LOGINMakan malam antara keluarga Pradipta dan Aditama akhirnya usai. Setelah hampir dua jam penuh dengan obrolan bisnis, tawa basa-basi, dan negosiasi yang menguras tenaga, kedua keluarga konglomerat itu berpisah di lobi Hotel Mulia.
Tiara sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil keluarganya. Wajah gadis itu masih ditekuk rapat, menyimpan amarah yang belum tuntas sejak perdebatan mereka berdua di ruangan VIP tadi. Namun, Arlan sama sekali tidak memedulikannya. Baginya, urusan dengan perempuan bernama Tiara itu sudah selesai. Garis batas sudah ditarik dan kesepakatan keluarga sudah dikunci mutlak. Arlan berjalan dengan langkah tegap menuju Alphard hitamnya yang sudah menunggu di pelataran lobi. Supir pribadinya bergegas turun dan membukakan pintu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Arlan masuk dan duduk di kursi penumpang belakang. Supir itu kembali ke balik kemudi, melirik bosnya dari kaca spion tengah. "Mau ke mana, Pak? Langsung pulang ke rumah Menteng?" Arlan menyandarkan punggungnya ke jok kulit yang dingin. Ia memejamkan mata rapat-rapat, menarik ikatan dasinya hingga melonggar, lalu membuka dua kancing kemeja teratasnya. Rasa muak dan lelah membaur menjadi satu, menekan dadanya sampai ia merasa sulit bernapas. "Ke Senopati," jawab Arlan. Suaranya serak, terdengar sangat lelah. "Baik, Pak." Mobil hitam itu mulai melaju, membelah jalanan ibu kota yang masih ramai. Di dalam kabin yang kedap suara, Arlan memijat pangkal hidungnya yang berdenyut pelan. Menghadapi dewan direksi yang sulit jauh lebih mudah dibandingkan harus berhadapan dengan ayahnya sendiri. Baskara Pradipta tidak pernah sekadar menggertak. Jika pria tua itu mengatakan akan menghancurkan hidup seseorang, maka besok pagi orang tersebut dipastikan kehilangan segalanya. Dan malam ini, sasaran tembak Baskara adalah satu-satunya manusia yang selama tiga tahun terakhir membuat Arlan tetap waras di tengah tekanan korporat. Perjalanan menuju kawasan Senopati malam itu terasa seperti perjalanan menuju ruang eksekusi. Arlan tahu persis, begitu ia membuka pintu apartemen itu nanti, ia harus menghancurkan tempat pelariannya dengan tangannya sendiri. Tiga puluh menit kemudian, Arlan menempelkan kartu aksesnya pada panel pintu apartemen di lantai delapan. Bunyi klik pelan terdengar, disusul pintu yang terbuka. Celine sedang menunduk di meja makan, sibuk menyusun berlembar-lembar berkas investigasi LSM-nya. Mendengar suara pintu ditutup, perempuan itu menoleh. Senyum tipis otomatis terbit di wajahnya yang bersih dari riasan. "Gimana dinner keluarganya?" tanya Celine dengan nada kasual. Ia meletakkan pulpennya. Arlan tidak langsung menjawab. Pria itu berdiri kaku di ambang ruang tengah. Kemejanya berantakan dan sorot matanya terlihat hancur. Alih-alih memberikan penjelasan, Arlan melangkah cepat. Ia langsung menarik pinggang Celine, merengkuh perempuan itu ke dalam pelukannya dengan sangat erat. Arlan menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Celine, memeluknya seperti orang yang baru saja kehilangan segalanya. Celine terkejut sesaat, namun ia tidak memberontak. Tangan kirinya terangkat perlahan, menepuk punggung Arlan dengan pelan. "Lan? Lo kenapa?" tanya Celine tenang. Ia tidak terdengar panik, melainkan langsung membaca situasi. "Ada masalah?" Arlan memejamkan matanya, menarik napas panjang, lalu memaksa dirinya melepaskan pelukan itu secara sepihak. Ia melangkah mundur, menciptakan satu meter jarak fisik di antara mereka. "Kita harus berhenti, Cel," ucap Arlan parau. Ia menatap lurus ke mata perempuan itu. Tangan Celine yang sebelumnya menepuk punggung Arlan perlahan turun ke sisi tubuhnya. Ekspresi di wajahnya berubah kaku. Ia menatap Arlan dalam diam selama beberapa detik, sebelum akhirnya menangkap inti masalah dengan logika jurnalisnya. "Bokap lo tahu soal gue?" tembak Celine langsung ke sasaran. Arlan mengangguk pelan. "Semuanya. Apartemen ini, kerjaan lo, sampai latar belakang bapak sama ibu lo di kampung." Celine menelan ludah pelan. Ia tidak berteriak histeris atau melempar barang ke arah Arlan. Matanya tidak lepas menatap wajah pria di depannya, bersiap mendengarkan hantaman realita berikutnya. "Dia maksa gue nikah sama perempuan lain," lanjut Arlan datar, menyampaikan beban kotor yang tidak bisa ia hindari. "Tiara Aditama. Papa butuh jaringan media mereka buat nutup skandal besar perusahaan. Kalau gue nolak... dia bakal pastiin bapak lo nggak bisa kerja lagi di proyek mana pun, dan ibu lo dipecat dari sekolahnya." Mendengar nama keluarga konglomerat itu disebut, Celine membuang napas pelan melalui hidung. Perempuan itu tersenyum getir, sebuah senyum realistis dari seseorang yang sangat paham tentang kejamnya dunia yang Arlan tinggali. "Aditama Media. Harga tukar yang masuk akal buat nyelamatin nama Pradipta," gumam Celine tenang. "Cepat atau lambat hari ini pasti datang kan, Lan? Kita berdua udah tahu risikonya dari awal." "Cel, dengerin gue dulu," potong Arlan cepat. "Pernikahan ini cuma sebatas kontrak dua tahun. Selesai urusan perusahaan, gue bakal langsung ceraiin dia." Arlan kemudian merogoh saku bagian dalam jasnya. Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dan meletakkannya di atas meja makan, tepat di sebelah tumpukan dokumen investigasi milik Celine. "Gue udah urus semuanya sore ini," jelas Arlan, berusaha menekan keputusasaannya dengan bertindak taktis layaknya seorang eksekutif. "Kepemilikan apartemen ini udah gue balik nama jadi atas nama lo. Di dalam amplop itu ada buku tabungan baru sama kartu akses yang udah gue pisahin dari rekening Pradipta. Papa nggak bakal bisa ngelacak. Ini buat jaminan hidup lo sama orang tua lo selama—" "Stop." Kata tunggal itu meluncur pelan, namun nadanya sangat tajam menembus ulu hati. Arlan otomatis menutup mulutnya. Ia terdiam kaku. Celine menatap amplop cokelat itu sejenak, lalu mengangkat pandangannya untuk menatap langsung ke manik mata Arlan. Tidak ada isak tangis, hanya kekecewaan mendalam yang terpancar dari wajah perempuan mandiri itu. "Lo anggap gue apa, Lan?" tanya Celine dingin. "Simpanan yang lagi lo kasih pesangon karena masa sewanya habis?" "Ini bukan pesangon, Cel! Ini kompensasi biar lo tetap aman," bantah Arlan. Ia berusaha membuat perempuan itu mengerti isi kepalanya. "Gue cuma mau mastiin kehidupan lo terjamin selama gue nggak bisa di sini nemenin lo." "Gue bakal jauh lebih aman kalau lo keluar dari sini sekarang juga," balas Celine tanpa ragu. Celine menatap Arlan dengan sorot mata yang terasa sangat jauh. Dinding kebanggaannya sebagai perempuan yang bekerja keras dengan keringat sendiri terbangun kokoh seketika. "Gue nemenin lo tiga tahun ini bukan karena gue nunggu buat dikasih apartemen atau kartu kredit, Arlan," desis Celine tajam. "Gue sadar diri posisi gue dari awal. Kita nggak punya status apa-apa selain gue nyaman dan lo butuh tempat lari dari tekanan keluarga lo." Arlan terdiam. Kata-kata Celine membungkam logikanya. Status abu-abu mereka selama ini akhirnya diucapkan secara gamblang, tepat di saat hubungan itu harus berakhir. "Jadi lo nggak perlu ngerasa utang budi sampai harus repot-repot ngasih jaminan hidup buat gue," lanjut Celine. Perempuan itu menyambar amplop cokelat tebal itu dari atas meja. Tanpa ragu, ia melangkah maju dan menyodorkannya kembali ke dada Arlan dengan sedikit dorongan. "Gue jurnalis. Gue bisa biayain hidup gue sendiri tanpa sepeser pun uang dari Pradipta," pungkas Celine tegas. Arlan menatap wajah perempuan di depannya dengan rasa frustrasi yang perlahan memuncak. Ia benci menjadi pihak yang tidak bisa melakukan apa-apa selain melarikan diri. "Terus gue harus apa?!" suara Arlan sedikit naik, memecah kesunyian ruangan itu. "Ninggalin lo gitu aja tanpa jaminan apa-apa pas bokap bisa kapan aja nargetin lo?! Gue cuma mau bantu lo, Celine! Gue sayang sama lo!" Mata Celine akhirnya berkaca-kaca. Namun perempuan itu mengangkat dagunya tinggi-tinggi, menolak meneteskan air mata kelemahannya di depan laki-laki ini. "Kalau lo beneran sayang sama gue... pergi sekarang," ucap Celine pelan namun mutlak. Ia menjatuhkan vonis terakhir yang memutuskan semua ikatan di antara mereka. "Urus perusahaan lo, keluarga lo, dan calon istri lo. Anggap urusan kita selesai di sini." Arlan terdiam lama di tempatnya berdiri. Idealisme dan kemandirian wanita di depannya ini terlalu tebal untuk bisa ditembus dengan uang atau janji manis. Perlahan, dengan tangan yang terasa mati rasa, Arlan mengambil amplop cokelat itu dari tangan Celine. Malam ini, logika bisnis dan jabatannya sama sekali tidak berguna di dalam ruangan ini. "Maafin gue, Cel," gumam Arlan pelan. Pria itu berbalik. Ia berjalan perlahan menuju pintu utama dan melangkah keluar. Pintu kayu berdesain modern itu tertutup rapat, menyisakan bunyi klik pelan yang memisahkan mereka untuk selamanya. Di dalam ruangan yang mendadak terasa sangat luas dan sepi, pertahanan Celine tidak sepenuhnya runtuh. Perempuan itu tidak menangis histeris atau merosot ke lantai. Ia hanya berdiri mematung menatap pintu, memejamkan mata kuat-kuat membiarkan satu tetes air mata jatuh melewati pipinya. Celine membuang napas gemetar, lalu berbalik kembali melihat ke arah meja kerjanya yang berantakan. Ia harus menyelesaikan laporan pekerjaannya malam ini, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Sementara itu, di luar apartemen, Arlan berjalan menyusuri lorong panjang dengan tatapan kosong. Sang Penyelamat Keluarga berhasil mengamankan perusahaannya sekaligus mematuhi ancaman ayahnya malam ini. Namun sebagai bayarannya, Arlan kehilangan satu-satunya tempat di mana ia bisa menjadi manusia seutuhnya.Cuaca Jakarta terasa terik saat konvoi SUV hitam berlogo Pradipta Group itu memasuki pelataran lobi sebuah gedung apartemen mewah di kawasan SCBD. Pintu belakang terbuka, menampilkan Arlan yang turun lebih dulu, diikuti oleh Tiara. Kedatangan mereka di penthouse lantai teratas itu tidak disambut dengan kehangatan. Ketegangan yang membeku sejak dari Temanggung masih tertinggal pekat di antara mereka. Arlan melepaskan jasnya dan menyerahkannya kepada seorang staf rumah tangga yang menunduk hormat. Pria itu sudah memegang tablet yang diserahkan oleh Dimas, bersiap untuk langsung menuju kantor pusat dan membereskan krisis perusahaan yang tertunda. Namun, sebelum melangkah menuju pintu utama, Arlan memutar tubuhnya. Ia menatap Tiara yang baru saja duduk di sofa ruang tengah. "Mulai hari ini, pengamanan di penthouse dilipatgandakan," ucap Arlan datar, memecah keheningan. "Gue udah perintahkan Dimas buat nutup semua akses kartu lift selain punya gue dan staf khusus." Tiara menghentikan
Ciuman itu terputus secara sepihak saat suara petir meledak brutal tepat di atas area perkebunan. Keduanya menarik diri dengan gerakan tiba-tiba. Napas Arlan dan Tiara sama-sama terengah-engah, memburu oksigen yang terasa menipis di dalam gubuk sempit tersebut. Tiara langsung memalingkan wajahnya. Gadis itu mengeratkan kemeja kebesaran milik Arlan di bahunya, menatap kosong ke arah luar gubuk yang masih diguyur hujan badai. Kepalanya berputar cepat, setengah mati berusaha menata kembali kewarasannya dan mengumpulkan sisa gengsi yang baru saja hancur berantakan di bawah kungkungan suaminya. Di sebelahnya, Arlan mengusap wajahnya yang basah dengan telapak tangan secara kasar. Pria itu menyadari sepenuhnya bahwa ia baru saja menyeberangi batas profesional pernikahan yang ia buat sendiri sejak awal mereka sepakat mengikat janji. Hening yang sangat canggung dan tegang menyelimuti keduanya. Hanya suara hujan yang mendominasi. Arlan menoleh, menatap profil samping istrinya. Pria itu baru
BAB 20 Puing-puing pagar besi yang bengkok dan sisa pembakaran di depan area perluasan pabrik itu masih mengeluarkan bau gosong yang menyengat. Beberapa garis polisi melintang di sekitar lokasi kejadian, membatasi akses bagi siapa pun yang tidak berkepentingan. Arlan berjalan pelan menyusuri titik pusat bentrokan yang menewaskan satu nyawa tadi malam. Wajah pria itu datar, tanpa emosi, layaknya seseorang yang sedang meninjau proyek konstruksi. Dimas dan dua orang tim legal Pradipta Group berjalan mengikuti di belakangnya. "Kerusakan infrastruktur tidak separah yang gue perkirakan," ucap Arlan memecah keheningan. "Tapi pemberhentian operasional sementara ini yang bakal menguras uang perusahaan miliaran per hari." "Betul, Pak," timpal salah satu staf legal dengan cepat. "Tim kami sudah menyusun draf laporan untuk kepolisian pusat. Sesuai instruksi Bapak semalam, seluruh tanggung jawab atas insiden kekerasan fisik ini dialihkan ke perusahaan penyedia preman outsourcing. Kontrak m
Keesokan paginya, sarapan di teras belakang villa berlangsung singkat. Reynald meletakkan serbet ke atas meja, lalu menatap adiknya yang duduk berseberangan. "Acara semalam emang berantakan banget," ucap Reynald santai, memecah keheningan sarapan pagi itu. "Sampah-sampah di bawah udah lo suruh orang bersihin? Gue nggak mau lihat ada sisa kotoran pas turun nanti." Arlan menyesap kopi hitamnya dengan wajah datar. "Udah diberesin Dimas subuh tadi. Nggak ada jejak apa pun yang tersisa di area ini." Di ujung meja, Tiara meletakkan garpunya dengan anggun. Gadis itu membuka tas selempang kecil di pangkuannya. Ia mengeluarkan sebungkus rokok kretek ramping—salah satu lini premium khusus ekspor dari pabrik Pradipta—beserta sebuah pemantik emas. Cetrek. Ujung rokok menyala. Tiara menghembuskan asap tipis ke udara dengan gaya yang sangat natural. Reynald menatap Tiara, sedikit terkejut, namun sedetik kemudian pria itu tertawa kecil. "Gue lupa kalau putri tunggal keluarga Aditama punya cara
Satu jam kemudian, pesta rakyat itu berakhir. Rombongan kecil dari Pradipta Group kembali ke dalam mobil dan menempuh perjalanan singkat menuju villa. Setibanya di dalam bangunan berhawa hangat itu, Tiara langsung berpamitan masuk ke kamar tidur utama. Gadis itu tidak banyak bicara, hanya tersenyum tipis ke arah kakak iparnya. Tersisa Arlan dan Reynald di ruang tengah. Arlan berjalan menuju meja mini bar di sudut ruangan, menuangkan wiski ke dalam gelas kristal dengan gerakan yang sengaja diperlambat untuk menenangkan isi kepalanya. Di seberangnya, Reynald menjatuhkan tubuh ke sofa, menyalakan sebatang cerutu baru, dan menatap adiknya lekat-lekat. Riko baru saja melangkah keluar menuju pelataran, ditugaskan secara khusus oleh Reynald untuk menjemput salah satu penari Lengger tadi dan membawanya ke paviliun belakang. "Gue lihat jurnalis peliharaan lo tadi di pinggir lapangan," ucap Reynald menghembuskan asap tebal, memecah keheningan di antara mereka. Tangan Arlan yang sedang meme
Dua mobil SUV hitam pekat berhenti tepat di pelataran villa VIP Pradipta. Lampu sorot kendaraaan itu menembus kabut tipis Temanggung yang mulai turun menyelimuti lereng bukit. Arlan sudah berdiri menunggu di teras depan. Kemeja hitamnya yang beberapa menit lalu berantakan kini sudah terkancing rapi hingga ke leher, dilapisi oleh jaket musim dingin tebal berwarna gelap. Rambutnya juga sudah disisir ke belakang menggunakan sisa air di wastafel. Tidak ada satu pun jejak kekacauan yang tersisa di tubuhnya. Pintu mobil terbuka. Reynald turun lebih dulu. Pria itu mengenakan mantel panjang berwarna camel, merapatkan kerahnya menahan hawa dingin yang langsung menusuk tulang. Di belakangnya, Riko turun dengan wajah kelelahan sambil membawa satu koper kecil. Pintu penumpang sebelah kiri kemudian terbuka. Tiara melangkah keluar dengan anggun. Gadis itu mengenakan sweter turtleneck putih yang dipadukan dengan mantel wol berwarna abu-abu muda. Penampilannya benar-benar mencerminkan seorang putr







