LOGINDi atas helipad lantai delapan puluh delapan, baling-baling helikopter taktis siluman Black Hawk menyapu air hujan yang mengguyur deras. Pintu samping helikopter terbuka lebar.Rian Nugraha dan Mayor Siska Indrawan melompat turun ke atas permukaan semen helipad! Air hujan langsung membasahi rompi taktis dan rambut hitam Rian, namun pria itu melangkah dengan kestabilan tubuh yang luar biasa. Dengan pistol Pit Viper terkokang di tangan kanannya dan senapan HK416 di tangan Siska, keduanya bergerak cepat menembus badai menuju pintu masuk lantai teratas gedung.“BZZZZT!” Valerie yang berada di dalam helikopter membuka pintu akses helipad secara jarak jauh. Rian dan Siska menerobos masuk ke dalam koridor tangga darurat. Suara gemuruh angin badai di luar seketika tergantikan oleh keheningan yang mencekam di dalam gedung yang gelap gulita."Lantai delapan puluh delapan aman," bisik Siska sambil memeriksa indikator panas tubuh menggunakan kaca mata malam (Night Vision Goggles). "Tiga sinyal
Deru mesin turbofan hipersonik Gulfstream G700 bergemuruh hebat membelah kegelapan malam, melesat pada kecepatan Mach 2.5 di atas jalur udara koridor Jawa bagian timur. Di luar jendela kabin yang dilapisi kaca antipeluru, kilatan petir menyambar-nyambar di dalam gulungan awan hitam yang menyelimuti langit Surabaya. Badai hujan lokal sedang mengamuk dahsyat di kota metropolitan tersebut, seolah menyambut kedatangan sang penguasa yang kembali untuk membersihkan rumahnya dari darah para pengkhianat.Di dalam kabin kelas utama yang temaram oleh lampu indikator taktis berwarna merah redup, Rian Nugraha berdiri tegak. Pria itu tidak lagi mengenakan kemeja santainya. Tubuh tegapnya kini dibungkus oleh rompi taktis antipeluru Kevlar-Graphite serba hitam bertengger kokoh melingkupi dadanya yang berotot. Di pinggangnya, dua sarung pistol presisi Taran Tactical Pit Viper terpasang rapi, sementara pisau komando bertutuk titanium terselip di balik rompi dadanya. Mata hitam Rian memancarkan pendar
Rian merangkak di antara kedua paha mulus Kirana, memegang pinggul tegap istrinya dengan kedua tangan kekuatannya. Rian menatap mata Kirana dengan kedalaman cinta dan dominasi yang mutlak."Kamu adalah milikku selamanya, Kirana," tegas Rian dengan suara rendah yang menggetarkan dada."Aku milikmu selamanya, Rian ... tancapkan Si Bambang sekarang!" jerit Kirana pasrah.Rian mendorong pinggul tegapnya ke depan secara langsung!JLEBBBB!"AAGHHHHHH! RIANNNNN! ASTAGAA, DALAMNYA!"Kirana menjerit histeris dalam puncak kebahagiaan dan kenikmatan murni saat kepala Si Bambang yang raksasa menembus langsung dan memadati rahimnya dalam satu pendorongan yang sangat dalam dan penuh tenaga!Kepala Kirana mendongak ke atas, kedua tangannya mencengkeram erat bahu berotot Rian saat sensasi kepenuhan yang luar biasa melimpah membakar seluruh sistem saraf tubuhnya! Dinding rahimnya seketika mencengkeram kuat batang Si Bambang yang panas!Rian tidak memberikan je
Layar monitor Valerie memperlihatkan peta topografi Asia Tenggara yang melakukan zoom-in secara cepat, memotong jalur lautan Filipina, hingga terhenti di sebuah pulau kecil tak berpenghuni di dalam gugusan Kepulauan Palawan.Di tengah pulau terisolasi yang dikelilingi tebing karang terjal itu, tampak sebuah struktur bangunan benteng bawah tanah berteknologi tinggi yang dilindungi oleh kubah penyerap sinyal radar."Laboratorium penelitian bio-teknologi Apex Facility Alpha," baca Siska dari berkas intelijen yang kecocokannya seratus persen. "Di situlah kapsul racun Aether-9 diproduksi dan di situlah server pusat kendali pemicu jarak jauhnya berada!"Rian melangkah mendekati layar monitor, menatap titik merah di Kepulauan Palawan tersebut dengan pandangan mata seorang predator yang telah menemukan lokasi mangsanya."Empat puluh delapan jam adalah waktu yang sangat lama, Lord Vane,” bisik Rian dengan nada yang amat dingin dan berbahaya. "Cukup waktu untuk terbang ke
Belum sempat Valerie mematikan sinyal pelacak tersebut, sebuah peringatan darurat berfrekuensi tinggi berbunyi dari ponsel satelit terenkripsi milik Rian yang berada di dalam saku kemejanya.BZZZZT! BZZZZT! BZZZZT!Layar ponsel Rian menyala merah membara. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak terdaftar, menggunakan jalur enkripsi garis ganda yang secara paksa menembus protokol pertahanan siber Adiguna Corp.Rian menatap layar ponselnya selama dua detik, lalu mengangkat panggilan tersebut dan menempelkannya di telinga tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Seketika, ruangan brankas bawah laut itu diheningkan oleh suara napas teratur dari ujung telepon. Suara itu kemudian berganti menjadi suara pria paruh baya yang diubah oleh modulator frekuensi, dingin, berat, dipenuhi keangkuhan mutlak seorang penguasa dari balik kegelapan."Selamat malam, Rian Nugraha ....” suara itu bergema halus namun memancarkan aura ancaman yang sangat pekat. "Atau haruskah aku memanggilmu ... Sang Pen
Lautan lepas Bali pada pukul satu dini hari membisu di bawah pekatnya malam. Di kedalaman lambung kapal The Shadow Titan, jauh di bawah garis permukaan air, hening bergema bagai di dalam katedral baja. Bau ozon, minyak mesin dingin, dan kelembapan laut memenuhi koridor koridor tersembunyi yang berlapis plat titanium tebal.Rian Nugraha melangkah pelan. Sepatu kulit mahoninya mengetuk lantai besi berlapis serat karbon tanpa menimbulkan suara berarti. Pria itu melepaskan dua kancing teratas kemeja hitamnya, membiarkan leher tegap dan dada berototnya bernapas di tengah hawa dingin pendingin udara. Di belakang Rian, Valerie Wijaya membawa koper taktis hitam, sementara Mayor Siska Indrawan berjalan siaga dengan pistol Sig Sauer P320 terpaut di paha kanannya.Langkah mereka terhenti di depan sebuah pintu brankas raksasa buatan Swiss. Pintu lingkaran seberat tiga ton itu dihiasi kunci kombinasi biometrik, pemindai retina, dan pengenal pola pembuluh darah, sebuah benteng pertahanan terakhir






