MasukBrak!
Pintu ganda VIP lounge didorong terbuka begitu kasar hingga gagangnya menghantam dinding. Arlan Pradipta memejamkan mata sedetik, menahan denyut di pelipisnya. Empat puluh lima menit waktunya terbuang sia-sia hanya untuk menunggu drama picisan ini. Di ambang pintu, Tiara Aditama berdiri dengan sebelah tangan bertolak pinggang. Mulutnya dengan santai mengunyah permen karet. Gaun malam elegan yang seharusnya ia pakai sudah raib, digantikan slip dress hitam yang dirobek asal-asalan, ditumpuk jaket kulit kedodoran, dan boots tempur bersol tebal. "Sori, macet," ucap Tiara tanpa beban. Suara langkah boots-nya sengaja dientakkan keras-keras ke lantai marmer saat ia melangkah masuk. "Tiara! Baju apa yang kamu pakai?!" Tuan Aditama langsung berdiri, wajahnya memerah padam menahan malu di hadapan calon besannya. "Ke mana gaun yang mama siapkan?!" "Gaunnya aku buang ke tong sampah basement, Pa," jawab Tiara santai. Matanya menyapu seisi ruangan sebelum terkunci pada Arlan yang duduk tak bergeming di seberang meja. "Lagian dress code malam ini kan 'jual anak demi saham'. Baju gembel ini udah paling pas buat ngegambarin posisiku, kan?" "Jaga bicaramu!" "Tidak perlu dipermasalahkan, Aditama." Baskara Pradipta mengangkat sebelah tangannya, menghentikan kepanikan ayah Tiara dengan senyum tipis yang penuh kalkulasi. "Anak muda memang butuh ruang. Ayo kita bahas rincian audit di luar, biarkan Arlan dan Tiara mengobrol berdua." Tanpa bisa membantah, Tuan Aditama dan istrinya terpaksa keluar mengikuti langkah Baskara. Pintu ditutup rapat. Kini, hanya tersisa mereka berdua. Tiara menarik kursi tepat di sebelah Arlan. Bunyi decitan kaki kursi yang bergesekan dengan lantai terdengar memekakkan telinga. Ia menjatuhkan diri, menyilangkan kaki, lalu menopang dagu menatap pria di sebelahnya dengan tatapan meremehkan. "Jadi, lo robot korporat yang mau beli gue?" tembak Tiara langsung. Arlan sama sekali tidak menoleh. Ia melanjutkan memotong daging steak di piringnya dengan presisi yang memuakkan bagi Tiara. "Gue nanya sama lo, Arlan." Tiara mencondongkan tubuhnya, sengaja meniupkan aroma permen karet bercampur asap rokok dari jaketnya. "Berapa bokap gue jual gue ke elo? Karena asal lo tahu, gue mending mati daripada nikah sama pion korporat kayak lo." Arlan meletakkan pisau dan garpunya. Ia mengambil serbet, menyeka sudut bibirnya, lalu menoleh. Tatapannya benar-benar kosong, dingin, dan sama sekali tidak terintimidasi. "Udah selesai ngomongnya?" Suara bariton Arlan mengudara, rendah dan tanpa intonasi. Ego Tiara tersentil hebat. "Lo budek? Gue bilang gue nggak sudi nikah sama lo. Batalin pernikahan ini, atau gue bakal bikin hidup lo hancur." "Lo pikir gue milih lo?" Arlan menyandarkan punggungnya ke kursi. "Kalau bukan karena bokap lo yang ngemis minta jaminan ke bokap gue, gue bahkan nggak sudi buang waktu duduk semeja sama lo malam ini." "Bagus! Kalau gitu bilang ke bokap lo buat batalin!" "Batalin dan biarin rahasia keluarga gue dibongkar sama media bokap lo?" Arlan mendengus pelan, seolah sedang menertawakan lelucon bodoh. "Lo kelewat naif atau emang bodoh, Tiara? Ini transaksi. Gue butuh mulut media bokap lo bungkam, dan bokap lo butuh duit gue buat nahan kebangkrutannya. Lo cuma syarat administrasi." Dada Tiara kembang-kempis menahan emosi. Sepanjang hidupnya, setiap kali ia memberontak, orang-orang akan panik atau mengalah. Tapi cowok di depannya ini justru menguliti harga dirinya pakai logika. Kehabisan akal untuk menang debat, insting chaos Tiara mengambil alih. Ia mengangkat tangan tinggi-tinggi. "Mas!" panggil Tiara ke arah pelayan yang berjaga di sudut ruangan. "Bawain Tequila. Satu botol. Yang paling keras." Pelayan itu terkejut. Ia ragu-ragu melirik ke arah Arlan, meminta persetujuan. Arlan sama sekali tidak melarang. Pria itu justru mengangguk pelan. "Bawain. Sekalian gelasnya." Tiara menyeringai sinis saat pelayan itu pergi. Ia kembali menatap Arlan dengan tatapan menantang. "Bokap gue paling benci alkohol," ucap Tiara dengan nada kemenangan yang sudah ia reka di kepalanya. "Begitu dia balik ke ruangan ini dan lihat gue mabuk berantakan, batal nih acara. Dan bokap lo pasti jijik punya mantu kayak gue." Arlan menatap Tiara lurus-lurus. Tidak ada amarah di sana. Hanya tatapan lelah dari seorang pria dewasa yang sedang melihat anak TK melempar mainan. "Kalau lo pikir mabuk bakal bikin gue ilfeel dan ngebatalin kontrak, lo salah besar, Tiara." Alis Tiara bertaut. "Oh, ya?" "Hampir tiap minggu gue nyeret abang kandung gue yang overdosis keluar dari kelab malam," ucap Arlan datar, nada suaranya mengiris ruang udara di antara mereka dengan sangat tajam. "Gue terbiasa ngurusin pecandu, nutupin skandal narkoba, dan nyuap polisi biar abang gue nggak masuk penjara." Mata Tiara sedikit melebar. Ia tidak menduga jawaban itu akan keluar. "Jadi, ngadepin orang yang cuma pura-pura mabuk buat cari perhatian?" Arlan tersenyum miring—sebuah senyuman yang meremehkan telak. "Ini hiburan ringan buat gue." Pelayan datang meletakkan sebotol Tequila dan sebuah gelas kecil di atas meja. Arlan menunjuk botol itu dengan dagunya. "Silakan minum sampai tumbang. Lo mau muntah di jas gue atau banting gelas ini sekalipun, terserah. Paling besok pagi lo bangun dengan sakit kepala, dan sadar nama lo tetap bakal berubah jadi Pradipta bulan depan." Harga diri Tiara hancur lebur diinjak-injak realita. Tangannya bergetar menahan amarah yang mendidih hingga ke ubun-ubun. Triknya terbaca, pemberontakannya dianggap lelucon, dan parahnya, ia benar-benar kalah telak dari pria ini. "Sialan lo!" umpat Tiara. Dalam gerakan kilat yang didorong oleh emosi buta, Tiara menyambar gelas berisi air es di depannya. Niatnya cuma satu: menyiram wajah sok tenang Arlan agar pria itu meledak marah. Namun, sebelum air itu menyentuh wajahnya, tangan besar Arlan melesat membelah udara. Grep! Arlan menangkap pergelangan tangan Tiara tepat di udara. Cengkeramannya mengunci bagai borgol besi, memaksa gelas di tangan Tiara berhenti bergerak. Air es tumpah berceceran di atas meja kayu. "Akh! Lepasin, brengsek!" Tiara memekik tertahan, meronta keras mencoba menarik tangannya. Bukannya melepaskan, Arlan justru menarik pergelangan tangan Tiara dengan sentakan kuat yang tak kenal ampun. Tubuh Tiara terhuyung maju hingga perutnya membentur ujung meja. Wajah mereka kini berhadapan dalam jarak kurang dari satu jengkal. Napas Tiara tercekat. Sisi cuek Arlan lenyap tanpa sisa. Mata segelap malam milik pria itu kini menyorotkan aura tiran murni yang selama ini ia gunakan untuk menghancurkan musuh bisnisnya. "Lo pikir gue orang suci yang bakal diam aja lo mainin?" bisik Arlan rendah, suaranya menggesek telinga Tiara, membuat bulu kuduk gadis itu meremang. Tiara menelan ludah paksa. Jantungnya berdegup brutal. Tangannya yang terkunci di genggaman pria itu tiba-tiba terasa lemas. "Gue udah capek ngurusin sampah keluarga gue. Jangan sampai lo nambahin beban gue," desis Arlan, ibu jarinya menekan urat nadi Tiara tanpa belas kasihan. "Gue nggak butuh lo berubah jadi perempuan penurut. Gue cuma butuh lo jalani kesepakatan ini dan nggak bikin kekacauan di hidup gue. Paham?" BERSAMBUNG...Cuaca Jakarta terasa terik saat konvoi SUV hitam berlogo Pradipta Group itu memasuki pelataran lobi sebuah gedung apartemen mewah di kawasan SCBD. Pintu belakang terbuka, menampilkan Arlan yang turun lebih dulu, diikuti oleh Tiara. Kedatangan mereka di penthouse lantai teratas itu tidak disambut dengan kehangatan. Ketegangan yang membeku sejak dari Temanggung masih tertinggal pekat di antara mereka. Arlan melepaskan jasnya dan menyerahkannya kepada seorang staf rumah tangga yang menunduk hormat. Pria itu sudah memegang tablet yang diserahkan oleh Dimas, bersiap untuk langsung menuju kantor pusat dan membereskan krisis perusahaan yang tertunda. Namun, sebelum melangkah menuju pintu utama, Arlan memutar tubuhnya. Ia menatap Tiara yang baru saja duduk di sofa ruang tengah. "Mulai hari ini, pengamanan di penthouse dilipatgandakan," ucap Arlan datar, memecah keheningan. "Gue udah perintahkan Dimas buat nutup semua akses kartu lift selain punya gue dan staf khusus." Tiara menghentikan
Ciuman itu terputus secara sepihak saat suara petir meledak brutal tepat di atas area perkebunan. Keduanya menarik diri dengan gerakan tiba-tiba. Napas Arlan dan Tiara sama-sama terengah-engah, memburu oksigen yang terasa menipis di dalam gubuk sempit tersebut. Tiara langsung memalingkan wajahnya. Gadis itu mengeratkan kemeja kebesaran milik Arlan di bahunya, menatap kosong ke arah luar gubuk yang masih diguyur hujan badai. Kepalanya berputar cepat, setengah mati berusaha menata kembali kewarasannya dan mengumpulkan sisa gengsi yang baru saja hancur berantakan di bawah kungkungan suaminya. Di sebelahnya, Arlan mengusap wajahnya yang basah dengan telapak tangan secara kasar. Pria itu menyadari sepenuhnya bahwa ia baru saja menyeberangi batas profesional pernikahan yang ia buat sendiri sejak awal mereka sepakat mengikat janji. Hening yang sangat canggung dan tegang menyelimuti keduanya. Hanya suara hujan yang mendominasi. Arlan menoleh, menatap profil samping istrinya. Pria itu baru
BAB 20 Puing-puing pagar besi yang bengkok dan sisa pembakaran di depan area perluasan pabrik itu masih mengeluarkan bau gosong yang menyengat. Beberapa garis polisi melintang di sekitar lokasi kejadian, membatasi akses bagi siapa pun yang tidak berkepentingan. Arlan berjalan pelan menyusuri titik pusat bentrokan yang menewaskan satu nyawa tadi malam. Wajah pria itu datar, tanpa emosi, layaknya seseorang yang sedang meninjau proyek konstruksi. Dimas dan dua orang tim legal Pradipta Group berjalan mengikuti di belakangnya. "Kerusakan infrastruktur tidak separah yang gue perkirakan," ucap Arlan memecah keheningan. "Tapi pemberhentian operasional sementara ini yang bakal menguras uang perusahaan miliaran per hari." "Betul, Pak," timpal salah satu staf legal dengan cepat. "Tim kami sudah menyusun draf laporan untuk kepolisian pusat. Sesuai instruksi Bapak semalam, seluruh tanggung jawab atas insiden kekerasan fisik ini dialihkan ke perusahaan penyedia preman outsourcing. Kontrak m
Keesokan paginya, sarapan di teras belakang villa berlangsung singkat. Reynald meletakkan serbet ke atas meja, lalu menatap adiknya yang duduk berseberangan. "Acara semalam emang berantakan banget," ucap Reynald santai, memecah keheningan sarapan pagi itu. "Sampah-sampah di bawah udah lo suruh orang bersihin? Gue nggak mau lihat ada sisa kotoran pas turun nanti." Arlan menyesap kopi hitamnya dengan wajah datar. "Udah diberesin Dimas subuh tadi. Nggak ada jejak apa pun yang tersisa di area ini." Di ujung meja, Tiara meletakkan garpunya dengan anggun. Gadis itu membuka tas selempang kecil di pangkuannya. Ia mengeluarkan sebungkus rokok kretek ramping—salah satu lini premium khusus ekspor dari pabrik Pradipta—beserta sebuah pemantik emas. Cetrek. Ujung rokok menyala. Tiara menghembuskan asap tipis ke udara dengan gaya yang sangat natural. Reynald menatap Tiara, sedikit terkejut, namun sedetik kemudian pria itu tertawa kecil. "Gue lupa kalau putri tunggal keluarga Aditama punya cara
Satu jam kemudian, pesta rakyat itu berakhir. Rombongan kecil dari Pradipta Group kembali ke dalam mobil dan menempuh perjalanan singkat menuju villa. Setibanya di dalam bangunan berhawa hangat itu, Tiara langsung berpamitan masuk ke kamar tidur utama. Gadis itu tidak banyak bicara, hanya tersenyum tipis ke arah kakak iparnya. Tersisa Arlan dan Reynald di ruang tengah. Arlan berjalan menuju meja mini bar di sudut ruangan, menuangkan wiski ke dalam gelas kristal dengan gerakan yang sengaja diperlambat untuk menenangkan isi kepalanya. Di seberangnya, Reynald menjatuhkan tubuh ke sofa, menyalakan sebatang cerutu baru, dan menatap adiknya lekat-lekat. Riko baru saja melangkah keluar menuju pelataran, ditugaskan secara khusus oleh Reynald untuk menjemput salah satu penari Lengger tadi dan membawanya ke paviliun belakang. "Gue lihat jurnalis peliharaan lo tadi di pinggir lapangan," ucap Reynald menghembuskan asap tebal, memecah keheningan di antara mereka. Tangan Arlan yang sedang meme
Dua mobil SUV hitam pekat berhenti tepat di pelataran villa VIP Pradipta. Lampu sorot kendaraaan itu menembus kabut tipis Temanggung yang mulai turun menyelimuti lereng bukit. Arlan sudah berdiri menunggu di teras depan. Kemeja hitamnya yang beberapa menit lalu berantakan kini sudah terkancing rapi hingga ke leher, dilapisi oleh jaket musim dingin tebal berwarna gelap. Rambutnya juga sudah disisir ke belakang menggunakan sisa air di wastafel. Tidak ada satu pun jejak kekacauan yang tersisa di tubuhnya. Pintu mobil terbuka. Reynald turun lebih dulu. Pria itu mengenakan mantel panjang berwarna camel, merapatkan kerahnya menahan hawa dingin yang langsung menusuk tulang. Di belakangnya, Riko turun dengan wajah kelelahan sambil membawa satu koper kecil. Pintu penumpang sebelah kiri kemudian terbuka. Tiara melangkah keluar dengan anggun. Gadis itu mengenakan sweter turtleneck putih yang dipadukan dengan mantel wol berwarna abu-abu muda. Penampilannya benar-benar mencerminkan seorang putr







