berhenti beberapa meter, saling berhadapan dalam diam.Luo Han maju satu langkah, matanya langsung terkunci pada sosok bertopeng di samping Qin Luxi. "Kalian siapa? Mau apa ke sini?" tanyanya, tangannya sudah bersiap di pinggang.Qin Luxi tersenyum ramah yang dibuat-buat. "Kamu Luo Han, kan? Ada orang yang berniat mencelakai Tuan Muda kalian. Sebaiknya kau kembali ke Villa Bukit Kuning sekarang, jaga dia.""Bohong," sahut Luo Han cepat. Dia sudah mengenali gelagat itu sejak awal. "Bawa Nona Ruan pergi dari sini!" perintahnya ke pengawal lain.Belum sempat kalimat itu selesai, Yu Ming Lan sudah bergerak.Luo Han bahkan tidak sempat melihat kapan dia bergerak. Yang dia rasakan hanya sensasi dingin menembus dadanya, sepersekian detik sebelum darah menyembur keluar dan tubuhnya ambruk ke aspal."Luo Han!" teriak salah satu pengawal, panik.Yu Ming Lan ber
Tidak lama setelah Lu Vivi masuk, Lu Minghao dan yang lain berkumpul di dalam mobil yang diparkir tidak jauh dari villa."Qin Luxi mana?" tanya Wen Lu, melihat sekeliling."Katanya perutnya bermasalah," jawab Lu Minghao santai. "Dia akan menyusul."Wen Lu mengerutkan kening tapi tidak bertanya lebih jauh. Lu Minghao memberi isyarat ke bawahannya. "Aktifkan alat penyadap," perintahnya. Salah seorang pria segera menyalakan perangkat yang sudah dipasang sebelumnya.Ye Anyi langsung melotot ke arah Lu Minghao. "Kau benar-benar tega," katanya."Tega apa?" Lu Minghao mengangkat alis."Kau menjerumuskan keponakanmu sendiri ke dalam bahaya," kata Ye Anyi."Jangan bicara seperti aku memaksanya. Rencana ini sudah disetujui semua orang, dan Vivi sendiri yang mau melakukannya," balas Lu Minghao."Itu bukan berarti kau boleh membiarkannya," kata Ye Anyi."Kalau begitu kau seharusnya menghentikannya tadi," kata Lu Minghao.Ye Anyi terdiam."Bukankah dia memang berniat jadi istri Putra Mahkota?" Lu
"Jadi, menurutmu rencana itu tidak akan berhasil?" tanya Wen Lu sambil menghela napas. Sejak tadi Li Mingzi lebih sibuk memainkan ponselnya daripada memikirkan masalah besar yang baru saja dibicarakan."Aku tidak memikirkan hal lain," jawab Li Mingzi, mengangkat wajah."Lalu kenapa kau bertanya soal Ye Anyi?" tanya Wen Lu."Karena aku penasaran," jawab Li Mingzi.Berdebat dengan Li Mingzi sering membuat Wen Lu tidak tahu harus marah atau menyerah. "Sudahlah. Kembali ke masalah utama. Kenapa kau bilang rencana Qin Luxi tidak akan berhasil?" tanya Wen Lu.Li Mingzi meletakkan ponselnya di meja. "Karena Mo Yan tidak bisa bela diri. Racun itu cuma bereaksi ke praktisi. Kalau orang biasa yang meminumnya, tidak akan terjadi apa-apa, dan Mo Yan cuma orang biasa yang menyamar jadi diriku," jelas Li Mingzi.Wen Lu terdiam, baru menyadari kejanggalan itu. "Kalau begitu Qin Luxi juga tahu?" tanya Wen Lu."Tentu," jawab Li Mingzi."Dan dia tetap menyetujui rencana itu?" tanya Wen Lu."Itu yang an
Malam yang sama ketika Qin Luxi diserang di Hotel Q, tiga tempat lain juga bergejolak. Wen Liyin, Lu Vivi, dan Ye Anyi mendapat serangan serupa, hampir bersamaan.Keesokan paginya, keempat keluarga besar berkumpul di ruang pertemuan pribadi milik Keluarga Lu. Lu Minghao duduk di kepala meja, memutar cincin di jari tengahnya berulang kali sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan."Jadi," katanya, "siapa yang mau melapor duluan? Berapa kerugian kalian semalam?"Wen Liyin hanya mengangguk pelan, tidak menjelaskan apa-apa. Sikapnya seperti biasa, tertutup dan hemat kata.Ye Anyi justru langsung menoleh ke arah Lu Vivi. "Vivi, kau tidak terluka, kan?""Aku baik-baik saja." Lu Vivi menjawab cepat, lalu menyikut lengan Ye Anyi pelan. "Jangan tanya begitu di depan semua orang. Nanti Tuan Mo Yan salah paham."Ye Anyi mendesah pelan, lalu menunduk menahan diri.Lu Minghao yang menyaksikan itu berhenti memutar cincinnya. "Sudah, sudah. Tidak usah malu begitu." Dia melirik Ye Anyi. "Kudeng
"Kondisi Tuan Besar Ruan memburuk karena sumbatan di meridian Yin," jawab Tabib Su ketus. "Kelembabannya sudah merusak organ dalam. Jarum Pemanggil Jiwa adalah satu-satunya jalan."Li Mingzi menggeleng pelan. "Itu bukan kelembaban biasa."Ruan Yin merasakan jemari Li Mingzi menggenggam tangannya le
"Ya." Li Mingzi beranjak dari kursinya."Hei, tunggu! Jangan masuk! Kau bisa celaka!" cegah karyawan berkacamata dengan panik.Tapi Li Mingzi tidak mengindahkan peringatannya.Karyawan berkacamata hanya bisa menggeleng pasrah, membayangkan pemuda aneh itu akan segera babak belur dihajar anak buah Z
Seketika, barisan pengawal dan pelayan di kiri-kanan pintu masuk ikut menundukkan kepala serempak. Jelas, Yu Shen telah memberitahu bawahannya mengenai Li Mingzi sebelumnya. Li Mingzi melirik mereka sekilas, lalu berdehem pelan, merasa tidak nyaman dengan penyambutan yang berlebihan ini. "Tidak
“Menaklukkan 7 wanita? Pasti ini hanya akal-akahan si tua bangka itu!” gerutu Li Mingzi, tetapi langkahnya terus terayun untuk masuk ke dalam kereta api. Demi bisa memperpanjang umurnya yang tinggal 28 hari lagi, Li Mingzi terpaksa turun gunung dan menjalankan misi khusus dari gurunya, Yu Shen. Ta







