Share

Bab 4

Penulis: MISTERIOUS
last update Tanggal publikasi: 2026-04-07 16:23:51

"Ya." Li Mingzi beranjak dari kursinya.

"Hei, tunggu! Jangan masuk! Kau bisa celaka!" cegah karyawan berkacamata dengan panik.

Tapi Li Mingzi tidak mengindahkan peringatannya.

Karyawan berkacamata hanya bisa menggeleng pasrah, membayangkan pemuda aneh itu akan segera babak belur dihajar anak buah Zhang Wu.

Di dalam ruangan Ruan Yin, Zhang Wu duduk santai di sofa tamu dengan kaki diangkat ke atas meja kaca. Tangannya menggenggam cangkir kopi milik Ruan Yin, bibirnya menyeringai nakal.

"Kopi yang enak," katanya sambil menyeruput pelan. Matanya menyapu tubuh Ruan Yin dari atas ke bawah dengan tatapan mesum. "Tapi ada yang jauh lebih enak dari kopi ini."

Ruan Yin berdiri tegak di belakang meja kerjanya dengan ekspresi jijik. "Langsung saja ke intinya."

Zhang Wu merogoh saku jasnya dan melemparkan sesuatu ke atas meja. Selembar kertas terbuka, memperlihatkan stempel resmi dan tanda tangan yang sah.

Surat utang.

Nominal di atasnya membuat Linqi, yang berdiri di samping Ruan Yin, menegang seketika. Napasnya tertahan.

Lima ratus miliar.

"Ayahmu meminjam uang dariku," kata Zhang Wu sambil menegakkan tubuh, seringaiannya melebar. "Sudah waktunya bayar hari ini."

Ruan Yin menatap surat itu tanpa mengambilnya, rahangnya mengeras. "Aku tidak pernah tahu tentang utang ini."

"Sekarang kau tahu," sahut Zhang Wu dengan suara rendah yang menekan. "Dan aku mau uangnya hari ini juga."

Linqi melangkah maju dengan hati-hati. "Tuan Zhang, ini tidak masuk akal. Bagaimana mungkin..."

Zhang Wu mengangkat tangan malas, salah satu anak buahnya langsung maju dan menatap Linqi dengan sorot mata tajam penuh ancaman. Linqi terdiam, napasnya tercekat di tenggorokan.

Zhang Wu kembali mengambil cangkir kopinya, menyeruput pelan sambil menatap Linqi dengan pandangan merendahkan. Lalu tiba-tiba, dia menyemburkan cairan itu langsung ke arah Linqi.

Kopi hangat itu mengenai dada Linqi, membasahi kemeja putihnya yang sedikit terbuka di bagian atas. Linqi tersentak mundur, wajahnya merah menahan malu dan amarah yang meluap.

Zhang Wu tertawa keras. "Maaf, tidak sengaja."

Ruan Yin mengepalkan tangannya erat di sisi tubuh. Rahangnya semakin mengeras, urat di lehernya menonjol menahan emosi. Tapi dia tahu, satu gerakan salah semuanya bisa berakhir dalam bencana.

"Grup Tiga Saudara dan Grup Aksara sudah setuju meminjamkan satu triliun untuk perusahaan kami," kata Ruan Yin dengan suara dingin dan terkendali. "Tapi semalam, setelah kau menelepon, mereka semua mundur bersamaan."

Zhang Wu mengangkat alis, berpura-pura terkejut dengan ekspresi berlebihan. "Oh, benarkah?"

"Apa ini ulahmu?" tanya Ruan Yin.

Zhang Wu tersenyum tipis. Dia bersandar ke kursi, merentangkan tangan seperti sedang menikmati pertunjukan sandiwara yang menghibur.

"Ya," jawabnya dengan santai dan terang-terangan. "Memang ulahku. Kau menyukainya, kan?"

Linqi menatapnya dengan mata terbelalak tidak percaya. Ruan Yin tidak terlalu terkejut, dia sudah menduga hal ini.

"Dulu, kau bersaudara angkat dengan ayahku," kata Ruan Yin dengan suara rendah penuh penekanan. "Kalian bersumpah di bawah langit yang sama. Tapi kenapa kau melakukan ini kepada kami?"

Udara di ruangan itu terasa mencekik, berat dan penuh tekanan.

Zhang Wu bangkit dari kursinya, berjalan perlahan mengelilingi meja dengan langkah yang disengaja. Setiap tapak kakinya terdengar seperti ancaman. 

Dia membungkuk sedikit tepat di samping Ruan Yin, berbisik dengan nada penuh racun. 

"Aku akan menghancurkan Keluarga Ruan. Pelan-pelan. Sampai kalian tidak punya apa-apa lagi selain penyesalan."

Ruan Yin menatapnya lurus tanpa berkedip, tidak mundur satu sentimeter pun. "Kenapa?"

Zhang Wu tertawa rendah, suara yang membuat bulu kuduk berdiri. Napasnya yang bau rokok menyapu wajah Ruan Yin.

Sebelum sempat menjawab, pintu ruangan tiba-tiba terdorong dengan keras.

Li Mingzi berdiri di ambang pintu.

Dua anak buah Zhang Wu bergerak cepat, berusaha menyingkirkan Li Mingzi dari ambang pintu.

Namun, Li Mingzi menghindar dengan lincah, tubuhnya meliuk seperti sedang menari. Gerakan itu begitu ringan sampai kedua preman itu justru saling bertabrakan.

SWISH!

"Permisi, permisi," kata Li Mingzi sambil melangkah masuk dengan senyum ceria. Tangannya terangkat, mengulurkan jabat tangan kepada Zhang Wu. "Aku Li Mingzi, suami Ruan Yin. Senang berkenalan denganmu."

Ruangan itu seketika hening.

Zhang Wu menatapnya dengan alis terangkat.

Ruan Yin bangkit dari kursinya, wajahnya pucat. "Mingzi, pergi sekarang!"

Li Mingzi tidak mengindahkan perintah itu. Dia malah melangkah lebih dekat, senyumnya makin lebar. "Wah, Kakak Zhang Wu ini benar-benar tampan. Pantas saja bisa jadi orang penting."

Zhang Wu masih diam, tapi seringaian tipis mulai muncul di sudut bibirnya.

"Bajumu juga bagus," lanjut Li Mingzi dengan antusias. "Warnanya hitam mengkilap seperti bulu gagak yang baru dimandikan. Pasti mahal, ya?"

Linqi hampir tersedak ludahnya sendiri.

“Aku tidak ada urusan denganmu,” kata Zhang Wu singkat, masih dengan senyum remeh di wajahnya.

Namun, Li Mingzi tidak peduli.

"Tapi yang membuatku penasaran..." Li Mingzi memiringkan kepala dengan ekspresi polos. "Bukankah kau seharusnya sudah mati?"

Senyum Zhang Wu langsung lenyap. Digantikan dengan tatapan tajam.

“Kau …” Zhang Wu menautkan dahinya, mulai kesal.

"Dulu ada yang bilang, anak buah Tuan Wang sudah menghabisi seorang preman jalanan bernama Wuxi," lanjut Li Mingzi dengan nada serius, jarinya mengetuk dagu seperti sedang berpikir keras. "Katanya dipukul sampai tidak bergerak lagi. Kok bisa masih hidup, ya? Apa kau punya kembaran?"

Udara di ruangan itu seakan membeku.

Linqi yang tadinya tegang, tiba-tiba tertawa. Suaranya pecah, nyaris tak bisa ditahan. Dia menutup mulut dengan tangan, tapi tawanya tetap lolos keluar.

Semua orang di ruangan itu tahu siapa Zhang Wu sebenarnya. Seorang preman jalanan yang naik pangkat lalu mengubah nama, menambahkan marga Zhang agar terdengar berwibawa. 

Tapi tak ada yang pernah berani mengungkitnya. Dunia hitam punya aturan sendiri, dan nama adalah kehormatan yang berbahaya untuk diganggu gugat.

Wajah Zhang Wu memerah, urat di pelipisnya menonjol. Tangannya terkepal erat.

Salah satu anak buahnya langsung maju, siap menghajar Li Mingzi.

Brak!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 178

    Ladang bambu di pinggir Resort Sungai Bening bergoyang pelan diterpa angin sore. Yu Ming Lan berdiri di depan sebuah tugu kecil, tangannya menyusuri ukiran di batu itu selama beberapa saat sebelum akhirnya bicara."Ini formasi fengshui," katanya. "Tapi aku tidak mengerti. Orangnya jelas masih hidup, kenapa dibuatkan makam segala?"Qin Luxi berdiri di sampingnya, menatap tugu bertuliskan nama Li Mingzi itu dengan alis berkerut. Rasa kecewa tiba-tiba menjalar di dadanya. Dia sudah membayangkan pertemuan lain, bukan berdiri di depan batu nisan kosong seperti ini."Kau sendiri kekuatannya di tingkat berapa?" tanya Qin Luxi, mengalihkan pembicaraan."Sedikit di bawah Grandmaster," jawab Yu Ming Lan singkat. "Tapi satu tebasan pedangku cukup untuk membunuh seorang Grandmaster."Tuan Ji yang berdiri tak jauh dari situ langsung tertawa mengejek. "Sombong sekali. Kau tahu betapa sulitnya mencapai tingkat Grandmaster? Ahli internal biasa sepertimu mustahil menembus batas sampai bisa membunuh Gr

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 177

    Villa Bukit Kuning masih tenang ketika debum keras terdengar dari gerbang depan. Lu Minghao melangkah masuk dengan puluhan orang di belakangnya, menyingkirkan pengawal yang mencoba menghadang."Di mana Putra Mahkota Aula Bintang?" serunya, keras hingga menggema di halaman depan. "Suruh dia keluar sekarang! Aku tidak punya banyak waktu untuk basa-basi!"Tuan Wang bergegas keluar, ekspresinya tetap tenang seperti biasa meski baru muncul dari dalam villa. "Tuan Muda Lu, ada apa ini? Kenapa menerobos masuk seperti perampok?""Perampok?" Lu Minghao tertawa pendek, tanpa humor sama sekali. "Semalam Keluarga Ye diserang habis-habisan oleh Keluarga Gong. Kami kehilangan banyak orang, kerugian kami besar. Kalau Putra Mahkota kalian tidak bisa memberi penjelasan, jangan salahkan aku kalau Keluarga Gong lenyap dari peta hari ini juga.""Tuan Muda tidak tahu apa-apa soal itu," jawab Tuan Wang."Tidak tahu?" Lu Minghao melangkah lebih dekat. "Kalian pikir aku bodoh datang kemari tanpa bukti? Buka

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 176

    Qin Luxi turun dari mobil dengan langkah tenang. Di depan gedung Faz Media, Ruan Yin sudah menunggu bersama beberapa pengawal. Keduanya berhenti beberapa meter, saling berhadapan dalam diam.Luo Han maju satu langkah, matanya langsung terkunci pada sosok bertopeng di samping Qin Luxi. "Kalian siapa? Mau apa ke sini?" tanyanya, tangannya sudah bersiap di pinggang.Qin Luxi tersenyum ramah yang dibuat-buat. "Kamu Luo Han, kan? Ada orang yang berniat mencelakai Tuan Muda kalian. Sebaiknya kau kembali ke Villa Bukit Kuning sekarang, jaga dia.""Bohong," sahut Luo Han cepat. Dia sudah mengenali gelagat itu sejak awal. "Bawa Nona Ruan pergi dari sini!" perintahnya ke pengawal lain.Belum sempat kalimat itu selesai, Yu Ming Lan sudah bergerak.Luo Han bahkan tidak sempat melihat kapan dia bergerak. Yang dia rasakan hanya sensasi dingin menembus dadanya, sepersekian detik sebelum darah menyembur keluar dan tubuhnya ambruk ke aspal."Luo Han!" teriak salah satu pengawal, panik.Yu Ming Lan ber

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 175

    Tidak lama setelah Lu Vivi masuk, Lu Minghao dan yang lain berkumpul di dalam mobil yang diparkir tidak jauh dari villa."Qin Luxi mana?" tanya Wen Lu, melihat sekeliling."Katanya perutnya bermasalah," jawab Lu Minghao santai. "Dia akan menyusul."Wen Lu mengerutkan kening tapi tidak bertanya lebih jauh. Lu Minghao memberi isyarat ke bawahannya. "Aktifkan alat penyadap," perintahnya. Salah seorang pria segera menyalakan perangkat yang sudah dipasang sebelumnya.Ye Anyi langsung melotot ke arah Lu Minghao. "Kau benar-benar tega," katanya."Tega apa?" Lu Minghao mengangkat alis."Kau menjerumuskan keponakanmu sendiri ke dalam bahaya," kata Ye Anyi."Jangan bicara seperti aku memaksanya. Rencana ini sudah disetujui semua orang, dan Vivi sendiri yang mau melakukannya," balas Lu Minghao."Itu bukan berarti kau boleh membiarkannya," kata Ye Anyi."Kalau begitu kau seharusnya menghentikannya tadi," kata Lu Minghao.Ye Anyi terdiam."Bukankah dia memang berniat jadi istri Putra Mahkota?" Lu

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 174

    "Jadi, menurutmu rencana itu tidak akan berhasil?" tanya Wen Lu sambil menghela napas. Sejak tadi Li Mingzi lebih sibuk memainkan ponselnya daripada memikirkan masalah besar yang baru saja dibicarakan."Aku tidak memikirkan hal lain," jawab Li Mingzi, mengangkat wajah."Lalu kenapa kau bertanya soal Ye Anyi?" tanya Wen Lu."Karena aku penasaran," jawab Li Mingzi.Berdebat dengan Li Mingzi sering membuat Wen Lu tidak tahu harus marah atau menyerah. "Sudahlah. Kembali ke masalah utama. Kenapa kau bilang rencana Qin Luxi tidak akan berhasil?" tanya Wen Lu.Li Mingzi meletakkan ponselnya di meja. "Karena Mo Yan tidak bisa bela diri. Racun itu cuma bereaksi ke praktisi. Kalau orang biasa yang meminumnya, tidak akan terjadi apa-apa, dan Mo Yan cuma orang biasa yang menyamar jadi diriku," jelas Li Mingzi.Wen Lu terdiam, baru menyadari kejanggalan itu. "Kalau begitu Qin Luxi juga tahu?" tanya Wen Lu."Tentu," jawab Li Mingzi."Dan dia tetap menyetujui rencana itu?" tanya Wen Lu."Itu yang an

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 173

    Malam yang sama ketika Qin Luxi diserang di Hotel Q, tiga tempat lain juga bergejolak. Wen Liyin, Lu Vivi, dan Ye Anyi mendapat serangan serupa, hampir bersamaan.Keesokan paginya, keempat keluarga besar berkumpul di ruang pertemuan pribadi milik Keluarga Lu. Lu Minghao duduk di kepala meja, memutar cincin di jari tengahnya berulang kali sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan."Jadi," katanya, "siapa yang mau melapor duluan? Berapa kerugian kalian semalam?"Wen Liyin hanya mengangguk pelan, tidak menjelaskan apa-apa. Sikapnya seperti biasa, tertutup dan hemat kata.Ye Anyi justru langsung menoleh ke arah Lu Vivi. "Vivi, kau tidak terluka, kan?""Aku baik-baik saja." Lu Vivi menjawab cepat, lalu menyikut lengan Ye Anyi pelan. "Jangan tanya begitu di depan semua orang. Nanti Tuan Mo Yan salah paham."Ye Anyi mendesah pelan, lalu menunduk menahan diri.Lu Minghao yang menyaksikan itu berhenti memutar cincinnya. "Sudah, sudah. Tidak usah malu begitu." Dia melirik Ye Anyi. "Kudeng

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 8

    "Kondisi Tuan Besar Ruan memburuk karena sumbatan di meridian Yin," jawab Tabib Su ketus. "Kelembabannya sudah merusak organ dalam. Jarum Pemanggil Jiwa adalah satu-satunya jalan."Li Mingzi menggeleng pelan. "Itu bukan kelembaban biasa."Ruan Yin merasakan jemari Li Mingzi menggenggam tangannya le

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 7

    Ruan Yin menatap pamannya tak percaya. "Paman! Zhang Wu yang membuat surat utang palsu untuk menipu perusahaan kita!""Akan kuurus nanti," potong Ruan An lagi. "Mulai sekarang urusan grup aku yang ambil alih. Kau masih terlalu muda, terlalu emosional untuk memimpin."Li Mingzi yang sejak tadi diam,

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 6

    Zhang Wu terjatuh ke samping, kepalanya membentur lantai dengan keras."Kakak masih belum minta maaf," kata Li Mingzi dengan nada polos. Zhang Wu berusaha bangkit, tapi kakinya tidak kuat menopang. Dia meraih meja terdekat untuk berpegangan.Krek!Li Mingzi menginjak kaki Zhang Wu dengan enteng hi

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 5

    Ruan Yin menghentakkan meja dengan keras, suaranya bergema memenuhi ruangan. "Cukup!"Semua orang terdiam seketika.Anak buah Zhang Wu berhenti di tengah langkah.Ruan Yin berdiri tegak, dadanya naik turun menahan amarah yang meluap. Matanya menatap tajam ke arah Zhang Wu dengan sorot penuh peringa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status