LOGIN"Ya." Li Mingzi beranjak dari kursinya.
"Hei, tunggu! Jangan masuk! Kau bisa celaka!" cegah karyawan berkacamata dengan panik. Tapi Li Mingzi tidak mengindahkan peringatannya. Karyawan berkacamata hanya bisa menggeleng pasrah, membayangkan pemuda aneh itu akan segera babak belur dihajar anak buah Zhang Wu. Di dalam ruangan Ruan Yin, Zhang Wu duduk santai di sofa tamu dengan kaki diangkat ke atas meja kaca. Tangannya menggenggam cangkir kopi milik Ruan Yin, bibirnya menyeringai nakal. "Kopi yang enak," katanya sambil menyeruput pelan. Matanya menyapu tubuh Ruan Yin dari atas ke bawah dengan tatapan mesum. "Tapi ada yang jauh lebih enak dari kopi ini." Ruan Yin berdiri tegak di belakang meja kerjanya dengan ekspresi jijik. "Langsung saja ke intinya." Zhang Wu merogoh saku jasnya dan melemparkan sesuatu ke atas meja. Selembar kertas terbuka, memperlihatkan stempel resmi dan tanda tangan yang sah. Surat utang. Nominal di atasnya membuat Linqi, yang berdiri di samping Ruan Yin, menegang seketika. Napasnya tertahan. Lima ratus miliar. "Ayahmu meminjam uang dariku," kata Zhang Wu sambil menegakkan tubuh, seringaiannya melebar. "Sudah waktunya bayar hari ini." Ruan Yin menatap surat itu tanpa mengambilnya, rahangnya mengeras. "Aku tidak pernah tahu tentang utang ini." "Sekarang kau tahu," sahut Zhang Wu dengan suara rendah yang menekan. "Dan aku mau uangnya hari ini juga." Linqi melangkah maju dengan hati-hati. "Tuan Zhang, ini tidak masuk akal. Bagaimana mungkin..." Zhang Wu mengangkat tangan malas, salah satu anak buahnya langsung maju dan menatap Linqi dengan sorot mata tajam penuh ancaman. Linqi terdiam, napasnya tercekat di tenggorokan. Zhang Wu kembali mengambil cangkir kopinya, menyeruput pelan sambil menatap Linqi dengan pandangan merendahkan. Lalu tiba-tiba, dia menyemburkan cairan itu langsung ke arah Linqi. Kopi hangat itu mengenai dada Linqi, membasahi kemeja putihnya yang sedikit terbuka di bagian atas. Linqi tersentak mundur, wajahnya merah menahan malu dan amarah yang meluap. Zhang Wu tertawa keras. "Maaf, tidak sengaja." Ruan Yin mengepalkan tangannya erat di sisi tubuh. Rahangnya semakin mengeras, urat di lehernya menonjol menahan emosi. Tapi dia tahu, satu gerakan salah semuanya bisa berakhir dalam bencana. "Grup Tiga Saudara dan Grup Aksara sudah setuju meminjamkan satu triliun untuk perusahaan kami," kata Ruan Yin dengan suara dingin dan terkendali. "Tapi semalam, setelah kau menelepon, mereka semua mundur bersamaan." Zhang Wu mengangkat alis, berpura-pura terkejut dengan ekspresi berlebihan. "Oh, benarkah?" "Apa ini ulahmu?" tanya Ruan Yin. Zhang Wu tersenyum tipis. Dia bersandar ke kursi, merentangkan tangan seperti sedang menikmati pertunjukan sandiwara yang menghibur. "Ya," jawabnya dengan santai dan terang-terangan. "Memang ulahku. Kau menyukainya, kan?" Linqi menatapnya dengan mata terbelalak tidak percaya. Ruan Yin tidak terlalu terkejut, dia sudah menduga hal ini. "Dulu, kau bersaudara angkat dengan ayahku," kata Ruan Yin dengan suara rendah penuh penekanan. "Kalian bersumpah di bawah langit yang sama. Tapi kenapa kau melakukan ini kepada kami?" Udara di ruangan itu terasa mencekik, berat dan penuh tekanan. Zhang Wu bangkit dari kursinya, berjalan perlahan mengelilingi meja dengan langkah yang disengaja. Setiap tapak kakinya terdengar seperti ancaman. Dia membungkuk sedikit tepat di samping Ruan Yin, berbisik dengan nada penuh racun. "Aku akan menghancurkan Keluarga Ruan. Pelan-pelan. Sampai kalian tidak punya apa-apa lagi selain penyesalan." Ruan Yin menatapnya lurus tanpa berkedip, tidak mundur satu sentimeter pun. "Kenapa?" Zhang Wu tertawa rendah, suara yang membuat bulu kuduk berdiri. Napasnya yang bau rokok menyapu wajah Ruan Yin. Sebelum sempat menjawab, pintu ruangan tiba-tiba terdorong dengan keras. Li Mingzi berdiri di ambang pintu. Dua anak buah Zhang Wu bergerak cepat, berusaha menyingkirkan Li Mingzi dari ambang pintu. Namun, Li Mingzi menghindar dengan lincah, tubuhnya meliuk seperti sedang menari. Gerakan itu begitu ringan sampai kedua preman itu justru saling bertabrakan. SWISH! "Permisi, permisi," kata Li Mingzi sambil melangkah masuk dengan senyum ceria. Tangannya terangkat, mengulurkan jabat tangan kepada Zhang Wu. "Aku Li Mingzi, suami Ruan Yin. Senang berkenalan denganmu." Ruangan itu seketika hening. Zhang Wu menatapnya dengan alis terangkat. Ruan Yin bangkit dari kursinya, wajahnya pucat. "Mingzi, pergi sekarang!" Li Mingzi tidak mengindahkan perintah itu. Dia malah melangkah lebih dekat, senyumnya makin lebar. "Wah, Kakak Zhang Wu ini benar-benar tampan. Pantas saja bisa jadi orang penting." Zhang Wu masih diam, tapi seringaian tipis mulai muncul di sudut bibirnya. "Bajumu juga bagus," lanjut Li Mingzi dengan antusias. "Warnanya hitam mengkilap seperti bulu gagak yang baru dimandikan. Pasti mahal, ya?" Linqi hampir tersedak ludahnya sendiri. “Aku tidak ada urusan denganmu,” kata Zhang Wu singkat, masih dengan senyum remeh di wajahnya. Namun, Li Mingzi tidak peduli. "Tapi yang membuatku penasaran..." Li Mingzi memiringkan kepala dengan ekspresi polos. "Bukankah kau seharusnya sudah mati?" Senyum Zhang Wu langsung lenyap. Digantikan dengan tatapan tajam. “Kau …” Zhang Wu menautkan dahinya, mulai kesal. "Dulu ada yang bilang, anak buah Tuan Wang sudah menghabisi seorang preman jalanan bernama Wuxi," lanjut Li Mingzi dengan nada serius, jarinya mengetuk dagu seperti sedang berpikir keras. "Katanya dipukul sampai tidak bergerak lagi. Kok bisa masih hidup, ya? Apa kau punya kembaran?" Udara di ruangan itu seakan membeku. Linqi yang tadinya tegang, tiba-tiba tertawa. Suaranya pecah, nyaris tak bisa ditahan. Dia menutup mulut dengan tangan, tapi tawanya tetap lolos keluar. Semua orang di ruangan itu tahu siapa Zhang Wu sebenarnya. Seorang preman jalanan yang naik pangkat lalu mengubah nama, menambahkan marga Zhang agar terdengar berwibawa. Tapi tak ada yang pernah berani mengungkitnya. Dunia hitam punya aturan sendiri, dan nama adalah kehormatan yang berbahaya untuk diganggu gugat. Wajah Zhang Wu memerah, urat di pelipisnya menonjol. Tangannya terkepal erat. Salah satu anak buahnya langsung maju, siap menghajar Li Mingzi. Brak!“Kurang ajar!”Song Hua membalik meja. Namun Li Mingzi hanya mengangkat tangan.Brak!Telapak tangannya menepuk pelan meja kayu jati yang di dorong ke arahnya. Dalam sekejap, meja besar itu ambruk menjadi beberapa bagian.Hembusan tenaga tak kasatmata menyapu ruangan.Song Hua langsung pucat pasi. Tubuhnya gemetar. Ruan Tang buru-buru maju menenangkan keadaan.“Sudah cukup!”Ia memijat pelipisnya lalu memandang putrinya.“Ruan Yin... bicara baik-baik dengan nenekmu.”Ruan Yin menarik napas panjang lalu mendekati Song Hua.“Nenek,” ucapnya pelan, “Tolong jangan atur perjodohanku lagi.”Song Hua menggertakkan gigi.“Aku nggak mengerti! Kenapa kau justru menyukai pria kampung seperti dia?!”Tatapannya penuh ketidakpuasan saat melihat Li Mingzi.“Apa yang bisa dia berikan untuk masa depanmu?!”Ruan Yin terdiam sesaat. Lalu perlahan ia tersenyum kecil. “Aku menyukainya.”Jawaban singkat itu justru membuat Song Hua semakin marah.“Kalau begitu perusahaan keluarga akan kuberikan pada Ruan Y
Ruan Yin duduk di depan layar komputer dengan jemari bergerak pelan di atas keyboard, tapi pikirannya sama sekali tidak fokus pada laporan keuangan yang terbuka di monitor. Angka-angka di depannya terlihat kabur.Sesekali ia melirik ke arah sofa.Li Mingzi masih duduk santai di sana sambil memainkan game di laptop. Wajahnya terlihat serius saat bertarung di dalam permainan.“Eh, mati lagi...” gumamnya pelan.Beberapa detik kemudian, ia tertawa kecil sendiri.“Bagus. Balas dendam berhasil.”Ruan Yin mendengus pelan. Perasaan bersalah di dadanya makin berat.Ia merasa seperti sedang menyembunyikan sesuatu yang tidak seharusnya disembunyikan.Padahal... ia sendiri tidak ingin datang ke pertemuan itu.Tapi posisi Keluarga Xu terlalu penting untuk perusahaan. Jika ia menolak mentah-mentah, Song Hua pasti akan kembali membuat keributan besar.“Kenapa wajahmu aneh begitu?”Suara Li Mingzi tiba-tiba membuat tubuh Ruan Yin sedikit tersentak.“Hah?”Li Mingzi menoleh sambil mengernyit. “Kamu sa
Ruan Yuan duduk dengan kaku. Tangannya gemetar di atas paha.Gong Qin menuangkan anggur merah ke dalam gelas, lalu menyodorkannya. "Minum dulu. Santai saja."Ruan Yuan mengambil gelas itu, tapi tidak meminumnya. Ia hanya meremasnya erat."Kenapa... saya dipanggil ke sini?" tanyanya pelan."Karena kita punya musuh yang sama," jawab Gong Qin santai.Gong Manli duduk di sisi lain sofa, kaki disilangkan anggun. Ia memperhatikan wajah Ruan Yuan dengan seksama."Siapa yang memukul wajahmu?" tanyanya tiba-tiba.Ruan Yuan tersentak. Wajahnya langsung memerah, campuran malu dan marah."Bukan urusanmu!" bentaknya sambil berdiri, hendak pergi.Tapi Gong Qin mengangkat tangan, memberi isyarat. Dua pria berbaju hitam langsung menghalangi pintu."Duduk dulu," kata Gong Qin lembut tapi menekan. "Orang yang memukul wajahmu... juga pernah memukul wajahku."Ruan Yuan membeku. Ia melirik luka tipis di pipi Gong Qin. Perlahan ia duduk lagi."Li Mingzi," bisik Gong Qin pelan. "Dialah musuh kita bersama."
Li Mingzi mengangkat bahu, ekspresinya polos. "Itu bukan urusanku. Orang-orang di sana hanya kenal dengan Ruan Yin, kok."Bai Yumeng menyipitkan mata, seolah mencoba membaca kebohongan di balik wajah tenang pria itu. Angin malam berhembus pelan, menggerakkan helaian rambutnya yang hitam berkilau."Kau pikir aku bodoh?" bisiknya tajam.Li Mingzi tersenyum lebar, menggaruk kepala dengan gerakan canggung. "Sungguh! Mereka bahkan tidak tahu namaku."Bai Yumeng terdiam lama. Rahangnya mengeras. Akhirnya ia mendengus kesal, lalu berbalik memunggungi Li Mingzi."Lupakan," ujarnya dingin. "Tapi ingat baik-baik. Dua hari lagi temani aku ke krematorium untuk menaruh abu ayahku. Itu sebagai gantinya malam ini."Li Mingzi mengangguk cepat. "Baik, tidak masalah."Bai Yumeng melangkah menuju mobilnya tanpa menoleh lagi. Mesin menyala, lampu belakang menyala merah, lalu mobil itu meluncur keluar dari area gedung.Begitu suara mesin menjauh, Luo Han muncul dari bayang-bayang di samping pintu masuk. I
Luo Han mengangkat ponselnya lebih tinggi, memastikan suaranya terdengar jelas di seluruh ruangan."Tuan Wang," katanya dengan nada hormat. "Ada orang yang mengaku teman lama Anda. Namanya Ruan An. Dia bilang punya hubungan bisnis dekat dengan Anda."Hening sejenak. Lalu suara berat dari ujung telepon menjawab dengan nada dingin yang membuat bulu kuduk merinding."Ruan An? Siapa itu?"Pertanyaan sederhana itu seperti pukulan telak. Song Hua tersentak. Ruan Yuan membeku. Luo Han tersenyum tipis. "Dia Direktur Keuangan di Faz Media. Katanya sedang merundingkan proyek dengan Anda.""Faz Media?" Tuan Wang terdengar berpikir sebentar. "Aku tidak kenal orang bernama Ruan An. Yang berurusan denganku dari perusahaan itu hanya Ruan Tang dan Nona Ruan Yin. Suruh dia bicara."Luo Han menatap Ruan An. Ia mengulurkan ponselnya dengan gerakan lambat, seperti menyodorkan hukuman mati."Silakan," katanya datar.Ruan An menatap ponsel itu seperti menatap jurang. Tangannya gemetar hebat saat meraihnya
Beberapa tamu yang mengenalinya langsung berbisik-bisik."Itu Tuan Luo Han...""Dia juga datang?"Para tamu yang ingin menyapa beramai-ramai mendekat, tapi Luo Han menyingkirkan mereka tanpa pandang bulu. Tangannya melambai kasar, memaksa mereka mundur."Menyingkir!" bentaknya dingin.Kerumunan langsung tercerai-berai. Luo Han berjalan langsung menuju Ruan Yuan dengan tatapan tajam.Ruan Yuan mengernyit. Ia tidak mengenali pria ini. Dengan nada sombong, ia bertanya, "Kau siapa? Berani sekali mengacau di sini."Ruan An yang berdiri di sampingnya langsung berubah pucat. Tubuhnya kaku, keringat dingin mengalir dari pelipis."Yuan," bisiknya cepat sambil menarik lengan anaknya. "Itu Tuan Luo Han!"Ruan Yuan tersentak. Tapi alih-alih takut, ia malah mengangkat dagu lebih tinggi."Oh, jadi kamu Tuan Luo Han?" katanya dengan nada menantang. "Ayahku adalah teman lama Tuan Wang. Kau sebaiknya minta maaf sekarang juga!"Suasana mendadak sunyi.Luo Han terdiam sejenak. Lalu bibirnya melengkung,







