Share

TAS 13

last update publish date: 2025-09-23 16:23:07

“Apa maksudmu dihukum? Kau di mana sekarang? Kenapa kau masih di kantor?” nada suaranya tiba-tiba terdengar dingin.

Jantungku berdegup kencang. Tanpa pikir panjang, aku menekan tombol End Call. Layar mati. Napasku tersengal.

Dari mana dia tahu nomorku?

Suasana gudang tiba-tiba terasa semakin sunyi dan menakutkan.

Aku makin panik menggerakkan tanganku. Berkas-berkas berserakan di lantai, sebagian sudah kususun kembali, sebagian lagi masih menunggu nasib. Saat kembali melirik jam, hampir setengah sembilan malam. Gawat, aku harus segera pulang sebelum satpam juga curiga aku tidur di kantor.

Baru saja aku selesai meletakkan satu tumpukan dokumen ke rak atas, suara ketukan keras menghentak pintu.

Tok! Tok! Tok!

Aku hampir menjatuhkan map di tangan. “Siapa?” seruku lirih, jantungku seolah merangkak ke tenggorokan.

Pintu terbuka setengah berderit. Sosok tegap dengan kemeja lengan panjang yang sudah digulung dan kancing dilonggarkan, berdiri di ambang pintu.

Aku terkesiap. Tak menyangka Sam akan muncul di sana.

“Kau sedang apa di sini?” tanyanya tajam, seperti sedang menahan amarah atau kebingungan.

“Aku…” Aku berputar, menyembunyikan gugupku di balik senyum kaku. “Sedang mencari arsip yang diminta senior. Sekalian… membereskan, karena tempatnya berantakan.”

Sam mengangkat alis, tatapannya menyapu ruangan yang lebih mirip kapal pecah. “Membereskan jam segini?”

Aku menelan ludah. Kalau aku bicara jujur soal hukuman itu, aku bisa tamat. Mereka akan menjadikanku bulan-bulanan lebih parah.

“Pulanglah.” Hanya itu ucapannya, tegas dan tak memberi ruang tawar. “Tak ada anak magang yang boleh bekerja di luar jam kantor.”

Aku mengangguk cepat. Meraih tasku, melangkah terburu-buru melewati gunungan dokumen di lantai, lalu...

Brak!

Kakiku terjegal tumpukan map tebal. Tubuhku limbung. Tanganku spontan menarik rak di sisi kanan untuk bertumpu.

Rak itu ikut bergoyang keras. Beberapa bundel besar di atasnya oleng, lalu jatuh satu-satu.

“Aaakh!” jeritku memejamkan mata.

Tapi sebelum rasa sakit sempat menyergap, lengan kokoh melingkar di pundakku. Sam menarikku ke dalam pelukannya, tubuhnya menjadi tameng. Satu bundel sempat menghantam bahuku, sisanya jatuh berhamburan di sekeliling kami.

Hening.

"Kau terluka?" tanyanya panik.

Aku mendongak refleks. Wajahnya begitu dekat. Nafasnya hangat menyapu wajahku. Pandangannya menatap lurus, tajam, dengan garis rahang yang mengeras.

"Audrey?"

Aku mengerjap cepat dan menggeleng.

“Ceroboh. Kalau kau terluka, siapa yang harus bertanggung jawab?” gumamnya rendah, nyaris seperti omelan tertahan.

Aku tercekat. “M-maaf…”

Di momen itu, jarak kami yang hilang membuatku bisa merasakan denyut jantungnya yang berdebar sama sepertiku.

Pelukannya di tubuhku terlerai saat asistennya ikut masuk. "Ada apa pak?"

Sam melirikku dengan tatapan dingin dan berkata. "Suruh supir mengantarnya pulang, pastikan juga semua ruangan dikunci di luar jam kerja."

**

Keesokan harinya, seluruh peserta magang dan para senior pendamping di ruang meeting pusat untuk evaluasi. Suasana terasa tegang sejak awal. Sam duduk di ujung meja, jasnya rapi, tangan bersedekap di atas permukaan kayu.

Aku tak bisa berhenti meliriknya sejak masuk ruangan. Bayangan tubuh tegapnya melindungiku dari hujanan bundel map berkas masih terus menari-nari dalam otakku sejak semalam. Aromanya yang manly, serta dekapan erat yang meski hanya sekejap tapi seperti membungkus tubuhku hingga sekarang. Aku jadi menggigil mengingatnya. Semua itu sampai terbawa ke alam mimpi. Ya, lagi-lagi dia hadir tiap malam.

Aku jadi tak fokus pada pembahasan. Lirikanku baru terhenti saat bertemu dengan lirikannya juga. Aku lekas menunduk dan pura-pura mencatat. Dia mungkin masih marah soal semalam. Aku tak berani menanyakannya. Dia bosku sekarang.

Evaluasi berjalan tenang. Dia memberi catatan ringan soal laporan mingguan, hingga akhirnya matanya beralih padaku.

“Kemarin malam, ada yang masih berada di ruang arsip setelah jam kerja.” Suaranya berat, tenang, tapi setiap kata menggedor udara. “Audrey Adams, kau bisa jelaskan?”

Semua mata langsung mengarah padaku. “Saya… sedang membereskan arsip, Pak.”

Sam hanya mengangguk tipis, lalu menoleh pada Maya, senior yang selama ini mendampingiku. “Apa kau yang menugaskannya?”

Maya pucat dengan senyum kaku. “Ya, Pak. Audrey sendiri yang setuju, karena dia tidak menyelesaikan tugas tepat waktu. Jadi saya beri dia tugas tambahan."

Aku menggigit bibir. Itu bukan alasan yang kuberikan semalam. Aku bisa merasakan tatapan Sam yang tajam, menusuk, seolah bertanya, ‘Kau berani berbohong padaku?’

“Maaf, tidak akan kuulangi lagi,” ucapku lirih, memilih mengalah.

Hening menggantung. Detik itu, jantungku berpacu tak keruan.

“Kalau begitu,” suara Sam memecah keheningan, “tugas tambahan itu memang pantas untukmu.”

Aku tercekat. Maya tersenyum puas. Sementara peserta magang lain melirikku dengan ekspresi iba. Kesalahan kecil dalam proses magang bisa sangat berpengaruh pada penilaian.

Tapi sebelum aku sempat tenggelam dalam rasa malu itu, Sam kembali bicara. “Karena kau tidak berhasil menyesuaikan diri di divisi ini, bahkan mengacaukan ruang arsip... dengan berat hati, kau akan dipindahkan ke ruang arsip dinamis.”

Seketika, ruangan bergemuruh pelan. Beberapa senior saling berbisik, sementara para magang—terutama yang terang-terangan mengidolakan Sam—melirikku dengan campuran iri dan benci.

Aku tak terlalu paham. Aku hanya pasrah menerima hukumanku.

“Dan kau, Maya,” lanjutnya tajam, “pendamping yang baik seharusnya mengawasi dengan benar, bukan melempar tugas tambahan sembarangan. Anggap ini teguran keras.”

Wajah Maya langsung mengeras, senyumannya menghilang seketika. "Iya, Pak."

Aku menahan napas sampai pertemuan itu selesai. Keluar dari ruangan, tatapan-tatapan yang tadi iba kini berubah menusuk, lebih berbahaya daripada belas kasihan. Mereka melewatiku dengan bisik-bisik menggerahkan.

"Bagus, sekarang aku jadi musuh semua orang," gumamku sebelum melanjutkan langkah.

Saat membereskan barangku di meja, mereka mulai terang-terangan menyindir keras.

"Sepertinya dia sengaja berulah untuk menarik perhatian," ucap si rambut ombre menatapku kesal.

"Tapi trik murahannya berhasil, dia akan semakin dekat dengan Tuan Arsen." Yang lain menimpali dengan kekaguman bercampur tatapan jijik.

"Dia mungkin berpikir bisa menyaingi Cindy Arsen dan menggantikannya." Kudengar tawa mengejek meledak di belakang punggungku.

Aku memutar bola mata mendengar kalimat-kalimat itu dan pergi. Mereka tak tahu saja sedekat apa aku dan Sam sebelumnya, serta semenyebalkan apa seorang Cindy Arsen yang mempesona itu. Meski begitu, kupikir tak ada gunanya membela diri pada orang-orang yang sudah memutuskan tak suka padaku sejak awal.

Kulangkahkan kaki menyusuri lorong kantor dengan kardus di pelukan. Bayanganku terpantul di dinding kaca, membuatku sempat berpikir bagaimana satu malam bisa mengubah begitu banyak hal. Dari anak magang yang diabaikan jadi bahan gosip yang diincar.

Petunjuk ruangan yang diberikan sekretaris Sam membawaku ke lantai ini. Aku berhenti sejenak, menarik napas, lalu mataku tertuju ke ruangan besar berdinding kaca yang penuh deretan rak logam berisi dokumen rapi.

Lalu tak jauh di depannya, ruang kaca yang sama tapi lebih besar. Aku berjalan pelan mendekat dengan perasaan tak yakin. Tapi saat tiba di depan pintu, mataku bisa melihat jelas plat nama Sam Arsen – Chief Executive Officer, terpampang gagah di sana.

Mulutku terbuka penuh keterkejutan.

"Jadi ruang arsip dinamis yang dia maksud.... ruang sekretarisnya???"

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Novitha Bayodo
semakin menantang
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 292

    Irish menatapku dengan mata merah dan penuh emosi yang bercampur aduk. Marah. Kecewa. Sedih. Juga... terluka.“Kenapa kau tidak mau jujur selama ini dan membiarkan aku terus salah sangka?”Tangannya mencengkeram kedua lenganku lalu mengguncang tubuhku cukup keras.“Aku terus membencimu, Audrey!”Aku hanya bisa tertunduk diam. Bibirku bergetar pelan saat berusaha menahan air mata yang mulai memenuhi pelupuk mata.Apa yang harus kukatakan sekarang?Bahwa aku takut?Bahwa aku terlalu malu dengan kenyataan hidupku sendiri?Atau bahwa aku bahkan tak tahu harus mulai menjelaskan dari mana?Irish perlahan melepaskan pegangannya dengan lemah. Dia mundur setengah langkah sambil menutup wajahnya sesaat. Isak kecil terdengar dari bibirnya.“Kupikir kau bercanda soal rasa sukamu pada paman,” ucapnya lirih dengan suara tercekat. “Kupikir itu cuma kekaguman remaja sepertiku... tapi ternyata...”Aku langsung mengangkat wajah dan menatapnya penuh kebingungan.“Dari mana kau tahu soal aku dan paman?”

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 291

    Pesan terakhir Max tak berhenti berputar dalam kepalaku.Sepanjang jalan aku terus memikirkannya. Aku tak bisa mengulur waktu lebih lama lagi. Aku harus menyelesaikan semuanya sebelum kondisiku menarik perhatian semua orang. Aku membuka layar kamera, menatap wajahku dan langsung meringis. "Astaga... mukaku terlihat seperti donat."Berat badanku entah naik berapa kilo sekarang. Aku mungkin tak menyadarinya jika bukan karena teguran Max."Mungkin dia benar, aku harus membatasi pergaulan sekarang." Aku melirik dua benda yang kuletakkan di kursi sebelahku, lalu bergumam pelan, "sebaiknya kutitipkan saja." Sopir melirikku dari spion sebelum mobil berhenti. "Perlu kutemani, Nona?"“Tidak perlu,” kataku pada sopir sebelum membuka pintu mobil. “Tunggu di sini saja. Aku tidak akan lama.”“Baik, Nona.”Aku menghembuskan napas keras kemudian melangkah masuk ke area kampus yang masih sangat ramai. Acara wisuda rupanya baru saja selesai. Di mana-mana orang sibuk tertawa, berfoto dan membawa bi

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 290

    Seluruh tubuhku membeku di tempat karena terkejut.Wajahku langsung memanas. "K—kau," ibu sampai kehilangan kata melihat kejadian tak terduga itu.Sam mundur perlahan tanpa canggung. “Selamat malam, Audrey.”Aku mengangguk sekali, meski jantungku rasanya hampir meloncat keluar. Lalu dia pergi begitu saja. Meninggalkanku berdiri kaku di depan rumah dengan wajah panas merona dan ibu yang masih menatapku tidak percaya."Apa dia sudah gila? Bagaimana kalau ada tetangga yang melihat?" Ibu langsung keluar dan menarikku masuk ke dalam rumah. Pintu rumah tertutup keras. Namun aku masih berdiri mematung di depan ibu, seolah tubuhku tertinggal beberapa menit di belakang bersama kecupan hangat di keningku tadi.Ya Tuhan...Dia sungguh berani melakukannya di depan ibu.Aku tanpa sadar mengangkat tangan menyentuh kening sendiri. Masih terasa hangat. Dan entah kenapa, semakin kuingat ekspresi tenang Sam setelah melakukannya, semakin sulit menahan senyum yang terus naik sendiri.“Audrey! Berhenti

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 289

    Sam tidak menjawabku.Tatapannya justru tertuju pada rumahku yang gelap dengan rahang menegang seolah sedang memikirkan suatu keputusan yang sudah bulat di kepalanya.“Jangan berpikir untuk masuk! Pergi sebelum ibu melihat.” Aku berusaha menahannya dengan tubuhku. “Sudah kubilang, aku akan mengantarmu sampai depan pintu.”“Jangan bercanda!”“Aku tidak berminat bercanda malam ini.”Aku mendesis frustrasi. “Kumohon, pulanglah...”Sam justru melangkah lebih dekat. Sebelum sempat menghindar, jemarinya sudah lebih dulu menggenggam tanganku erat.Tangan hangat itu. Genggamannya yang kuat...Aku sempat terpaku sebelum berakhir jadi panik. “Sam! Ini tidak lucu.”Sam tidak bicara apapun lagi. Dia malah menarikku pelan menuju rumah. Aku buru-buru menahan langkah sambil berusaha melepaskan tangan.“Lepaskan! Kau benar-benar mau membuat keadaan makin buruk?”Dia masih tak bereaksi. Aku pun terus terseret bersamanya hingga kami hampir mencapai pintu.“Kau pikir menemui ibuku tengah malam begini a

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 288

    "Ayah?" Sean menatap bingung pada Sam. Sam melirik sekilas padaku yang duduk di kursi penumpang dengan wajah pucat dan tidak nyaman, lalu kembali menatap putranya.“Sean.”Sean menghela napas kecil dan menurunkan kedua tangannya dari bahuku. "Cepat turun." Kali ini Sam beralih memerintahku. Aku dengan cepat keluar dari mobil. Berdiri di belakangnya. "Ayah, ada apa?" Nada suara Sean masih terdengar hormat meski sedikit berat."Ayah ada urusan dengan Audrey."Sean langsung berkata dengan nada keberatan, “Kakek dan nenek yang menyuruhku mengantarnya pulang.”“Sekarang, Ayah yang ambil alih,” balas Sam singkat.Sean terdiam.Aku spontan memegang lengan Sam pelan. Jemariku mencengkeram kemeja pria itu dengan gugup sebelum berbisik lirih, “Sean sepertinya mabuk.”Sam langsung menoleh singkat. Tatapannya berubah lebih serius. Tanpa banyak bicara, dia mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang.Beberapa menit kemudian, sopir pribadi Sam turun dari mobil dengan tergesa lalu menghampiri ka

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 287

    Aku bahkan tidak sempat menyembunyikan keterkejutanku sendiri.“Anda bercanda?” tanyaku spontan, sedikit terdengar tidak sopan karena terlalu terkejut. “Hal seperti itu hanya bisa dilakukan oleh ahli. Sementara aku...”“Dari banyak ahli, hanya kau yang paling mengerti makna semua karya itu,” jelas Nyonya Miranda pelan, tapi penuh keyakinan.Aku langsung terdiam.“Tak ada yang pernah menyarankan pameran dan lelang hingga patung yang tak berharga itu bisa terjual mahal. Kau yang membuat semuanya terjadi.”Aku membuka mulut, ingin menyangkal lagi, tapi Tuan Henry ikut menambahkan,“Kau bisa melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda.”Pujian itu justru membuatku semakin tidak nyaman.Aku refleks menoleh ke belakang, mencari satu orang yang seharusnya ada di rumah ini.Sam.Namun pria itu benar-benar menghilang sepenuhnya setelah perdebatan kami tadi. Tidak ada langkah kaki. Tidak ada suara. Tidak ada tanda dia masih ada di sekitar sini.Dadaku terasa makin sesak.Apa dia tahu soal ini?B

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 179

    Desahan napas kasar terdengar keras di telingaku.“Kubilang jangan keras kepala," tekan Sam. Dia langsung menolak. "Kesehatanmu lebih penting. Aku juga tidak ke mana-mana. Tidurlah.”Panggilan itu berakhir dengan ucapan selamat malam yang terasa menggantung.Aku menatap ponselku lama setelah layar

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 178

    Aku terpaku lama. Otakku seperti macet, berusaha mencerna pertanyaan yang Cindy lontarkan barusan. Udara di ruangan itu terasa menipis, menekan dadaku tanpa ampun. "Audrey! Katakan siapa ayah janin itu?!" Cindy kembali menggoyang bahuku, kali ini lebih keras. Aku tercekat. "A-apa maksudmu?" "Cuk

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 177

    Kakiku refleks mundur selangkah. Bukan karena aku tak mengenalnya. Tapi justru karena aku sangat mengenalnya dengan baik. Pintu terbuka dari dalam. Tanpa berpikir panjang, aku langsung masuk. Sabuk pengaman terpasang, pintu menutup dan mobil melaju seolah semuanya sudah diatur sejak awal. Dia

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 176

    Sean masuk terlambat. Aku terkejut. Kupikir dia akan beristirahat sampai lukanya pulih. Tapi melihat Sam yang sama sekali tak bereaksi, aku tahu, mereka pasti sudah berdebat sebelumnya. Sepanjang rapat, Sean terlihat keras kepala. Tak lagi mengangguk patuh. Seolah sedang menunjukkan sesuatu. Ent

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status