Home / Mafia / TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA / BAB 77 DI BAWAH LINDUNGAN SAYAP IBLIS

Share

BAB 77 DI BAWAH LINDUNGAN SAYAP IBLIS

last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-07 07:00:26

Tubuhku seketika lemas tak bertulang. Tak ada lagi yang bisa kulakukan untuk menentang kehendak mutlak Nikolai. Aku hanya bisa membuang muka, mencoba menyembunyikan air mata yang mulai menetes membasahi pipi.

"Aku harap, tidak ada lagi di antara kalian yang berani mempermasalahkan hubungan kami," ucap Nikolai dengan nada suara yang menghunus tajam.

Para staf klinik masih bergumam lirih. Beberapa di antaranya mencuri pandang, menatap Nikolai yang merangkulku denga
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 103 DETAK JANTUNG YANG BERPERANG

    Aku menghela napas panjang sembari memejamkan mata rapat-rapat. "Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin menyelamatkan nyawanya sebagai dokter," gumamku pada diri sendiri.Perlahan, aku naik ke atas tubuh Nikolai, menempelkan dadaku ke dadanya di bawah balutan selimut tebal. Seketika, aku bisa merasakan denyut jantung Nikolai yang melambat dan lemah.Sementara jantungku? Ia justru berdetak liar tanpa kendali, seolah ingin mendobrak rongga dadaku.Aku menatap wajahnya. Bahkan dalam keadaan pingsan dan pucat, garis wajahnya masih terlihat begitu tegas dan tampan. Dalam sekejap, suhu panas yang bukan berasal dari pemanas ruangan menjalar ke seluruh tubuhku."Sial... kenapa aku mendadak kepanasan?"Aku mengembuskan napas berkali-kali, mencoba mengendalikan hasrat yang mulai terpancing. Aku langsung membuang muka, menyandarkan kepalaku di ceruk lehernya, menghirup aroma maskulin yang bercampur dengan dinginnya sisa hujan.Se

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 102 KEHANGATAN DI TENGAH BADAI

    Gedebuuuum!Kilatan petir kembali menyambar, membuatku yang masih berdiri di jendela balkon seketika terperanjat.Jantungku berdegup kencang, bukan hanya karena guntur, tapi karena bayangan pria di bawah sana.Di luar, hujan turun semakin menggila. Dari balik tirai, aku melihat Nikolai tertunduk, membiarkan tetesan air menghantam wajahnya tanpa ampun.Tangannya terbenam semakin dalam ke dalam mantel, sementara bahunya yang kokoh kini tampak bergetar hebat.Aku segera menutup tirai rapat-rapat."Aku tidak peduli meski kau kedinginan. Itu pilihanmu sendiri," gumamku ketus, berusaha meyakinkan diri sendiri.Aku kembali ke sofa, menarik selimut hingga menutupi telinga. Namun, alam seolah tidak membiarkanku tenang.CRAAK! GEDEBUUUUM!Guncangan keras itu menggetarkan kaca balkon. Napasku mulai tidak stabil. Aku tidak bisa lagi memejamkan mata; yang ada di kegelapan kelopak mataku hanyalah wajah pucat Nikolai.

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 101 HUJAN YANG MENERPA LUKA

    Aku menyeka sisa air mata di pipi dengan kasar, lalu berbalik masuk ke dalam apartemen."Eli..." Bella mengejar langkahku dengan terburu-buru, wajahnya penuh rasa tidak percaya. "Kau yakin? Kau benar-benar ingin memutuskan hubungan dengan pria sekeren itu?"Aku menjatuhkan diri di sofa tanpa menoleh padanya. "Emh," sahutku pendek dan dingin. Aku meraih cangkir teh di meja, menyesapnya dengan gerakan yang kelihatannya tenang, meski sebenarnya hatiku sedang bergemuruh hebat.Bella mencondongkan badannya, meneliti ekspresiku yang sengaja kusembunyikan di balik cangkir. "Kau yakin tidak akan menyesal? Serius?"Aku hanya meliriknya sekilas, berusaha keras menekan keraguan yang mulai merayap di relung hati. Aku kembali fokus pada tehku, berpura-pura tidak peduli.Bella menautkan jemarinya di belakang punggung, membuang muka sejenak. "Pria semenarik dia... pasti banyak sekali wanita yang antre untuk menggantikanmu. Bahka

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 100 PERSEMBUNYIAN YANG TERLACAK

    "Ke mana tujuanmu, Nona?" tanya sang sopir taksi memecah keheningan. Aku tak langsung menjawab. Otakku berputar cepat, memetakan setiap sudut kota. Tanganku yang berbau darah masih terasa dingin, meski AC dalam taksi ini sudah mati. Di mana kira-kira tempat yang paling aman untukku? Rumah? Tidak. Di sana... setiap jengkal ruangan hanya akan mengingatkanku pada Nikolai. Kembali ke rumah bersama kami hanya akan menjahit lukaku dengan duri yang beracun. "Residen Lindenhof," ucapku akhirnya dengan suara serak. Sekitar satu jam perjalanan, taksi berhenti tepat di depan gedung apartemen mewah itu. Setelah membayar ongkos dengan uang pemberian Levin, aku melangkah keluar dengan tubuh lemas. Udara malam terasa menusuk hingga ke tulang. Angin kencang menyapu tubuhku yang sudah rapuh, seolah ingin meruntuhkan sisa-sisa pertahananku. Aku memasukkan kedua tangan ke saku celana, menggigit bibir bawahku yang

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 99 PELARIAN DI TEPI DANAU

    Tepat saat aku berhasil meringkuk di balik tembok luar, suara pintu di dalam ruangan itu terdengar didobrak dengan kasar.BRUAK!"Bos, Anda tidak apa-apa?! Di mana wanita itu?" teriak salah satu anak buah Gideon dengan nada panik.Dari balik jendela kaca yang buram, aku melihat sebuah bayangan besar mendekat seiring dengan suara langkah sepatu boot yang berat. Jantungku berdetak kencang, seolah ingin melompat keluar dari rongga dada. Keringat dingin mulai membanjiri seluruh tubuhku.Jangan mendekat. Kumohon, jangan ke sini.Aku meremas sisi celanaku, berusaha menahan gemetar. Suara sepatu itu terdengar semakin dekat, bayangannya kini memenuhi bingkai jendela. Aku mengeluarkan pisau kecil itu kembali, menggenggamnya erat dengan telapak tangan yang basah oleh keringat dan sisa darah.Sedetik kemudian, jendela mulai digeser terbuka. Aku mengendap dengan napas memburu, bersiap untuk menghujamkan pisau pada siapa p

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 98 KEPERCAYAAN YANG SIRNA

    Bersamaan dengan ketegangan itu, aku merasakan cairan hangat membasahi punggung tanganku. Aku tersentak, spontan mencondongkan wajah untuk mencari tahu. Cairan apa ini? Darah Nadine-kah?Bukan. Itu air mata Nikolai.Dadaku sesak melihatnya. Seorang pemimpin mafia yang dikenal dingin dan tak punya belas kasihan, kini menitikkan air mata di hadapanku? Aku bisa merasakan dadanya naik-turun dengan hebat karena emosi yang tertahan. Namun, hatiku sudah terlanjur membeku; aku tidak akan semudah itu tertipu oleh air mata buayanya lagi."Cepat selamatkan dia!" Aku mendorong tubuhnya kasar ke arah Nadine yang mulai sekarat dengan wajah sepucat mayat. "Satu menit saja kau terlambat, kau akan kehilangan nyawanya!"Namun, Nikolai tak langsung menuruti permintaanku. Ia membalikkan badan, menatapku dengan kelopak mata yang turun."Eli... ikutlah bersamaku, hm?" ajaknya lagi dengan suara parau dan mata yang masih berkaca-kaca.Bel

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status