Setelah Mati, Aku Kembali Sebagai Mata-Mata Suamiku

Setelah Mati, Aku Kembali Sebagai Mata-Mata Suamiku

last updateLast Updated : 2026-05-27
By:  thecheesywriterOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
7Chapters
126views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Dalam kehidupan sebelumnya, Aaron–suami Sierra–menelantarkannya saat dia hamil dan membiarkannya mati membeku kedinginan di malam natal sementara Aaron asik berselingkuh. Selingkuhan suaminya adalah sahabat baiknya sendiri, Tamara. Di akhir hayatnya, dengan sisa-sisa napasnya, rupanya Tuhan masih berbaik hati memberikannya kesempatan kedua. Sierra hidup lagi. Kali ini…dalam tubuh seorang remaja lusuh yang cantik yang diambil oleh kelompok mafia untuk dijadikan mata-mata. Dan...target spionase Sierra adalah suaminya sendiri!

View More

Chapter 1

BAB I : Tragedi Malam Natal

Jika ada kehidupan selanjutnya…Sierra harap dia tidak lagi lahir di keluarga Morvessac. Memiliki ayah bak monster kekuasaan, suami yang tidak menginginkannya, dan sahabat baik yang rupanya tidak pernah menganggapnya sahabat.

Sierra termenung.

Celah pintu rumah besar yang dulunya dia tinggal sempat terbuka.

Rambut pirang, mata biru. Persis seperti miliknya, namun bukan dia. Tapi milik sahabatnya, Tamara Ciobanu yang sedang bergelayut di pangkuan suaminya hanya dengan pakaian dalam yang tipis.

Dari luar, Sierra mengelus perutnya yang membesar.

Pada awalnya dia berniat meminta sepeser uang pada suaminya. Tapi tampaknya sekarang kurang tepat.

Sierra berbalik menyusuri jalanan bersalju. Di pinggir sungai yang membeku, Sierra memeluk dirinya sendiri. Dia cuma mengenakan selapis pakaian hangat. Mana mungkin bisa menghalau angin musim dingin?

Sierra menoleh ketika merasakan tepukan kasar di bahunya. Dia menemukan orang yang tidak kalah lusuh darinya tersenyum padanya.

“Wah, kamu pasti belum makan ya? Lebih baik ikut pergi denganku! Ada orang kaya yang membagikan makanan gratis dengan cuma-cuma!”

“Makanan gratis?”

“Ayo ikut! Orang-orang sudah mengantre!”

Orang itu sudah berlari mengikuti kawanannya. Sementara Sierra susah payah bergerak dengan perutnya yang besar. Dia berjalan dengan hati-hati, secepat yang dia bisa.

Ketika Sierra sampai di sana, antrean sudah mengular. Dia dengan sabar berdiri di barisan belakang. Butuh waktu dua jam lebih bertahan di sana.

Angin bertiup tidak kenal ampun. Berkali-kali dia menggosok telapak tangannya, mengerahkan pakaiannya, dan meniup jari-jarinya yang membeku.

Tibalah dia di antrean paling depan. Sayangnya, si ibu tua yang menyiapkan makanan justru mengerutkan keningnya.

“Ternyata masih ada ya? Sayang sekali, makanannya sudah habis. Benar-benar habis. Tidak ada yang tersisa di dapur. Jika kamu mau, mungkin…aku masih punya permen,” kata si ibu tua sambil menyodorkan dua bungkus permen minta ke tangan Sierra.

Sierra buru-buru tersenyum. “Terima kasih, Ibu.” Dia menerima bungkusan permen di tangannya.

Sierra memandang sekitarnya, kotak makanan berserakan. Dia berjongkok untuk meraih kotak-kotak makan itu. Siapa tahu masih tersisa sedikit, pikirnya.

Sayangnya, semuanya ludes tidak bersisa.

Tentu saja, mana mungkin pengemis jalanan macam mereka menyisakan makanan?

Sierra menghela napas.

Hari sudah gelap, lebih baik dia segera kembali ke tempat tinggalnya. Masih jauh untuk dicapai dengan berjalan kaki.

Kembali di pinggir jalan sungai yang membeku, gigi-gigi Sierra bergemelatuk. Angin malam betul-betul menembus tulang-tulangnya. Bukan lagi soal menggigil, tapi sakit. Padahal masih setengah jalan untuk sampai ke rumahnya.

Sierra merasakan perutnya berbunyi.

Terakhir kali dia makan adalah sore dua hari yang lalu. Itu juga cuma bubur sisa dari tetangga. Untunglah dia masih punya dua butir permen di kantong.

Dia segera melahap permen-permen gula itu dan permen itu langsung habis dalam hitungan menit.

Sierra mengelus perutnya. Dahinya berkerut.

Tangannya mengelus perutnya lebih gelisah.

“Kenapa…tidak ada pergerakan?” gumamnya pada diri sendiri. “Anakku?”

Berkali-kali dia mengelus perutnya tapi nihil. Tidak ada pergerakan. Tidak ada tendangan kecil yang biasanya.

Dia menggigit bibir. Titik air menggenang di pelupuk matanya. Sierra terisak.

Tidak masalah buatnya ditinggalkan Aaron–suaminya. Tidak masalah buatnya ditinggalkan keluarga Morvessac. Tapi setidaknya sisakan anaknya untuknya!

Kakinya lemas. Dia melebur ke jalanan sepi yang bersalju. Bak orang kesetanan, dia mengelus, meraung memanggil-manggil bayi kecil di perutnya.

Kalau saja dia bisa melawan, dia tidak akan pernah kehilangan nyawa kecil ini. Kalau saja tadi dia bisa berlari lebih cepat, dia bisa memberinya sedikit asupan untuk terus bertahan hidup.

Sekarang Sierra merasa betul-betul miskin. Dia tidak punya apa-apa. Bahkan satu-satunya yang dia pikir tidak akan pernah meninggalkannya– anaknya– ikut meninggalkannya.

Sesungguhnya, dosa apa yang telah dia perbuat, Tuhan?

Lelah, dia berhenti menangis.

Sierra kira dia sebetulnya mampu. Tapi dia sendiri baru sadar, ketika dua kakinya tidak lagi mampu menopang tubuhnya. Dia jatuh keras di aspal ketika berusaha bangkit.

Darah segar mengalir di antara kedua kakinya. Dia cuma memandang kosong aliran darahnya.

Mungkin selama ini alasannya tetap bertahan cuma karena bayi kecilnya.

Sierra bersandar di pinggir pembatas jalan.

Jalanan sangat kosong dan sepi. Tidak ada kendaraan berlalu lalang. Semua orang menikmati hangatnya liburan natal di rumah. Berkumpul bersama keluarga, makan malam, mungkin bermain games, membuka kotak-kotak hadiah…

Dia menutup mata. Napasnya perlahan lebih tenang, semakin tenang.

Di sisa-sisa kesadarannya, Sierra bersumpah, jika ada kehidupan berikutnya, dia akan menghancurkan kehidupan Aaron Mitchell dan Tamara Ciobanu!

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status