مشاركة

Bab 2

مؤلف: MISTERIOUS
last update تاريخ النشر: 2026-04-07 16:20:43

Seketika, barisan pengawal dan pelayan di kiri-kanan pintu masuk ikut menundukkan kepala serempak. Jelas, Yu Shen telah memberitahu bawahannya mengenai Li Mingzi sebelumnya.

Li Mingzi melirik mereka sekilas, lalu berdehem pelan, merasa tidak nyaman dengan penyambutan yang berlebihan ini.

"Tidak perlu terlalu formal," ujarnya singkat.

"Terima kasih, Tuan Muda," sahut Tuan Wang, tetap tidak bergerak sedikitpun.

Li Mingzi langsung menyampaikan satu instruksi penting, identitasnya sebagai Pewaris Aula Bintang harus dirahasiakan. Tidak ada satu orang pun yang boleh tahu bahwa dia telah turun gunung.

Tuan Wang tidak bertanya apa pun. Tanpa banyak bicara, dia mengangguk, berbalik, dan dalam hitungan menit, seluruh bawahannya sudah menerima perintah ketat itu.

Li Mingzi mengangguk puas. Lalu masuk untuk beristirahat sejenak sebelum memulai misi pertamanya.

***

Matahari belum mencapai titik tertinggi ketika Li Mingzi sudah berdiri di depan gedung paling mencolok di pusat Kota Awan.

Faz Media.

Sebuah perusahaan multisektor milik keluarga Ruan yang tengah naik daun, menempati posisi kedua sebagai perusahaan paling berpengaruh di Kota Awan. Perusahaan itu bergerak di berbagai bidang, mulai dari konstruksi, pengembangan properti, hingga infrastruktur dan investasi. Dalam beberapa tahun terakhir, ekspansinya begitu agresif hingga mulai menyaingi perusahaan lain dan cukup mendominasi.

Bangunan kaca berlantai dua puluh lebih itu memantulkan sinar matahari dengan terang menyilaukan. Di depan lobi, dua satpam berbadan besar berdiri dengan wajah bosan.

Li Mingzi menatap gedung itu sebentar. Dalam hatinya, dia masih merasa berat.

'Menaklukkan musuh itu mudah. Tapi, menaklukkan wanita? Tua bangka sialan itu tidak pernah mengajariku soal itu,' batinnya kelam.

Tapi dia sudah berjanji. Maka dia melangkah masuk dengan langkah pasti, meskipun belum tahu apa yang akan dia hadapi.

Satpam pertama langsung menghadang. "Hei, ada keperluan apa?"

"Menemui Ruan Yin," jawab Li Mingzi tanpa basa-basi.

Satpam itu meliriknya dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan. "Buat janji dulu. Direktur kami tidak sembarangan menerima tamu."

"Tidak perlu janji." Li Mingzi berkata dengan tenang. "Dia tunanganku."

Hening.

Lalu… tawa meledak.

Satpam pertama menoleh ke arah satpam kedua sambil menahan tawa. Bahkan resepsionis di belakang meja lobi ikut menahan senyum geli.

"Tunangan Nona Ruan?" Satpam itu mengulang dengan nada mengejek. "Kamu tahu siapa Nona Ruan?"

"Ruan Yin, ya, Ruan Yin," ujar Li Mingzi datar. "Memangnya ada berapa nama Ruan Yin di perusahaan ini?"

Tawa mereka semakin keras. Beberapa karyawan yang lewat ikut menoleh, menatapnya dengan tatapan sinis.

“Lebih baik kau keluar dari sini sebelum aku bersikap lebih tegas. Perusahaan ini bukan tempat umum yang bisa didatangi sembarang orang!” gertak satpam itu lagi sambil mengambil langkah untuk berdiri tepat di hadapan Li Mingzi dengan tatapan tajam.

Selama bertahun-tahun Li Mingzi tinggal di gunung bersama seorang guru yang lebih sering memukul daripada memuji, dia sudah terbiasa diabaikan.

Hinaan seperti ini? Sama seperti angin lalu.

Li Mingzi tersenyum tipis, lalu berkata, “Sudah kubilang, aku ini tunangan Ruan Yin.”

Belum sempat satpam itu menimpali lagi, tiba-tiba suara deru mesin terdengar dari arah jalan. Sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depan gedung. Pintu belakang terbuka perlahan.

“Presdir Ruan Yin telah tiba!” seru seorang satpam di depan pintu.

Semua orang langsung menoleh ke arah itu.

Li Mingzi refleks merapikan bajunya.

Salah satu satpam yang sejak tadi berurusan dengan Li Mingzi langsung berlari ke arah pintu masuk untuk menyambut.

Seorang wanita turun dengan langkah anggun dan terukur. Blazer putih yang rapi, rambut hitam panjang tersisir sempurna, sepatu hak tinggi yang mengkilat, dan wajah yang… sangat menawan.

Li Mingzi berhenti bernapas sebentar.

'Tua bangka itu selama ini bilang wanita di gunung yang sudah berpengalaman jauh lebih menarik dari wanita kota…'

Li Mingzi sekarang baru sadar dia telah ditipu mentah-mentah!

Ruan Yin melangkah menuju lobi tanpa melirik siapa pun, seorang sekretaris wanita bergegas mengikutinya dari belakang dengan tumpukan dokumen di tangan.

Satpam yang tadinya tertawa langsung berubah sikap. Satu langkah cepat ke arah Li Mingzi, tangannya mencengkeram lengan pemuda itu, bermaksud menyingkirkannya dari jalur masuk sang direktur.

Namun, Li Mingzi tidak bergerak.

Satpam itu mendorong lagi, lebih keras. Tetapi, Li Mingzi tetap tidak bergerak sama sekali.

“Kau!” lirih satpam itu dengan tatapan kesal kepada Li Mingzi.

Melihat itu, satpam lain langsung ikut membantu. Dalam hitungan detik, sepuluh orang berseragam sudah mengerahkan tenaga penuh untuk menggeser Li Mingzi, tetapi tidak berhasil.

Li Mingzi berdiri tegak seperti gunung yang tidak bisa digoyang.

Ruan Yin dan sekretarisnya berhenti melangkah. Keduanya menatap keributan aneh itu dengan dahi mengernyit.

“Ada apa ini? Kenapa ribut sekali?” tanya Ruan Yin dengan tatapan tak suka. “Apa kalian tidak tahu aturan?”

“Mohon maaf, Presdir. Kami—”

Belum selesai satpam itu bicara, dengan satu gerakan ringan, Li Mingzi melepaskan diri dari semua cengkeraman, merapikan bajunya yang sedikit kusut, lalu melangkah maju dengan tenang.

"Ruan Yin," ujar Li Mingzi cepat, memotong ucapan satpam itu.

Wanita itu menoleh, menatapnya dengan ekspresi dingin yang sulit dibaca.

"Namaku Li Mingzi." Dia berhenti sejenak, lalu berkata dengan lantang, "Tunanganmu."

Sekretaris di samping Ruan Yin langsung mendengus keras. "Tunangan? Perjodohan dari mana? Kenapa aku tidak tahu tentang hal sebesar ini?"

Ruan Yin sendiri tidak langsung menjawab. Matanya menatap pemuda berpakaian sederhana itu dari atas ke bawah. Wajahnya memang sangat tampan, tetapi Ruan Yin tidak ingin tertipu oleh penampilan polosnya.

“Aku bahkan tidak mengenalnya,” ujar Ruan Yin kepada sekretarisnya, lalu menatap Li Mingzi sekilas.

Seketika, orang-orang yang berada di sana tampak menahan tawa.

Ruan Yin menatap orang yang tampak seperti kepala keamanan dan berkata dengan tegas, “Aku membayarmu mahal untuk menjaga gedung ini, kenapa masih bisa membiarkan sembarangan orang masuk ke sini?”

Orang langsung menunduk penuh penyesalan. “Maafkan saya, Presdir. Ini adalah kelalaian tim kami. Saya akan segera membereskannya.”

Namun, saat itu juga Li Mingzi merogoh saku bajunya dan mengeluarkan sebuah amplop berwarna keemasan. Surat perjodohan itu masih terlipat rapi, meskipun sudut-sudutnya sudah menguning oleh waktu.

“Aku bukan orang sembarangan. Sudah kubilang aku adalah tunanganmu,” ujar Li Mingzi sambil menyerahkan amplop itu kepada Ruan Yin.

Ruan Yin menatap amplop itu sejenak, lalu Linqi, sekretaris wanita itu, langsung bergerak mengambil amplop itu dari tangan Li Mingzi dan menyerahkannya kepada Ruan Yin.

“Bu Ruan,” ujar Linqi sambil menyerahkan amplop.

Ruan Yin menerimanya tanpa ekspresi. Matanya menyapu isi surat itu sekilas, kemudian berhenti di bagian bawah.

Di sana, tertera nama dan tanda tangan kakeknya dengan stempel resmi Keluarga Ruan.

Wajah Ruan Yin tidak berubah, tetapi jari-jarinya sedikit mengencang di sudut kertas itu.

Tanpa berkata apapun, dia menyerahkan surat itu kepada Linqi. Lalu membuka tas tangan bermerk mahal, mengeluarkan buku cek, dan menuliskan sesuatu di atas kertas.

Dengan gerakan tegas, dia merobek selembar cek dan menyerahkannya ke arah Li Mingzi.

"Seratus juta. Lupakan pertunangan ini."

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 127

    Mata Wen Long memerah karena emosi."Dia murid pendeta tua itu! Menurut kalian menyerah akan menyelamatkan nyawa? Kalian semua sudah terlibat terlalu jauh!"Kata-kata itu membuat Qin Yushuo membeku.Benar.Jika Li Mingzi memang berniat membunuh mereka, berlutut pun belum tentu bisa menyelamatkan nyawa.Ekspresinya berubah drastis.Seolah sebuah keputusan telah dibuat dalam benaknya.Tiba-tiba ia mencabut pistol dari balik jas.Klik!"Qin Yushuo!" teriak Lu Jiyan.Bang! Bang! Bang! Bang!Rentetan peluru langsung melesat ke arah Li Mingzi.Bai Yumeng sampai berdiri dari tempat duduknya, sementara Tuan Wang menyipitkan mata.Namun Li Mingzi tetap tidak bergerak. Ia hanya mengibaskan lengan bajunya.Wuuung!Pemandangan yang terjadi setelahnya membuat semua orang kehilangan kemampuan berbicara.Satu demi satu peluru berhenti di udara.Benar-benar berhenti.Seolah waktu membeku di sekitar tubuh Li Mingzi.Mata Qin Yushuo membelalak lebar."Aku... aku..."Ting! Ting! Ting!Peluru-peluru itu

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 126

    Pendekar pengguna Telapak Pemecah Karang itu langsung memerah karena marah. Urat-urat di lehernya menonjol jelas, sementara sorot matanya dipenuhi amarah. Sebagai praktisi bela diri yang cukup terkenal di kalangannya, belum pernah ada orang yang berani menghina jurus andalannya secara terang-terangan seperti itu."Kau cari mati!" bentaknya.Di saat yang sama, empat pendekar berbaju hitam lainnya saling bertukar pandang. Setelah menyaksikan rekan mereka dipermalukan, mereka tidak lagi berani meremehkan Li Mingzi. Tanpa perlu berkomunikasi lebih lanjut, mereka langsung bergerak dari berbagai arah."Serang bersama!""Jangan beri dia kesempatan!"Dua orang menyerbu dari samping, satu dari belakang, sementara seorang lainnya mengangkat tangan dan diam-diam menyiapkan senjata rahasia. Serangan mereka datang hampir bersamaan, menutup seluruh jalur mundur Li Mingzi.Namun Li Mingzi sama sekali tidak terlihat panik. Tubuhnya hanya bergeser setengah langkah dengan gerakan yang begitu ringan hi

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 125

    "Bukan kau, juga bukan pendeta tua itu, lalu siapa?" Lu Jiyan mendengus, matanya menyapu ruangan dengan curiga.Qin Yushuo mengernyitkan dahi. "Jangan-jangan kau sengaja membuang waktu?"Wen Long tidak menunggu jawaban. Rahangnya mengeras, dan dengan gerakan tangan kecil ia memberi isyarat."Bunuh dia."Seorang pendekar berbaju hitam melesat dari sudut ruangan, gerakannya cepat, nyaris tanpa suara. Jari-jarinya mencengkeram ke arah tenggorokan Tuan Wang seperti cakar elang yang menukik.Tidak ada yang sempat bergerak.Tiba-tiba sesosok bayangan biru menghadang di depan Tuan Wang. Satu tangan terangkat, menangkap pergelangan pendekar itu di udara, lalu dengan gerakan pelan yang hampir terasa santai, "krak", tulangnya patah.Jeritan kesakitan membelah ruangan.Si pendekar menyentak mundur, tangan kirinya melempar tiga pisau terbang dalam kepanikan. Li Mingzi hanya mengibaskan lengan bajunya. Tiga pisau itu berbalik, menembus punggung pelemparnya sendiri. Tubuh pendekar itu roboh tanpa s

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 124

    Qin Yushuo melangkah maju saat Tuan Wang tiba di aula. Senyumnya lebar, tangannya terentang seolah menyambut tamu kehormatan."Tuan Wang, akhirnya kita bertemu juga. Saya Qin Yushuo dari..."Tuan Wang melewatinya begitu saja. Bahkan tidak melirik sekalipun.Qin Yushuo berhenti di tengah kalimat. Tangannya masih terentang di udara. Beberapa detik berlalu sebelum dia akhirnya menurunkannya dengan pelan sambil berpura-pura batuk.Wen Long justru melangkah maju dengan ekspresi yang berbeda. Ada sesuatu yang membara di matanya, campuran antara dendam yang lama dipendam dan kepuasan."Tuan Wang," suaranya bergetar tipis. "Aku telah menunggu hari ini begitu lama. Bagaimana perasaanmu?"Tuan Wang tidak menjawab. Dia berjalan ke sofa panjang di sisi ruangan, duduk dengan tenang, lalu mengeluarkan sebuah jam saku. Dibukanya tutup jam itu, dipandanginya sebentar, lalu ditutup kembali. Sedikitpun ia tidak menatap ke arah Wen Long.Wen Long terdiam di tengah ruangan. Rahangnya mengeras. Urat di le

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 123

    Seluruh kelompok langsung bergerak menyebar menyebar tanpa memedulikan Li Mingzi dan Lin Fang.Mereka tiba di sebuah ruangan luas yang sunyi. Tidak ada pelayan atau penjaga di sana.Wen Long menyapu pandangan ke segala arah. Setelah beberapa saat mengamati, dia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Kewaspadaannya sedikit demi sedikit mengendur.Dia mengangkat tangan. "Naik. Tangkap dia hidup-hidup."Beberapa anak buah segera bergerak menuju tangga besar yang mengarah ke lantai dua.Tap. Tap. Tap.Suara langkah kaki bergema di dalam villa. Namun tepat saat penjaga pertama menginjak anak tangga kelima,Dor!Ledakan senjata api memecah keheningan. Tubuh pria itu terhuyung. Matanya membelalak. Di dadanya muncul lubang berdarah sebesar kepalan tangan. Sesaat kemudian tubuhnya jatuh menuruni tangga, darah segar menyebar di lantai marmer."Musuh! Cari perlindungan!"Kerumunan langsung kacau. Para penjaga buru-buru berlindung di balik sofa, pilar, dan meja sambil mengangkat senjata. R

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 122

    "Pergi sana."Bugh!Kaki Li Mingzi melayang ringan.Anjing pudel kecil yang hampir mengencingi sepatunya itu terlempar beberapa meter dan berguling di trotoar."Hei! Apa yang kau lakukan?!"Seorang wanita gemuk berlari menghampiri sambil memeluk anjingnya erat-erat, matanya memelototi Li Mingzi dengan marah."Itu anjingku!"Li Mingzi menggaruk pipinya."Dia hampir mengencingi sepatuku.""Dia hanya kencing!" bentak wanita itu."Oh."Li Mingzi mengangguk seolah mengerti. Lalu, di luar dugaan semua orang, dia kembali mengangkat kaki.Bugh!Pudel itu kembali melayang. Kali ini sampai menyeberangi jalan dan jatuh ke semak-semak di seberang."Tidakk!"Teriakan wanita itu bergema di jalanan saat dia berlari menyeberang untuk menyelamatkan anjingnya.Li Mingzi justru tersenyum lebar."Aku sudah menemukan ide."Dia mengangkat ponsel ke telinga."Tuan Wang."Suara tenang menyahut dari seberang. "Bagaimana, Tuan?"Li Mingzi melirik ke arah semak tempat pudel jatuh."Kita tidak perlu menunggu mer

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 61

    “Aku ingin nenek sadar… bahwa selama ini dia membela orang yang salah.”Suara Ruan Yin pelan, tapi jelas. Ia tidak lagi marah seperti sebelumnya. Yang tersisa hanya kelelahan dan sedikit kekecewaan yang belum sempat hilang.Li Mingzi meliriknya sekilas, lalu mengangguk santai.“Kalau begitu, biarka

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 60

    "Ayah, masalah ini biar aku yang tangani."Ruan Yin melirik sekilas ke arah pamannya. Ekspresi wajah Ruan An terlihat tidak sabar, seolah menunggu sesuatu yang sudah ia rencanakan sejak awal.Benar saja.Baru saja kalimat terakhir meluncur dari bibir Ruan Yin, Ruan An sudah melangkah maju dengan se

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 59

    “Bagus!”Suara tepukan tangan itu berhenti bersamaan dengan munculnya sosok yang berjalan santai dari belakang kerumunan. Sepatu kulitnya berkilau, langkahnya tenang, tapi aura angkuhnya begitu jelas terasa.Ruan An.Ia berdiri tidak jauh dari mereka, bibirnya melengkung tipis, seolah seluruh situa

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bsb 57

    Li Mingzi tiba-tiba berdiri dari kursinya, mengibaskan tangan seolah benar-benar terganggu.“Aduh… kenapa ya,” gumamnya sambil menggaruk telapak tangan. “Tanganku tiba-tiba gatal. Aneh banget.”Nada bicaranya santai, tapi sorot matanya jelas mengarah ke satu orang.Ruan An.Wajah pria itu langsung

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status