เข้าสู่ระบบStefan mengusap kedua sisi pinggang Yessica lalu menempelkan dahinya di perutnya. Dia berbalik dan menyandarkan kepala di sana, ingin Yessica tahu bahwa dia adalah miliknya. Tangan Yessica menopang kepala Stefan. Dada Stefan mengembang saat menarik napas, menghirup aroma lembut bunga dari tubuh Yessica dan merasakan kulit hangatnya di pipi. "Aku takut kehilanganmu," bisik Yessica. "Dia jauh lebih hebat dariku." Stefan mendongak dan melihat air mata menggenang di mata Yessica. "Dia bahkan gak sebanding dengan separuh dirimu. Aku hampir kehilanganmu." Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Stefan. Dia menarik Yessica turun dari bangku lalu memeluknya erat. "Dia hampir merenggutmu dariku." "Dia gak merenggutku." Yessica mengembuskan napas di dada Stefan. "Aku memang takut, tapi dia gak menyakitiku. Aku di sini." Stefan mencium puncak kepalanya dan menghirup aroma tubuhnya. Seluruh malam ini terasa mengerikan. Namun sekara
Mata Gresellda berkilau diterpa cahaya lampu jalan. Stefan menyandarkan tubuhnya kembali. Dia membiarkan Gresellda bicara. Siapa yang peduli? Semua itu tidak akan menyakiti mereka. Mereka bisa saja memutarbalikkan ceritanya dan menganggap Gresellda sebagai mantan kekasih yang sakit hati. "Kalian sangat dekat bahkan sejak kuliah. Dan aku tahu kamu suka menonton. Aku hampir yakin Kairo juga suka ditonton." Gresellda tertawa getir. "Aku selalu bertanya-tanya, kalau dulu aku meminta, apakah kamu mau melihatku berhubungan seks dengan Kairo? Mamaku ingin aku hamil lalu menyalahkan dia. Dia ingin kekuasaan keluarganya menyatu dengan keluarga kami." "Itu cerita lama." "Tapi memangnya apa benar-benar sudah selesai?" Gresellda mengetukkan kukunya ke bibir bawah. "Karena aneh sekali asistenmu tinggal di gedung yang sama. Dari rumor yang beredar, tempat itu dipakai bersama. Kalian berhubungan seks dengannya bersama-sama
Stefan memegang bahunya dan membantunya berdiri tegak. Sudah waktunya memperjelas semuanya. "Aku gak mau bermain-main, Gresellda. Ini cuma bantuan untuk mamamu. Tidak lebih. Aku gak ingin kamu kembali ke hidupku." Gresellda mengerucutkan bibir dan menyipitkan mata kepadanya. "Aku gak tahu kamu berharap aku bilang apa soal itu. Jelas aku berharap bisa menghidupkan kembali hubungan kita. Kamu kelihatan kesepian dan terlalu sibuk bekerja, sama sepertiku. Dengan semua urusanmu bersama asisten dan para cowok itu, kupikir mungkin kamu butuh pengalihan dari semua masalah dalam hidupmu. Aku juga butuh pengalihan." "Itu gak akan terjadi." Menyadari mereka masih berada di tempat umum, Stefan menawarkan lengannya dan Gresellda meletakkan tangan di lengannya. Saat membawanya keluar, beberapa tamu dan teman Gresellda menghentikan mereka. Mereka membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk sampai ke mobil daripada yang Stefan perkirakan.
Kata-kata Kairo membuat Yessica mengerang saat tubuhnya kembali bergetar. Andree mencengkeram tengkuk Yessica dan mencium mulutnya seolah dia belum pernah merasakan sesuatu yang lebih nikmat. Seolah mungkin mereka tidak akan pernah punya kesempatan untuk berciuman lagi. Tangan Kairo berada di pinggul Yessica, membuka bokongnya. Jari-jari Kairo menyelinap ke dalam Liang Sekundernya selama sesaat sebelum ditarik keluar. Kemudian kepala rudalnya yang lembut menekan Liang Sekunder Yessica. "Kamu lihat cewek kita, Giancha?" tanya Kairo. "Lihat apa yang dia suka?" "Aku tahu apa yang dia suka, dasar sok tahu!" Suara Giancha terdengar terengah-engah. "Dia suka yang keras. Dia mau kamu meniduri bokongnya seolah ini terakhir kalinya dia akan berhubungan seks." "Sial," bisik Yessica di mulut Andree. "Kami tahu apa yang kamu suka, Kucing kecil." Kata-kata Andree membuat Yessica semakin bergairah, dan rahimnya berdenyut s
Giancha membungkuk dan menjulurkan lidah menyusuri celahnya. Gelombang hasrat menerjang Yessica, membuat kulitnya meremang karena ingin disentuh. Saat mulut Giancha menutup kacang nikmatnya dan mengisapnya, Kairo mengangkat dagu Yessica ke arahnya lalu mencium bibirnya. Ciuman itu dalam dan penuh, membuat jari-jari kaki Yessica menekuk. Kairo mengambil semua yang bisa Yessica berikan dan menangkap setiap embusan napas serta erangannya, sementara lidah Giancha membuatnya semakin menggila. Andree dengan ragu menyelusupkan jari ke garis leher gaun Yessica. Mungkin dia khawatir, setelah mendengar Yessica menceritakan kejadian tadi kepada polisi, Yessica tidak ingin disentuh olehnya. Yessica meraih tangan Andree lalu membawanya masuk ke balik gaun, menuju buah dadanya. Puting Yessica seketika menegang. Sentuhan Andree lembut dan penuh eksplorasi, sangat berbeda dari pelecehan yang dialaminya sebelumnya. Giancha memasukkan satu
Polisi baru saja pergi, dan Simon berjanji akan ikut bersama mereka ke kantor polisi besok sebelum meninggalkan tempat itu. Yessica tidak bisa menahan rasa terima kasih kepadanya. Simon telah mencegah Hendar melakukan sesuatu yang lebih parah. "Dia pasti akan menemukanku sendirian pada suatu saat. Aku cuma ragu." Yessica tersenyum kepada Marlin untuk menunjukkan bahwa dia tidak menyalahkannya. Mereka sedang berusaha membantu Intan. Bicara soal Intan. "Di mana Intan?" "Dia pergi sama cowok bernama Agung itu. Katanya semuanya baik-baik saja." Marlin melirik Andree dengan gugup. Mungkin dia khawatir dengan perasaan Andree terhadap Intan. "Dia bilang ada cowok yang ingin dibuatnya cemburu." Mata cokelat Andree bertemu dengan mata Yessica. "Aku dan dia datang ke acara ini cuma sebagai kencan pura-pura." Yessica menarik napas dalam-dalam saat tekanan di dadanya mulai menghilang. Yessica menyukai Intan, tetapi Intan
"Kamar lain pintunya menghadap lorong utama, tapi ini kamar terbesar. Pintu sampingnya itu pintu darurat, langsung mengarah ke tangga." Kairo memutar kenop pintu dan mempersilakannya masuk. Ruangan pertama adalah ruang keluarga. Lantainya ada karpet tebal berwarna krem, Ada sofa putih, kursi baca y
Saat Yesica menaiki tangga menuju apartemennya di lantai tiga, ia terus bertanya-tanya dalam hati. Apakah semua ini benar benar nyata? Ke 4 big boss itu sudah menjelaskan soal pekerjaan dan paket gajinya. Apakah itu tandanya ia diterima? Memang mereka tidak menanyakan pertanyaan standar di wawan
"Senang bertemu denganmu," ucapnya sekuat tenaga. Aura kekuatan yang terpancar dari pria ini sangat kuat. Stefan tersenyum tipis lalu mundur memberi jalan pada yang lain. Pria berikutnya lebih kekar, berambut hitam. Matanya yang berwarna hijau menelusuri tubuh Yesica, berhenti sebentar di kaki, pi
“Bagian mana yang kamu mau, sayang? Jariku? Lidahku? Atau yang lain?” Kairo kembali mengusap paha Yesica menggunakan ujung jarinya. Wanita itu pun mengembuskan napas panjang. “Ahhhh ... Lidahmu.” Kairo pun tersenyum. Ia menghirup aroma yang keluar dari tubuh Yesica. Begitu lidah Kairo menyentuh ku







