MasukSeketika, barisan pengawal dan pelayan di kiri-kanan pintu masuk ikut menundukkan kepala serempak. Jelas, Yu Shen telah memberitahu bawahannya mengenai Li Mingzi sebelumnya.
Li Mingzi melirik mereka sekilas, lalu berdehem pelan, merasa tidak nyaman dengan penyambutan yang berlebihan ini. "Tidak perlu terlalu formal," ujarnya singkat. "Terima kasih, Tuan Muda," sahut Tuan Wang, tetap tidak bergerak sedikitpun. Li Mingzi langsung menyampaikan satu instruksi penting, identitasnya sebagai Pewaris Aula Bintang harus dirahasiakan. Tidak ada satu orang pun yang boleh tahu bahwa dia telah turun gunung. Tuan Wang tidak bertanya apa pun. Tanpa banyak bicara, dia mengangguk, berbalik, dan dalam hitungan menit, seluruh bawahannya sudah menerima perintah ketat itu. Li Mingzi mengangguk puas. Lalu masuk untuk beristirahat sejenak sebelum memulai misi pertamanya. *** Matahari belum mencapai titik tertinggi ketika Li Mingzi sudah berdiri di depan gedung paling mencolok di pusat Kota Awan. Faz Media. Sebuah perusahaan multisektor milik keluarga Ruan yang tengah naik daun, menempati posisi kedua sebagai perusahaan paling berpengaruh di Kota Awan. Perusahaan itu bergerak di berbagai bidang, mulai dari konstruksi, pengembangan properti, hingga infrastruktur dan investasi. Dalam beberapa tahun terakhir, ekspansinya begitu agresif hingga mulai menyaingi perusahaan lain dan cukup mendominasi. Bangunan kaca berlantai dua puluh lebih itu memantulkan sinar matahari dengan terang menyilaukan. Di depan lobi, dua satpam berbadan besar berdiri dengan wajah bosan. Li Mingzi menatap gedung itu sebentar. Dalam hatinya, dia masih merasa berat. 'Menaklukkan musuh itu mudah. Tapi, menaklukkan wanita? Tua bangka sialan itu tidak pernah mengajariku soal itu,' batinnya kelam. Tapi dia sudah berjanji. Maka dia melangkah masuk dengan langkah pasti, meskipun belum tahu apa yang akan dia hadapi. Satpam pertama langsung menghadang. "Hei, ada keperluan apa?" "Menemui Ruan Yin," jawab Li Mingzi tanpa basa-basi. Satpam itu meliriknya dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan. "Buat janji dulu. Direktur kami tidak sembarangan menerima tamu." "Tidak perlu janji." Li Mingzi berkata dengan tenang. "Dia tunanganku." Hening. Lalu… tawa meledak. Satpam pertama menoleh ke arah satpam kedua sambil menahan tawa. Bahkan resepsionis di belakang meja lobi ikut menahan senyum geli. "Tunangan Nona Ruan?" Satpam itu mengulang dengan nada mengejek. "Kamu tahu siapa Nona Ruan?" "Ruan Yin, ya, Ruan Yin," ujar Li Mingzi datar. "Memangnya ada berapa nama Ruan Yin di perusahaan ini?" Tawa mereka semakin keras. Beberapa karyawan yang lewat ikut menoleh, menatapnya dengan tatapan sinis. “Lebih baik kau keluar dari sini sebelum aku bersikap lebih tegas. Perusahaan ini bukan tempat umum yang bisa didatangi sembarang orang!” gertak satpam itu lagi sambil mengambil langkah untuk berdiri tepat di hadapan Li Mingzi dengan tatapan tajam. Selama bertahun-tahun Li Mingzi tinggal di gunung bersama seorang guru yang lebih sering memukul daripada memuji, dia sudah terbiasa diabaikan. Hinaan seperti ini? Sama seperti angin lalu. Li Mingzi tersenyum tipis, lalu berkata, “Sudah kubilang, aku ini tunangan Ruan Yin.” Belum sempat satpam itu menimpali lagi, tiba-tiba suara deru mesin terdengar dari arah jalan. Sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depan gedung. Pintu belakang terbuka perlahan. “Presdir Ruan Yin telah tiba!” seru seorang satpam di depan pintu. Semua orang langsung menoleh ke arah itu. Li Mingzi refleks merapikan bajunya. Salah satu satpam yang sejak tadi berurusan dengan Li Mingzi langsung berlari ke arah pintu masuk untuk menyambut. Seorang wanita turun dengan langkah anggun dan terukur. Blazer putih yang rapi, rambut hitam panjang tersisir sempurna, sepatu hak tinggi yang mengkilat, dan wajah yang… sangat menawan. Li Mingzi berhenti bernapas sebentar. 'Tua bangka itu selama ini bilang wanita di gunung yang sudah berpengalaman jauh lebih menarik dari wanita kota…' Li Mingzi sekarang baru sadar dia telah ditipu mentah-mentah! Ruan Yin melangkah menuju lobi tanpa melirik siapa pun, seorang sekretaris wanita bergegas mengikutinya dari belakang dengan tumpukan dokumen di tangan. Satpam yang tadinya tertawa langsung berubah sikap. Satu langkah cepat ke arah Li Mingzi, tangannya mencengkeram lengan pemuda itu, bermaksud menyingkirkannya dari jalur masuk sang direktur. Namun, Li Mingzi tidak bergerak. Satpam itu mendorong lagi, lebih keras. Tetapi, Li Mingzi tetap tidak bergerak sama sekali. “Kau!” lirih satpam itu dengan tatapan kesal kepada Li Mingzi. Melihat itu, satpam lain langsung ikut membantu. Dalam hitungan detik, sepuluh orang berseragam sudah mengerahkan tenaga penuh untuk menggeser Li Mingzi, tetapi tidak berhasil. Li Mingzi berdiri tegak seperti gunung yang tidak bisa digoyang. Ruan Yin dan sekretarisnya berhenti melangkah. Keduanya menatap keributan aneh itu dengan dahi mengernyit. “Ada apa ini? Kenapa ribut sekali?” tanya Ruan Yin dengan tatapan tak suka. “Apa kalian tidak tahu aturan?” “Mohon maaf, Presdir. Kami—” Belum selesai satpam itu bicara, dengan satu gerakan ringan, Li Mingzi melepaskan diri dari semua cengkeraman, merapikan bajunya yang sedikit kusut, lalu melangkah maju dengan tenang. "Ruan Yin," ujar Li Mingzi cepat, memotong ucapan satpam itu. Wanita itu menoleh, menatapnya dengan ekspresi dingin yang sulit dibaca. "Namaku Li Mingzi." Dia berhenti sejenak, lalu berkata dengan lantang, "Tunanganmu." Sekretaris di samping Ruan Yin langsung mendengus keras. "Tunangan? Perjodohan dari mana? Kenapa aku tidak tahu tentang hal sebesar ini?" Ruan Yin sendiri tidak langsung menjawab. Matanya menatap pemuda berpakaian sederhana itu dari atas ke bawah. Wajahnya memang sangat tampan, tetapi Ruan Yin tidak ingin tertipu oleh penampilan polosnya. “Aku bahkan tidak mengenalnya,” ujar Ruan Yin kepada sekretarisnya, lalu menatap Li Mingzi sekilas. Seketika, orang-orang yang berada di sana tampak menahan tawa. Ruan Yin menatap orang yang tampak seperti kepala keamanan dan berkata dengan tegas, “Aku membayarmu mahal untuk menjaga gedung ini, kenapa masih bisa membiarkan sembarangan orang masuk ke sini?” Orang langsung menunduk penuh penyesalan. “Maafkan saya, Presdir. Ini adalah kelalaian tim kami. Saya akan segera membereskannya.” Namun, saat itu juga Li Mingzi merogoh saku bajunya dan mengeluarkan sebuah amplop berwarna keemasan. Surat perjodohan itu masih terlipat rapi, meskipun sudut-sudutnya sudah menguning oleh waktu. “Aku bukan orang sembarangan. Sudah kubilang aku adalah tunanganmu,” ujar Li Mingzi sambil menyerahkan amplop itu kepada Ruan Yin. Ruan Yin menatap amplop itu sejenak, lalu Linqi, sekretaris wanita itu, langsung bergerak mengambil amplop itu dari tangan Li Mingzi dan menyerahkannya kepada Ruan Yin. “Bu Ruan,” ujar Linqi sambil menyerahkan amplop. Ruan Yin menerimanya tanpa ekspresi. Matanya menyapu isi surat itu sekilas, kemudian berhenti di bagian bawah. Di sana, tertera nama dan tanda tangan kakeknya dengan stempel resmi Keluarga Ruan. Wajah Ruan Yin tidak berubah, tetapi jari-jarinya sedikit mengencang di sudut kertas itu. Tanpa berkata apapun, dia menyerahkan surat itu kepada Linqi. Lalu membuka tas tangan bermerk mahal, mengeluarkan buku cek, dan menuliskan sesuatu di atas kertas. Dengan gerakan tegas, dia merobek selembar cek dan menyerahkannya ke arah Li Mingzi. "Seratus juta. Lupakan pertunangan ini."Ladang bambu di pinggir Resort Sungai Bening bergoyang pelan diterpa angin sore. Yu Ming Lan berdiri di depan sebuah tugu kecil, tangannya menyusuri ukiran di batu itu selama beberapa saat sebelum akhirnya bicara."Ini formasi fengshui," katanya. "Tapi aku tidak mengerti. Orangnya jelas masih hidup, kenapa dibuatkan makam segala?"Qin Luxi berdiri di sampingnya, menatap tugu bertuliskan nama Li Mingzi itu dengan alis berkerut. Rasa kecewa tiba-tiba menjalar di dadanya. Dia sudah membayangkan pertemuan lain, bukan berdiri di depan batu nisan kosong seperti ini."Kau sendiri kekuatannya di tingkat berapa?" tanya Qin Luxi, mengalihkan pembicaraan."Sedikit di bawah Grandmaster," jawab Yu Ming Lan singkat. "Tapi satu tebasan pedangku cukup untuk membunuh seorang Grandmaster."Tuan Ji yang berdiri tak jauh dari situ langsung tertawa mengejek. "Sombong sekali. Kau tahu betapa sulitnya mencapai tingkat Grandmaster? Ahli internal biasa sepertimu mustahil menembus batas sampai bisa membunuh Gr
Villa Bukit Kuning masih tenang ketika debum keras terdengar dari gerbang depan. Lu Minghao melangkah masuk dengan puluhan orang di belakangnya, menyingkirkan pengawal yang mencoba menghadang."Di mana Putra Mahkota Aula Bintang?" serunya, keras hingga menggema di halaman depan. "Suruh dia keluar sekarang! Aku tidak punya banyak waktu untuk basa-basi!"Tuan Wang bergegas keluar, ekspresinya tetap tenang seperti biasa meski baru muncul dari dalam villa. "Tuan Muda Lu, ada apa ini? Kenapa menerobos masuk seperti perampok?""Perampok?" Lu Minghao tertawa pendek, tanpa humor sama sekali. "Semalam Keluarga Ye diserang habis-habisan oleh Keluarga Gong. Kami kehilangan banyak orang, kerugian kami besar. Kalau Putra Mahkota kalian tidak bisa memberi penjelasan, jangan salahkan aku kalau Keluarga Gong lenyap dari peta hari ini juga.""Tuan Muda tidak tahu apa-apa soal itu," jawab Tuan Wang."Tidak tahu?" Lu Minghao melangkah lebih dekat. "Kalian pikir aku bodoh datang kemari tanpa bukti? Buka
Qin Luxi turun dari mobil dengan langkah tenang. Di depan gedung Faz Media, Ruan Yin sudah menunggu bersama beberapa pengawal. Keduanya berhenti beberapa meter, saling berhadapan dalam diam.Luo Han maju satu langkah, matanya langsung terkunci pada sosok bertopeng di samping Qin Luxi. "Kalian siapa? Mau apa ke sini?" tanyanya, tangannya sudah bersiap di pinggang.Qin Luxi tersenyum ramah yang dibuat-buat. "Kamu Luo Han, kan? Ada orang yang berniat mencelakai Tuan Muda kalian. Sebaiknya kau kembali ke Villa Bukit Kuning sekarang, jaga dia.""Bohong," sahut Luo Han cepat. Dia sudah mengenali gelagat itu sejak awal. "Bawa Nona Ruan pergi dari sini!" perintahnya ke pengawal lain.Belum sempat kalimat itu selesai, Yu Ming Lan sudah bergerak.Luo Han bahkan tidak sempat melihat kapan dia bergerak. Yang dia rasakan hanya sensasi dingin menembus dadanya, sepersekian detik sebelum darah menyembur keluar dan tubuhnya ambruk ke aspal."Luo Han!" teriak salah satu pengawal, panik.Yu Ming Lan ber
Tidak lama setelah Lu Vivi masuk, Lu Minghao dan yang lain berkumpul di dalam mobil yang diparkir tidak jauh dari villa."Qin Luxi mana?" tanya Wen Lu, melihat sekeliling."Katanya perutnya bermasalah," jawab Lu Minghao santai. "Dia akan menyusul."Wen Lu mengerutkan kening tapi tidak bertanya lebih jauh. Lu Minghao memberi isyarat ke bawahannya. "Aktifkan alat penyadap," perintahnya. Salah seorang pria segera menyalakan perangkat yang sudah dipasang sebelumnya.Ye Anyi langsung melotot ke arah Lu Minghao. "Kau benar-benar tega," katanya."Tega apa?" Lu Minghao mengangkat alis."Kau menjerumuskan keponakanmu sendiri ke dalam bahaya," kata Ye Anyi."Jangan bicara seperti aku memaksanya. Rencana ini sudah disetujui semua orang, dan Vivi sendiri yang mau melakukannya," balas Lu Minghao."Itu bukan berarti kau boleh membiarkannya," kata Ye Anyi."Kalau begitu kau seharusnya menghentikannya tadi," kata Lu Minghao.Ye Anyi terdiam."Bukankah dia memang berniat jadi istri Putra Mahkota?" Lu
"Jadi, menurutmu rencana itu tidak akan berhasil?" tanya Wen Lu sambil menghela napas. Sejak tadi Li Mingzi lebih sibuk memainkan ponselnya daripada memikirkan masalah besar yang baru saja dibicarakan."Aku tidak memikirkan hal lain," jawab Li Mingzi, mengangkat wajah."Lalu kenapa kau bertanya soal Ye Anyi?" tanya Wen Lu."Karena aku penasaran," jawab Li Mingzi.Berdebat dengan Li Mingzi sering membuat Wen Lu tidak tahu harus marah atau menyerah. "Sudahlah. Kembali ke masalah utama. Kenapa kau bilang rencana Qin Luxi tidak akan berhasil?" tanya Wen Lu.Li Mingzi meletakkan ponselnya di meja. "Karena Mo Yan tidak bisa bela diri. Racun itu cuma bereaksi ke praktisi. Kalau orang biasa yang meminumnya, tidak akan terjadi apa-apa, dan Mo Yan cuma orang biasa yang menyamar jadi diriku," jelas Li Mingzi.Wen Lu terdiam, baru menyadari kejanggalan itu. "Kalau begitu Qin Luxi juga tahu?" tanya Wen Lu."Tentu," jawab Li Mingzi."Dan dia tetap menyetujui rencana itu?" tanya Wen Lu."Itu yang an
Malam yang sama ketika Qin Luxi diserang di Hotel Q, tiga tempat lain juga bergejolak. Wen Liyin, Lu Vivi, dan Ye Anyi mendapat serangan serupa, hampir bersamaan.Keesokan paginya, keempat keluarga besar berkumpul di ruang pertemuan pribadi milik Keluarga Lu. Lu Minghao duduk di kepala meja, memutar cincin di jari tengahnya berulang kali sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan."Jadi," katanya, "siapa yang mau melapor duluan? Berapa kerugian kalian semalam?"Wen Liyin hanya mengangguk pelan, tidak menjelaskan apa-apa. Sikapnya seperti biasa, tertutup dan hemat kata.Ye Anyi justru langsung menoleh ke arah Lu Vivi. "Vivi, kau tidak terluka, kan?""Aku baik-baik saja." Lu Vivi menjawab cepat, lalu menyikut lengan Ye Anyi pelan. "Jangan tanya begitu di depan semua orang. Nanti Tuan Mo Yan salah paham."Ye Anyi mendesah pelan, lalu menunduk menahan diri.Lu Minghao yang menyaksikan itu berhenti memutar cincinnya. "Sudah, sudah. Tidak usah malu begitu." Dia melirik Ye Anyi. "Kudeng
"Kondisi Tuan Besar Ruan memburuk karena sumbatan di meridian Yin," jawab Tabib Su ketus. "Kelembabannya sudah merusak organ dalam. Jarum Pemanggil Jiwa adalah satu-satunya jalan."Li Mingzi menggeleng pelan. "Itu bukan kelembaban biasa."Ruan Yin merasakan jemari Li Mingzi menggenggam tangannya le
Ruan Yin menatap pamannya tak percaya. "Paman! Zhang Wu yang membuat surat utang palsu untuk menipu perusahaan kita!""Akan kuurus nanti," potong Ruan An lagi. "Mulai sekarang urusan grup aku yang ambil alih. Kau masih terlalu muda, terlalu emosional untuk memimpin."Li Mingzi yang sejak tadi diam,
Zhang Wu terjatuh ke samping, kepalanya membentur lantai dengan keras."Kakak masih belum minta maaf," kata Li Mingzi dengan nada polos. Zhang Wu berusaha bangkit, tapi kakinya tidak kuat menopang. Dia meraih meja terdekat untuk berpegangan.Krek!Li Mingzi menginjak kaki Zhang Wu dengan enteng hi
Ruan Yin menghentakkan meja dengan keras, suaranya bergema memenuhi ruangan. "Cukup!"Semua orang terdiam seketika.Anak buah Zhang Wu berhenti di tengah langkah.Ruan Yin berdiri tegak, dadanya naik turun menahan amarah yang meluap. Matanya menatap tajam ke arah Zhang Wu dengan sorot penuh peringa







