首頁 / Romansa / TERJEBAK DEKAPAN MAFIA POSESSIF / Bab 4. Sebuah Konsekuensi

分享

Bab 4. Sebuah Konsekuensi

作者: Lym&tora15
last update publish date: 2026-09-03 18:01:02

Udara malam terasa cukup dingin ketika Violet dan Zavier baru saja keluar dari restoran.

“Terima kasih untuk makan malamnya.” Violet tersenyum sambil mengusap kedua telapak tangannya yang terasa dingin.

“Lain kali biar aku yang bayar,” lanjutnya.

Zavier langsung menggeleng. “Tidak perlu,” tolaknya.

Violet mengangkat alis. “Kenapa?”

“Kamu sudah bekerja keras minggu ini,” ucap Zavier. Lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel. “Anggap saja bonus,” ucapnya melanjutkan.

“Bonus?” Violet terkekeh.

“Iya. Bonus karena sudah bertahan menghadapi pelanggan yang menyebalkan selama seminggu ini.”

Violet memukul ringan lengan Zavier dengan punggung tangannya. “Jahat sekali. Mereka, kan, pelanggan kita.”

“Aku cuma jujur,” ucap Zavier sambil terkekeh pelan.

Violet masih tersenyum ketika Zavier tiba-tiba melirik jam tangannya. Ia kemudian menatap Violet. “Aku masih ada urusan setelah ini.”

“Oh.” Violet mengangguk. “Kalau begitu aku pulang dulu.”

“Aku antar, ya?” tawar Zavier.

“Tidak perlu.” Violet menggeleng cepat. “Rumahku tidak jauh,” ucapnya.

Zavier menatapnya beberapa saat, seolah masih mempertimbangkan. “Baiklah. Tapi kabari aku kalau sudah sampai.”

Violet tersenyum kecil. “Siap, Bos!”

Zavier terkekeh sebelum akhirnya berbalik dan berjalan menuju arah yang berlawanan. Violet menunggu sampai sosoknya menghilang di antara keramaian sebelum mulai berjalan pulang.

Gadis itu berjalan menyusuri trotoar sambil sesekali merapikan rambut yang tertiup angin malam. Jarak menuju apartemennya tidak terlalu jauh dari restoran. Angin berhembus cukup kencang, membuat Violet semakin mengeratkan jaket yang dikenakannya.

Namun, ketika memasuki jalan yang lebih sepi, langkah Violet perlahan melambat. Ia menoleh sekilas kebelakang, dan melihat sebuah mobil hitam melaju perlahan beberapa meter di belakangnya. Kacanya gelap, membuat bagian dalamnya sama sekali tidak terlihat.

Violet kembali menghadap ke depan dan mencoba mengabaikannya. Namun suara mobil itu tidak menjauh. Justru tetap berada pada jarak yang sama di belakang, seperti sedang mengikutinya.

Violet mulai merasa tidak nyaman, dan langkahnya kembali dipercepat.

Beberapa detik kemudian, mobil hitam itu bergerak mendekat, hingga akhirnya posisinya sejajar dengan Violet. Refleks, langkah Violet terhenti, dan mobil itu juga berhenti.

Violet menoleh ke samping, menatap kaca mobil gelap itu memantulkan wajahnya sendiri. Dan itu membuatnya sama sekali tidak bisa melihat siapa yang berada di dalam.

Tangannya semakin erat mencengkram tali tas. “Ya Tuhan, siapa ini?” Violet menjerit dalam hati.

Violet mundur setengah langkah. Kemudian—Kaca jendela belakang turun perlahan.

Violet membeku. Tatapannya langsung tertuju ke dalam mobil. Dan ketika wajah seseorang akhirnya terlihat, seluruh ekspresi Violet berubah.

Damian.

Pria itu duduk bersandar santai di kursinya. Salah satu tangannya bertumpu di sisi pintu, sementara tatapan dinginnya tidak pernah lepas dari Violet. Tidak ada senyum di wajahnya, hanya ketenangan yang anehnya terasa jauh lebih mengintimidasi.

Violet menatapnya beberapa saat, seolah memastikan bahwa ia tidak salah mengenali orang.

“Damian...?”

Sudut alis Damian terangkat tipis. “Sepertinya kau lupa sesuatu, Violet.”

Violet mengerutkan kening. “Lupa apa?”

“Setelah apa yang terjadi kemarin malam...” ucap Damian terdengar tenang. Tatapannya mengunci tatapan Violet. Ia kemudian melanjutkan ucapannya.

“Aku kira setidaknya kau akan mengingat siapa yang menyelamatkanmu.”

Violet membeku. Matanya berkedip beberapa kali sebelum kesadaran itu akhirnya menghantamnya.

Oh, tidak.

Ia benar-benar melupakannya.

Seharusnya sore tadi mereka bertemu di depan cafè rumah sakit. Damian sudah mengatakan akan menunggunya di sana. Namun pikirannya terlalu kacau sampai-sampai ia melupakan janji tersebut.

“Astaga...” Violet menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Kenapa aku bisa sebodoh ini?”

Damian mengamati tingkahnya tanpa mengatakan apa-apa.

Violet menurunkan tangannya perlahan dan mendapati pria itu masih menatapnya. “Aku benar-benar minta maaf,” katanya cepat. “Aku tidak sengaja melupakannya.”

Damian mengangkat satu alis. “Tidak sengaja?”

Violet mengangguk kecil. “Iya.”

“Menarik,” ucap Damian.

“Apa yang menarik?” tanya Violet bingung.

Damian tidak langsung menjawab. Ia justru meraih gagang pintu dan mendorongnya agar terbuka lebar.

“Kau tahu konsekuensinya, Violet?” Damian bertanya dengan ekspresi datar.

Violet menatapnya curiga. “Konsekuensi apa?”

“Kemarin kau berjanji akan membalas budi, bukan?”

“Aku sekarang ingat,” jawab Violet.

“Benarkah?” tanya Damian yang langsung membuat Violet terdiam.

“Dari yang kulihat...” Damian berhenti sejenak. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, membuat jarak di antara mereka menyempit. Tatapannya tetap terkunci pada Violet, seolah sedang menunggu perempuan itu berani menatapnya kembali.

“...kau bahkan lupa bertemu denganku,” ucap Damian melanjutkan.

Violet yang sejak tadi berusaha terlihat tenang akhirnya mengalihkan pandangan. Jemarinya meremas tali tas yang berada di bahunya.

“Aku sudah bilang aku minta maaf,” ucap Violet semakin pelan.

Damian memperhatikannya beberapa detik sebelum akhirnya bersandar kembali. Wajahnya tetap tenang, seolah permintaan maaf itu sudah ia duga akan keluar dari mulut Violet.

“Aku tahu.”

Violet menghembuskan nafas lega, mengira percakapan itu akan berakhir di sana. Namun, ucapan Damian selanjutnya membuat senyum tipis yang tadi sempat muncul di wajah Violet langsung menghilang.

“Tapi minta maaf saja tidak cukup, Violet."

Violet menatap Damian dengan ekspresi pasrah.

“Lalu kau mau apa?” tanyanya.

Damian tidak segera menjawab. Ia mengetukkan ujung jarinya perlahan pada sandaran tangan kursi, matanya mengamati wajah Violet seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.

Beberapa detik berlalu, dan Violet tetap menunggu dengan cemas.

Damian mengangkat kepalanya menatap Violet. “Masuk,” perintahnya.

Violet mengerjapkan mata. “Hah?”

“Masuk,” ulang Damian.

Damian menggeser tubuhnya sedikit, memberikan ruang untuk Violet.

Violet masih berdiri di tempat. Ia bertanya ragu. “Kau mau bawa aku kemana?”

“Mansion-ku,” jawab Damian tenang.

Terlalu tenang sampai membuat Violet refleks mundur setengah langkah. Keningnya langsung berkerut. Ia bertanya sambil menatap Damian. “Untuk apa?”

Damian menghela napas pendek, nyaris seperti seseorang yang mulai kehilangan kesabaran karena harus menjelaskan sesuatu yang menurutnya sudah jelas.

“Kau terlalu banyak tanya, Violet. Ikut saja denganku.”

Violet menghembuskan nafas pelan. Pada akhirnya, ia melangkahkan masuk ke dalam mobil. Sambil kepalanya terus memikirkan konsekuensi apa yang akan Damian berikan sampai harus ke mansion laki-laki itu.

Apa jangan-jangan….

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • TERJEBAK DEKAPAN MAFIA POSESSIF   Bab 56. Christie

    Sepanjang lorong kantor, kantuk yang semula menyerang Violet lenyap sepenuhnya. Kini, ia justru sibuk memperhatikan keadaan di sekelilingnya, khawatir ada karyawan yang tiba-tiba muncul dan memergoki dirinya sedang digendong Damian.Bisa-bisa besok akan ada gosip heboh lagi di kantor. Padahal, tanpa melakukan apa-apa pun, dirinya sudah menjadi bahan pembicaraan para karyawan. Lantas, bagaimana jika mereka sampai melihat posisinya sekarang, berada dalam gendongan Damian? Violet tak ingin membayangkan betapa liar cerita yang akan beredar nanti.Beruntung, hingga tiba di basement, mereka tidak berpapasan dengan siapa pun. Lorong yang mereka lewati sudah sepi, begitu pula area parkir yang hanya menyisakan mobil Damian.Violet akhirnya bisa bernapas lega ketika Damian menurunkannya di samping mobil. Kedua kakinya kembali menapak lantai, tetapi jantungnya masih berdebar kencang.Ia buru-buru menjauh setengah langkah, lalu menatap Damian dengan wajah yang sulit menyembunyikan rasa malunya.

  • TERJEBAK DEKAPAN MAFIA POSESSIF   Bab 55. Dalam gendongannya

    Derren meletakkan berkas yang dibawanya di atas meja Damian.“Aku menemukan rekaman CCTV yang menunjukkan seseorang masuk ke ruang arsip perusahaan tadi malam,” jelasnya.Damian membuka berkas itu dan memeriksa beberapa lembar foto di dalamnya.“Siapa dia?”“Belum diketahui. Wajahnya tidak terlihat jelas, tetapi dia menggunakan kartu akses milik mantan karyawan kita.”Damian mengangkat pandangannya. “Bagaimana kartu itu bisa digunakan lagi?”“Itu yang sedang kuselidiki. Seharusnya kartu tersebut sudah tidak aktif.”Damian kembali melihat foto-foto di hadapannya. “Apa yang dia ambil?”“Ada beberapa dokumen transaksi yang hilang dari ruang arsip. Aku belum bisa memastikan apakah dia mengambil dokumen lain.”Raut wajah Damian mengeras.“Periksa daftar dokumen yang hilang. Cari tahu juga siapa yang terakhir mengakses ruang arsip sebelum kejadian itu.”Derren mengangguk. “Baik. Aku akan mencari tahu siapa yang mengaktifkan kartu tersebut dan bagaimana dia bisa masuk tanpa menimbulkan kecur

  • TERJEBAK DEKAPAN MAFIA POSESSIF   Bab 54. Cemburu?

    Violet yang menyadari beberapa pasang mata mulai tertuju kepadanya langsung berdiri lebih tegak. Ia sempat bingung harus menyapa atau cukup diam saja, hingga akhirnya hanya membalas tatapan mereka dengan senyum kecil.“Dia asistenku,” jawab Damian singkat.“Oh, begitu,” sahut pria itu sambil mengangguk.Violet mengangguk kecil sebagai sapaan, sedikit canggung karena tidak terbiasa berada di tengah orang-orang penting seperti mereka. Untungnya, tak ada yang bertanya lebih jauh. Perhatian mereka segera kembali kepada Damian, membuat Violet bisa bernapas lega.Tidak berselang lama rapat pun dimulai.Violet berdiri diam sambil memperhatikan layar presentasi di depan. Sesekali, ia melirik para peserta yang bergantian menyampaikan laporan. Istilah-istilah bisnis yang mereka gunakan terdengar asing di telinganya, terlebih ketika pembahasan mulai beralih pada angka penjualan dan rencana kerja sama perusahaan.Ia berusaha mengikuti pembicaraan sambil mencatat poin-poin penting. Namun, karena t

  • TERJEBAK DEKAPAN MAFIA POSESSIF   Bab 53. Simpul dasi

    Sesuai ucapannya tadi, Damian mengajak Violet menghadiri rapat perusahaan. Gadis itu sudah menyiapkan beberapa dokumen yang diperlukan, lengkap dengan buku catatan untuk mencatat hal-hal penting selama rapat berlangsung.Sementara itu, Damian berdiri di depan cermin besar di ruang pribadinya sambil merapikan jas. Ruangan itu terletak di balik pintu yang menyatu dengan dinding ruang kerjanya. Tidak ada orang yang diizinkan masuk ke sana, sebab selain menjadi tempat beristirahat ketika lembur hingga larut malam, ruangan itu juga menyimpan sejumlah barang pribadinya.Setelah memastikan jasnya rapi, Damian melirik dasinya yang sedikit miring. Ia sebenarnya bisa membenarkannya sendiri, tapi kali ini ia ingin Violet yang melakukannya. “Violet, kemari sebentar!” panggil Damian tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca. Ia bisa melihat pantulan Violet yang sedang merapikan dokumen untuk rapat di meja kerjanya. Begitu mendengar suaranya, gadis itu langsung mengangkat menghentikan pekerjaanny

  • TERJEBAK DEKAPAN MAFIA POSESSIF   Bab 52. Belajar memahami

    Violet tahu Damian tidak akan mudah mengalihkan pembicaraan, tetapi ia juga tidak ingin menceritakan kejadian saat di pantry. Ia merasa semua ini gara-gara laki-laki itu. Jika ia ditempatkan kerja tidak satu ruangan dengan Damian, gosip dan tuduhan itu mungkin tidak akan ada. “Aku hanya sedikit lelah,” jawabnya akhirnya.Damian menatapnya lekat-lekat, mencoba memahami apa yang sebenarnya disembunyikan gadis itu. Apa ja memberi pekerjaan terlalu banyak pada gadis itu? Namun, belum sempat ia mengatakan sesuatu, Violet lebih dulu menyela. “Jika tidak ada yang di perlukan lagi, aku mau kembali ke mejaku.”Damian terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk singkat membiarkan Violet kembali ke mejanya. Ia sadar pasti terjadi sesuatu dengan gadis itu saat di pantry. Ruangan kembali hening. Damian melanjutkan pekerjaannya, dan sesekali matanya melirik ke arah Violet yang sejak tadi duduk diam sambil menatap keluar jendela. Pikiran Violet melayang ke mana-mana. Entah sudah berapa kali ia b

  • TERJEBAK DEKAPAN MAFIA POSESSIF   Bab 51. Enggan terbuka

    Violet tidak menyangka ada karyawan Damian yang berani menanyakan hal semacam itu secara terang-terangan.Layla menyeringai tipis, lalu memandang Violet dari atas hingga bawah dengan tatapan merendahkan. Seolah-olah ia sudah mengetahui sesuatu yang memalukan tentang gadis itu.“Jangan-jangan kau memberikan tubuhmu kepada Pak Damian, ya?” tuduhnya.Mata Violet langsung terbelalak mendengar tuduhan yang tidak mendasar itu. Ia tidak percaya Layla selancang itu kepadanya. Tanpa sadar ia mencengkram gelas yang berada di tangannya, sementara wajahnya perlahan menegang. Ucapan itu terasa seperti tamparan keras yang menghantam harga dirinya.“Maksudmu apa bicara seperti itu?” tanya Violet, berusaha menahan amarah yang mulai menguasai dirinya.Layla mengangkat alis, merasa tidak mengatakan sesuatu yang keterlaluan.“Menurutmu, apa yang akan orang-orang pikirkan jika ada seorang wanita yang selalu berada di ruangan bosnya?” Ia menyilangkan tangan di depan dada, lalu menyunggingkan senyum menge

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status