Se connecterBibi Sofia menghampiriku dengan tatapan menyelidik. "Kalian semalam bersama?"
"T-tidak..."Aku refleks merampas piyama Nikolai dari tangan Bibi Sofia, memeluknya erat di dada. "Ini... kemarin aku meminjamnya dan lupa mengembalikan pada Kakak," ucapku terbata-bata.Aku menggulung piyama itu dengan gerakan kaku, berusaha keras menyembunyikan getaran di tanganku. "Aku... akan mengembalikannya nanti.""Kau meminjam piyama Nikolai? Apa kau kehabisan piyama sendiMoritz menarik kembali tubuh besarnya menjauh dariku sembari mengembuskan tawa singkat yang hambar. Dalam sekejap mata, raut wajahnya mendadak bertransformasi menjadi sangat kaku, menatapku dengan sorot mata sedingin es. "Apa kiranya yang membuatmu begitu percaya diri bahwa aku bersedia menurunkan pasukanku demi menjadi pedangmu, Nona?"Aku hanya menyunggingkan seulas senyum tipis. Dengan gerakan anggun, aku mendudukkan diri di atas sofa beludru hitam sembari menyilangkan kaki secara santai. Aku menyesap anggur merah di dalam gelas kristalku perlahan, membiarkan keheningan mengintimidasi ruangan sebelum akhirnya memberikan jawaban."Karena aku... sanggup mendatangkan dokter spesialis yang mampu mengembalikan kejantananmu berfungsi dengan sempurna." Aku menatap riak cairan anggur di tanganku sebelum melirik Moritz dengan sebuah seringai taktis.Moritz seketika membeku di tempatnya berdiri. Sepasang matanya menyipit tajam, menatapku penuh
Aku menyeringai dingin, lalu dengan santai menepuk pundak kedua pria itu bergantian. "Percayalah, sebentar lagi kalian berdua justru akan berlutut dan berterima kasih kepadaku. Cepat antar aku sekarang juga." Mereka akhirnya menyerah dan mulai mengawal langkahku menuju ruang privat paling ujung. Di sepanjang koridor, sayup-sayup aku bisa mendengar gema suara kekehan mabuk para pengunjung, berbaur dengan dentum musik berdentang keras yang meredam suara luar. "Ini ruangannya," ucap salah satu pria itu begitu kami berhenti di depan sebuah pintu kayu jati solid berukir mewah yang tertutup rapat. Salah satu dari mereka membuka pintu sedikit dan melangkah masuk terlebih dahulu untuk memberi laporan. "Tuan, maaf mengganggu. Kami... kami sudah berhasil membawa wanita baru berkualitas untuk Anda." Pyar! Prang! Gema suara pecahan botol beling yang menghantam dinding terdengar begitu memekakkan telinga. "
Aku bergerak cepat, meraih topi hitam yang tergeletak di atas meja kaca dan mengambil selembar masker medis baru dari dalam tas jinjingku. "Eli, apa kau benar-benar yakin akan pergi mendatangi sarang Mawar Hitam itu sendirian?" tanya Bella dengan nada suara yang dipenuhi kecemasan yang mendalam. Aku memasang topi hitam itu sedalam mungkin hingga menutupi dahiku, lalu diam-diam menyelipkan pisau lipat kecil pemberian Nikolai ke dalam saku celana jins yang kukenakan sebagai senjata pertahanan terakhir. "Kau tidak perlu khawatir berlebihan, Bella. Aku yang sekarang... sudah tahu bagaimana cara mengatasi pria-pria arogan seperti mereka." "Eli, segera kirimkan sinyal darurat padaku jika kau membutuhkan bantuan," ucap Bella sembari menggandeng pergelangan tanganku erat, menatapku dengan sorot mata yang sarat akan rasa tidak rela jika aku harus terluka lagi. "Ehm, aku mengerti," sahutku singkat untuk menenangkannya
Tok! Tok! Gema ketukan pintu kamar yang berirama konstan memecah keheningan. Bella langsung bangkit dari posisinya, melangkah waspada ke arah pintu depan untuk membukanya. "Kau? Masuklah cepat, situasi sedang memanas," bisik Bella sembari menarik seorang pria yang baru saja tiba di ambang pintu. Bella menuntun pria itu mendekat, lalu memperkenalkannya tepat di samping tempatku duduk. "Eli, kenalkan, ini Sam. Dia adalah jurnalis investigasi senior di bidang politik yang sangat berpengaruh di wilayah Ravenstain." "Hai, Nona." Sam mengulurkan tangan kanannya ke hadapanku, menyapaku dengan seulas senyum lebar yang ramah namun penuh teka-teki. Aku bangkit berdiri, menyambut uluran tangannya untuk berjabat tangan secara formal. "Hai, Sam. Aku Elianore. Elianore Wyss." "Aku sudah mendengar banyak hal tentang sepak terjang dan situasimu dari Bella," ucap Sam sembari melirik sekilas ke arah Bella yang b
"Halo... Eli? Di mana kau sekarang?" Suara Bella langsung menyambar begitu aku menyambungkan panggilan terenkripsi melalui ponsel milik Anggi. "Aku baru saja keluar dari area kedatangan bandara. Temui aku sekarang juga di Hotel Ritz," perintahku dengan nada rendah, sembari melangkah cepat ke lobi luar dan melambaikan tangan pada sebuah taksi perak yang tengah melintas. "Baiklah, aku akan segera meluncur ke sana." Aku langsung menyusup masuk ke dalam kabin taksi begitu mobil itu berhenti tepat di hadapanku. "Jangan lupa, pesan kamar eksekutif itu atas nama pribadimu, Bel. Jangan gunakan identitas dan akunku." "Aku mengerti, serahkan padaku." "Satu lagi," aku menahan napas sejenak sebelum melanjutkan. "Ajak juga teman kencan barumu yang seorang jurnalis itu. Aku butuh bantuannya untuk melancarkan rencanaku." "Baiklah, Elianore. Sampai bertemu di san
Anggi langsung mengembuskan napas panjang yang sempat tertahan di dada. Dalam sekejap, rona wajahnya berubah menjadi panik dan dipenuhi ketakutan melihat intimidasi pria asing tersebut. Aku langsung bangkit dari kursi, lalu mengulas senyum ramah yang dibuat-buat pada pria gemuk itu. "Ah, iya, Tuan. Silakan duduk, aku akan segera pindah." Aku melirik ke arah Anggi sebentar dengan tatapan penuh arti sebelum melangkah pergi meninggalkan area kabin ekonomi. Di dalam hati, aku penuh harap dan menghitung mundur; wanita itu pasti akan bangkit dan memanggilku kembali. Dan benar saja. Hanya dalam selang waktu dua detik, lengkingan suaranya yang memanggilku terdengar memecah koridor lorong. "Nona! Tunggu!" Aku menghentikan langkah kaki sembari menyembunyikan senyum lebar, lalu perlahan berbalik menghadapnya dengan raut wajah yang seolah-olah bersimpati. "Bolehkah aku ikut denganmu ke depan?" ucap Anggi dengan wajah yan







