LOGINStefan berjalan ke lemari laci yang dipenuhi pakaian dalam dan lingerie baru. Sutra dan satin dalam berbagai warna memenuhi setiap laci. Satu set baju tidur berwarna merah muda tua dengan celana pendek langsung menarik perhatiannya.
Ia meletakkan atasan tidur itu di bangku lalu berlutut di depan Yessica sambil membawa celana pendeknya. Yessica memasukkan kedua kakinya ke dalam celana itu. Kedua tangannya bertumpu di bahu Stefan. Stefan mulai menarik celana itu ke atas, tetapi saat meYessica tersenyum saat tatapan mereka bertemu. Apakah Yessica juga mengingatnya? Atau mungkin dia sedang mengingat malam sebelumnya, saat Giancha mengisap rahimnya. Tatapan mereka terkunci. Kairo berdiri di antara mereka, memutus apa yang mungkin sudah menjadi perselingkuhan lewat tatapan yang terlalu jelas."Aku beruntung sudah mendapatkannya sebelum yang lain sempat melakukannya." Nada suara Kairo terdengar penuh kesombongan.Ya, dengan menidurinya di ruang arsip dan tertangkap sedang memeluknya oleh Marry. Beruntung sekali.Marlin pun tertawa. "Aku yakin tidur dengan asisten itu dianggap enggak pantas."Yessica menggigit bibir dan mengernyit.Marlin melihat ekspresinya lalu mundur. "Aku cuma bercanda. Maaf, mulutku kadang suka lepas kendali.""Enggak apa-apa. Aku tahu situasinya memang enggak normal, tapi aku suka Kairo."Yessica menatap Kairo dengan mata lembut, dan sesuatu yang panas bergejolak di dalam di
Di tempat lain ...."Benarkah kita yang pertama datang?" bisik Marlin saat mereka memasuki museum. Dia memegang lengan Giancha seolah takut tersesat di tengah kerumunan orang yang memenuhi ruangan besar itu."Enggak tahu, kenapa kamu kaget?" Giancha melihat ponselnya dan memeriksa posisi mobil yang membawa yang lain. Orang-orang dengan gaun elegan dan tuksedo memenuhi foyer museum, sementara semua orang ingin menjadi yang pertama melihat siapa saja yang datang. Keuntungan acara ini akan disumbangkan ke tempat penampungan anak-anak tunawisma. Namun, pada dasarnya, ini adalah ajang untuk menunjukkan diri di hadapan masyarakat Jakarta."Aku kira kita semua bakal datang bareng. Setidaknya Kairo."Saat Marlin menghela napas, Giancha memutar mata. Marlin sudah menyukai Kairo sejak berusia dua belas tahun."Dia sedang berkencan dengan Yessica." Giancha sudah mengatakan hal itu lima kali malam ini.Marlin pun mengerutkan kening. "Iya, ta
Andree adalah orang yang hampir sepanjang hidupnya tidak diperhatikan siapa pun. Dia hidup dalam bayang-bayang Kairo, Stefan, dan Giancha. Mereka melindunginya, tetapi di samping mereka, Andree selalu menjadi yang paling muda dan paling tidak menarik.Sampai Yessica.Dada Andree terasa hangat. Yessica menginginkannya. Tentu saja, Yessica juga menginginkan mereka, tetapi dia tetap mencarinya. Mereka adalah bagian dari teka-teki yang sama. Mereka memang ditakdirkan untuk bersama."Sepertinya kita sudah sepakat." Andree mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Intan dengan lembut.Mata hijau Intan berbinar penuh semangat dan dia tersenyum. "Iya."***Di tempat lain ....Melakukan sesuatu demi kepentingan bisnis sudah menjadi strategi Stefan bahkan sebelum mereka mendirikan Malaka Technologi. Ini hanya satu hal lagi yang harus dia jalani. Semalam bersama mantan kekasihnya, Gresellda Baoo Baoo. Mobil berhenti di de
"Juju, panggil Mama." Sebuah tangan ramping meraih pintu. Gadis kecil itu terkikik sebelum berlari pergi."Kamu juga enggak boleh buka pintu!"Pintu terbuka lebih lebar, memperlihatkan seorang wanita mungil dengan rambut pirang kemerahan yang diikat dalam sanggul tinggi. Gaun hitam dengan potongan sederhana mengikuti lekuk tubuhnya yang ramping hingga ke sepatu hak tinggi hitam. Andree mengangkat pandangan ke wajahnya yang halus dan mata hijau besar.Wanita itu pun tersenyum."Maaf soal itu. Adikku, Juju, memang begitu. Aku Intan, dan kamu cowok sial yang harus membawaku ke acara amal."Andree pun berdeham. "Sial?""Begini, aku tahu mamamu yang mengatur semua ini. Sama seperti mamaku." Intan melangkah keluar ke tangga dan menutup pintu dengan lembut. Dia mendongak menatap Andree. "Kita bersenang-senang saja hari ini dan coret ini dari daftar rencana perjodohan selama beberapa bulan ke depan.""Jujur, aku enggak tahu harus bilang apa soal itu." Andree mengusap rambut pirangnya, mungki
Setelah Okky menutup pintu, Kairo menepuk bahunya. Yessica adalah wanita yang tidak bisa diremehkan, dan dia sepenuhnya milik Kairo, setidaknya sampai mereka tiba di rumah malam ini.Okky berdeham dan mereka berjalan memutari mobil bersama. "Kamu pria yang beruntung, Kairo."Kairo tersenyum dan mengangguk. "Aku tahu."Kairo masuk ke bagian belakang limusin sementara Okky mengambil posisi di balik kemudi.Okky kembali berdeham. "Haruskah aku menutup sekatnya? Perintah bos."Tawa Yessica memenuhi mobil sekaligus dada Kairo."Kamu tahu aku gak keberatan ada yang menonton, kan?" Tatapan Kairo bertemu dengan tatapan Okky melalui kaca spion, tetapi pria itu hanya menggeleng.Yessica meraih tangan Kairo yang berada di pangkuannya. "Kita bisa menahan diri selama dua puluh menit sampai tiba di acara."Tatapan Yessica menyapu tubuh Kairo, lalu dia mengangkat tangan dan memainkan jemarinya di rambut Kairo yang tergerai.
Kairo merapikan manset kemejanya dan memastikan kancing mansetnya terpasang kuat. Yang lain sudah pergi menjemput pasangan kencan mereka, meninggalkan hanya Yessica dan dirinya di apartemen. Dan Marry.Tanpa Marry, mungkin mereka tidak akan berhasil tiba di acara amal tepat waktu. Itu akan sangat disayangkan. Kairo tersenyum ke arah cermin. Menghabiskan beberapa jam berdua dengan Yessica bukan ide yang buruk. Namun, itu bukan kesepakatan mereka. Malam ini adalah tentang menunjukkan kepada semua orang bahwa mereka adalah pasangan.Seharusnya kesepakatan mereka tidak berjalan seperti ini. Malam ini seharusnya ada seorang wanita seksi yang ingin tidur dengan seorang miliarder di lengannya. Bukan Yessica. Yessica seharusnya berada di lengan Andree.Mereka cocok. Kairo hanya orang aneh dalam hubungan mereka. Namun, Yessica tetap menyambutnya dengan tangan terbuka dan senyum lembut yang membuat hatinya terasa aneh. Meskipun pernah berpacaran sebelumnya
"Kamar lain pintunya menghadap lorong utama, tapi ini kamar terbesar. Pintu sampingnya itu pintu darurat, langsung mengarah ke tangga." Kairo memutar kenop pintu dan mempersilakannya masuk. Ruangan pertama adalah ruang keluarga. Lantainya ada karpet tebal berwarna krem, Ada sofa putih, kursi baca y
Sambil duduk tepat di tengah ruangan, Yesica berusaha menyelesaikan dokumen-dokumen itu. Perasaannya aneh. Padahal jelas-jelas ia sendirian di sana. Semua pintu kantor tertutup rapat, kecuali pintu milik Giancha. Yesica menyilangkan kaki dan menyelesaikan formulir terakhirnya. Ia bersandar di kursi
Itu suara Andree. Yesica segera menekan tombol untuk membuka pintu. Sesaat kemudian, pria berambut pirang itu pun muncul dan masuk dengan senyum lebar. "Makasih ya," ucapnya. "Sama-sama," balas Yesica sambil menempelkan kartu aksesnya. Pintu lift pun tertutup. "Jadi kamu mau gabung sama kita y
Bagaimana caranya agar tetap tenang kalau ternyata ia benar-benar mendapatkan pekerjaan ini? "Kami ingin menawarkan posisi ini untuk masa percobaan, mulai hari Senin. Apa kamu masih bersedia?" Suaranya lembut namun berwibawa, bergetar di pendengaran Yesica dengan cara yang sangat menggoda. "Tent







