LOGINUdara malam terasa cukup dingin ketika Violet dan Zavier baru saja keluar dari restoran.
“Terima kasih untuk makan malamnya.” Violet tersenyum sambil mengusap kedua telapak tangannya yang terasa dingin. “Lain kali biar aku yang bayar,” lanjutnya. Zavier langsung menggeleng. “Tidak perlu,” tolaknya. Violet mengangkat alis. “Kenapa?” “Kamu sudah bekerja keras minggu ini,” ucap Zavier. Lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel. “Anggap saja bonus,” ucapnya melanjutkan. “Bonus?” Violet terkekeh. “Iya. Bonus karena sudah bertahan menghadapi pelanggan yang menyebalkan selama seminggu ini.” Violet memukul ringan lengan Zavier dengan punggung tangannya. “Jahat sekali. Mereka, kan, pelanggan kita.” “Aku cuma jujur,” ucap Zavier sambil terkekeh pelan. Violet masih tersenyum ketika Zavier tiba-tiba melirik jam tangannya. Ia kemudian menatap Violet. “Aku masih ada urusan setelah ini.” “Oh.” Violet mengangguk. “Kalau begitu aku pulang dulu.” “Aku antar, ya?” tawar Zavier. “Tidak perlu.” Violet menggeleng cepat. “Rumahku tidak jauh,” ucapnya. Zavier menatapnya beberapa saat, seolah masih mempertimbangkan. “Baiklah. Tapi kabari aku kalau sudah sampai.” Violet tersenyum kecil. “Siap, Bos!” Zavier terkekeh sebelum akhirnya berbalik dan berjalan menuju arah yang berlawanan. Violet menunggu sampai sosoknya menghilang di antara keramaian sebelum mulai berjalan pulang. Gadis itu berjalan menyusuri trotoar sambil sesekali merapikan rambut yang tertiup angin malam. Jarak menuju apartemennya tidak terlalu jauh dari restoran. Angin berhembus cukup kencang, membuat Violet semakin mengeratkan jaket yang dikenakannya. Namun, ketika memasuki jalan yang lebih sepi, langkah Violet perlahan melambat. Ia menoleh sekilas kebelakang, dan melihat sebuah mobil hitam melaju perlahan beberapa meter di belakangnya. Kacanya gelap, membuat bagian dalamnya sama sekali tidak terlihat. Violet kembali menghadap ke depan dan mencoba mengabaikannya. Namun suara mobil itu tidak menjauh. Justru tetap berada pada jarak yang sama di belakang, seperti sedang mengikutinya. Violet mulai merasa tidak nyaman, dan langkahnya kembali dipercepat. Beberapa detik kemudian, mobil hitam itu bergerak mendekat, hingga akhirnya posisinya sejajar dengan Violet. Refleks, langkah Violet terhenti, dan mobil itu juga berhenti. Violet menoleh ke samping, menatap kaca mobil gelap itu memantulkan wajahnya sendiri. Dan itu membuatnya sama sekali tidak bisa melihat siapa yang berada di dalam. Tangannya semakin erat mencengkram tali tas. “Ya Tuhan, siapa ini?” Violet menjerit dalam hati. Violet mundur setengah langkah. Kemudian—Kaca jendela belakang turun perlahan. Violet membeku. Tatapannya langsung tertuju ke dalam mobil. Dan ketika wajah seseorang akhirnya terlihat, seluruh ekspresi Violet berubah. Damian. Pria itu duduk bersandar santai di kursinya. Salah satu tangannya bertumpu di sisi pintu, sementara tatapan dinginnya tidak pernah lepas dari Violet. Tidak ada senyum di wajahnya, hanya ketenangan yang anehnya terasa jauh lebih mengintimidasi. Violet menatapnya beberapa saat, seolah memastikan bahwa ia tidak salah mengenali orang. “Damian...?” Sudut alis Damian terangkat tipis. “Sepertinya kau lupa sesuatu, Violet.” Violet mengerutkan kening. “Lupa apa?” “Setelah apa yang terjadi kemarin malam...” ucap Damian terdengar tenang. Tatapannya mengunci tatapan Violet. Ia kemudian melanjutkan ucapannya. “Aku kira setidaknya kau akan mengingat siapa yang menyelamatkanmu.” Violet membeku. Matanya berkedip beberapa kali sebelum kesadaran itu akhirnya menghantamnya. Oh, tidak. Ia benar-benar melupakannya. Seharusnya sore tadi mereka bertemu di depan cafè rumah sakit. Damian sudah mengatakan akan menunggunya di sana. Namun pikirannya terlalu kacau sampai-sampai ia melupakan janji tersebut. “Astaga...” Violet menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Kenapa aku bisa sebodoh ini?” Damian mengamati tingkahnya tanpa mengatakan apa-apa. Violet menurunkan tangannya perlahan dan mendapati pria itu masih menatapnya. “Aku benar-benar minta maaf,” katanya cepat. “Aku tidak sengaja melupakannya.” Damian mengangkat satu alis. “Tidak sengaja?” Violet mengangguk kecil. “Iya.” “Menarik,” ucap Damian. “Apa yang menarik?” tanya Violet bingung. Damian tidak langsung menjawab. Ia justru meraih gagang pintu dan mendorongnya agar terbuka lebar. “Kau tahu konsekuensinya, Violet?” Damian bertanya dengan ekspresi datar. Violet menatapnya curiga. “Konsekuensi apa?” “Kemarin kau berjanji akan membalas budi, bukan?” “Aku sekarang ingat,” jawab Violet. “Benarkah?” tanya Damian yang langsung membuat Violet terdiam. “Dari yang kulihat...” Damian berhenti sejenak. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, membuat jarak di antara mereka menyempit. Tatapannya tetap terkunci pada Violet, seolah sedang menunggu perempuan itu berani menatapnya kembali. “...kau bahkan lupa bertemu denganku,” ucap Damian melanjutkan. Violet yang sejak tadi berusaha terlihat tenang akhirnya mengalihkan pandangan. Jemarinya meremas tali tas yang berada di bahunya. “Aku sudah bilang aku minta maaf,” ucap Violet semakin pelan. Damian memperhatikannya beberapa detik sebelum akhirnya bersandar kembali. Wajahnya tetap tenang, seolah permintaan maaf itu sudah ia duga akan keluar dari mulut Violet. “Aku tahu.” Violet menghembuskan nafas lega, mengira percakapan itu akan berakhir di sana. Namun, ucapan Damian selanjutnya membuat senyum tipis yang tadi sempat muncul di wajah Violet langsung menghilang. “Tapi minta maaf saja tidak cukup, Violet." Violet menatap Damian dengan ekspresi pasrah. “Lalu kau mau apa?” tanyanya. Damian tidak segera menjawab. Ia mengetukkan ujung jarinya perlahan pada sandaran tangan kursi, matanya mengamati wajah Violet seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. Beberapa detik berlalu, dan Violet tetap menunggu dengan cemas. Damian mengangkat kepalanya menatap Violet. “Masuk,” perintahnya. Violet mengerjapkan mata. “Hah?” “Masuk,” ulang Damian. Damian menggeser tubuhnya sedikit, memberikan ruang untuk Violet. Violet masih berdiri di tempat. Ia bertanya ragu. “Kau mau bawa aku kemana?” “Mansion-ku,” jawab Damian tenang. Terlalu tenang sampai membuat Violet refleks mundur setengah langkah. Keningnya langsung berkerut. Ia bertanya sambil menatap Damian. “Untuk apa?” Damian menghela napas pendek, nyaris seperti seseorang yang mulai kehilangan kesabaran karena harus menjelaskan sesuatu yang menurutnya sudah jelas. “Kau terlalu banyak tanya, Violet. Ikut saja denganku.” Violet menghembuskan nafas pelan. Pada akhirnya, ia melangkahkan masuk ke dalam mobil. Sambil kepalanya terus memikirkan konsekuensi apa yang akan Damian berikan sampai harus ke mansion laki-laki itu. Apa jangan-jangan….Petugas polisi itu menggeleng pelan. “Tidak semuanya, nona. Itu hanya jumlah seluruh dana yang sudah dipinjam pak Delon,” ucapnya.“Anda hanya perlu membayar denda serta beberapa kewajiban yang harus diselesaikan jika anda ingin dibebaskan sekarang,” sambung polisi itu menambahkan.Violet menelan ludah. “Berapa dendanya, pak?” tanyanya lirih.Polisi itu memberi jeda beberapa detik, sebelum akhirnya berkata. “Total dendanya 380 juta.” Jawaban polisi di depannya sukses membuat Violet membeku. “380 juta?” ulangnya, berharap salah dengar.Petugas itu menganggukan kepala, membuat tubuh Violet langsung runtuh. “Apa tidak bisa dikurangi lagi, pak?” Tanya Violet mencoba menawar. Polisi menggeleng pelan. “Maaf, Nona. Jumlah tersebut sudah ditetapkan berdasarkan ketentuan yang berlaku, dan perkara yang sedang Anda hadapi.”Violet menatap meja di hadapannya dengan pikiran kosong. Jumlah itu bahkan jauh di luar kemampuannya.“Saya tidak punya uang sebanyak itu,” bisiknya pelan.Violet mengangk
Mobil yang membawa Violet berhenti di depan kantor kepolisian. Begitu pintu belakang dibuka, Violet turun dengan langkah ragu. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi. Seorang polisi membawanya masuk melewati lorong kantor, hingga akhirnya mereka tiba di sebuah ruang pemeriksaan. Violet dipersilakan duduk di kursi yang berhadapan dengan petugas polisi lainnya. Polisi itu membuka sebuah berkas di atas meja. Violet menatap dengan gelisah, dan tangannya terasa dingin. “Sebenarnya apa yang terjadi, Pak?” tanya Violet. “Saya masih tidak mengerti kenapa saya dibawa kesini,” lanjut Violet penuh kebingungan. Polisi itu mengangkat pandangannya dari berkas. “Tujuan kami membawa Anda ke sini karena ada laporan mengenai tunggakan pinjaman ilegal yang terdaftar atas nama Anda,” ucap polisi menjelaskan. Violet mengernyit. “Pinjaman?” Polisi itu mengangguk, kemudian membalik beberapa lembar dokumen di hadapannya. “Ya, nona. Sebuah pinjaman yang menggunakan data pribadi Anda, dan
“Ya. Mereka menerobos ke apartemen kamu, Violet.” Suara madam Elise terdengar tergesa-gesa. Violet menggenggam ponselnya lebih erat. “Apa yang mereka inginkan, Madam?” tanya Violet bingung. “Aku tidak tahu. Tapi dari yang kudengar, mereka sedang mencarimu.” Kening Violet berkerut. Ia melirik Damian sekilas sebelum kembali memusatkan perhatian pada telepon. “Apa madam tidak salah dengar?” tanya Violet memastikan. “Tidak. Jelas aku mendengar mereka menyebut namamu. Aku sudah mencoba menyuruh mereka pergi, tapi mereka bilang tidak akan meninggalkan tempatmu sebelum kau datang. Sebaiknya kau segera pulang,” cerocos madam Elise terdengar sangat cemas. “Baiklah, aku pulang sekarang.” Violet pun berdiri dengan kecemasan mulai terlihat jelas di wajahnya. Violet menurunkan ponselnya dan menatap Damian. Dia berdiri di tempatnya dengan ekspresi tenang, bahkan wajahnya nyaris tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun. “Aku harus pulang,” ucap Violet. Damian tidak menjawab,
Violet menatap bangunan besar di hadapannya melalui jendela mobil. Mansion itu jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Dinding batu berwarna pucat, jendela-jendela tinggi dengan bingkai hitam, serta taman luas yang terawat sempurna membuat tempat itu lebih terlihat seperti kediaman bangsawan daripada rumah seseorang. Seorang yang berjaga di dekat pintu utama segera berjalan menghampiri mobil. Membuka pintu belakang dan sedikit menundukkan kepala pada sang tuan rumah. “Silahkan, Tuan." Begitu Damian turun, pelayan itu tampak terkejut melihat seorang wanita di dalam mobil tuannya. Namun ia segera mengontrol ekspresinya, lalu memutari mobil untuk membuka pintu untuk Violet. “Silahkan, nona.” Violet mengangguk kecil sebelum turun. Beberapa langkah di depannya, Damian sudah lebih dulu berjalan menuju pintu utama tanpa menoleh sedikit pun, seolah memastikan Violet akan mengikutinya bukanlah sesuatu yang perlu dipertanyakan. Violet menarik napas pelan, lalu menyusul di belakan
Udara malam terasa cukup dingin ketika Violet dan Zavier baru saja keluar dari restoran. “Terima kasih untuk makan malamnya.” Violet tersenyum sambil mengusap kedua telapak tangannya yang terasa dingin. “Lain kali biar aku yang bayar,” lanjutnya. Zavier langsung menggeleng. “Tidak perlu,” tolaknya. Violet mengangkat alis. “Kenapa?” “Kamu sudah bekerja keras minggu ini,” ucap Zavier. Lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel. “Anggap saja bonus,” ucapnya melanjutkan. “Bonus?” Violet terkekeh. “Iya. Bonus karena sudah bertahan menghadapi pelanggan yang menyebalkan selama seminggu ini.” Violet memukul ringan lengan Zavier dengan punggung tangannya. “Jahat sekali. Mereka, kan, pelanggan kita.” “Aku cuma jujur,” ucap Zavier sambil terkekeh pelan. Violet masih tersenyum ketika Zavier tiba-tiba melirik jam tangannya. Ia kemudian menatap Violet. “Aku masih ada urusan setelah ini.” “Oh.” Violet mengangguk. “Kalau begitu aku pulang dulu.” “Aku antar, ya?” taw
Keesokan paginya, Violet tiba di toko bunga jam 8 pagi. Seperti biasa, Violet bekerja disana sebagai pelayan toko. Pekerjaan itu menjadi mata pencaharian utamanya agar bisa membayar biaya rumah sakit ibunya. Violet membuka pintu toko dan langsung disambut aroma bunga yang memenuhi ruangan. Seperti biasa, Zavier sudah berada di sana. Pemilik toko itu sangat rajin sekali seperti biasanya. Pria itu berdiri di dekat meja panjang, sedang merapikan beberapa tangkai bunga lavender yang baru datang. “Pagi,” sapa Violet. Zavier menoleh. “Pagi.” Kemudian Zavier berdiri, dan menghentikan pekerjaannya. Tatapannya langsung jatuh pada wajah Violet. Kantung mata yang jelas menandakan kualitas tidur gadis itu sangat buruk. “Kau terlihat lelah,” ucap Zavier perhatian. Violet meletakkan tasnya. Sebelum sempat menjawab, Zavier sudah bertanya lagi. “Kau tidak tidur?” “Tidur, kok,” jawab Violet singkat. Zavier mengangkat sebelah alis. “Berapa jam?” Violet terdiam sebentar. “Entahlah







