LOGINTepat saat Rian menyelesaikan kalimatnya, layar-layar monitor di ruang kendali yang sempat mati akibat peledakan EMP mendadak menyala kembali satu per satu. Namun, logo merah The Apex Dynasty yang biasanya menghiasi layar telah berganti sepenuhnya menjadi logo emas Adiguna Global Holdings.
BZZZT!Sebuah pemberitahuan sistem berwarna merah berkedip di layar utama: [SISTEM DIKECUALIKAN. KEPEMILIKAN ASET DIALIHKAN SECARA MUTLAK. SELURUH PROTOKOL DARURAT DIBATALKAN.]Vance menatapDi bawah naungan ribuan bintang dan gemuruh lembut ombak Laut Sulu, Rian melepaskan rompi taktis dan pakaian tempurnya, membiarkan tubuh tegapnya yang dipenuhi garis otot kencang dan sedikit bekas luka pertarungan terpampang gagah.Kirana menatap tubuh suaminya dengan napas yang memburu cepat. Dengan jemari halusnya yang gemetar oleh gairah, Kirana perlahan menurunkan tali gaun sutra putihnya dari bahu. Kain sutra halus itu meluncur turun ke atas lantai kayu jati, membiarkan keindahan raga Sang Permaisuri terpapar sepenuhnya tanpa sehelai benang pun.Kulit mulusnya yang seputih salju berkilau di bawah pendar sinar bulan. Dada indah yang membusung sempurna, lekuk pinggang yang ramping, paha mulus yang memikat, serta kehangatan tempat terlarangnya yang telah melimpahkan aroma gairah manis membuat atmosfer di area geladak privat itu kian memanas.Rian melangkah mendekat, memegang pinggul ramping Kirana, lalu merebahkan tubuh molek istrinya secara perlahan di atas tempat
Tepat saat Rian menyelesaikan kalimatnya, layar-layar monitor di ruang kendali yang sempat mati akibat peledakan EMP mendadak menyala kembali satu per satu. Namun, logo merah The Apex Dynasty yang biasanya menghiasi layar telah berganti sepenuhnya menjadi logo emas Adiguna Global Holdings.BZZZT!Sebuah pemberitahuan sistem berwarna merah berkedip di layar utama: [SISTEM DIKECUALIKAN. KEPEMILIKAN ASET DIALIHKAN SECARA MUTLAK. SELURUH PROTOKOL DARURAT DIBATALKAN.]Vance menatap layar itu dengan ketakutan yang tak terlukiskan. Tombol pemicu di tangannya mendadak mati, tidak lagi memberikan respon apa pun."B-Bagaimana bisa ... Akuisisi perusahaan butuh waktu berminggu-minggu,” bisik Vance gila, kakinya mundur hingga terbentur meja kerja."Bagi orang biasa, ya," ujar Rian dingin. "Tapi ketika aku menawar tiga kali lipat dari nilai pasar dan mengancam mempublikasikan skandal pencucian uang para pemegang saham utamamu dalam waktu lima menit ... mereka menjual pe
Dua menit kemudian, perahu merapat di dermaga beton yang temaram. Rian melompat naik lebih dulu, disusul Siska dan empat prajurit pilihan. Senjata mereka teracung mengawasi setiap sudut lorong utama yang dipenuhi pipa-pipa uap berkarat.Langkah kaki mereka mendarat tanpa suara di atas permukaan semen yang lembap. Tidak ada perlawanan. Tidak ada tembakan menyambut. Hanya keheningan abnormal yang menusuk tulang."Target berada di fasilitas server level minus tiga," bisik Siska sambil mengisyaratkan dua prajuritnya untuk menjaga area dermaga.Mereka bergerak menyusuri lorong beton menuju pintu gerbang tekanan udara (airlock gate) berdinding baja tebal. Saat Rian menapakkan kakinya melewati ambang pintu baja tersebut, sebuah suara klik mekanis bergetar di bawah lantai.Sret!Sebelum ada yang sempat bereaksi, pintu baja berbobot dua ton di belakang mereka meluncur turun dengan kecepatan luar biasa!BRUKKK!Debu dan percikan api memercik saat pintu baja menghantam lantai, mengunci Ri
Valerie yang berlutut di samping mereka memanjakan bagian atas tubuh Kirana, mencium bibir dan memanjakan puncak payudara Kirana dengan mulut dan jemari halusnya, menyempurnakan kenikmatan gila yang dirasakan oleh Kirana.Rian mempercepat genjotannya hingga menjadi sebuah gelombang gairah yang sangat brutal dan nikmat! Setiap pendorongan Si Bambang membawa kehangatan raksasanya mengocok cairan cinta Kirana hingga melimpah basah membasahi paha mulus dan seprai mahoni."Rian! Aku tidak kuat lagi! Aku mau keluar! Aaghhh! RIANNN!" jerit Kirana melengking tinggi saat gelombang orgasme pertamanya pecah dengan sangat hebat!Tubuh mulus Kirana kejang nikmat, rahimnya memompa keperkasaan Rian dalam kedutan-kedutan intensif yang sangat panas.Tanpa menarik keluar Si Bambang, Rian membalikkan tubuh Kirana hingga kini wanita cantik itu menungging anggun di atas tempat tidur, membelakangi Rian dan menghadap langsung ke arah kaca transparan yang memamerkan gemerlap kota.Dari posisi doggy styl
Satu jam kemudian.Badai hujan di luar telah mereda, menyisakan keheningan malam yang syahdu di atas Kota Surabaya. Awan hitam mulai terkuak, memperlihatkan bulan separuh yang memancarkan pendar keemasan di atas langit malam.Di lantai delapan puluh delapan Surabaya Financial Megatower, ruang Penthouse pribadi milik Rian Nugraha, atmosfer kemewahan dan dominasi mutlak memenuhi setiap sudut ruangan seluas seribu meter persegi itu.Penthouse ini merupakan puncak pencapaian arsitektur modern. Dinding-dindingnya terbuat dari kaca transparan setinggi lima meter yang memamerkan pemandangan panoramic gemerlap lampu malam Kota Surabaya dari ketinggian tiga ratus meter di udara. Di tengah ruangan, terdapat sebuah kolam renang infinity air hangat dan sebuah tempat tidur Super King Size berdinding kayu mahoni pilihan.Rian Nugraha telah membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa darah pertempuran. Pria itu kini hanya mengenakan celana panjang sutra hitam yang longgar, membiarkan dada tegap berotot
“DUARRR!” Pintu baja ruang kontrol tidak didobrak secara perlahan. Pintu itu hancur berantakan dipicu oleh muatan peledak C4 yang dipasang oleh Mayor Siska!Serpihan besi melayang di udara diiringi oleh kepulan asap tebal.Dari balik kepulan asap tersebut, melangkah keluar Rian Nugraha. Rompi taktisnya ternoda oleh ceceran darah musuh, matanya menyala dalam pendar membunuh yang sangat pekat. Rian melangkah masuk dengan ketenangan yang teramat dingin, pistol Pit Viper-nya tergantung santai di samping pahanya.Rendra terbelalak lebar, wajahnya seketika kehilangan seluruh warna darah saat melihat sosok pemilik imperium itu berdiri di hadapannya."T-Tuan Rian...!" jerit Rendra ketakutan, langkah kakinya mundur hingga terbentur konsol mesin sirkulasi. "B-Bagaimana mungkin Anda ... Anda harusnya berada di Bali!""Aku berada di mana pun tempat para pengkhianat mencoba merusak rumahku, Rendra," suara Rian mengalun sangat datar, namun setiap kata-katanya menghantam jiwa Rendra bagaikan pa






