ログインSuara hak sepatu tinggi berdetak nyaring memasuki ruang makan.Semua kepala spontan menoleh ke arah pintu masuk. Ekspresi-ekspresi hangat tadi seketika berubah jadi raut keterkejutan.Cindy muncul tepat ketika suasana makan malam memasuki waktu puncak. Wanita itu berdiri anggun dalam gaun biru turqouis gelap yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Rambut panjangnya ditata rapi. Bibirnya tersenyum tipis, meski matanya menyiratkan sesuatu yang tajam.“Wah,” ucapnya sambil melepas sarung tangan perlahan. “Makan malam keluarga sebesar ini ternyata benar-benar meriah.”Nada suaranya terdengar ringan, namun sindiran di dalamnya terlalu jelas untuk diabaikan.“Aku minta maaf terlambat datang,” lanjutnya sambil melangkah mendekat ke meja makan. “Ada banyak urusan yang harus kuselesaikan. Tapi yang penting sekarang aku sudah ada di sini.”Aku refleks menoleh ke arah Nyonya Miranda. Namun wanita tua itu justru menggeleng kecil padaku. Seolah memberi tahu bahwa kedatangan Cindy di luar rencan
“Ternyata...” katanya pelan sambil menyandarkan tubuh ke kursi, “kau cukup mahir untuk hal seperti ini.”Aku langsung berkedip bingung.“Itu pujian?”Max mengendikkan bahu. “Anggap saja begitu,”Aku mendengus pelan. Menahan senyum lega.Max kembali melihat foto-foto itu beberapa detik sebelum akhirnya mengembalikan ponselku.“Kirim semua itu ke nomorku. Tugasmu sudah selesai." Nada suaranya kini kembali santai. “Selanjutnya serahkan saja padaku. Akan kuberitahu kalau ada hal penting. Tapi untuk sekarang, fokus saja pada urusanmu.”"Itu saja?" tanyaku bingung. Kupikir dia akan memberitahuku rencana selanjutnya, karena itu aku buru-buru menemuinya langsung. Tapi pria ini tampaknya sengaja tak mau melibatkanku lebih jauh. "Ya, kenapa?""Aku belum membuktikan padamu kalau Sam tidak terlibat dengan urusan Cindy.""Kau sangat yakin.""Aku percaya padanya. Dia tak akan melakukan sesuatu yang salah."Max tersenyum kecut."Kalau dia punya prinsip seperti itu, dia tak akan mengkhianati pernika
Aku menoleh panik ke arah pintu kamar. Masih tertutup rapat. Sementara bunyi tadi terus meraung. Dengan cepat kukeluarkan ponselku dari saku blazer dan mematikannya. Kembali hening. Aku menghembuskan napas dengan keras. Rasanya jantungku hampir copot. Kupikir sudah ketahuan. Aku kembali mengecek di belakang lukisan tadi. Kosong. Hanya dinding rata. Mataku beralih pada layar ponsel."Untuk apa Max menghubungiku sekarang?" gumamku cemas. Aku tak memberitahunya rencanaku ke sini. Atau mungkin, sopir memberitahunya sesuatu?Aku kelabakan menuju pintu keluar saat ekor mataku menangkap lorong lain. Ruangan di belakang kamar mandi.Langkahku kembali berubah arah. Penasaran. Aku masuk ke sana dan menemukan ruang ganti yang cukup luas. Ada banyak pakaian hingga sepatu. Beberapa tas branded bergeser rapi dalam etalase seperti di toko.Aku berdecih tak suka. "Dia pasti sangat menikmati kemewahan ini sampai tak mau bercerai." Selanjutnya, langkahku beralih ke meja bagian tengah ruangan yan
"Ada apa, Nyonya?" tanyaku pura-pura bingung dengan reaksinya. Nyonya Miranda langsung mencondongkan tubuh ke arahku. “Audrey,” bisiknya pelan. “Bisakah kita tidak membahas itu?”Aku sedikit tertegun melihat perubahan ekspresinya. Tatapan Nyonya Miranda tampak berbeda sekarang. Tidak nyaman. Bahkan seperti menyimpan ketakutan kecil yang sengaja ditekan.“Itu salah satu aib keluarga yang sebaiknya dikubur saja,” lanjutnya lirih.Aku menatapnya beberapa detik. Lalu akhirnya mengangguk patuh.“Oh, iya, Nyonya. Maaf.”Aku memang penasaran. Namun dari reaksinya saja aku sudah mendapatkan jawaban yang cukup jelas. Ada sesuatu yang disembunyikan keluarga Arsen soal Cindy.Aku tidak mendesaknya lagi. Sebaliknya, aku langsung mengganti topik pembicaraan.“Jadi... makan malam besok akan seperti apa?”Wajah Nyonya Miranda langsung berubah cerah lagi. Seolah lega karena aku tak terus mengejarnya dengan pertanyaan tadi.“Aku mengundang seluruh keluarga inti.”Aku mengangkat alis kecil.“Seluruh k
Mulai saat itu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk membalas semua kekejaman Cindy.Aku makin masif menarik perhatian keluarga Arsen. Hingga Max beberapa kali memperingatkanku untuk bergerak lebih pelan dan hati-hati. Namun semakin lama berada di tengah keluarga itu, semakin aku sadar bahwa kedekatan mereka bisa menjadi senjata terkuatku melawan Cindy.Dan mungkin...sedikit tempat aman bagi hatiku sendiri.Hari itu aku sedang membantu Nyonya Miranda memilih beberapa contoh material interior untuk gallery ketika wanita itu tiba-tiba berkata santai,“Besok malam kita akan mengadakan makan malam spesial.”Aku mengangkat wajah dari tablet di tanganku.“Makan malam?”Nyonya Miranda mengangguk antusias.“Karena pembangunan gallery akan mulai minggu depan.” Senyumnya melebar bangga. “Akhirnya itu betul-betul akan terwujud. Terima kasih, Audrey."Wanita tua itu menepuk ringan tanganku. Aku ikut tersenyum kecil melihat semangatnya.Selama beberapa minggu terakhir, dia memang terlihat jauh
“Biar aku yang mengurusnya,” ucapku mantap.Sopir menatapku tak percaya lewat kaca spion tengah. Wajah pria itu jelas menunjukkan penolakan. Mungkin dia takut sesuatu terjadi padaku. Mungkin juga dia takut dimarahi Max kalau sampai gagal menjagaku.Namun saat ini aku terlalu kesal untuk bersembunyi di dalam mobil seperti pengecut.Sementara di luar sana, Cindy masih berdiri menunggu. Tatapannya seolah mengatakan bahwa dia tidak akan pergi sebelum mendapat apa yang diinginkannya.Dia mengetuk kaca lagi. Lebih keras kali ini.Tok! Tok! Tok!“Nona...” bisik sopir dengan suara semakin cemas.Tapi aku sudah terlanjur membuka pintu mobil dengan gerakan cepat lalu membantingnya cukup keras, hingga mengejutkan Cindy.Angin sore langsung menerpa wajahku. Jalanan di sekitar kami tidak terlalu ramai, tetapi beberapa kendaraan tetap melintas sesekali. Tatapan orang-orang mulai mengarah pada kami karena posisi mobil Cindy memang sengaja melintang menghalangi jalan.“Ada apa?” tanyaku lebih dulu de
“Untuk apa aku marah?” bisiknya pelan di atas rambutku. “Ini adalah risiko yang wajar jika terjadi.”Aku terdiam merasakan sapuan napasnya yang terasa hangat di pelipisku.“Aku hanya merasa… ini bukan waktunya untukmu,” lanjutnya dengan nada menyesal. “Kau akan terbebani dengan kehamilan ini. Sehar
“Sam! Kau mau ke mana?” suara Cindy meninggi, memantul di sepanjang lorong.Sam tidak menoleh.Langkahnya mantap dan cepat. Tangannya tidak melepaskan genggamannya dariku.“Sam!” teriak Cindy lagi. Kali ini nadanya tidak lagi penuh kemenangan, melainkan kebingungan yang nyata.Begitu kami melewati
“Sam?" Cindy maju selangkah. Entah untuk mengonfirmasi atau membantah. Tapi Sam lebih dulu kembali bersuara. "Ya, aku yang menyukainya." Penegasan Itu membuat Cindy membeku. Wajahnya yang tadi penuh kemenangan perlahan mengeras. Bibirnya sedikit terbuka, tapi tak ada suara yang keluar. Kini dia
Cindy berdiri di ambang pintu dengan wajah merah padam. Napasnya memburu dan matanya langsung menyala ketika melihat jarak kami yang terlalu dekat.Posisi kami saat itu masih sama. Tangan Sam menangkup wajahku, sementara kedua tanganku menggenggam lengannya. Pintu kaca yang sedikit terbuka membuat







