Share

BAB 10

Author: ikediva
last update publish date: 2026-07-03 21:05:17

Layar ponsel di tangan Tiara menunjukkan pukul 21.50. Sepuluh menit sebelum batas jam malam yang ditentukan Arlan semalam.

​Tiara menatap layar itu lekat-lekat. Tidak ada satu pun pesan atau panggilan masuk dari suaminya. Tanpa ragu sedikit pun, ia menekan tombol daya di sisi kanan ponselnya, menggeser layarnya, dan mematikan perangkat tersebut sepenuhnya. Ia kemudian melempar benda pipih itu ke dalam tas kecilnya.

​"Gila. Lo beneran matiin hape, Ti?"

​Vanya yang sedang duduk menyilang kaki di
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • TERIKAT KONTRAK TUAN MUDA   BAB 12

    Arlan menginjak pedal rem. Maybach hitamnya berhenti di belakang antrean lampu merah perempatan Senopati. Di kursi penumpang belakang, Nyonya Aditama terus mengusap-usap perut rata Tiara dengan raut wajah berbunga-bunga. "Mama apaan sih, geli tahu," keluh Tiara. Ia menepis tangan ibunya dan menyandarkan kepala ke kaca jendela, menahan sisa pusing di kepalanya. "Aku itu beneran cuma masuk angin, Ma. Nggak usah lebay sampai ditarik ke Brawijaya segala." "Heh, mulutnya dijaga! Pamali ibu hamil ngomong sembarangan," omel Nyonya Aditama, kembali menarik lengan Tiara agar duduk tegak. "Orang hamil muda itu emang bawaannya suka denial, Ra. Udah, kamu diam aja. Pokoknya kita pastikan ke Silvi sekarang." Arlan melirik dari kaca spion tengah. Matanya bertemu dengan mata Tiara. Keduanya sama-sama memasang ekspresi seperti narapidana yang sedang diantar menuju ruang eksekusi. Kepergian Tuan Aditama untuk rapat mendadak lima belas menit yang lalu membuat pertahanan mereka runtuh total. Di dal

  • TERIKAT KONTRAK TUAN MUDA   BAB 11

    Pukul delapan pagi.Arlan duduk di ujung sofa ruang tengah. Tangan kirinya memegang cangkir kopi yang sudah tandas, sementara tangan kanannya sibuk menggeser layar tablet. Ia mengusap pangkal hidungnya sekilas—menahan letih akibat tidur kurang dari tiga jam semalam—namun postur tubuhnya tetap tegak.Suara bel pintu utama berbunyi tiga kali berturut-turut.Arlan meletakkan tabletnya ke meja. Ia bangkit berdiri dan berjalan menuju panel interkom di dinding. Alisnya sedikit terangkat saat melihat wajah dua orang yang berdiri di luar melalui layar kamera pengawas. Ia segera menekan tombol pembuka kunci digital dan menarik gagang pintu."Pagi, Arlan," sapa Tuan Aditama tenang. Pria paruh baya itu berdiri mengenakan kemeja polo dan celana kain yang rapi.Di sebelahnya, Nyonya Aditama menyusul masuk sambil menenteng tas kertas berlogo toko roti premium. Kacamata hitam disematkan di atas kepalanya. Wanita itu langsung berjalan melewati Arlan menuju area dapur bersih dengan langkah percaya dir

  • TERIKAT KONTRAK TUAN MUDA   BAB 10

    Layar ponsel di tangan Tiara menunjukkan pukul 21.50. Sepuluh menit sebelum batas jam malam yang ditentukan Arlan semalam.​Tiara menatap layar itu lekat-lekat. Tidak ada satu pun pesan atau panggilan masuk dari suaminya. Tanpa ragu sedikit pun, ia menekan tombol daya di sisi kanan ponselnya, menggeser layarnya, dan mematikan perangkat tersebut sepenuhnya. Ia kemudian melempar benda pipih itu ke dalam tas kecilnya.​"Gila. Lo beneran matiin hape, Ti?"​Vanya yang sedang duduk menyilang kaki di atas karpet ruang tengah townhouse-nya menatap Tiara. Ia meletakkan botol vodka ke atas meja. "Sumpah, kalau cowok lo nyariin, nyusahin kita-kita nggak nih?"​"Biarin aja," jawab Tiara angkuh. Ia berdiri menghadap cermin full-body, merapikan gaun beludru hitam tanpa lengan milik Vanya yang sengaja ia pinjam. "Gue bukan tahanan kota yang harus absen napas setiap jam sepuluh. Dia pikir dia siapa bisa ngunci gue di penthouse?"​Tasya berjalan menghampiri Tiara dari belakang. Ia menyisir rambut panj

  • TERIKAT KONTRAK TUAN MUDA   BAB 9

    Kafe premium di area fakultas bisnis itu cukup ramai saat Tiara melangkah masuk. Ia melempar tas desainer di bahunya ke atas meja bundar di sudut ruangan, lalu menjatuhkan diri ke kursi sofa dengan helaan napas panjang yang sarat akan rasa frustrasi.​Di hadapannya, Tasya nyaris tersedak es matcha latte-nya. Gadis dengan rambut diikat ponytail tinggi itu langsung mencondongkan tubuhnya ke depan. Matanya yang bulat memancarkan rasa penasaran tingkat tinggi.​"Gila! Sumpah ya, Ti, gue kira lo bakal bolos sebulan buat honeymoon ke Swiss atau Maldives," cerocos Tasya tanpa jeda. Tangannya menopang dagu. "Gimana rasanya bangun tidur di penthouse triliuner? Arlan Pradipta aslinya sedingin di TV nggak, sih? Atau dia tiba-tiba soft boy kalau lagi berduaan?"​Di sebelah Tasya, Vanya hanya tersenyum simpul. Gadis dengan rambut panjang sedikit bergelombang itu menyesap kopi hitamnya dengan tenang.​"Kasih napas anjir temen lo," tegur Vanya santai, menatap wajah Tiara yang terlihat kekurangan tid

  • TERIKAT KONTRAK TUAN MUDA   BAB 8

    Pukul sebelas malam, bunyi beep pendek dari panel kunci digital memecah keheningan di dalam penthouse.Pintu utama terbuka. Arlan melangkah masuk. Ia meletakkan tas kerja kulitnya ke atas meja konsol dekat pintu dengan sedikit bantingan, lalu melepas jas abunya dan menyampirkannya sembarangan di sandaran kursi pantri.Kemeja pria itu sudah kusut di bagian siku dan punggung. Rambutnya tidak lagi seapi pagi tadi. Ia berjalan menuju dapur bersih, mengambil gelas, dan menuangkan air dingin dari dispenser.Saat Arlan berbalik sambil meminum airnya, langkahnya terhenti.Lampu gantung utama di ruang tengah sudah dimatikan. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari lampu pilar di sudut ruangan. Di bawah cahaya temaram itu, Tiara duduk bersilang kaki di atas sofa single. Ia mengenakan piyama satin panjang berwarna biru gelap. Sebuah tablet menyala di pangkuannya, dan secangkir teh yang sudah setengah kosong terletak di atas meja kaca.Mendengar suara langkah Arlan, Tiara mematikan layar tabletny

  • TERIKAT KONTRAK TUAN MUDA   BAB 7

    Mobil Maybach hitam itu berhenti tepat di depan teras kediaman keluarga Pradipta di kawasan Menteng.Seorang petugas keamanan berseragam langsung membukakan pintu penumpang. Tiara turun. Pakaiannya rapi dan riasan wajahnya berhasil menutupi sisa lelah akibat kurang tidur semalam.Arlan keluar dari pintu kemudi. Ia menyerahkan kunci mobil pada petugas valet, lalu berjalan bersisian dengan Tiara memasuki rumah. Mereka melangkah melewati pintu utama tanpa saling bicara, langsung menuju ruang makan keluarga di sayap kanan bangunan.Di sana, Baskara Pradipta sudah duduk di ujung meja. Ayah Tiara, Tuan Aditama, duduk di sisi kanannya. Percakapan kedua pria paruh baya itu terhenti begitu Arlan dan Tiara masuk."Pengantin baru kita," sapa Baskara. Ia meletakkan cangkir kopinya. "Duduk. Kita baru saja mau mulai."Arlan menarik salah satu kursi. Tiara duduk lebih dulu, disusul Arlan di kursi sebelahnya. Mereka berhadapan langsung dengan Tuan Aditama. Beberapa pelayan rumah segera bergerak mengh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status