LOGINViolet menatap bangunan besar di hadapannya melalui jendela mobil. Mansion itu jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Dinding batu berwarna pucat, jendela-jendela tinggi dengan bingkai hitam, serta taman luas yang terawat sempurna membuat tempat itu lebih terlihat seperti kediaman bangsawan daripada rumah seseorang.
Seorang yang berjaga di dekat pintu utama segera berjalan menghampiri mobil. Membuka pintu belakang dan sedikit menundukkan kepala pada sang tuan rumah. “Silahkan, Tuan." Begitu Damian turun, pelayan itu tampak terkejut melihat seorang wanita di dalam mobil tuannya. Namun ia segera mengontrol ekspresinya, lalu memutari mobil untuk membuka pintu untuk Violet. “Silahkan, nona.” Violet mengangguk kecil sebelum turun. Beberapa langkah di depannya, Damian sudah lebih dulu berjalan menuju pintu utama tanpa menoleh sedikit pun, seolah memastikan Violet akan mengikutinya bukanlah sesuatu yang perlu dipertanyakan. Violet menarik napas pelan, lalu menyusul di belakang. Begitu pintu utama terbuka, aroma kayu tua dan bunga segar langsung menyambut Violet. Ruangan utama begitu luas, dengan tangga besar yang membelah lantai dua dan lampu kristal menggantung tepat di tengah langit-langit. Violet baru beberapa langkah masuk ketika suara seorang lelaki tua terdengar dari arah ruang tengah. “Damian?” Langkah Damian terhenti. Zeus, kakek Damian berdiri dari sofa. Rambutnya telah memutih, tetapi tubuhnya masih tegap. Tongkat kayu berada di salah satu tangannya. Tatapannya tajam ketika melihat Damian, kemudian perlahan berpindah kepada Violet. Alisnya terangkat. Dan dengan suara datar dan dingin pria itu bertanya. “Siapa yang kau bawa?” Violet otomatis menundukkan kepala sedikit. Sementara Damian memasukkan satu tangan ke saku celananya dengan santai. “Dia Violet,” jawab Damian datar. Kakeknya menatap Violet beberapa detik lebih lama. “Kenapa dia ada di rumah kita?” tanyanya. “Bukan urusanmu, Kakek.” Zeus mendengus pelan. “Kalau seorang perempuan tiba-tiba kau bawa masuk ke mansion ini, tentu saja itu menjadi urusanku.” Violet menundukkan kepala, lalu sedikit bergeser hingga tubuhnya berada di belakang Damian. Entah kenapa, berdiri di belakang pria itu terasa sedikit lebih aman daripada harus berhadapan langsung dengan tatapan kakeknya. “Tidak seperti yang Anda pikirkan,” kata Damian cepat. Zeus justru tersenyum tipis mendengar hal itu. “Aku bahkan tidak mengatakan apa yang kupikirkan, Damian.” Damian menghela napas, seolah sudah lelah dengan percakapan itu. Ia kemudian berkata lagi. “Kami akan ke atas.” Tanpa menunggu jawaban, Damian berjalan melewati kakeknya. Violet buru-buru mengikutinya. *** Damian membawa Violet menuju sebuah ruangan yang begitu luas. Tampak seperti perpustakaan pribadi, rak-rak buku memenuhi hampir seluruh dinding, tersusun rapi hingga mendekati langit-langit. Damian berjalan menuju sofa yang ada di tengah ruangan itu, lalu duduk dengan tenang. Sementara Violet masih berdiri di hadapannya. Sejak tadi ada satu pertanyaan yang mengganggu pikirannya. Pertanyaan yang bahkan sempat ia lupakan karena semua kejadian setelah malam itu berlangsung begitu cepat. “Kenapa malam itu kau menyelamatkanku?” tanya Violet membuka suara. Damian mengangkat sebelah alis menatap Violet dengan ekspresi datar. “Memangnya kau mau diperkosa ayah tirimu?” Violet menggeleng cepat. “Tentu saja tidak!" Jawabannya membuat sudut bibir Damian bergerak tipis, tetapi entah itu senyum atau sekadar perubahan ekspresi, Violet tidak yakin. "Maksudku, tempat itu jarang orang tahu_" "Hanya kebetulan," potong Damian. "Kau ingin tahu kenapa tiba-tiba aku ada disana, kan?" tanyanya. Violet mengangguk kecil, dan respon Damian sangat ketus dan tajam. "Hal sepele itu saja dipertanyakan. Kau beruntung. Karena jika tidak, dia pasti sudah memperkosamu." Violet terdiam, menunduk sambil menggenggam jemarinya sendiri. Ucapan Damian begitu menohok, tapi tidak sepenuhnya salah. Violet mengangkat kepala menatap Damian. “Jadi... aku harus melakukan apa untuk membalas budi?” Damian tidak langsung menjawab. Ia tiba-tiba bangkit berdiri dan melangkah lebih dekat ke arah Violet. Langkahnya yang tenang membuat Violet tanpa sadar mundur hingga punggungnya menyentuh pintu. “K_kau mau apa?” Tanya Violet gugup. Jantung Violet berdetak lebih cepat ketika Damian berhenti tepat di hadapannya. Bahkan dari jarak sedekat ini ia bisa mencium aroma parfum maskulin dari tubuh laki-laki itu. Damian tidak mengatakan apa-apa, tapi mata birunya turun perlahan, menatap dari mata Violet menuju bibirnya. Damian mulai menundukkan wajah. Violet refleks menutup mata dan semakin menundukkan kepalanya. Begitu jarak di antara mereka tinggal beberapa sentimeter, Damian justru mengangkat tangannya ke samping kepala Violet. Klik. Pintu di belakangnya tertutup. Violet membuka mata yang sejak tadi terpejam. Ia menatap Damian dengan wajah bingung, lalu perlahan menyadari bahwa ia telah salah mengira. “Apa yang kau pikirkan, Violet?” tanya Damian dengan suara terdengar rendah, nyaris seperti sedang menahan tawa. Violet mengerjapkan mata. “Apa?” “Kenapa kau menutup mata?” “Aku tidak menutup mata,” sangkal Violet sambil berusaha menghindari tatapan Damian. Damian menatapnya beberapa detik hingga sudut bibirnya terangkat tipis, begitu tipis hingga Violet tidak menyadarinya. “Kau berpikir aku akan menciummu, ya?” tanyanya. “Tidak!” Sergah Violet. “Benarkah?” tanya Damian mengangkat satu alisnya. “Ah, sudahlah!” Violet segera memalingkan wajah. Pipinya terasa semakin panas. Ia meremas ujung bajunya pelan, berusaha mengabaikan rasa malu yang tiba-tiba muncul. Beberapa detik, Violet menarik nafas untuk menenangkan diri. Ia pun kembali menatap Damian yang ekspresinya sudah kembali datar. “Jadi... apa konsekuensi yang harus aku lakukan untuk membalas budimu?” tanyanya, berusaha mengembalikan pembicaraan ke hal yang semestinya. “Dari tadi kau terus mengulur waktu,” lanjut Violet. Damian mengangkat sebelah alis. “Aku mengulur waktu?” Violet mengangguk kecil, meskipun tatapannya masih sedikit ragu. “Iya. Kau belum juga mengatakan apa yang kau inginkan.” Damian menatapnya beberapa saat. Kali ini ia tidak menggoda. Ia hanya diam seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. Namun sebelum ia sempat berbicara, suara dering ponsel tiba-tiba memecah keheningan. Damian menghembuskan napas panjang, lalu mendengus pelan. Ekspresinya jelas menunjukkan bahwa ia tidak menyukai gangguan itu. Violet segera merogoh tasnya. Begitu melihat nama yang tertera di layar, dahinya langsung berkerut. Madame Elise. Tetangganya itu hampir tidak pernah meneleponnya. Violet mengangkat pandangan kepada Damian yang menatap benda itu dengan ekspresi tidak suka. “Boleh aku angkat?” Tanya Violet ragu. Tatapan Damian masih tertuju pada ponsel ditangannya, beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil. Violet pun segera mengangkat teleponnya begitu Damian mengizinkan. “Halo, Madame Elise?” “Violet, kau di mana?” tanya perempuan tua itu terdengar tergesa-gesa dari seberang. Violet langsung mengernyit. “Aku sedang di luar. Ada apa?” tanyanya. “Kamu harus pulang sekarang!” “Kenapa?” tanya Violet. Entah kenapa perasaannya mendadak tidak enak. “Ada polisi ke apartemen mencarimu, Violet!” “Hah! Polisi?”Petugas polisi itu menggeleng pelan. “Tidak semuanya, nona. Itu hanya jumlah seluruh dana yang sudah dipinjam pak Delon,” ucapnya.“Anda hanya perlu membayar denda serta beberapa kewajiban yang harus diselesaikan jika anda ingin dibebaskan sekarang,” sambung polisi itu menambahkan.Violet menelan ludah. “Berapa dendanya, pak?” tanyanya lirih.Polisi itu memberi jeda beberapa detik, sebelum akhirnya berkata. “Total dendanya 380 juta.” Jawaban polisi di depannya sukses membuat Violet membeku. “380 juta?” ulangnya, berharap salah dengar.Petugas itu menganggukan kepala, membuat tubuh Violet langsung runtuh. “Apa tidak bisa dikurangi lagi, pak?” Tanya Violet mencoba menawar. Polisi menggeleng pelan. “Maaf, Nona. Jumlah tersebut sudah ditetapkan berdasarkan ketentuan yang berlaku, dan perkara yang sedang Anda hadapi.”Violet menatap meja di hadapannya dengan pikiran kosong. Jumlah itu bahkan jauh di luar kemampuannya.“Saya tidak punya uang sebanyak itu,” bisiknya pelan.Violet mengangk
Mobil yang membawa Violet berhenti di depan kantor kepolisian. Begitu pintu belakang dibuka, Violet turun dengan langkah ragu. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi. Seorang polisi membawanya masuk melewati lorong kantor, hingga akhirnya mereka tiba di sebuah ruang pemeriksaan. Violet dipersilakan duduk di kursi yang berhadapan dengan petugas polisi lainnya. Polisi itu membuka sebuah berkas di atas meja. Violet menatap dengan gelisah, dan tangannya terasa dingin. “Sebenarnya apa yang terjadi, Pak?” tanya Violet. “Saya masih tidak mengerti kenapa saya dibawa kesini,” lanjut Violet penuh kebingungan. Polisi itu mengangkat pandangannya dari berkas. “Tujuan kami membawa Anda ke sini karena ada laporan mengenai tunggakan pinjaman ilegal yang terdaftar atas nama Anda,” ucap polisi menjelaskan. Violet mengernyit. “Pinjaman?” Polisi itu mengangguk, kemudian membalik beberapa lembar dokumen di hadapannya. “Ya, nona. Sebuah pinjaman yang menggunakan data pribadi Anda, dan
“Ya. Mereka menerobos ke apartemen kamu, Violet.” Suara madam Elise terdengar tergesa-gesa. Violet menggenggam ponselnya lebih erat. “Apa yang mereka inginkan, Madam?” tanya Violet bingung. “Aku tidak tahu. Tapi dari yang kudengar, mereka sedang mencarimu.” Kening Violet berkerut. Ia melirik Damian sekilas sebelum kembali memusatkan perhatian pada telepon. “Apa madam tidak salah dengar?” tanya Violet memastikan. “Tidak. Jelas aku mendengar mereka menyebut namamu. Aku sudah mencoba menyuruh mereka pergi, tapi mereka bilang tidak akan meninggalkan tempatmu sebelum kau datang. Sebaiknya kau segera pulang,” cerocos madam Elise terdengar sangat cemas. “Baiklah, aku pulang sekarang.” Violet pun berdiri dengan kecemasan mulai terlihat jelas di wajahnya. Violet menurunkan ponselnya dan menatap Damian. Dia berdiri di tempatnya dengan ekspresi tenang, bahkan wajahnya nyaris tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun. “Aku harus pulang,” ucap Violet. Damian tidak menjawab,
Violet menatap bangunan besar di hadapannya melalui jendela mobil. Mansion itu jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Dinding batu berwarna pucat, jendela-jendela tinggi dengan bingkai hitam, serta taman luas yang terawat sempurna membuat tempat itu lebih terlihat seperti kediaman bangsawan daripada rumah seseorang. Seorang yang berjaga di dekat pintu utama segera berjalan menghampiri mobil. Membuka pintu belakang dan sedikit menundukkan kepala pada sang tuan rumah. “Silahkan, Tuan." Begitu Damian turun, pelayan itu tampak terkejut melihat seorang wanita di dalam mobil tuannya. Namun ia segera mengontrol ekspresinya, lalu memutari mobil untuk membuka pintu untuk Violet. “Silahkan, nona.” Violet mengangguk kecil sebelum turun. Beberapa langkah di depannya, Damian sudah lebih dulu berjalan menuju pintu utama tanpa menoleh sedikit pun, seolah memastikan Violet akan mengikutinya bukanlah sesuatu yang perlu dipertanyakan. Violet menarik napas pelan, lalu menyusul di belakan
Udara malam terasa cukup dingin ketika Violet dan Zavier baru saja keluar dari restoran. “Terima kasih untuk makan malamnya.” Violet tersenyum sambil mengusap kedua telapak tangannya yang terasa dingin. “Lain kali biar aku yang bayar,” lanjutnya. Zavier langsung menggeleng. “Tidak perlu,” tolaknya. Violet mengangkat alis. “Kenapa?” “Kamu sudah bekerja keras minggu ini,” ucap Zavier. Lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel. “Anggap saja bonus,” ucapnya melanjutkan. “Bonus?” Violet terkekeh. “Iya. Bonus karena sudah bertahan menghadapi pelanggan yang menyebalkan selama seminggu ini.” Violet memukul ringan lengan Zavier dengan punggung tangannya. “Jahat sekali. Mereka, kan, pelanggan kita.” “Aku cuma jujur,” ucap Zavier sambil terkekeh pelan. Violet masih tersenyum ketika Zavier tiba-tiba melirik jam tangannya. Ia kemudian menatap Violet. “Aku masih ada urusan setelah ini.” “Oh.” Violet mengangguk. “Kalau begitu aku pulang dulu.” “Aku antar, ya?” taw
Keesokan paginya, Violet tiba di toko bunga jam 8 pagi. Seperti biasa, Violet bekerja disana sebagai pelayan toko. Pekerjaan itu menjadi mata pencaharian utamanya agar bisa membayar biaya rumah sakit ibunya. Violet membuka pintu toko dan langsung disambut aroma bunga yang memenuhi ruangan. Seperti biasa, Zavier sudah berada di sana. Pemilik toko itu sangat rajin sekali seperti biasanya. Pria itu berdiri di dekat meja panjang, sedang merapikan beberapa tangkai bunga lavender yang baru datang. “Pagi,” sapa Violet. Zavier menoleh. “Pagi.” Kemudian Zavier berdiri, dan menghentikan pekerjaannya. Tatapannya langsung jatuh pada wajah Violet. Kantung mata yang jelas menandakan kualitas tidur gadis itu sangat buruk. “Kau terlihat lelah,” ucap Zavier perhatian. Violet meletakkan tasnya. Sebelum sempat menjawab, Zavier sudah bertanya lagi. “Kau tidak tidur?” “Tidur, kok,” jawab Violet singkat. Zavier mengangkat sebelah alis. “Berapa jam?” Violet terdiam sebentar. “Entahlah







