LOGINMalam semakin larut. Alsava sudah tidur di sebelah Ken dengan paha Ken yang dijadikan bantalnya. Mansion Ken cukup tenang. Hanya sesekali penjaga berganti untuk memastikan mansion aman kondusif.KLING!Sebuah pesan masuk ke ponsel Ken. Ken melirik dan membacanya pelan. Senyumnya perlahan muncul. "Angin segar berhembus di setengah malam. Marveen, permainan menarik ini baru kita masuki babak final.."Alsava mendengarnya. Dia langsung duduk sambil menatap Ken. "Dia menyetujui ajakan kamu?"Ken mengangguk. "Iya. Dia menerima tawaran kerja sama kita."Alsava tersenyum, tapi kemudian mengerutkan kening. "Secepat itu?""Dia sepertinya yakin kalau aku kembali membutuhkan bisnisnya." Ken meletakkan ponsel di meja. "Padahal sebenarnya..." Dia menatap Alsava. "Akulah yang sedang menciptakan kelengahannya.""Tiga hari ini kamu hampir tidak tidur nyenyak gara-gara menunggu pesan itu," goda Alsava."Kamu memperhatikan?""Aku istrimu. Aku hafal cara kamu menghela napas kalau sedang menunggu sesuatu.
Di tempat lain. Ruang arsip bawah Tiger Dark masih sunyi. Raka duduk di depan pintu dengan pistol terselip di pinggang.Tugasnya sederhana. Menjaga arsip.Tidak boleh ada yang masuk, tidak boleh ada yang keluar. Tapi justru tugas itu membuat Raka semakin dekat dengan rahasia terbesar Tiger Dark.Raka menoleh ke kanan dan kiri, kosong.Dia berdiri lalu membuka pintu arsip menggunakan kartu akses yang diberikan Salvator.KLIK!Pintu terbuka. Raka masuk. Matanya langsung menyapu rak-rak dokumen.“Mallory Project...” gumam Raka pelan. Dia mencari dengan cepat. Beberapa menit kemudian, tangannya berhenti pada sebuah kotak besi kecil. Tidak ada tulisan, tidak ada kode. Tapi kotak itu memiliki tanda kecil berbentuk kepala macan.Raka langsung curiga. Dia membuka kotak tersebut. Di dalamnya terdapat beberapa dokumen lama. Ada Satu foto, satu lembar laporan. Dan sebuah flashdisk.Raka mengambil laporan itu. Matanya langsung membesar.SUBJECT: CAVAN MALLORYSTATUS: TERMINATEDRaka membaca baris
“U-untuk... aku?” tanya Alsava terbata.“Tuan Cavan sudah menyiapkan semuannya Sejak instingnya mengatakan akan ada sesuatu yang terjadi padanya, Tuan ingin nemastikan kelayakan dan jaminan hidup untukmu Manis. Tuan pernah memberitahuku, hanya saja aku gagal bertemu Adrian, karena dia sudah keburu pergi dan menghilangkan jejaknya.”Semua diam, Alsava tak menyangka, bahkan Ayahnya masih memikirkannya disaat rasa takut mungkin sudah menghantuinya. Insting Ayah cukup kuat, pantas jika dia seorang pebisnis hebat dan ketua Klan Mafia besar.“Adrian adalah orang yang mengetahui semuanya,” lanjut Davin setelah beberapa saat hening.Ken akhirnya memahami sesuatu.“Jadi Adrian menghilang bukan karena diculik?”“Tidak.” Davin menggeleng.“Bukan karena otaknya dicuci?” tanya Alsava gantian.Davin hampir tertawa. “Tidak ada pencucian otak. Dia sengaja menghilang agar amanah rahasia Tuan Cavan tetap aman. Davin menatap mereka berdua serius.“Jika rahasia itu jatuh ke tangan Marveen, Alsava tidak
“Alexander Vane.”Satu nama itu membuat suasana di ruangan Davin berubah. Davin yang sejak tadi terlihat santai, kini menatap Ken dan Alsava dengan sorot mata berbeda.“Dari mana kalian mendapatkan nama itu?” tanya Davin.Ken tidak langsung menjawab. Dia justru menyandarkan tubuhnya ke sofa, kedua tangannya bertaut di depan dada.“Jadi benar,” ucap Ken pelan. “Alexander Vane memang Adrian Velasquez.”Davin menghela napas panjang. Dia tak bisa mengelak lagi. Ken dan Alsava bukan bocah yang bisa diberi alasan lain. “Ya,” saut Davin akhirnya. Alsava langsung mencondongkan tubuhnya.“Jadi Om mengenalnya?”“Aku mengenalnya. Tapi tidak terlalu dekat. Aku hampir tidak bersinggungan dengannya karena dia tidak pernah datang ke markas.”“Dan dia ada hubungannya dengan Ayah?”Davin menatap Alsava cukup lama sebelum akhirnya mengangguk. “Adrian adalah orang terakhir yang bertemu Tuan Cavan sebelum beliau meninggal.”DEG!Alsava terdiam.Ken pun langsung menatap Davin tajam.“Berarti Adrian tahu
Davin duduk tenang, membuka koper lamanya lagi. Di dalamnya bukan hanya dokumen. Ada satu flashdisk kecil yang berisi tulisan tentang *MALLORY PROJECT - BACKUP*“Pria itu.. Adrian Velasquez.” Davin menatap tulisan itu cukup lama. “Sudah 12 tahun.” gumamnya. “Akhirnya aku merasakan kehadiranmu sudah dekat. Sudah lama kau menghilangkan jejakmu, menyimpan rahasia Tuan Cavan yang sengaja dititipkan padamu sebelum kematiannya." "Marveen pasti juga sedang mencarimu lagi. Apalagi sekarang Alsava semakin terekspose dan terang-terangan ingin membongkar rahasia itu."Davin memasukkan flashdisk itu ke saku. Lalu memadamkan lampu. Suasana memang masih lengang, tapi dia yakin diluaran sana ada banyak hal yang sudah bergerak jauh. Termasuk Tiger Dark saat ini.Tiba-tiba Di luar, suara mobil mendekat.Davin tersenyum tipis di kegelapan. Dia tahu siapa yang datang menemuinya.“Datanglah… Kenneth, Alsava,” gumam Davin lirih. “Permainan sesungguhnya sedang kita jalani perlahan. Sudah waktunya kita b
KREEEET….!Pintu besi berat itu terbuka. Raka menunduk, mengikuti anggota Tiger Dark di depannya. Dadanya berdebar. Tapi wajahnya tetap datar. Seperti Raka yang selalu patuh.Ruangan utama. Gelap. Hanya ada satu lampu gantung di tengah.Dan di balik meja panjang, duduk Marveen.“Kau dipanggil,” kata Salvator tanpa menoleh. Jarinya mengetuk meja. “Duduk.”Raka duduk. Jantungnya terus berdegup. Tapi dia berusaha tenang.“Beberapa hari ini kau sering ke gudang arsip.” Salvator menoleh menatapnya. Matanya sipit. “Kenapa?”Raka menelan ludah. “Boy menyuruh saya mengecek ulang stok dokumen lama, Bos. Perintah dari atasan divisi.”Salvator diam. Menatap Raka cukup lama, tak berkedip.Raka bisa merasakan keringat dingin turun di punggungnya.“Bagus.” Salvator akhirnya bersandar. “Berarti kau orang yang tepat.”“Untuk apa Bos?”Salvator melempar satu map ke hadapan Raka. BRAK!“Baca!”Raka membuka dokumen itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya ada foto. Foto Cavan, foto Adrian. Dan satu le







