로그인Tubuhku seketika lemas tak bertulang. Tak ada lagi yang bisa kulakukan untuk menentang kehendak mutlak Nikolai. Aku hanya bisa membuang muka, mencoba menyembunyikan air mata yang mulai menetes membasahi pipi.
"Aku harap, tidak ada lagi di antara kalian yang berani mempermasalahkan hubungan kami," ucap Nikolai dengan nada suara yang menghunus tajam. Para staf klinik masih bergumam lirih. Beberapa di antaranya mencuri pandang, menatap Nikolai yang merangkulku dengaTiga tahun berlalu begitu saja, membawa pergi seluruh sisa badai kelam yang pernah memporak-porandakan hidup kami. Kebahagiaan baru yang hakiki akhirnya tumbuh di rumah ini. Aku berhasil melahirkan dua putra kembar yang menggemaskan, yang saat ini tumbuh sehat dan sudah berusia dua tahun lebih. Wajah mereka berdua merupakan perpaduan yang sempurna antara aku dan Nikolai; mewarisi garis wajah yang tampan, tegas, namun juga memiliki binar yang manis."Kau hari ini pulang malam?" tanyaku lembut sembari membantu Nikolai memasangkan dasi sutranya pagi ini.Sejak setahun yang lalu, Nikolai memutuskan untuk mengambil langkah besar dengan pensiun cepat dari kepolisian. Keputusan itu diambil tepatnya setelah eksekusi mati pada Gideon dilaksanakan secara resmi oleh hukum.Dendam masa lalunya telah usai seutuhnya. Kini, pria itu fokus memimpin geng Dragon dengan cara yang baru. Ia mengembangkan gurita perusahaan legal mereka melalui sistem bisnis yang bersih, transparan, dan tanpa merugikan sal
"Nikol... aku ingin pulang ke rumah Ayah," bisikku lirih, menyandarkan kepalaku yang terasa berat di bahu bidangnya.Nikolai perlahan melepas pelukannya, lalu menunduk untuk menatapku dalam dengan sepasang netranya yang kini sarat akan kelembutan. "Kau ingin tinggal bersama ibu?""Emh," anggukku bersama sisa air mata yang masih menggenang di pelupuk mata. "Aku ingin melupakan semuanya dan memulai hidup baru bersama Bibi Sofia... juga anak kita."Mendengar penuturanku, Nikolai tersenyum lebar. Terpancar kelegaan yang teramat besar di raut wajah tampannya yang semula tegang. Tanpa membuang waktu, ia kembali mendekapku erat, merengkuh tubuhku lebih dalam dan posesif dari sebelumnya seolah ingin menyatu dengan jiwaku."Baiklah, Sayang. Aku akan membawamu ke rumah lama setelah menyelesaikan administrasi rumah sakit."Dan setelah selesai mengurus seluruh administrasi kepulangan dari rumah sakit, kami langsung bertolak membelah kota menuju rumah peninggalan Ayah untuk menemui Bibi Sofia.Se
Melihat kedatangan dua tamu tak diundang itu, Nikolai spontan bangkit dari duduknya. Gerakannya yang sigap memperlihatkan naluri protektif yang tinggi. Ia meletakkan apel dan pisau di nakas dengan ketukan pelan, lalu duduk di tepi ranjang sambil merangkul bahuku, mencoba menyalurkan ketenangan ke dalam tubuhku yang sempat menegang. "Elianore... tenangkan dirimu, hm? Nadine... datang ke mari hanya untuk menyampaikan sesuatu." Aku tidak merespons ucapan Nikolai. Mataku masih membeku menatap Nadine yang berdiri kaku di dekat pintu sambil menatapku penuh dengan rasa bersalah yang amat dalam. Dan akhirnya, dalam keheningan yang canggung itu, aku tidak lagi melihat kenaifan atau kilat kelicikan di matanya yang sembap. Wanita itu... benar-benar terlihat rapuh, seperti bukan Nadine yang pernah aku kenal di masa lalu. Menyadari suamiku didera kekhawatiran besar, aku seketika menoleh pada Nikolai dengan senyum leb
Aku spontan tersenyum lebar, rasa tidak percaya dan haru seketika membuncah di dalam rongga dadaku. Aku lalu menoleh pada sang dokter dengan wajah tak percaya. "Aku hamil?""Benar. Sudah tiga bulan. Apa kau tidak menyadarinya?" Sahut sang dokter setelah mengecek selang infusku, memastikan cairan di dalamnya mengalir dengan konstan ke pembuluh darahku.Aku menunduk dalam-dalam, menyembunyikan gurat haru dengan senyum yang tertahan di balik helai rambutku yang terurai. Air mata kebahagiaan nyaris menetes.Aku benar-benar tidak tahu kalau selama ini ada kehidupan baru yang sedang tumbuh di dalam rahimku. Mungkin, ketidaksadaranku itu terjadi karena aku cukup tertekan dan larut dalam kedukaan yang mendalam setelah apa yang terjadi pada Ayah selama dua bulan terakhir.Melihatku yang emosional, jemari Nikolai bergerak lembut, menyusuri sela-sela jemariku. Ia menggenggamnya erat dengan tatapan hang
"Aku akan benar-benar menembakmu, Tuan Jave!" Teriakku semakin memajukan pistol dengan dada bergemuruh hebat, menyuarakan ancaman yang nyaris tenggelam dalam riak emosi yang membakar seluruh dadaku.Namun, di luar dugaan, semua anak buahnya yang ada di sana masih saja terdiam kaku. Tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak maju untuk melindunginya, seolah mereka semua tunduk pada perintah tak tertulis dan menungguku untuk mengeksekusi Tuannya tanpa perlawanan.Bersama dengan itu, Tuan Jave tidak menurunkan pandangannya sama sekali. Ia justru semakin mengangkat dagunya, menatapku dengan mata tak gentar, memancarkan keberanian mutlak seorang pria yang sudah mati rasa terhadap ajal."Tidak ada yang berharga bagiku, selain nyawa putriku, Elianore..."Mendengar kalimat itu meluncur tulus dari bibirnya, benteng pertahananku seketika retak. Sebuah hantaman kenangan masa lalu mendadak memukul kes
"Bergabunglah dengan kami, Nona Eli," pinta Tuan Jave sambil mengangkat gelas anggurnya, mengulas senyum ramah yang kini terasa ganjil di mataku.Aku hanya menatapnya sebentar dengan tatapan dingin, lalu kembali menatap pada Nikolai dengan kening berkerut dalam. Ada keraguan besar yang menggelayuti hatiku untuk menerima ajakannya di tempat asing ini.Menyadari kegelisahanku, Nikolai menggandeng tanganku erat dengan senyuman yang menenangkan, mencoba menyalurkan rasa aman ke dalam jemariku. "Jangan khawatir, Sayang. Ayo kita bergabung dengan mereka."Meski diliputi rasa ragu yang tebal, aku akhirnya tetap mengikuti langkah Nikolai. Aku menurunkan egoku dan duduk di sofa mewah itu bersama Tuan Jave, dikelilingi oleh para anak buahnya yang bertubuh kekar.Pria paruh baya di hadapan kami itu kemudian menuangkan cairan merah anggur ke dalam dua gelas kristal, lalu memberikannya masing-masing padaku dan Nikolai."Kemenangan apa yang kalian maks
Duniaku runtuh seketika. Tubuhku membeku, kaku seperti batu. Aku menoleh perlahan ke arah pria yang baru saja muncul dari dalam rumah. Kelopak mataku tak sanggup berkedip, napasku tercekat di kerongkongan, dan peluh dingin mulai membanjiri pelipisku.Pria itu berdiri di sana. Dengan seringai tipis
Aku menggumamkan nama itu pelan. Aneh sekali. Entah kenapa, hanya dengan menyebut nama itu, seluruh bulu kudukku berdiri dan dadaku terasa sesak secara tiba-tiba.Rasanya seperti ada sesuatu yang gelap sedang menungguku di balik pintu kepulanganku.Setelah menyelesaikan seluruh urusan administrasi
Aku menjatuhkan pistol itu ke tanah, suara logamnya beradu dengan batu terdengar seperti lonceng kematian."Tidak... aku bukan pembunuh. Aku hanya ingin hidup," gumamku dengan napas yang putus-putus.Setelah terdiam dalam horor selama beberapa detik, aku berlari masuk ke dalam mobil. Aku harus per
Ia tersenyum miring, senyum yang menunjukkan dia menyukai apa yang didengarnya, menyukai tawaranku yang putus asa. Ia menyesap rokoknya untuk terakhir kali sebelum akhirnya diinjak dengan ujung sepatu. Tanpa berkata-kata lagi, ia langsung menyambar tubuhku dengan satu gerakan kuat, membawa tubuhku







