LOGIN“Ya. Mereka menerobos ke apartemen kamu, Violet.” Suara madam Elise terdengar tergesa-gesa.
Violet menggenggam ponselnya lebih erat. “Apa yang mereka inginkan, Madam?” tanya Violet bingung. “Aku tidak tahu. Tapi dari yang kudengar, mereka sedang mencarimu.” Kening Violet berkerut. Ia melirik Damian sekilas sebelum kembali memusatkan perhatian pada telepon. “Apa madam tidak salah dengar?” tanya Violet memastikan. “Tidak. Jelas aku mendengar mereka menyebut namamu. Aku sudah mencoba menyuruh mereka pergi, tapi mereka bilang tidak akan meninggalkan tempatmu sebelum kau datang. Sebaiknya kau segera pulang,” cerocos madam Elise terdengar sangat cemas. “Baiklah, aku pulang sekarang.” Violet pun berdiri dengan kecemasan mulai terlihat jelas di wajahnya. Violet menurunkan ponselnya dan menatap Damian. Dia berdiri di tempatnya dengan ekspresi tenang, bahkan wajahnya nyaris tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun. “Aku harus pulang,” ucap Violet. Damian tidak menjawab, dan hanya mengangkat satu alisnya. Menatap Violet dengan ekspresi datar. Violet berdiri dengan cemas. Ia pun berkata lagi. “Ada polisi di apartemenku. Aku harus segera pulang,” ucapnya. “Kau melakukan kesalahan?” tanya Damian pada akhirnya. Violet menggelengkan kepalanya. “Seingatku tidak.” “Lalu?” Damian “Oh, ayolah.” Violet menahan kesabarannya. Ia menatap Damian. “Jika kau menahanku disini karena hutang, aku berjanji akan membalas budimu secepatnya,” ucap Violet. Damian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Baiklah. Aku antar,” ucapnya dengan santai, sebelum akhirnya meraih kunci mobil dari atas meja. Violet berkedip. “Kau?” “Bagaimana kalau nanti kau kabur lagi?” Damian berjalan melewatinya. Violet terdiam. Ia tidak bisa menyangkal kemungkinan itu ada di kepala Damian. Akhirnya, dengan pasrah, Violet mengikuti langkahnya. Begitu mobil berhenti di depan apartemen, Violet langsung melihat mobil polisi terparkir di sekitar gedung. Violet turun dari mobil dengan tergesa-gesa. “Terima kasih,” ucapnya singkat sambil bergegas menuju pintu masuk apartemen. Damian bahkan belum membalas ucapannya, tetapi gadis itu sudah berlari dengan cepat. Violet menaiki tangga dengan terburu-buru menuju lantai apartemennya. Dan begitu sampai di sana, matanya langsung tertuju melihat pintu kamarnya terbuka lebar dan ada madam Elise disana. “Apa yang terjadi?” tanya Violet membuat madam Elise langsung menoleh. “Akhirnya kau datang,” ucap Madam Elise lega. Violet berjalan pelan menghampiri kamarnya. Ruangan kecil itu tampak berantakan dan ada 3 polisi yang sedang menggeledah kamar apartemennya. Violet berdiri terpaku melihat kekacauan itu. “Apa yang kalian lakukan?” Salah seorang polisi yang sedang memeriksa meja menoleh kepadanya. “Anda Violet De Laurent?" Violet mengangguk pelan. “Ya.” Polisi itu berjalan mendekat. “Kami perlu membawa anda ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.” Mata Violet membesar. “Ke kantor polisi?” tanya Violet. Polisi itu menganggukan kepalanya. “Tapi saya merasa tidak melakukan apa-apa,” ucap Violet panik. “Kenapa saya harus dibawa ke kantor polisi?” “Kami menemukan beberapa bukti bahwa Anda terjerat kasus judi, dan ada penunggakan pembayaran pinjaman dalam jumlah besar.” Jawaban petugas itu semakin membuat Violet kebingungan. Ia masih tidak paham dengan apa yang terjadi. “Anda salah orang. Saya tidak pernah melakukan hal seperti itu,” jelas Violet. Polisi itu tetap tenang. “Nona, Anda bisa menjelaskan semuanya nanti di kantor polisi.” “Tapi—” “Semua buktinya sudah ada ditangan kami. Sekarang silahkan ikut dengan kami,” ucap Polisi itu memotong ucapan Violet. Violet menggeleng cepat. “Tunggu! Saya benar-benar tidak tahu apa yang terjadi, pak” Polisi itu tidak menjawab. Hanya memberi isyarat kepada rekannya untuk membawa Violet keluar. “Sebentar! Kalian tidak bisa begitu saja membawanya!” Madam Elise berusaha menghentikan mereka. Namun, polisi itu tetap membawa Violet tanpa menghiraukannya. Violet hanya sempat menoleh kepada Madam Elise sebelum akhirnya dibawa keluar dari apartemen. Begitu sampai di depan gedung, pandangan Violet langsung tertumbuk pada Damian yang berdiri di samping mobil sambil melipat tangan. Tatapan mereka bertemu. Dan entah kenapa, melihat Damian tiba-tiba membuat harapan kecil muncul begitu saja di dalam diri Violet. Mungkin laki-laki itu akan melakukan sesuatu. Atau menghentikan mereka, atau setidaknya bertanya apa yang terjadi, pikir Violet. Namun beberapa detik Damian tetap diam berdiri disana, menatap Violet dengan ekspresi datar, tanpa menunjukkan tanda-tanda akan bergerak. “Masuk, nona.” Suara polisi yang menyuruhnya masuk kedalam mobil membuat Violet sadar satu hal. Ia bahkan belum sempat membalas budi kepada Damian karena sudah menolongnya dari Delon. Jadi kali ini Damian tidak mungkin membantunya lagi.Petugas polisi itu menggeleng pelan. “Tidak semuanya, nona. Itu hanya jumlah seluruh dana yang sudah dipinjam pak Delon,” ucapnya.“Anda hanya perlu membayar denda serta beberapa kewajiban yang harus diselesaikan jika anda ingin dibebaskan sekarang,” sambung polisi itu menambahkan.Violet menelan ludah. “Berapa dendanya, pak?” tanyanya lirih.Polisi itu memberi jeda beberapa detik, sebelum akhirnya berkata. “Total dendanya 380 juta.” Jawaban polisi di depannya sukses membuat Violet membeku. “380 juta?” ulangnya, berharap salah dengar.Petugas itu menganggukan kepala, membuat tubuh Violet langsung runtuh. “Apa tidak bisa dikurangi lagi, pak?” Tanya Violet mencoba menawar. Polisi menggeleng pelan. “Maaf, Nona. Jumlah tersebut sudah ditetapkan berdasarkan ketentuan yang berlaku, dan perkara yang sedang Anda hadapi.”Violet menatap meja di hadapannya dengan pikiran kosong. Jumlah itu bahkan jauh di luar kemampuannya.“Saya tidak punya uang sebanyak itu,” bisiknya pelan.Violet mengangk
Mobil yang membawa Violet berhenti di depan kantor kepolisian. Begitu pintu belakang dibuka, Violet turun dengan langkah ragu. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi. Seorang polisi membawanya masuk melewati lorong kantor, hingga akhirnya mereka tiba di sebuah ruang pemeriksaan. Violet dipersilakan duduk di kursi yang berhadapan dengan petugas polisi lainnya. Polisi itu membuka sebuah berkas di atas meja. Violet menatap dengan gelisah, dan tangannya terasa dingin. “Sebenarnya apa yang terjadi, Pak?” tanya Violet. “Saya masih tidak mengerti kenapa saya dibawa kesini,” lanjut Violet penuh kebingungan. Polisi itu mengangkat pandangannya dari berkas. “Tujuan kami membawa Anda ke sini karena ada laporan mengenai tunggakan pinjaman ilegal yang terdaftar atas nama Anda,” ucap polisi menjelaskan. Violet mengernyit. “Pinjaman?” Polisi itu mengangguk, kemudian membalik beberapa lembar dokumen di hadapannya. “Ya, nona. Sebuah pinjaman yang menggunakan data pribadi Anda, dan
“Ya. Mereka menerobos ke apartemen kamu, Violet.” Suara madam Elise terdengar tergesa-gesa. Violet menggenggam ponselnya lebih erat. “Apa yang mereka inginkan, Madam?” tanya Violet bingung. “Aku tidak tahu. Tapi dari yang kudengar, mereka sedang mencarimu.” Kening Violet berkerut. Ia melirik Damian sekilas sebelum kembali memusatkan perhatian pada telepon. “Apa madam tidak salah dengar?” tanya Violet memastikan. “Tidak. Jelas aku mendengar mereka menyebut namamu. Aku sudah mencoba menyuruh mereka pergi, tapi mereka bilang tidak akan meninggalkan tempatmu sebelum kau datang. Sebaiknya kau segera pulang,” cerocos madam Elise terdengar sangat cemas. “Baiklah, aku pulang sekarang.” Violet pun berdiri dengan kecemasan mulai terlihat jelas di wajahnya. Violet menurunkan ponselnya dan menatap Damian. Dia berdiri di tempatnya dengan ekspresi tenang, bahkan wajahnya nyaris tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun. “Aku harus pulang,” ucap Violet. Damian tidak menjawab,
Violet menatap bangunan besar di hadapannya melalui jendela mobil. Mansion itu jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Dinding batu berwarna pucat, jendela-jendela tinggi dengan bingkai hitam, serta taman luas yang terawat sempurna membuat tempat itu lebih terlihat seperti kediaman bangsawan daripada rumah seseorang. Seorang yang berjaga di dekat pintu utama segera berjalan menghampiri mobil. Membuka pintu belakang dan sedikit menundukkan kepala pada sang tuan rumah. “Silahkan, Tuan." Begitu Damian turun, pelayan itu tampak terkejut melihat seorang wanita di dalam mobil tuannya. Namun ia segera mengontrol ekspresinya, lalu memutari mobil untuk membuka pintu untuk Violet. “Silahkan, nona.” Violet mengangguk kecil sebelum turun. Beberapa langkah di depannya, Damian sudah lebih dulu berjalan menuju pintu utama tanpa menoleh sedikit pun, seolah memastikan Violet akan mengikutinya bukanlah sesuatu yang perlu dipertanyakan. Violet menarik napas pelan, lalu menyusul di belakan
Udara malam terasa cukup dingin ketika Violet dan Zavier baru saja keluar dari restoran. “Terima kasih untuk makan malamnya.” Violet tersenyum sambil mengusap kedua telapak tangannya yang terasa dingin. “Lain kali biar aku yang bayar,” lanjutnya. Zavier langsung menggeleng. “Tidak perlu,” tolaknya. Violet mengangkat alis. “Kenapa?” “Kamu sudah bekerja keras minggu ini,” ucap Zavier. Lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel. “Anggap saja bonus,” ucapnya melanjutkan. “Bonus?” Violet terkekeh. “Iya. Bonus karena sudah bertahan menghadapi pelanggan yang menyebalkan selama seminggu ini.” Violet memukul ringan lengan Zavier dengan punggung tangannya. “Jahat sekali. Mereka, kan, pelanggan kita.” “Aku cuma jujur,” ucap Zavier sambil terkekeh pelan. Violet masih tersenyum ketika Zavier tiba-tiba melirik jam tangannya. Ia kemudian menatap Violet. “Aku masih ada urusan setelah ini.” “Oh.” Violet mengangguk. “Kalau begitu aku pulang dulu.” “Aku antar, ya?” taw
Keesokan paginya, Violet tiba di toko bunga jam 8 pagi. Seperti biasa, Violet bekerja disana sebagai pelayan toko. Pekerjaan itu menjadi mata pencaharian utamanya agar bisa membayar biaya rumah sakit ibunya. Violet membuka pintu toko dan langsung disambut aroma bunga yang memenuhi ruangan. Seperti biasa, Zavier sudah berada di sana. Pemilik toko itu sangat rajin sekali seperti biasanya. Pria itu berdiri di dekat meja panjang, sedang merapikan beberapa tangkai bunga lavender yang baru datang. “Pagi,” sapa Violet. Zavier menoleh. “Pagi.” Kemudian Zavier berdiri, dan menghentikan pekerjaannya. Tatapannya langsung jatuh pada wajah Violet. Kantung mata yang jelas menandakan kualitas tidur gadis itu sangat buruk. “Kau terlihat lelah,” ucap Zavier perhatian. Violet meletakkan tasnya. Sebelum sempat menjawab, Zavier sudah bertanya lagi. “Kau tidak tidur?” “Tidur, kok,” jawab Violet singkat. Zavier mengangkat sebelah alis. “Berapa jam?” Violet terdiam sebentar. “Entahlah







