共有

TAS 196

last update 最終更新日: 2026-02-15 23:59:04

“Sam?" Cindy maju selangkah. Entah untuk mengonfirmasi atau membantah. Tapi Sam lebih dulu kembali bersuara.

"Ya, aku yang menyukainya."

Penegasan Itu membuat Cindy membeku. Wajahnya yang tadi penuh kemenangan perlahan mengeras. Bibirnya sedikit terbuka, tapi tak ada suara yang keluar. Kini dia benar-benar kehilangan kata-kata.

Aku pun terpaku. Dadaku terasa sesak oleh pengakuan itu.

Sam… menyukaiku lebih dulu?

Apakah itu hanya untuk menyelamatkanku dari serangan Cindy? Atau dia sedang bersun
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (1)
goodnovel comment avatar
Raudhahrasyid
plis KA bisa lebih panjangan klw up nya satu kali,, ngegantung gini ga seru jadinya
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 196

    “Sam?" Cindy maju selangkah. Entah untuk mengonfirmasi atau membantah. Tapi Sam lebih dulu kembali bersuara. "Ya, aku yang menyukainya."Penegasan Itu membuat Cindy membeku. Wajahnya yang tadi penuh kemenangan perlahan mengeras. Bibirnya sedikit terbuka, tapi tak ada suara yang keluar. Kini dia benar-benar kehilangan kata-kata.Aku pun terpaku. Dadaku terasa sesak oleh pengakuan itu. Sam… menyukaiku lebih dulu?Apakah itu hanya untuk menyelamatkanku dari serangan Cindy? Atau dia sedang bersungguh-sungguh?Ada sesuatu yang runtuh di dalam diriku, tapi bukan kehancuran. Seperti sebuah tembok yang tiba-tiba retak dan cahaya masuk dari celahnya. Selama ini aku selalu merasa dirikulah yang tergila-gila menyukainya hingga terus mencari perhatian darinya. Tapi sekarang, Sam meraih tanganku. Di depan semua orang, dia mengakuiku.Bukan karena kasihan.Bukan karena kehamilanku.Wajah Cindy berubah drastis. Dari pucat, menjadi merah padam lagi. Tangannya mengepal kuat.“Tidak mungkin,” desis

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 195

    Cindy berdiri di ambang pintu dengan wajah merah padam. Napasnya memburu dan matanya langsung menyala ketika melihat jarak kami yang terlalu dekat.Posisi kami saat itu masih sama. Tangan Sam menangkup wajahku, sementara kedua tanganku menggenggam lengannya. Pintu kaca yang sedikit terbuka membuat udara dari lorong masuk bersama ketegangan yang tiba-tiba menyesakkan.Suara kami sama-sama tercekat.“Jalang licik! Apa yang kau lakukan?!” Teriak Cindy menggelegar hingga mengejutkan semua orang di lantai itu.Suaranya memantul di dinding kaca, terdengar semakin keras dan kasar. Sarah ikut tersentak dan melongok dari pintu ruangannya. Wajahnya langsung pucat melihat situasi yang tak lagi bisa dikendalikan.“Tak puas menggoda putraku, sekarang kau juga menggoda suamiku?”“Pelankan suaramu,” tegur Sam, menurunkan tangannya dari wajahku.Aku pun terpaksa menarik tanganku meski tak rela. Sentuhan hangat itu terlepas, digantikan hawa dingin yang menyusup ke kulitku.“Biar saja! Biar semua orang

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 194

    "Siapa itu?" tanyaku spontan. Deru hujan di luar nyaris tak terdengar lagi ketika dering telepon memecah keheningan lantai delapan belas. Aku menoleh pada Sarah, detak jantungku melonjak.Apa itu Sam?Aku berdiri tanpa sadar, tapi Sarah lebih cepat bereaksi. Dia langsung meraih gagang telepon di mejanya.“Ruang sekretaris CEO,” ucapnya profesional. Namun wajahnya berubah tegang dalam hitungan detik. Dia melirik ke arahku dan dari tatapannya saja aku tahu, itu bukan panggilan yang kutunggu.Kucoba menangkap potongan kalimatnya.“Maaf, Bu… ada masalah apa?" Samar-samar terdengar nada panik. Nada yang sangat kukenal.Itu pastilah Ibuku.Sarah menegakkan punggungnya.“Sayang sekali... Dia tidak di sini," jawabnya bergumam. "Tapi... kalau nanti saya bertemu Audrey, tentu akan saya sampaikan pada Ibu.” Dia berhenti, menelan ludah. “Tidak, Bu. Saya benar-benar tidak melihatnya.”Kalimat terakhir diucapkannya lebih pelan, nyaris seperti bisikan bersalah.Telepon ditutup perlahan. Hening be

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 193

    Kepalaku kembali berdenyut. Pandanganku melemah. Aku mengepalkan tangan, menguatkan diri. "Bertahan, Audrey... sedikit lagi. Kau tak sendirian..." tanganku bergerak ke perut. Napasku yang pendek-pendek perlahan jadi teratur. Saat itu, pintu logam di samping loading dock terbuka dari dalam. Dua petugas cleaning service keluar sambil mendorong troli berisi kantong sampah hitam dan ember biru.Ini kesempatan bagus. Aku mendekat cepat dan membantu menahan pintu sebelum kembali menutup.“Terima kasih,” ucap salah satu dari mereka tanpa benar-benar menatap padaku.Aku mengangguk singkat, lalu menyelip masuk sebelum pintu tertutup kembali.Lorong servis lebih redup dari area depan. Lampu-lampu neon memantulkan bayangan pucat di lantai abu-abu. Sepatu karet para petugas bergesekan dengan lantai, mengiringi langkahku."Jangan terlihat mencurigakan. Jangan terlalu cepat," ulangku dalam hati tanpa henti.Kami sampai di depan lift servis. Salah satu dari mereka menekan tombol, lalu menatapku se

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 192

    Pintu tangga darurat baru saja setengah terbuka ketika suara itu menghentikanku.“Mau ke mana?”Jantungku seperti melompat jatuh ke lantai saking kagetnya.tubuhku membeku, tangan masih menggenggam gagang pintu besi yang dingin. Perlahan leherku yang kaku berputar. Mataku menangkaap wajah yang tak asing. Dia perawat yang tadi membantuku. Perawat itu berdiri dua meter di belakangku, alisnya terangkat dengan wajahnya penuh tanda tanya.Aku mengembuskan napas lega. Untung bukan Bibi. Bukan Ibu.“A-aku…” tenggorokanku kering. “Aku cuma mau turun sebentar.”“Turun lewat tangga darurat?” Dia melangkah mendekat. Tatapannya turun ke tanganku dan terkejut. “Infusmu mana?”Refleks aku menutup bekas jarum di punggung tangan dengan telapak lain. Tapi noda darah tipis sudah lebih dulu terlihat.“Kau melepasnya?” Suaranya berubah tegas.Aku menelan ludah. “Aku mungkin akan agak lama di bawah. Aku… mau menghirup udara segar. Sudah lama aku tidak keluar rumah.”Dia menatapku lebih lama. “Tekanan dar

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 191

    Hari-hariku di rumah Paman Kyle berjalan seperti jam rusak. Berdetak, tapi tak pernah benar-benar bergerak maju.Pagi dimulai dengan suara pintu dibuka dari luar. Bibi masuk membawa sarapan, meletakkannya di meja kecil dekat jendela, lalu keluar lagi. Kadang dia bertanya singkat, “Mual?” atau “Tidurmu bagaimana?” Tapi tak pernah menunggu jawaban panjang dariku.Setelah itu, kunci kembali diputar. Klik.Rumah ini terlalu sepi. Paman dan Bibi tak punya anak. Tak ada suara televisi keras, tak ada gelak tawa, tak ada kunjungan tetangga. Hanya bunyi langkah mereka berdua dan sesekali dering telepon.Aku lebih sering duduk di lantai kamar, bersandar di dinding dekat jendela. Dari sana hanya terlihat pagar tinggi dan jalan kecil yang jarang dilewati kendaraan. Rasanya seperti hidup di dalam kotak.Ibu tak pernah datang. Dia hanya selalu menelepon lewat ponsel paman dan bibi.“Bagaimana keadaanmu?” suaranya terdengar kaku di seberang.“Baik,” jawabku singkat.Tak ada kata rindu. Tak ada kalim

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status