Share

Bab 3

Author: MISTERIOUS
last update publish date: 2026-04-07 16:22:10

Li Mingzi menatap cek itu dengan dahi berkerut. Kemudian mengangkat wajah dengan ekspresi bingung yang tidak dibuat-buat. "Apakah ini mahar untukku?"

Linqi hampir tersedak. Beberapa karyawan yang menguping dari kejauhan saling berpandangan tidak percaya.

Li Mingzi mengangguk pelan, lalu menggeleng. "Aku tidak mau masuk sebagai menantu dengan cara tidak terhormat."

Ruan Yin menatapnya selama dua detik penuh, mencoba memahami apakah pemuda ini hanya berpura-pura bodoh. "Apa kau tidak mengerti maksudku? Aku ingin membatalkan pertunangan ini!"

"Tapi surat ini dari kakekmu, bukankah seharusnya kakekmu yang berhak membatalkan atau tidak?" ujar Li Mingzi cepat. "Kalau begitu, aku harus bertanya langsung ke beliau, bukan ke kamu."

Rahang Ruan Yin mengencang. "Kakek sedang sakit, tidak semua orang bisa menemuinya."

"Kebetulan sekali," kata Li Mingzi dengan wajah serius, seolah dia baru saja menemukan jalan keluar dari masalah besar. "Aku bisa pengobatan. Sebelumnya hewan ternak, warga desa, orang tua dengan encok parah berhasil kusembuhkan. Bagaimana kalau aku mengobati kakekmu?"

Linqi mengeluarkan suara tercekik akibat tawa yang tertahan.

Ruan Yin menutup tasnya dengan suara klik yang tegas.

“Tidak perlu. Kakekku sudah ditangani oleh dokter terbaik di kota ini,” ujar Ruan Yin dengan datar.

“Tapi, setidaknya aku masih harus memastikan apakah perjodohan ini memang bisa diakhir atau tidak, kan?” Li Mingzi menatap Ruan Yin sambil mengangkat bahunya. “Kalau tidak, mungkin aku akan tetap datang ke sini setiap hari untuk mendapat kepastian.”

Ruan Yin berdecak pelan. Ia tak sama sekali tak suka jika orang mengganggu ketenangannya.

"Baiklah,” putus Ruan Yin datar, seperti orang yang tidak ingin berdebat lebih lama. "Aku akan membawamu menemui Kakek setelah urusan kantor selesai. Kau tunggu di sini saja."

"Boleh aku masuk?" tanya Li Mingzi dengan polos. "Aku ingin melihat-lihat. Nanti kalau buka perusahaan sendiri, aku bisa punya gambaran."

Ruan Yin berbalik sedikit, lalu mengangkat satu alisnya. "Perusahaan apa?"

Li Mingzi menimbang sebentar. "Belum tahu."

Linqi benar-benar tidak bisa menahan tawa kali ini. Bahkan satpam yang mendengar percakapan itu berpaling sambil menggeleng tidak percaya. 

Ruan Yin hanya membalikkan badan dan berjalan masuk dengan langkah cepat, isyarat yang sudah cukup jelas sebagai persetujuan yang agak terpaksa.

***

Di dalam kantor, Li Mingzi menyapa hampir semua orang yang dilewatinya dengan senyuman ramah dan anggukan kepala. Tidak ada yang menjawab, hanya tatapan bingung, senyum canggung, dan bisikan pelan di antara karyawan.

Dia tidak ambil pusing. Matanya justru tertarik ke sudut ruangan, di mana seorang karyawan muda sedang asyik menekan-nekan papan penuh huruf sambil menatap kotak bercahaya di atas mejanya.

Li Mingzi mendekat perlahan dengan kepala sedikit miring, seperti orang yang baru pertama kali melihat keajaiban dunia.

Karyawan itu terkejut saat menyadari ada seseorang berdiri tepat di belakangnya. Dia hampir melompat dari kursinya.

"Itu apa?" Li Mingzi menunjuk layar komputer dengan ekspresi seperti anak kecil melihat sulap jalanan.

Karyawan itu membuka mulut, tetapi sebelum sempat menjawab, suara Ruan Yin terdengar dari belakang mereka.

"Ajari dia."

Karyawan itu menoleh dengan wajah pasrah. Ruan Yin sudah melangkah masuk ke ruangannya tanpa menoleh lagi, meninggalkan instruksi yang tidak bisa dibantah.

Li Mingzi duduk di kursi sebelah dengan antusias.

Di balik pintu kaca ruangannya, Ruan Yin berdiri dengan punggung tegak, memandang pemuda itu dengan rahang mengencang. Jari-jarinya mengetuk perlahan di permukaan meja sebagai reflek bahwa dia sedang memikirkan sesuatu yang serius.

Linqi menutup pintu ruangan sambil menggeleng pelan.

"Pria aneh," gumamnya sambil menyimpan senyum kecil di sudut bibirnya.

Ruan Yin berpaling ke jendela.

Di luar, Kota Awan tampak sibuk seperti biasanya, gedung-gedung menjulang, jalan raya penuh kendaraan, hiruk pikuk kehidupan yang terus berputar. Namun bagi Ruan Yin, di balik keteraturan kota itu, semuanya sedang runtuh perlahan.

Ayahnya menghilang tanpa kabar selama beberapa hari, kakeknya terbaring sakit dan kondisinya semakin memburuk setiap hari.

Dan yang paling buruk, perusahaan sedang tercekik dari dalam, arus kas tiba-tiba seret tanpa sebab yang jelas, mitra bisnis mundur satu per satu dengan alasan yang dibuat-buat, tekanan datang dari berbagai arah membuatnya muram.

Selama ini, Ruan Yin dikenal sebagai anak penurut. Ia tak pernah membantah perintah keluarga. Namun, masalah-masalah inilah yang membuat Ruan Yin sejak tadi tak ingin berurusan dengan Li Mingzi. Terlebih, kakeknya juga belum pernah menyinggung soal perjodohan ini.

"Apakah kita tetap harus bertemu Zhang Wu hari ini?" tanya Linqi pelan, suaranya terdengar hati-hati.

"Ya," jawab Ruan Yin singkat.

"Bu Ruan..." Linqi ragu sebentar, memilih kata-kata dengan cermat. "Zhang Wu itu orang dunia hitam. Kalau dia yang sengaja membuat perusahaan kita terjepit seperti ini..."

"Aku tahu." Ruan Yin tidak berpaling dari jendela. Suaranya dingin dan terkendali. "Tapi kita tidak punya pilihan lain sekarang."

Linqi tidak lagi berkata apa pun. Dia tahu, ketika Ruan Yin sudah berbicara dengan nada seperti itu, perdebatan tidak akan berguna.

Satu jam kemudian, Zhang Wu tiba dengan rombongan.

Tujuh hingga delapan anak buahnya mengikuti di belakang, semuanya berbaju hitam dengan ekspresi mengintimidasi. Mereka melangkah masuk seperti pemilik gedung, sengaja menyenggol bahu karyawan yang sedang melintas, bahkan ada yang menghalangi jalan pegawai wanita sambil menggodanya.

"Wah, cantik sekali," kata salah satu anak buah Zhang Wu sambil mencubit dagunya.

Karyawan wanita itu mundur ketakutan.

"Mau ikut aku saja?" tanya anak buah lain sambil menjilat bibirnya sendiri menggoda karyawan wanita lainnya.

Wanita itu berlari ketakutan.

Tawa vulgar mereka bergema di sepanjang lorong. 

Karyawan-karyawan lain hanya bisa menunduk, menahan marah dan takut dalam diam. Mereka tahu siapa Zhang Wu, seorang tokoh dunia hitam yang cukup ditakuti di Kota Awan.

Sementara itu, di sudut ruangan, Li Mingzi masih asyik dengan permainan di komputer. Jari-jarinya bergerak lincah di atas keyboard, matanya berbinar menatap layar. Kegiatan yang baru saja ia pelajari hari ini ternyata sangat menarik perhatiannya.

"Luar biasa!" seru karyawan berkacamata di sebelahnya dengan nada kagum. "Kau benar-benar cepat belajar. Baru satu jam, sudah bisa semahir ini."

Li Mingzi tersenyum lebar tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Permainan ini memang sangat mengasyikkan."

Karyawan itu tertawa canggung, lalu kembali ke pekerjaannya.

Keributan mulai terdengar dari arah pintu masuk. Li Mingzi menoleh sekilas, melihat segerombolan pria berbaju hitam melenggang angkuh melewati deretan meja kerja.

"Mereka siapa?" tanya Li Mingzi dengan nada polos.

"Anak buah Zhang Wu," jawab karyawan berkacamata dengan suara rendah, nyaris berbisik. "Orang dunia hitam. Lebih baik jangan ikut campur."

Li Mingzi mengangguk mengerti, lalu kembali fokus ke layar komputernya. Sampai dia melihat salah satu dari mereka mendorong pintu ruangan Ruan Yin tanpa mengetuk terlebih dahulu.

Tangannya berhenti di tengah permainan.

"Itu ruangan tunanganku," kata Li Mingzi datar, namun dengan ekspresi yang berubah tegang.

Karyawan berkacamata hampir tersedak ludahnya sendiri. "Tunangan? Kau... tunangan Bu Ruan?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 128

    Tuan Wang masih memandangi pintu yang baru saja dilewati Qin Yushuo. Kerutan di dahinya semakin dalam."Orang seperti dia tidak layak dipercaya," ucapnya pelan. "Saya khawatir dia hanya berpura-pura tunduk."Bau darah masih memenuhi ruangan. Mayat-mayat tergeletak di berbagai sudut, sementara anak buah Keluarga Wang mulai bergerak membersihkan kekacauan yang tersisa.Namun Li Mingzi hanya tersenyum santai."Dia memang tidak bisa dipercaya sepenuhnya."Tuan Wang sedikit terkejut."Lalu kenapa Tuan Muda membiarkannya hidup?"Li Mingzi melirik ke arah pintu."Karena dia orang yang haus kekuasaan." Ia berhenti sejenak. "Orang seperti itu lebih mudah dikendalikan daripada orang yang fanatik."Tuan Wang terdiam.Li Mingzi melanjutkan dengan tenang."Begitu dia mengetahui seberapa besar jarak antara dirinya dan aku, dia akan terus memilih berpihak kepadaku."Tuan Wang akhirnya mengangguk. Ia sadar dirinya tidak perlu mengkhawatirkan hal-hal yang sudah diperhitungkan oleh Li Mingzi.Setelah m

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 127

    Mata Wen Long memerah karena emosi."Dia murid pendeta tua itu! Menurut kalian menyerah akan menyelamatkan nyawa? Kalian semua sudah terlibat terlalu jauh!"Kata-kata itu membuat Qin Yushuo membeku.Benar.Jika Li Mingzi memang berniat membunuh mereka, berlutut pun belum tentu bisa menyelamatkan nyawa.Ekspresinya berubah drastis.Seolah sebuah keputusan telah dibuat dalam benaknya.Tiba-tiba ia mencabut pistol dari balik jas.Klik!"Qin Yushuo!" teriak Lu Jiyan.Bang! Bang! Bang! Bang!Rentetan peluru langsung melesat ke arah Li Mingzi.Bai Yumeng sampai berdiri dari tempat duduknya, sementara Tuan Wang menyipitkan mata.Namun Li Mingzi tetap tidak bergerak. Ia hanya mengibaskan lengan bajunya.Wuuung!Pemandangan yang terjadi setelahnya membuat semua orang kehilangan kemampuan berbicara.Satu demi satu peluru berhenti di udara.Benar-benar berhenti.Seolah waktu membeku di sekitar tubuh Li Mingzi.Mata Qin Yushuo membelalak lebar."Aku... aku..."Ting! Ting! Ting!Peluru-peluru itu

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 126

    Pendekar pengguna Telapak Pemecah Karang itu langsung memerah karena marah. Urat-urat di lehernya menonjol jelas, sementara sorot matanya dipenuhi amarah. Sebagai praktisi bela diri yang cukup terkenal di kalangannya, belum pernah ada orang yang berani menghina jurus andalannya secara terang-terangan seperti itu."Kau cari mati!" bentaknya.Di saat yang sama, empat pendekar berbaju hitam lainnya saling bertukar pandang. Setelah menyaksikan rekan mereka dipermalukan, mereka tidak lagi berani meremehkan Li Mingzi. Tanpa perlu berkomunikasi lebih lanjut, mereka langsung bergerak dari berbagai arah."Serang bersama!""Jangan beri dia kesempatan!"Dua orang menyerbu dari samping, satu dari belakang, sementara seorang lainnya mengangkat tangan dan diam-diam menyiapkan senjata rahasia. Serangan mereka datang hampir bersamaan, menutup seluruh jalur mundur Li Mingzi.Namun Li Mingzi sama sekali tidak terlihat panik. Tubuhnya hanya bergeser setengah langkah dengan gerakan yang begitu ringan hi

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 125

    "Bukan kau, juga bukan pendeta tua itu, lalu siapa?" Lu Jiyan mendengus, matanya menyapu ruangan dengan curiga.Qin Yushuo mengernyitkan dahi. "Jangan-jangan kau sengaja membuang waktu?"Wen Long tidak menunggu jawaban. Rahangnya mengeras, dan dengan gerakan tangan kecil ia memberi isyarat."Bunuh dia."Seorang pendekar berbaju hitam melesat dari sudut ruangan, gerakannya cepat, nyaris tanpa suara. Jari-jarinya mencengkeram ke arah tenggorokan Tuan Wang seperti cakar elang yang menukik.Tidak ada yang sempat bergerak.Tiba-tiba sesosok bayangan biru menghadang di depan Tuan Wang. Satu tangan terangkat, menangkap pergelangan pendekar itu di udara, lalu dengan gerakan pelan yang hampir terasa santai, "krak", tulangnya patah.Jeritan kesakitan membelah ruangan.Si pendekar menyentak mundur, tangan kirinya melempar tiga pisau terbang dalam kepanikan. Li Mingzi hanya mengibaskan lengan bajunya. Tiga pisau itu berbalik, menembus punggung pelemparnya sendiri. Tubuh pendekar itu roboh tanpa s

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 124

    Qin Yushuo melangkah maju saat Tuan Wang tiba di aula. Senyumnya lebar, tangannya terentang seolah menyambut tamu kehormatan."Tuan Wang, akhirnya kita bertemu juga. Saya Qin Yushuo dari..."Tuan Wang melewatinya begitu saja. Bahkan tidak melirik sekalipun.Qin Yushuo berhenti di tengah kalimat. Tangannya masih terentang di udara. Beberapa detik berlalu sebelum dia akhirnya menurunkannya dengan pelan sambil berpura-pura batuk.Wen Long justru melangkah maju dengan ekspresi yang berbeda. Ada sesuatu yang membara di matanya, campuran antara dendam yang lama dipendam dan kepuasan."Tuan Wang," suaranya bergetar tipis. "Aku telah menunggu hari ini begitu lama. Bagaimana perasaanmu?"Tuan Wang tidak menjawab. Dia berjalan ke sofa panjang di sisi ruangan, duduk dengan tenang, lalu mengeluarkan sebuah jam saku. Dibukanya tutup jam itu, dipandanginya sebentar, lalu ditutup kembali. Sedikitpun ia tidak menatap ke arah Wen Long.Wen Long terdiam di tengah ruangan. Rahangnya mengeras. Urat di le

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 123

    Seluruh kelompok langsung bergerak menyebar menyebar tanpa memedulikan Li Mingzi dan Lin Fang.Mereka tiba di sebuah ruangan luas yang sunyi. Tidak ada pelayan atau penjaga di sana.Wen Long menyapu pandangan ke segala arah. Setelah beberapa saat mengamati, dia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Kewaspadaannya sedikit demi sedikit mengendur.Dia mengangkat tangan. "Naik. Tangkap dia hidup-hidup."Beberapa anak buah segera bergerak menuju tangga besar yang mengarah ke lantai dua.Tap. Tap. Tap.Suara langkah kaki bergema di dalam villa. Namun tepat saat penjaga pertama menginjak anak tangga kelima,Dor!Ledakan senjata api memecah keheningan. Tubuh pria itu terhuyung. Matanya membelalak. Di dadanya muncul lubang berdarah sebesar kepalan tangan. Sesaat kemudian tubuhnya jatuh menuruni tangga, darah segar menyebar di lantai marmer."Musuh! Cari perlindungan!"Kerumunan langsung kacau. Para penjaga buru-buru berlindung di balik sofa, pilar, dan meja sambil mengangkat senjata. R

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 34

    Li Mingzi terlihat santai menanggapi cerita sopir taksi itu. Ia hanya tersenyum tipis, lalu merogoh saku dan mengeluarkan beberapa lembar uang."Jangan khawatir," ujarnya ringan. "Aku sudah izin kok."Sopir menatapnya ragu. Tatapannya penuh kekhawatiran.Hari ini Villa Bukit Kuning tampak agak rama

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 32

    Bai Yumeng tidak langsung menjawab dengan serius. Ia hanya menyandarkan punggungnya pada kursi, jari-jarinya mengetuk pelan permukaan meja, lalu melirik sekilas ke arah Li Mingzi.“Aku hanya ingin meminjamnya,” ucapnya ringan.Ruan Yin mengernyit. “Meminjam…?”Bai Yumeng mengangkat alis tipis. “Jan

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 31

    Ren Juko bangkit dari kursi. Senyumnya melebar, penuh kepercayaan diri yang berlebihan. Ia menatap para pemegang saham satu per satu."Tuan-tuan sekalian," ucapnya lembut namun meyakinkan. "Mari berpikir jernih. Jika kalian bekerja sama dengan Kamar Dagang Air Manis, setiap orang di ruangan ini bis

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 27

    Pernyataan polos itu jatuh begitu saja, tapi efeknya seperti petir di siang bolong. Tuan Tua Bai yang baru saja siuman mengernyit dalam. Ingatannya memang belum pulih sepenuhnya, namun satu hal ia yakini, tunangan cucunya adalah Tuan Muda Wen. Bukan pemuda asing yang berdiri santai di hadapannya i

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status