LOGINDua minggu berlalu dan tibalah aku di hari pertama magang.
Lobi perusahaan Arsen Corporation terasa begitu megah hingga langkahku sempat ragu saat menapakinya. Dinding kaca setinggi langit-langit memantulkan bayangan tubuhku yang tampak kecil dibandingkan riuh para karyawan yang hilir-mudik. Aku merapikan blazer biru tua yang kupakai sekali lagi, memastikan kartu identitas magang yang kupegang tidak sampai kusut oleh genggaman tanganku yang berkeringat dingin. “Nama?” tanya resepsionis dengan ramah, jarinya sudah siap di atas layar tablet. “Adams, Audrey Adams. Program magang arsitektur,” jawabku sedikit tercekat. Setelah memeriksa daftar, wanita itu mengangguk lalu memintaku menuju lantai sebelas, tempat briefing peserta magang berlangsung. Aku menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa tegang. Ini bukan kampus, pikirku, ini dunia nyata dan sayangnya, perusahaan ini juga milik pria yang sempat membuatku kalut selama tiga tahun terakhir. Begitu pintu lift terbuka, aku disambut lorong berkarpet lembut dengan deretan pintu kaca berlogo perusahaan. Di ruang briefing, beberapa mahasiswa lain sudah berkumpul, sebagian tampak akrab satu sama lain. Mereka serentak mengamati kedatanganku. Aku mendadak canggung. Ternyata sebagian besar mereka datang dari universitas yang sama, hanya aku yang sendirian. “Eh, kau peserta tambahan itu, kan?” sapa seorang mahasiswi berambut ombre, nadanya penuh ingin tahu. Aku tertegun sesaat, berusaha menyembunyikan keterkejutan. “Aku… ah, iya...,” jawabku gugup kemudian mengalihkan pandangan. Belum sempat suasana mencair, pintu ruangan terbuka. Langkah berat dengan sepatu kulit terdengar mendekat. Aku bahkan tak perlu mengangkat kepala untuk tahu siapa yang datang. Aroma cologne itu masih sama seperti yang kuingat. Para peserta magang lain yang juga mengagumi Sam terdengar mulai berbisik histeris. Beberapa sengaja maju ke depan untuk lebih dekat melihatnya. Tiga tahun berlalu dan wajah tampannya yang kharismatik masih sama. Dia mengenakan jas biru gelap, kemeja putih tanpa dasi. Aku tahu dia suka warna biru, karena itu aku memakai blazer ini. Sekarang kami tampak seperti pasangan. Tapi ekspresi datarnya sama sekali tidak menunjukkan bahwa kami pernah punya kisah di masa lalu. Dia berubah dari sosok ramah ke mode profesional. Tatapannya menyapu ruangan sebelum akhirnya berhenti sejenak di wajahku. Hanya sedetik, tapi cukup untuk membuatku kembali menunduk. “Selamat datang di Arsen Corporation,” suaranya tenang, tegas, yang bagiku justru menenangkan. “Kalian di sini bukan untuk bermain. Kami tidak menerima peserta magang yang hanya mau nama besar perusahaan kami di CV. Kalian akan bekerja, belajar, dan dievaluasi ketat. Paham?” “Paham,” jawab kami serempak. Aku bisa merasakan beberapa pasang mata melirikku. Mungkin mereka berpikir aku ada di sini karena koneksi. Mereka tidak tahu aku bahkan melewati proses administrasi yang sama seperti mereka. Hanya saja, Sam-lah yang memberiku keberanian untuk akhirnya mendaftar. Saat briefing selesai, peserta mulai diarahkan ke divisi masing-masing. Aku mendapat penempatan di divisi dokumentasi dan perencanaan renovasi, jauh dari bayangan semula yang kubuat tentang bekerja langsung di bawah arahan Sam. Namun, sebelum meninggalkan ruangan, langkah Sam sempat berhenti di dekatku. “Semoga kau bisa menunjukkan potensimu, Audrey,” ucapnya pelan, hanya cukup terdengar olehku. Tidak ada senyum, hanya tatapan yang sulit diartikan. Antara menguji atau memperingatkan. Aku mengangguk kecil. “Saya usahakan yang terbaik, Tuan Arsen.” Dan saat dia berbalik, aku mendapati beberapa rekan magang berbisik-bisik. Aku pura-pura tidak peduli, meski dada ini diam-diam berdegup kencang. Lima hari pertama berlalu tanpa jeda. Tugasku datang bertubi-tubi mulai dari membuat salinan dokumen, menyusun presentasi gambar renovasi, hingga mengantar laporan ke divisi lain yang letaknya berjauhan. Rasanya seperti bukan magang arsitektur, melainkan jadi kurir serabutan. “Audrey, gambar denah apartemen itu sudah?” tanya salah satu senior, tanpa menoleh, jari-jarinya terus mengetik di laptop. “Belum, masih proses…,” jawabku hati-hati. “Cepat sedikit. Deadline jam tiga.” Jam tanganku menunjukkan pukul dua lewat sepuluh. Aku belum makan siang, belum menyelesaikan revisi dari pagi. Mataku pun sudah perih karena memandangi layar komputer terlalu lama. Pekan berikutnya tidak jauh berbeda. Bahkan, tugas-tugas yang kudapatkan sudah melebihi kapasitas peserta magang lainnya. Aku sempat bertanya-tanya apakah ini memang prosedur normal, atau… karena beberapa dari mereka tak suka kedekatanku dengan Sam? Puncaknya terjadi di pekan ketiga. Aku terlambat menyelesaikan laporan mingguan karena harus menggambar ulang detail pilar yang berubah mendadak. Senior yang membimbingku—seorang wanita dengan bibir merah mencolok dan wajah selalu sinis—menatapku datar. “Kalau begini caramu bekerja, lebih baik kau belajar dasar dulu.” Aku menunduk. “Maaf. Akan kuselesaikan secepatnya.” Tapi dia malah menutup laptopnya, lalu menyodorkan sebuah kunci kecil. “Tidak usah. Sebagai hukuman, kau rapikan arsip di gudang lantai dua belas. Semua folder lama di sana harus diurutkan sesuai tahun proyek. Jangan pulang sebelum selesai.” "Gudang? Tapi ini sudah hampir jam pulang." "Jangan berharap pulang cepat kalau kerjamu seperti siput.” Aku kembali ingin membantah, tapi melihat beberapa pasang mata lain yang sudah memandangku seolah aku bawahan rendahan, aku memilih mengatupkan bibir. “Baik.” Gudang itu sunyi, bau debu serta kertas tua memenuhi udara. Aku mulai mengangkat box demi box, menata folder proyek yang bahkan usianya lebih tua dariku. Jarum jam terus berputar. Ketika teman-teman magang lain sudah pulang, aku masih di sana. Perutku mulai melilit, mataku perih dan kepalaku semakin berat. Aku mengambil jeda sebentar, duduk bersandar di dinding, menatap lampu neon yang berkedip-kedip. Aku ke sini dengan harapan bisa sering melihatnya. Namun, ternyata dia begitu sibuk. Bisa melihatnya melintas di lobi sudah sangat beruntung. Ponselku bergetar. Notifikasi masuk dari grup magang: “Terima kasih kerja kerasnya minggu ini! Jangan lupa besok ada evaluasi langsung dari Tuan Arsen di ruang meeting pusat.” Jantungku mencelos. Evaluasi? Besok? Aku bahkan belum beres mengerjakan ini! Aku kembali jongkok di antara tumpukan arsip yang berserakan, berusaha mengurutkan dokumen sesuai kode yang sudah pudar di tepinya. Jari-jari mulai perih terkena debu kertas tua. Ponsel di kantongku bergetar. Nama Irish terpampang di layar. Aku menghela napas dan menyapanya, “Ya, ada apa?” “Bagaimana magangnya?” suaranya penuh antusias. Aku mengembuskan napas berat. “Seperti pekerja paksa. Serius, Irish. Aku yakin aku jadi target senior. Disuruh ini-itu tanpa henti.” “Lho, kenapa tidak kau laporkan ke Ayah Sean? Tunggu. Aku telepon dia sekarang juga!” “Jangan!” seruku cepat. “Aku yang memilih magang di sini. Aku tidak mau buat masalah.” Irish mendengus. “Audrey, ini sudah lewat jam kerja. Lembur itu ilegal, apalagi kau anak magang.” Aku melirik jam tangan. Sudah hampir pukul delapan malam. Astaga! Aku buru-buru menutup telepon. “Nanti aku kabari lagi, ya!” Aku kembali memindahkan berkas ke rak. Tapi belum sempat bernafas lega, ponselku kembali berdering. “Ya ampun, Irish!” desisku, menyambar ponsel itu dengan kesal. “Sudah kubilang jangan. Aku sudah lelah menyusun arsip tua ini, kau mau aku dihukum tambah parah, hah?!” “Audrey?” Suara di seberang itu bukan milik Irish. Lebih berat. Lebih tenang. Aku membeku. “P… Paman?” **“Audrey…”Nada panggilan khas Max terdengar rendah, namun cukup untuk membuatku menegang.Dia melangkah mendekat hingga jarak di antara kami hampir hilang. Kepalanya menunduk, mendekat ke wajahku. Napasku tercekat, tertahan tanpa sadar.“Mungkin,” ujarnya pelan, “kau mau sedikit berbagi cerita denganku? Soal rencana pendekatanmu… atau prioritasmu saat di lokasi nanti?”Aku tahu dia sedang memancing reaksiku dan aku tidak siap.Aku tak tahu semerah apa wajahku sekarang, tapi dari sorot matanya, jelas aku gagal menyembunyikan perubahan ekspresiku."Kau terlihat gugup," gumamnya dengan sudut bibir terangkat naik.Mataku mengerjap cepat. Tak bisa bicara.Max menahan tawa. Bahunya sedikit bergerak, lalu dia menghela napas pendek, seolah memutuskan berhenti menggodaku.“Oke. Ke depannya,” lanjutnya, suaranya kembali tenang, “jangan selalu merendah. Orang-orang seperti mereka lebih suka sikap percaya diri daripada sekadar rendah hati. Apalagi… rendah diri.”Aku menelan ludah.“Apa mereka… ti
“Kerja bagus hari ini,” ucap Max singkat ketika mobil berhenti di depan rumahku.Aku tertegun. Itu pertama kalinya dia mengatakan hal seperti itu dengan wajah cerah. Tidak datar seperti biasa.“Terima kasih,” jawabku tersipu.Max mengangguk lalu meraih mantel dan menutupi tubuhku. "di luar gerimis," katanya.Aku terhenyak. Tak bisa memberi penolakan setelah dia memujiku. Sopir membuka pintu. Aku turun perlahan. Max juga keluar sebentar, mengamatiku berjalan pergi dan menoleh berkali-kali padanya. Entah apa yang ingin kupastikan.Untungnya di segera masuk kembali ke mobil dan dibawa pergi. Meninggalkan aku dalam sunyi yang aneh di tengah halaman yang mulai basah oleh rintik hujan.“Sejak kapan kau pulang diantar pria seperti itu?”Aku terlonjak kaget dan menoleh cepat.“Astaga, Sean! Kau bisa membuatku jantungan,” keluhku mengelus dada.Sean tidak tersenyum. Tatapannya serius mengamatiku dari ujung kepala sampai kaki.“Siapa dia?”“Bosku.” Jawabanku cepat sambil berjalan ke teras.Sea
"Kau sungguh mau pergi?" tanya Sam mendekat. "Dengannya?" Aku menghela napas panjang lalu mengangguk keras. "Masih ada tugas yang harus kuselesaikan." "Audrey—" "Sudah kubilang," selaku cepat meski dengan suara bergetar. "Aku akan baik-baik saja." Sam tetap menatapku dengan ekspresi keheranan. "Kumohon, kali ini percaya padaku. Aku sedang memperjuangkan semuanya." "Sebentar lagi hujan, masuk." Suara Max ikut memperingatkan kami untuk mengakhiri pertemuan itu. "Aku pergi dulu... Sam," bisikku lalu berbalik darinya. Saat masuk ke dalam mobil, aku sempat melihat Sam mengepalkan tangan. Wajahnya keras. Seolah menahan sesuatu. Namun situasi memaksanya diam. Beberapa orang mulai keluar dari gedung dan menghampirinya. Pintu mobil tertutup. Suara dari luar langsung teredam. Mobil melaju perlahan ke jalanan. Sunyi. Max menyandarkan punggungnya. Lalu, tanpa menoleh, dia berkata pelan, “Keputusan yang bagus.” Aku sedikit terkejut. Menoleh padanya. “Maksudmu?” “Kau t
Sam mendengus kecut. “Terburu-buru.”“Efisien,” balas Max.“Tergantung kalau kau tahu kapan harus berhenti.”“Dan kau tahu?”Sam tidak menjawab. Langsung mengangkat paddle. “Satu koma tujuh.”"Satu koma delapan."Masih tidak ada gerakan dari Sam.Beberapa orang mulai berbisik. Mengira ini sudah selesai.Aku melirik Sam. Dia masih diam. Tapi rahangnya sedikit mengeras."Kenapa ketua komite lelang ikut berburu barang?" Sam tersenyum sinis."Karena ini barang bagus. Aku tertarik," jawab Max balas tersenyum tipis. Wajah Sam kembali mengeras. Suara panitia lelang terdengar. “Satu koma delapan ke—”Paddle terangkat. Tenang. Tepat waktu.“Dua miliar.”Suara Sam yang rendah cukup untuk menghentikan segalanya. Ruangan kembali hidup. Bisik-bisik muncul lagi. Sebuah angka besar yang cukup untuk mengatakan bahwa dia belum selesai.Aku menelan ludah. Ini sudah mulai sedikit gila. Aku tahu benda itu karya seni berharga. Tapi menawarnya dengan harga di luar nalar, itu sungguh tak masuk akal. Seben
“Apa yang kau lakukan?” tanyaku panik.Sam akhirnya berhenti. Berbalik menghadapku.Tatapannya langsung mengunci.“Aku yang seharusnya bertanya.”Aku menelan ludah.“Apa maksudmu?”“Apa yang kau lakukan bersamanya?” suaranya rendah, tapi jelas menahan sesuatu."Aku sedang belajar.""Belajar apa? Belajar jadi pendampingnya?" ketus Sam. “Ini pekerjaanku,” jawabku cepat. “Aku hanya—”“Audrey.”Dia memotong.Nada suaranya tidak keras.Tapi cukup untuk membuatku diam.“Aku tidak suka kau bekerja dengannya.”Aku tertegun.“Itu tidak ada hubungannya dengan—”“Ada,” potongnya lagi. “Kau mungkin tidak melihatnya. Tapi aku melihat.”Aku mengerutkan kening. “Melihat apa?”“Cara dia menatapmu.”Sunyi.Aku sedikit tersentak.“Itu hanya—”“Jangan bilang profesional.”Aku terdiam.Karena itu memang yang ingin kukatakan.“Dia tidak seperti itu,” lanjut Sam. “Aku tahu dia.”Aku menghela napas pelan.“Itu hanya candaan,” kataku akhirnya. “Soal perjodohan, soal pakaian… itu tidak serius.”Sam menatapku
Aku menoleh menatap Max dengan alis bertaut."Dalam pengawasanku sebagai atasanmu," lanjutnya lalu segera melepaskan genggaman dari pergelangan tanganku. Kembali bersikap biasa.Aku mengerutkan kening. “Termasuk urusan pribadiku?”Dia mengendikkan bahu. “Kalau itu berdampak pada pekerjaanmu.”Aku mengepalkan tangan. “Itu bukan hakmu.”"Kalau kau tidak suka dengan caraku dan setiap keputusanku…" katanya menggantung. Nada suaranya berubah sedikit lebih dingin. "Kau boleh pergi."Aku menatapnya lurus. Dia tahu aku sangat butuh pekerjaan ini. Dia tahu aku akan menurut demi bisa tetap di sini.“Kau pasti tahu jawabannya," ucapku getir. Max mengangguk kecil. “Kalau begitu, jangan setengah-setengah.”Aku tidak menjawab.Max menjauh sejenak, menarik jasnya lalu menatapku. “Kalau kau memilih tetap di sini,” katanya datar, “berarti kau harus belajar lebih cepat.”Aku mengangguk lemah. "Sudah kulakukan.”Max menghela napas. “Maksudku... bersiap dan ikut denganku, sekarang.”Mataku membulat. “K







