共有

Bab 5. Mansion Davereaux

作者: Lym&tora15
last update 公開日: 2026-09-09 20:43:39

Violet menatap bangunan besar di hadapannya melalui jendela mobil. Mansion itu jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Dinding batu berwarna pucat, jendela-jendela tinggi dengan bingkai hitam, serta taman luas yang terawat sempurna membuat tempat itu lebih terlihat seperti kediaman bangsawan daripada rumah seseorang.

Seorang yang berjaga di dekat pintu utama segera berjalan menghampiri mobil. Membuka pintu belakang dan sedikit menundukkan kepala pada sang tuan rumah.

“Silahkan, Tuan."

Begitu Damian turun, pelayan itu tampak terkejut melihat seorang wanita di dalam mobil tuannya. Namun ia segera mengontrol ekspresinya, lalu memutari mobil untuk membuka pintu untuk Violet.

“Silahkan, nona.”

Violet mengangguk kecil sebelum turun.

Beberapa langkah di depannya, Damian sudah lebih dulu berjalan menuju pintu utama tanpa menoleh sedikit pun, seolah memastikan Violet akan mengikutinya bukanlah sesuatu yang perlu dipertanyakan.

Violet menarik napas pelan, lalu menyusul di belakang.

Begitu pintu utama terbuka, aroma kayu tua dan bunga segar langsung menyambut Violet. Ruangan utama begitu luas, dengan tangga besar yang membelah lantai dua dan lampu kristal menggantung tepat di tengah langit-langit.

Violet baru beberapa langkah masuk ketika suara seorang lelaki tua terdengar dari arah ruang tengah.

“Damian?”

Langkah Damian terhenti.

Zeus, kakek Damian berdiri dari sofa. Rambutnya telah memutih, tetapi tubuhnya masih tegap. Tongkat kayu berada di salah satu tangannya. Tatapannya tajam ketika melihat Damian, kemudian perlahan berpindah kepada Violet.

Alisnya terangkat. Dan dengan suara datar dan dingin pria itu bertanya. “Siapa yang kau bawa?”

Violet otomatis menundukkan kepala sedikit. Sementara Damian memasukkan satu tangan ke saku celananya dengan santai.

“Dia Violet,” jawab Damian datar.

Kakeknya menatap Violet beberapa detik lebih lama. “Kenapa dia ada di rumah kita?” tanyanya.

“Bukan urusanmu, Kakek.”

Zeus mendengus pelan. “Kalau seorang perempuan tiba-tiba kau bawa masuk ke mansion ini, tentu saja itu menjadi urusanku.”

Violet menundukkan kepala, lalu sedikit bergeser hingga tubuhnya berada di belakang Damian. Entah kenapa, berdiri di belakang pria itu terasa sedikit lebih aman daripada harus berhadapan langsung dengan tatapan kakeknya.

“Tidak seperti yang Anda pikirkan,” kata Damian cepat.

Zeus justru tersenyum tipis mendengar hal itu.

“Aku bahkan tidak mengatakan apa yang kupikirkan, Damian.”

Damian menghela napas, seolah sudah lelah dengan percakapan itu. Ia kemudian berkata lagi.

“Kami akan ke atas.”

Tanpa menunggu jawaban, Damian berjalan melewati kakeknya. Violet buru-buru mengikutinya.

***

Damian membawa Violet menuju sebuah ruangan yang begitu luas. Tampak seperti perpustakaan pribadi, rak-rak buku memenuhi hampir seluruh dinding, tersusun rapi hingga mendekati langit-langit.

Damian berjalan menuju sofa yang ada di tengah ruangan itu, lalu duduk dengan tenang.

Sementara Violet masih berdiri di hadapannya. Sejak tadi ada satu pertanyaan yang mengganggu pikirannya. Pertanyaan yang bahkan sempat ia lupakan karena semua kejadian setelah malam itu berlangsung begitu cepat.

“Kenapa malam itu kau menyelamatkanku?” tanya Violet membuka suara.

Damian mengangkat sebelah alis menatap Violet dengan ekspresi datar. “Memangnya kau mau diperkosa ayah tirimu?”

Violet menggeleng cepat. “Tentu saja tidak!"

Jawabannya membuat sudut bibir Damian bergerak tipis, tetapi entah itu senyum atau sekadar perubahan ekspresi, Violet tidak yakin.

"Maksudku, tempat itu jarang orang tahu_"

"Hanya kebetulan," potong Damian. "Kau ingin tahu kenapa tiba-tiba aku ada disana, kan?" tanyanya.

Violet mengangguk kecil, dan respon Damian sangat ketus dan tajam. "Hal sepele itu saja dipertanyakan. Kau beruntung. Karena jika tidak, dia pasti sudah memperkosamu."

Violet terdiam, menunduk sambil menggenggam jemarinya sendiri. Ucapan Damian begitu menohok, tapi tidak sepenuhnya salah.

Violet mengangkat kepala menatap Damian. “Jadi... aku harus melakukan apa untuk membalas budi?”

Damian tidak langsung menjawab. Ia tiba-tiba bangkit berdiri dan melangkah lebih dekat ke arah Violet. Langkahnya yang tenang membuat Violet tanpa sadar mundur hingga punggungnya menyentuh pintu.

“K_kau mau apa?” Tanya Violet gugup.

Jantung Violet berdetak lebih cepat ketika Damian berhenti tepat di hadapannya. Bahkan dari jarak sedekat ini ia bisa mencium aroma parfum maskulin dari tubuh laki-laki itu.

Damian tidak mengatakan apa-apa, tapi mata birunya turun perlahan, menatap dari mata Violet menuju bibirnya. Damian mulai menundukkan wajah.

Violet refleks menutup mata dan semakin menundukkan kepalanya. Begitu jarak di antara mereka tinggal beberapa sentimeter, Damian justru mengangkat tangannya ke samping kepala Violet.

Klik.

Pintu di belakangnya tertutup. Violet membuka mata yang sejak tadi terpejam. Ia menatap Damian dengan wajah bingung, lalu perlahan menyadari bahwa ia telah salah mengira.

“Apa yang kau pikirkan, Violet?” tanya Damian dengan suara terdengar rendah, nyaris seperti sedang menahan tawa.

Violet mengerjapkan mata. “Apa?”

“Kenapa kau menutup mata?”

“Aku tidak menutup mata,” sangkal Violet sambil berusaha menghindari tatapan Damian.

Damian menatapnya beberapa detik hingga sudut bibirnya terangkat tipis, begitu tipis hingga Violet tidak menyadarinya.

“Kau berpikir aku akan menciummu, ya?” tanyanya.

“Tidak!” Sergah Violet.

“Benarkah?” tanya Damian mengangkat satu alisnya.

“Ah, sudahlah!” Violet segera memalingkan wajah. Pipinya terasa semakin panas. Ia meremas ujung bajunya pelan, berusaha mengabaikan rasa malu yang tiba-tiba muncul.

Beberapa detik, Violet menarik nafas untuk menenangkan diri. Ia pun kembali menatap Damian yang ekspresinya sudah kembali datar.

“Jadi... apa konsekuensi yang harus aku lakukan untuk membalas budimu?” tanyanya, berusaha mengembalikan pembicaraan ke hal yang semestinya.

“Dari tadi kau terus mengulur waktu,” lanjut Violet.

Damian mengangkat sebelah alis. “Aku mengulur waktu?”

Violet mengangguk kecil, meskipun tatapannya masih sedikit ragu. “Iya. Kau belum juga mengatakan apa yang kau inginkan.”

Damian menatapnya beberapa saat. Kali ini ia tidak menggoda. Ia hanya diam seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. Namun sebelum ia sempat berbicara, suara dering ponsel tiba-tiba memecah keheningan.

Damian menghembuskan napas panjang, lalu mendengus pelan. Ekspresinya jelas menunjukkan bahwa ia tidak menyukai gangguan itu.

Violet segera merogoh tasnya.

Begitu melihat nama yang tertera di layar, dahinya langsung berkerut. Madame Elise. Tetangganya itu hampir tidak pernah meneleponnya.

Violet mengangkat pandangan kepada Damian yang menatap benda itu dengan ekspresi tidak suka.

“Boleh aku angkat?” Tanya Violet ragu.

Tatapan Damian masih tertuju pada ponsel ditangannya, beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil.

Violet pun segera mengangkat teleponnya begitu Damian mengizinkan.

“Halo, Madame Elise?”

“Violet, kau di mana?” tanya perempuan tua itu terdengar tergesa-gesa dari seberang.

Violet langsung mengernyit. “Aku sedang di luar. Ada apa?” tanyanya.

“Kamu harus pulang sekarang!”

“Kenapa?” tanya Violet. Entah kenapa perasaannya mendadak tidak enak.

“Ada polisi ke apartemen mencarimu, Violet!”

“Hah! Polisi?”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • TERJEBAK DEKAPAN MAFIA POSESSIF   Bab 56. Christie

    Sepanjang lorong kantor, kantuk yang semula menyerang Violet lenyap sepenuhnya. Kini, ia justru sibuk memperhatikan keadaan di sekelilingnya, khawatir ada karyawan yang tiba-tiba muncul dan memergoki dirinya sedang digendong Damian.Bisa-bisa besok akan ada gosip heboh lagi di kantor. Padahal, tanpa melakukan apa-apa pun, dirinya sudah menjadi bahan pembicaraan para karyawan. Lantas, bagaimana jika mereka sampai melihat posisinya sekarang, berada dalam gendongan Damian? Violet tak ingin membayangkan betapa liar cerita yang akan beredar nanti.Beruntung, hingga tiba di basement, mereka tidak berpapasan dengan siapa pun. Lorong yang mereka lewati sudah sepi, begitu pula area parkir yang hanya menyisakan mobil Damian.Violet akhirnya bisa bernapas lega ketika Damian menurunkannya di samping mobil. Kedua kakinya kembali menapak lantai, tetapi jantungnya masih berdebar kencang.Ia buru-buru menjauh setengah langkah, lalu menatap Damian dengan wajah yang sulit menyembunyikan rasa malunya.

  • TERJEBAK DEKAPAN MAFIA POSESSIF   Bab 55. Dalam gendongannya

    Derren meletakkan berkas yang dibawanya di atas meja Damian.“Aku menemukan rekaman CCTV yang menunjukkan seseorang masuk ke ruang arsip perusahaan tadi malam,” jelasnya.Damian membuka berkas itu dan memeriksa beberapa lembar foto di dalamnya.“Siapa dia?”“Belum diketahui. Wajahnya tidak terlihat jelas, tetapi dia menggunakan kartu akses milik mantan karyawan kita.”Damian mengangkat pandangannya. “Bagaimana kartu itu bisa digunakan lagi?”“Itu yang sedang kuselidiki. Seharusnya kartu tersebut sudah tidak aktif.”Damian kembali melihat foto-foto di hadapannya. “Apa yang dia ambil?”“Ada beberapa dokumen transaksi yang hilang dari ruang arsip. Aku belum bisa memastikan apakah dia mengambil dokumen lain.”Raut wajah Damian mengeras.“Periksa daftar dokumen yang hilang. Cari tahu juga siapa yang terakhir mengakses ruang arsip sebelum kejadian itu.”Derren mengangguk. “Baik. Aku akan mencari tahu siapa yang mengaktifkan kartu tersebut dan bagaimana dia bisa masuk tanpa menimbulkan kecur

  • TERJEBAK DEKAPAN MAFIA POSESSIF   Bab 54. Cemburu?

    Violet yang menyadari beberapa pasang mata mulai tertuju kepadanya langsung berdiri lebih tegak. Ia sempat bingung harus menyapa atau cukup diam saja, hingga akhirnya hanya membalas tatapan mereka dengan senyum kecil.“Dia asistenku,” jawab Damian singkat.“Oh, begitu,” sahut pria itu sambil mengangguk.Violet mengangguk kecil sebagai sapaan, sedikit canggung karena tidak terbiasa berada di tengah orang-orang penting seperti mereka. Untungnya, tak ada yang bertanya lebih jauh. Perhatian mereka segera kembali kepada Damian, membuat Violet bisa bernapas lega.Tidak berselang lama rapat pun dimulai.Violet berdiri diam sambil memperhatikan layar presentasi di depan. Sesekali, ia melirik para peserta yang bergantian menyampaikan laporan. Istilah-istilah bisnis yang mereka gunakan terdengar asing di telinganya, terlebih ketika pembahasan mulai beralih pada angka penjualan dan rencana kerja sama perusahaan.Ia berusaha mengikuti pembicaraan sambil mencatat poin-poin penting. Namun, karena t

  • TERJEBAK DEKAPAN MAFIA POSESSIF   Bab 53. Simpul dasi

    Sesuai ucapannya tadi, Damian mengajak Violet menghadiri rapat perusahaan. Gadis itu sudah menyiapkan beberapa dokumen yang diperlukan, lengkap dengan buku catatan untuk mencatat hal-hal penting selama rapat berlangsung.Sementara itu, Damian berdiri di depan cermin besar di ruang pribadinya sambil merapikan jas. Ruangan itu terletak di balik pintu yang menyatu dengan dinding ruang kerjanya. Tidak ada orang yang diizinkan masuk ke sana, sebab selain menjadi tempat beristirahat ketika lembur hingga larut malam, ruangan itu juga menyimpan sejumlah barang pribadinya.Setelah memastikan jasnya rapi, Damian melirik dasinya yang sedikit miring. Ia sebenarnya bisa membenarkannya sendiri, tapi kali ini ia ingin Violet yang melakukannya. “Violet, kemari sebentar!” panggil Damian tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca. Ia bisa melihat pantulan Violet yang sedang merapikan dokumen untuk rapat di meja kerjanya. Begitu mendengar suaranya, gadis itu langsung mengangkat menghentikan pekerjaanny

  • TERJEBAK DEKAPAN MAFIA POSESSIF   Bab 52. Belajar memahami

    Violet tahu Damian tidak akan mudah mengalihkan pembicaraan, tetapi ia juga tidak ingin menceritakan kejadian saat di pantry. Ia merasa semua ini gara-gara laki-laki itu. Jika ia ditempatkan kerja tidak satu ruangan dengan Damian, gosip dan tuduhan itu mungkin tidak akan ada. “Aku hanya sedikit lelah,” jawabnya akhirnya.Damian menatapnya lekat-lekat, mencoba memahami apa yang sebenarnya disembunyikan gadis itu. Apa ja memberi pekerjaan terlalu banyak pada gadis itu? Namun, belum sempat ia mengatakan sesuatu, Violet lebih dulu menyela. “Jika tidak ada yang di perlukan lagi, aku mau kembali ke mejaku.”Damian terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk singkat membiarkan Violet kembali ke mejanya. Ia sadar pasti terjadi sesuatu dengan gadis itu saat di pantry. Ruangan kembali hening. Damian melanjutkan pekerjaannya, dan sesekali matanya melirik ke arah Violet yang sejak tadi duduk diam sambil menatap keluar jendela. Pikiran Violet melayang ke mana-mana. Entah sudah berapa kali ia b

  • TERJEBAK DEKAPAN MAFIA POSESSIF   Bab 51. Enggan terbuka

    Violet tidak menyangka ada karyawan Damian yang berani menanyakan hal semacam itu secara terang-terangan.Layla menyeringai tipis, lalu memandang Violet dari atas hingga bawah dengan tatapan merendahkan. Seolah-olah ia sudah mengetahui sesuatu yang memalukan tentang gadis itu.“Jangan-jangan kau memberikan tubuhmu kepada Pak Damian, ya?” tuduhnya.Mata Violet langsung terbelalak mendengar tuduhan yang tidak mendasar itu. Ia tidak percaya Layla selancang itu kepadanya. Tanpa sadar ia mencengkram gelas yang berada di tangannya, sementara wajahnya perlahan menegang. Ucapan itu terasa seperti tamparan keras yang menghantam harga dirinya.“Maksudmu apa bicara seperti itu?” tanya Violet, berusaha menahan amarah yang mulai menguasai dirinya.Layla mengangkat alis, merasa tidak mengatakan sesuatu yang keterlaluan.“Menurutmu, apa yang akan orang-orang pikirkan jika ada seorang wanita yang selalu berada di ruangan bosnya?” Ia menyilangkan tangan di depan dada, lalu menyunggingkan senyum menge

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status