Share

TAS 11

last update publish date: 2025-09-23 16:20:56

Aku mengerjap beberapa kali.

“Paman?” suaraku nyaris tak terdengar saat mataku membelalak. Itu benar-benar dia. Bukan mimpi atau halusinasiku.

Aku sangat terkejut melihat kehadiran Sam di sana. Rasanya seperti jantungku berhenti berdetak sesaat. Bagaimana mungkin? Orang yang selama ini menghilang dari hidupku, yang tak pernah memberi kabar lagi, tiba-tiba berdiri hanya beberapa langkah di depanku.

Sama seperti diriku, Sam juga tampak tak kalah heran. Tatapannya menyapu wajahku dengan sorot menyelidik, seolah menimbang apakah aku nyata atau hanya bayangan masa lalu yang tiba-tiba muncul.

Dosenku tampak kebingungan melihat interaksi aneh kami. Dia akhirnya angkat bicara, “Audrey salah satu mahasiswi arsitektur di kelas saya, Tuan Arsen.”

Seketika wajah Sam berubah. Ia memandangku sekali lagi, kali ini dengan keterkejutan yang lebih jelas. “Kau… ambil jurusan arsitektur?” tanyanya, nadanya setengah tidak percaya.

Aku mengangguk singkat.

"Aku tak tahu kalian saling kenal," ucap dosenku disertai cengiran lebar. Tak menyangka mahasiswi yang selalu dia persulit memiliki koneksi dengan orang penting yang dihormatinya.

"Kami sudah kenal lama. Dia... teman putraku." Sam Arsen menjawab ragu. Tapi cukup jelas bagiku bahwa untuknya, aku bukan siapa-siapa. Hanya teman putranya. Bukan seseorang yang harus menerima ucapan perpisahan yang layak. Kebodohankulah yang membuatku menunggu hingga tiga tahun.

Rasanya aku tak sanggup lama-lama berada di antara dua pria ini. Suasana mendadak terlalu sempit, terlalu menekan. “Maaf, Pak… saya rasa sebaiknya saya menemui Anda di kampus saja,” ucapku buru-buru, sebelum dosenku sempat merespons.

Aku segera melangkah pergi, menuruni tangga dengan tergesa. Tidak memberi siapa pun kesempatan untuk menghentikanku. Namun semakin cepat langkahku, semakin berisik ingatan masa lalu menabrak pikiranku.

Pertemuan terakhir kami kembali berkelebat. Saat dia pergi begitu saja, tanpa pamit, tanpa penjelasan. Menghilang seolah aku ini tak pernah berarti apa-apa. Padahal saat itu, aku yang paling mengkhawatirkannya.

Kupikir pertemuan setelah perpisahan yang begitu lama akan mengobati rinduku. Nyatanya, justru membuat dadaku makin sesak. Aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia berdiri di sana begitu santai, seakan tak pernah meninggalkan luka.

“Audrey Adams, tunggu!” Suara Pak Paul—dosenku—menggema di tangga.

Langkahku terhenti. Aku berbalik, mendapati pria berkacamata itu mendekat. Dia menatapku dengan senyum yang sulit kutebak. “Jangan pulang dulu. Kau sudah jauh-jauh ke sini. Kita bisa cari tempat untuk membahas laporanmu.”

Aku mengerjap, nyaris tak percaya. Dosen pelit itu menawarkan waktu untuk memeriksa tugas yang berkali-kali dia tolak?

“Harusnya kau bilang sejak awal kalau kau kenal keluarga Arsen,” gumamnya santai.

Mataku refleks naik ke puncak tangga. Sam berdiri di sana. Diam. Mengamati.

“Ikut kami makan siang,” ujar Pak Paul merebut laporan dari tanganku lalu menarik lenganku tanpa banyak basa-basi.

Dua puluh menit kemudian, aku sudah duduk kaku di sebuah restoran elegan. Suara denting gelas bercampur obrolan para ahli arsitektur tentang rencana renovasi museum tua tadi. Tanganku bergerak seperti robot, menyuap makanan dengan teratur tanpa menikmatinya.

Setiap kali aku ingin mengangkat kepala, aku bisa merasakan sorot mata Sam yang diam-diam mengawasi. Hangat, namun penuh misteri. Sesekali, saat aku tanpa sengaja menggeser gelas atau menjatuhkan sendok, Sam akan lebih dulu bergerak. Jemarinya yang panjang meraih sendok itu, meletakkannya kembali di sisiku dengan senyum samar.

“Masih sama, selalu ceroboh,” ucapnya pelan, hampir seperti gumaman yang hanya bisa kudengar.

Aku mengerjap, pura-pura tak paham. Kupilih menyeruput jusku. Tidak ingin ikut larut dalam caranya menatapku seakan tiga tahun yang hilang itu tidak pernah ada.

Percakapan yang menjemukan itu berakhir dengan satu kejutan lain, Pak Paul menandatangani laporanku, lalu dengan enteng membubuhkan nilai A+ di sudutnya.

“Anda belum memeriksa bagian revisinya, Pak,” protesku pelan. Begadang berhari-hari rasanya jadi sia-sia.

Dia hanya tersenyum tipis. “Aku yakin kau mengerjakannya dengan baik,” jawabnya datar, sebelum melirik Sam. “Dia ini pintar, masuk dengan beasiswa.”

Kata-kata itu seperti sengaja meluncur untuk memancing reaksi seseorang di meja itu.

"Dia memang selalu pintar." Suara Sam menanggapinya dengan datar. Karena matanya belum lepas dariku.

Percakapan berakhir. Dosenku pamit lebih dulu karena ada jadwal kelas. "Audrey, kau mau ikut pulang?"

"Aku yang akan mengantarnya." Sam menjawab cepat. Aku belum sempat menolak saat dosenku tersenyum senang seolah baru saja terlepas dari sebuah beban.

"Oh, tentu. Terima kasih banyak, Tuan Arsen. Senang sekali Anda bisa meluangkan waktu." Pak Paul menyalami Sam dengan suka cita.

Aku berdecak melihatnya melesat pergi begitu saja. Tinggallah aku dengan Sam di meja yang kini terasa terlalu lengang.

“Jadi… akhirnya kau memilih arsitektur?” tanyanya tiba-tiba. Tenang, tapi matanya tidak. Dua bola mata hazel itu menelusuri wajahku dengan sabar, seperti ingin menemukan sesuatu yang kututupi.

Aku mengangguk singkat dan menjawab asal, “Ya. Kebetulan jurusan ini menyediakan kuota untuk penerima beasiswa.”

Sam menyandarkan punggung, menyilangkan tangan di dada. “Tadinya aku khawatir kau tidak lanjut. Tapi sepertinya aku terlalu meremehkanmu."

Khawatir? Yang benar saja.

Urat di pelipisku berdenyut. Aku ingin menjawab tajam, tapi hanya bisa mengeratkan jemari di pangkuanku.

Dia berdiri, meraih kunci mobil dari seorang stafnya. “Ayo. Aku antar pulang. Kau bawa banyak berkas dan aku tidak yakin kau akan selamat dari hujan sore ini.”

Aku lekas mendongak.

"Tidak perlu repot-repot, Tuan Arsen. Aku bisa pulang sendiri." Suaraku terdengar lebih tegas dari yang kuharapkan, seolah ada dinding yang sengaja kubangun di antara kami.

Wajah Sam seketika tampak terkejut. Alisnya sedikit terangkat, menatapku, mencari petunjuk. "Kenapa memanggilku seperti itu? Kau masih marah?"

Aku menghempaskan napas dan buru-buru membuang pandangan. Jadi dia tahu aku marah? Bahkan setelah tiga tahun berlalu?

"Maaf, waktu itu aku tidak bisa menunggumu pulang. Aku juga tak tahu bagaimana caranya menghubungimu."

Senyum kecut tersungging di bibirku. Dia bisa saja menanyakan nomorku pada Sean, pikirku kesal. Tapi detik berikutnya, aku tersadar. Kami merahasiakan semuanya dari Sean, juga Irish. Menelpon ke rumahku? Itu akan terlalu mencolok. Jadi mungkin benar, dia tak punya cara menghubungiku tanpa menimbulkan kecurigaan.

Astaga. Tiba-tiba rasa menyesal menyergapku karena telah berburuk sangka selama ini. "Aku..."

"Tapi waktu itu aku menitipkan pesan pada perawat. Kubilang kau boleh menjengukku di rumah jika sempat."

Aku tertegun. Tak ada pesan itu. Aku bahkan tahu dia dipulangkan setelah bertanya pada perawat lain.

"Aku tidak menerima pesan Paman."

Raut kelegaan perlahan muncul di wajah Sam. Senyum tipisnya kali ini lebih tulus, matanya pun sedikit melunak. "Kupikir kau tidak datang karena marah."

Aku menggeleng. Jadi, semua ini hanya salah paham?

Perlahan, senyum lega ikut tersungging di bibirku. Dan entah selega apa aku saat ini, karena pipiku terasa kembali memanas. Aku mungkin tidak akan bisa menahan luapan emosi yang terbendung tiga tahun jika ponselku tidak mendadak berdering keras. Getarannya membuatku tersentak. Nama yang muncul di layar membuatku was-was.

Ketua tingkat.

Aku ragu sejenak sebelum mengangkatnya. Suara di seberang pun meluncur cepat, tegas, tanpa jeda, "Audrey! Formulir magang yang harusnya kau setorkan siang ini belum aku terima! Pihak jurusan sudah menunggu. Kalau hari ini lewat, kau harus menunggu untuk tahun depan."

Aku spontan bangkit dari duduk. "Tunggu. Aku ke sana sekarang."

"Ada apa?" Sam menghadang langkahku. Mataku terarah padanya yang kini memandangku penuh tanda tanya.

“Aku harus kembali ke kampus!” seruku terburu-buru sambil meraup semua berkas dari atas meja.

Sam mengerutkan dahi, memandangku heran. “Kenapa mendadak sekali?”

Aku menarik napas dalam, berusaha menyusun kata-kata di tengah detak jantung yang kacau. “Formulir magang. Aku… aku belum mengisinya. Hari ini batas terakhir penyerahan. Kalau terlambat, aku gagal ikut tahun ini.”

Dahi Sam berkerut. “Magang?" Untuk sesaat, dia hanya diam, memperhatikan wajahku yang mungkin tampak kusut. Lalu, senyum kecil muncul di sudut bibirnya. “Kenapa tidak magang di perusahaan kami saja?”

Aku mendongak spontan. “Hah?”

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 247

    “Audrey…”Nada panggilan khas Max terdengar rendah, namun cukup untuk membuatku menegang.Dia melangkah mendekat hingga jarak di antara kami hampir hilang. Kepalanya menunduk, mendekat ke wajahku. Napasku tercekat, tertahan tanpa sadar.“Mungkin,” ujarnya pelan, “kau mau sedikit berbagi cerita denganku? Soal rencana pendekatanmu… atau prioritasmu saat di lokasi nanti?”Aku tahu dia sedang memancing reaksiku dan aku tidak siap.Aku tak tahu semerah apa wajahku sekarang, tapi dari sorot matanya, jelas aku gagal menyembunyikan perubahan ekspresiku."Kau terlihat gugup," gumamnya dengan sudut bibir terangkat naik.Mataku mengerjap cepat. Tak bisa bicara.Max menahan tawa. Bahunya sedikit bergerak, lalu dia menghela napas pendek, seolah memutuskan berhenti menggodaku.“Oke. Ke depannya,” lanjutnya, suaranya kembali tenang, “jangan selalu merendah. Orang-orang seperti mereka lebih suka sikap percaya diri daripada sekadar rendah hati. Apalagi… rendah diri.”Aku menelan ludah.“Apa mereka… ti

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 246

    “Kerja bagus hari ini,” ucap Max singkat ketika mobil berhenti di depan rumahku.Aku tertegun. Itu pertama kalinya dia mengatakan hal seperti itu dengan wajah cerah. Tidak datar seperti biasa.“Terima kasih,” jawabku tersipu.Max mengangguk lalu meraih mantel dan menutupi tubuhku. "di luar gerimis," katanya.Aku terhenyak. Tak bisa memberi penolakan setelah dia memujiku. Sopir membuka pintu. Aku turun perlahan. Max juga keluar sebentar, mengamatiku berjalan pergi dan menoleh berkali-kali padanya. Entah apa yang ingin kupastikan.Untungnya di segera masuk kembali ke mobil dan dibawa pergi. Meninggalkan aku dalam sunyi yang aneh di tengah halaman yang mulai basah oleh rintik hujan.“Sejak kapan kau pulang diantar pria seperti itu?”Aku terlonjak kaget dan menoleh cepat.“Astaga, Sean! Kau bisa membuatku jantungan,” keluhku mengelus dada.Sean tidak tersenyum. Tatapannya serius mengamatiku dari ujung kepala sampai kaki.“Siapa dia?”“Bosku.” Jawabanku cepat sambil berjalan ke teras.Sea

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 245

    "Kau sungguh mau pergi?" tanya Sam mendekat. "Dengannya?" Aku menghela napas panjang lalu mengangguk keras. "Masih ada tugas yang harus kuselesaikan." "Audrey—" "Sudah kubilang," selaku cepat meski dengan suara bergetar. "Aku akan baik-baik saja." Sam tetap menatapku dengan ekspresi keheranan. "Kumohon, kali ini percaya padaku. Aku sedang memperjuangkan semuanya." "Sebentar lagi hujan, masuk." Suara Max ikut memperingatkan kami untuk mengakhiri pertemuan itu. "Aku pergi dulu... Sam," bisikku lalu berbalik darinya. Saat masuk ke dalam mobil, aku sempat melihat Sam mengepalkan tangan. Wajahnya keras. Seolah menahan sesuatu. Namun situasi memaksanya diam. Beberapa orang mulai keluar dari gedung dan menghampirinya. Pintu mobil tertutup. Suara dari luar langsung teredam. Mobil melaju perlahan ke jalanan. Sunyi. Max menyandarkan punggungnya. Lalu, tanpa menoleh, dia berkata pelan, “Keputusan yang bagus.” Aku sedikit terkejut. Menoleh padanya. “Maksudmu?” “Kau t

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 244

    Sam mendengus kecut. “Terburu-buru.”“Efisien,” balas Max.“Tergantung kalau kau tahu kapan harus berhenti.”“Dan kau tahu?”Sam tidak menjawab. Langsung mengangkat paddle. “Satu koma tujuh.”"Satu koma delapan."Masih tidak ada gerakan dari Sam.Beberapa orang mulai berbisik. Mengira ini sudah selesai.Aku melirik Sam. Dia masih diam. Tapi rahangnya sedikit mengeras."Kenapa ketua komite lelang ikut berburu barang?" Sam tersenyum sinis."Karena ini barang bagus. Aku tertarik," jawab Max balas tersenyum tipis. Wajah Sam kembali mengeras. Suara panitia lelang terdengar. “Satu koma delapan ke—”Paddle terangkat. Tenang. Tepat waktu.“Dua miliar.”Suara Sam yang rendah cukup untuk menghentikan segalanya. Ruangan kembali hidup. Bisik-bisik muncul lagi. Sebuah angka besar yang cukup untuk mengatakan bahwa dia belum selesai.Aku menelan ludah. Ini sudah mulai sedikit gila. Aku tahu benda itu karya seni berharga. Tapi menawarnya dengan harga di luar nalar, itu sungguh tak masuk akal. Seben

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 243

    “Apa yang kau lakukan?” tanyaku panik.Sam akhirnya berhenti. Berbalik menghadapku.Tatapannya langsung mengunci.“Aku yang seharusnya bertanya.”Aku menelan ludah.“Apa maksudmu?”“Apa yang kau lakukan bersamanya?” suaranya rendah, tapi jelas menahan sesuatu."Aku sedang belajar.""Belajar apa? Belajar jadi pendampingnya?" ketus Sam. “Ini pekerjaanku,” jawabku cepat. “Aku hanya—”“Audrey.”Dia memotong.Nada suaranya tidak keras.Tapi cukup untuk membuatku diam.“Aku tidak suka kau bekerja dengannya.”Aku tertegun.“Itu tidak ada hubungannya dengan—”“Ada,” potongnya lagi. “Kau mungkin tidak melihatnya. Tapi aku melihat.”Aku mengerutkan kening. “Melihat apa?”“Cara dia menatapmu.”Sunyi.Aku sedikit tersentak.“Itu hanya—”“Jangan bilang profesional.”Aku terdiam.Karena itu memang yang ingin kukatakan.“Dia tidak seperti itu,” lanjut Sam. “Aku tahu dia.”Aku menghela napas pelan.“Itu hanya candaan,” kataku akhirnya. “Soal perjodohan, soal pakaian… itu tidak serius.”Sam menatapku

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 242

    Aku menoleh menatap Max dengan alis bertaut."Dalam pengawasanku sebagai atasanmu," lanjutnya lalu segera melepaskan genggaman dari pergelangan tanganku. Kembali bersikap biasa.Aku mengerutkan kening. “Termasuk urusan pribadiku?”Dia mengendikkan bahu. “Kalau itu berdampak pada pekerjaanmu.”Aku mengepalkan tangan. “Itu bukan hakmu.”"Kalau kau tidak suka dengan caraku dan setiap keputusanku…" katanya menggantung. Nada suaranya berubah sedikit lebih dingin. "Kau boleh pergi."Aku menatapnya lurus. Dia tahu aku sangat butuh pekerjaan ini. Dia tahu aku akan menurut demi bisa tetap di sini.“Kau pasti tahu jawabannya," ucapku getir. Max mengangguk kecil. “Kalau begitu, jangan setengah-setengah.”Aku tidak menjawab.Max menjauh sejenak, menarik jasnya lalu menatapku. “Kalau kau memilih tetap di sini,” katanya datar, “berarti kau harus belajar lebih cepat.”Aku mengangguk lemah. "Sudah kulakukan.”Max menghela napas. “Maksudku... bersiap dan ikut denganku, sekarang.”Mataku membulat. “K

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status