登入“Turunlah dulu.”Li Mingzi menarik napas pendek sambil berdiri di tepi jurang terjal. Di bawah sana hanya terlihat jalanan samar dan jalur kabel gantung yang membentang sampai sisi lain bukit.Bai Yumeng memucat saat melihat kedalamannya.“Kau ikut denganku.” Suaranya bergetar. “Kita turun bersama.”Li Mingzi tidak menjawab. Ia justru memasang kait pengaman ke pinggang Bai dengan tenang.Di kejauhan, suara langkah kaki mulai terdengar semakin dekat.“Mereka hampir sampai.” Li Mingzi mengencangkan tali terakhir. “Kalau aku ikut turun sekarang, kita berdua bakal mati.”Bai Yumeng langsung menggenggam tangannya erat.“Kalau begitu kau yang pergi!” serunya panik. “Mereka mencariku! Semua masalah ini terjadi karena aku!”Itu pertama kalinya Li Mingzi melihat Bai Yumeng benar-benar kehilangan ketenangan. Wanita itu biasanya dingin dan angkuh, tetapi sekarang matanya dipenuhi kecemasan.Li Mingzi malah tersenyum kecil.“Jadi Nona Bai ternyata bisa juga mengkhawatirkan orang lain.”“Li Mingz
"Kau masih membela pria itu?!" Wajah Song Hua memerah menahan amarah. "Kau tinggalkan jabatan direktur demi mengikuti pemuda kampung! Sekarang dia selingkuh di depan matamu, masih juga tidak sadar?!"Ruan Yin terdiam. Hatinya sakit mendengar kata-kata itu.Song Hua menunjuk ke arah jendela dengan jari gemetar. "Lihat sendiri! Dia berlari sambil menggenggam wanita lain! Apa lagi yang kau tunggu?!"Ruan Yuan ikut menyahut cepat. "Li Mingzi memang bajingan. Lupakan dia.""Cukup." Ruan Yin menggeleng pelan.Song Hua menghela napas kasar. "Yin'er, jangan bodoh lagi. Tinggalkan pria itu. Nenek janji akan mencarikan pasangan yang jauh lebih baik."Ruan Yin menatap lantai. Pikirannya kembali ke beberapa waktu lalu. Saat ia dikhianati Zhang Wu dan berada di titik terendahnya. Yang datang menolongnya adalah Li Mingzi.Nenek dan sepupunya itu sedang menikmati hidup makmur di luar kota."Nenek ingat nggak?" Ruan Yin mengangkat wajah perlahan. Suaranya dingin. "Saat kakek hampir mati, kalian di ma
# Bab 71Langit Kota Awan tampak suram ketika Li Mingzi melangkah keluar dari gerbang Villa Bukit Kuning. Angin pagi berembus dingin, membuat ujung mantel hitamnya berkibar pelan.Sebuah mobil sedan hitam sudah terparkir di depan gerbang.Tin! Tin!Suara klakson pendek terdengar dua kali.Li Mingzi melirik ke dalam mobil dan melihat Bai Yumeng duduk di kursi pengemudi. Wanita itu mengenakan setelan hitam profesional yang membungkus tubuh rampingnya dengan sempurna. Kaki jenjang berbalut stoking tipis menyilang anggun, sementara wajah dinginnya tertutup sebagian oleh kacamata hitam besar."Naik," ucap Bai Yumeng singkat.Li Mingzi membuka pintu mobil tanpa banyak bicara. Namun baru saja ia duduk, alisnya langsung terangkat."Kenapa ada dia?"Di kursi belakang, Gong Manli mendengus sinis sambil melipat tangan di dada."Hmph. Kukira siapa. Ternyata buaya darat."Wajah Li Mingzi langsung menggelap. "Aku pria tampan dan gagah begini, kenapa kau panggil buaya?""Kalau bukan buaya darat nama
Napas Ruan Yin masih terengah. Tubuhnya bersandar lemas di dinding balkon. Li Mingzi menarik diri perlahan, menatapnya dengan sorot mata yang lembut."Aku tahu kau belum siap," bisiknya pelan sambil merapikan gaun Ruan Yin yang berantakan. "Aku bisa menunggu."Ruan Yin mengangguk kecil, wajahnya masih memerah. Ia menarik napas panjang untuk menenangkan diri.Li Mingzi tahu waktunya tidak banyak, tetapi ia bukan binatang yang suka memaksa. Mereka duduk di tepi ranjang besar yang sudah disiapkan. Keheningan sesaat menyelimuti ruangan."Ruan Yin."Suara Li Mingzi tiba-tiba terdengar serius. Ruan Yin menoleh, penasaran dengan perubahan nada bicaranya."Aku mau bilang sesuatu."Ruan Yin menunggu dengan sabar. Li Mingzi menatap jendela kamar sejenak sebelum melanjutkan."Aku datang ke Kota Awan bukan hanya untuk menepati perjanjian pernikahan.""Lalu?""Aku harus menyatukan dua keluarga besar, Gong dan Bai. Setelah itu, aku akan menegakkan kekuasaan di seluruh kota ini."Ruan Yin terdiam.
“Kurang ajar!”Song Hua membalik meja. Namun Li Mingzi hanya mengangkat tangan.Brak!Telapak tangannya menepuk pelan meja kayu jati yang di dorong ke arahnya. Dalam sekejap, meja besar itu ambruk menjadi beberapa bagian.Hembusan tenaga tak kasatmata menyapu ruangan.Song Hua langsung pucat pasi. Tubuhnya gemetar. Ruan Tang buru-buru maju menenangkan keadaan.“Sudah cukup!”Ia memijat pelipisnya lalu memandang putrinya.“Ruan Yin... bicara baik-baik dengan nenekmu.”Ruan Yin menarik napas panjang lalu mendekati Song Hua.“Nenek,” ucapnya pelan, “Tolong jangan atur perjodohanku lagi.”Song Hua menggertakkan gigi.“Aku nggak mengerti! Kenapa kau justru menyukai pria kampung seperti dia?!”Tatapannya penuh ketidakpuasan saat melihat Li Mingzi.“Apa yang bisa dia berikan untuk masa depanmu?!”Ruan Yin terdiam sesaat. Lalu perlahan ia tersenyum kecil. “Aku menyukainya.”Jawaban singkat itu justru membuat Song Hua semakin marah.“Kalau begitu perusahaan keluarga akan kuberikan pada Ruan Y
Ruan Yin duduk di depan layar komputer dengan jemari bergerak pelan di atas keyboard, tapi pikirannya sama sekali tidak fokus pada laporan keuangan yang terbuka di monitor. Angka-angka di depannya terlihat kabur.Sesekali ia melirik ke arah sofa.Li Mingzi masih duduk santai di sana sambil memainkan game di laptop. Wajahnya terlihat serius saat bertarung di dalam permainan.“Eh, mati lagi...” gumamnya pelan.Beberapa detik kemudian, ia tertawa kecil sendiri.“Bagus. Balas dendam berhasil.”Ruan Yin mendengus pelan. Perasaan bersalah di dadanya makin berat.Ia merasa seperti sedang menyembunyikan sesuatu yang tidak seharusnya disembunyikan.Padahal... ia sendiri tidak ingin datang ke pertemuan itu.Tapi posisi Keluarga Xu terlalu penting untuk perusahaan. Jika ia menolak mentah-mentah, Song Hua pasti akan kembali membuat keributan besar.“Kenapa wajahmu aneh begitu?”Suara Li Mingzi tiba-tiba membuat tubuh Ruan Yin sedikit tersentak.“Hah?”Li Mingzi menoleh sambil mengernyit. “Kamu sa







