Share

TERIKAT KONTRAK TUAN MUDA
TERIKAT KONTRAK TUAN MUDA
Penulis: ikediva

BAB 1

Penulis: ikediva
last update Tanggal publikasi: 2026-07-03 18:02:31

“Kamu harus menikahi putri tunggal keluarga Aditama. Tiara Aditama.”

Suara Baskara Pradipta membelah keheningan ruang kerja itu, tajam dan tanpa basa-basi.

Arlan Pradipta, yang baru saja duduk di seberang meja mahoni raksasa ayahandanya, terdiam selama beberapa detik. Ia menatap lekat wajah ayahnya, mencoba mencari satu kedutan otot yang menandakan bahwa pria tua itu sedang menguji kesabarannya. Namun nihil. Wajah Baskara sedingin dan sekeras pualam.

“Pa, Papa tidak sedang bercanda, kan?” Suara Arlan yang biasanya selalu terkontrol, kini meninggi satu oktaf. “Ini gila.”

“Ini bisnis.”

“Ini bukan sekadar bisnis, Pa! Tiara Aditama baru berusia dua puluh satu tahun.” Arlan berdiri kasar, menumpukan kedua tangannya di atas meja kerja ayahnya, mencondongkan tubuhnya ke depan. “Dia masih mahasiswi, dan reputasinya di luar sana hanya sebatas anak manja pembuat masalah. Kerjanya hanya memicu keributan dan menghamburkan uang. Bulan lalu videonya berdebat dengan polisi lalu lintas viral di mana-mana. Dan Papa memintaku menikah dengan anak pembuat onar itu?”

Baskara bersandar di kursi kulit kebesarannya, sama sekali tidak terpengaruh oleh ledakan amarah putranya. Pria paruh baya itu justru mengambil sebuah map cokelat tebal dan melemparnya melintasi meja. Map itu meluncur cepat dan berhenti tepat di depan ujung jari Arlan.

“Aditama Media sudah memegang semua bukti skandal kakakmu.”

Tanpa mengubah ekspresi stoiknya, Arlan membuka map tersebut. Matanya yang tajam menyapu deretan foto buram hasil jepretan paparazi di sebuah kamar hotel mewah, dan salinan tiket penerbangan satu arah menuju Paris. Di sudut kanan atas setiap lembar kertas, tercetak watermark transparan yang sangat ia kenal: Aditama Media – Divisi Investigasi.

Arlan menutup map itu dengan tenang, lalu mendorongnya kembali menjauh menggunakan satu jari.

“Nadine memang ceroboh karena melakukan kesalahan itu,” ucap Arlan dengan nada datar. “Tapi ini bukan akhir dari segalanya, Pa.”

Baskara melipat kedua tangan di atas perut, menatap putra bungsunya dengan sorot mata menilai. “Bukan akhir dari segalanya, katamu? Jika publik sampai tahu Nadine—putri kebanggaan keluarga Pradipta—tidur dengan laki-laki lain, lalu saat hendak dikawinkan untuk menutupi aibnya dia justru menolak dan kabur ke Prancis lepas tangan, saham perusahaan kita akan hancur lebur saat bursa efek dibuka besok pagi.”

“Biar aku yang selesaikan,” jawab Arlan mutlak. Otaknya sebagai penyelesai masalah utama di Pradipta Group langsung bekerja menyusun strategi krisis. “Aku akan menghubungi redaksi Aditama malam ini juga. Kita beli hak eksklusif beritanya sebelum mereka naik cetak. Berapa pun harga yang mereka minta, aku akan keluarkan dari dana taktis pribadiku.”

“Kamu pikir Aditama Media bisa dibungkam hanya dengan selembar cek?”

“Kalau mereka menolak uang, kita tekan dari jalur lain.” Arlan membalas tatapan ayahnya tanpa ragu sedikit pun. “Pradipta Group menguasai mayoritas saham di perusahaan distributor kertas langganan mereka. Jika aku mencabut subsidi kita besok pagi, mereka pasti berpikir dua kali untuk mencari masalah dengan keluarga ini.”

Baskara mengetukkan jari telunjuknya ke sandaran kursi secara perlahan. Bunyinya berirama konstan di tengah ruangan yang kedap suara.

“Ini Aditama, Arlan. Bukan media gosip jalanan yang bisa kamu kendalikan dengan ancaman boikot bahan baku,” ucap Baskara dingin. “Tuan Aditama dan Papa sudah bertemu secara pribadi tadi malam.”

Alis Arlan bertaut tipis. “Secepat itu? Apa yang mereka minta? Proyek mega-infrastruktur kita di Kalimantan? Atau posisi komisaris di dua anak perusahaan baru kita?”

“Bukan keduanya. Kami sepakat untuk saling menutup mulut dan menyatukan kekuatan,” ucap Baskara tenang. Pria paruh baya itu menarik sebatang cerutu dari kotak kayu di atas meja. “Tuan Aditama akan memastikan semua dokumen rahasia tentang skandal Nadine hancur menjadi abu malam ini juga. Tidak akan ada satu pun jurnalis atau editornya yang berani bersuara.”

Arlan sangat tahu, di dunia bisnis tingkat atas, tidak ada musuh yang mau memadamkan api secara cuma-cuma. Pasti ada harga selangit yang harus dibayar.

“Dan sebagai gantinya?” tanya Arlan pelan, suaranya memberat. “Apa yang harus Pradipta serahkan?”

“Kesepakatan sebesar dan sefatal ini tidak cukup hanya diikat dengan meterai di atas selembar kontrak bisnis, Arlan. Tuan Aditama butuh jaminan permanen. Jaminan yang tidak bisa dibatalkan oleh fluktuasi pasar saham atau pergantian dewan direksi.”

Firasat buruk yang sedari tadi merayap perlahan ke tengkuk Arlan kini terasa membekukan aliran darahnya.

“Justru karena Tiara itu pembuat onar, Tuan Aditama kewalahan mengurus putrinya sendiri,” lanjut Baskara, memotong cerutunya dengan santai. “Dia butuh seseorang yang bisa mengendalikan anak itu. Dan siapa lagi penyelesai masalah terbaik yang keluarga ini miliki selain dirimu? Itulah mengapa pernikahan ini harus terjadi.”

Rahang Arlan mengeras hebat. “Suruh Reynald. Atau Devan.”

“Kakak-kakakmu semuanya sudah menikah,” jawab Baskara mutlak. “Sekarang giliranmu.”

“Pernikahan bukanlah sebuah perlombaan, Pa!” kilah Arlan tajam, urat di lehernya mulai menonjol. “Dan pastinya bukan alat tukar untuk menutupi aib keluarga!”

Arlan menegakkan tubuhnya, menatap ayahnya dengan kemarahan yang tidak lagi ditutupi. “Reynald menikahi Shinta demi memonopoli lahan pesisir utara. Lalu Devan? Kenapa bukan dia yang menceraikan istrinya dan menikahi anak manja itu?!”

“Devan?” Baskara mendengus meremehkan. “Dengan segala rekam jejak kasus narkoba dan kekacauan yang selalu dia buat di klub malam, ada perempuan dari keluarga terhormat yang mau dengannya saja sudah syukur. Pernikahannya dengan putri direktur tambang kemarin itu saja sudah untung-untungan untuk menutupi reputasinya yang hancur.”

“Tidak mungkin tidak ada yang mau, Pa,” potong Arlan tidak terima. “Nama belakang kita adalah Pradipta. Mau seburuk apa pun reputasi Devan, kekayaan dan kekuasaan keluarga kita bisa menutupinya! Keluarga mana pun akan rela menyerahkan anak perempuannya!”

Arlan menarik napas kasar, membiarkan rasa frustrasinya meledak. “Lagipula... Nadine yang gila sampai berani tidur dengan laki-laki lain! Lalu saat mau dinikahkan untuk menutupi aibnya, dia malah menolak dan kabur ke Prancis! Kesalahannya luar biasa fatal. Kenapa aku yang harus mengorbankan sisa hidupku untuk membayar kelakuan memalukan itu?!”

“Karena ini tugasmu sebagai seorang Pradipta.”

Jawaban Baskara meluncur mulus, tanpa sedikit pun keraguan atau rasa bersalah. Kata-kata itu diucapkan layaknya sebuah doktrin absolut.

“Kapan aku berhenti menjadi alat untuk membereskan kekacauan di keluarga ini?” tanya Arlan, suaranya kini mendesis penuh kebencian. “Aku bisa bekerja enam belas jam sehari untuk perusahaan ini, Pa. Aku bisa membereskan kekacauan Devan setiap kali dia tertangkap. Aku bisa menutupi aib Nadine serapi mungkin. Tapi aku tidak akan menjual sisa hidup pribadiku untuk menjadi pengasuh bagi anak Tuan Aditama.”

“Kamu akan berhenti,” ucap Baskara datar, “sampai keluarga ini tidak lagi membutuhkanmu.”

Arlan merapikan jasnya dengan gerakan kaku. Pertahanan logikanya sudah habis. Berdebat dengan Baskara Pradipta sama halnya dengan berbicara pada dinding baja.

“Aku menolak.”

Tanpa menunggu balasan atau izin, Arlan membalikkan badan. Ia melangkah menuju pintu kayu berukir raksasa di ujung ruangan. Keputusannya sudah mutlak. Ia tidak akan mundur. Kekayaan dan aset bisa dicari, tapi ia menolak lehernya dirantai dalam sebuah pernikahan transaksi.

Langkah pertamanya mantap.

Langkah keduanya tegas.

Namun pada langkah ketiga, sebuah kalimat menghentikannya layaknya peluru timah yang menembus punggung.

“Lalu, bagaimana dengan nasib Celine?”

Tubuh Arlan membeku seketika. Tangannya yang baru saja terangkat ke udara untuk meraih kenop pintu, terhenti dan menggantung kaku.

Di belakangnya, terdengar suara tuangan cairan dari botol kristal. Arlan menoleh perlahan dengan gerakan patah-patah. Ayahnya sedang menuangkan wiski ke dalam gelas dengan santai, seolah baru saja menanyakan menu makan malam.

“Kenapa berhenti?” Baskara menyesap minumannya pelan. Matanya yang setajam elang menembus langsung ke dasar pertahanan putranya. “Kamu menolak pernikahan ini karena Tiara masih kekanak-kanakan, atau... karena kamu sedang sibuk menjaga perasaan perempuan kelas pekerja itu?”

Jantung Arlan seketika memompa darah dengan kecepatan yang menyakitkan. Kepalanya berdenyut keras. “Jangan bawa dia ke dalam urusan ini, Pa.”

“Mengapa tidak?” Baskara meletakkan gelasnya dengan bunyi dentang yang menggema tajam. “Celine Amelie. Dua puluh empat tahun. Seorang jurnalis independen yang sok idealis. Ayahnya mantan mandor di proyek kita, ibunya hanya guru honorer dengan gaji tidak seberapa. Kamu pikir Papa buta selama ini? Kamu pikir Papa tidak tahu soal apartemen mewah yang kamu sewa diam-diam untuknya di daerah Selatan?”

Napas Arlan tertahan. Rasanya seperti paru-parunya diremas kuat-kuat oleh tangan tak kasatmata.

Selama tiga tahun terakhir, ia merawat dan menyembunyikan eksistensi Celine dengan sangat berhati-hati. Ia memastikan tidak ada satu pun transaksi keuangan atas namanya yang terhubung dengan perempuan itu. Celine adalah satu-satunya tempat ia bisa bernapas lega. Satu-satunya tempat ia merasa menjadi manusia biasa, bukan ‘Arlan sang Penyelamat Keluarga’ atau ‘Arlan sang Eksekutor’.

“Celine tidak ada hubungannya dengan Pradipta,” geram Arlan. Nada suaranya kini merendah, bergetar hebat menahan amarah yang sewaktu-waktu bisa meledak menghancurkan ruangan itu.

“Dia akan memiliki hubungan yang sangat erat dengan Pradipta, jika kamu menjadikannya alasan untuk menentang keputusan Papa.”

Aura Baskara menggelap seketika. Pria paruh baya itu bangkit dari kursinya, berjalan perlahan mengitari meja, lalu berhenti berhadapan langsung dengan putra bungsunya.

“Pa, aku peringatkan—“

“Dengarkan Papa baik-baik, Arlan,” desis Baskara. Suaranya tidak membentak, namun otoritas di dalamnya mutlak dan mematikan. “Selama ini Papa membiarkanmu bermain-main dengan perempuan itu karena Papa pikir kamu tahu batasanmu. Tapi jika kamu sampai melupakan tanggung jawab utamamu pada keluarga ini...”

“Pa, jangan sentuh dia!”

“Maka pilihlah, Arlan!” potong Baskara tajam, menghancurkan sisa-sisa perlawanan putranya. “Nikahi Tiara Aditama, amankan perusahaan ini, dan Celine akan tetap aman dengan hidupnya. Atau...”

Baskara tersenyum tipis. Sebuah senyuman predator yang sangat mengerikan.

“Atau kamu bisa keluar dari ruangan ini sekarang, tolak pernikahannya, dan biarkan Papa yang menghancurkan hidup Celine dan keluarganya tanpa sisa malam ini juga.”

Mata Arlan melebar. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat di sisi tubuh hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangan. Ia ingin melawan, ia ingin menghancurkan sesuatu. Tapi pria di depannya adalah monster sesungguhnya yang menciptakan dirinya.

“Kamu tahu persis, Papa bisa memastikan ayahnya tidak akan pernah diterima bekerja di proyek mana pun di negara ini. Papa bisa membuat ibunya dipecat, dan memastikan karier jurnalis idealis kekasihmu itu tamat. Hanya butuh satu panggilan telepon dari ruangan ini.”

Itu bukan sekadar gertakan emosional dari seorang ayah yang marah. Itu adalah vonis hukuman mati secara sosial dan finansial. Arlan tahu persis sejauh mana kekejaman ayahnya bisa merambat. Dan Arlan sadar penuh, kekuatan dan pengaruhnya saat ini belum cukup besar untuk bisa melindungi Celine sepenuhnya dari cengkeraman tangan Baskara Pradipta.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, seorang pemecah masalah seperti Arlan tidak bisa menemukan jalan keluar. Ia mati kutu di depan ayahnya sendiri. Menyelamatkan keluarganya berarti mengorbankan kebebasannya. Namun mengorbankan Celine demi egonya... itu adalah hal terakhir yang akan ia biarkan terjadi.

Perlahan, punggung tegak Arlan merosot. Bahunya turun, memikul beban kekalahan yang terlampau berat. Semua argumen dan perlawanannya hancur lebur detik itu juga. Rahangnya mengeras saat ia menelan kekalahannya.

“Kapan?” Suara Arlan terdengar serak, parau, dan nyaris seperti bisikan. “...Kapan pernikahannya dilangsungkan?”

Seulas senyum puas mengembang sempurna di sudut bibir Baskara. Ia mengangkat sebelah tangannya, menepuk bahu putranya dua kali. Sebuah gestur kebanggaan yang bagi Arlan terasa seperti tamparan telak di wajahnya.

“Bulan depan,” jawab Baskara ringan. Ia memutar tubuhnya, berjalan kembali menuju kursinya dengan aura kemenangan absolut. “Dan besok malam, pastikan kamu datang ke Hotel Mulia untuk makan malam pertemuan keluarga. Berpakaianlah yang rapi. Jangan membuat Papa malu di depan calon ayah mertuamu.”

BERSAMBUNG...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • TERIKAT KONTRAK TUAN MUDA   BAB 12

    Arlan menginjak pedal rem. Maybach hitamnya berhenti di belakang antrean lampu merah perempatan Senopati. Di kursi penumpang belakang, Nyonya Aditama terus mengusap-usap perut rata Tiara dengan raut wajah berbunga-bunga. "Mama apaan sih, geli tahu," keluh Tiara. Ia menepis tangan ibunya dan menyandarkan kepala ke kaca jendela, menahan sisa pusing di kepalanya. "Aku itu beneran cuma masuk angin, Ma. Nggak usah lebay sampai ditarik ke Brawijaya segala." "Heh, mulutnya dijaga! Pamali ibu hamil ngomong sembarangan," omel Nyonya Aditama, kembali menarik lengan Tiara agar duduk tegak. "Orang hamil muda itu emang bawaannya suka denial, Ra. Udah, kamu diam aja. Pokoknya kita pastikan ke Silvi sekarang." Arlan melirik dari kaca spion tengah. Matanya bertemu dengan mata Tiara. Keduanya sama-sama memasang ekspresi seperti narapidana yang sedang diantar menuju ruang eksekusi. Kepergian Tuan Aditama untuk rapat mendadak lima belas menit yang lalu membuat pertahanan mereka runtuh total. Di dal

  • TERIKAT KONTRAK TUAN MUDA   BAB 11

    Pukul delapan pagi.Arlan duduk di ujung sofa ruang tengah. Tangan kirinya memegang cangkir kopi yang sudah tandas, sementara tangan kanannya sibuk menggeser layar tablet. Ia mengusap pangkal hidungnya sekilas—menahan letih akibat tidur kurang dari tiga jam semalam—namun postur tubuhnya tetap tegak.Suara bel pintu utama berbunyi tiga kali berturut-turut.Arlan meletakkan tabletnya ke meja. Ia bangkit berdiri dan berjalan menuju panel interkom di dinding. Alisnya sedikit terangkat saat melihat wajah dua orang yang berdiri di luar melalui layar kamera pengawas. Ia segera menekan tombol pembuka kunci digital dan menarik gagang pintu."Pagi, Arlan," sapa Tuan Aditama tenang. Pria paruh baya itu berdiri mengenakan kemeja polo dan celana kain yang rapi.Di sebelahnya, Nyonya Aditama menyusul masuk sambil menenteng tas kertas berlogo toko roti premium. Kacamata hitam disematkan di atas kepalanya. Wanita itu langsung berjalan melewati Arlan menuju area dapur bersih dengan langkah percaya dir

  • TERIKAT KONTRAK TUAN MUDA   BAB 10

    Layar ponsel di tangan Tiara menunjukkan pukul 21.50. Sepuluh menit sebelum batas jam malam yang ditentukan Arlan semalam.​Tiara menatap layar itu lekat-lekat. Tidak ada satu pun pesan atau panggilan masuk dari suaminya. Tanpa ragu sedikit pun, ia menekan tombol daya di sisi kanan ponselnya, menggeser layarnya, dan mematikan perangkat tersebut sepenuhnya. Ia kemudian melempar benda pipih itu ke dalam tas kecilnya.​"Gila. Lo beneran matiin hape, Ti?"​Vanya yang sedang duduk menyilang kaki di atas karpet ruang tengah townhouse-nya menatap Tiara. Ia meletakkan botol vodka ke atas meja. "Sumpah, kalau cowok lo nyariin, nyusahin kita-kita nggak nih?"​"Biarin aja," jawab Tiara angkuh. Ia berdiri menghadap cermin full-body, merapikan gaun beludru hitam tanpa lengan milik Vanya yang sengaja ia pinjam. "Gue bukan tahanan kota yang harus absen napas setiap jam sepuluh. Dia pikir dia siapa bisa ngunci gue di penthouse?"​Tasya berjalan menghampiri Tiara dari belakang. Ia menyisir rambut panj

  • TERIKAT KONTRAK TUAN MUDA   BAB 9

    Kafe premium di area fakultas bisnis itu cukup ramai saat Tiara melangkah masuk. Ia melempar tas desainer di bahunya ke atas meja bundar di sudut ruangan, lalu menjatuhkan diri ke kursi sofa dengan helaan napas panjang yang sarat akan rasa frustrasi.​Di hadapannya, Tasya nyaris tersedak es matcha latte-nya. Gadis dengan rambut diikat ponytail tinggi itu langsung mencondongkan tubuhnya ke depan. Matanya yang bulat memancarkan rasa penasaran tingkat tinggi.​"Gila! Sumpah ya, Ti, gue kira lo bakal bolos sebulan buat honeymoon ke Swiss atau Maldives," cerocos Tasya tanpa jeda. Tangannya menopang dagu. "Gimana rasanya bangun tidur di penthouse triliuner? Arlan Pradipta aslinya sedingin di TV nggak, sih? Atau dia tiba-tiba soft boy kalau lagi berduaan?"​Di sebelah Tasya, Vanya hanya tersenyum simpul. Gadis dengan rambut panjang sedikit bergelombang itu menyesap kopi hitamnya dengan tenang.​"Kasih napas anjir temen lo," tegur Vanya santai, menatap wajah Tiara yang terlihat kekurangan tid

  • TERIKAT KONTRAK TUAN MUDA   BAB 8

    Pukul sebelas malam, bunyi beep pendek dari panel kunci digital memecah keheningan di dalam penthouse.Pintu utama terbuka. Arlan melangkah masuk. Ia meletakkan tas kerja kulitnya ke atas meja konsol dekat pintu dengan sedikit bantingan, lalu melepas jas abunya dan menyampirkannya sembarangan di sandaran kursi pantri.Kemeja pria itu sudah kusut di bagian siku dan punggung. Rambutnya tidak lagi seapi pagi tadi. Ia berjalan menuju dapur bersih, mengambil gelas, dan menuangkan air dingin dari dispenser.Saat Arlan berbalik sambil meminum airnya, langkahnya terhenti.Lampu gantung utama di ruang tengah sudah dimatikan. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari lampu pilar di sudut ruangan. Di bawah cahaya temaram itu, Tiara duduk bersilang kaki di atas sofa single. Ia mengenakan piyama satin panjang berwarna biru gelap. Sebuah tablet menyala di pangkuannya, dan secangkir teh yang sudah setengah kosong terletak di atas meja kaca.Mendengar suara langkah Arlan, Tiara mematikan layar tabletny

  • TERIKAT KONTRAK TUAN MUDA   BAB 7

    Mobil Maybach hitam itu berhenti tepat di depan teras kediaman keluarga Pradipta di kawasan Menteng.Seorang petugas keamanan berseragam langsung membukakan pintu penumpang. Tiara turun. Pakaiannya rapi dan riasan wajahnya berhasil menutupi sisa lelah akibat kurang tidur semalam.Arlan keluar dari pintu kemudi. Ia menyerahkan kunci mobil pada petugas valet, lalu berjalan bersisian dengan Tiara memasuki rumah. Mereka melangkah melewati pintu utama tanpa saling bicara, langsung menuju ruang makan keluarga di sayap kanan bangunan.Di sana, Baskara Pradipta sudah duduk di ujung meja. Ayah Tiara, Tuan Aditama, duduk di sisi kanannya. Percakapan kedua pria paruh baya itu terhenti begitu Arlan dan Tiara masuk."Pengantin baru kita," sapa Baskara. Ia meletakkan cangkir kopinya. "Duduk. Kita baru saja mau mulai."Arlan menarik salah satu kursi. Tiara duduk lebih dulu, disusul Arlan di kursi sebelahnya. Mereka berhadapan langsung dengan Tuan Aditama. Beberapa pelayan rumah segera bergerak mengh

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status