LOGINAku tak bisa berhenti tersenyum sepanjang hari.
Kupikir dia akan menghukumku sungguhan kemarin, tapi ternyata tidak. Bukannya menjatuhkanku, Sam justru memindahkanku ke tempat yang lebih aman. Jauh dari lingkungan toxic. Aku merasa harus berterima kasih. Tidak secara terang-terangan, tentu saja. Itu akan terlalu mencolok. Maka aku menyiapkan sesuatu yang lebih sederhana. Sebuah kotak bekal kecil dengan menu buatan sendiri. Entah ide siapa yang menyusup di kepalaku tadi malam, tapi aku melakukannya juga. "Mana dokumen yang mau dibawa ke ruang CEO? Biar kubawa sekarang," ucapku pada Sarah, sekretaris Sam. "Ini, yang lain menyusul." Dia menyerahkan map, tak curiga sedikit pun. Aku masuk ke ruangan CEO dengan langkah hati-hati. Sam melirikku sekilas lalu lanjut membahas laporan bersama asistennya, jadi aku hanya meletakkan berkas di meja dan sekalian menyelipkan kotak bekal itu di sisi tumpukan dokumen. Setelahnya, aku kabur sebelum ada yang menyadari. Jantungku berdebar tak karuan, sementara senyum konyol nyaris tak bisa kutahan. "Semoga ini tidak memalukan." Siang harinya, telepon di meja Sarah berdering. “Audrey, bawa arsip ini ke meja CEO,” katanya santai. Aku langsung beranjak tanpa rasa curiga. Baru saat tanganku menyentuh gagang pintu ruangan Sam, aku ingat soal kotak bekal itu. "Oh tidak..." Aku ingin putar balik, tapi sudah terlambat. Sam menegakkan tubuhnya ketika melihatku muncul. “Ini berkas yang Anda minta, Pak,” kataku cepat, meletakkan map di meja, lalu segera membalikkan badan. “Audrey.” Aku memejamkan mata sesaat. Tamatlah aku. Pelan-pelan, aku menoleh lagi. “Ya, Pak?” “Kau sudah makan siang?” tanyanya. Aku menelan ludah. “Sebentar lagi.” Alisnya sedikit terangkat, seulas senyum nyaris tak tertahan di wajahnya. “Kenapa tidak makan bersamaku? Kebetulan… ada seseorang yang berbagi bekal denganku hari ini.” Seketika wajahku memanas. Rasanya ingin menghilang ke balik rak arsip. “Maaf, Pak… sepertinya tidak pantas kalau karyawan makan di ruangan CEO.” Aku mencoba tetap profesional. Sam menyandarkan tubuhnya, menatapku dengan senyum yang nyaris seperti ejekan lembut. Senyum yang membuatku terpaksa kembali ke mode asli. Aku menghempaskan napas. “Paman jangan salah paham, itu bukan sogokan. Aku cuma… mau berterima kasih.” Tawa kecilnya pun pecah. Terdengar ringan. “Berterima kasih? Untuk apa?” “Karena Paman sudah menyelamatkanku kemarin.” Dia menggeleng kecil. “Aku tidak menyelamatkanmu. Aku hanya membereskan masalah di kantorku. Itu tugasku.” “Tetap saja,” aku menggumam, “aku mau berterima kasih.” Keheningan singkat menyusul. Tiba-tiba saja suasana terasa canggung. Sampai akhirnya Sam berkata dengan suara yang kembali datar tapi tegas, “Baiklah. Selesaikan dulu pekerjaanmu. Jam tiga nanti ikut survei ke lokasi.” ** Udara di luar kota terasa lembab ketika kami tiba di lokasi renovasi gedung pemerintahan tua. Dinding-dindingnya retak, sebagian atap sudah ambruk, menyisakan aroma tanah basah bercampur debu. Sam melangkah lebih dulu, diikuti beberapa teknisi dan konsultan. Aku tertinggal sedikit di belakang, sibuk merapikan helm keselamatan yang sedikit longgar di kepala. “Tunggu.” Suara berat itu terdengar dari depanku. Sam menghampiri, tangan besarnya terangkat, memperbaiki posisi helmku dengan gerakan yang terlalu hati-hati untuk sekadar prosedur keselamatan. “Kalau ini lepas di tengah reruntuhan, repot urusannya,” katanya datar, namun sorot matanya menyapu wajahku sepersekian detik lebih lama dari seharusnya. Kami menelusuri tangga yang separuhnya sudah keropos. Tanganku sempat ragu meraih pegangan besi yang berkarat, tetapi Sam sudah lebih dulu menggenggam pergelangan tanganku, memandu langkahku perlahan. “Pelan-pelan. Kananmu masih kokoh, jangan injak bagian kiri,” ujarnya. Aku mengangguk, meski bagian dalam dada terasa sesak oleh sesuatu yang tak bisa kusebutkan. Mendampinginya terjun ke lokasi, jauh berbeda dengan mengantar berkas ke ruangannya. Di sini, kami punya lebih banyak interaksi dari sekedar saling lirik atau saling tatap. Tiba-tiba langit yang sejak tadi mendung, jadi pecah. Hujan turun deras, menampar lantai semen yang belum ditambal. Kami berlari mencari tempat berteduh di bawah sisa bangunan yang hanya memiliki setengah atap. Nafasku memburu dan sebelum aku sempat mengatur napas, Sam sudah melepas jasnya, menyampirkannya ke pundakku. “Jangan sampai masuk angin,” katanya sambil menepuk-nepuk ringan bahuku. Klise. Sangat klise. Tapi perlakuannya itu hampir membuatku meleleh. Kami berdiri berdampingan, mengamati hujan yang makin menggila. “Kau masih sering komunikasi dengan Sean?” tanyanya tiba-tiba, matanya tak lepas dari derasnya air di luar. “Kadang. Kenapa?” sahutku, mencoba santai. “Setidaknya, dia masih punya teman jika pulang ke sini.” Aku membalasnya dengan pertanyaan lain, kali ini dengan nada menggoda. “Dari mana paman dapat nomorku? Memintanya pada Sean?” Sam melirik sekilas, bibirnya menahan senyum samar. “Itu tercantum di biodata peserta magang, Audrey. Aku tidak perlu bantuan Sean untuk hal sesederhana itu.” Aku mendengus pelan, malu sendiri karena tak memikirkannya. Hujan tak kunjung reda, malah semakin deras menjelang malam. Kami akhirnya memutuskan kembali ke mobil. Jalanan pulang macet parah, sebuah truk tergelincir menutup jalur utama. Sam mengetuk setirnya pelan, lalu menoleh ke arahku. “Kita cari tempat istirahat dulu. Tidak bisa memaksakan perjalanan.” Aku mengangguk saja. Dia pasti lelah. Mobil berbelok ke sebuah penginapan kecil di dekat pom bensin. Dari luar tampak biasa saja, namun cukup hangat di tengah hujan yang menggila. Aku memeluk jasnya erat-erat, masih tercium samar aroma maskulin yang tadi menyelimuti bahuku. "Maaf, Tuan. Hanya tersisa satu kamar. Banyak orang yang singgah seperti anda." Ucapan kasir penginapan itu membuat kami saling menatap. Tapi kembali ke jalan atau mencari penginapan lain di tengah deras hujan juga bukan ide bagus. Malam ini, kami duduk saling membelakangi dalam sebuah kamar. Di atas tempat tidur. Dengan pikiran tak menentu. "Kau tidak kedinginan?" tanyanya tanpa menoleh. Aku spontan mendekap tubuhku yang masih terbalut pakaian basah. Jasnya tak berani kutanggalkan karena kemeja putih basah yang kukenakan jadi transparan. Ini mengingatkanku pada kejadian di kolam renang tiga tahun silam. Lalu sebuah pertanyaan aneh meluncur begitu saja dari mulutku. "Kenapa Paman menolongku hari itu, di kolam?" Aku merasakan kasur bergesek. Dia mungkin menoleh padaku, meski tak langsung menjawab. Seperti sibuk menimbang jawaban apa yang akan dia berikan. Aku meremas tepi jas saat dia akhirnya bicara. “Karena aku tidak suka melihatmu tenggelam, Audrey,” katanya pelan. “Bukan hanya di kolam waktu itu… tapi juga di tempat kerja, di lingkungan yang salah, di situasi yang tidak adil. Kalau aku bisa menarikmu keluar sebelum kau benar-benar tenggelam… aku akan melakukannya.” Aku menggigit bibir, terdiam. Kata-katanya dalam, menenangkan, tapi menyisakan sesuatu yang sulit kuartikan. Apa ini berarti, bukan hanya aku yang diam-diam selalu memperhatikan? Di tempat asing dengan suara hujan yang terus mengetuk jendela, aku sadar satu hal, aku sudah terlalu sering berdetak karena pria ini. Maka, saat ini juga kuputuskan untuk mengaku. "Aku... sebenarnya... sudah lama menyukai Paman," ucapku sambil memejamkan mata kuat-kuat. Menahan malu yang tak lagi punya tempat. Suara hujan mengisi kekosongan udara di antara kami. Dia tak bicara apapun hingga menit berikutnya. “Karena itu… kau menciumku di rumah sakit?” Mataku terbuka lebar. Jadi dia menyadarinya? Tapi bungkam selama tiga tahun? Kuberanikan diriku berbalik untuk bertanya kembali. Namun tubuhku langsung membeku saat menyadari, wajahnya tiba-tiba berada sangat dekat dariku. Terlalu dekat. Napasku tercekat. Sementara napasnya bisa kurasakan samar menyentuh kulitku. **“Audrey…”Nada panggilan khas Max terdengar rendah, namun cukup untuk membuatku menegang.Dia melangkah mendekat hingga jarak di antara kami hampir hilang. Kepalanya menunduk, mendekat ke wajahku. Napasku tercekat, tertahan tanpa sadar.“Mungkin,” ujarnya pelan, “kau mau sedikit berbagi cerita denganku? Soal rencana pendekatanmu… atau prioritasmu saat di lokasi nanti?”Aku tahu dia sedang memancing reaksiku dan aku tidak siap.Aku tak tahu semerah apa wajahku sekarang, tapi dari sorot matanya, jelas aku gagal menyembunyikan perubahan ekspresiku."Kau terlihat gugup," gumamnya dengan sudut bibir terangkat naik.Mataku mengerjap cepat. Tak bisa bicara.Max menahan tawa. Bahunya sedikit bergerak, lalu dia menghela napas pendek, seolah memutuskan berhenti menggodaku.“Oke. Ke depannya,” lanjutnya, suaranya kembali tenang, “jangan selalu merendah. Orang-orang seperti mereka lebih suka sikap percaya diri daripada sekadar rendah hati. Apalagi… rendah diri.”Aku menelan ludah.“Apa mereka… ti
“Kerja bagus hari ini,” ucap Max singkat ketika mobil berhenti di depan rumahku.Aku tertegun. Itu pertama kalinya dia mengatakan hal seperti itu dengan wajah cerah. Tidak datar seperti biasa.“Terima kasih,” jawabku tersipu.Max mengangguk lalu meraih mantel dan menutupi tubuhku. "di luar gerimis," katanya.Aku terhenyak. Tak bisa memberi penolakan setelah dia memujiku. Sopir membuka pintu. Aku turun perlahan. Max juga keluar sebentar, mengamatiku berjalan pergi dan menoleh berkali-kali padanya. Entah apa yang ingin kupastikan.Untungnya di segera masuk kembali ke mobil dan dibawa pergi. Meninggalkan aku dalam sunyi yang aneh di tengah halaman yang mulai basah oleh rintik hujan.“Sejak kapan kau pulang diantar pria seperti itu?”Aku terlonjak kaget dan menoleh cepat.“Astaga, Sean! Kau bisa membuatku jantungan,” keluhku mengelus dada.Sean tidak tersenyum. Tatapannya serius mengamatiku dari ujung kepala sampai kaki.“Siapa dia?”“Bosku.” Jawabanku cepat sambil berjalan ke teras.Sea
"Kau sungguh mau pergi?" tanya Sam mendekat. "Dengannya?" Aku menghela napas panjang lalu mengangguk keras. "Masih ada tugas yang harus kuselesaikan." "Audrey—" "Sudah kubilang," selaku cepat meski dengan suara bergetar. "Aku akan baik-baik saja." Sam tetap menatapku dengan ekspresi keheranan. "Kumohon, kali ini percaya padaku. Aku sedang memperjuangkan semuanya." "Sebentar lagi hujan, masuk." Suara Max ikut memperingatkan kami untuk mengakhiri pertemuan itu. "Aku pergi dulu... Sam," bisikku lalu berbalik darinya. Saat masuk ke dalam mobil, aku sempat melihat Sam mengepalkan tangan. Wajahnya keras. Seolah menahan sesuatu. Namun situasi memaksanya diam. Beberapa orang mulai keluar dari gedung dan menghampirinya. Pintu mobil tertutup. Suara dari luar langsung teredam. Mobil melaju perlahan ke jalanan. Sunyi. Max menyandarkan punggungnya. Lalu, tanpa menoleh, dia berkata pelan, “Keputusan yang bagus.” Aku sedikit terkejut. Menoleh padanya. “Maksudmu?” “Kau t
Sam mendengus kecut. “Terburu-buru.”“Efisien,” balas Max.“Tergantung kalau kau tahu kapan harus berhenti.”“Dan kau tahu?”Sam tidak menjawab. Langsung mengangkat paddle. “Satu koma tujuh.”"Satu koma delapan."Masih tidak ada gerakan dari Sam.Beberapa orang mulai berbisik. Mengira ini sudah selesai.Aku melirik Sam. Dia masih diam. Tapi rahangnya sedikit mengeras."Kenapa ketua komite lelang ikut berburu barang?" Sam tersenyum sinis."Karena ini barang bagus. Aku tertarik," jawab Max balas tersenyum tipis. Wajah Sam kembali mengeras. Suara panitia lelang terdengar. “Satu koma delapan ke—”Paddle terangkat. Tenang. Tepat waktu.“Dua miliar.”Suara Sam yang rendah cukup untuk menghentikan segalanya. Ruangan kembali hidup. Bisik-bisik muncul lagi. Sebuah angka besar yang cukup untuk mengatakan bahwa dia belum selesai.Aku menelan ludah. Ini sudah mulai sedikit gila. Aku tahu benda itu karya seni berharga. Tapi menawarnya dengan harga di luar nalar, itu sungguh tak masuk akal. Seben
“Apa yang kau lakukan?” tanyaku panik.Sam akhirnya berhenti. Berbalik menghadapku.Tatapannya langsung mengunci.“Aku yang seharusnya bertanya.”Aku menelan ludah.“Apa maksudmu?”“Apa yang kau lakukan bersamanya?” suaranya rendah, tapi jelas menahan sesuatu."Aku sedang belajar.""Belajar apa? Belajar jadi pendampingnya?" ketus Sam. “Ini pekerjaanku,” jawabku cepat. “Aku hanya—”“Audrey.”Dia memotong.Nada suaranya tidak keras.Tapi cukup untuk membuatku diam.“Aku tidak suka kau bekerja dengannya.”Aku tertegun.“Itu tidak ada hubungannya dengan—”“Ada,” potongnya lagi. “Kau mungkin tidak melihatnya. Tapi aku melihat.”Aku mengerutkan kening. “Melihat apa?”“Cara dia menatapmu.”Sunyi.Aku sedikit tersentak.“Itu hanya—”“Jangan bilang profesional.”Aku terdiam.Karena itu memang yang ingin kukatakan.“Dia tidak seperti itu,” lanjut Sam. “Aku tahu dia.”Aku menghela napas pelan.“Itu hanya candaan,” kataku akhirnya. “Soal perjodohan, soal pakaian… itu tidak serius.”Sam menatapku
Aku menoleh menatap Max dengan alis bertaut."Dalam pengawasanku sebagai atasanmu," lanjutnya lalu segera melepaskan genggaman dari pergelangan tanganku. Kembali bersikap biasa.Aku mengerutkan kening. “Termasuk urusan pribadiku?”Dia mengendikkan bahu. “Kalau itu berdampak pada pekerjaanmu.”Aku mengepalkan tangan. “Itu bukan hakmu.”"Kalau kau tidak suka dengan caraku dan setiap keputusanku…" katanya menggantung. Nada suaranya berubah sedikit lebih dingin. "Kau boleh pergi."Aku menatapnya lurus. Dia tahu aku sangat butuh pekerjaan ini. Dia tahu aku akan menurut demi bisa tetap di sini.“Kau pasti tahu jawabannya," ucapku getir. Max mengangguk kecil. “Kalau begitu, jangan setengah-setengah.”Aku tidak menjawab.Max menjauh sejenak, menarik jasnya lalu menatapku. “Kalau kau memilih tetap di sini,” katanya datar, “berarti kau harus belajar lebih cepat.”Aku mengangguk lemah. "Sudah kulakukan.”Max menghela napas. “Maksudku... bersiap dan ikut denganku, sekarang.”Mataku membulat. “K







